DIAMOND
.
.
Present by Shin Key Can
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Cuma mau kasih tahu kalau fic ini berisi , AU, OOC, Typos, etc...
Pairing : Naruto Uzumaki, Ino Yamanaka, Uchiha Sasuke dan masih banyak lagi
.
.
~Mansion Uchiha
Makan malam di mansion Uchiha tampak sedikit berbeda dengan biasanya. Jika biasanya mereka hanya berempat biasa makan bersama, kali ini anggota keluarga baru akan menemani hari-hari mereka untuk seterusnya. Ya, Naruto kini resmi menjadi anggota baru di keluarga Uchiha. Naruto sudah berganti nama menjadi Uchiha Naruto. Mereka menerima Naruto dengan tangan terbuka, kecuali Sasuke yang sedikit acuh, bahkan sedikit menolak.
Naruto sudah lama tidak menikmati suasana hangat seperti ini. Ia bersyukur, masih ada orang baik hati seperti keluarga Uchiha yang mau mengadopsinya. Saat ini yang harus ia pikirkan adalah bagaimana bersikap agar ia tidak mempermalukan keluarga.
Makan malam berakhir dengan tenang. Sesekali Fugaku, Mikoto dan Itachi mengajak Naruto ngobrol agar tidak merasa canggunga.
"Naruto, ayah sudah mempersiapkan sekolah untuk Naruto. Naruto tidak usah khawatir, Naru akan satu sekolah dengan Sasuke," ucap sang Fugaku.
"Umm.. terima kasih banyak ayah," kata Naruto tersenyum. Bocah laki-laki berambut pirang itu tersenyum bahagia mendapat kabar dari 'ayah barunya' bahwa ia akan bersekolah di tempat yang sama dengan Sasuke.
"Naruto ulang tahunnya kapan?" tanya Itachi kemudian.
"10 Oktober, nii-san," jawab Naruto mantap
"Kalau begitu, kau panggil Sasuke, kakak ya," ucap Itachi senang.
"Nah, Naruto sebaiknya tidur dulu. Ini sudah malam," ucap Mikoto lembut.
Naruto kemudian menuruti perintah ibunya, ia pamit untuk tidur duluan. Sasuke merasa lega setelah Naruto pergi dari hadapannya. Setidaknya ia tidak melihat wajah polos dan menyebalkan itu lagi malam ini.
"Sasuke, selama sekolah nanti, ayah harap kau mau membantu Naruto," ucap Fugaku.
"Malas," ucap Sasuke singkat.
Fugaku melotot ke arah Sasuke yang bersikap dingin padanya. "Ayah tidak ingin dengar jawaban itu, Sasuke."
"Sasuke, belajarlah menerima Naruto sebagai adikmu, sayang," ucap Mikoto lembut. Mikoto berusaha menengahi keduanya agar tidak terjadi keributan antara ayah dan anak itu.
'Merepotkan,' batin Sasuke kesal. Ia lantas melangkahkan kakinya ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar, namun sedetik kemudian ia beralih pandang pada kamar di sampingnya. Kamar itu milik Naruto. Ia mendecih pelan. Semua orang di rumah ini lebih memihak Naruto dari pada dirinya. Bosan berlama-lama menatap pintu kamar Naruto, Sasuke kemudian masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Sementara itu, di kamar Naruto, Naruto belum bisa memejamkan mata sejak beberapa jam lalu menginjakkan kakinya di rumah ini. Ia menatap lanngit-langit kamarnya. Ia berpikir kamar ini terlalu luas dan mewah untuk anak seukurannya. Ia menyadari hanya anak adopsi di sini dan mendapat fasilitas seperti ini, apalagi yang seorang Itachi dan Sasuke? Tentu Naruto berpikir, mereka sangat beruntung mendapatkan anugerah keluarga seperti saat ini. Naruto kemudian memejamkan matanya agar besok bangun pagi.
.
.
.
Kriiingggg... Kringgg... Kringgg
"Enggghhh...hoammmppp." Naruto menguap lebar. Matanya sedikit belum menyesuaikan cahaya yang masuk dari luar jendela kamarnya. Ia kemudian mengusap matanya. Ia lantas menyibakkan selimut dan merapikan tempat tidurnya, itu merupakan kebiasaan Naruto sejak kecil. Selesai merapikan ranjangnya, ia beralih ke lemari pakaian dan mengambil handuk. Naruto berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Naruto-sama, tuan dan nyonya menyuruh anda segera ke bawah untuk sarapan," ucap sang maid saat ia masuk untuk membersihkan kamar Naruto.
"Aku segera ke bawah," ucap Naruto pada sang maid.
"Baik Naruto-sama." Maid itu kemudian membersihkan kamar Naruto di bantu beberapa pelayan. Para maid sedikit terbantu karena kamar Naruto sudah bersih. Selesai membersihkan kamar Naruto, para maid kemudian melapor pada Fugaku.
.
.
Pelayan turun ke bawah untuk melapor pada sang kepala keluarga bahwa tugasnya selesai. Fugaku yang melihat para maidnya turun lebih cepat sedikit heran. Ia kemudian bertanya pada para maid kepercayaannya. "Apa Naruto sudah bangun, Shion," ucap Fugaku pada sang maid yang bernama Shion.
"Sudah Uchiha-sama. Naruto-sama sudah bangun dan ia sedang mandi," ucap sang maid.
"Apa kamarnya sudah di bersihkan? Kenapa cepat sekali membersihkan kamar Naruto?" tanya Mikoto yang duduk di kursi meja makan.
"Kami sudah membersihkan kamar Naruto-sama. Kamarnya terlihat rapi sepertinya sudah terlebih dahulu di bersihkan oleh Naruto-sama sendiri," ucap Shion.
"Lain kali kamarnya harus tetap di bersihkan. Kau boleh pergi, Shion," kata Fugaku memerintah. Para maid kemudian segera beranjak dari hadapan majikannya untuk segera mengerjakan tugas lainnya. Setelah para maid pergi, tak lama kemudian Naruto turun dan menuju meja makan. Disusul juga Itachi dan Sasuke yang kemudian duduk untuk menikmati sarapan.
"Pagi. Maaf terlambat, ayah," ucap Naruto ceria.
Fugaku tersenyum ke arah Naruto. Ia kemudian mempersilahkan Naruto duduk disampingnya. "Duduklah nak. Ayo sarapan," ucap Fugaku senang.
"Baik, yah." Naruto segera menuruti perintah Fugaku.
Itachi yang menuju meja makan untuk sarapan, kemudian ia menyapa anggota keluarganya termasuk Naruto. "Pagi, ayah, ibu, Naruto. Sarapan apa kita hari ini?" tanya Itachi to the point.
"Pagi juga Itachi-nii, Sasuke-nii," sapa Naruto ramah.
"Hnn." Jawaban singkat dan dingin keluar dari mulut Sasuke. Tentu saja sebenarnya Naruto sedikit kesal karena ia berpikir apa Sasuke hanya hafal kata 'Hnn' jika ada yang menyapa atau bertanya.
'Selalu dingin dan menyebalkan,' batin Naruto.
"Selamat pagi, sayang. Duduklah. Koki andalan kita masak masakan special hari ini," ucap Mikoto tersenyum.
"Duduklah nak. Ayo sarapan," ucap Fugaku senang.
"Umm," ucap Naruto menganggukan kepala.
"Sasuke. Jangan diam saja. Ayo makan sarapanmu. Setelah ini kita akan melakukan registrasi ke sekolah baru kalian," ucap Fugaku.
"Memangnya harus hari ini, yah," ucap Sasuke malas.
"Harus. Jadi, nanti kau dan Naruto ikut ibu ke Saint Louis International School. Ayah ada urusan bisnis," ucap Fugaku mengultimatum. Jika sudah berkata seperti itu, tidak ada yang berani menolak.
"Ayo, sudah sarapan dulu. Ayah, Itachi, Sasuke dan Naruto, mari berdoa dulu sebelum makan," ucap Mikoto mencairkan suasana. Ucapan Mikoto itu kemudian di turuti oleh anggota keluarganya. Mereka kemudian berdoa dipimpin oleh Fugaku. Setelah beberapa saat berdoa, mereka mulai memakan sarapannya dengan tenang.
.
.
.
~Siang Hari, Saint Louis International School
Mikoto, Sasuke dan Naruto berjalan masuk ke area sekolah menengah pertama. Sekolah ini bernama Saint Louis International School. Sekolah elite dan umumnya hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk ke sekolah ini salah satunya keluarga Uchiha yang terpandang. Selain itu juga, tanpa otak yang briliant, mereka sulit masuk di sekolah yang menjadi favorite semua anak di Jepang.
Saat ini Mikoto, Sasuke dan Naruto tiba di depan ruangan kepala sekolah. Mikoto menegtuk pintu ruangan itu. dari dalam, pintu terbuka. Seorang wakil kepala sekolah mempersilahkan mereka menunggu di ruang tamu di ruangan itu. "Maaf, ada yang bisa saya bantu, nyonya?" kata sang wakil kepala sekolah.
"Saya ingin bertemu dengan Kakashi Hatake. Apa dia ada?" tanya Mikoto ramah.
"Silahkan duduk nyonya. Saya Temari, wakil kepala sekolah. Kakashi-sama sebentar datang," ucap sang wakil kepala sekolah yang bernama Temari.
"Ah, kalau begitu, saya tunggu disini bersama kedua putra saya," sahut Mikoto. Sang wakil kepala sekolah akhirnya mempersilahkan mereka duduk. Sambil menunggu Kakashi datang, Temmari membawakan tiga cangkir jassmine tea pada tamu sang kepala sekolahnya itu. Temmari pamit ijin karena ia tidak bisa menemani Mikoto ngobrol. Mikoto maklum hal itu.
Sepuluh menit menunggu kedatangan Kakashi, akhirnya yang bersangkutan datang. Dari luar, Kakashi Hatake mendorong handle pintunya. Ia kemudian masuk keruangannya dan ia tersenyum lembut ketika sahabatnya datang. "Selamat datang, Mikoto. Lama tidak berjumpa. Maaf membuatmu dan putra-putramu menunggu lama. Fugaku sudah menelponku tadi malam. Ia bilang jika kedua putranya akan bersekolah disini," kata Kakashi kemudian.
Sasuke dan Naruto memilih diam. Mereka tidak ingin menggangu pembicaraan dua orang dewasa itu.
"Ah, tidak masalah. Lagipula aku dan kedua putraku sedang free hari ini. Jadi, bagaimana, Kakashi. Apa kedua putraku bisa bersekolah di sini?"
"Aku telah melihat hasil ujian kelulusan mereka. Hasilnya sungguh memuaskan. Aku rasa dua hari lagi mereka harus melalui tahap seleksi masuk di sekolah ini," ucap Kakashi tenang.
Mikoto merasa yakin jika kedua putranya bisa lolos. "Aku rasa tidak masalah."
"Baiklah, Mikoto. Persiapkan putramu menghadapi ujian seleksi masuk Saint Louis International School."
.
.
"Kalian sudah dengar perkataan Kakashi, kan. Jadi ibu mohon belajarlah agar kalian bisa di terima di sekolah ini," ucap Mikoto setelah keluar dari ruangan Kakashi.
"Hnn." Lagi-lagi Sasuke hanya menanggapi singkat.
"Aku akan berusaha, bu," ucap Naruto tersenyum.
"Good boy's. Nah, sekarang mari kita pulang," ajak Mikoto girang.
"Oke." Mereka bertiga akhirnya berjalan pulang menyusuri lorong sekolahan itu dengan sedikit candaan yang tercipta di antara mereka, meski hanya Sasuke saja yang sejak tadi diam.
.
.
~Sore Hari di Mansion Uchiha
Sore ini seperti biasa Itachi berada di rumah sedang asyik main basket. Jika biasanya ia hanya bermain bersama Sasuke, kini ada Naruto yang bermain basket bersamanya. Lalu dimanakah Sasuke. Usut punya usut, Sasuke sedang bersama sahabat-sahabatnya di perpustakaan yang berada di belakang lapangan basket dan kolam renang. Sahabat-sahabat Sasuke memang sering main ke mansion ini. Wajar jika Itachi tahu kebiasaan Sasuke jika ia kedatangan sahabat-sahabatnya. Sasuke lebih memilih bersama teman-temannya di bandingkan bermain basket bersama Itachi.
Duak
Duak
Duak
"Naruto, jangan lengah. Rebut bolanya dari tanganku," kata Itachi mendrible bola.
"Hahaha, Itachi-nii pasti kalah denganku," ucap Naruto tertawa.
"Aku tidak akan mengalah. Coba saja rebut bola ini," kata Itachi menggoda. Naruto fokus pada bola dan gerakan Itachi. Dengan sedikit kecohan dari Naruto, bola dari tangan Itachi berhasil di rebut Naruto. Naruto kemudian mendrible bola itu sedangkan Itachi berusaha merebutnya kembali. Selang jarak lima meter, Naruto memasukkan bola ke ring basket dan-
Hupp
Duakk
Bola yang sempat terpantul, akhirnya sukses masuk kedalam ring. Skor kini dipimpin oleh Naruto. Itachi cukup puas dengan permainan Naruto. Naruto yang anak desa, tidak buruk-buruk amat dalam bermain basket. Ia justru bangga karena Itachi menemukan lawan yang lumayan berat dengannya.
'Hebat sekali,' batin seseorang ketika ia menyaksikan permainan Naruto.
"Yeah. Aku menang lagi, Itachi-nii," teriak Naruto puas. Naruto memang mahir dalam olahraga terutama basket dan tenis.
"Yah, aku kalah darimu, Naruto. Biasanya aku selalu menang jika melawan Sasuke," kata Itachi mangatur nafasnya.
"Memangnya Sasuke-nii selalu kalah dari Itachi-nii?" tanya Naruto yang tengah duduk beristirahat di tengah lapangan, hal ini juga diikuti oleh Itachi. Mereka sama-sama lelah karena hampir satu jam bermain basket.
"Dia payah jika soal basket," jawab Itachi jujur.
"Semua orang mempunyai kelebihan masing-masing, Itachi-nii," ucap Naruto sekenanya.
"Kau benar. Ayo masuk ke dalam. Aku haus," ajak Itachi pada Naruto. Mereka mengakhiri permainan basket hari ini dengan kemenangan Naruto. Tanpa mereka sadari, sejak tadi lima orang yang berada di perpustakaan di mansion Uchiha itu berdecak kagum dengan permainan Naruto.
.
.
Sementara Naruto dan Itachi bermain di lapangan basket, Sasuke dan teman-temannya lebih memilih berkumpul di perpustakaan di mansion itu. Sudah menjadi kebiasaan jika sahabat-sahabat Sasuke lebih suka membaca ataupun berdiskusi di perpustakaan itu. Sasuke sampai hafal. Saat sedang asyik mengobrol satu sama lain, salah satu sahabat Sasuke memperhatikan dua orang yang sedang asyik bermain basket. "Sasuke. Dia siapa?" tanya Shino Aburame pada Sasuke. Pemuda ini diam-diam memperhatikan Naruto yang bergerak lincah saat bermain basket.
"Dia adik angkatku. Dari desa Konoha," kata Sasuke singkat. Ia malas membahas Naruto di depan teman-temannya.
"Sepertinya kau kurang menyukai anak itu," sahut Shikamaru menebak.
"Hnn. Kurasa kau benar," jawab Sasuke sekenanya.
"Hei, Sasuke, jangan begitu. Dia sekarang keluargamu," ucap Sakura memandang Sasuke.
"Sakura benar. Kau begini karena kau mungkin mengacuhkannya. Dia jadi takut padamu. Coba lihat, Itachi-nii saja mudah akrab dengan Naruto," ucap Hinata membela.
"Kenapa kalian jadi membicarakan Naruto. Sudah tahu aku malas jika membicarakan tentang anak desa itu," ucap Sasuke kesal.
"Bwahahhahahhaha... coba lihat minna. Sepertinya Sasuke mulai cemburu dengan adik angkatnya," tawa Shikamaru mengejek. Hinata, Sakura, Shino ikut tertawa meihat wajah cemberut Sasuke. Wajah yang jarang bahkan langka Sasuke tunjukkan pada sahabatnya.
"Diam kau, nanas," bentak Sasuke kesal.
"Hei. Kenali dia sebelum menilai. Aku rasa Naruto anak yang baik. Makanya, ajak dia ngobrol. Kau akan tahu bagaimana dia sebenarnya," ucap Shino menyambung Shikamaru.
"Cih, no way," ucap Sasuke mendecih jengkel.
"Sudahlah, tak perlu bersikap seperti itu. Nah, bagaimana kalau Naruto kita ajak ngobrol," usul Hinata. Sasuke yang mendengar usulan Hinata hanya mendelik kesal ke arah Hinata. Hinata yang mashi stay cool tidak ambil pusing dengan tingkah sahabatnya itu.
"Kau-"
Krieettt
"Sasuke-nii, kau dipanggil ibu," ucap Naruto sesaat setelah membuka handle pintu perpustakaan di mansion itu. Naruto masih berusaha agar dirinya bisa akrab dengan kakaknya yang berwajah stoic it.
"Hnn." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Lantas Naruto membalikkan badannya pergi dan menuju ke kamarnya, namun dirinya berhenti ketika salah seorang sahabat Sasuke memanggil Naruto.
"Naruto. Kau Naruto kan?" tanya Hinata.
Naruto berbalik ke belakang ketika namanya di panggil seorang gadis cantik yang tidak lain adalah teman Sasuke. "Iya, namaku Naruto. Ada apa memanggilku?" tanya Naruto ramah.
"Ah, kami hanya ingin mengenalmu saja, kok. Lagian sebentar lagi, kau akan satu sekolah dengan kami," sambung Shikamaru.
Naruto tersenyum. Pikirannya salah jika semua teman Sasuke bersikap sama seperti Sasuke. "Senang bisa berkenalan dengan kalian," ucap Naruto tulus.
"Aku, Shion. Gadis yang memanggil namamu Hinata. Sedangkan yang berambut nanas itu Shikamaru. Gadis berambut pink Sakura," ucap Shino memperkenalkan semua temannya. Shikamaru, Hinata, Sakura dan Shino tersenyum ke arah Naruto. Naruto merasa senang telah mendapat teman baru di sini.
"Aku menemui ibuku dulu," ucap Sasuke merasa kehadirannya di cueki oleh temann-temannya. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan di mansionnya itu.
"Sasuke-nii, ibu sedang di dapur," kata Naruto kemudian. Sasuke berhenti sejenak.
"Hnn."
'Kapan sih dia tidak cuek padaku,' batin Naruto kesal.
"Ah, sudahlah, Naruto. Sasuke memang seperti itu. Nah, ngobrol dengan kami saja," ajak Sakura tersenyum.
"Eh, bolehkah? Nanti Sasuke malah terganggu kalau aku ikut ngobrol," ucap Naruto polos.
"Sudahlah. Dia mungkin lagi PMS," ucap Shikamaru nyengir.
"Hahahah..sssttt..jangan keras-keras. Nanti bisa kedengarann orangnya," ucap Hinata terkekeh. Seketika itu, Shikamaru, Hinata, Sakura dan Shino bisa membaur pada Naruto yang menurut mereka sangat polos dan lucu. Tawa sering mereka perdengarkan ketika salah satu dari mereka sukses membuat lelucon. Tawa mereka hingga terdengar dari luar perpustakaan itu. Shikamaru, Hinata, Sakura dan Shino tidak merasa canggung saat mereka berbicara dengan Naruto. Mereka jauh lebih menghargai dari pada Sasuke.
Dari luar perpustakaan, Itachi dan Fugaku yang kebetulan melintas hanya berpandangan ketika suara tawa teman-teman Sasuke bergema. Fugaku dan Itachi yangmelihat Sasuke akan menuju perpustakaan di tarik tangannya oleh Itachi.
"Tuh, lihat, teman-temanmu saja mudah akrab dengan Naruto, kenapa kau tidak bisa sih, Sasuke," ucap Itachi tersenyum.
"Itachi benar. Mereka saja bisa dengan cepat menerima Naruto, kenapa kau tidak bisa," timpal Fugaku. Ia merasa Sasuke harus bisa menerima Naruto sebagai adiknya.
"Hnn."
"Cobalah berbicara dengan Naruto. Kasihan dia kalau kau perlakukan begitu," ucap Itachi bijak.
"Hnn."
.
.
"Sasuke-nii, boleh aku pinjam buku bahas inggrismu?" tanya Naruto hati-hati. Naruto kini berada di kamar Sasuke setelah beberapa saat teman-teman Sasuke pulang ke rumah masing-masing.
"Hnn. Ambil saja di meja," kata Sasuke cuek. Ia sama sekali tidak berniat menatap Naruto sedikitpun.
"Kau tidak belajar, Sasuke-nii?" tanya Naruto lagi.
"Sudah. Cepat pergilah dari kamarku. Aku tidak ingin di ganggu," ucap Sasuke ketus. Naruto sedikit geram. Ia lantas pergi meninggalkan kamar Sasuke dan memilih belajar di perpustakaan di mansionnya. Ia lantas membuka pintu perpustakaan itu. Naruto memilih belajar di sini karena ia suka dengan buku. Buku disini lumayan lengkap, jadi Naruto bisa belajar dengan leluasa.
.
.
~Dua Hari Kemudian, Saint Louis International School
Seleksi ujian masuk sekolah menengah pertama di Saint Louis International School berlangsung tepat pukul delapan pagi. Naruto satu ruangan dengan Sasuke namun berbeda tempat duduk. Tidak ketinggalan Shikamaru, Hinata, Sakura dan Shino yang ikut seleksi ujian masuk di sekolah ini bersama Sasuke dan Naruto. Mereka terpisah di ruang berbeda dengan Naruto dan Sasuke. Shikamaru, Hinata, Sakura dan Shino juga termasuk siswa yang cerdas, sama halnya dengan Sasuke dan Naruto. Mereka optimis jika semuanya akan lolos dalam ujian masuk sekolah ini.
Sudah hampir satu jam Shikamaru, Hinata, Sakura, Shino, Naruto dan Sasuke dan calon siswa lainnya mengerjakan soal ujian itu. Mereka tampak serius mengerjakan soal demi soal yang berjumlah dua ratus soal dari enam pelajaran yang di ujikan. Keenam soal itu berisi mata pelajaran Matematika, Kimia, Biologi, Fisika, bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Calon siswa yang ikut ujian masuk ke sekolah ini ada yang mengerjakan dengan serius, ada juga yang frustasi karena ada diantara mereka yang sulit mengerjakan soal sebanyak itu. Naruto yang mengerjakan serius. Sesekali ia tersenyum sendiri pada soal yang berada di hadapannya. Ia dengan lihat mengerjakan soal itu.
.
.
Terttt ...tertt.. tertt...
"Yah, sudah habis waktunya."
"Oh, my god. Kurang dua puluh soal lagi selesai."
Begitulah ekspresi kekecewaan calon siswa Saint Louis International School yang merasa kecewa karena waktu telah habis. Sudah tiga jam mereka mengerjakan soal ujian, tetap saja masih belum cukup bagi mereka yang bahkan belum belajar. Para pengawas yang berada di ruangan Naruto dan Sasuke segera memberikan pengumuman kepada calon siswa.
"Waktu mengerjakan sudah habis, minna. Silahkan letakkan kertas jawaban di atas meja kalian masing-masing. Pengumuman hasil ujian akan diumumkan tiga hari lagi," ucap sang pengawas.
.
.
"Sakura-chan, tadi bagaimana ujiannya. Kau bisa mengerjakan semuanya?" tanya Hinata ketika mereka Shikamaru, Sakura, Shino, Naruto dan Sasuke yang berada di kantin Saint Louis International School. Mereka begitu lega karena ujian telah berakhir.
"Hanya kimia yang mungkin agak sedikit susah," ucap Sakura meminum jusnya.
"Naruto, kau bisa tidak tadi mengerjakan soal ujiannya?" tanya Shikamaru kemudian.
"Tenang saja, Shika. Aku sudah belajar kok. Semoga saj kita semua diterima," kata Naruto bersemangat.
"Hahahah.. harus itu," ucap Sakura berapi-api.
"Sasuke, kau diam saja. Ada apa?" tanya Shino.
"Hanya lelah. Ingin pulang," jawab Sasuke singkat.
"Sebaiknya kita selesaikan makan dan segera pulang," ucap Naruto kemudian. Mereka mengangguk setuju. Beberapa saat kemudian, mereka telah selesai memakan makan siangnya. Akhirnya, mereka sepakat pulang ke rumah masing-masing.
.
.
"Tadaima," ucap Naruto girang. Ia tersenyum senang ketika sampai di mansionnya.
"Berisik, dobe. Pelan sedikit dong," ucap Sasuke ketus.
"Hehehe.. maaf Sasuke-nii," kata Naruto terkekeh. Tak lama kemudian sang ibu datang menyambut kedatangan Naruto dan Sasuke. Sikap Naruto yang polos ini membuat Sasuke risih.
"Okeari, putra-putra tersayangku. Bagaimana ujiannya?" tanya Mikoto.
"Lancar bu, " ucap Naruto tersenyum.
"Aku ke kamar dulu," kata Sasuke kemudian. Naruto dan Mikoto hanya bengong ketika Sasuke bersikap dingin seperti biasa. Naruto kemudian pamit pada ibunya. Mikoto tersenyum, dan kembali melakukan aktifitasnya di dapur.
.
.
~ Tiga Hari Kemudian
Shikamaru, Hinata, Sakura, Shino, Naruto dan Sasuke sepakat bertemu di Saint Louis International School jam sembilan pagi. Hari ini pukul delapan pagi, adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi calon siswa Saint Louis International School. Kini, enam sahabat itu sedang berdiri menatap papan pengumuman yang mulai sepi dari kerumunan calon siswa yang mendaftar. Mereka mencari daftar nama mereka.
Peringkat 1: Uchiha Sasuke
Peringkat 2 : Hyuga Hinata
Peringkat 3 : Uchiha Naruto
Peringkat 4 : Shikamaru Nara
Peringkat 5: Sakura Haruno
Peringkat 6 : Shino Aburame
Mereka bersorak girang. Keenam sahabat itu semuanya diterima dan mejadi peringkat sepuluh besar di Saint Louis International School. Mereka melakukan high five ria merayakan diterimanya di sekolah elite tersebut. Sasuke hanya diam tak ingin beruforia terlalu berlebihan seperti yang di lakukan si dobe dan sahabat-sahabatnya itu.
"Yeah, kita berhasil," teriak Shikamaru girang. Bagaimana tidak, dari sekian banyak calon siswa yang mendaftar, hanya dua ratus siswa yang di terima, termasuk mereka berenam.
"Tentu saja," ucap Sakura tersenyum.
"Wah ternyata Naruto masuk peringkat tiga. Kau diam-diam hebat juga ya," puji Shino pada Naruto.
'Aku kira dia bodoh, ternyata..?' batin Sasuke.
"Ah, bukan apa-apa. Justru Sasuke-nii yang hebat. Dia masuk peringkat pertama," ucap Naruto memuji.
'Dasar bodoh,' batin Sasuke kesal.
"Hnn. Itu biasa saja. Tidak usah berlebihan, dobe," ucap Sasuke dingin.
"Semuanya hebat-hebat, yang penting saat ini, kita satu sekolah lagi," ucap Hinata mencairkan suasana.
"Ah, sayang sekali, Ino-chan sedang di New York. Jika saja ia tidak pindah, mungkin kita bisa satu sekolah," ucap Shino murung.
"Ino-chan? Siapa itu Ino-chan, Shino?" tanya Naruto.
"Dia juga salah satu sahabat kami sejak kecil, Naruto. Untuk beberapa tahun ini sepertinya ia harus tinggal di New York," jawab Shino menjelaskan. Naruto yang mendengar cerita dari Shino hanya ber 'oh' ria.
"Dobe, ayo pulang," kata Sasuke kemudian. Naruto segera menuruti perintah kakaknya. Sebelum pulang, ia pamitan pada Shikamaru, Hinata, Sakura, Shino.
.
.
Sasuke POV
Hari ini adalah pengumuman hasil ujian seleksi masuk ke Saint Louis International School. Kami semua lolos termasuk si dobe itu. Padahal aku berdoa kalau dia tidak lolos. Tapi sepertinya Tuhan berbaik hati pada si dobe. Menyebalkan sekali. Ternyata kemampuan otaknya bukan main-main. Sial, bisa-bisa aku kalah dari si anak desa itu. Aku tidak boleh kalah dari anak itu.
End Sasuke POV
.
.
To be countinued
A/N: Kepanjangan ya minna. Haduh, maaf, scene mereka saat SMP belum bisa Shin tampilin di chapter ini. oya, apa setting time nya kecepetan? Kalau kecepetan gomen ne ...
Nama si Ino udah mulai disebut meski singkat ya, minna. Heheheh. Oke segitu dulu.. see you. I love you...muachhhhhh
Soputan : hahaha,,,, iya. Tapi Naruto gak nganggep itu saingan kok. Thanks dah RnR
.
.
Thanks for my playlist
Avrille Lavgine feat. Chad Kroeger - Let me go
Taylor Swift - All too well
Avri Lavigne - Knocking On Heavens Door
Namie Amuro - Let Me Let You Go
