Apa yang Akan Terjadi

Oleh : Honsuka Sara

I'm sittin' here all by myself
Just tryin' to think of something to do
Tryin' to think of something, anything
Just to keep me from thinking of you
But you know it's not working out
'cause you're all that's on my mind
One thought of you is all it takes
To leave the rest of the world behind

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

I'm sittin' here tryin' to convince myself
That you're not the one for me
But the more I think, the less I believe it
And the more I want you here with me
You know the holidays are coming up
I don't want to spend them alone
Memories of Christmas time with you
Will just kill me if I'm on my own

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back

I know it's not the smartest thing to do
We just can't seem to get it right
But what I wouldn't give to have one more chance tonight
One more chance tonight

I'm sittin' here tryin' to entertain myself with this old guitar
But with all my inspiration gone it's not getting me very far
I look around my room and everything I see reminds me of you
Oh please, baby won't you take my hand
We've got nothing left to prove

Well I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close and share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back, but I know you did

And I didn't mean to meet you then
We were just kids
And I didn't mean to give you chills
The way that I kiss
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back but I know you did
Don't say you didn't love me back 'cause you know you did
No, you didn't mean to love me back
But you did

A Lonely September by Plain White T's

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Miss me, Sherry?"

"You wish!" balas Ai. Sayangnya, senyum lebar yang menghiasi wajahnya sudah mengingkari kata-kata yang barusan keluar itu. Tentu saja ia sangat merindukan Ryenya.

Rye, pemuda FBI yang dulu amat dibencinya akibat kejadian dengan kakaknya, Akemi Miyano di masa lampau, kini sudah menjadi salah satu orang terdekatnya. Tiga tahun lalu, saat lelaki dewasa itu menerangkan tentang rencana penyerbuan organisasi dalam wujud Subaru Okiya, Ai terus mendesaknya sehingga semua rahasia-rahasia Rye terbongkar. Bahkan rahasia-rahasia terdalamnya. Dan tidak seperti detektif bodoh yang terus menyakiti hatinya walau dia sudah pergi ke dunia yang bersebrangan dengannya itu, orang di hadapannya ini masih rutin menghubunginya sehingga seiring waktu, hubungan mereka pun bertambah dekat.

Ya, benar. Untuk apa Ai terus memikirkan detektif bodoh itu selama ini?

"Jadi, kenapa kau bisa dengan seenaknya masuk ke dalam kamarku begitu saja?" tanya Ai setelah mempersilakan Rye duduk di kursi belajarnya, sementara dia sendiri duduk di pinggir tempat tidur.

"Profesor itu mempersilakanku masuk begitu saja, jadi aku langsung menuju kamarmu," jawab Rye tanpa dosa. Tangannya memain-mainkan pena lucu berwarna pink di atas meja belajar. "Jadi kau benar-benar mengulang masa kanak-kanakmu dengan serius, heh, Sherry?"

"Kalau 'mempersilakan masuk begitu saja' berarti pintu depan yang tidak terkunci maka aku tidak akan ragu kalau kau benar-benar Rye." Ai menatap sinis pria di depannya, lalu bergumam kecil tentang Profesor Agasa yang selalu lupa mengunci pintu depan jika pergi keluar. "Dan tentu saja aku serius dengan masa kanak-kanakku. Tidak bisa disebut mengulang kalau aku tidak pernah mendapatkannya dulu." Kali ini, ucapan Ai terdengar sedih dan pilu di telinga Rye, menandakan ia terbayang keluarganya lagi. Orang tuanya. Dan tentu saja Akemi Miyano yang secara tak langsung sudah dibunuhnya.

"Maafkan aku, Sherry."

Hening.

Di detik-detik yang menyiksa itu, rasa bersalah kembali menghujam dada Rye. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini pada Sherrynya? Orang yang kini sudah ia anggap adiknya sendiri? Mungkin tidak seharusnya Rye membeberkan rahasia terbesarnya pada gadis itu. Tidak seharusnya ia menyakiti gadis rapuh itu lagi.

"Di mana dia sekarang?" tanya Ai. Matanya tampak menerawang, tak fokus pada Rye lagi. Rye bisa melihat mata itu begitu merah menahan tangis, tapi entah kenapa, Rye merasa bahwa Ai tidak akan pernah mau menangis lagi di depannya sejak tiga tahun lalu. Ai tidak mempercayainya sebesar itu lagi.

Rye melepaskan pena lucu yang tanpa sadar sejak tadi masih digenggamnya. Ia menatap Ai dalam-dalam. Lebih-lebih, ia menatap Sherrynya yang seharusnya kini berusia dua puluh satu, seorang wanita dewasa yang sanggup menerima kabar yang dibawanya. Dan dia harap, bisa membantunya setelah ini.

Dia merasa seperti laki-laki tidak berguna dan tidak tahu malu.

"Aku meninggalkannya di ruang tengah."

Mata Ai kini segera fokus lagi padanya, terbelalak begitu lebar, menyiratkan ketakutan, kesedihan, kekagetan, dan ketidaksiapan yang berbaur jadi satu. Rye tidak menangkap satu pun kebahagiaan di sana. Apa ini benar-benar kabar buruk bagi Sherrynya?

Inilah sebabnya Rye tidak pernah lagi menyinggung topik tentang Akemi sejak saat ia menumpahkan segala rahasianya pada Ai. Ia tidak mau ini terjadi lagi. Ia tidak mau membuat Ai menangis lagi. Ia sudah berjanji pada Akemi untuk melindungi Ai seumur hidup di saat-saat terakhir Akemi. Walaupun dia jadi terlalu pengecut untuk berdiri tegak di hadapan Ai setelah kematian Akemi, sehingga skenario penyamaran Subaru Okiya pun tercipta.

Dia memang pengecut yang selalu berdiri di balik bayangan. Tapi demi sosok yang paling dicintainya saat ini, Rye tidak akan bersembunyi lagi. Walaupun terkesan tidak tahu malu, ia akan meminta Ai membantunya untuk saat ini, mengingat ia sama sekali tidak mengerti akan 'cinta' selain cintanya pada Akemi. Dan sebagai gantinya, kini ia akan melindungi Ai secara terang-terangan dari apa pun yang menyakitinya.

Termasuk detektif sialan yang sering membuat Sherrynya menangis itu.

"Kau tidak mau mempertemukanku padanya?" tanya Ai pelan, penuh dengan keragu-raguan, seolah takut Rye benar-benar akan menghalanginya menemui orang itu.

Bangkit dari kursinya, Rye berjalan hingga tepat berada di hadapan Ai yang kini mendongak mengunci matanya. "Kau mau menemuinya?" Ai mengangguk pelan, masih ragu-ragu. Kalau Rye mau mempertemukan mereka berdua, kenapa tidak ia lakukan sejak tadi? "Sikapnya benar-benar mirip denganku, kau tahu? Tapi kau tidak boleh merasa kesal padanya seperti kau kesal padaku," ucap Rye dengan lebih ringan. Mengingat sosok itu selalu membuat hatinya terasa ringan dan manis seperti gulali pasar malam. "Tapi wajahnya sangat mirip dengan kakakmu."

"Apa karena itu kau menyayanginya? Hanya karena dia mirip dengan kakakku?"

Perlahan. Rye menarik tangan Ai sehingga gadis itu bangun dari tempat tidur dan berdiri tegak di hadapannya. Dia memegang bahu Ai, menenangkannya. Tahu bahwa Ai gugup menghadapi sosok yang tadi ditinggalkannya di ruang tengah rumah ini. "Dia sangat manis. Semua orang pasti jatuh cinta padanya. Sebentar lagi, kupastikan kau akan menyayanginya juga."

Hening lagi. Perlahan, Rye menarik lagi tangan Ai untuk berjalan ke arah ruang tengah. Mereka berdua berhenti di sana, menatap seorang gadis kecil berumur tiga tahun yang tampak luar biasa tenang memangku boneka beruang hitamnya. Kepalanya menoleh dengan gerakan halus kea rah dua orang di ambang pintu.

"Miya, ayo beri salam pada bibimu."

"Selamat sore, Bibi Sherry."

~HS~

"Kau harus sering berkunjung ke apartemenku. Masa cutiku masih panjang dan aku tidak tahu caranya mengurus anak," seringai Rye pada Ai di pagar depan rumah Profesor Agasa sore itu. Hari sudah menjelang malam dan mereka berdua pamit pulang ke tempat tinggal Rye yang baru di Jepang.

Tak mengindahkan ucapan Rye, Ai sedikit membungkuk lalu tersenyum manis pada Miya, senyum tulus yang sudah dipelajarinya dari anak-anak sungguhan di sekitarnya empat tahun ini. "Jaga ayahmu untuk Bibi. Oke, Miya-chan?"

"Baik, Bibi Sherry," jawab Miya sopan dan dingin, benar-benar persis Rye, minus wajah sombong yang menyebalkan berhubung wajah Miya delapan puluh persen adalah jiplakan kakaknya. Benar-benar aneh, bahkan bagi Ai, melihat bagaimana sikap keponakannya itu, apalagi setelah mendengar suaranya yang masih agak cadel tapi ekspresinya begitu serius.

"Dan kau, jangan berbicara begitu di depan Miya. Dia tidak perlu tau bahwa dia punya ayah yang payah," ucap Ai sambil memberi Rye glare jarak dekat, dengan mengecilkan suaranya, tentu saja.

Setelah keduanya pergi dengan sedan silver milik Rye, Ai masih berdiri di sana, mencari ketenangan dan ketentraman sesaat, menatap burung-burung di langit senja yang sekali lagi ditemuinya, saat sosok yang sudah lama mengisi hatinya tiba-tiba muncul di ujung jalan. Bersama Ran Mouri.

Ia mencoba bergegas untuk masuk, tapi ternyata tidak terlalu cepat, karena Ran Mouri memanggilnya dengan suara keras. "Ai-chan! Kami akan mengadakan pesta kecil-kecilan menyambut kedatangan Shinichi. Kau mau ikut?"

"Memangnya dia mengenal Shinichi? Dia kan datang ke sini setelah lelaki brengsek itu pergi, Ran," ucap Sonoko blak-blakan. Saat itulah Ai menyadari bahwa selain Shinichi dan Ran yang berjalan beriringan, beberapa teman sekolah mereka termasuk Sonoko juga ada di sana, menenteng belanjaan dari super market untuk 'pesta kecil-kecilan' mereka.

"Oi, oi. Siapa yang kau sebut lelaki brengsek, hah?" protes Shinichi kali ini terdengar begitu nyaring.

Mereka semua tertawa dan mengobrol bahagia, melihatnya seperti itu, melihat Shinichi yang bisa begitu bahagia tanpa dirinya, membuat Ai cepat-cepat ingin kabur ke kamarnya yang aman di basement, di mana tidak ada seorang pun yang bisa mendengarnya dan mengganggunya. Andai saja dia bisa lepas dari genggaman Sonoko yang kini sudah menariknya menuju rumah Shinichi.

Kenyataannya, pesta itu memanglah pesta kecil-kecilan biasa. Bungkusan-bungkusan snack dan berkaleng-kaleng minuman bersoda maupun jus tersebar di meja, sofa, dan karpet yang dipenuhi belasan teman-teman mereka. Rupanya, Ran dan Sonoko berhasil mengontak teman-teman lama mereka yang mengenal Shinichi dalam waktu singkat demi menyelenggarakan pesta ini.

Sementara orang-orang terlarut dalam suasana hingar bingar rumah Shinichi yang kini dipenuhi lagu-lagu masa kini, Ai Haibara duduk di salah satu sofa yang paling pojok di ruangan itu, berusaha keras untuk menjadi tak terlihat dan mencoba untuk kabur. Dari spotnya duduk, Ai bisa dengan jelas melihat Shinichi yang sedang mengobrol seru dengan Ran mengenai entah apa. Yang jelas, mereka berdua terlihat sangat bahagia dan jelas sekali ditakdirkan untuk bersama.

Entah bagaimana, satu jam telah berlalu dan Ai masih bertahan untuk duduk dengan kaku di sana, menahan sesak dan air mata yang sejak awal ditahannya. Memang ini kehidupan Shinichi Kudo yang sebenarnya, kan? Penuh dengan kebahagiaan bersama teman-teman yang menyayanginya, belum lagi teman masa kecilnya yang sempurna itu. Bukan salah Shinichi jika Ai terjebak dalam tubuh kecilnya ini dan terpaksa harus tumbuh dewasa sekali lagi.

Tapi Ai tidak akan pernah lupa saat dulu, dulu sekali, Conan bilang akan menjaganya dengan taruhan nyawa dan tidak akan meninggalkannya sendirian di tengah-tengah anak-anak kecil sungguhan itu. Karena itulah dulu ia bisa tahan menjadi Ai Haibara, karena selalu ada Conan Edogawa di sampingnya. Namun sekarang, rasanya ia mengerti kenapa Conan bilang begitu padanya. Karena tanpa Ai, tidak aka nada harapan bagi Conan untuk kembali menjadi Shinichi, bukan? Dan sekarang setelah ia membayar hutangnya yang menyengsarakan hidup Shinichi dengan obat gagal buatannya, Shinichi tidak membutuhkannya lagi.

Bukan saatnya menangisi detektif bodoh itu lagi. Mau menangis sebanyak apapun, Shinichi tak akan pernah melihat ke arahnya lagi.

Lagipula, dia masih punya banyak hal untuk dilakukan, salah satunya adalah mengurus Miya Akai. Inilah rahasia terdalam Rye yang akhirnya berhasil dikuak Ai tiga tahun lalu. Bahwa saat perampokan, Rye berhasil menyelamatkan Akemi yang telah ditembak Gin. Saat itu, mereka berdua sudah menikah diam-diam dan kakaknya sedang mengandung Miya sejauh tiga bulan. Sayangnya, Akemi meninggal dunia saat melahirkan Miya.

Seperti yang selalu dilakukannya sebelum ada Akemi, Rye kembali pada sifat workaholicnya yang menyebabkan hampir selalu terlibatnya dia dalam misi FBI. James mengizinkannya saja, mengingat Rye yang dulu juga selalu mengambil misi seperti itu, tanpa tahu bahwa lelaki itu meninggalkan anak perempuannya di rumah tanpa orang tua yang seharusnya bisa menjaganya. Hidup hanya dengan pengasuh yang pasif dan beberapa kali mendapat sikap dingin dari ayahnya, Miya tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat dingin dan pendiam, dengan ajaran etika dan kemandirian yang terlalu berlebihan untuk umurnya, menyebabkan dia tumbuh seperti sekarang.

Ya, dia punya Miya yang harus diurusnya sekarang. Tidak perlu memikirkan detektif bodoh itu lagi.

Tapi pemikiran bodoh itu pun terlalu dangkal dan tanpa tekad karena begitu menyadari suasana hening dan kejadian yang sedang berlangsung di hadapannya, Ai seketika merasa sesaknya bertambah ribuan kali lipat.

Shinichi berlutut dengan satu kaki, menyodorkan sebuket mawar merah yang amat cantik pada Ran Mouri seraya berkata, "Setelah semua waktu yang berlalu, maukah kau berikan aku kehormatan untuk selalu ada di sisimu sebagai kekasih?"

Teman-teman mereka langsung heboh dan menjeritkan berbagai macam kata yang tidak begitu didengar Ai. Hal terakhir yang dilihatnya lewat pandangan yang buram akibat air mata adalah anggukan Ran. Saat itu, ia sudah setengah jalan berlari kea rah pintu depan untuk kembali ke rumah Profesor Agasa, ke kamarnya di basement yang tenang dan sepi.

Tempat di mana ia bisa menangis tanpa diketahu siapapun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Balasan review^^

Olga : yeah, selera kita samaa *highfive* gimana dengan chapter dua ini? cepet kan updatenya? Kebetulan Sara baru sembuh dari demam dan berhubung besok2 sibuk untuk ospek jurusan, malem ini langsung nulis dan upload. Alurnya udah Sara lambatin, terus ceritanya juga makin panjang lho! Gimana gimana? Nggak apa-apa kok cerewet, Sara juga –menurut teman2- cerewet banget. Review lagi ya^^

Guest : nih udah lanjut, btw makasih semangatnya^^ gimana chapter dua ini? kamu suka? Sara udah berusaha sebaik mungkin, so enjoy the story yaaa~

AN : waaah, nggak kerasa chapter dua udah selesai ajaaa, Sara senang sekaliii^^ ada request kece dari Zero ReAna, tapi kayaknya belum nyambung kalau di chapter ini, jadi sabar dulu yaa, nanti Sara usahain di chapter-chapter depan baru diadain requestnyaa.

Jadi, gimana pendapat kalian tentang chapter dua ini? selamat berkomentar!