Oh ya Mei minta maaf karena telat update soalnya Mei sedikit sibuk jadi gak sempet lanjutin. Dan akhirnya Update deh demi readers tercinta ... Huuuu
Sebelumnya Mei mau ngucapin termakasih banyak buat para readers yang udah Review Fic ini. Semua saran dan kritik Mei terima makasih buat masukannya arigatou minna san.
Dan lagi masih saja Typo tersebar dimana-mana maklum non edit sih #bungkukbungkuk.
Ada yang minta Pair SasoSaku Mei bikin juga tapi kayaknya gak laku deh T^T ...
Ino POV
Good job Itachi, kau telah menghancurkan hatiku. Apa kau tidak menyayangkan hubungan kita yang sudah berjalan 2 tahun ini? tak kusangka Sakura begitu hebatnya merebut perhatian Ita-kun dari ku. Sampai-sampai dia mengabaikan aku? Ah shiit aku benar-benar membenci gadis pinky itu saat ini. Maafkan aku Sakura, salahkan dirimu untuk memaksaku berbuat kejahatan supaya kau merasakan betapa sakitnya aku. Sebenarnya aku sangat merindukan saat kita selalu bersama. Tapi ini menyangkut masa depanku, kau telah mengambil dia dari aku.
Normal mode.
Sakura yang akhir-akhir ini terlihat sangat murung dan selalu mengurung diri dikamar. Bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika mengetahui putri semata wayangnya itu tengah berbadan dua? Berbagai macam cara Sakura untuk menghilangkan fikirannya itu. Ia mengutuk dirinya sendiri, salahkah Itachi? Salahkan saja Sakura yang selalu menggoda Itachi dan membuatnya dia menjadi sebejad itu padanya. Pria baik-baik macam Itachi menjadi seorang pendosa dan bahkan Sakura juga ia tak mampu membendung hasratnya.
"Bagaimana jika ibu tahu, bagaimana sekolahku? Apa Itachi akan marah atau dia akan meninggalkanku? Ah Kami-sama maafkan hamba, aku hanya ingin merasakan apa itu kasih sayang. Kenapa sekarang aku terjebak dalam kesalahan ini? apa daya wanita kotor macam aku yang masih layak mendapat kebahagiaan? Apa aku masih pantas dibilang seorang manusia? Sebejad itukah aku?" Sakura bergumam lirih dalam hatinya. Gudah gulana menerpanya, beberapa air disudut matanya tengah menganak diiris emerlandnya.
"Sakura sampai kapan kau diam didalam kamar terus? Apa kau ada masalah? Bicaralah pada ibu nak" kata wanita paruh baya itu dibalik pintu kamarnya dengan suara sedikit menaik.
Namun tak kunjung ada jawaban dari putri semata wayangnya itu. Sang ibu yang kini semakin khawatir dengan sikap anaknya."Kau belum makan dari kemarin, sayang. Ayolah bersemangat ibu akan senantiasa membantumu, Sakura"
Tetesan demi tetesan jatuh dipelupuk matanya. Ia semakin tersedu-sedu mendengar ucapan ibunya. Ucapan sang ibu menawarkan bantuan untuknya, namun semua mustahil Sakura tidak mungkin menceritakan pada ibunya.
Sakura tak membuang test pect itu karena ia takut diketahui oleh ibunya, jadi ia membawanya kesekolah yang menurutnya aman itu.
Ia tak mau dicurigai oleh kedua orang tuanya. Segera dihapus air mata itu dan bangkit dari kasur king sizenya. Lalu dibukalah pintu kamar tersebut dan nampaklah sang ibu yang tengah berdiri dihadapannya.
"maaf bu aku sedikit pusing dan tidak enak badan juga beberapa kegiatan sekolah membuatku sangat sibuk" entah darimana alasan Sakura itu secara tiba-tiba terlontar dari mulutnya.
"kau jangan membuat ibu khawatir sayang. Cepatlah bergegas kesekolah"
"baiklah"
.
.
.
Saat digerbang sekolah, Sakura nampak tak bersemangat selayaknya dulu. Ia tampak kacau sekali dengan muka pucat pasi serta mata yang sembab.
Saat Sakura asyik dengan acara melamunnya, lagi-lagi pria berambut mencolok itu datang menghampiri Sakura. Pasti sudah ditebak siapa dia.
"Ohayou Sakura-chan"
Sakura tak merespon sapaan Sasori.
"kenapa tidak diantar oleh Itachi? Hey kau kenapa. Matamu ... kau habis menangis lagi?"
"t-tidak kak"
"Kau kan sudah berjanji padaku supaya tidak menangis lagi. Kenapa kau mengingkarinya?"
"Sungguh aku tidak menangis, he heh" Sakura berusaha menyembunyikan perasaannya dan mengeluarkan tawaan kecil yang di buat semanis mungkin.
"Ah kau berbohong ya. Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak suka melihat wanita menangis, apalagi kau". Ucap Sasori mencoba menyemangati Sakura sambil berjalan yang sesekali Sakura berjalan didepan namun Sasori melangkahkan kakinya seakan sejajar dengan Sakura.
"aku pergi duluan ya kak, jaa nee" ucap sakura berlari menginggalkan Sasori dan melambaikan tangannya.
"Itachi, kau apakan Sakura hingga seperti ini" gumam Sasori entah pada siapa dia bicara.
.
.
Saat dikelas Sakura masih dengan keadaan murungnya. Ia sama sekali tak memperhatikan penjelasan sang guru. Yang ada dia menganggap itu sebuah angin lewat saja.
Oke saat itu Ino yang duduk dibelakang Sakura tengah mempersiapkan niat jahatnya pada mantan sahabatnya itu. kepala Ino sedikit menurun kebawah meraih Tas Sakura yang ada didepannya. Diraihlah tas tersebut dengan perlahan dan dibuka restleting, memasukan beberapa batang rokok. Tapi ah aktifitasnya mendadak terhenti saat ia menemukan benda mencurigaan di dalam tas itu.
Skak mat ! Seringaian jahat terpancar jelas di wajah pemilik rambut pirang itu. Dan diambilah benda itu lalu dimasukan ke saku bajunya. Ia membatalkan niat sebelumnya karena menemukan hal yang lebih menarik dari itu.
"Itachi kau sudah diluar batas. Baiklah lihat saja nanti, Sakura" gumamnya.
"S-sakura Chan apa kau baik-baik saja?" ucap gadis bersurai indigo pada teman sebangkunya yang sedang tertunduk diatas meja.
"Aku baik-baik saja Hinata Chan" jawab Sakura sedikit ngebas karena mukanya yang tertunduk saat itu.
.
.
.
"Maaf telah menungguku lama" ucap Ino dengan nafas terengah-engah karena ia habis berlari menuju tempat tujuannya.
"kau sangat terlambat, aku sampai berakar disini"
"barusan ada pelajaran tambahan jadi ini sedikit lama. Maafkan aku ya, sayang" kata Ino yang diakhiri kalimat menggoda.
"baiklah, cepat masuk kerumahku" ucap pria berambut jingkrak dengan beberapa hiasan dimukanya.
"kukira kau belum pulang sekolah" ujar wanita pirang itu seraya menggelayut ditangannya yang kekar.
"aku pulang lebih cepat karena sudah tak sabar ingin bertemu denganmu"
"hah kau Bengal sekali. Jika gurumu mengetahui ini kau akan dihukum"
"aku tidak peduli, yang penting sekarang aku bisa bertemu denganmu kan.." beberapa ciuman pria tersebut mendarat dibibir sang wanita. Oke kita panggil laki-laki itu Pain. Dia tidak sekolah di KHG, dia sekolah Amegakure High School. Laki-laki itu seumuran dengan Itachi, hanya saja mungkin ia terlihat lebih liar dari Itachi. Wajah itachi yang stoic dan cool namun tidak dengan Pain yang terkesan seperi remaja nakal dengan hiasan tindik diwajahnya namun tak dipungkiri wajahnya yang terlihat sangat tampan.
Bukan sekolah tersebut tidak menegurnya namun laki-laki itu tak menghiraukan perkataan sang guru. Sudah diterima sekolah juga ia sangat beruntung. Karena banyak sekolah- sekolah lain yang menolak murid macam Pain. Ah Ino kau telah bertapa dimana hingga menemukan laki-laki bak preman itu? Sudahlah lupakan hanya Ino saja yang tahu.
"kau begitu berbeda dengan si muka datar itu" yang dimaksud Ino adalah Itachi. Yah si pria dingin itu.
"aku akan memuaskanmu sayang, tidak seperti dia yang selalu mengabaikanmu. Dia memang sangat bodoh sekali" seringaian mesum mulai hadir dimuka piercing tersebut.
"ahh kau sangat mengerti aku" bisikan menggoda membuat hembusan nafas hangat keluar dari mulut Ino membuat sang empunya merinding menggeliat.
Pain segera melumat bibir seksi Ino yang berwarna Pink efek dari lipgloss yang semakin menggoda. Pain menekan tekuk Ino supaya ciuman mereka semakin nikmat hingga silih menerima saliva antara satu sama lain. Pain terbawa suasana langsung membaringkan Ino disofa panjang yang tengah mereka duduki. Cumbuan semakin memanas antara mereka, tangan kekar Pain kini merayap menjelahi setiap inci tubuh Ino. Memijat dua buah gundukan kenyal dengan perlahan. Lalu memasukan kedua tangannya dibalik baju Ino, membuka bra yang menopang buah nikmat itu dan ia langsung memijat memprintil memijat dan seperti itu seterusnya.
"Ngghh .. yeahh inihhh .. yang akuhh mauuh .. mmmhh" desahan erotis Ino terucap dari mulutnya. Pain yang mendengar suara itu bagai irama indah pembangkit hasrat.
"kau begitu menikmatinya, Ino" sela Pain ditengah kegiatannya.
"tentu saja, selama berpacaran dengan Itachi aku belum pernah melakukan ini dengannya"
"Tch ... Dia memang sangat payah."
Ino POV
Aku terdiam sejenak disela kegiatan bercintaku dengan pacar baruku. Yah aku sudah berpacaran dengan Pain beberapa waktu yang lalu. Kenapa aku selingkuh? Memangnya Itachi saja yang bisa selingkuh? Kau terlalu meremehkan aku.
Aku kembali mengingat laki-laki itu, merasa belum yakin kalau Sakura hamil oleh Itachi. Apa? Iya sakura Hamil, oleh itachi? Tapi kenapa bisa, Itachi itu bukan laki-laki bejad yang mau menghamili wanita lain. Dia laki-laki baik. Ah aku yakin Sakura hamil bukan oleh Itachi, aku yakin itu.
Tapi Sakura kan sangat mencintai Itachi. Memang sudah keterlaluan wanita jahanam itu. Kau jangan senang dulu Sakura aku punya kartu As nya.
Normal mode
"ada apa Sakura?" ucap Itachi yang kini sedang duduk berdua dibukit yang selalu mereka singgahi.
"aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu" wajah Sakura mendadak serius dengan lawan bicaranya itu.
"tentang apa? soal yang kemarin? Ya ya aku minta maaf, aku sudah beratus kali mengucapkan kata maaf padamu aku su-" ucapan Itachi terhenti karena disela oleh Sakura.
"Aku hamil ...!"
Heningg seketika diantara mereka. Hanya deruan angin menerpa mereka serta suara burung-burung yang memecah keheningan.
"k-kau kau j-jangan bercanda" Itachi mendadak gagap setelah apa yang ia dengar.
"sungguh, aku mengandung anakmu Itachi san"
Ctaarrrrrrrrr ... bak disambar petir disiang bolong. Ungkapan Sakura yang membuat Itachi menjadi terdiam LAGI bagai patung. Serasa menerima hantaman dahsyat, tubuh kekar itu tergerak, bukan tergerak tepatnya bergetar dan menggeertakan giginya. Mukanya berubah menjadi pucat setelah penuturan Sakura yang baru saja terucap.
"ah ini-ini bukan mimpi kan." Itachi mendadak gagap.
"bisakah kau sedikit serius padaku? Semuanya salah kau"
"apa? Bukankah kau yang selalu memintanya Sakura"
"kemarin kau memaksaku dan semuanya menjadi seperi ini"
"kita gugurkan saja"
"tidak akan, aku tidak akan mengugurkannya lagi pula janin ini tidak bersalah kecuali kau mau bertanggung jawab"
Itachi POV
"oh Kami-sama terkutuklah aku. Betapa memalukannya diriku ini, gadis yang ada dihadapanku ini adalah kekasihku. Namun kenapa aku membuat musibah seberat ini untuknya? Salah apakah aku hingga engkau menghukumku Kami-sama, jika itu memang ada kenapa hukumannya seberat ini. Semuanya salah ku, itu kesalahanku. Tak mungkin aku membunuh darah dagingku sendiri. Sudah ku nodai Sakura dan harus mengugurkannya? Ini begitu menyeramkan. Bunuh saja aku, bunuh !"
Normal Mode
"Hey lagi-lagi kau mendiamkan aku. Jawab aku Itachi san !"
"..."
"Apa kau marah?"
"Apa yang harus aku lakukan ..." Itachi menjambak rambutnya sendiri sedikitnya terlampiaskan amarahnya. Ia tampak gelisah sekali, dan Sakura semakin panik melihat tingkah Itachi saat itu. Dan LAGI Sakura menangis untuk kesekian kalinya.
Bukkkk ... !
Tanpa sepengetahuan mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba memukul Itachi dari belakang hingga terjatuh dan tersungkur ke tanah. Sepertinya doa itachi barusan didengar oleh Tuhan, namun tidak sepenuhnya benar.
Sakura semakin shock melihat Itachi tersungkur dihadapannya. Dan yang menyerang Itachi itu adalah seseorang yang begitu familiar.
"kau brengsek !" ujar pria bermata hazel itu sambil memegang tongkat kayu sebagai alat pemukul yang baru saja ia hantam dikepala Itachi.
"k-kau .. apa yang kau lakukan disini SASORIII ?" teriak Itachi sambil memegang ubun-ubunnya yang mengeluarkan darah.
"Rasa sakit dikepalamu itu belum seberapa dibanding rasa sakit yang selalu menerpa Sakura" ucap Sasori dengan penuh amarah pada sahabatnya itu.
"Kumohon hentikan kalian berdua" kata Sakura disela pertengaran dua pria itu.
"Apa yang kau bicarakan aku tidak mengerti" ucap Itachi dengan suara paraunya karena menahan sakit dikepalanya itu yang terus mengeluarkan darah.
"Seandainya kau tahu bahwa Sakura menyayangimu setulus hatinya namun kau balas dengan penderitaan. Apakah itu sebanding dengan perjuangannya !" teriak Sasori
"Ini tidak ada urusannya denganmu !" Itachi tak kalah teriak darinya.
"Tentu saja ada karena aku mencintai Sakura !" teriak Sasori dengan lantang dihadapan mereka.
Kedua orang disana diam terpaku saat kalimat yang menurutnya tabu ditelinga Itachi. Belum cukupkah ia harus menerima kenyataan Sakura dan sekarang masalah baru datang lagi. Wahai Itachi bersabarlah !
"Ayo Sakura kita pergi dari sini" Sasori menarik tangan Sakura yang kini tengah memperhatikan Itachi yang masih terdiam.
"Kau mau bawa kemana Sakura, hei lepaskan dia" cegah Itachi namun apa daya tubuhnya yang lemah tak mampu mengejar Sakura. Mereka pergi dengan kendaraan Sasori. Itachi seorang laki-laki, Itachi itu kuat, Itachi itu gagah, namun menyangkut dengan perasaan Itachi tak mampu menahan air matanya.
.
.
.
Sasori membawa Sakura ke suatu tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
"Kakak apakah semua itu benar?"
"ya aku menyukaimu Sakura"
"T-tapi kita kan cuma berteman"
"Semenjak kau menginjakan kaki disekolah itu aku sudah mulai jatuh cinta padamu. Namun saat aku mengetahui kau pacaran dengan Itachi, hatiku terasa sakit sekali. Mencintaimu membuatku sakit, Sakura"
"Aku mengerti sekarang. Wanita yang dimaksud kakak waktu itu adalah aku, iya kan"
"Ya, kau benar dan sekarang saatnya aku ungkapkan perasaanku padamu. Aku sudah lama memendam perasaan ini"
"Itachi kun, bagaimana? Aku masih menyukainya kak"
"Aku akan membuatmu melupakan laki-laki itu"
Sakura tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata. Ia baru sadar kebaikan Sasori bukan hanyalah kebaikan biasa namun ia bermaksud lain untuk mengambil hati Sakura. Namun naas Sakura tak menyadari itu, ia hanya menganggap Sasori sekedar sahabat.
"Aku akan berusaha membuatmu bahagia, tidak seperti Itachi yang selalu membuatmu bersedih. Aku berjanji akan selalu didekatmu. Aku tak sanggup melihatmu bersedih" laki-laki berambut merah itu memeluk erat Sakura. Tanpa balasan Sasori tetap memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Tapi jika kakak ingin tahu , aku sudah hamil 2 minggu"
Sasori yang mendengar itu tak bergeming sedikitpun. Masih dengan pelukan hangatnya.
"Aku akan bertanggung jawab, Sakura"
CUP ...
Sasori mencium bibir Sakura dengan penuh rasa cinta ...
To Be Continue
Ini kayaknya Pair ItaSakuSaso deh. Iya nggak ? kok jadi gini yah L
Super Gaje kan .. haduhh maaf maaf Mei masih amatiran sih T^T.
Mei baru kali ini loh bikin Fic Rated M (readers : gak nanya)
Itachi kun maafin Mei yah #Ditabok Itachi
Pain kurang Hot kah? Entar Mei kasih cabai oke (y)
Chap selanjutnya pasti udah kebaca kan gimana .. L
Kayaknya tinggal satu Chap lagi deh. Ceritanya berbelit-belit kayak benang kusut. Oke entar kita benerin sama Kakuzu
See you di Last Chap .. Babayyy Muaahhh #ditimpuk readers
