Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan.

Genre : romantice-drama

Pair : SasuSaku, SakuSai, SasuHina, NaruHina, SaiIno

Don't Like Don't Read

[Chapter 3]

.

.

.


"Karin.., Sasuke memanggilmu," Ucap seorang murid yang satu kelas dengan Karin.

"Sasuke?" Ucap Karin perlahan dan detik berikut lengkungan senyum menghiasi bibirnya.

"Iya, dia menunggumu di atap," Ucap gadis itu lagi.

Karin pun berjalan menuju atap gedung sekolah, berjalan menaiki tangga satu persatu dengan perasaan begitu senang, wajahnya nampak memerah mendengar Sasuke memanggilnya, satu langkah lagi dan Karin tepat berada di depan pintu atap, di bukanya pintu atap perlahan dan Karin melihat Sasuke yang berdiri jauh dan membelakanginya.

"Sasuke," Ucap Karin perlahan dan terus berjalan menghampiri Sasuke,

Sasuke yang merasa di panggil berbalik dan menatap Karin, Saat ini Karin hanya bisa memasang wajah kagetnya, Sasuke tersenyum kepadanya, hal itu membuat wajah Karin semakin memerah.

"Ada apa?" Ucap Karin lagi,

"Uhm, aku menyukaimu," Ucap Sasuke dan terus menatap Karin.

"B-benar kah?" Karin semakin merasa senang mendengar kalimat itu dari Sasuke.

Sasuke berjalan mendekati Karin dan menatapnya, " Bohong,"

Mata Karin membulat sempurna menatap Sasuke, "A-apa Maksudmu, Sasuke?"

"Aku tidak menyukai orang yang selalu berpikir jahat dan hampir saja membunuh seseorang,"

Karin terdiam dan hanya menatap sedih ke arah Sasuke, Sasuke masih terdiam dan menatap Karin dengan tatapan hampa.

"Meskipun kau bersamanya, aku tetap tidak akan merelakanmu, aku tidak peduli lagi jika harus membunuhnya, asal kau tidak bersamanya, aku sangat membencinya, kenapa! Kenapa harus dia! Ha!, aku lebih mengertimu, aku lebih tahu hal apapun tentang kau, Sasuke," Ucap Karin dengan begitu serius.

Sasuke masih terdiam dan tak lepas dari tatapnya, Karin menundukkan wajahnya mencoba menahan air matanya.

"Iya, aku yang menjebak Sakura ke ruangan penyimpanan di aula, dan..., iya aku juga yang membakar ruangan itu, itu semua aku lakukan demi kau Sasuke…! Aku ingin kau tahu perasaanku padamu," ucap Karin dan kini menatap Sasuke, Karin semakin terkejut, mata Sasuke begitu kelam dan sangat menakutkan sampai-sampai membuat tubuh Karin gemetaran.

"Baiklah, cukup sampai di situ saja Karin," Ucap seseorang di belakang Karin, membuat Karin terkejut dan langsung berbalik, terlihat kepala sekolah Sarutobi, Ino dan Kakashi sensei.

Kakashi sensei kemudian berjalan menarik lengan Karin untuk mengikutinya, begitu juga kepala sekolah Sarutobi berjalan mengikuti mereka, Ino hanya berdirii dan melihat mereka pergi dan pintu atap tertutup.

"Haa..~ padahal aku ingin sekali memukul wajahnya, apa kau tidak marah dengan perbuatannya?" Ucap Ino sedikit kecewa dengan tindakan Sasuke.

Sejak awal mereka sudah membuat rencana, Sasuke akan membuat Karin mengaku perbuatannya dan Ino memanggil kepala sekolah Sarutobi dan Kakashi sensei, rencana mereka pun berhasil.

"Aku ingin menemui Sakura," Ucap Sasuke, tidak merespon kalimat Ino tadi, Ino hanya memasang wajah kesalnya sambil mengikuti Sasuke menuruni tangga.

.

.

.

Sepertinya Sakura sudah tidur berjam-jam, perlahan Sakura membuka matanya, menatap ke arah langit-langit ruang uks sekolah dan menoleh ke samping, mendatapi Sasuke yang tertidur sambil menopang dagunya. Sakura yang perlahan bangun dari tempatnya berbaring, hanya tersenyum menatap Sasuke yang masih tertidur, ini kedua kalinya Sakura menatap Sasuke yang tertidur, terlihat dari wajah Sasuke, dia begitu lelah menunggu Sakura hingga pulih kembali, Sakura menggerakkan tangannya dan membelai perlahan pipi Sasuke, membuat Sasuke tersadar dari tidurnya dan kini menatap wajah Sakura yang tersenyum manis di hadapannya.

"Ohayou Sasuke," Ucap Sakura.

"Baka, Ini sudah malam," Ucap Sasuke, membuat wajah Sakura menjadi cemberut.

"Baiklah, aku tidak mau berbicara denganmu lagi," Ucap Sakura, kembali tidur dan menutup seluruh badan dan wajahnya dengan selimut.

"Apa kau akan tetap di tempat tidur itu?"

"Tentu saja aku mau pulang," Ucap Sakura masih cemberut dan tetap dengan posisinya.

Sakura yang merasakan bunyi pintu ruang uks bergeser, menurunkan selimutnya dan turun dari ranjang, berjalan perlahan mengikuti arah Sasuke keluar, sesampainya di depan pint, Sasuke tetap berjalan tanpa menunggunya.

"Dia meninggalkanku? SASUKEEEE...!" Teriak Sakura.

"Cepatlah," ucap Sasuke, berhenti berjalan dan tanpa membalikkan badannya.

Sakura segera berlari dan menghampiri Sasuke, merangkul lengannya dengan manja dan tersenyum manis, Sasuke hanya menatap tingkah Sakura yang membuatnya senang dan kembali berjalan bersama Sakura.


Kota Suna

Terlihat Hinata sedang bersantai di kamarnya, jendela yang cukup lebar dibiarkannya terbuka dan angin di siang hari berhembus perlahan menggoyangkan gorden putih yang menghiasi jendela kamar Hinata.

Tok..Tok...Tok..

"Masuklah," Ucap Hinata tanpa bergerak dari kursi tempatnya bersantai.

"Maaf, Nona Hinata, tuan Naruto datang berkujung dan dia sedang menunggu di ruang tamu" Ucap Pelayan Hinata.

Hinata segera berdiri dari tempat duduknya dan berlari keluar kamarnya, wajahnya begitu senang dan menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru, terlihat di ruang tamu yang begitu luas, Naruto sedang duduk dan sibuk menekan-nekan layar ponselnya.

"N-naruto," Ucap Hinata, membuat Naruto yang kini menatap ke arahnya.

"Hinata, apa kabar?" Ucap Naruto, menyimpan ponselnya di saku dan berjalan menghampiri Hinata.

"Aku baik-baik saja, ada apa? Tiba-tiba kau ke Suna,"

"Uhm, hanya ingin menanyakan kabarmu, saat kau ke Konoha, kau tidak menghubungiku, malah hanya menemui si teme itu," ucap Naruto memang wajahnya yang sedikit kesal.

Hinata tertawa kecil dan tersenyum," Maaf, aku lupa menghubungimu,"

"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Naruto.

"Aku tidak sibuk,"

"Baiklah, kau harus menemaniku selama di Suna,"

Hinata hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Naruto.

.

.

.

Pagi hari di Kota Konoha, para murid-murid berjalan menuju Konoha gakuen, Sakura sedang berjalan bersama Ino dan sesekali mereka berbincang-bincang dan di belakang mereka ada Sai yang mengekor, mendengarkan tiap percakapan Sakura dan Ino,

Beberapa murid yang lain berjalan dengan cepat menuju papan pengumuman, terpampang info perayaan yang akan di adakan di kota Konoha besok malam, perayaan itu selalu di adakan setiap setahun sekali untuk merayakan hari jadi kota Konoha, Sakura, Sai, dan Ino mengubah arah jalan mereka dan ikut menuju papan pengumuman.

"Perayaan kota Konoha, akan di adakan pasar malam dan peluncuran 100 kembang api pukul 10 malam," Ucap Ino membaca tulisan-tulisan di selebaran kertas yang di tempel di papan pengumuman.

"Sepertinya akan ramai," Ucap Sakura.

"Kita juga harus ke sana," Ucap Ino, Semangat.

"Tentu, Kau ikut Sai?" tanya Sakura dan melihat ke arah Sai.

"Iya," Ucap Sai dan tersenyum.

"Apa kau tidak mengajak Sasuke?" Tanya Ino.

"Uhm, entalah, mungkin dia akan sibuk," Ucap Sakura, tersenyum kaku.

Sai melihat ke arah Sakura dan merasa akan memiliki kesempatan banyak bisa bersama Sakura saat perayaan malam nanti.

"Oh yaa, Sasuke dimana?"

"Dia ada di kelas, sepertinya dia sudah sana sejak tadi," ucap Sakura dan mereka bertiga kembali berjalan.

Di kelas, terlihat Sasuke yang menatap ke bawah dari arah jendela, murid-murid yang lain sibuk berkumpul di papan pengumuman.

"Perayaan yaa," gumam Sasuke dan kini mengalihkan pandangnya ke arah kursi Sakura.


Jam istirahat, saat di taman sekolah, Sakura sibuk memakan bekalnya dan Sasuke sibuk dengan jus tomatnya.

"Apa kau akan sibuk besok malam?" Tanya Sakura dan melahap onigirinya.

Sasuke masih terdiam, wajahnya yang tenang sulit di tebak Sakura, apa dia sedang berpikir atau tidak ingin merespon pertanyaan Sakura.

"Tidak tahu," jawab Sasuke datar.

Sakura memasang wajah cemberutnya, "Ya sudah, aku tidak akan bertanya lagi," Ucap Sakura dan kembali menguyah makanannya.

"Uhm, pergilah dengan Ino dan jangan mengajak orang itu," Ucap Sasuke.

"Orang itu?", Sakura mengulang ucapan terakhir Sasuke.

"Iya, yang selalu mengekormu setiap hari," Ucap Sasuke dengan wajah dingin.

"Sai?"

"Hn,"

"Aku sudah mengajaknya,"

Sasuke tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun pada Sakura.

"Sasuke," Panggil Sakura, namun si wajah dingin itu tidak juga berbalik, "Apa dia marah," Ucap Sakura perlahan dan segera menghabiskan makanannya.

Sasuke berjalan di koridor dan tidak menunggu Sakura, dari arah depan Sasuke, Sai berjalan ke arahnya, satu langkah, dua langkah, mereka hampir bertemu, saat berpapasan, Sasuke berhenti.

"Jangan mengganggunya," Ucap Sasuke.

Sai yang merasa sedang di tegur Sasuke, berhenti perlahan dan tidak berbalik, "Aku akan merebutnya," Ucap Sai, begitu percaya diri dan terlihat senyum kemenangan di wajah Sai.

"Lakukanlah sesukamu," Ucap Sasuke dan kembali berjalan.

Sai berbalik melihat Sasuke yang sudah berjalan jauh darinya. Dia merasa sedikit kesal dengan sikap Sasuke, dia ingin Sakura menjadi miliknya dan membahagiakannya, hanya saja usahanya saat ini masih tidak membuat hati Sakura tergerak untuk menatapnya, menatap seseorang selain Sasuke.


Malam hari ini Kota Konoha, pukul 19:30

Di taman kota yang sangat luas, sudah ramai dengan beberapa warung-warung dadakan, tersedia makanan, minuman, pernak pernik dan berbagai jenis barang yang dijual, pengunjung pun semakin ramai, terlihat di atas panggung Hashirama Senju, walikota kota Konoha sedang meresmikan acara perayaan kota Konaha, para pengunjung begitu antusias dan beramai-ramai berdatang.

"Bahkan pak Hashirama senju pun datang," Ucap Ino kagum dengan walikota Konoha.

"Beliau sudah janji akan meresmikan acara ini," Ucap Sai.

Sakura hanya terdiam dan mengikut Sai dan Ino berjalan menuju keramaian, suasananya begitu ramai dan para pengunjung begitu bersenang-senang di perayaan, Sakura masih terdiam sampai-sampai tidak mendengar Ino memanggilnya.

"SA-KU-RA…!" Ucap Ino, setengah berteriak di telinga Sakura.

"Ino, jangan teriak-teriak,"

"Aku dari tadi memanggilmu dan kau tidak mendengarkannya," Ucap Ino

"Ma-maaf,"

"Ada apa? Dari tadi kau hanya melamun,"

"Aku…, uhm, tidak kok, aku baik-baik saja," ucap Sakura dengan senyum paksa.

Sai yang melihat raut wajah Sakura hanya terdiam dan terus memperhatikan Sakura, Sai tahu jika saat ini Sakura ingin Sasuke ikut.

"Ayo kesana, sepertinya kau harus mencoba takoyaki yang ada di sini katanya enak loh," Ucap Sai memegang tangan Sakura dan menariknya pergi.

"Ya sudahlah, kalian bersenang-senanglah, aku mau mencari barang-barang bagus," Ucap Ino, dan mereka bertiga akhirnya berpisah, Sai bersama Sakura dan Ino pergi sendirian.

Sai terus menggenggam tangan Sakura dan akhirnya berhenti di warung takoyaki. Sai melepas genggamannya dan berjalan menghampiri warung itu, memesan dua kotak takoyaki, setelah memesan, mereka berdua berjalan-jalan dan menikmati berbagai mini games yang di buat di sana sambil mencicipi takoyaki yang masih hangat, suasananya semakin ramai dan tertib, puncak acara ada pada sisi panggung yang sudah di siapkan 100 buah kembang api.

"Wah...ada penangkapan ikan kecil," Ucap Sakura dan menarik lengan Sai.

"Mau mencobanya?" Tanya penjaganya.

"Tentu," ucap Sai, mengambil jaring kertasnya dan mencoba menangkap beberapa ikan, namun beberapa kali meleset, Sakura sibuk mendukung Sai dan akhirnya jaring kertasnya robek, Sakura hanya tertawa melihat jaring Sai, meskipun tidak mendapatkan ikan, cukup membuat mereka berdua terlihat senang, mereka kembali berjalan-berjalan menikmati ramainya perayaan kota Konoha.

30 menit lagi, 100 kembang api akan di nyalakan, pengunjung hampir memenuhi taman kota dengan tertib, Ino maih sibuk memilih-milih aksesoris dan beberapa pernak-pernik lainnya, Sai dan Sakura masih berjalan-jalan dan mereka terlihat begitu senang, Sakura yang sejak tadi datang hanya melamun, kini menjadi sangat ceria.

"Mereka pergi kemana yaa?" Ucap Ino, sambil mencari-cari dua sosok sahabatnya itu di keramaian namun tak kunjung menemukan mereka, Ino berjalan dan sekali-kali melirik ke kanan dan ke kiri dan akhirnya tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berdiri.

"Maaf," ucap Ino. Dan melihat ke arah orang itu, terlihat dia sedang memakai topeng bermuka kucing dan di tangannya ada satu tusuk kue dango.

"Ino," Ucap orang itu.

Ino hanya memasang wajah kaget, orang yang di tabraknya mengenalnya, "Siapa?" tanya Ino penasaran dengan muka orang yang memakai topeng itu. Perlahan orang itu melepas topengnya dan menampakkan wajahnya, "Sasuke?"

"Yo,"

"Aku pikir siapa, apa yang kau lakukan di sini?"

"Tidak ada."

"Tidak mungkin tidak ada, padahal dari tadi Sakura terus melamun, dia pasti sibuk memikirkanmu,"

"Sakura bersama orang itu?"

"Tentu, sepertinya Sakura sedang bersenang-senang dengannya,"

"Oh,"

"Apa kau tidak cembu..., Hey..! aku belum selesai bicara!" ucap Ino kesal dengan Sasuke yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapannya sampai selesai, Ino hanya menghela napas dan kembali sibuk dengan kegiatan berbelanjanya.

Sasuke berjalan sedikit tergesah-gesah mencari gadis berambut softpinknya, namun sangat sulit bagi Sasuke menemukannya, taman kota begitu luas dan sangat ramai.

Di tempat lain, Sakura dan Sai sedang duduk di kursi dekat air mancur, mereka berdua sedang berbincang-bincang sambil bercanda.

"Mau minuman sesuatu?" Tanya Sai.

"Tentu, aku mau jus jeruk, yaa," Ucap Sakura.

Sai kemudian pergi membelikan dua jus untuknya dan Sakura, Sakura masih tetap di tempatnya dan sesekali melihat ke arah keramaian dan pengunjung yang gembira, melihatnya membuat Sakura merasa senang dan tersenyum.

"Hei, jidat," Ucap seseorang yang berdiri tepat di samping Sakura, Sakura mengalihkan pandangnya ke arah suara itu dan mendapati seseorang yang sangat di harapkannya untuk datang saat ini, Sakura terkejut dan detik berikutnya Sakura membuang mukanya dan tidak ingin menatap Sasuke.

"Ada apa?" ucap Sakura tanpa menatap Sasuke.

"Tidak ada," Ucap Sasuke, masih menatap Sakura yang tidak ingin melihat wajahnya.

"Sebaiknya kau pulang,"

"Uhm,"

Sasuke berbalik dan berjalan menjauh dari Sakura, berjalan menuju gerbang keluar, Sakura yang melihat Sasuke pergi begitu saja, membuatnya kesal dan sedih, Sakura terdiam, sedangkan Sasuke masih tetap berjalan dan hampir menghilang di kerumunan, Sakura semakin tertunduk dan perasaannya sedikit sakit, di alihkan pandangnya lagi ke arah jalan menunju gerbang keluar, Sasuke sudah tidak terlihat, Sakura segera berdiri dari tempatnya duduk dan berlari menerobos kerumunan mengerjar Sasuke, Saat itu juga Sai yang baru kembali melihat Sakura berlari meninggalkan tempat di mana mereka berdua duduk tadi, Sai hanya terdiam dan tidak mengejar Sakura, Sai merasa Sakura sedang mengejar seseorang yang tidak di sukainya.

"Akhirnya aku menemukanmu, di sini sangat ramai sampai sulit menemukan kalian berdua," Ucap Ino yang berjalan dari arah belakang Sai.

"Mau jus?" Tawar Sai dan memberikan satu jus yang tadinya untuk Sakura.

"Kebetulan aku sangat haus," ucap Ino dan meneguk beberapa kali jus jeruk itu, "Sakura? dimana?"

"Tadi aku melihat berlari menuju gerbang keluar,"

"Hoo, sepertinya dia mengejar Sasuke," Ucap Ino dan sukses membuat Sai mengepalkan tangannya, "Ada apa? Apa kau tidak suka?".

Sai hanya terdiam dan tidak menanggapi pernyataan Ino. "Mau pergi ke sana?" di sana bisa lihat dengan jelas kembang apinya," Ucap Sai, mengalihkan pembicaraan dan mengajak Ino ke tempat di mana bisa melihat kembang api, Ino pun hanya mengikuti Sai dan tidak berbicara apapun lagi.

Sakura masih berlari mengejar Sasuke, tidak lama kemudian Sakura sudah jauh dari kerumunan, menuju jalur gerbang keluar taman kota, jalan itu begitu sunyi, hanya terdapat lampu-lampu hias yang di pasang berjejer di sepanjang jalan, Sakura berhenti, napasnya begitu cepat, Sakura merasa kelelahan berlari.

"Tunggu Sasuke," Ucapnya perlahannya, rasanya Sakura ingin sekali menangis, namun tetap di tahannya, Sakura melihat ke arah gerbang dan di sekililingnya, sosok Sasuke pun tak tampak, Sakura tertunduk sedih.

Hitungan mundur peluncuran 100 kembang api, seluruh pengunjung pun ikut menghitung mundur.

5

4

3

2

1

.

Tiba-tiba seseorang menarik Sakura dan memeluknya erat.

Duuuaaaaarrrrrr...! Duuuaaaaarrrrrr...! Duuuaaaaarrrrrr...!

Duuuaaaaarrrrrr...! Duuuaaaaarrrrrr...! Duuuaaaaarrrrrr...!

Saat itu langit begitu ramai dengan kembang api yang di luncurkan bersamaan, langit yang gelap terlihat indah dengan warna-warna yang muncul dari kembang api.

Sakura sangat terkejut, Sasuke tiba-tiba saja memeluknya, Sudah cukup, Sakura sudah tidak bisa menahannya, air matanya mengalir begitu saja, Sakura membalas pelukan Sasuke dengan isak tangisnya.

"Kau menangis?" tanya Sasuke tanpa mengubah posisi mereka, masih tetap saling berpelukan.

"Ti-tidak, hiks.. aku tidak menangis," Ucap Sakura menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke.

"Baka, kau harus di hukum, pergi bersenang-senang dengan orang itu,"

"Kau jahat, padahal aku ingin kau ikut, apa kau masih marah?" Ucap Sakura, melepaskan pelukannya dan melap air matanya.

"Aku tidak akan marah, hanya saja.." ucap Sasuke dan menatap Sakura.

"Hanya saja apa?"

"Kau sedikit menyebalkan dan keras kepala," ucap Sasuke dan menyentil pelan jidat Sakura.

"Habisnya kau sulit di tebak,"

"Nanti kau akan terbiasa,"

"Dasar ayam,"gumam Sakura.

"Hn?"

"Ti-tidak, aku tidak mengucapkan apa-apa,"

Sasuke perlahan memegang lengan Sakura dan mengangkatnya sedikit sejajar dengan dada Sasuke, tangan yang satunya sibuk mengambil sesuatu di saku celananya.

"Untukmu," Ucap Sasuke dan memasang sebuah gelang perak dengan hiasan liontin putih dan lonceng kecil.

"Indahnya,"

"Itu edisi terbatas, hanya satu saja dari tiap desain,"

"Terima kasih, Sasuke," Ucap Sakura, merasa senang sekali dengan pemberian Sasuke.

"Jangan sampai hilang dan jaga baik-baik," Ucap Sasuke.

"Pasti, aku pasti akan menjaganya,"

Kembang api masih terlihat di langit, seluruh pengunjung sangat senang dan takjub melihat indahnya langit, Sai dan Ino terlihat begitu senang, Sakura dan Sasuke melihat kembang api dari arah gerbang keluar taman kota, meskipun jauh, dari tengah taman kota, kembang apinya sangat terlihat jelas.

Walaupun awalnya kesal dan sedih, tapi hari ini aku begitu senang, terima kasih, Sasuke, meskipun kau sulit untuk di tebak, itu tidak akan mengubah pikiranku, aku tetap menyukaimu, orang yang paling berharga untukku.

Sakura terus menatap Sasuke, sedang Sasuke menatap ke arah langit.

.

.

.

"Ma-maaf,"

"Aku sampai sibuk mencarimu,"

"Sasuke mengajakku pulang dan aku lupa mengabarimu,"

"Lain kali beri tahu aku," Ucap Ino sambil mencubit keras pipi Sakura.

"Sakit Ino,"

Terlihat Sakura dan Ino sedang berbincang-bincang di kelas saat jam istirahat, kemarin saat perayaan, Sakura pulang begitu saja tanpa memberitahukan Ino, padahal yang mengajak Sakura adalah Ino.

"Baiklah, aku memaafkanmu, yang penting pacarmu yang plin-plan itu akhirnya datang juga," ucap Ino.

"Siapa yang kau maksudkan plin-plan?" Ucap Sasuke yang tidak sengaja masuk ke ruangan kelas dan mendengar pembicaran Sakura dan Ino.

"Tentu saja kau,"

"Oh," ucap Sasuke datar, dan berjalan menghampiri Sakura, menarik pelan lengan Sakura dan mengajaknya pergi.

"Ambilah dia dan pergi saja sesuka hati kalian, selalu saja begitu," ucapIno sedikit risih jika sedang mengobrol dengan Sakura dan tiba-tiba Sasuke menculiknya begitu saja.

"Ino, aku pergi sebentar yaa,"

"Iya-iya,"

Sakura dan Sasuke pun berjalan keluar kelas bersama.

"Mau ke atap?" ucap Sakura, merasa arah jalan mereka menuju atap gedung sekolah.

"Hn,"

"Lihat, gelang ini semakin indah jika dilihat, dan aku suka suara loncengnya," ucap Sakura dan memperlihat kembali gelang pemberian Sasuke.

"Uhm, kau menyukainya,"

"Tentu,"

Tidak begitu lama, mereka sampai di atap, Siang yang terik namun angin bertiup perlahan di atas atap, Sakura dan Sasuke suka menghabiskan waktu istirahatnya di situ, saling bercerita meskipun yang selalu bercerita hanya Sakura dan Sasuke menjadi pendengar yang baik.

Triiiittt...triiitttt... Triiiittt...triiitttt... Triiiittt...triiitttt...

Ponsel Sasuke berdering, diraihnya ponsel miliknya di Saku celana dan berjalan ke depan beberapa langkah, agak jauh dari Sakura dan Sakura tidak mendengar apa yang sedang di bicarakan Sasuke lewat ponselnya.

"Uhm, aku akan segera ke sana, bagaimana dengan sekolah? uhm, baiklah, hanya seminggu saja, uhm," ucap Sasuke saat sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya, Sasuke menutup ponselnya dan sejenak menatap layar ponselnya. Kemudian berjalan kembali menghampiri Sakura.

"Apa ada masalah?"

"Bukan hal yang penting untuk kau dengar," Ucap Sasuke dan tidak menatap Sakura.

Sakura merasa sedikit ada yang aneh dari raut wajah Sasuke setelah menerima telpon tadi.

"Sebaiknya kita kembali ke kelas," ucap Sasuke dan berjalan lebih dulu ke pintu keluar.

Sakura yang masih penasaran hanya terdiam dan tidak bertanya apa-apa lagi, berjalan perlahan mengikuti Sasuke yang sudah berjalan menuruni tangga.

.

.

.

Sakura pov

Sepertinya ini sudah terhitung tiga hari, aku sama sekali tidak melihat Sasuke masuk sekolah, kakashi sensei pun tidak mengabsen namanya, langsung saja di lewatkan, padahal nama Uchiha Sasuke masih tertera dalam buku absen, saat aku tanya, kakashi sensei hanya tersenyum dan menjawab 'Sasuke ada urusan keluarga' ini sangat aneh, telpon dan sms yang aku kirim sama sekali tak kunjung mendapat respon, aku bingung, Sasuke ada di mana? dia sama sekali tidak memberi kabar padaku, terasa ada yang berlubang di hatiku.

"Sakura? ada apa?" tegur Ino, membuyarkan lamunanku.

"Ma-maaf, aku tidak apa-apa,"

"Pasti kau sedang memikirkan si kepala ayam itu," Ucap Ino dan tepat sekali, sejak dia menghilang, wajahnya selalu terbayang dan itu sungguh-sungguh membuatku cemas.

"Uhm," gumamku lesu.

"Mungkin sebaiknya kau mendatangi rumahnya,"

"Saran yang bagus, terima kasih Ino, aku akan mendatangi rumahnya," Ucapku senang.

.

.

.

Setelah pulang sekolah, aku dan Ino berpisah, berjalan dengan sedikit terburu-buru dan menaiki bus menuju rumah Sasuke, beberapa menit kemudian, bus itu berhenti dan aku pun kembali berjalan, menit berikutnya, tempat tinggal Sasuke sudah terlihat dan aku segera menaiki lantai duanya dan sekarang tepat berdiri di depan pintu rumah Sasuke, suara jantungku tak karuan, rasanya seperti ingin meledak dan sepertinya aku ingin menangis, perlahan ku ketuk pintu besi itu, dan terdengar seseorang dari dalam berjalan ke arah pintu dan sangat jelas terdengar suara kuncinya bergeser.

"Sasu...,ke?" Mataku hanya membulat dan mendapati seseorang yang bukan Sasuke saat membuka pintu, Uchiha Itachi, aku masih hapal wajahnya meskipun kita hanya bertemu beberapa kali.

"Oh, Sakura, silahkan masuk," Ucapnya ramah dan mengajaku masuk ke rumah Sasuke, "Apa mau secangkir teh?" Lanjutnya lagi saat aku sudah duduk di kursi ruang tamu.

Aku hanya mengangguk dan Itachi paham maksudku, dia segera berjalan menuju dapur dan membuatkan sengakir teh untukku, tidak menunggu waktu yang lama, itachi sudah duduk di kursi yang berhadapan denganku.

"Sepertinya aku paham maksud kedatanganmu," ucapnya seakan bisa membaca pikiranku.

"Aku hanya ingin menemui Sasuke,"

"Sayang sekali, dia sedang tidak berada di rumah,"

"Maukah kau memberitahuku dia dimana?" Tanyaku dengan wajah begitu khawatir.

"Tenanglah, dia sedang tidak berada di Konoha, dia berada di kota Suna,"

"Kota Suna?" Aku hanya terdiam seribu bahasa, 'Kota Suna' kata-kata itu terulang lagi di kepalaku, yang aku ingat, kota Suna adalah tempat tinggal Hinata, jadi Sasuke ada di sana.

"kalau boleh tahu untuk apa Sasuke di sana?"

"Sepertinya dia sedang menemani Hinata,"

Ucap Itachi hanya membuatku tertunduk sedih, Sasuke menghilang selama ini hanya untuk menemani Hinata, tenanglah Sakura...tenanglah Sakura...tenanglah Sakura..., berkali-kali aku mengulang kalimat itu dalam hati.

"Hinata sudah dua minggu koma dan dokter di kota Suna masih belum menemukan obat yang tepat untuk Hinata, sekarang nenek chiyo ahli obat-obatan dari kota Suna sedang mencoba membuat obat bersama dokter Tsunade dari kota Konoha, mereka berdua adalah dokter-dokter andalan di kota masing-masing, dan mereka sangat akrab dengan keluarga Hyuuga maupun keluarga Uchiha,"

Akhirnya aku paham dan mungkin saat Hinata pertama kali koma, Naruto ada di sana, jelas saja, anak itu tidak pernah muncul ke sekolah.

"Apa kau sudah paham Sakura," Tanya Itachi,

"Iya, aku paham semuanya, tapi, apa Sasuke benar-benar tidak bisa di ganggu? Aku sangat khawatir padanya,"

"Kau tidak menghubunginya?"

"Sudah, tapi dia tidak meresponnya,"

"Uhm,, kalau masalah seperti itu aku tidak tahu, Sasuke kesana hanya menemani Hinata, dan tidak ada larangan untuk dia menghubungimu,"

Ucapan Itachi hanya membuatku semakin sakit, seakan-akan Sasuke menjauh dariku,

"Apa kau ingin menelponnya?" Tanya Itachi.

"Eh? Apa boleh?"

"Tentu saja, kau boleh menggunakan ponselku, mungkin saja dia akan menjawab telponnya," ucap Itachi dan tersenyum sambil memberikan ponselnya kepadaku.

Segera ku ambil ponsel Itachi dan mencari nomer Sasuke di kontak ponselnya, setelah menemukannya langsung saja ku hubungi, beberapa detik ponselnya belum di angkat, detik berikutnya.

"Ada apa?"

Sangat jelas terdengar suara Sasuke lewat ponsel Itachi, Sasuke mengangkat telponnya, rasanya begitu senang dan rasanya aku ingin menangis mendengar suara Sasuke, tapi harus ku tahan, aku tidak mau Itachi melihatku menangis,

"Halo? Ada apa aniki baka?" Ucapnya lagi merasa tidak ada yang menjawabnya.

"Sasuke, ini aku," ucapku perlahan.

"Sakura ?"

Dia tahu suaraku dan dia menjawabnya, tapi kenapa dia tidak membalas apapun yang aku kirim.

"Kenapa tidak mengabariku? Kenapa kau tidak merespon telpon dan smsku?"

"Setelah kembali aku akan menjawabnya semua, dah, sepertinya Naruto memanggilku,"

Tuuttt...

Tuuuttt...

Tuutttt...

Dia langsung menutup ponselnya, rasanya dadaku seperti sesak dan aku langsung menjatuhkan diriku ke lantai.

"Sakura, ada apa?" Tanya Itachi memegang bahuku dan menatap khawatir ke arahku.

"Aku tidak apa-apa Itachi-nii, mungkin sebaiknya aku pulang saja, terima kasih sudah meminjamkan ponselmu," ucapku berdiri perlahan dan memakai sepatuku, membuka perlahan pintu dan berjalan keluar.

"Sakura, mau aku antar?" Tanyanya saat aku sudah berjalan keluar.

"Tidak, terima kasih, aku akan pulang sendirian saja, aku mau singgah di suatu tempat dulu," ucapku, membungkuk perlahan untuk pamit dan berjalan menuju tangga.

Sepertinya Itachi masih menatapku pergi, pintu rumah Sasuke masih tidak terdengar di tutup, Sepertinya Itachi mengkhawatirkanku yang tiba-tiba saja seperti itu, sangat terlihat jelas di wajahnya, dia kakak yang baik, tapi kenapa Sasuke tidak menyukainya, ahh..~ aku terlalu banyak berpikir dan masih terasa aneh saat Sasuke menjawab telponku tadi, sepertinya dia memang sedang menjauh.

Ending Sakura pov


Itachi masih menatap Sakura yang pergi dan masuk ke dalam rumah setelah Sakura tidak terlihat di jalan yang berbelok, Itachi berjalan perlahan dan mengambil ponselnya, menghubungi si adik bungsunya yang sangat-sangat keras kepala.

"Sasuke,"

"Ada apa lagi?"

"Apa kau tidak kejam seperti itu? Dia mengkhawatirkanmu,"

"Aku sedang tidak ingin berbicara, lain kali saja,"

Sasuke langsung menutup ponselnya, Itachi hanya menghela napas, masih tidak paham dengan jalan pikiran adiknya itu.

.

.

.

Sakura berjalan gontai menuju rumahnya, perasaan dan pikirannya benar-benar sedang kacau, di satu sisi dia sangat khawatir dan di satu sisi lainnya dia bingung dengan sikap Sasuke yang tiba-tiba berubah.

"Sakura," Sapa seseorang dari arah belakang Sakura,

Sakura berbalik dan mendapati Sai yang sedang menatapnya, "Sai? Ada apa?"

"Apa kau tidak merasa, kau seperti zombi yang sedang berjalan?" canda Sai.

Sakura hanya tersenyum mendengar kalimat candaan Sai, "Maaf yaa, aku bukan zombi,"

"Lalu? Harusnya kau berjalan seperti manusia biasa,"

"Jadi kau tidak menganggapku sebagai manusia,ha? Sini kau akan aku balas," ucap Sakura dan memukul pelan bahu Sai.

"Hahaha, kau sangat kejam ternyata,"

Deg'

Sakura merasa sedang D'javu, terasa Sakura pernah merasakan dan bercanda seperti ini.

"Sakura ada apa?" ucap Sai, melihat Sakura tiba-tiba mematung dan terdiam.

"Tidak ada apa-apa,"

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,"

"Boleh, tapi aku harus mengganti seragamku dulu,"

"Baiklah,"

Dan mereka berjalan bersama menuju rumah Sakura.

.

.

.

Aquarium raksasa.

Sakura masih berbinar-binar menatap tempat yang di datanginya bersama Sai, di dalam begitu luas, serasa sedang masuk ke dalam lautan.

"Indahnya," Ucap Sakura dan menempelkan tangannya di kaca pembatas.

"Lihat, ikannya berwarna softpink," ucap Sai menuju ke arah seekor ikan yang badannya berwarna softpink dan begitu cantik dengan sisiknya berkilau,

"Dia cantik ya,"' Ucap Sakura.

"Tentu, sama seperti gadis berambut softpink yang bersamaku,"

"Dasar, jangan menggodaku,"

"Hahaha, aku hanya bercanda, mau lihat ke bagian sana?"

"Tentu,"

Mereka kemudian berjalan-jalan dan melihat-lihat hampir semua jenis ikan yang di peliharan dan di rawat baik-baik di aquarium raksasa ini. Pengunjungnya pun tak sedikit, lumayan ramai dengan beberapa sekolah yang kadang tur di sana.

Perasaan Sakura kini sedikit lebih tenang berkat Sai, yang sudah mengajaknya jalan-jalan dan mentraktinya kue coklat yang enak. Matahari sudah hampir tenggelam dan mereka berdua berjalan pulang.

"Apa itu sebuah hadiah?" Tanya Sai, selalu memperhatikan pergelangan Sakura yang di hiasi gelang perak pemberian Sasuke.

"Iya, ini adalah hadiah dan aku sudah berjanji untuk tetap memakainya dan menjaganya," ucap Sakura dan melihat gelang itu, "Ini sangat berharga bagiku," Lanjutnya lagi.

Sai hanya menatapnya dan tidak merespon lagi, Sai tahu kalau itu hadiah dari Sasuke dan lagi-lagi Sai merasa gagal untuk mengalihkan padangan Sakura.

"Baiklah, kita berpisah di sini, sampai jumpa besok hime,"

"Sai, lagi-lagi kau menggodaku,"

"Hahaha, sekali-kali di panggil hime,"

"Iya-iya, terima kasih buat hari ini," ucap Sakura dan tersenyum.

Sai yang melihatnya merasa begitu senang, Sakura tersenyum tulus kepadanya, Sai pun berjalan perlahan meninggalkan Sakura, arah rumah mereka berbeda dan di perempatan mereka berpisah, Sai melambaikan tangannya begitu juga Sakura.

.

.

.

Kota Suna

"Oi teme, malam ini kita kembali ke konoha, sudah seminggu kita di sini," ucap Naruto memberes-bereskan pakaiannya.

"Hn,"

"Tenang, Hinata akan baik-baik saja, aku sudah berbicara dengan Neji, dokter yang menangani Hinata mengatakan kalau Hinata masih ada harapan untuk tetap hidup, setelah mereka meracik obat terbaru."

Sasuke hanya terdiam dan duduk di sisi jendela kamarnya, selama di Suna, Sasuke dan Naruto tinggal di rumah Hinata, sesekali Sasuke menekan-nekan ponselnya dan melihat ada sampai 30 pesan masuk 'Sakura jidat' dan tak ada satu pun yang di balasnya,

Naruto berhenti membereskan pakaiannya dan berjalan menghampiri Sasuke.

"Kau tidak mengabarinya?"

"Aku sedang malas membahasnya,"

"Ada apa? Apa gara-gara Hinata kau menjauhinya?"

"...,"

"Perasaan Sakura pasti sangat kacau saat ini,"

"Aku mau keluar sebentar," Ucap Sasuke dan pergi begitu saja.

"Teme...! kau akan menyesal," teriak Naruto dan tidak membuat Sasuke berhenti berjalan keluar. "Dasar keras kepala, aku tidak membiarkan Hinata bersamamu," ucap Naruto lagi dan tetap tidak di respon Sasuke.

.

.

.

Pagi hari di kelas begitu ribut dengan murid-murid yang baru datang. Sakura dan Ino yang baru memasuki kelas, langsung di sapa Naruto.

"Yo, Sakura-chan, merindukanku?" ucap Naruto.

"Naruto, aku sama sekali tidak merindukanmu, dari mana saja kau?"

"Aku ada misi memberantas kejahatan, jadi tidak bisa masuk kelas beberapa hari ini,"

"Aku tidak akan percaya dengan kata-katamu," ucap Sakura.

"Apa temanmu juga ikut misi memberantas kejahatan?" singgung Ino.

"Sepertinya, hahahaha" ucap Naruto asal.

Sakura paham dengan kalimat Ino tadi, Sakura mencoba mencari orang itu dan 'binggo' dia ada di tempat duduknya dan sibuk membaca buku. Sakura berjalan perlahan menuju meja Sasuke dan sekarang dia sudah berdiri di samping Sasuke.

"Kau sudah kembali,"

Sasuke tidak meresponnya, Sasuke masih sibuk dengan buku di tangannya,

"Sasuke," ucap Sakura dan memegang bahu Sasuke dan terdengar jelas bunyi lonceng kecil yang ada di gelang Sakura.

Sasuke menoleh dan menatap dingin ke arah Sakura, "Ada apa?"

"Aku senang kau sudah kembali" ucap Sakura dan matanya kini berkaca-kaca,

Melihat wajah Sakura yang seakan-akan ingin menangis, Sasuke langsung menariknya keluar kelas dan pas berpapasan dengan Sai yang baru datang namun hanya di cuekin Sasuke.

Sasuke membawa Sakura ke ruangan ekskul yang sedang tidak ada orang, seketika Sakura hanya tertunduk dan menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan merasa tak ingin di tatap Sasuke.

"Apa sudah puas?" ucap Sasuke, melihat Sakura yang masih menangis.

Sakura mengusap air matanya dan mencoba tenang, Sasuke hanya menatapnya dan tidak melakukan apapun, merasa dirinya sudah tenang, Sakura mencoba menatap ke arah Sasuke, serasa ada yang berubah dari Sasuke, Sakura merasa bukan sedang menatap Sasuke, melainkan menatap orang lain, sepertinya memang Sasuke sudah berubah, membuat Sakura menjadi takut untuk menegurnya.

"Maaf, sudah melakukan hal yang bodoh,"

"Berhentilah...," ucap Sasuke dan hanya memang wajah dingin,

Sakura sangat terkejut, Sasuke mulai berjalan menuju pintu keluar, tangan Sakura bergerak perlahan ingin memegang kemeja Sasuke namun tangan Sakura seakan tertahan,

"...Jika kau sudah tidak tahan bersamaku," lanjut Sasuke dan kini berjalan keluar.

Sakura tertunduk dan terdiam, merasa seperti sedang tertusuk beribu jarum, Sakura tak bergerak sama sekali dan hanya mematung di depan pintu ruangan ekskul.

"Apa ini sudah berakhir?" gumam Sakura dan berjalan seakan-akan tidak ada arah tujuan.

.

.

.

Seperti biasa, saat liburan Naruto akan mendatangi rumah sakit dimana Hinata di rawat, wajahnya tampak begitu lelah, meskipun kadang bergantian dengan Sasuke, hanya saja Sasuke sekarang lebih sibuk dan Narutolah yang selalu mengunjungi Hinata.

Naruto menyimpan buket bunga di vas yang tersedia di ruangan Hinata, setelah itu dia berjalan mengambil kursi dan duduk di sisi ranjang Hinata, memegang tangan Hinata dan mulai bercerita, walaupun Hinata dalam keadaan koma, Naruto tidak tinggal diam, Naruto selalu menceritakan hari-harinya saat di sekolah, ataupun menceritakan masa lalu mereka bertiga, Sasuke, Naruto, dan Hinata saat mereka masih kecil.


Sasuke yang bekerja parttime di sebuah restoran menjadi pelayan dan sedang sibuk mengantarkan beberapa pesanan, selama Sasuke bekerja parttime di restoran itu, pengunjung yang datang kebanyakan dari para gadis-gadis, mereka senantiasa menunggu untuk di layani Sasuke, Sasuke yang tidak peka dengan maksud mereka, hanya memasang wajah cuek dan dinginnya, meskipun di tegur oleh teman-teman kerjanya Sasuke hanya menganggap santai, Sasuke hanya fokus ke perkerjaannya.

.

.

.

Minggu pagi yang tenang, terlihat Sakura yang hanya bermalas-malasan di kasurnya, menatap layar ponselnya dan belum juga mengganti-ganti wallpapernya, Sakura masih memikirkan kata-kata Sasuke, sepertinya itu adalah kalimat 'putus', Sakura menghela napas panjang, merasa dirinya sedang kacau, merasa dirinya sedang kosong, merasa ingin mengurung dirinya, namun niatnya itu tidak jadi, dia takut Ino akan marah besar, walapun itu bukan masalah Ino, tapi Sakura sudah meyakinkan Ino kalau Sasuke sudah berubah namun itu hanya kalimat yang sulit untuk di buktikan.

"Apa aku diam saja, Ino pasti akan memarahiku," Ucap Sakura dan memeluk bantal gulingnya.

Seseorang di depan rumah Sakura sedang berdiri dan mengetuk pintu rumah Sakura. Beberapa menit Ibu Sakura berjalan keluar dan melihat orang yang mengetuk pintu.

"Sai,"

"Selamat siang, apa Sakura ada?"

"Tentu, dia sedang berada di kamarnya, silahkan masuk, tunggu yaa,"

Sai berjalan masuk ke dalam ruang tamu dan menunggu Sakura turun dari kamarnya. Tidak menunggu lama Sakura sudah berjalan masuk ke ruang tamu.

"Sai, ada apa ?" ucap Sakura dan berjalan duduk di sofa.

"Apa kau sedang sibuk?"

"Tidak,"

"uhm.. Bagaimana kalau jalan-jalan,"

"Jalan-jalan?"

"Hari ini kau mau kemana?"

"Bagaimana kalau nonton filem,"

"Baiklah,"

"Tunggu yaa, aku siap-siap dulu," ucap Sakura dan bergegas kembali ke kamarnya.

Setengah jam perjalanan dan mereka sudah berada di bioskop, Sakura yang memilih filem dan mereka nonton bersama.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sai, saat mereka sedang mencari nomer kursi mereka.

"Aku?"

"Iya, mukamu selalu terlihat lesu,"

"Heheheh, aku baik-baik saja,"

"Uhm, Jangan membuat orang lain khawatir,"

"Iya-iya,"


Dua bulan kemudian.

Murid kelas 3 konoha gakuen sekarang sedang sibuk untuk mempersiakan ujian akhir semester mereka, Sakura dan Ino masih sibuk mengejerkan soal-soal latihan di kelas, beberapa murid yang lain juga sedang mengejerkan soal-soalnya, namun tidak dengan Sasuke yang memilih keluar dari kelas dan menghabiskan waktunya tidur di atap, pekerjaan parttimenya membuatnya kurang beristiahat, Naruto masih terlihat bingung dan akhirnya bertanya ke Sakura dan Ino, Sai masih terlihat santai mengerjakan soal-soalnya.

"Naruto,"

"Ada apa Sakura?"

"Uhm, aku cuma ingin tahu kabar Hinata,"

"Dia akan segera di operasi akhir minggu ini, dokter-dokternya yang menanginya akhirnya menemukan pengobatan yang cocok untuk Hinata hanya saja, kemungkinan berhasilnya 40%,"

Sakura merasa kasian mendengar ucapan Naruto, begitu juga Ino, Sakura kembali mencoret-coret kertasnya.

"Tapi aku yakin, Hinata pasti akan sembuh," ucap Naruto, percaya kalau Hinata akan segera sembuh.

"Kami akan mendoakanya," Ucap Ino.

"Terima kasih," Ucap Naruto.

Saat jam pulang sekolah, Sakura, Ino dan Sai berjalan bersama menuju gerbang sekolah, Sasuke yang baru keluar kelas, berjalan santai keluar.

"Kau tidak pulang bersama Sasuke?"

"Tidak, sepertinya hari ini pun dia akan sibuk,"

"Akhir-akhir ini kalian tidak terlihat bersama, apa kalian sedang bertengkar ?"

"Eh, ti-tidak, tidak, kami baik-baik saja,"

"Uhm.. baiklah, awas saja jika sampai dia mempermainkanmu,"

"Tenanglah Ino,"

"Sepertinya yang kalian bicarakan dia sedang berjalan kemari," Ucap Sai yang sejak tadi mendengarkan mereka berbicara.

Sakura hanya terdiam dan Ino sepertinya sedang berwajah kesal, Sasuke yang berjalan santai di belakang, kini hampir menyamai langkah mereka, Ino berjalan sedikit lebih dekat dengan Sakura dan berbisik.

"Apa kau tidak menyapanya?" ucap Ino sambil menggerakan telunjuknya menunjuk kebelakang.

Sakura hanya terdiam dan malah mempercepat jalannya, dan akhirnya Sakura berlari, Ino berhenti berjalan begitu juga Sai, Sasuke yang melihat Sakura berlari hanya menatapnya saja.

"Hai ayam! Kenapa kau tidak mengejarnya?" Ucap Ino sedikit kesal melihat tingkah sakura yang menjadi aneh.

Sasuke tidak merespon kalimat Ino dan kembali berjalan melewati Ino.

"Tenanglah Ino," ucap sai, mencoba menenangkan Ino.

"Aku bingung dengan mereka berdua, Sakura pun tidak menceritakan apapun,"

"Mungkin hanya mereka berdua yang bisa menyelesaikan,"

"Iya-iya, aku tidak mencampuri masalah mereka, hanya saja sikap Sakura menjadi sedikit aneh,"

Sakura yang tidak sadar terus berlari dan sampai di tempat pemberhentian bus, Sakura mencoba mengatur napasnya, dan masuk kedalam bus yang bukan menuju rumahnya, namun menuju tempat di Sasuke pernah mengajaknya.

Sesampainya di sana Sakura berjalan-jalan di pinggiran pantai, sambil memegang sepatunya, Sakura membiarkan ombak kecil menyapu kakinya.

"BODOOOOOHHH...! SASUKEE BODOOOOHH...!" teriak Sakura sekeras-kerasnya sampai hatinya benar-benar legah meneriakan nama orang itu, orang yang membuatnya benar-benar sedih.

.

.

.

Keesokan paginya, jam pelajaran segera di mulai, namun Kakashi sensei hanya memberikan soal-soal latihan lagi.

"Haa...~ aku bosan dengan soal-soal ini," Ucap Naruto.

"Naruto, Jika kau tidak berhasil dalam ujian test kau tidak akan lulus," ucap Kakashi sensei.

"Baik sensei..~" ucap Naruto malas.

Sasuke yang seperti biasa akan keluar hanya di biarkan Kakashi sensei, Kakashi tahu meskipun Sasuke di tegur, dia tidak akan mendengarkan ucapannya dan hasil ujian percobaannya masih bagus dan memiliki nilai rata-rata yang tinggi, Sakura menatap Sasuke keluar kelas, tatapan Sasuke masih sama, terasa dingin, dan Sasuke benar-benar berubah total.

"Ada apa Sakura?" Tanya Ino, penasaran dengan Sakura yang terus menatap Sasuke.

"Ti-tidak ada apa,"

"Kali ini kau harus jujur padaku," Ucap Ino dan siap-siap ingin menjitak Sakura jika Sakura tidak menceritakan apapun padanya.

"Ba-baiklah, nanti di bus saja, saat pulang sekolah,"

"Janji tidak akan kabur lagi,"

"Iya-iya,"

Plaakk... plakkk...

Satu pukulan gulungan kertas soal mendarat ke kepala Ino dan Sakura.

"Jangan bergosip di kelas," ucap Kakashi sensei.

"Maaf..." Ucap Ino dan sakura.

.

.

.

"APA! KALIAN PUT..."

Sakura langsung menutup mulut Ino dengan cepat, suara Ino yang terlalu tinggi membuat beberapa penumpang di dalam bus melirik ke arah mereka dan hanya di balas Sakura dengan 'minta maaf'.

"Aku tidak akan melepaskan tanganku kalau kau masih ribut,"

Ino hanya mengangguk dan Sakura melepaskan tanganya, Ino yang sedang naik darah, berusaha mencoba menstabilkan emosinya.

"Rasa penasaranku akhirnya terbayar semua, pantas saja kalian seperti menjauh satu sama lain, dan si ayam itu semakin mirip kulkas berjalan,"

"Kulkas berjalan," Ucap Sakura, mengulang kalimat terakhir Ino.

"Apa dia yang minta putus?"

"Sebenarnya sih, Sasuke hanya mengucapkan 'berhenti saja, jika tidak bisa bertahan' dan kesimpulanku tertuju pada putus,"

"Uhmm..., ahk, kalian berdua jadi terasa menyebalkan,"

"Maaf, tapi aku pikir dia akan benar-benar berubah,"

"Ingat yaa Sakura, Siapa saja bisa berubah kembali,"

Sakura hanya mengangguk-angguk mendengar setiap nasehat Ino, dan nasehat Ino itu berakhir saat Sakura sudah sampai di tempatnya akan turun, mereka berpamitan dan Sakura melambaikan tangan ke arah Ino.

.

.

.

Ujian akhir semester sedang berlangsung, seluruh murid-murid Konoha gakuen kelas 3 sedang mengerjakan soal-soal mereka dengan tenang dan di awasi oleh 3 guru sekaligus.

Di tempat lain, Kota Suna, Hinata yang sudah menjalankan operasi 3 minggu yang lalu memperlihatkan tanda-tanda membaik, tubuhnya mulai stabil namun Hinata masih belum juga sadar, Neji yang selalu sibuk menyempatkan diri untuk menjenguk Hinata dan menggantikan bunga di vas bunga Hinata yang biasanya Naruto yang akan menggantikannya.

"Cepatlah sadar, Hinata," Ucap Neji dan membelai pelan puncuk kepala Hinata. Neji tidak bisa berlama-lama dan kembali ke aktivitasnya yang sangat padat.


Sebulan kemudian...

"Akhirnya lulus meskipun di peringkat yang jauh," ucap Naruto, terharu akan ke lulusannya.

Hari ini pengumuman murid-murid yang lulus, dan semua murid konoha gakuen lulus 100%, mereka bersorak dan sangat senang dengan hasil yang mereka capai, terlihat di depan papan pengumuman Sakura, Sai, Ino sangat senang, dan Sasuke, melihat sepintas papan pengumuman dan langsung pergi begitu saja. Tidak diragukan lagi peringkat pertama di duduki oleh Uchiha Sasuke. Sakura yang melihat Sasuke hanya terdiam.

"Bagaimana kalau kita rayakan?" ucap Ino.

"Aku mau makan ramen ichiraku," ucap Naruto.

"Ya ampun, Naruto, kau hanya tahu ramen saja," ucap Ino.

"Tapi ramennya memang enak,"

"Kita coba saja," ucap Sakura.

"Sakura.., kau memang paling pengertian," ucap Naruto, memperlihatkan wajah berbinar-benarnya di depan Sakura.

"Hentikan ucapanmu itu, Naruto,"

"Ehehehe, tunggu dulu, aku mau mengajak Sasuke," ucap Naruto dan bergegas pergi.

Ino yang memperhatikan Sakura saat Naruto mengucapkan nama Sasuke, langsung berubah drastis, sepertinya Sakura masih menyimpan kesedihannya.

"Jangan memaksan dirimu," Ucap Ino, menyinggung Sakura.

Sakua masih terdiam dan tidak ada tanda-tanda akan menjawab singgungan Ino, tiba-tiba Sai menggenggam tangan Sakura.

"Aku akan melindunginya," ucap Sai.

"Sai, apa-apaan kau," Ucap Sakura mencoba menarik tangannya dari genggaman Sai, namun sangat sulit di lepas, Sai mencoba menggenggam dengan kuat tangan Sakura.

"Tenanglah dan bersikap manis," ucap Sai, memberikan aba-aba kepada Sakura, dan Sakura melihat dari arah jauh Naruto sudah hampir mendekati mereka dan berjalan bersama Sasuke.

"Sekarang sudah lengkap, ayo ke ramen ichiraku," ucap Naruto semangat memandu mereka.

Sasuke yang selalu bersikap tenang, tetap saja masih memperhatikan Sakura yang tangannya di genggam oleh Sai, itu membuatnya sedikit risih, namun egonya yang terlalu tinggi membuatnya cuek dengan hal yang tidak di sukainya.

Beberapa menit berjalan dan kebetulan tempat ramen Ichiraku tidak jauh dari konoha gakuen, akhirnya mereka sampai di sebuah warung kecil yang di atas atapnya bertuliskan 'Ramen Ichiraku'

"Selamat datang," ucap ramah paman pendiri warung itu,

"Hai paman," sapa Naruto.

"Oh, ternyata Naruto, silahkan-silahkan, tumben kau mengajak teman-temanmu, biasanya hanya Sasuke yang kau ajak,"

"Hari ini spesial paman, aku sudah lulus dari konoha gakuen loh," ucap Naruto pamer.

"Wah, hebat, akhirnya kau lulus juga, meskipun kau kadang malas belajar, hahahah"

"Jangan buka aib orang dong," Ucap Naruto.

mereka duduk dan memesan ramen kesukaan masing-masing. Naruto, Ino dan Sai sibuk bercerita sambil melahap ramennya, kecuali Sasuke dan Sakura, mereka hanya terdiam dan melahap ramennya dengan tenang.


Masih ada waktu sebulan untuk acara kelulusan, selama itu beberapa dari mereka kembali sibuk les untuk mengincar perguruan tinggi di Konoha maupun di beberapa daerah seperti kota Suna yang juga bagus dalam hal pendidikan.

Sementara itu, Naruto dan Sasuke kembali ke Suna untuk melihat keadaan Hinata, sepertinya mereka berdua membawa keberuntungan, saat menemani Hinata, Hinata tiba-tiba terbangun dan mengucapkan,

"Na-Naruto," ucap Hinata perlahan dengan matanya yang masih terbuka sedikit.

Nama yang pertama kali di ucapkan Hinata saat sadar, Sasuke bergegas memanggil dokter dan Naruto mengampiri Hinata.

"Selamat datang kembali, Hinata," Ucap Naruto dan kini Hinata membuka matanya lebar-lebar dan tersenyum saat melihat Naruto.

Selama masa pengobatan, Hinata menjadi semakin membaik dan dokter yang menangani Hinata, menyatakan Hinata sembuh total dari penyakitnya, hal itu membuat Hinata sangat senang begitu juga Sasuke, Naruto, Itachi dan Neji yang mendengar ucapan itu langsung dari dokter Tsunade dan nenek Chiyo.


Saat ini Naruto sedang berurusan dengan Minato, ayah Naruto, sepertinya membicarakan masa depan Naruto nantinya setelah acara kelulusannya di Konoha gakuen, Neji dan Itachi, seperti biasa akan sibuk kembali, sementara itu Sasuke yang memilik waktu luang, membereskan barang-barang Hinata yang ada di rumah Sakit, hari ini Hinata sudah di ijikan boleh pulang.

"A-apa kau tidak sibuk?" Ucap Hinata.

"Tidak, aku akan mengantarmu pulang," ucap Sasuke dan masih sibuk beres-beres.

"Terima kasih sudah menemaniku, aku sangat senang,"

"Uhm,"

"Bagaimana dengan pacarmu?"

"Bisa di bilang kami putus,"

"Kenapa? Kalian sangat cocok,"

"Entahlah,"

"Sasuke," ucap Hinata lebih ke memanggil Sasuke.

Sasuke yang merasa di panggil berhenti dengan kegiatan beres-beresnya dan menatap Hinata.

"Apa kau tahu..., kau tidak pernah menatapku..."

Sasuke bingung dengan ucapan Hinata dan mencoba mencerna tiap kalimat-kalimat yang di ucapkan Hinata.

"... Aku melihat kau menatap orang lain,"

"Aku tidak merasa begitu,"

"Ma-maaf, sudah menyusahkanmu, tapi aku senang kau selalu ada di dekatku, tapi sepertinya aku lebih baik tidak bersikap egois,"

Sasuke terdiam dan hanya mendengarkan Hinata berbicara.

"Aku terlalu egois, sampai-sampai tidak menyadari seseorang yang lebih dekat,"

"Sudah tidak ada gunanya lagi," ucap Sasuke. merasa sudah terlalu menyakiti Sakura dan merasa tidak pantas lagi untuk bersama Sakura.

"Kau terlalu keras kepala,"

"Barang-barangmu sudah siap, sebaiknya kita langsung pulang," Ucap Sasuke berjalan di samping Hinata.

"Pikirkan lagi, aku rasa masih ada harapan," ucap Hinata dan berjalan keluar dan di susul Sasuke dari berlakang yang berharap 'kesempatan kedua' itu ada.

.

.

.

Sakura baru saja belanja beberapa bahan untuk makan malam nanti, berjalan melewati jalur yang biasanya Sakura lewati, Dari arah depan terlihat seperti seseorang yang mirip Sai sedang berdiri dan menatap ke arah taman bunga yang sengaja di tata di daerah tempat tinggal Sakura, karena penasaran, Sakura semakin mempercepat langkahnya dan orang itu memang Sai.

"Sai, apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Sakura, menegur Sai.

"Oh, Sakura, aku hanya sedang berjalan-jalan di sekitar sini, habis berbelanja?" Tanya saat melihat kantongan putih milik Sakura.

"Uhm, untuk makan malam, oh ya, mau makan malam di rumahku?"

"Kalau di ajak, aku tidak akan menolaknya,"

"Tapi, kau harus membantuku,"

"Tentu, sini biar aku yang membawa belanjaanmu,"

"Terima Kasih,"

.


6 bulan kemudian.

"Haa...~ untung saja kau mengingatkanku Sakura, kalau hari ini ada ujian," ucap Ino dan sukses mendapat hadiah satu tepukkan di jidatnya. "Apa yang kau lakukan, Sakura!" lanjut Ino yang kesal dengan jidatnya memerah.

"Lain kali kau harus mengingatnya sendiri,"

"Iya-iya," ucap Ino cemberut.

Sakura dan Ino masih terlihat membereskan buku-buku di mejanya. Sekarang Sakura dan Ino sudah menduduki bangku kuliah, dan beruntungnya mereka bisa masuk di jurusan yang sama, sedangkan Sai memilih jurusan yang lain, Naruto, setelah lulus, dia sudah di sibukkan dengan pekerjaan perusahaan Ayahnya dan Sasuke, dia lebih memilih untuk menghilang dan tidak ingin menjalankan perusahaan uchiha.

"Apa hari ini Sai akan mengajakmu keluar?" tanya Ino yang siap-siap berjalan keluar kelas bersama Sakura.

"Uhm..., aku tidak tahu, dia selalu saja mengajakku keluar,"

"Ini sedikit menyebalkan, kenapa kau tidak terima saja dia?"

Sakura terdiam dan berjalan keluar kelas tanpa menunggu ino.

"Sakura!" ucap Ino menyusul Sakura dan menyamai langkahnya."Baiklah, kalau kau tidak ingin membahas hal itu," lanjut Ino dan berjalan keluar bersama Sakura.

"Sakura," panggil seseorang yang tengah berlari menghampiri Sakura.

"Kau hanya memanggil Sakura?" ucap Ino,

"Hahaha, maaf Ino,"

"Sepertinya aku bakalan di usir, kalau begitu..."

"Maaf Sai, aku akan pulang dengan Ino," ucap Sakura yang tiba-tiba menahan lengan Ino untuk tidak pergi.

"Oh, begitu yaah, baiklah, dah, aku duluan," ucap Sai dan bergegas pergi.

"Ada apa Sakura?" ucap Ino, bingung dengan sikap Sakura.

"Sebaiknya kau harus menasehati Sai, dia tidak akan mendengarkan kata-kataku," ucap Sakura dan wajahnya sedikit tertunduk.

"Akan aku coba nanti, sebaiknya kau siap-siap saja, jika dia tidak mendengarkanku juga, kau harus tegas kepadanya,"

"Uhm,"

"Sudahlah, ayo singgah di suatu tempat," ucap Ino menghibur Sakura dan mengajaknya berjalan-jalan sebelum pulang.

.

.

.

"TEMEEEE...! KEMANA SAJA KAU!" terdengar sebuah teriakan yang cukup keras dari ponsel hitam milik seorang lelaki dengan matanya yang hitam kelam. Sepertinya telinganya sudah kebal dan tetap mendengarkan teriakan-teriakan dari ponselnya itu.

"Apa kau sudah selesai?"

"Dasar, kau harus mengunjungiku sekarang,"

"Aku tidak bisa, aku hanya sebentar di Konoha dan akan pergi lagi,"

"Kau ini, selalu saja menghilang, kak Itachi sampai pusing mencarimu, dan Hinata menanyakan kabarmu,"

"Bilang kepada mereka aku akan baik-baik saja, baiklah, nanti aku telpon lagi,"

Sasuke mematikan ponselnya setelah Naruto mengakhiri percakapannya. Sasuke berjalan menuju keramai dan wajahnya yang masih sama seperti 6 bulan yang lalu, dia masih terlihat dengan sikapnya yang cuek dan dingin. Langkahnya terhenti saat mendengarkan sebuah bunyi lonceng, entah mengapa bunyi lonceng itu selalu mengingatkannya kepada seseorang yang dulu dia tinggalkan, yang dulu tidak dia pedulikan lagi, Sasuke memandang kesegala arah mencari sumber bunyi lonceng itu namun suara lonceng itu tiba-tiba menghilang, Sasuke terdiam dan kembali tenang, sepertinya itu hanya persaannya saja, Sasuke kembali melangkahkan kaki dan kembali berjalan.

.

.

.

"Ada apa Sakura?" ucap Ino saat Sakura tiba-tiba berhenti dan memandang ke arah belakang.

"Sepertinya tadi aku melihat seseorang yang ku kenal,"

"Siapa?"

"Bu-bukan siapa-siapa, hahaha, mungkin perasaanku saja, ayo cepat kita ke cafe di sana aku sudah lapar sekali," ucap Sakura dan bergegas menarik Ino.

"Sepertinya kau lapar sekali sampai-sampai berhalusinasi, oh iya, kenapa kau selalu memakai gelang jelek itu?"

"Jangan bilang gelang jelek, aku masih suka gelang ini, jadi di pakai saja,"

"Gelang itu sudah ketinggalan jaman, coba pakai gelang yang lain saja."

"Aku tidak mau, gelang ini lebih berharga buatku,"

"Yaa terserah kau saja, sekarang aku yang merasa lapar sekali,"

Dan mereka berdua pun bergegas berjalan, tanpa sengaja seseorang menabrak Sakura dan membuat Sakura sedikit mundur kebelakang.

"Maaf-maaf, aku tidak sengaja, anda tidak apa-apa?" ucap seorang lelaki paruh baya yang terlihat sedang terburu-buru.

"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf," ucap Sakura.

Setelah meminta maaf, lelaki itu kembali bergegas berjalan. Ino dan Sakura kembali menuju tempat tujuan mereka.

.

.

.

Sepertinya sepatu Sasuke menginjak sesuatu, Sasuke memindahkan kakinya dan menunduk melihat apa yang di injaknya tadi. Sasuke kembali berdiri dan meletakkan benda itu di telapak tangannya, 'sebuah lonceng' Sasuke merasa tidak asing dengan bentuk lonceng itu dan sepertinya lonceng itu sudah lama terpakai, terbukti dari catnya yang sudah terkelupas dan beberapa goresan di sisi-sisi lonceng itu. Sasuke melihat ke arah kiri dan kanan namun tidak menemukan seseorang yang di kenalnya, yang pernah mengenakan gelang dengan hiasan lonceng seperti ini.

.

.

.

"HILANG!"

"Kau membuatku kaget, Sakura!"

"Ma-maaf,"

"Apa yang hilang?"

"Lonceng di gelang ini hilang,"

"Mungkin terjatuh,"

"Jangan-jangan saat kita ke cafe ini loncengnya terjatuh,"

"Sepertinya,"

"Uhm.., atau gara-gara orang yang menabrakmu tadi?"

"Itu juga mungkin saja,"

"Mau mencarinya saat pulang? Pasti akan melewati jalan yang sama saat kita ke cafe ini,"

"Mau, Terima kasih Ino,"

"Iya-iya, ayo cepat habiskan makananmu,"

Setelah menyantap pesanan mereka, Sakura dan Ino berjalan menyusuri jalan saat mereka pergi dan sesekali menatap ke arah jalanan, mencari hiasan lonceng yang ada di gelangnya. Namun hampir mendekati tempat pemberhentian bus Sakura dan Ino juga tidak menemukannya.

"Sudah hampir sore, mungkin sudah di injak kendaraan atau seseorang mengambilnya," ucap Ino.

Sakura masih terdiam dan masih sibuk melihat-lihat sepanjang jalan dan tanpa sadar mereka sudah sampai di tempat pemberhentian bus.

Bus jalur menuju rumah Sakura dan Ino sudah berhenti dan pintu bus terbuka, Ino berjalan duluan dan berbalik ke arah Sakura,

"Sebaiknya kita pulang dan mencarinya besok lagi, bagaimana?"

"Baiklah Ino," ucap Sakura.

Ino kembali berjalan masuk ke dalam bus dan duduk, pintu bus tertutup dan bus mulai berjalan meninggalkan tempat pemberhentian bus. Beberapa detik kemudian, Ino baru sadar kalau Sakura tidak ikut menaiki bus, Ino bergegas berjalan menuju kursi paling belakang dan melihat ke arah jendela, Ino melihat Sakura yang terdiam dan seseorang yang sangat di kenalnya berdiri tepat di belakang Sakura.

"Sasuke!" tatapan Ino begitu kaget dan kini kembali duduk kursinya.

Sementara itu di tempat pemberhentian bus.

"Kau mencari ini?"

Sakura sangat terkejut dengan suara bariton seseorang yang berdiri tepat di belakangnya dan tangannya yang sedang memegang lonceng tepat di hadapan Sakura.

Sakura maju selangkah menjauh dari orang yang di belakang dan segera berbalik.

Tatapannya masih sama namun kini terihat melembut, Sakura masih menatap kaget ke arahnya, bus menuju ke arah pantai berhenti dan Sasuke segera menarik Sakura masuk kedalam bus.

Sasuke tidak memulai pembicaraan apapun dan Sakura yang masih kaget dan detak jantungnya yang tidak karuan membuatnya hanya terdiam dan memandang kosong apapun yang di hadapannya.

Sesampainya di tempat tujuan, Sasuke berjalan perlahan dan menggenggam tangan Sakura, berjalan menuju tempat dimana mereka pergi pertama kali.

Sasuke berhenti berjalan saat mereka sudah berada di pasir pantai, Sakura masih terdiam dan Sasuke berjalan perlahan dan kini berdiri tepat berhadapan dengan Sakura.

Sakura mengangkat kepalanya dan menatap mata yang kelam namun terasa lembut saat Sakura memandanginya, sudah lama Sakura merindukkan tatapan itu, tatapan seseorang benar-benar menyukainya dan selalu bersamanya.

Plakkk...!

Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi Sasuke, Sakura yang menatapnya dengan tatapan tegas kini matanya sudah basah dan air mata menuruni pipinya.

"Mungkin akulah yang paling lemah jika berhadapan denganmu, aku kembali untuk menebus semua kesalahanku," ucap Sasuke.

Sakura masih menangis dan tetap menatap Sasuke dan mendengarkan tiap kalimat penyesalan Sasuke.

"Mungkin sudah terlambat-"

"-Tidak, kau tidak terlambat," potong Sakura dan langsung memeluk Sasuke, " Aku hanya orang yang bodoh, yang selalu berharap seseorang itu kembali seperti dulu, hiks,"

Sasuke membalas pelukkan Sakura, "Maaf,"

"Bodoh! Sasuke bodoh, hiks"

"Maaf,"

Sasuke mengeratkan pelukannya dan Sakura semakin membenamkan wajanya di dada Sasuke. beberapa detik lamanya mereka berpelukan, seperti sedang menyapu seluruh kerinduan akan sentuhan masing-masing dari mereka.

"Aku mencintaimu, Sakura," ucap Sasuke perlahan tanpa mengubah posisinya

"Aku juga, sangat-sangat mencintaimu,"

.


Bandara Internasional Konoha

"Cepatlah kembali," ucap Sakura

"Hn,"

"Apa semuanya sudah di bawa?"

"Hn,"

"Telpon aku jika sudah sampai,"

"Hn,"

"Dan..."

"...Belajarlah lebih giat, saat aku kembali, kita bisa pergi sama," sambung Sasuke dan mengelus perlahan puncuk kepala Sakura, membuat Sakura terdiam dan wajahnya memerah.

"Sakura...! Sasuke...!" teriak Naruto sambil berlari menghampiri mereka, "Oi teme! Aku sudah bilang untuk mengunjungiku," ucap Naruto sedikit kesal dan Sasuke yang sudah siap-siap akan pergi dari Konoha.

"Aku tidak ada waktu mengunjungimu."

"Kau benar-benar menyebalkan,"

"Bisakah kalian tidak ribut, kalian bukan anak-anak lagi," ucap Ino yang baru sampai dan berjalan bersama Sai.

"Sepertinya akan banyak waktu berdua dengan Sakura," ucap Sai, sedikit menggoda Sakura.

Sasuke terdiam namun tatapan tajamnya tepat menatap Sai. Sakura dan Ino mencoba mendamaikan mereka.

"Aku akan segera kembali dan membawa Sakura pergi dari Konoha," ucap Sasuke dan kembali sukses membuat wajah Sakura memerah.

"Terserah kalian saja, pokoknya kau jangan sampai membuatnya bersedih lagi," ucap Ino.

2 tahun Sakura dan Sasuke akan terpisah lama, Sasuke akan keluar kota untuk mengejar pendidikannya, meskipun Fukagu, ayahnya, sudah menyuruhnya untuk menjalan perusahaan Uchiha, namun Sasuke memilih jalan suksesnya sendiri.

.

.

.

~ TAMAT ~


akhirnya hanya sanggup pada chapter ke 3 XD, masih dalam tahap belajar menulis, dan sedikit bingug dalam menggunakan kata-kata yang enak di ucapkan, alurnya seakan-akan sedang lari martahon dan mungkin sedikit membosankan.."maafkan saya" =w=
masih ada cerita yang lainnya lagi _ *promosi*

akhir kata, mohon di review yaa,, butuh saran yang membangun