HAI! Saya balik lagi!

Makasih yaaa buat reviewnya kemarin.

Jadi, ada yg blg, biasanya Halilintar yg dibikin sulung. Emang, sih. Di canon, kekuatannya Hali duluan (petir) yang ditunjukin. Dan Gempa jadi bungsu karena tanah yang belakangan muncul kekuatannya (waktu Boboiboy jatoh kesandung dan ngeluarin kekuatan tanah yg lgsg ngebawa dia ke kamarnya). Dan kayaknya itu yg bikin mayoritas di ffn pake urutan tanggal lahir mereka kayak gitu. Ngurutin berdasarkan kemunculan kekuatan, gitu. Dan di fic saya sblmnya, Hali emg jd anak sulung.

Tapi, sblm saya bahkan mengunjungi fandom BBB di ffnet, saya ga kepikiran itu. Malah pas masih marathon season 1, saya mikir, walah, tanah leh uga jd anak sulung. Kan dia macem pemimpin dua BBB yg lain gitu. Si petir cocok jadi anak tengah yg pendiem. Kalo angin cocok jd anak bungsu yg ga bisa diem. Yah, emg stereotip banget, sih. Tp lucu aja. Apalagi emg sepupu deket saya yg kakak adek tiga bersodara emg kayak gitu. Dan di fic ini akhirnya dibikinlah Gempa yg jd anak sulung, sesuai delusi (?) awal saya.

Aih, nulis ini capek banget ternyata _(:'3 OOC parah. Sumpah susah banget bikin jadi IC. Mungkin pengaruh setting kali ya. AU banget ini. Ya kali gitu di canonnya Fang tb2 ditembak BBB /…

Dan, yap, di sini BBB ada lima2nya! Tapi masih di chapter2 ke depan. Taufan aja nongolnya masih sekitar tiga chapter lagi /yha /kokspoiler dan beberapa karakter di sini bakal masih salah sebut nama (masih pake nama BBB). gppkan? krn di sini emg Boboiboy bersaudara pake nama itu karena mereka tinggal berjauhan satu sama lain, dan mereka emg suka sama nama itu, jadi ya udah pake aja. kalo kumpul keluarga, baru pake nama Halilintar Gempa dll. maaf ya kalo ngebingungin.

Waaah makasih banyak yang udah nyempatin mampir sini! Kyaaaa

happy reading!


.

.

Boboiboy belongs to Animonsta. This fic is written purely for amusement. No profit is gained from the making of this fanfiction.

Warnings: malexmale, BoyxFang (in that order), College!AU, formal nonformal nyampur

.

.


.

Sepasang sepatu kets ungu yang masih terbungkus rapi di kotaknya dia keluarkan.

Ujung bibir sebelah diangkat. Fang kemudian duduk di pinggir kasur dan memakai sepatu barunya. Sepatunya terlihat serasi dengan jins biru pudar, kaus putih, dan kemeja kotak-kotak hitam-ungu yang dia pakai. Dia merasa puas.

Dia memang membeli sepatu ini sudah agak lama, sekitar akhir semester satu. Saat itu dia sudah bertekad akan masuk Jurusan Matematika berakreditasi A di manapun di Malaysia. Dia sengaja beli sepatu itu di saat itu juga dan tetap menyimpannya sampai tekadnya dia laksanakan. Dan sekarang dia sudah bisa memakainya.

Sebenarnya Universitas Rintis bukanlah pilihan terbaik di Malaysia. Meski termasuk dalam sepuluh besar universitas terbaik di Negeri Jiran, masih banyak lagi yang lebih baik. Namun, mayoritas kampus-kampus tersebut terletak di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Dan tentunya Kuala Lumpur adalah pilihan terakhirnya.

Belum selesai Fang mengikat tali sepatu, pintu kamarnya dibuka.

Ada Halilintar di sana. Sudah lengkap dengan topi merah-hitam kesayangannya, kemeja hitam yang tidak dikancing sampai atas dan memperlihatkan kaus merahnya, serta celana denim hitam. Tak lupa tas merahnya sudah bertengger di punggungnya. Sepatu merah gelapnya masih dia tenteng, kakinya sengaja hanya berbalut kaus kaki hitam supaya tidak mengotori lantai kamar kos Fang.

"Sudah siap?"

Fang mengerang.

Orang ini adalah alasan Fang tidak mau kuliah di Kuala Lumpur. Tapi apa daya, niat hati ingin menghindar, tapi dia malah menghindar ke tempat yang salah. Mana tahu kalau Halilintar punya kampung di Rintis dan kakeknya yang punya kos-kosan di tempat sestrategis ini? Apalagi dia malah dikejar sampai sini!

"Kapan kamu mau belajar ngetuk pintu kamar orang sebelum masuk? Lagian aku belum bilang mau berangkat sama kamu."

Halilintar menghela nafas. Dia tutup pintu kamar Fang di belakangnya dan mempersilahkan dirinya duduk di sebelah Fang. Tangannya merangkul pinggang pemuda itu. "Kamu masih marah soal yang dulu? Maaf… aku cemburu nggak tau tempat."

"Bilang maaf tapi semalam juga masih ngomel." Fang risih dan menjauhkan tangan Halilintar dari pinggangnya. Dia lanjut mengikat tali sepatu. "Aku udah pernah bilang, cewek yang datang ke SMA dan meluk aku waktu itu adik sepupuku. Kamunya nggak mau dengerin."

"Maaf. Aku nggak tau. Kamu juga nggak pernah cerita kamu punya sepupu."

Fang tidak terima disalahkan secara tak langsung. "Iya? Kamu juga nggak pernah cerita kamu punya saudara kembar."

Halilintar menggaruk tengkuknya. Dia gigit bibir bawahnya, sedikit merasa bersalah. "Maaf. Ada sedikit masalah keluarga."

Fang diam. Dia tidak berkutik dengan jawaban itu.

Kata "keluarga" adalah kata yang jarang dibicarakan mereka. Fang tidak punya masalah soal keluarganya. Yang punya masalah, ya, Halilintar. Baik Fang maupun Halilintar sendiri tidak pernah menyinggungnya, namun, Fang tahu, Halilintar termasuk dari sedikit murid yang paling susah orangtuanya diajak ke sekolah untuk pertemuan dengan guru.

Fang memutuskan untuk memaafkan Halilintar perihal itu. Tak akan dia utarakan, cukup tidak dia bahas lagi saja. Sebuah helaan nafas lolos keluar dari mulut Fang.

"Jadi…," Halilintar menatapnya penuh harap. "Kita balikan?"

Fang menoleh. Diberikannya senyum terbaiknya. Halilintar ikut tersenyum melihatnya. Halilintar hampir meraih tangannya untuk menggandengnya—

"Nggak."

.


.

"Atok, piring kotornya mau Boboib—Gempa cuci?"

Gempa hampir jahat ke adiknya dan memanggil dirinya sendiri Boboiboy. Terbiasa menjadi Boboiboy satu-satunya di sini. Dia tidak menyalahkan Gopal kalau nanti temannya salah memanggilnya.

Tok Aba mematikan keran tempat cuci. "Memang ini jam berapa? Kamu mau berangkat jam berapa?"

"Masih jam setengah delapan… Gempa masih ada waktu satu setengah jam kok."

"Jangan, deh. Kamu kerjakan yang lain saja. Tanaman belum kamu siram kemarin sore, 'kan?"

Gempa menepuk kepalanya. "Maaf, Tok…."

"Tak apa. Kemarin Atok sudah siramkan. Tapi kamu siram lagi aja. Kayaknya hari ini bakal panas."

"Beres, Tok."

Gempa menurut dan langsung pergi. Langkahnya yang terbalut sendal gunung yang menjadi sendal rumahannya sehari-hari membawanya ke gudang kecil tempat Tok Aba menaruh peralatan bersih-bersih. Selang kuning kusam ia keluarkan dan bawa ke halaman depan. Dipasangkan selang itu di keran air yang ditanam di tembok sana. Dia jepit ujung selang yang bebas dengan jempol dan telunjuk yang terkepal guna mengecilkan jalur keluarnya air dan dia mulai menyiram tanaman.

Gempa menyiram tanaman sambil bersiul. Paginya santai karena kelas baru dimulai jam sepuluh. Dia cukup senang bisa mendahulukan membantu kakeknya sebelum memulai aktivitas lain. Dia baru mulai menyiulkan lagu kedua sebelum terdengar keributan dari pintu depan kos.

"Fang!"

Fang sudah mau menjejakkan kaki di teras, namun tangannya ditarik kasar oleh Halilintar. "Apaan lagi? Oi, kita bisa telat masuk kelas!"

"Aku kan udah minta maaf, Fang."

Fang mengacak-acak rambutnya dengan tangannya yang bebas. "Argh… gini, kasih aku waktu dulu, oke? Untuk sementara aku nggak mau ketemu kamu dulu."

Fang menarik tangannya kasar dan pergi. Gempa bisa melihat matanya yang dibingkai keki luar biasa. Namun, sorot mata itu berubah kikuk begitu tertuju padanya. Fang senyum kaku.

"Duluan, ya."

"Ah, eh, oh, oke."

Halilintar mendelik pada Gempa sebelum menyusul Fang. Gempa sendiri tidak begitu peduli, dia hanya memerhatikan punggung Fang yang sudah menjauh di sana. Dapat dilihatnya Fang merasa pada bersalah pada Gempa karena alasan tertentu.

Namun, bukan itu yang dia permasalahkan dari senyum Fang.

Senyum Fang?

"DEY, BOBOIBOY!" Jerit Gopal. "BAJUKU BASAH, NIH!"

.


.

"Untuk sementara aku nggak mau ketemu kamu dulu!"

Kadang Fang bertanya-tanya. Apakah dia dulu nakal semasa kecil? Atau sebelum reinkarnasi, dia adalah orang yang super jahat? Atau malah nenek moyangnya yang demikian?

Fang percaya hukum karma. Sebab-akibat. Segala hal yang ada dan atau terjadi di dunia ini pasti ada alasannya. Beberapa kepercayaan menyebutkan kalau sesuatu yang terjadi di dunia adalah yang tidak bisa kita kendalikan, ada kemungkinan besar itu karma atas sesuatu yang terjadi di masa lampau.

Nah, karena begitu, bolehkah Fang tahu kenapa dirinya dan Halilintar jadi mendadak sering punya kebetulan yang tidak diinginkan begini di antara mereka?

Jam sepuluh adalah jadwal kelas wajib universitas. Kelasnya dan kelas Halilintar bersebelahan.

Kalau jam satu adalah jadwal kelas wajib fakultas. Kelasnya dan kelas Halilintar hadap-hadapan.

Kalau jam lima sore waktunya kegiatan klub kampus. Lapangan basket dan lapangan futsal hanya dibatasi pagar tinggi.

Jangan lupa ruang loker dan ruang mandi seluruh klub olahraga ditempatkan di satu kawasan.

"Jodoh nggak ke mana, ya." Halilintar enteng berkata sambil menenggak isi botol air minum yang dibelinya sebelum kegiatan klub, punggungnya bersandar pada pagar jaring-jaring hijau membelakangi kursi yang diduduki Fang. Masing-masing sudah memakai kaus katun dan celana pendek.

Fang memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya. "Masih main futsal?"

"Iya, lah. Memangnya kamu, ngerti aja nggak."

"Ngajak berantem ya?"

Seorang senior berdiri di tengah-tengah lapangan futsal, kemudian berseru, "Anak semester satu! Kumpul!"

"Aku dipanggil." Kata Halilintar sekenanya. Ia habiskan sisa air minumnya dan pergi ke tengah-tengah lapangan setelah membuang botol plastik itu di tempat sampah terdekat.

Fang sendiri tidak ada kerjaan. Klub basket sedang waktu rehat karena mulai lebih awal dari klub futsal. Dan dia juga tidak berminat untuk berkenalan dan bersosialisasi dengan anggota lain. Dia tidak punya kerjaan lain selain memerhatikan latihan Halilintar. Bukannya karena mau, lho, ya. Karena nggak ada kerjaan lain, oke?

Set latihan mahasiswi lebih sedikit daripada set latihan mahasiswa. Mahasiswi yang sudah selesai duduk-duduk di pinggir lapangan sambil mengobrol. Fang dapat melihat mereka membicarakan Halilintar. Um, seperti yang dilakukan mahasiswi klub basket yang sedang memerhatikan Fang tanpa yang bersangkutan sadari, sih.

Fang mengaku bahwa Halilintar memiliki fisik yang menarik. Baik wajah maupun panjang tubuhnya proporsional. Apalagi kalau sedang main sepakbola.

Seperti sekarang.

Seluruh anak baru disuruh melakukan pemanasan dan latihan dribel yang diakhiri dengan tembakan bebas ke gawang. Halilintar dengan cekatan menggiring bola melewati rintangan-rintangan yang dipasang di sepanjang lapangan sebelum menendangnya ke gawang dengan kecepatan tinggi. Fang ingat betul tendangan berkecepatan tinggi keahlian Halilintar. Kalau ini kartun di mana dia diberi kekuatan super, pasti Halilintar akan menendang bolanya sambil berseru "Tendangan Halilintar!" atau nama lainnya.

Setelah itu Halilintar kembali ke barisan dengan lari kecil. Malas mengambil handuk, Halilintar hanya memakai kausnya untuk mengelap keringat di wajah, leher, dan pelipisnya. Kausnya jadi sedikit tersibak, memamerkan sedikit bagian dari perutnya yang rata dan berbentuk. Dilepaskannya topi bisbol hitam kesayangannya, kemudian dipakai untuk kipas-kipas sambil jemari tangannya yang satu lagi mengacak-acak rambutnya sendiri yang pendek dan lepek karena keringat.

Feromon menguar dari arah lapangan futsal, Bung.

Oke, Fang pernah merasa sial karena dia pernah berpacaran dengan Halilintar. Padahal Halilintar tidak buruk. Secara fisik, dia oke. Secara personaliti, meskipun orang yang belum mengenalnya akan menganggapnya dingin, jika sudah dekat, dia adalah orang yang pedulian, setia kawan, dan kadang pacar yang baik.

Kadang.

Kadang.

"Maaf, kak! Saya terlambat!"

Fang kenal suara itu. Suaranya tidak seberat Halilintar, namun mirip.

Gempa, sudah dengan kaus katunnya dan celana pendek selutut, masuk ke lapangan dan langsung menghadap seorang senior yang tadi mengatur anak-anak baru. "Maaf, kak! Saya baru selesai kelas!"

"Nggak apa-apa. Kamu pemanasan dulu lalu gabung dengan yang lain."

"Iya, kak!"

Baru Gempa ingin memulai pemanasan, Halilintar sudah menghampirinya. Adiknya tampak tidak senang. "Eh, kenapa kau di sini?"

"Kenapa pula aku nggak boleh di sini?" Tanya Gempa bingung. "Aku kan juga ikut klub futsal. Nggak boleh?"

"Kirain kamu bakal ikut klub tinju."

"Aku cuman bisa ikut satu klub biar sempat bantu Atok, dan aku lebih suka futsal daripada tinju. Jadi, ya, aku masuk klub futsal aja. Senang, 'kan, bisa main futsal lagi sama kakakmu?" Gempa nyengir.

"Waaah! Kembar!"

Beberapa anggota klub futsal, entah yang putra maupun putri, datang mengerubungi Gempa dan Halilintar. Bagi Gempa dan Halilintar, saudara kembar adalah hal biasa. Namun, tidak bagi mayoritas orang di sana.

"Cis, mereka populer sekali." Fang sedikit tidak terima. Penyakitnya dari jaman kanak-kanak, ia tidak bisa melihat orang lain populer sedikit. Padahal di belakang ada kumpulan anggota basket putri—dan sedikit putra—yang sedang memerhatikannya. Fang memutuskan untuk tidak peduli pada kedua kembaran itu dan melanjutkan latihan.

"Sudah!" Senior futsal yang tadi langsung mengambil alih. "Perkenalannya nanti saja dulu. Ingat, seminggu lagi ada pertandingan persahabatan melawan kampus kota sebelah. Nanti habis latihan baru kita makan-makan sekalian pengakraban dengan anak baru, setuju?"

"SETUJU!"

.


.

Fang baru keluar dari ruang shower. Dia sudah berpakaian dengan kaus ungu kesayangannya dan celana jeans. Handuk kecil dibiarkan di kepalanya. Dia kembali ke ruang loker untuk mengambil tas dan sepatunya.

"Fang!" Ketua klub basket menyapanya. "Habis ini kita ada kumpul makan malam bersama. Kau kan anak baru, bergabung saja. Acara ini juga sekalian untuk perkenalan antara senior sama junior."

"Aku tidak minat." Kata Fang lugas.

"Ayo, jangan gitulah!" Punggung Fang ditabok keras. Fang meringis, namun ditahan demi menjaga imej. Demi apapun, jangan pernah mau ditabok sama orang yang sehari-harinya mendribel bola basket. "Nggak baik mengasingkan diri begitu. Lagipula ini masih awal semester. Nanti-nanti bakal banyak tugas terus nggak bisa jalan-jalan, lho. Kas klub basket bisa nutupin biaya makan all you can eat satu klub, kok!"

"Uangnya bisa digunakan untuk yang lebih bermanfaat, kan." Fang memutar bola matanya.

Anggota klub lain menyahut. "Hahaha, jangan kaku gitu, ah! Ayo! Klub basket putri juga ikutan, lho."

Dengan berbagai macam paksaan, Fang berhasil ditarik ke acara mereka.

Ya sudahlah, kapan lagi bisa makan all you can eat. Kesempatan yang tidak boleh dilewatkan anak kos.

Tiap klub olahraga punya ruang loker dan ruang bilas sendiri, baik yang putra maupun yang putri. Ruang-ruang itu disusun dalam sebuah gedung yang sama. Ruang loker dan ruang bilas klub basket berada di pojok di lantai tiga, lantai paling atas. Kuncinya dipegang oleh ketua klub.

Di ruang duduk lantai bawah, klub basket putri sudah menunggu. Ruangan mereka memang tidak jauh dari sana.

"Itu, yang cowok-cowok udahan." Kata salah satunya.

"Horeee, Fang ikut!" Dua gadis langsung menyerobot kedua lengan Fang.

Fang menghela nafas. "Aku bakal pulang lebih cepat. Ada tugas."

"Halah…," salah satunya manyun.

Satu lagi tersenyum. "Nggak apa-apa, yang penting ikut! Jom kita ke restoran!"

Klub basket pergi dengan dua mobil SUV berkapasitas delapan orang, satu punya anak tingkat 1, satu lagi punya senior tingkat 3, dan ada dua motor yang dinaiki masing-masing dua orang. Fang ikut di mobil senior karena diseret bersama dengan dua sesama junior lain. Di perjalanan, ia dan dua junior lain ditanya-tanya perihal kuliah dan kehidupan mereka sebelum kuliah. Pertanyaan standar. Namun, kebanyakan yang nanya Fang adalah senior-senior cewek.

"Fang, kenapa sih kamu kuliah di Rintis? Bukannya di kota banyak kampus yang lebih bagus?"

"Iya. Kami juga udah rekap data kamu. Nilai kamu bagus-bagus, lagi."

Tidak mungkin, 'kan, kalau Fang bilang dia sengaja kabur ke sini untuk menghindari mantannya? Apalagi ternyata dia malah kabur ke kampung mantannya. Makanya kalau punya pacar ya cari tahu segalanya soal dia, Fang.

"Aku cuman mau ganti suasana aja. Kebetulan Rintis juga bagus. Akreditasinya juga A." Fang menjawab sekenanya.

"Ooh. Kirain pacar kamu masuk sini, gitu."

Fang tertawa garing. "Mana ada. Aku nggak tertarik pacaran."

Salah satu senior yang duduk di sebelahnya tersenyum manis. "Ooh, nggak tertarik. Kalau sama aku, gimana?"

"Heh," yang nyupir angkat bicara. Wakil ketua klub basket putra. "jangan godain anak orang di mobilku, ya."

"Bilang aja kau juga mau digodain."

Untungnya perjalanan tidak begitu lama. Dalam limabelas menit, mereka sampai di Japanese Shabu-shabu Restaurant. Mobil diparkir di parkiran restoran, bersama dengan mobil anggota klub basket yang satu lagi dan dua mobil lain. Parkiran motor dipisah dengan parkiran mobil. Mereka yang naik mobil menunggu anggota lain yang naik motor untuk menyusul ke parkiran mobil. Setelah semuanya berkumpul, baru mereka masuk bersama.

"Fang, nanti aku di sebelah kamu, ya!" Dua senior tadi langsung mencuri start dan mengamit tangan kanan dan kiri Fang. Cewek-cewek lain tampaknya iri. Yang junior malah tidak berbuat apa-apa karena saingannya senior semua dan hanya bisa cemberut. Yang cowok-cowok sedikit menyesal mengajak Fang.

"Kak, nggak enak dilihat orang." Kata Fang ragu.

"Alah, nggak usah dipikirin."

Kapten klub basket putra masuk duluan dan memesan bangku untuk duapuluh orang. Karena meja panjang untuk jumlah orang sebanyak itu terbatas, mereka cukup beruntung ada satu yang tersedia. Rombongan klub basket langsung saja pergi ke sana dituntun oleh satu pelayan.

Tak jauh dari meja mereka, ada satu meja panjang lagi yang terisi. Kumpulan mahasiswa juga, dinilai dari pakaian kasual mereka dan kemeriahan meja itu.

Tunggu. Karena agak jauh, Fang tidak dapat melihatnya dengan jelas. Tapi Fang menangkap dua sosok di antara kumpulan mahasiswa itu memakai topi.

"Lho," kapten klub berkata, "Itu, 'kan, klub futsal!"

"Hah?"

Fang serasa kena serangan jantung.

.


.

"Jadi, kalian kembar, ya? Tapi Halilintar dari KL?"

Mobil salah satu anggota klub futsal putri melaju membawa tujuh dari delapanbelas anggota klub futsal putra dan putri yang ikut. Lima senior, dua junior. Dan kebetulan dua junior itu adalah Boboiboy bersaudara.

Halilintar melipat tangannya dan memilih mojok di mobil sambil memerhatikan jendela. Dia kena sial karena ponselnya sudah habis batere. Dia hanya diam membiarkan Gempa berbicara untuknya.

"Iya, Kak. Kami kembar, tapi baru kali ini serumah. Dari SMP pisah rumah." Gempa menjawab ramah.

"Kenapa pisah?"

"Yah… masalah keluarga."

"Ooh… punya pacar?"

"Aku sih nggak," Gempa sengaja menggantung kalimatnya, kemudian melirik Halilintar. Untuk anaknya nggak sadar. Yang lain tertawa.

"Kalian keren-keren, deh, mainnya!" Senior cowok nimbrung. "Kami bakal merekrut beberapa junior buat ikut main di pertandingan minggu depan. Kami yakin deh kalian bakal masuk."

Yang cewek mengamini. "Iya, mereka main aja. Junior boleh, kan?"

"Iya, malah dianjurkan ada juniornya kok."

Halilintar melirik. Meski sekilas, sorot matanya terlihat senang. Sayangnya tidak ada yang melihat wajahnya saat itu.

"Yang bener, nih, kak?" Wajah Gempa mencerah. "Aku mau banget! Hali pasti juga! Iya, 'kan?"

"Mmhm." Halilintar menyahut. Dia tersenyum tipis.

"Nah, bagus semangat kalian! Bisa saja salah satu dari kalian kuangkat jadi kapten tahun depan."

Obrolan berlanjut seputar futsal sampai mereka sampai di tujuan. Mereka segera memasuki restoran dan menduduki bangku yang sudah mereka booking dari sore. Halilintar memilih bangku paling ujung. Gempa duduk di sebelahnya untuk menemaninya.

"Hali, kamu ikut ngobrol dikit, dong." Tegur Gempa, sedikit membisik.

Halilintar melirik kakaknya malas. Dagunya ditopang tangan kirinya dengan sikutnya yang menempel pada meja. "Aku sih nggak bakal ke sini kalau kamu nggak maksa."

"Jangan gitu. Kita, 'kan, anak baru. Masih junior. Seenggaknya ramah tamahlah sama mereka. Kalau kita dekat sama banyak orang, mana tau kita jadi untung karena punya banyak koneksi, 'kan?"

"Aku nggak peduli. Aku lebih baik di kos."

Gempa manyun. "Kamu nggak cepat-cepat pulang ke kospun Fang nggak bakal ke mana-mana."

Mata Halilintar sedikit melebar. Diangkat kepalanya dan ditatapnya Gempa lamat-lamat. "Kenapa tiba-tiba ngomongin Fang?"

Gempa salah tingkah. Dia baru sadar sudah salah bicara. "Eh… aku… itu…."

"Lho, itu 'kan klub futsal!"

Semua yang di meja itu menoleh. Benar saja, anggota klub basket tiba-tiba ada di sini. Lengkap putra dan putrinya.

Mata Halilintar autofokus pada Fang yang tangannya dirangkul oleh senior cewek. Wajah pemuda tionghoa itu sedikit pucat.

Halilintar berdiri kasar. Langsung saja Gempa menahan tubuhnya. Dia tahu saudaranya ingin segera mengamuk. Gempa menarik Halilintar pergi dari sana."Maaf, kami ke toilet dulu! Halilintar nggak enak badan!"

Anak-anak klub basket dan klub futsal bengong memerhatikan pasangan kembar itu. Tidak menangkap apa yang sedang terjadi. Gempa menarik Halilintar ke arah toilet, sementara Halilintar berontak dan bahkan membentak minta dilepas.

Fang menatap mereka dengan ekspresi campuraduk.

.


TBC!