Holmes tampak gelisah sejak pagi, mondar-mandir di dalam ruangan sembari mengisap cerutunya. Langit yang mendung dan sedikit gerimis seakan memperkeruh pikirannya. Watson duduk di sofa sambil menatap tiap kata dalam surat yang kemarin Holmes dapatkan. "Mustahil Carlton akan menjadi sasaran lagi," Watson mengerutkan dahinya.

"Kau dapat sesuatu dari surat itu?" kini giliran Holmes yang bertanya pada Watson.

"Apa kamu tidak pernah mendengar?" Watson menunjuk sesuatu di dalam surat, "GCP dan 10 tahun silam. Perusahan Gilda Carlton Publisher, yang ditutup sepuluh tahun yang lalu," ungkapnya.

"Rasanya aku pernah dengar tentang itu. Ayolah bekerja otak!" Holmes mempercepat kegiatan mondar-mandirnya sambil terus bertanya pada dirinya sendiri.

"Tapi aku tidak pernah mendengan Tuan Carlton memiliki anak perempuan, apa perusahaan itu milik saudarinya?"

Langkah Holmes mendadak terhenti di tengah ruangan, seakan memberikan isyarat bahwa dia telah mendapatkan sesuatu. "Bukan Watson!" Holmes memegang ke dua lengan sofa yang di duduki oleh Watson sambil menatapnya tajam. "Gilda bukan anak perempuan dari Carlton, melainkan anak perempuan dari Ackerley Eboni," tungkasnya.

"Oh ya?" Watson mengerutkan dahi tanda belum mengerti.

Holmes kembali berdiri menghadap jendelanya sambil mulai memberikan penjelasan. "Sepuluh tahun silam yang dikatakan dalam surat menyatakan peristiwa yang terjadi saat itu, bukan tentang waktu perusahaan tersebut ditutup, melainkan karena penyebabnya. Gilda yang merupakan anak perempuan Eboni menikah dengan anak dari Rudd Carlton, sehingga nama keluarganya pun berubah. Namun sepuluh tahun yang lalu Gilda meninggal dan perusahaan yang dikelolanya ditutup. Sebenarnya bukan ditutup, melainkan telah berganti nama karena kini yang mengelolanya adalah Eboni. Kenapa? Karena mungkin Eboni yang merasa sedih atas kehilangan putri satu-satunya, tidak ingin membuka lukanya dengan terus mengingat nama sang putri," Holmes berbicara dengan lancar tanpa tersendat, seakan dia manusia yang tak perlu udara untuk bernafas.

"Bagaimana jika kita pergi kesana untuk memastikan?"

"Ide bagus," jawab Holmes singkat.

Holmes dan Watson berlari menuju ke tempat percetakan milik Eboni. Setelah menghabiskan tenaga untuk melintasi beberapa blok dengan langkah cepat, ternyata kedatangan mereka disambut dengan suara ledakan. Gedung percetakan milik Eboni kini cacat pada bagian pinggirnya akibat petasan besar pemberian seseorang. Semua orang berlarian karena panik. Holmes sesegera mungkin memastikan bahwa Eboni baik-baik saja. Setelah memastikan semua staf tidak ada yang terluka, terlihat Eboni yang lari tunggang langgang, menghindari jika sewaktu-waktu ada ledakan susulan. Holmes mendekatinya yang sedang terduduk untuk melemaskan kakinya. "Tuan Eboni, anda baik-baik saja?"

"Ya," jawab Eboni yang masih berusaha mengatur nafas.

Watson datang setelah memastikan tidak ada orang yang terluka. Mereka tidak mendapatkan apapun saat bertanya pada Eboni yang masih tidak habis pikir kenapa ada bom yang meledak di sebelah gedungnya. Tampaknya Holmes tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk berada lebih lama di tempat itu. Bahkan sama sekali tak terlihat akan keberadaan surat coklat muda seperti biasanya. Mereka mulai berpikir bahwa Lupin bermaksud untuk mempersulit permainannya.

"Tunggu!" ucapan Watson mengehentikan langkah Holmes disaat akan pergi. Mata Watson kini terfokus pada sosok misterius di atas sebuah gedung yang berada tepat di seberang gedung milik Eboni. "Apa orang itu tidak terlihat mencurigakan untuk mu?"

Holmes mengangkat kepalanya ke tempat yang sama dengan Watson. Seseorang dengan mantel panjang, topi dikapalanya, serta syal yang menutupi wajahnya dengan sempurna. Membuatnya menjadi tidak dikenali. Tampaknya orang misterius itu menyadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya. Dia segera pergi seakan keberadaan Holmes akan menjadi sebuah ancaman baginya.

Holmes beradu cepat dengan pria misterius tadi, sementara Watson mengekor di belakangnya. Akhirnya mereka tidak mendapatkan apapun di atas gedung. Pria itu menghilang bagaikan asap yang keluar dari dalam cerobong. Atau mungkin dia telah menjelma menjadi benda aneh tak bertuan yang tergeletak di atas sana. Kotak kecil dengan tombol merah, menempel di atas sebuah kertas berwarna coklat muda yang khas.

"Sepertinya ini adalah alat pemicu dari ledakan tadi," Watson mengamati benda kecil bertombol yang ditemukan. Sementara surat yang menempel dengannya langsung dipindahalihkan ke tangan Holmes. "Jadi benar orang tadi yang melakukannya," tambahnya lagi.

"Tapi itu berarti ada dua orang tersangka dalam kasus ini," ujar Holmes sambil memperhatikan bagian pinggiran dari atap gedung, menyerupai pagar tembok yang berfungsi sebagai pengaman. Menyusuri tiap sisinya dengan mata tajam miliknya. Tak sesentipun dia lewatkan.

"Bukankah orang itu sama dengan yang kemarin melakukan penyerangan kepada Carlton?"

"Aku yakin mereka dua orang yang berbeda. Lihat tembok ini, kira-kira tingginya seratus sentimeter. Dari bagian tubuhnya yang bisa terlihat saat kita berada di bawah dapat ditarik kesimpulan bahwa tinginya sekitar seratus delapan puluh senti meter. Perhitunganku tidak akan salah, mengingat tidak ada benda yang dapat dijadikan sebagai pijakan disini. Lagipula dia tidak kidal."

"Dari mana kau tahu?"

"Kau lihat tempat ini," Holmes menunjuk ke bawah dan melingkari bagian pada atap gedung dengan jarinya. Kurang lebih berdiameter enam puluh sentimeter. "Hanya bagian ini yang kelembabannya rendah, tidak sama dengan yang lainnya. Orang tadi pasti berdiri di sini menghadap ke gedung milik Eboni. Sementara benda asing yang kita temukan tergeletak di samping kanannya, itu berarti dia memakai tangan kanan untuk menekan tombol."

"Bisa saja dia membelakangi gedung Eboni kan?"

"Kemungkinannya kecil. Mengingat bagian ini yang tidak lembab ini menunjukan bahwa dia sudah menunggu lama bahkan saat hujan turun. Tampaknya dia menunggu kita datang saat akan menekan tombolnya. Jika memang begitu dia tidak akan melewatkan waktu sedikitpun, karena kedatangan kita tidak dapat diprediksi. Jadi, berbeda bukan?" ujar Holmes yang puas dengan analisanya.

"Kalau memang benar begitu, hanya ada satu orang yang mungkin. Apa sebaiknya kita temui dia langsung."

"Tidak usah, aku tidak ingin melakukan hal sia-sia seperti kemarin," Holmes mengangkat surat ketiga yang dia dapatkan. "Lihat ini, surat ketiga dan terakhir darinya. Kita tidak punya banyak waktu lagi untuk bermain-main. Lebih baik kita segera pergi untuk mengakhiri semua ini."

"Kemana?"

"Kita akan pergi menemui Ashford."

"Ke kantor polisi?"

Holmes memasang wajah berpikirnya, kemudian bertanya, "Tanggal berapa sekarang?"

Watson melihat ke arah jam tangannya. "Dua puluh tujuh November."

"Bagus. Seharusnya dia mengadakan acara hari ini. Lupin pasti akan ada di sana."


Malam harinya Holmes dengan partner setianya berdandan rapi mengenakan jas di dalam mantel panjangnya. Mereka meminta lima orang yang sebelumnya sempat bertemu dalam pesta beberapa hari yang lalu untuk berkumpul. Tentu saja Eboni masih belum bisa datang karena masih harus mengurusi gedung percetakannya yang tertimpa musibah. Ashford mempersilahkan Holmes untuk menggunakan sebuah ruangan khusus yang luasnya tak seberapa. Keuntungan bagi Holmes, dan kerugian bagi Lupin yang akan sulit melarikan diri kali ini.

"Ada perlu apa anda mengumpulkan kami semua disini, tuan Holmes?" Osmond memulai pembicaraan.

"Sebelumnya saya turut berduka atas kejadian yang terjadi di kantor percetakan Tuan Eboni, dan mungkin yang menimpa Carlton juga," ujar Holmes.

"Seolah hal itu ada kaitannya dengan anda Tuan Holmes?" raut wajah Carlton menandakan bahwa dia menyimpan banyak pertanyaan.

"Bagaimanapun, memang itu yang terjadi," timpal Holmes dengan wajah datar seperti biasanya.

Ashford mendengus sambil tersenyul menyebalkan, "Lalu apa urusannya dengan saya? Anda tahu kan hari ini sedang ada pertemuan penting?" nada bicaranya menunjukan bahwa kehadiran Holmes sama sekali tidak diharapkan.

Holmes yang selalu tidak peduli terhadap suasana bisa saja mendatangkan kerusuhan. Untunglah Watson dengan sigapnya menenangkan semua orang yang mulai gusar, "Tenang tuan –tuan, kami berdua pun tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Seusai pesta malam itu Holmes mendapatkan surat dari Lupin yang menyatakan bahwa dia telah menyamar menjadi salah satu di antara kalian." Sekarang semua orang menjadi lebih tenang.

"Itu berarti. Sekarang dia ada di sini?" ujar Lydong dengan nada terkejut.

"Ya. Saat ini, di dalam ruangan ini, ada seorang penjahat ulung yang sedang bersandiwara," tutur Holmes.

"Tunggu, tunggu. Jadi yang menyerangku dan Eboni adalah ulahnya?" Carlton bertanya untuk meyakinkan apa yang ada dalam benaknya. Namun kelihatannya, kehadiran nama Lupin justru semakin menyulut emosi Ashford. "Tidak usah banyak bicara, cepat beritahu aku!" bentak Ashford sambil mencengkram kerah mantel Holmes.

"Hey tidak perlu kasar begitu. Biarkan dia memberi penjelasan!" Lydon berusaha menenangkan.

"Cih, aku sudah tidak sabar untuk membawa orang itu kepenjara," ujar Carlton sambil kepalan tangan kanannya dengan tangan satunya.

"Sebelumnya aku ingin memberikan pertanyaan kepada kalian. Kalian semua pasti sudah saling mengenal satu sama lain dengan baik, jadi, adakah yang merasakan perbedaan atau ada sesuatu yang aneh yang mungkin dilakukan oleh salah satu dari kalian?" Holmes memberikan jeda pada kata-katanya agar semua yang mendengar dapat menangkapnya dengan jelas, "Maksudku, sepintar-pintarnya Lupin menyamar, bisa saja ada suatu hal yang luput hingga menimbulkan kejanggalan yang bisa kalian rasakan." tampaknya Holmes berhasil memancing emosi dari semua orang yang kini menjadi sibuk menuduh satu sama lain, atau justru itu hanya ketidak sengajaan berkat kemampuannya yang buruk dalam memahami suasana.

Keadaan bertambah panas disaat mereka akhirnya saling mengungkap aib dari satu sama lain. Dendam yang telah lama terlupakan kini kembali diungkit. "Malam itu pesta dimulai pukul enam, tapi Kent yang biasanya tepat watu terlambat hingga satu jam," ujar Ashford.

"Apa maksudmu, sejak beberapa hari yang lalu anakku sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Lagipula itu hal sepele."

"Bukan kah justru hal yang sepele kadang luput dari perhatian kita. Jika kita perhatikan benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat."

"Tapi memang benar, akupun melihat kau terburu-buru saat datang," Carlton tambah membuat Lydon terdesak.

"Wajar bukankan, itu karena aku merasa sudah terlambat! Apa-apaan kalian ini."

"Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi," Osmond satu-satunya yang tampak paling tenang.

Namun Ashford tidak berniat untuk tenang. "Kau juga bicaralah, apa mungkin kau mencari aman dengan pura-pura menjadi pelerai begitu?"

Lydon yang mulai kesal dengan tingkah Ashford, berbalik menyerangnya, "Sejak tadi banyak bicara sekali. Bukankah kau yang aneh, selalu saja berubah disetiap kita membicarakan soal Lupin."

"Seperti itu saja kau masih tidak mengerti. Itu karena aku ingin segera menangkapnya," jawab Ashford masih dengan nada bicara yang tinggi.

"Tenanglah, kita belum tahu pasti siapa Lupin yang sebenarnya, tapi jangan sampai kalian semua bertengkar," Watson kembali menjadi penengah di saat Holmes terdiam dengan pikiran yang dipenuhi banyak hal. "Semua yang terjadi memang ada di bawah kendali Lupin," ucap Holmes. "Aku tidak mengenal siapa yang menyerang Tuan Carlton, kupastikan dia hanyalah orang bayaran. Namun orang yang memicu terjadinya ledakan di gedung percetakan adalah Tuan Osmond," tambahnya lagi.

Pandangan semua orang kini tertuju ke satu titik yang sama. Osmond sendiri yang mendapati namanya sebagai pelaku kasus pengeboman terlihat sedang menahan rasa panik. "A..apa? apa maksud mu? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal itu," sahutnya dengan nada bicara yang terbata-bata.

Kembali Ashford berbuat kasar dengan mencengkram kerah kemeja Osmond, "Jangan-jangan kau Lupin! Mengaku saja!" ucapnya kasar. "Tidak usah bohong!"bentaknya di saat Osmond menyangkal tuduhannya.

"Sayangnya dia tidak berbohong Tuan Ashford. Dia memang bukan Lupin," ucap Holmes.

"Loh, jika dia bukan Lupin lantas mengapa dia melakukan hal itu?"

"Sepertinya Lupin telah mengirimkan surat kepada Tuan Osmond, mungkin isinya seperti ini 'silahkan balaskan dendam anda dengan memakai nama saya' dan Lupin menyuruh anda pergi ke atap gedung untuk menekan pemicu ledakan sambil mengenakan topeng untuk menutupi identitas anda. Aku sadar saat memeriksa atap gedung dan mengambil surat untukku yang tergeletak di sana. Di bawahnya terdapat serpihan kecil yang memiliki ciri sama dengan kertas surat untuk ku. Saat kuperiksa ternyata sepihan itu berasal dari kertas lain, dan ku simpulkan bahwa itu adalah surat untuk anda yang mungkin sudah dirobek dan dilenyapkan."

Osmond terdiam sesaat sebelum akhirnya memberikan penjelasan, "Memang benar. Selama ini aku masih menyimpan dendam padanya yang pernah membuatku bangkrut." Dia tertawa garing. "Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi mempedulikan hal itu, tapi rasa malu yang ku terima tidak pernah berhenti! Terkadang dia harus menerima ganjaran atas bualan-bualan palsu yang dia masukannya ke dalam surat kabar. Sayang sekali Lupin hanya meledakkan bagian kecil dari gedungnya itu, tidak berpengaruh sama sekali."

Keadaan menjadi hening beberapa saat. Holmes kembali tidak ingin membuang waktunya yang berharga. "Sebenarnya aku datang bukan untuk membahas hal itu. Dan yah, jika kalian penasaran, soal Lupin yang asli." Holmes terdiam sejenak untuk menarik nafas. "Sejak tadi sudah ada di belakangku."

Semua orang yang terdiam senjadi semakin bertanya-tanya disaat mencoba mencerna apa yang Holmes katakan. Itu semua dikarenakan hanya ada satu orang yang sejak tadi berdiri di belakang sana, yaitu Watson.