Disclaimer: Kuroko no Basket bukan milik kami, melainkan Tadatoshi Fujimaki. Tidak ada keuntungan materiil yang diambil dari karya yang sedemikian absurd.
Orang Jepang tak mengenalinya. Mungkin popularitas si kulit oranye kalah dengan bisbol, terkanya. Namun memang begitulah realita yang ada. Di Amerika, nama Aomine dielu-elukan—kalau tidak semua, maka sebagian dari—masyarakat. Si negara federal dengan lima puluh negara bagian, tak bosan-bosannya melihat wajah Daiki Aomine di layar kaca. Tapi baguslah, dengan begitu Aomine tidak perlu khawatir orang-orang mengganggunya saat ia tengah berjalan sendirian di tengah kota.
.
Hari itu sore dan ia mengenakan kaus biru pucat dan celana tiga perempat lusuh. Kulitnya masih hitam, sebuah rahasia umum. Tetapi ia terlalu lama tinggal di daerah tropis [1] sehingga lupa bahwa Jepang di bulan Oktober bisa menjadi sangat dingin dan berangin. Bahkan Aomine beberapa kali bersin dalam perjalanannya.
Halte bus masih sepi. Ini bukan jalur ramai yang kerap dilewati orang, tetapi halte tersebut menjadi tempat esensial dalam kehidupan remajanya. Suka, duka, kalah, menang—apapun, tinggal kau bilang saja.
.
"Ahomine! Lo nggak pamitan sama gue?!"
"Berisik lo, Bakagami. Buat apa bilang ke elo?"
"Geh! T-Tapi lo pamitan sama yang lain!"
"Ya udah sih. Itu tandanya gue males pamitan sama lo. Puas?"
"Hanjir, alasan macem apa it—"
(Bus pun tiba. Aomine tanpa tedeng aling-aling segera naik, mengabaikan sosok Kagami yang nampak terkhianati dan terluka.)
"Brengsek! Jangan pergi lo! JANGAN PERGI!"
.
Untuk pertama kali dalam sepuluh tahun, ia kembali menjejakkan kaki di halte yang sama. Ia turun dari bus dengan perasaan nostalgia menyeruak dalam dada yang lambat laun pun reda. Kata "asin parah" menjadi komentar pertamanya saat merasakan angin yang menyapu wajah. Oh, sedari dulu Aomine bukan orang yang romantis, kau tahu.
Dia bahkan tak terkesima dengan pemandangan cakrawala yang membelah langit jingga dan laut nila. Bertahun-tahun dia menyaksikan yang seperti ini; bosan. Tetapi sebelum kuap bisa lolos dari mulutnya, Aomine tertegun. Sejenak.
"Lo berani kembali ke sini ternyata?"
Suara familier. Rasakan dramanya, saudara-saudari terkasih.
Namun Aomine berani bersuara dengan lantang, bahwa apa yang ia rasakan bukanlah rasa bersalah. Sehingga saat semua orang mengharapkan nestapa, yang ia tunjukkan adalah gembira. Ada senyum terkembang alih-alih duka terpampang.
Sial. Betapa dia kangen pada si rambut merah satu ini.
"Oh, Bakagami. Masih betah nungguin gue ternyata?"
Tahu apa respon Kagami? Hanya satu hal sederhana, kok.
"Bangke lo."
Keterangan:
[1]Kalau ada yang belum tahu, tidak semua bagian di Amerika Serikat memiliki empat musim. Ada yang memiliki dua musim, seperti Indonesia.
Singkat cerita, anggap ini universe sendiri di mana kampung halaman Aomine dan Kagami berada di kota pinggir laut. Kami berpikir kota pinggir laut akan membuatnya romantis, tapi… entahlah. Lihat saja ke depannya. Terima kasih sudah membaca!
