[3]
RAINBOW
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Warning :
Typo(s), AU, Yaoi, DLDR, cover not mine, it's only fictitious
Cast(s):
Akashi Seijuurou
Kuroko Tetsuya
Tanaka-san
.
.
Pemuda itu membereskan berkas-berkas laporan kegiatan pada meja kerjanya. Ruangan nyaman di lantai dua menjadi tempat kerjanya bersama beberapa orang pengurus dewan siswa.
Jendela yang menghadap ke halaman yang dibatasi gerbang depan membuatnya mudah mengawasi situasi sekolah.
Para siswa berjalan tergesa-gesa meninggalkan area sekolah.
Ruangan sedikit gelap, karena langit mendung, tidak sedikit pun niatan menekan tombol saklar untuk menyalakan lampu. Toh sebentar lagi ia akan meninggalkan ruangan itu.
Awan tampak mulai menggulung, siap mencurahkan bebannya. Ada seringai di bibirnya. Turunlah hujan!
Saat ia menapaki undakan tangga tetesan air dari langit mulai turun. Tangannya merogoh tas, mencari sebuah benda.
Sopir berdiri di samping pintu mobil, membuka jalan masuk untuk tuan mudanya. Sesaat kemudian kendaraan mewah itu melaju.
Tetesan air membasahi seluruh permukaan licin body Audi hitam keluaran terbaru.
"Tanaka-san menepi, tunggu di tempat biasa!" perintah tuannya. Sang driver hanya mengangguk. Ini sudah kali keempat perintah yang sama dari tuannya.
Mata coklat pria berusia pertengahan akan melirik pada pemuda mungil yang berjalan santai di trotoar, kaki-kakinya menjejak genangan, cipratan kecil tercipta. Dari spion tampak tuannya bergegas, payung lipat telah terkembang.
Pria paruh baya itu tersenyum. Masa muda memang menyenangkan.
.
Ia mengatur nafas, sebelum melangkah tanpa suara di belakang sosok mungil yang sudah beberapa kali ia ikuti.
Awalnya – beberapa hari yang lalu – keningnya berkerut saat ia melihat satu dari anggota tim string ketiga basket tengah berjalan santai di bawah rinai hujan.
'Bodoh sekali', batinnya, orang-orang akan menghindari hujan, dan berusaha tetap kering tetapi anak satu itu seolah tidak peduli dengan bajunya yang sudah basah.
Ia amati lebih seksama, betapa wajah datar itu berseri, seulas senyum tersemat. Keningnya tambah berkerut, bagaimana mungkin bocah itu menikmati cuaca buruk seperti ini!
Ia sempat meminta sopirnya untuk berhenti saat pemuda itu berjongkok, memungut seekor kucing, menggendongnya, lalu berjalan kembali, ia dan kucing itu asyik dengan dunianya.
Anak itu berhenti di tepi jalan, dengan kucing dalam dekapan, kepalanya menengadah. Oh, ia sedang menatap pelangi. Tubuh mungilnya seolah dibingkai lengkung layer warna-warni.
Ia terpesona. Beberapa kali kamera mengambil gambar sosok itu.
Keesokannya ia melihat anak yang berseragam sama dengannya tengah berjongkok, mengeluarkan anjing kecil dari dus, mendudukan mahluk kecil itu di bangku halte, menyuapkan roti yang diambil dari tasnya. Masih dalam rinai hujan.
Aah… Semakin lama ia semakin tertarik pada anak itu. Bahkan ia sampai menyuruh sopir mengikutinya. Ia ingin tahu dimana anak itu tinggal.
.
Hari itu mata rubinya menyisir sepanjang jalan yang biasa Kuroko Tetsuya lalui - ia tahu namanya setelah tanpa sengaja mendengar Aomine Daiki menyebutnya.
Sampai di mulut jalan kecil, ia masih tidak melihat sosok itu, apa hari ini ia tidak masuk sekolah? apa ia sakit? batinnya. Entah mengapa ada rasa khawatir.
.
Payung menaungi tubuh kecil di depannya. Sontak kepala berambut biru itu menoleh. Mereka bertatapan. Cerulean itu membola.
Indah! Dan rubi pun terpana.
"Akashi-san?" suaranya terdengar halus.
"Aku lihat kau kehujanan, bajumu basah!" ucapnya datar.
"Maaf, aku merepotkan, Akashi-san tidak usah memayungiku, silahkan duluan," tubuh itu sedikit membungkuk.
'Hmm, ia tahu namaku,' batinnya, siapa yang tidak kenal ketua dewan siswa plus kapten basket di sekolah ?
Mata rubi mendelik, ia tidak suka dengan penolakan, sehalus apapun.
Ia tahu pemuda yang lebih pendek darinya berjalan rikuh, tapi ia tidak peduli.
"Apa kau tidak membawa payung?" tanya Akashi, "Oh, aku membawanya," jawaban tak terduga. Keningnya berkerut.
"Tapi aku lebih suka berjalan di bawah hujan, ini menyejukkan," ujarnya sambil menadahkan tangan, menampung tetesan air hujan.
"Tapi baiklah aku akan membuka payung-"
"Tidak usah! Ini cukup untuk berdua!" sergahnya.
Akashi mengikuti langkah Kuroko sampai di depan rumahnya.
"Besok pakai payungmu sendiri!" Kuroko hanya mengangguk, sambil membungkukkan badan sedikit.
.
Kali kedua, ketiga, ia selalu memayungi sosok kecil itu. Walaupun seringkali ia melirik wajah itu terlihat kesal. Sepertinya ia mengganggu kesenangan Kuroko Tetsuya bermain hujan-hujanan.
Dan ini kali keempat. Cerulean itu selalu membola saat ia naungi dengan bahan kedap air.
"Tidak ada yang menyuruhmu memayungiku, Akashi-kun!" wajahnya datar tapi ia tersenyum. Ah, dia manis sekali!
Tapi tiba-tiba tubuhnya melesat pergi meninggalkannya.
"Hei! Tunggu, mau kemana kau, Tetsuya!" teriak Akashi.
Ia berada beberapa langkah di depan, menolehkan wajah senyumnya. Lalu merentangkan tangan dan menengadahkan wajahnya, seolah benar-benar menikmati tetesan hujan yang menghujam tubuh kurusnya. Sejenak kemudian kaki-kakinya membawa tubuh itu menjauh.
"Uuh benar-benar merepotkan!" tapi pemuda itu tak ingin kehilangan momennya untuk berjalan bersama dalam rinai, yang entah mengapa menjadi semenyenangkan seperti ini. Langkahnya berderap dan kembali memayungi sosok yang sudah kuyup. Sesaat kemudian mereka terkekeh bersama.
"Akashi-kun, pelangi…pelanginya indah sekali!" mata biru langit itu berbinar.
.
.
Ia masih saja menatap layar gawainya, setelah sebelumnya melakukan video call.
Sampai diusianya yang sekarang Tetsuyanya masih saja suka bermain dengan air hujan. Padahal ia selalu melarang kedua anak mereka bermain di bawah rinai hujan.
Ia kesal, tugasnya di Kyoto menghalangi untuk segera pulang.
.
.
peun
.
.
