Disclaimer: Semua character Naruto milik Masashi Kishimoto. Jika aku adalah penciptanya mungkin aku bisa kaya dan menikah dengan Naruto #Plak!
DekhaPutri: Iya kamu bisa melihat profilenya dengan nama TheOlympus. Dia pernah nongol ko dikomentar. Hehe terima kasih untuk review nya~
Rapendo Markenson23: Aku usahain tiap chapter baru wordnya akan bertambah lebih banyak! Terima kasih untuk review nya~
Yagami Eza Rezaldy: Waduuh baper wkwk sama ko aku juga tau gimana rasanya diabaikan :' . Terima kasih untuk review nya~
Naylachan: Terima kasiih untuk review nya~
Take a seat, bring your popcorn and enjoy the show~
3 hari sebelumnya~
Shouto Higarashi atau biasa dikenal dengan Shouto adalah salah satu seorang pembunuh bayaran bersamaan dengan ketiga anggota lainnya. Hidupnya berpindah-pindah tempat tergantung misi yang mereka dapatkan dengan bayaran yang bagus.
Saat ini, hari keduanya dimana mereka memutuskan untuk rehat dan menghabiskan waktu dengan istirahat. Berada di sebuah desa kecil dan terpencil menjadikannya tempat yang pas untuk istirahat tanpa harus tertangkap. Shouto mengambil sebatang rokok dan menaruhnya dimulut. Menyulutkannya dengan api dan menghirup dalam-dalam merasakan panas manis bercampur pahitnya di tenggorokan sebelum menghembuskannya keluar menghasil asap putih tebal.
"Yo, Shouto! Pass!" Izaya melempar scroll kearahnya yang dengan gesit menangkap scroll tersebut.
Shouto menghembuskan rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang putungnya kedalam genangan air. "Sudah kupastikan jika ini adalah sebuah misi bukankah begitu?" Tebaknya, melempar kembali scrollnya.
Izaya menangkap scroll yang baru saja dia beri dan menghela nafas panjang. "Kau tidak ingin melihatnya terlebih dahulu, Shouto?"
Menyender pada pohon dan kembali menyulutkan putung rokoknya yang baru. "Kita sudah sepakat untuk tidak menerima misi untuk 5 hari kedepan bukan? Lagipula Houtarou dan Kouza tak berada disini."
"Mereka memberikan kita tip yang besar. Lebih besar dari misi kita sebelumnya. Kau tetap tidak ingin menerimanya? aku dapat memanggil mereka jika kamu menerima misi ini. Dan, setelah misi ini aku barjanji untuk tidak menerima misi baru lagi untuk waktu yang lama. Bagaimana?"
Shouto menghisap rokoknya beberapa kali menikmati hangatnya menjalar kedalam tubuhnya sembari mempertimbangkan. Mata merahnya menatap temannya dan berdecak kencang. "Terakhir kali, Izaya." Ucapnya, membuang putung rokok tersebut kejalan dan menginjaknya hingga menimbulkan suara desisan pelan.
Puas dengan jawaban yang diberikan oleh ketuanya, Izaya bersiul. Tak lebih dari satu menit seekor burung elang menukik dengan tajam mendekatinya. Kukunya yang tajam bertengger pada tangannya. Izaya mengaitkan scroll kecil pada kaki burung tersebut dan membisikkan sesuatu sebelum menghentakkan tangannya pelan membiarkan burungnya melesat kembali keudara.
"Membutuhkan kurang lebih satu hari untuk dapat sampai pada mereka." Izaya mendekat dan memberikan scrollnya kembali kepada Shouto. "Mereka menginformasikan jika nanti akan ada ninja dari Konoha yang akan menghalangi kita, jadi kita berdua dapat berhadapan Konoha ninja ini. Sedangkan Houtarou dan Kouza dapat menunggu kita di desa Yakigakure."
Shouto berdeham mengamati isi dari scroll. "Jadi kita memiliki waktu 10 hari dari sekarang. Aku menyetujui dengan idemu itu, tetapi tadi kau tidak memberikan instruksinya kepada Houtarou dan Kouza bukankah begitu?"
"Yaah well.." Izaya menggaruk kepalanya.
"Oleh karena itu kita akan melakukan pengoperasian esok hari. Untuk sekarang kita menunggu mereka berdua dan mempersiapkan semuanya." Lanjut Shouto menyodorkan scrollnya ke dada Izaya dengan kuat dan beranjak pergi. Tangannya meraih penutup muka untuk menutupi setengah wajahnya (Seperti Kakashi) dan memakai hoodienya lagi.
Izaya menatap punggung Shouto yang berangsur-angsur menjauh dari pandangan. Tangannya memutar scroll tersebut memainkannya dengan mengubah posisi dengan cepat.
2 hari sebelumnya~
Izaya memasuki tenda yang ditempati oleh Shouto dan mendapati ketua sekaligus partnernya tengah membenahi semua perlengkapannya. Pedang besar hitam terlihat dipunggungnya.
"Mereka sudah datang?" Tanya Shouto tanpa membalikkan badannya. Dia dapat merasakan kedatangan Izaya lebih dulu sesaat sebelum dia memasuki tendanya.
"Yah, mereka telah menunggu kita didepan. Dan, sepertinya kita mendapatkan bala bantuan." Jawab Izaya, matanya menerawang isi dalam tenda.
Shouto melihat kotak rokoknya, mendapati bungkusnya yang lama telah habis. Dia membuangnya ke tong sampah dan mengambil kotak yang baru, menyimpannya di dalam kantong celana. Kali ini menghadap pada partnernya. "Kita tidak perlu anggota baru untuk ini bukan?"
Menegakkan tubuhnya, Izaya mengfokuskan pandangannya kembali. "Itu bukan kemauanku. 'Dia' lah yang mengutus mereka, memastikan jika misinya berjalan dengan lancar."
"Dengan keberadaan mereka yang ada hanya akan menghabat kita." Gumam Shouto, tangannya meraih sebatang rokok dan menyalakannya dengan api. "Sebaiknya kita bersiap-siap." Ucapnya disela-sela hembusan nafas panjang. Memastikan kepalanya telah tertutupi oleh tudung jaket hitamnya dan membiarkan maskernya tergantung dilehernya. Shouto meraih kerah partnernya dan menariknya keluar dari tenda.
"Hey, Shouto!" Kouza melambaikan tangan kearahnya dengan Houtarou berdiri disebelahnya, mengangguk pelan mendapati kehadirannya.
Shouto mendorong Izaya dengan kuat hingga menubruk tubuh Houtarou. Tanpa menunggunya pulih dari shock, Houtarou melayangkan tendangannya pada perut Izaya dengan kuat.
Izaya memegangi perutnya dan mengerang pelan. "Kenapa kalian melakukan hal itu?!"
"Menjauh dariku." Jawab Houtarou dengan suara bassnya yang khas.
Shouto mendengus mendengar gumaman dari Izaya yang terdengar antara, menyeramkan dan kejam. "Baiklah, sebaiknya sekarang kita mulai. Seperti yang direncanakan oleh Izaya kemarin, kita akan membuat dua group. Aku dan Izaya akan menghalangi ninja dari Konoha untuk datang, sedangkan kalian, menunggu kami disana tanpa melakukan penyerangan. Mengerti?"
"Bagimana dengan mereka?" Kouza menunjuk pada bala bantuan yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Aku melupakan jika ada mereka." Gerutunya pelan. Menghitung jumlah anggota bala bantuan dan mendesah pelan. "Kita akan membagi menjadi 5 orang." Shouto menghisap terakhir dari putung rokoknya sebelum membuangnya ke jalanan dan berbalik menghadap anggota sementara.
"Dan kalian. Kalian bisa memilih untuk ikut denganku menghadang pasukan Konoha ninja atau bersama Houtarou dan Kouza menunggu kami untuk kembali. Dan ini diperuntungkan untuk tiga orang."
6 anggota sementara, saling memandang satu sama lain dan mulai berpencar membagi menjadi 3 bagian yang salah satunya ikut kedalam team Shouto.
"Baiklah. Sampai bertemu kembali disana." Shouto menutup wajahnya dengan masker dan menarik kerah Izaya kembali memaksanya untuk berdiri, menangguk kepalanya ke team yang lain sebelum menghilang bersamaan dengan ketiga teamnya.
Time Skip~
"Seharusnya mereka telah datang bukan? Apa kau dapat merasakan kehadiran mereka, Shouto?" Izaya bersender pada sebuah pohon besar rindang dengan tangannya memainkan kunainya untuk menghibur dirinya sendiri. Bagaimana tidak, sudah hampir 2 jam mereka menunggu ninja Konoha tersebut tetapi mereka tak kunjung datang juga.
"Bersabarlah, Izaya." Menghiraukan decakan partnernya, Shouto mendongak kearah langit melihat burung elang milik Izaya telah datang, menukik berputar diudara. Berdeham pelan, Shouto kembali mengfokuskan dirinya dan menangkap 3 chakra asing dari kejauhan. "Mereka datang."
Dalam sekejap mereka berada dalam posisi siaga. Shouto mendekatkan diri pada pohon untuk berbaur dan menunggu ninja Konoha untuk mendekat.
Setelah merasakan mereka (ninja Konoha) berada di jarak yang pas Shouto memberi isyarat untuk Izaya dan ketiga anggotanya keluar dalam persembunyian dan memperlihatkan diri mereka.
Selagi yang lain bertarung, Shouto mengeluarkan benang kecil dari dalam sakunya yang dia jentikkan keatas membentuk seekor lebah. Lebah tersebut terbang mendekati pertempuran tersebut dan menghinggap disalah satu anggota ninja dari Konoha. Cahaya merah berkedip redup, tetapi dia dapat melihat dengan jelas jika lebahnya telah tertanam.
Setelah itu, Shouto berlari mendekati anak laki-laki berambut hitam yang terlihat berada jauh dari anggota kelompoknya. Dengan gesit tangannya membuat sebuah segel yang biasa dia buat dan dia berfikir jika akan berhasil saat tiba-tiba sekelebat anak berambut pirang berlari kearahnya, menerkam dirinya sebelum segelnya aktif dan meledakkan mereka.
Shouto mengerang, merasakan sakit didaerah wajahnya. Dia dapat mendengar teriakan Izaya dari kejauhan dan terdengar khawatir. Berdecak pelan, Shouto memberi isyarat kepada parternya untuk mundur.
Shouto dan anak pirang tersebut tak sengaja saling berhadapan dan menatap satu sama lain. 'Anak itu melihat wajahku.' Pikirnya untuk terakhir kali sebelum memutuskan untuk pergi dan menghilang.
Mendarat di tanah yang keras, Shouto tak dapat menyeimbangkan dirinya dan tubuhnya tersungkur ketanah dengan cukup keras.
"Shouto!!" Izaya berlari mendekati ketuanya yang tergeletak di tanah. Membalikkan badannya untuk melihat keadaannya. "Shouto, kau tidak apa-apa?"
Dengan susah payah Shouto membangunkan dirinya dan melihat situasi. Menyadari jika hanya ada dirinya dan Izaya. "Hanya dirimu saja?"
"Cyclops itu menggunakan raikiri kepada kami. Jika saja aku tak gesit untuk menghindari serangan tersebut, mungkin saja aku akan bergabung dengan yang lain."
Shouto menghela nafas dia sudah tahu pada akhirnya hanya mereka berdualah yang selamat. Tangannya menggapai luka baru pada wajahnya dan mendesis pelan saat tak sengaja dia menekan lukanya. "Izaya saat kau tadi keluar dari persembunyian apa dirimu melihat seorang anak laki-laki pirang?"
"Aku melihatnya. Tetapi dia berada dijarak yang jauh dan hanya berdiri disana mengamati kami, jadi aku beranggapan jika dia tidak ikut dalam pertarungan."
"Anak itu yang menggagalkan diriku, aku tak menyadari kehadirannya sebelum semuanya terlambat dan segel yang kubuat sendiri mencelakakan diriku sendiri." Shouto merogoh kantong celananya dan mendesah lega mendapati kotak rokonya masih utuh. Dia mengambil satu batang dan menaruhnya di bibir sebelum menyalakannya dengan pemantik api. Shouto menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya dalam satu hembusan. 'Tak ada yang lebih menentramkan selain ini, bukan?'
Izaya mengamati partnernya dari dekat. Ini pertama kali untuknya melihat Shouta tidak fokus pada sekelilingnya. Atau memang anak itu dapat menyembunyikan chakranya dengan begitu baik?. "Ne.. Shouto apa kau berhasil memberi sinyal dimana mereka berada saat ini?"
"Ya, ada di salah satu dari mereka. Sebaiknya kita mengikuti mereka dari bayang-bayang."
Izaya menarik tangan Shouto membantunya untuk berdiri. "Bukankah seharusnya kita menemui yang lainnya di Yakigakure?"
"Rencana berubah. Aku ingin melihat mereka dari dekat terutama anak pirang itu. Izaya, kirim burungmu untuk memberitahu yang lain."
Menghela nafas, Izaya bersiul memanggil burungnya dan terdengar pekikan nyaring dari udara tak lama setelahnya. Burung itu berputar diudara sebelum menukik kebawah dengan kepakkan sayapnya yang lebar, cakarnya yang tajam terbuka dan mencengkram tangan Izaya.
"Semoga dengan perubahan rencana ini tidak menggagalkan kita." Gumamnya. Mengaitkan scroll kecil pada kaki elang tersebut. Izaya menghela nafas, melihat burungnya kembali mengepakkan sayap dan terbang menjauh.
Time Skip~
"Jadi ini alasan mengapa kamu ingin melihat anak itu lebih dekat.."
Mereka berdua telah mengamati perilaku anak itu dengan anggota teamnya dan prediksi Shouta akan mereka adalah benar. Kelompok anak itu memperlakukannya dengan begitu buruk bahkan ketuanya (Seperti yang dikatakan oleh Izaya tadi. Cyclops?) lebih memilih anak berambut hitam. "Padahal yang terkena ledakannya yaitu anak pirang tersebut karena dialah yang berada dekat denganku."
"Oh~ Anak itu pergi." Izaya berkata. Matanya mengikuti arah dimana anak tersebut pergi (lari) dan menghilang dari pandangannya. "Haruskah kita mengikutinya, Shouto?"
'Bahkan mereka tidak menyadari anak itu pergi. Team apa ini, sungguh menyedihkan.' Shouto berdecak pelan, menatap dengan jijik. Mendelik tajam kearah partnernya dan mendesis pelan. "Apa kau tidak melihatnya?! Mereka tidak menyadari jika salah satu teamnya menghilang atau.. Atau bahkan mereka menyadarinya, tetapi tidak peduli dengan menghilangnya salah satu dari team mereka!"
Izaya terlihat kaget akan ledakan kemarahan partnernya. Sudah lama untuknya melihat Shouto marah seperti ini dan terakhir kali dia seperti ini keesokannya orang yang telah membuatnya marah terbunuh dengan badannya begitu mengenaskan. Untuk sesaat dia merasakan kasihan kepada ninja Konoha ini.
"Tenanglah Shouto. Kau hanya akan memberi tahu mereka lokasi kita bersembunyi."
Shouto mengambil benang merah kembali dari dalam kantongnya. Kali ini lebih panjang dari sebelumnya dan dia melemparkannya keudara. Dengan cepat benang tersebut berubah menjadi replika seekor burung kecil. Sayap kecilnya mengepak begitu cepat hingga terlihat kasat mata diudara. (Semacam burung Hummingbird. Kalian bisa melihatnya di Google jika tidak tau wkwk xD)
"Lacak anak berambut pirang tadi dan ikuti dari jauh. Jangan sampe ketahuan." Perintahnya dengan dingin. Dan, dengan kepakan sayapnya yang cepat, secara perlahan badan kecilnya menghilang dari pandangan.
"Kita akan istirahat disini dan melihat keadaan esok hari." Lanjut Shouto.
~1 hari sebelumnya~
Shouto mengamati team Konoha dari jarak yang aman, badannya bersender diatas pohon dengan kakinya berayun pelan. Kepulan asap keluar dari sela-sela mulutnya dan dia berdeham pelan. Akhirnya satu per satu mereka keluar dari tenda dan sepertinya anak yang tak sadarkan diri telah pulih dan mulai mengemasi barangnya.
"Dan si cyclops pun masih belum menyadari jika salah satu anggotanya menghilang." Gumamnya datar. "Figures."
Dengan kesal Shouto menjentikkan tangannya, melempar putung rokoknya mengenai tepat pada wajah tertidur parternya.
Menjerit keras merasakan panas pada wajahnya, Izuya tersentak bangun. Tangan kanannya memegang wajahnya dengan tangan satunya lagi secara refleks mengambil kunai dari kantongnya. Sebelum Izaya melayangkan kata-kata serapah, menyadari bahwa partnernyalah yang melakukan itu, tiba-tiba saja Shouto mendesis, dan memberi gesture untuk diam.
Sepertinya teriakan dari Izaya telah membuat team Konoha terlihat waspada. Cyclops, ketua dari team Konoha terlihat menyuruh anggotanya untuk cepat-cepat membenahi tempat mereka. Salah satu anggotanya seorang anak perempuan menanyakan keberadaan Naruto yang dijawab olehnya ketuanya untuk terus melanjuti perjalanan dan berharap dapat menemukan Naruto ditengah perjalanan.
'Jadi, anak pirang itu bernama Naruto.' Pikirnya, mengamati kepergian team Konoha dengan seksama. Mendelik tajam kearah Izaya dan menggeram pelan. "Ada apa denganmu?! Kau membuat mereka pergi!"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu! Ada apa denganmu melemparkan putung rokokmu kearah wajahku?! Jika saja itu tak terjadi keberadaan kita tidak akan diketahui!"
Shouto mendengus kencang, memalingkan wajahnya. "Aku sedang kesal tadi."
"Dan aku yang mendapatkan imbasnya." Gumamnya pelan.
"Berhentilah bersikap seperti anak-anak." Shouto mengabaikan juluran lidah Izaya padanya. "Anak itu. Naruto. Dia belum terlihat juga.."
"Mungkin kita harus melihatnya sendiri?" Usul Izaya.
"Replika burungku sedang bersamanya lagian..- Oh. Itu dia! Burungku juga tak jauh berada disana."
Izaya mengamati anak itu melihat ekspresinya yang terlihat kecewa. Mungkin karena teamnya sudah tak ada lagi. Sungguh anak yang malang.
"Apa yang akan kita lakukan dengan anak pirang itu, Shouto? Dia mengenal dirimu juga bukan?"
"Aku mempunyai cara." Jawabnya singkat.
Tawa kecil terdengar dan seringaian lebar terbentuk dari wajah temannya. "Tentu saja, Shouto. Kau dan rencanamu itu."
~Back to Naruto~Sepanjang perjalanan Naruto memakan persediaan buah berry di dalam kantungnya sambil bersenandung pelan. Dengan keberadaan Kurama membuat perjalanannya tak lagi membosankan dan dia menikmati setiap langkahnya walaupun kelompoknya telah meninggalkannya begitu saja.
Tak lebih dari 2 jam mereka berjalan mengikuti jejak kaki yang ditinggalkan oleh kelompoknya. Akhirnya desa Yakigakure terlihat. Tempat tersebut sungguh mempesona jika melihatnya lebih dekat, tanah yang secara ajaibnya mengambang diudara dengan perumahan bergaya tradisional berada diatasnya. Bukan hanya itu saja, terlihat seperti cahaya bulat berwarna-warni mengambang diudara. Dengan situasi desa yang gelap menambah keindahan desa tersebut.
"Apa kau pernah melihat ini sebelumnya, Kurama?" Tanya Naruto dengan takjub.
"Tidak." Kurama merasakan sama takjubnya seperti Naruto. "Sungguh memukau, bukankah begitu."Naruto mengangguk pelan dengan setuju. Dia bersyukur mendapatkan misi ini dan melihat betapa menakjubkannya desa Yukigakure.
Tiba-Tiba saja sebuah tangan membengkam mulutnya dan menariknya kedalam gang kecil. Naruto berusaha memberontak dari cengkraman pada mulutnya, dia dapat merasakan Kurama masuk kedalam tasnya.
"Tenanglah Naruto. Ini aku, Kakashi." Kakashi melepaskan bengkaman pada mulutnya dan Naruto berbalik menghadap sosok gurunya beserta kedua teamnya yang lain berdiri tak jauh dari Kakashi.
"Se-sensei!"
Kakashi menampar pipinya dengan kencang hingga berbekas. Naruto memegang pipinya dengan shock, dia tidak merasakan denyutan pada pipinya saat itu. Dia tidak mempercayai jika Kakashi telah melakukan hal tersebut padanya.
"Ada apa dengamnu, Naruto?! Pergi begitu saja tanpa memberitahu kami! Kau tahu betapa khawatirnya kami saat mendapati dirimu tak ada?! Kau ini sungguh merepotkan saja!" Geram Kakashi.
Naruto menundukkan kepalanya, tangannya mengepal kencang hingga berubah warna menjadi putih. Dia tertawa kecil "Khawatir? Mendengar kata-kata tersebut terucap oleh mulutmu membuatku geli."
Kakashi mengernyitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Berhentilah berpura-pura khawatir denganku sensei."
"Berhenti bersikap seperti anak-anak, dobe."
"Diamlah, brengs*!" Geram Naruto.
"Naruto!" Sergah Kakashi dan Sakura berbarengan. Sakura menjitak kepalanya kuat membuatnya mengernyit sakit, dia dapat merasakan darah berdesir keluar dari kepalanya membasahi bagian belakang.
"Cukup! Aku tak tahan dengan ini semua!" Teriaknya, secara reflek memundurkan tubuhnya menjauh hingga punggungnya bersandar pada tembok dibelakangnya. "Berhenti berpura-pura jika kau khawatir denganku, Kakashi! Aku tahu didalam hatimu, kau merasa senang karena aku menghilang bukankah begitu?! Aku tahu dari awal jika Sasukelah murid favoritmu, aku dapat melihat jelas dimatamu yang terlihat begitu khawatirnya saat mendapati Sasuke tak sadarkan diri atau saat Sasuke pergi dari Konoha, dirimu mengurungkan diri begitu lama hingga melupakan kami berdua. Berbeda dengan kau menatapku tadi dan berkata jika kau khawatir padaku. Matamu tak menyiratkan kekhawatiran sama sekali, yang ada hanyalah amarah. Apa kau begitu tak sukanya denganku?! Jika memang dari pertama hanya ingin memiliki Sasuke dan Sakura, kau hanya perlu memberi tahuku. Aku tak peduli untuk kembali ke akademi untuk ketiga kalinya!" Naruto tak dapat membendung isakannya. "Apa kau membenciku seperti warga lain? Apa salah satu keluargamu, guru, atau teammu terbunuh karena sesuatu yang ada didalam diriku?!"
"Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga. Hanya itu. Saat bertemu dengan Jiraiya-sensei, aku merasa begitu bahagia karena akhirnya dapat merasakan hal tersebut hingga seseorang merenggutnya dariku. Aku sungguh merindukan keberadannya." Naruto tersungkur ketanah, menutup mukanya dengan kedua tangannya untuk menutupi raungannya. "Aku sungguh merindukannya! Aku sungguh merindukannya seperti dirimu pada Sasuke saat dia pergi dari desa tetapi ini berbeda! Jiraiya ji-san tidak akan kembali bagaimana pun juga!!"
Kakashi merasa bersalah. Dia belum pernah melihat Naruto menangis dengan kencangnya dan terlihat begitu putus asa. Tak hanya dirinya yang terlihat shock akan tangisan Naruto tetapi kedua teamnya juga.
"Naruto.." Kakashi mendekati tubuh Naruto yang meringkuk bersender pada tembak. Dia baru menyadari betapa kecilnya tubuh Naruto jika seperti ini, dan rasa bersalah menusuknya begitu dalam. Tangannya hampir meraih pundak Naruto saat tiba-tiba seekor elang menukik kearahnya mencakar tangannya dengan kukunya yang tajam sebelum terbang pergi.
"Hmm.. Aku tidak akan melakukan hal itu jika menjadi dirimu, Sobat." Ucap seseorang.
Sebelum dapat bereaksi sebuah tali berwarna merah menjangkau tubuh lemas Naruto dan menariknya. "Kerja bagus, Izaya." Ucap partnernya, dia menggendong Naruto layaknya seorang bayi.
"Perkenalkan namaku Shouto Higarashi dan ini adalah partnerku Izaya Satoshi. Disini, izinkan kami untuk mengambil anak malang ini dari kalian."
Akhirnyaaa chapter 3 selesaiUntuk chapter ini aku butuh votingan kalian, disini ada 2 pilihan, diantaranya:
1. Naruto keluar dari team 7 dan ikut teamnya Shouto. (Jika itu terjadi maka Naruto akan menjadi missing-nin)
2. Naruto tetap berada di team 7 dan memberikan kesempatan kedua pada mereka.
Setiap pilihan yang kalian pilih akan berpengaruh besar pada cerita selanjutnya dan tentu saja pada di akhir cerita nanti. Jadi, tolong pertimbangkan secara baik-baik.
Sampai jumpa minggu depan~
