Warning: Yaoi, NaruSasu, Typo, dll
Happy reading.
Naruto terpaku sejenak. Dia tidak tahu ada di mana. Sejauh matanya memandang, hanya ada mayat bergelimpangan dengan bagian dalam tubuh yang bercecer keluar. Dia ngeri, dan hampir berteriak begitu mendapati sebuah kepala seorang anak yang dia kenal sebagai salah seorang siswa yang menghilang di sekolah. Tidak mungkin. Dia bergerak gelisah dan terjatuh ketika kakinya tersandung tubuh lainnya. Tubuh itu juga milik siswa yang menghilang.
"Tidak mungkin!"
Mata Naruto sudah memanas. Dia bangkit dan mulai menjauh dari sana, tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak ingin membayangkan hal yang selanjutnya, hanya saja bayangan mengerikan itu terlintas dan kemungkinan akan menjadi hal yang nyata. Dia tidak ingin... Kyuubi pasti akan baik-baik saja. Pasti.
"K-Kyuu!" teriaknya frustasi. "Kyuubi!"
Dan tiba-tiba hawa menjadi sangat panas. Ketika gelap itu berubah terang, Naruto dapat melihat seseorang dalam cahaya itu.
"KYUUBI!"
Langkahnya terhenti. Kyuubi tidak seperti yang terlihat. Naruto tidak tahu cahaya orange apa yang melingkupi tubuh kakaknya. Kenapa jadi seperti rubah berekor sembilan? Dia terperangah di buatnya.
"Kyuubi?" panggilnya takut-takut.
Kepala itu mendongak, menampilkan sosok yang hampir tidak dikenali Naruto—tapi itu memang benar Kyuubi. Hanya saja, Kyuubi tidak pernah menunjukan wajah bengis itu kepadanya, atau tatapan dengan iris semerah rubby yang tajam melihatnya.
"Kyuu—"
Tangannya terulur, namun hanya tangan dari sosok cahaya rubah lah yang menjulur dan menusuk perutnya. Naruto tercekat, kejadiannya bahkan kurang dari dua detik. Dia bisa merasakan bagian dalam tubuhnya diremas dengan kuat, dan ketika organ-organ tubuhnya dicabut dengan paksa, Naruto tahu kalau dia akan mati.
"Na-ru-to!"
Naruto tidak akan pernah melupakan tatapan itu, juga seringaian kejam yang ditunjukan kakaknya kepadanya. Air matanya segera mengalir tanpa bisa dia cegah.
"Naruto?"
"..."
"NARUTO!"
Pemuda Namikaze itu membuka matanya, manampilkan iris birunya yang buram karena air mata yang masih mengalir.
"Naruto, kau baik-baik saja?" tanya Sasuke khawatir.
"Sasuke?" bisik Naruto pelan, tangannya meraih kerah piayama yang Sasuke kenakan. "Aku hanya mimpi, kan? Iya, kan?"
Sasuke tertegun, wajah ketakutan itu belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Sasuke?"
"Hn," si raven mengangguk. "Kau hanya mimpi, Dobe."
Dan kemudian si pirang itu terkekeh, ada kelegaan di dalam suaranya. Tangan tannya beranjak untuk mengelus wajah sang tuan, lalu berujar pelan, "Terima kasih sudah membangunkanku, Sasuke."
Sialnya, Sasuke tidak punya cukup alasan kenapa wajahnya terasa panas saat itu.
Uchiha's Servant
Naruto bersikap seperti biasanya keesokan hari. Senyumnya masih lebar dan tawa konyolnya masih terdengar sampai keluar koridor. Sasuke pasti sudah mengira kejadian semalam hanyalah ilusinya belaka jika saja otaknya tidak mengingat bagaimana tangan kokoh Naruto mengelus pipinya dengan lem—
Ugh! Apa yang sedang aku pikirkan?! Dia menggeleng pelan dan kembali fokus pada pelajaran di depannya (dengan pipi memerah).
Saat ini, suara Naruto sudah redup akibat pelajaran yang baru saja di mulai beberapa menit yang lalu, dan mungkin karena kurang tidur gara-gara mimpinya, atau dia memang malas mengikuti pelajaran, si pirang itu sudah bergabung bersama Shikamaru di kursi belakang, meletakan kepalanya di lipatan kedua tangannya yang ada di atas meja.
Si raven meringis melihat kelakuan bodoh pelayannya. Mengingat betapa jongkoknya otak Naruto, harusnya si pirang itu tidak tidur di saat pelajaran sedang berlangsung seperti ini, bukan. Dia bahkan tidak pernah membuka bukunya saat di kamar. Bagaimana caranya Naruto belajar untuk semua testnya? Sasuke jadi penasaran sendiri. Ah, jika seperti ini terus putra bungsu Uchiha itu tidak akan kaget jika kenaikan kelas nanti, Naruto tidak akan bisa masuk kelas 'A' lagi.
"Aku punya batas dan tahu bagaimana caranya berjuang, Teme."
Kalimat itu tiba-tiba terlintas di benak Sasuke, membuatnya terkekeh pelan. Atau mungkin saja, Naruto akan membuat kejutan yang lain. Siapa tahu bukan pemuda pirang itu akan membuktikan perkataannya.
Uchiha's Servant
Naruto baru saja menyerahkan nampan makan siang ke Sasuke begitu matanya melihat sosok berambut merah berjalan menjauhi kantin sekolah. Agak menimang sebentar antara mengejar pemuda itu atau duduk menghabiskan miso ramen super jumbo miliknya. Dan akhirnya...
"Sasuke, aku izin sebentar, ya."
Tidak menunggu jawaban tuannya, Naruto langsung melesat meninggalkan Sasuke dan ketiga temannya di meja kantin.
"Ck, si Dobe itu!" decak Sasuke.
"Mengejar Sabaku Senpai, mungkin," kata Sai tenang.
"Kenapa?" giliran Neji yang buka suara.
"Entahlah, tapi kemarin dia meminta informasi mengenai Sabaku Senpai padaku."
Dan jawaban Sai barusan langsung membuat Sasuke tidak suka mendengarnya, tidak tahu kenapa.
"Senpai!" seru Naruto begitu tiba di atap sekolah. Gaara menoleh sebentar, lalu kembali menatap seluruh kota dengan tangan menggenggam kuat besi penghalang di sekitar area.
"Naruto," tanggap Gaara pelan.
Naruto tersenyum sebenar, merasa lega karena senpainya tidak lagi memanggilnya dengan nama keluarganya. Ingatannya jadi jatuh ke beberapa hari yang lalu di mana untuk pertama kalinya dia berhadapan dengan lelaki di depannya ini.
Flashback
"Jadi, hari ini ada berapa pertanyaan yang akan kau lontarkan?" tanya si rambut merah, dan Naruto langsung merasakan aura aneh di sekitarnya.
"Banyak," jawab Naruto, matanya hampir tidak bisa fokus.
Gaara tersenyum, menatap Naruto dengan pandangan menarik.
"Pertanyaan pertamaku..." Naruto terdiam sejenak, tiba-tiba teringat foto yang dia lihat kemarin malam. "Siapa kau sebenarnya?"
"Siapa?" Gaara bergumam. "Sopan sekali Namikaze. Daripada itu, mungkin lebih tepatnya 'apa aku ini'.
Naruto mengernyitkan dahinya.
"Aku... Sabaku Gaara, silmuan setengah dewa."
Naruto hampir tidak berkedip mendengarnya, mulutnya menganga lebar. "Hah?" gumaman itu akhirnya keluar dari suasana canggung yang tiba-tiba menyeruak di antara mereka. "Kau... apa?"
"Siluman setengah dewa."
"Coba ulangi sekali lagi," pinta Naruto kurang ajar, membentuk angka satu dengan telunjuknya.
Gaara langsung memutar kedua bola matanya, bosan. "Mau sampai kapan kau menanyakan hal itu?"
"Sa ~ (tidak tahu)," jawab Naruto sambil mengedikan bahunya. "Tapi... apa kau yakin?"
"Kau ingin aku membuktikannya padamu?" pertanyaan dingin itu langsung membuat Naruto merinding, karena mata pemuda itu mulai mengeluarkan cahaya aneh.
"Tidak. Maafkan aku."
Naruto kemudian berdeham, menarik kursi dan duduk di atasnya—agak kaget juga dengan kejadian menakjubkan tadi. "Jadi, kau siluman setengah de—oke, oke! Hentikan tatapan mengerikan itu, aku minta maaf," ucap Naruto jadi tidak enak. "Tsugi no shitsumon wa (pertanyaan selanjutnya)... Apa kau musuhku?"
"Bukan," jawab Gaara cepat.
End Flashback
"Kau ingin bertanya mengenai kakakmu lagi?" tanya Gaara seperti sudah menebaknya.
Naruto merunduk, agak malu juga sebenarnya. "Memangnya tidak boleh?" tanya Naruto. "Hanya kau yang tahu mengenai Kyuubi."
Ya, benar, hanya Gaara. Dia bahkan bingung ketika dia bertanya kepada anak kelas tiga lainnya—yang seharusnya mengenal Kyuubi sebagai Senpainya—tapi tidak ada yang tahu. Dia bertanya kepada anak-anak club karate dimana dulu kakaknya bergabung ke dalamnya, tapi mereka menggeleng semua. Naruto mencari nama Kyuubi di setiap piala kejuaraan karate dan piagam penghargaan, tapi tak ada satu pun nama itu. Naruto frustasi. Kyuubi seperti tidak pernah ada di sekolah ini.
"Itu yang terjadi kepada anak-anak yang menghilang juga," jelas Gaara pelan.
Wajah Naruto langsung mengeras seketika. "Tadi malam—" berhenti sejenak. Si pirang menimang apakah harus menceritakan mimpinya yang mungkin saja tidak ada artinya sama sekali. Tapi hatinya masih kalut, pandangan kakaknya membuat dia takut, juga rindu di waktu bersamaan. "—aku bermimpi mengenai anak-anak yang hilang, juga kakakku." Dia berpikir, dia memang harus menceritakannya pada Gaara.
"Kau ingin menyanyakan kebenaran tentang mimpi itu, bukan?" tanya Gaara.
Naruto mengangguk.
"Bagaimana jika kukatakan, 'iya, mimpi itu benar adanya' apa yang akan kau lakukan?" tanya Gaara lagi, lebih seriut. "Apa kau akan memakai kalung krsital itu?"
"Hal itu..."
"Mimpi itu memang benar," kata Gaara tandas.
Dan sakitnya lebih parah dibanding ketika kakaknya mencabut semua organ-organ dalam perutnya.
"Tidakkah kau ingin menyelamatkan kakakmu?" lanjut Gaara kemudian, menoleh padanya dengan pandangan yang tidak bisa dia mengerti.
Naruto mendunduk. Tentu saja dia ingin. Tujuannya menjadi pelayan Sasuke adalah untuk membawa Kyuubi kembali, meski harus berurusan dengan hal yang tak masuk akal sekalipun. Tapi dengan memakai kalung kristal kakaknya, apa semuanya akan berjalan sesuai rencana? Apa dia bisa membawa Kyuubi kembali.
"Setidaknya dengan memakai kalung itu, kau bisa terhubung dengan dunia yang kini di tempati Kyuubi," dan pertanyaan-pertanyaan di benak si pirang langsung di jawab oleh Gaara tanpa harus Naruto membuka mulutnya. "Aku ingin menolongmu, Naruto. Tapi siapa kau hingga aku harus menolongmu? Kita bahkan baru kenal kurang dari satu minggu. Jadi dengan kau mengenakan kalung itu, bukankah aku berhak mendapatkan bayaran?"
Benar. Apa itu yang terjadi dengan kakaknya juga? Kalung itu—yang ternyata pemberian dari Gaara sendiri untuk kakaknya—masih tersimpan rapih di kamar asramanya. Si pirang itu lalu melirik pemuda di sampingnya. Apa ini semacam jebakan?
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Naruto seperti telah mengambil keputusan akhir.
Gaara menyeringai mendengarnya. "Yang paling berharga darimu."
"Dan apa itu?"
"Semua kenangan yang kau miliki."
Uchiha's Servant
Naruto melambaikan tangannya begitu Sasuke selesai menarik busur panahnya dan menancapkan anak panah tersebut tepat ke sasaran. Pemuda raven itu menghela nafasnya dan segera duduk mengambil handuknya sendiri.
"Kau darimana saja?" tanyanya begitu Naruto menghampiri.
Yang ditanya malah cengengesan tidak jelas. "Gomen," katanya tidak nyambung seraya menyerahkan air minum isotonik pada tuannya. "Sudah selesai latihannya?"
"Sebentar lagi," jawab Sasuke, menegak minuman dari Naruto.
"Begitu," tanggap Naruto pelan, mengambil handuk dari leher Sasuke dan mengelap keringat yang meluncur di pelipis tuannya dengan pelan. "Memang sekolah mana saja yang akan ikut berpartisipasi di pekan olahraga sekarang?"
"Suna, Yama dan Kawa," jelas Sasuke menutup kembali botol minumannya. "Jadi, club mana yang akan kau masuki? Ini sudah satu bulan lebih." Kini giliran dia yang bertanya.
"Aku masuk club Supernatural," kata Naruto sambil nyengir. Sasuke meringis.
"Memangnya apa pentingnya masuk club itu?"
"Kenapa memangnya?" tanya Naruto tak terima, berhenti mengelap dahi Sasuke. "Menurutku keren. Lagipula, tidak terlalu merepotkan."
Sasuke berdecak mendengarnya. "Dobe, harusnya kau mengambil club yang akan berguna untukmu."
"Teme, perhatian sekali," Naruto menyeringai, berniat menggoda, tapi kemudian terkekeh pelan. "Tidak apa-apa, kan. Apapun yang kuambil, asal aku masih berguna untukmu, tidak ada masalah untukku."
—Eh?
Sasuke hampir tersentak ketika tangan Naruto kembali terjulur untuk menyentuh pipinya (dengan handuk). Ugh, kenapa dia jadi gugup begini?
"Woy, mesra sekali!" seru Chouji dengan sebungkus keripik kentang di tangannnya.
Naruto menoleh, lalu cengengesan. "Kami, kan, saling membutuhkan!"
.
Naruto membolak-balik surat cinta milik Sasuke dari salah satu penggemarnya. Diangkatnya surat (yang masih terbungkus amplop warna pink) itu tinggi-tinggi seolah dengan begitu akan membuatnya tembus pandang dan membuat Naruto dapat membacanya tanpa harus membukanya terlebih dahulu. Saat itu mereka dalam perjalanan pulang ke asrama.
"Dobe, buang saja," kata Sasuke risih. "Tidak penting juga."
"Kau ini tidak sopan sekali, sih, Teme," tegur Naruto. "Setidaknya kau baca untuk menghargai perasaan gadis tadi."
"Dibacapun tidak akan aku terima ini," dengus Sasuke malas.
"Ck, kau ini," Naruto menggelengkan kepalanya. "Banyak yang menembakmu tetapi selalu kau tolak. Memang tipemu seperti apa?"
"Tidak tahu," jawab Sasuke masih malas-malasan.
"Ah!" Naruto tiba-tiba berhenti berjalan, menatap tuannya dengan menyelidik.
"Apa?" Sasuke agak kurang nyaman ditatap seperti itu oleh si pirang. Ck, ada apa, sih?
"Jangan-jangan kau gay?!"
Duk!
Belakang kepala Naruto langsung kena hajar tas milik Sasuke. "Jangan asal bicara, Dobe. Aku hanya belum menemukan yang cocok saja."
"Iya iya," dengus Naruto, meringis sedikit karena denyutan di belakang kepalanya. Melihat itu Sasuke sedikit merasa bersalah. Saat ini di tasnya terdapat kamus bahasa Jerman dan sebuah buku literatur yang tebalnya minta ampun.
"Apa sakit?" tanya si raven lembut, agak kaku saat tangannya terulur dan ikut mengusap belakang kepala Naruto.
Ringisan Naruto berhenti ketika memandang Sasuke, lalu mengangguk kecil, "sedikit," jawabnya pelan.
"Aku minta maaf," ucap Sasuke menyesal. "Tidak seharusnya aku—"
"Aku baik-baik saja," potong Naruto cepat, tangannya beralih menggenggam tangan Sasuke yang masih setia di belakang kepalanya. "Bagaimana dengan tanganmu sendiri?"
"Eh?" Sasuke menaikan salah satu alisnya, agak kurang paham.
"Tanganmu," kata Naruto sekali lagi, membawa tangan itu untuk diperlihatkan pada pandangan keduanya; terdapat luka goresan di setiap ujung jari Sasuke akibat terlalu banyak latihan memanah. "Apa sakit?"
"I-ini sudah biasa, Dobe!" ketus Sasuke agak gugup, segera menarik lepas tangannya.
"Hee?" Naruto nampak tak terima. "Tetap saja harus diobati, Teme! Aku tidak mau tahu, pokoknya nanti aku akan mengobati luka-lukamu itu."
"Terserah kau saja!"
Sasuke segera meninggalkan Naruto di belakang, si pirang sendiri mengekori tuannya, melupakan surat cinta yang tadi sempat terlepas dan kini tergeletak di halaman depan asrama.
.
Naruto menceramahi Sasuke panjang lebar mengenai pentingnya merawat luka, sekecil apapun itu, seraya membersihkan luka-luka Sasuke dengan cairan antiseptik lalu membalutnya. Si raven sendiri hampir menguap karena saking bosannya.
"Dobe, berhentilah menjadi cerewet sebentar saja!" kata Sasuke kesal.
"Ck! Apa kau tidak bisa menghargai orang-orang yang khawatir padamu?" tanya Naruto sebal, mimik wajahnya berubah serius.
"Tetap saja ini hanya luka kecil," kata Sasuke keras kepala.
Si pirang menghentakan kedua tangannya hingga tuannya itu terperangkap di antara dirinya dan tepian tempat tidur. "Luka kecil ini bisa infeksi, Sasuke. Kau ingin tidak bisa memanah lagi?"
Sasuke mengalihkan wajahnya agar tidak langsung menatap mata biru Naruto yang terlalu mengintimidasi, kenapa hanya dengan seperti ini jantungnya berdebar-debar?
Naruto meraih dagu Sasuke dan membuat mereka kembali bertatapan. "D-Dobe!"
"Kau benar-benar keras kepala," bisik Naruto sebelum akhirnya meraup bibir milik Sasuke.
Si raven kontan saja terbelalak. Mencoba mendorong dada Naruto tapi kedua tangannya malah di tahan hingga tidak bisa bergerak. Pemuda Namikaze itu mulai mengulum bibir bawah Sasuke dan menggigitnya pelan, membuat si empunya mendesah dan membuka mulutnya tanpa sadar.
.
.
Entah bagaimana caranya mereka saling menempel seperti itu. Yang Sasuke ingat adalah Naruto membawanya ke atas tempat tidur dan langsung menciumnya dengan rakus. Dia ingin melawan, lagipula sebagai seorang pemanah, dia tentunya punya tangan yang kuat, bukan. Tapi tidak bisa. Naruto menekannya hingga dia tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Nngh.. Na-Naruto..." lenguh si raven begitu Naruto mengulum nipplenya, menjilatnya hingga membuat tubuhnya bergetar. "Aaahh.. Naru..!"
"Apa kau menyerah, Sasuke?" bisik Naruto. "Kau tahu kau salah, kan. Aku harus menghukumu kalau begitu."
"Nghh.. Aahh~" Sasuke merenggut begitu Naruto menurunkan celana panjangnya beserta boxer yang ia kenakan tanpa melepaskan kulumannya, wajahnya sudah merah sejak tadi.
"Lakukan, Naru.. Nghh...laku-ahhh-kan!" pinta Sasuke, entah setan dari mana sampai dia berkata demikian. Merasa mendapat persetujuan, Naruto bangkit dan langsung mencium bibir Sasuke sekali lagi, menyentuh ronga mulutnya dengan gerakan sensual. Lidah saling beradu, saliva saling tercampur. Sasuke tidak bisa berontak dan merusak kesenangan ini. Dia ingin lebih, maka dengan berani putra bungsu Uchiha itu mengalungkan tangannya di leher Naruto, menekan kepala pemuda itu agar menciumnya lebih dalam.
"Mhmm.. Ahhh..Na-mhmmm..."
"Sasuke?"
Naruto menyeringai, tangannya sudah turun ke bawah menyentuh pangkal paha Sasuke, mengusapnya dengan perlahan.
"Ugh.. Naru..."
"Sasuke, kau sudah bangun," bisik Naruto seduktif di telinga si raven, menjilat lalu mengulumnya kuat-kuat.
"Na-ru.. ugh!"
"Sasuke?"
"..."
"Sasuke?!"
Sasuke membuka mata begitu merasakan guncangan pelan di tubuhnya. Dia mengerang dan mulai menyadari keadaan. Apa yang barusan dia mimpikan? Jerit si raven dalam hati, wajahnya langsung memerah begitu melihat Naruto ada di depannya.
"Kau sudah bangun?" tanya Naruto.
"Hn," tanggap Sasuke singkat, mencoba bersikap senormal mungkin tanpa melihat mata biru itu.
"Dan apa yang kau impikan sampai 'itu' mu ikut bangun?" tanya Naruto kemudian seraya menunjuk kearah bawah tubuh tuannya.
"Apa?!" Sasuke agak bangkit dan melihatnya sendiri, ada gundukan yang menyembul di balik selimut yang digunakan olehnya.
Naruto menahan tawanya. "Dengar, aku memang pelayanmu, tapi untuk melayanimu dalam masalah 'itu', maaf maaf saja deh!"
"Berisik, Dobe!"
Sasuke berdecak kesal, juga malu. Salah siapa coba... dia buru-buru bangkit dan segera menerjang kamar mandi.
"Aku akan keluar mengambil sarapan, Sasuke," seru Naruto.
"Hn."
Sasuke langsung terduduk di ubin kamar mandi, jantungnya berdebar kencang. Bagaimana bisa dia bermimpi 'hampir' melakukan 'itu' dengan Naruto? Tidak! Ini hanya mimpi! Hanya mimpi! Dia tidak mungkin belok, kan? Dia masih stright. Dia masih...
Ugh!
Sayangnya, berapa kali pun dia menyangkal, mimpi itu sesungguhnya... kinginan alam bawah sadar kita.
Uchiha's Servant
Sasuke menyadari begitu dia sarapan, tangannya sudah diperban dengan rapih. Dia lalu segera menatap pelayannya.
"Kau yang melakukannya?" tanyanya, tapi kemudian langsung merutuki pertanyaannya. Tentu saja! Siapa lagi yang melakukannya selain dia?
Naruto hanya mengangguk dan mengabiskan nasi karenya.
"Kapan?"
"Semalam—"
Wajah Sasuke seketika memerah. Sialan. Dia malah teringat mimpi panasnya.
"—Saat kau tidur."
Tapi wajah Sasuke masih memerah, maka dari itu dia menundukan wajahnya ketika membalas, "Arigatou."
Naruto tersenyum lebar. "Bukan masalah," katanya.
Setelah dapat menguasai dirinya, si raven mendongak untuk melihat Naruto. Tapi matanya mengernyit begitu mendapati hal yang baru disadarinya.
"Kau memakai kalung? Sejak kapan?" tanyanya heran, juga penasaran.
"Um," Naruto mengangguk. "Semalam."
Kalung kristal itu berkilau sebelum si empunya memasukannya kedalam kemeja yang dia kenakan. "Milik kakakku," ucapnya memberitahu.
"Oh."
Diam. Rasanya agak canggung...
"Omong-omong, hari ini upacara penyambutannya, ya?" tanya Naruto kembali heboh. "Aku benar-benar penasaran dengan anak-anak dari sekolah lain!"
"Biasa saja, Dobe," tanggap Sasuke.
"Aku dengar kau punya lawan yang cukup tangguh dulu. Dari sekolah mana?"
"Suna," jawab Sasuke pelan.
Naruto mengangguk-angguk seraya memegang dagunya. "Naru hodo..."
Uchiha's Servant
"Dobe, aula bukan disana!" seru Sasuke begitu melihat Naruto yang lari ke arah berlawanan.
"Aku izin!" balas Naruto sebelum menghilang di belokan. Sasuke menghela nafas melihatnya
"Aku jadi ingin izin juga," kata Shikamaru sambil menguap.
"Kalau kau tidak muncul di acara penyambutan ini, Haku akan mengira kau takut padanya," kata Neji yakin. "Ingat tahun kemarin saat kau sampai berkeringat hanya karena bermain catur dengan Haku? Walaupun akhirnya kau menang, sih. Tapi, kan, tetap saja..."
"Ck, merepotkan," dengus Shikamaru, berjalan malas-malasan.
"Untung clubku tidak termasuk olahraga," kata Sai sambil tersenyum, melangkahkan kakinya dengan santai.
"Tapi aku tidak mengerti kenapa catur bisa dianggap olahraga?" pikir Neji mengernyit. "Bagaimana menurutmu, Sasuke?"
"Hn."
"Ucapannya selalu kembali pendek kalau tidak ada Naruto."
Dan... –duk!
Perut Sai sudah terkena hantaman sikut si raven.
Naruto sendiri berlari menuju ruangan samping perpustakaan—ruang club Supernatural. Entah firasat darimana, dia tahu Gaara tidak mengikuti acara penyambutan peserta dari ketiga sekolah.
"Senpa—" suara Naruto menghilang di udara begitu melihat Gaara tergeletak di lantai dengan seseorang mengguncang-guncang tubuhnya. "Siapa kau?"
Pemuda di samping Gaara mendongak, memperlihatkan tato segitiga terbalik di masing-masing pipinya.
"Sebelum itu, bisa kau bantu aku dulu?"
.
.
"Kenapa Gaara Senpai bisa seperti ini?" tanya Naruto begitu meletakan si rambut merah di atas tempat tidur UKS.
"Ketika aku datang, dia sudah sangat kepayahan begitu, lalu pingsan," kata si pemuda yang belum di kenal Naruto. "Dia tidak biasanya seperti ini." Dia menghela nafasnya sebelum berbalik menghadap Naruto. "Aku Inuzuka Kiba kelas 2-C, anggota club Supernatural juga. Kau Namikaze Naruto, kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Naruto heran.
"Tentu saja," Kiba nyengir lebar. "Gaara sudah mengincarmu semenjak kau datang."
"Mengincarku?!"
"Ah!" Kiba tersentak sendiri dengan ucapannya. "Masalah itu, tanyakan saja pada Gaara langsung."
Naruto terdiam sebentar, lalu kembali melihat Gaara yang tidak sadarkan diri. Apa yang dia incar dariku? Pikirnya bingung.
"Tadi kau bilang, kau anggota club Supernatural juga?"
Kiba mengangguk.
"Tapi aku tidak pernah melihatmu."
"Aku sakit dan harus dirawat intenst di rumah sakit selama satu minggu," jelas Kiba. "Jadi, akhirnya kau gabung, ya, emm... boleh aku panggil kau Naruto?"
"Panggil saja begitu," Naruto mengangguk setuju. "Dan, ya, aku baru bergabung kemarin."
Kiba memekik kegirangan dan langsung menceritakan keluh kesahnya selama dia bersama Gaara—anggota club Supernatural sebelum Naruto masuk, hanya ada mereka berdua.
"Kau... tahu tentang Gaara Senpai juga?" tanya Naruto hati-hati.
"Tentang siluman setengah dewanya? Iya, aku tahu," kata Kiba. "Dia memberitahuku ketika aku mendaftar masuk."
"Kau tidak takut?" tanya Naruto lagi.
"Takut? Tidak," jawab Kiba pelan. "Walaupun agak dingin, tapi dia menyenangkan, kok. Dia lebih dari seperti keluarga bagiku." Wajahnya kemudian mendung.
"Kau kenapa, Kiba?" Naruto mengernyit melihat perubahan raut wajah itu. "Kau baik-baik saja?"
"Ah, iya, tentu saja!" Kiba kembali cerah. "Omong-omong, Gaara sebenarnya kenapa, ya? Dia jarang sekali seperti ini, kecuali dulu waktu..." dan matanya langsung terbelalak, seperti menyadari sesuatu. "Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melupakannya?!"
Kiba langsung bungkam setelah mengatakan itu, pertanyaan Naruto pun tak ada satupun yang dia jawab. Hanya, 'tunggu sampai Gaara sadar' lah yang di ucapkan pemuda Inuzuka itu pada Naruto.
Apa yang sedang mereka sembunyikan sebenarnya? Batin Naruto penasaran. Ada apa dengan Gaara sebenarnya?
Tapi setelah Gaara sadar sekitar dua puluh menit kemudian, si pemuda merah itu hanya menyuruh Naruto untuk segera menemui Sasuke. Perintah dengan nada mutlak itu langsung dituruti Naruto tanpa banyak tanya lagi, meski wajah si pirang dipenuhi berbagai macam pertanyaan sebelum pergi dari ruang UKS.
"Gaara, apa kau merasakan silmuan lagi?" tanya Kiba begitu hanya tinggal mereka berdua.
Si rambut merah mengangguk seraya meletakan punggung tangannya di dahinya sendiri.
Naruto agak terburu-buru saat melewati koridor menuju aula. Bau busuk yang tercium semejak dia menuruni tangga, semakin tercium ketika dia membuka pintu aula. Sepertinya acara penyambutan telah selesai dilakukan, dan kini para siswa menyebar tak tentu arah, saling mengobrol dan becanda dengan siswa dari sekolah lain. Si pirang mengedarkan pandangnya seraya menahan mual karena bau yang dia cium. Apa hanya aku yang mencium bau ini? Pikirnya begitu melihat orang lain baik-baik saja.
"Naruto, kau baik-baik saja?" seorang siswa bertanya, Naruto tidak tahu siapa itu karena matanya mulai buram. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kau melihat Sasuke?"
"Itu Sasuke," tunjuk anak itu ke suatu arah. "Dia sedang mengobrol dengan anak-anak dari Suna."
"Sankyu."
"Kau yakin baik-baik saja?" si anak bertanya lagi sebelum Naruto pergi. "Kau pucat sekali."
Naruto kembali mengangguk sembari menunjukan tada 'oke' dengan tangannya.
Perut Naruto semakin melilit begitu langkahnya mendekati Sasuke. Bau busuk itu semakin tercium dan dengan tangannya dia berusaha agar dia tidak muntah saat itu juga.
"Sasuke!"
"Dobe?!" Sasuke agak terkejut melihat Naruto, apalagi melihat keadaannya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya seraya menahan tubuh pelayannya yang hampir tumbang.
"Aku oke," kata Naruto nyengir, tapi kemudian kembali menahan mulutnya yang hampir muntah.
"Kau sakit?"
"Tidak, hanya saja..."
"Kau tampak tidak sehat. Sebaiknya kau ke UKS," seseorang menyela. Naruto mendongak dan mendapati rambut merah menyala hampir mirip seperti Gaara. Si pirang langsung lemas seketika. Matanya...
"Naruto!"
Sasuke, mata orang itu aneh. Menjauhlah darinya. Menjauhlah. Tapi ucapan itu tak pernah sampai ke telinga Sasuke. Naruto keburu jatuh dan langsung tak sadarkan diri setelahnya.
TBC
Apa ceritanya semakin aneh?
Err...
Untuk penegasan sekali lagi..
FF ini Yaoi, dan NaruSasu, yang berarti Naruto Dominan di sini.
Maaf ga bisa bales komentar kalian satu persatu.
Yang minta lemon, lime, dan sebagainya... saya ingin, sih, tapi kaya'a alurnya jadi terlalu cepat kalau hubungan Naruto sama Sasuke langsung ke lemon, jadi saya kasih sedikit lime (walau Cuma mimpi).
Maaf karena updatenya lama...
Makasih untuk komentar kalian... jangan lupa kasih masukan lagi.
Salam hangat...
