"Hmm..."
"Kenapa, Chris?" Tanya Isashiki pada Chris yang merasa seperti sedang memperhatikannya dari tadi.
"Tidak. Aku hanya penasaran saja kenapa kau mau mengasuh Toujo."
"Hah? Untuk apa kau bertanya sesuatu yang tak penting seperti itu." Isashiki kembali menyuapi makan siang si Toujo kecil dengan perlahan. Terlihat lemah lembut layaknya seorang ibu memperlakukan anak kesayangannya.
"Tak ku sangka ternyata kau cocok juga."
"Apa?" Isashiki mulai merasa risih.
"Ah tidak kok."
"Aniki. Lagi! Aaahhh~" Kata Kanemaru kecil membuka mulutnya lebar-lebar minta disuapi lebih lanjut.
"Daripada mengkhawatirkanku lebih baik khawatirkan saja adik asuhmu itu. Huh!"
"Haha.." Chris kembali menyuapi Kanemaru sambil berpikir.
'Ah.. mungkin Jun merasa Toujo memiliki nasib yang sama dengannya. Mungkin begitu. Lembut juga ternyata hatinya.' Pikir Chris.
"Khukhukhu.. Toujo makan yang banyak ya biar nanti tumbuh besar dan jadi pitcher yang hebat. Tunjukkan pada mereka kekuatan tersembunyi dari outfielder yang sesungguhnya. Khahahahaha." Kata Isashiki dengan seringaian licik.
'Oi oi.. ini bukan pembalasan dendam kan?' Benak Chris menarik kembali pemikirannya tadi.
.
.
"CHIBI SEIDO"
Chapter 3
Disclaimer: maunya sih DnA punya ane :')
Warning: Typo, aneh bin ajaib
Rate: K+
Genre: Humor
Perhatian: membaca yang terlalu serius bisa menyebabkan puyeng dan sakit kepala dengan segala ejaan yang tak dibenarkan bertebaran tak beraturan.
Selamat membaca!
.
.
"Seragamnya pas. Sepatunya juga oke. Tambah topi jadi makin sip. Sempurna!" Kata Miyuki dengan bangga sambil mengacungkan jempolnya. Benar-benar mirip dengan mamang obral yang dagangannya sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
"Miyuki... ini..."
"Oh, Rei-chan.. lihat, lihat." Kata Miyuki memperlihatkan kelima chibi itu dengan seragam barunya pada ibu manager yang baru datang itu.
Seperti yang dikatakan Miyuki tadi. Seragam Seido yang biasa mereka pakai kini yang bentuk mini dipakai oleh kelima anak kecil itu. Kebetulan dari mana ternyata pas membungkus kelimanya. Jangan lupakan topi dan juga sepatu yang mereka pakai. Mereka kini persis mirip pasukan tim Seido versi Chibi.
"Ini.. sungguh.. kawai!" Takashima Rei langsung memeluk erat Eijun dengan rasa gemasnya.
"Obaa-chan. Sesak."
"Obaa-chan!?" Takashima malah menambah erat pelukannya. Namun kali ini pelukan jengkel. "Sawamura besar maupun kecil tetap sama menjengkelkan ya."
"Hah.. aku masih bingung darimana kau bisa mendapatkan seragam itu, Miyuki." Tanya Kuramochi pada si cathcer berkacamata itu.
"Oh.. itu. Ra. Ha. Si. A."
"Kau benar-benar membuatku jengkel."
"Hyah.. jangan menatapku seperti itu dong. Aku jadi malu."
"Kau yang seharusnya jangan membuatku tambah kesal."
"Kuramochi seram ah. Haha."
"Miyuki." Kuramochi mulai menampakkan wajah mematikannya.
"Ba, baiklah. Seragam itu hanya kebetulan Rei-chan punya stok lebih. Jadi aku hanya mengambilnya saja." Kata Miyuki akhirnya ngaku.
"Hah?" Yang lain bingung tak habis pikir kalau Takashima punya hobi seperti itu.
"Kau bingung kan? Awalnya aku pun penasaran tapi aku mengabaikannya. Tapi setelah kupikir aku merasa bahwa Rei-chan sebenarnya menjadi tante pedo karena selalu dikelilingi oleh pemuda-pemuda keren dan tampan seperti kita ini." Kata Miyuki membuat sebuah kesimpulan absurd.
Kuramochi hanya speechless dan Takashima memberi tatapan maut pada Miyuki. Miyuki pun langsung kicep.
.
.
.
"Seragam ini keren sekali. Terimakasih banyak, Obaa-chan." Kata Eijun.
"Onee-chan, Eijun-kun." Kata Takashima membenarkan panggilannya sambil mencubit pipi Eijun yang tembem.
"O, onee-chan." Akhirnya Eijun nurut juga walau terpaksa memanggil panggilan kakak perempuan itu.
"Aku pun senang kalau seragam yang tak sengaja ku pesan bisa dipakai." Katanya.
'Tak sengaja?' Benak Miyuki dan Kuramochi meragukan.
"Karena mereka jadi kelihatan imut, makanya aku akan memaafkanmu yang sudah seenaknya mengambil barangku tanpa permisi, . ." Katanya lagi dengan tatapan membunuh pada Miyuki.
"Ahaha.. Maaf Rei-chan. Tapi apa boleh buat kan tadi melihat mereka yang imut-imut begini pakai baju yang kebesaran. Tidak tega."
"Ngomong-ngomong, kalau aku perhatikan.. bukannya Toujo dan Kanemaru lebih kecil ya dibanding yang lain?" Kata Takashima memperhatikan kelima anak kecil yang sedang sibuk dengan seragam barunya itu.
"Benar juga."
"Kalau dipikir, kejadian mereka mengecil juga berbeda. Kanemaru dan Toujo mengecil belakangan dibandingan ketiga yang lain." Jelas Kuramochi.
"Kalau boleh kubilang, Sawamura, Furuya dan Haruichi lebih mirip sepantar anak SD kelas satu, lalu Kanemaru dan Toujo lebih terlihat anak TK. Mereka berdua juga cadel." Kata Takashima. "Jadi tambah imut," lanjutnya.
"Mungkin sesuatu yang membuat mereka mengecil itu berbeda?"
"Maksudmu?" Tanya Miyuki pada Kuramochi.
"Yah.. ini hanya dugaan seperti yang dikatakan Masuko-senpai. Ini seperti.. yah kau tahu.. cerita komik seseorang yang mengecil dengan obat. Mungkin yang sejenis dengan obat itu diberikan pada mereka dengan dosis yang berbeda makanya terjadi perbedaan begini."
"Hei hei.. jangan menyamakannya dengan fiksi seperti itu."
(gak nyadar kalian sendirinya pun fiksi -_-")
CKLEK
"Wah wah.. sepertinya para atasan sudah selesai rapatnya." Kata Miyuki.
Pandangan tertuju pada Pelatih Kataoka dan Ketua Ota Kazuyosi yang masuk ruangan beserta beberapa anak kelas tiga lainnya. Tampak raut kebingungan pada wajah Ota Kazuyosi dan para anak kelas tiga yang sepertinya kusut namun terlihat mendapat sedikit harapan dari kekacauan sebelumnya.
"Aku yakin dari kalian semua pasti tidak ada yang bebohong. Tetapi dilihat dari ceritanya tentu pasti sulit untuk mempercayainya. Takashima aku minta kau tolong untuk selidiki masalah ini lebih lanjut." Kata Pelatih.
"Ya, baik."
"Dan lainnya agar kembali latihan seperti biasa."
"Hah? Apa?" para pemain baseball di ruangan itu terkejut dengan keputusan pelatih.
"Kalian fokus saja untuk latihan pertandingan besok. Masalah ini biar kami yang urus. Cukup sekian." Katanya singkat dan kembali menghilang dibalik pintu dan diikuti oleh Takashima yang juga segera melaksanakan tugas menyelidikinya.
"Kalian sudah dengar apa yang dikatakan oleh pelatih, kan. Kalau begitu bergegaslah. Besok kalian juga ada latihan pertandingan." Kata Ota sambil mengelap keringat yang turun dari dahinya kemudian menyusul pelatih dan Takashima keluar dari ruangan.
Para pemain yang berada di sana saling menatap dan memperhatikan kelima makhluk yang tidak sadar kalau diri mereka sedang dikhawatirkan.
"Benar kata pelatih. Kita harus tetap fokus pada latihan kita." Yuki angkat bicara. "Lagipula latih tanding kita besok adalah Yakushi." Lanjutnya.
"EEHH? YAKUSHI?"
"Kami baru saja diberitahu tadi."
"Lalu kita akan melawan Yakushi tanpa Furuya dan Sawamura?"
"Kita masih memiliki Tanba dan Kawakami." Kata Yuki melirik pada dua orang yang dimaksud.
"Ugh. Tetsu, kau seperti memberi kami beban yang lebih." Gerutu Tanba.
"Lagipula ini hanya latih tanding. Tapi kita juga harus serius dan tidak boleh lengah. Kita kerahkan seluruh kekuatan yang kita punya." Kata Yuki.
"Bubar." Titahnya lagi.
"Etto.. anu.."
"Ng?"
"Lalu bagaimana dengan mereka?"
Semua mata tertuju pada lima anak kecil itu.
.
.
.
Di bench.
"Uwah. Aniki kelen sekali!" Shinji (Kanemaru) terkesima melihat Chris yang sedang menulis rincian latihan dan beberapa strategi untuk pertandingan ke depan.
"Ahaha. Kanemaru mau menulis juga?" Tanya Chris setelah melihat Shinji yang sepertinya tertarik ingin menulis juga.
"Aku mau. Tapi Aniki jangan memanggilku Kanemalu, panggil saja Shinji!"
"Ah baiklah Shinji. Ini kertas dan pensilnya." Dengan tenang Chris memperlakukan Shinji layaknya adik sendiri. Yah mereka juga memang adik-kakak kelas kan. Lagian teman satu kamar juga.
Shinji kemudian mengambil kertas dan pensil yang diberikan oleh Chris. Ikut duduk disampingnya dan kemudian meniru semua gerakan yang dilakukan oleh Chris.
Di bagian depan bench terlihat dua anak kecil lainnya yang sepertinya sedang berdebat.
KLANG
"Lihat kan. Tou-san itu hebat." Kata Satoru setelah memperlihatkan sang 'ayah' memukul bola dengan sangat jauh.
"Ka, ka, kacchan ju, juga hebat." Kata Hideaki sedikit terbata-bata.
"HOORRRAAA! TERIMA INI!" Dari sisi lapangan Isashiki berteriak sambil melempar bola yang baru saja dipukul oleh Yuki dengan kecepatan basoka.
"Ca, Catoru lihat kan y, yang balusan?"
"Lihat kok." Kata Satoru sebenarnya tak ingin mengakui. "Lagian namaku Satoru bukan Catoru."
"Ah, t, tapi To, Toucchan Catoru juga hebat kok." Lanjut Hideaki dengan raut wajah terpukau. Mendengar ayahnya dipuji Satoru pun merasa bangga. Ia pun mengabaikan Hideaki yang masih salah menyebut namanya.
"Baiklah. Aku akui Kacchan-mu juga hebat. Sebagai hadiah aku akan berbagi Tou-san ku denganmu."
"Be, benalkah? Ka, kalau begitu aku juga akan berbagi Kacchan dengan Catoru."
"EH!? Kalau begitu kalian jadi kakak adik dong?" Kali ini Eijun yang kebetulan disebelah mereka yang sedari tadi nonton pun ikut nimbrung permbicaraan keduanya.
"Sepertinya begitu." Jawab Satoru singkat.
"Yey. Aku cekalang punya Toucchan." Kata Hideaki cukup senang mendapat ayah baru sekaligus saudara.
". . . ." Eijun diam sejenak.
"IBUNDA! AKU JUGA MAU PUNYA AYAHANDA!" Teriak Eijun tiba-tiba dari bench pada Kuramochi yang bersiap untuk latihan memukul. Teriakannya yang keras membuat anggota yang lain tertawa terpingkal-pingkal tentang apa maksud dari perkataan Eijun. Entah apa yang merasuki Eijun tiba-tiba bisa berkata demikian.
"APA-APAAN KAU SAWAMURA!" Balas Kuramochi meneriakinya.
"Mooooo... aku kan cuma mau punya Ayahanda juga." Eijun hanya menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya. Kemudian pandangannya tertuju pada Miyuki yang sedang bersiap-siap menggunakan peralatan catchernya.
"Oooii~ Miyuki Kazuya~" Eijun mendekati Miyuki.
"Jangan panggil nama lengkapku begitu dong."
"Kenapa kau memakai banyak pelindung?"
"Sudah jelas kan karena aku seorang catcher."
"Kelihatannya keren." (Peralatannya lho ya bukan orangnya. Ekhem. #Tsundere)
"Eh kau baru tahu?"
"Kalau begitu aku juga mau jadi catcher"
"Hahahaha.. tidak semudah itu menjadi catcher apalagi menjadi sekeren aku." Katanya sok sombong.
"Cih.. Apa-apaan itu?" Eijun yang mendengar pun merasa najis.
"Dari pada menjadi catcher kau lebih cocok menjadi pitcher, Sawamura."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kau akan menjadi pitcher dan akan berpasangan denganku yang keren ini sebagai battery. Bersama kita akan meng-Out semua batter lawan. Hebat kan?" Kata Miyuki senyum dengan lebar sambil mengacungkan jempolnya.
"Iya! Hebat! Hebat!" Mata Eijun berkaca-kaca membayangkan mereka berdua akan menjadi battery yang keren dan hebat di masa mendatang. Ckckck. Kalian memang sudah jadi pasangan battery kok.
"Oi Miyuki. Cepatlah!" panggil Kuramochi yang sudah bersiap di batter box.
"Yosh. Oke." Miyuki yang juga sudah siap dengan perlengkapannya pun menuju posisinya.
"AH!" Eijun kepikiran sesuatu dan menyusul Miyuki yang sudah dekat dengan Kuramochi. "Tunggu!" Eijun pun menarik lengan baju Miyuki begitu menghampiri keduanya.
"Ngapain kau kesini? Sana, hush hush." Kata Kuramochi mengusir anak angkatnya.
"Diamlah ibunda! Ada yang ingin ku katakan pada Miyuki."
"Hah!? Apa katamu!? Beraninya ya." Kuramochi merasa murka begitu dibentak oleh Eijun. Hmm.. Eijun, dasar anak durhaka ya.
"Apa? Apa?" Di lain sisi Miyuki malah penasaran. Entah kenapa firasatnya mengatakan kalau ini akan menjadi sesuatu yang menarik.
"MIYUKI KAZUYA! JADILAH AYAHANDAKU!"
". . . ."
Tuh kan betul. Ini sesuatu yang menarik. Sangat menarik malah.
Di lain pihak,
"Haruichi mau punya Tou-san dan Kaa-san juga?" Tanya Ryosuke pada sang adik.
"Asalkan ada onii-chan aku sudah merasa cukup." Jawab Haruichi sedikit malu.
"Yosh. Anak pintar." Pujinya sambil mengelus rambut yang poninya menutupi mata itu.
.
.
.
Malam hari...
"Aw.. sakit ibunda.."
"Makanya jangan banyak bergerak."
"A.. Awh.. sakit."
"Sekarang angkat yang tinggi."
"Tidak mau."
"Sawamura."
"Panggil aku Eijun, Ibunda."
"Eijun, angkat yang tinggi."
"Baik. Akh!"
"Miyuki! Coba bantu napa jangan cuma melihat!?"
"He? Lebih asyik menonton." Kata Miyuki malas tapi dengan tatapan masih memperhatikan kedua insan tersebut yang sedang melakukan kegiatan dengan khidmat.
"Sini bantu aku cepat! Eijun dari tadi tidak mau diam."
"Yare yare~ Apa boleh buat." Miyuki akhirnya menuruti Kuramochi dan menahan pergerakan Eijun. "Eijun, dengarkan apa kata ibumu."
"Habisnya ibunda melakukannya kasar sekali." Eijun berbalik mengadu pada ayahandanya.
"Itu salahmu juga yang tidak mau diam." Kuramochi naik darah.
"Aauw!" Eijun merasakan pedih di kulitnya.
"Eijun lebih baik kau turuti dulu kata ibumu. Main kapal-kapalannya nanti saja menyusul setelah kau selesai membersihkan tubuhmu." Kata Satoru yang sedang berendam bersama Hideaki. Jangan lupa kapal-kapalan mereka yang juga ikut mengapung di pemandian.
"Heee... Tapi aku mau main!" Teriak Eijun yang semakin membahana karena berada di dalam kamar mandi asrama.
"Makanya bersihkan dulu badanmu baru boleh main." Kata Kuramochi sambil menyikat punggung dan juga ketiak Eijun yang sudah terbuka lebar karena tangannya dipegangi oleh Miyuki.
"Aw. Pelan sedikit dong Ibunda."
"Kalau tidak mau sakit makanya lakukan sendiri dengan bersih. Cih. Lihat masih kotor nih."
"Ya sudah biar aku saja, Kuramochi. Rasanya kasihan juga lihat Eijun tersiksa begitu. Ppfftt." Kata Miyuki sambil menahan tawa. Kuramochi pun membiarkan Miyuki mengambil alih dan ia menyibukkan diri dengan membersihkan badannya sendiri.
"Aaaaahhhh~ ayahanda ini enak sekali. Mantap! Ini baru namanya gosokkan!" Kata Eijun sambil mengacungkan jempol merasa puas dengan cara menggosok punggung Miyuki.
"Ya sudah sama ayahmu saja sana!" Kata Kuramochi seperti merajuk.
"Kuramochi jangan ngambek dong." Miyuki malah mancing.
"Diam kau Miyuki." Kuramochi melempar botol sabun.
Yuki dan Isashiki yang sedang berendam pun merasa tambah lelah melihat pertikaian keluarga kecil mereka. Ada-ada saja.
Jadi keluarga mereka sudah resmi? Tentu saja tidak lha.. ini cuma kekonyolan tim mereka yang sudah sangat kelewatan sampai pembicaraan absurd para bocah itu dijadikan permainan mereka sehingga terlahirlah dua kepala keluarga, Keluarga Yuki dan Keluarga Miyuki. Bwahahahahaha. Chris dan Ryosuke tidak terlalu seberapa karena hanya dijadikan saudara saja dengan dua bocah yang lain.
Bahkan malam ini dipersiapkan jam khusus untuk waktu mandi para bocah. Si para 'Saudara' itu sudah selesai duluan mandinya dan pamit undur diri. Tersisalah dua keluarga ini yang entah kenapa rasanya susah sekali mengurus para bocah. Tapi yang paling ribet memang si Eijun sih.
"Aaahhh~"
Akhirnya Eijun ikut nyemplung juga ke pemandian diikuti oleh Miyuki juga Kuramochi. Ketiga bocah itu kemudian melanjutkan main kapal-kapalannya. Sedangkan keempat pemuda itu hanya berendam dalam diam melepaskan semua kepenatan dan lelah seharian ini.
Sudah banyak yang terjadi hari ini dan besok ada latihan pertandingan. Hmm.. luar binasa.
.
.
.
Mandi sudah selesai. Baju serta perlengkapan lainnya juga sudah dipersiapkan oleh Takashima. Sekarang saatnya untuk tidur.
"Oi Miyuki. Kamarmu di sana kenapa kau kemari?"
"Masuko-senpai pindah ke kamarku dan aku diusir dari sana. Kamar yang lain menutup pintunya rapat-rapat."
"Cih. Mereka semua pasti sudah merencakan ini sedari awal."
"Tetsu-san dan Jun-san juga senasib dengan kita beserta Satoru dan Hideaki. Sepertinya yang aman-aman saja memang hanya Ryo-san dan Chris-senpai."
"Awas saja. Akan ku cari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Akan ku hajar mereka."
"Mode preman mu keluar ya? Hahahaha."
"Diam kau. Mau masuk atau tidak?"
"Ah, ya ya."
Akhirnya malam itu Keluarga Miyuki tidur dalam satu kamar, begitu pula dengan keluarga Yuki.
.
.
.
Pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Seperti pernah dengar kalimat yang mirip ini. Ah siapa tahu. Mungkin pagi ini memang terlalu cerah untuk jiwa-jiwa kesepian yang sedang mencari teman hidup yang tak kunjung ketemu, tapi tidak bagi tim andalan kita. Semua semangat untuk ikut bertanding dalam latihan pertandingan nanti. Hmm.. tapi sepertinya pagi ini terlalu cerah untuk wakil kapten tim kita.
"Uwah. Jun. Kau tidak apa?" Tanya Tanba ketika mendapati wajah Isashiki yang kusut saat mereka menuju lapangan.
"Kurasa begitu."
"Kau tidak tidur?" Tanya Chris khawatir.
"Aku tidur, hanya saja tidak nyenyak. Semalam Satoru tidak bisa tidur. Dia malah ajak Hideaki bermain. Dan itu sangat menggangguku. Aku minta bantuan Tetsu tapi dia tetap tidur seperti mayat."
"Ya. Semalam aku nyenyak sekali." Kata Yuki tidak mengelak.
"Kau membuatku kesal saja. Dan apa-apaan para bocah itu. Mereka semalam bermain-main tapi pagi ini kelihatan lebih semangat semua." Isashiki tampak kesal melihat kelima bocah itu begitu enerjik.
"Soalnya Tou-san dan Kacchan akan bertanding." Kata Satoru menanggapi.
"Ka, kami akan menyemati." Kata Hideaki.
"Wah.. wah.. anak yang berbakti pada orang tua. Khahahaha." Kata Miyuki sambil mengelus kepala keduanya.
"Cih." Eijun yang merasa cemburu pun menendang kaki kiri Miyuki.
"Aduduh."
"Aku juga mau di elus, Ayahanda."
"Oh sini sini." Miyuki pun mengelus kepala Eijun dengan menahan tawa. Melihat Eijun seperti itu sungguh lucu.
". . . ."
Ini klub baseball atau klub penitipan anak? Para pemain lain masih memiliki pemikiran yang sama sejak kemarin.
"Bu... bu..."
Semua mata kemudian teralihkan pada suara anak kecil di antara mereka. Bukan. Bukan. Suara itu bukan berasal dari kelima bocah Seido. Tapi dari bocah yang tidak mereka kenal yang tiba-tiba saja menyusup gerombolan mereka. Sambil makan pisang.
"Eh?"
Oke. Kejadian kemarin sepertinya terulang kembali. Tapi... anak siapa ini!?
"Bu.. bu.." Jari telunjuk mungilnya menunjuk ke arah Tanba.
"Apa? Jangan bilang dia menunjuk Tanba dan akan berkata ibu." Celetuk Kuramochi.
"Bu.. bu.."
"Buuu?" Para pemain Seido makin penasaran.
"Bulat."
"Ppppfftttt... Bhahaahaha! Iya kami tahu kok. Kepala Tanba memang bulat, kinclong lagi. Sasuga kepala botak!
"Botak. Hahahaha." Bocah itu juga ikut-ikutan tertawa.
"Teman-teman.." Tanba sendiri pipinya memerah menahan malu.
"Ternyata kau di sini ya, Raichi?" sebuah suara mengalihkan tim Seido.
"Siapa kau?" Tanya Isashiki pada anak berumur sepuluh tahun yang baru datang itu.
"Ara? Kalian lupa padaku? Jahat sekali. Padahal hari ini kita akan latih tanding bersama lho." Katanya sambil menggendong bocah yang makan pisang tadi.
"Tunggu. Tadi dia memanggilnya Raichi kan?" Kata Kawakami mulai mencurigai sesuatu. "Jangan bilang kalau anak kecil ini adalah Todoroki Raichi, dan dia adalah..."
"Sanada!?" Semuanya bersahutan sekaligus terkejut begitu mengingat kembali anak muda di depan mereka mirip seseorang yang mereka kenal.
"Binggo! Tepat sekali!"
"Tapi bagaimana bisa?"
"Semua salahkan pada pria tua di sana. Ups. Aku salah. Dia sudah tidak tua lagi." Sanada muda itu kemudian menoleh ke rombongan Yakushi yang baru saja tiba di lapangan.
"Ha?"
Semua mata tertuju pada orang yang mungkin dimaksud oleh Sanada. Mereka mengira yang dimaksud dengan 'pria tua' itu adalah pelatih Yakushi. Namun, perkataan Sanada selanjutnya membuat mereka tidak paham. Sebelum melihatnya...
"Mustahil!?"
"Itu Todoroki yang melatih Yakushi kan?"
"Bagaimana mungkin?"
Mereka melongo melihat seseorang yang mereka kenal kini berubah menjadi lebih muda dan tamvan seperti berumur dua puluh limaan. Kalau tidak diperhatikan dengan jelas mungkin mereka tidak akan kenal. Bahkan mereka pun tidak percaya.
"Yo Kataoka-kantoku?" Sapa Pelatih Yakushi itu pada Pelatih Seido yang menyambut kedatangan mereka. Untung saja kacamata hitamnya tidak pecah.
.
.
Bersambung~ . . .
.
.
Bersambung seperti biasa... muahahaha...
Soal papa Raichi yang kembali muda uhuk maaf tolong bayangin aja sendiri ya gimana bentuknya. Anggap aja tambah tamvan. Saya sebenarnya juga gak berani jamin kalo masa mudanya lebih tamvan. Uhuk.
Kapan terakhir kali aku update fic ini ya? Jangan tanya #plaak yang penting udah aku lanjutin. Huehehe..
Sebenarnya ini aku mau buat fic yang humor aja dan normal tapi kok kayaknya agak belok juga ya ujung-ujungnya apalagi kalo yg udah mikir iya-iya pasti ujung-ujungnya kesana juga #halah
Yep. Doain aja moga lancar aku buat fic ini sampai selesai dan tak ada yang digantung lagi. Hihi... Reviewnya ya biar tambah semangat ngelanjut~ hoho...
Maaf atas segala kesalahan
Terimakasih atas semuanya
ShilaFantasy
