Kuroko pamit , kemudian ia berjalan menuju pintu keluar. Saat ia hendak membuka pintu, seseorang mengetuk pintu itu dengan keras. "Tuan Akashi! Tuan Akashi!"
Kuroko membuka pintu tersebut, disusul dengan munculnya Akashi dari ruang tamu.
Nebuya bercucuran keringat "Hosh—hosh.. Syukurlah kau yang membukanya Tuan Kuroko."
"Ada apa Nebuya?" kening Akashi berkerut
"Ibu dari Kuroko Tetsuya kecelakaan."
Kuroko terbelalak kaget, wajahnya masih belum berganti ekspresi berbeda dengan hatinya yang sudah mulai berdegup kencang.
Akashi memukul Nebuya "Bercandamu tidak lucu."
Nebuya menunjukkan kedua telapak tangannya "Sungguh aku tidak bercanda bung. Di depan apartemen, ada seorang ibu ibu tertabrak mobil. Ia memiliki rambut berwarna biru langit"
Wajah lembab Kuroko mulai terasa panas. Kecepatan degup jantungnya meningkat. Segerombolan air memaksa untuk keluar dari kelopak mata.
Akashi menoleh ke arah pria berambut biru di sampingnya, dan kaget mendapati Kuroko Tetsuya menahan tangisnya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bertindak gegabah. "Lalu bagaimana keadaannya?"
"Ia dilarikan ke rumah sakit terdekat" jawab Nebuya singkat.
"Kita ke sana sekarang."
THE DIFFERENCE
Disclaimer Fujimaki Tadaoshi
The Difference by Nakami~
Rated: T+ / Direktur!Akashi Seijuurou xTukangParkir!Kuroko Tetsuya
Genre : Romace, Humor
Akashi dan Kuroko, maaf sedikit OOC.
Maaf kalau gaje atau sebagainya, saya author abal. :'v
WARNING: CHAPTER INI MUNGKIN RADA PLAIN, TAPI INI AWAL DARI KISAH CINTA MEREKA(?)
CHAPTER 3
.
.
Akashi mendampingi Kuroko yang duduk dengan kaki tak mau diam di depan UGD. Pemuda disampingnya mendekap erat kedua tangannya sambil komat kamit memohon keselamatan ibunya. Ia sampai tak sadar ada suster yang sudah menepuk pundaknya daritadi. Ternyata, hawa keberadaan orang lain bisa lebih tipis dari Kuroko Tetsuya jika kita sedang fokus.
Akashi berdiri menghampiri suster, Kuroko tentu belum menyadari.
Suster berpakaian serba pink menunjukkan wajah lega saat melihat Akashi menghampirinya
"Apakah ada sesuatu yang penting nona?" tanya Akashi sopan
Suster mengangguk cepat "Apakah anda keluarga korban?"
Akashi terdiam sebentar, mencari alasan bagus "Saya calon suami anaknya..."
Sang suster memandang dengan tatapan iba "Wah, mendapatkan musibah sebelum pernikahan anaknya."
"Jadi intinya ada apa?"tutur Akashi tak mau banyak basa basi
"Ah—iya , ini situasi genting. Calon mertua anda mengalami pendarahan di kepala akibat benturan yang sangat keras. Kami harus melakukan tindak operasi."jawab Suster dengan nada sopan
"Lakukan yang terbaik."pemuda berambut biru tiba tiba muncul dari punggung Akashi. Matanya merah. Bukan karena menangis, namun karena menahan tangis.
Sang suster membungkuk "Maaf sebelumnya.. Tapi, anda harus segera menyelesaikan pembayaran"
Raut wajah Kuroko berubah, sedari tadi ia lupa tentang biaya rumah sakit "Ka-kalau begitu, bagaiman—"
"Aku yang urus.."jawaban Kuroko dipotong dengan Akashi yang segera melangkahkan kakinya ke arah kasir.
Sedangkan Kuroko terdiam, ia berpikir cara membayar biaya operasi sang ibu. Bekerja sambilan setiap pulang kerja? Atau pinjam uang ke tetangga? Meminjam dibayar meminjam, ide buruk. Ia harus berpikir lebih keras lagi. Kakinya sudah berhenti bergerak gerak, ia berhenti mendekap kedua tangannya. Tenggelam dalam lamunannya sendiri. 'Bagaimana cara membayar Akashi?'
Sebuah tangan jatuh diatas pundaknya, mengelus elus pelan "Tidak usah dipikirkan sekarang. Pikirkan dulu keselamatan ibumu, Tetsuya" Akashi kembali untuk menenangkan Kuroko
.
.
.
Suara pintu terbuka menggema di lorong yang sepi. Sudah hampir tengah malam, penanganan orang tuanya sangat memakan waktu lama. Kuroko baru saja terlelap, dan tanpa sadar kepalanya terjatuh di pundak Akashi. Sedangkan Akashi masih berusaha untuk bisa tertidur.
"Maaf, dengan keluarga Nyonya Kuroko?"tanya sang dokter kepada Akashi
Akashi mengangguk "Saya calon suaminya." Jawab Akashi masih menggunakan alasan yang sama.
"Begini..."
.
.
.
Kuroko duduk di samping foto sang ibu mengenakan pakaian serba hitam. Tangisnya sudah berhenti. Sejak Akashi mengantarnya dan sang ibu ke rumah sakit, kemudian dokter mengatakan bahwa nyawa sang ibu tidak dapat diselamatkan. Tangisan Kuroko hanya pecah sekali, di dalam pelukan Akashi. Siapa sangka kalau sarapan yang dimakannya tadi pagi adalah sarapan terakhir dengan sang ibu.
Akashi masih mendampingi Kuroko sampai tidak ada lagi orang yang datang untuk bertamu, tujuannya untuk memastikan kondisi Kuroko . Pemuda yang sedari tadi ia perhatikan tidak menangis lagi sejak ibunya di bawa ke rumah untuk dikebumikan.
Kuroko menoleh ke arah pria berambut merah yang sedari tadi tidak berpindah tempat duduk "Akashi-kun, tidak pulang?" tanya Kuroko
Akashi menghampiri Kuroko dan duduk di sampingnya"Kau terlihat pucat, tidak makan ya sejak tadi pagi?"
"Aku sarapan bersama Okaa-san sebelum berangkat ke rumah Akashi-kun."jawabnya
"Makanlah sedikit Tetsuya."titah Akashi
Kuroko menggeleng "Tidak mau Akashi-kun."jawab Kuroko sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum
Akashi mulai geram melihat tingkah Kuroko "Tetsuya, jika kau mau menangis, menangislah. Jangan ditahan-tahan. Aku yakin kau sudah menahan sesak di dadamu dari tadi kan?"
Kuroko memalingkan wajahnya "Aku sedih, tapi tidak menangis."
"Itu karena kau menahan tangis." Timbal Akashi
Kuroko menoleh ke arah Akashi, matanya mulai berlinang
"Menangislah Tetsuya"
Kuroko berdiri wajahnya terlihat masam "Aku ke kamar mandi dulu Akashi-kun, permisi."jawabnya lalu berlari kecil ke arah kamar mandi
Akashi menghembuskan nafas berat, Kuroko bersikeras untuk tidak menunjukkan tangisannya di depan Akashi. Padahal saat di rumah sakit , Kuroko menangis dipelukannya. Pria berambut merah itu tenggelam dalam lamunannya tentang Kuroko sampai terdengar suara keras dari kamar mandi.
Akashi berdiri dari tempatnya "Tetsuya?"
Tidak ada jawaban dari arah kamar mandi.
Akashi memutuskan untuk menghampiri sumber suara "Tetsuya?"
Masih tidak ada jawaban.
Akashi membuka pintu kamar mandi "Tetsuya, apa kau baik baik saj— ASTAGA TETSUYA!"
.
.
.
Kuroko mengerjap ngerjapkan matanya, tatapan matanya masih buram. Terdengar suara konsisten yang tidak asing di telinga. Ia mengedarkan tatapannya, tidak mengenali lingkungan sekitarnya.
'Apakah sebentar lagi aku akan bertemu okaa-san?'
Langkah kaki terdengar, semakin lama semakin mendekat "Jangan berpikir kau akan bertemu ibumu sebentar lagi Tetsuya."
Pria bersurai merah duduk di samping kasur Kuroko "Hei, aku tau kau tukang parkir yang rupawan. Tapi jangan coba coba bunuh diri dengan menelan pembersih wajah!" ujar Akashi sambil mengurut pucuk hidungnya
Kuroko bangkit dari tempat tidurnya, menatap tak suka kepada lawan bicaranya.
"Hei, bicaralah. Minta maaf kepadaku."titah Akashi
"Untuk apa?"
Akashi menghembuskan nafas berat "Kau sudah cukup merepotkanku dua hari ini! Jangan berpikir dengan kehilangan ibumu, kau tidak memiliki orang yang tidak peduli denganmu."jawab Akashi panjang lebar.
Kuroko membalas tatapan Akashi"Aku memang sendirian Akashi-kun"
"Kau perlu pengawasan Kuroko Tetsuya. Aku tidak mau kau terlarut larut dalam kesedihan seperti ini. Lalu mencoba menelan pembersih wajah."Akashi menatap kedua bola mata biru yang menatapnya penuh rasa tidak suka"Jadi untuk sementara waktu, kau akan selalu berada di bawah pengawasanku." Lanjut Akashi
"Maksudmu?"
"Kau akan tinggal bersamaku."
To be continue
HORE AKHIRNYA UPDATE! Alasannya masih sama, tugas. Udah itu aja. Maaf sekali update nya lama T_T Horodac bakal di update secepatnya juga~ Saya usahakan, karena minggu depan banyak libur \(^^)/
Oh iya, yang punya LINE, boleh di add OA *promosi*
Pairingnya masih Akakuro ,
link : line . me / ti / p / %40ljl7289o (HAPUS SPASI)
Atau ID ljl7289o ( disertakan) OKE MAKASIH SAMPAI KETEMU DI CHAPTER BERIKUTNYAAA
