Sakura POV
Ku rasakan kepalaku berdenyut hebat. Tubuhku terasa lemas. Bagaimana tidak? Sejak tadi malam, aku belum juga makan. Pandanganku mulai mengabur. Dan saat ingin ambruk..
GREB
…Aku merasakan seseorang memeluku. Ah, bukan. Tapi sebuah tangan besar menyangga tubuhku agar tidak terjatuh. Dapat ku lihat orang tersebut dengan pandangan yang semakin mengabur.
Tunggu.
Aku sepertinya mengenalinya.
Namun sebelum aku berpikir panjang tentang orang tersebut. Pandanganku semakin mengabur dan pada akhirnya gelap tanpa cahaya.
Sakura end POV
"Hei, Sakura.. Sakura.. " Tidak ada respon dari Sakura. Tanpa berpikir panjang, pemuda Onyx tersebut menggendong Sakura menuju UKS. Siswa yang melihat hanya terkejut dan berdesas-desus.
Sasuke—pemuda tersebut- membuka pintu UKS dengan menggunakan kaki kanannya. "Ya Tuhan, Sakura kenapa?" tanya Shizune yang kebetulan berada di ruangan tersebut.
"Tadi dia pingsan" jawab Sasuke. "Ya sudah, kau baringkan dia disana. B-Biar.. err aku ambilkan baju seragam untuknya dulu" tukas Shizune yang melihat seragam Sakura basah kuyup dan kemudian segera pergi.
Sasuke merebahkan tubuh mungil Sakura di atas ranjang UKS. Ia berniat meninggalkannya dan pergi ke kelas karena bel baru saja berbunyi. Namun, melihat wajah Sakura yang kelewat pucat, terbesit sedikit tidak tega untuk meninggalkannya. Sambil menunggu Shizune kembali, ia duduk pada sofa yang tersedia di sana.
Sasuke memperhatikan Sakura yang tengah terbaring lemas. Mulai dari wajahnya yang penuh dengan lebam, tangan kirinya yang terbalut perban, hingga lutut kanannya yang juga diperban.
'Sebenarnya dia itu kenapa?' batinnya.
"Engh" tak lama kemudian Sakura mulai membuka kelopak matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah putih dan bau obatan yang menyeruak indra penciumannya. Ia tahu bahwa sekarang ia sedang berada di UKS. Ia langsung teringat dengan seseorang yang menolongnya tadi. Saat ia menolehkan kepalanya ke kanan, ia mendapati seorang pemuda tengah menatapnya.
"Sudah bangun?" tanya Sasuke. Sakura berusaha bangkit untuk duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa berdenyut dan tubuhnya menggigil.
"Shizune-sensei sedang mengambil baju seragam untukmu, bajumu basah semua," ujar Sasuke. Sakura hanya mengangguk. Ia masih bingung dengan siapa yang membawanya ke UKS. 'Apa mungkin dia yang membawaku ke sini?' batinnya.
Sasuke yang seolah mengetahui pikiran Sakura langsung berujar "Aku tadi yang membawamu ke UKS. Aku hanya tidak tega melihatmu ambruk tanpa ada yang menolong. Kalau tidak sampai kapan kau akan tiduran disana" jelas Sasuke.
Sakura terkejut bukan main. Baru kali ini ada orang yang mau menolongnya. "K-Kau.. yang m-membawaku.. ke UKS?" tanya Sakura. Sasuke hanya mengangguk.
CEKLEK
"Ah, Sakura kau sudah sadar?" tanya Shizune yang baru saja masuk sambil membawa setelan baju seragam siswi. "Sudah, Shizune-sensei"
"Kalau begitu cepat kau ganti bajumu yang basah. Aku sudah membawakan baju seragam cadangan," perintah Shizune. Sakura menerima seragam yang Shizune berikan. "Aku tinggal sebentar ya, Sakura. Tadi Kurenai bilang ia tidak bisa hadir, jadi aku harus menggantikannya mengajar"
Sakura hanya tersenyum dan mengangguk. Ia memperhatikan Shizune sampai hilang di balik pintu.
"Ya sudah, aku ke kelas dulu," Sasuke beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu. Sakura nampak sedang ragu untuk mengatakan sesuatu tapi melihat Sasuke beranjak dari sofanya ia membuang rasa ragunnya.
"T-Tunggu!" Sasuke menghentikan langkahnya. "Boleh ku tahu, siapa namamu?" tanya Sakura. Sasuke tahu bahwa gadis ini baru masuk saat perkenalannya selesai kemarin jadi dia belum tahu namanya.
"Uchiha Sasuke. Panggil saja Sasuke" ujar Sasuke kemudian kembali melangkah.
"S-Sasuke…" Sasuke kembali menghentikan langkahnya. Namun kini dengan wajah yang tolehkan kesamping. "Hn?"
Sakura tersenyum lembut. "Terima kasih" ujarnya. Sasuke hanya menjawabnya dengan ber-hn-ria dan kemudian hilang di balik pintu.
Senyum Sakura enggan hilang dari wajahnya. Ia merasa senang karena masih ada orang yang mau memperhatikannya. Err.. apa mungkin iya pemuda tadi benar-benar memperhatikannya dan berniat tulus menolongnya? Tapi Sakura tidak mau ambil pusing.
Sakura menggenggam kalungnya dan menatap langit di balik jendela. 'Arigatou.. kami-sama'
Sakura segera menuju toilet yang terdapat di ruangan UKS dan langsung mengganti baju seragamnya yang basah.
.
.
".. perbandingan antara sisi depan dengan sisi miring disebut sinus sudut, ditulis sin α = y/r.. dan perbandingan-"
TOK TOK TOK
Perkataan Iruka terhenti saat pintu kelas terketuk. "Masuk" perintahnya. Dan masuklah seorang gadis merah muda.
"Maaf, sensei tadi saya ada keperluan sebentar jadi-"
"Halah, banyak alasan! Bilang saja kalau kau tadi keluyuran dan enggan ikut pelajaran Iruka-sensei" Karin memotong penjelasan Sakura seraya menatapnya sinis diikuti oleh kedua temannya. Tayuya dan Shion.
"Karin, aku tidak meminta penjelasanmu" tukas Iruka. Karin hanya mendengus dan mengalihkan pandangannya dari Sakura.
"Baiklah, Kau boleh duduk. Tapi ingat! Jangan kau ulangi lagi, mengerti?" ujar Iruka menegaskan. Sakura mengangguk mengerti dan segera duduk di kursinya. Dan pelajaran itupun berlanjut hingga bel istirahat bebunyi.
.
.
Karin, Tayuya dan Shion tengah menduduki kursi kantin seperti biasanya. "Karin, Tayuya, kalian ingin pesan apa?" tanya Shion.
"Aku lemon tea saja," Jawab Karin
"Jus strawberry," jawab Tayuya menimpali.
"Baiklah, aku pesankan dulu ya, kali ini aku yang traktir," ujar Shion dan mendapat senyuman sumringah dan kedua temannya itu. Shion segera memesan apa yang di pesankan Tayuya dan Karin.
"Paman, 1 jus strawberry dan 2 lemon tea ya," ujar Shion. "Tunggu sebentar" tukas sang penjaga kantin dan segera membuatkan pesanan tersebut.
"Hei, kau lihat tidak tadi pagi?"
"Lihat apa?"
"Itu si 'anak haram'. Masa kau tidak lihat?"
Alih-alih Shion mendengar percakapan dua siswi di sampingnya tentang Sakura tadi pagi. Ia berusaha menajamkan pendengarannya.
"Oh, iya iya aku lihat. Kalau tidak salah tadi pagi ia lagi-lagi ditindas oleh Karin"
"Bodoh, kalau yang itu aku juga tahu. Tapi ada yang lebih mengejutkan lagi"
"Ha? Mengejutkan? Memang apa?"
"Saat 'anak haram' itu ingin pingsan, Uchiha menolongnya dan membawanya ke UKS"
"Uchiha? Uchiha anak baru yang sangat tampan itu?"
Shion terkejut saat teman yang satunya mengangguk mengiyakan. 'Karin harus tahu soal ini'
"Maaf menunggu lama, ini pesanannya" ujar penjaga kantin tersebut sekaligus membuyarkan Shion. "Ah, terima kasih. Ini uangnya. Ambil saja kembaliannya"
Shion terlihat terburu menghampiri meja Karin. Hampir saja nampan yang berisikan 3 gelas yang penuh tumpah kalau saja ia tidak hati-hati.
"Karin!"
Karin yang sedang bercanda dengan Tayuya menoleh saat namanya disebut, bukan, diteriaki oleh seseorang.
"Shion? Ada apa?"
"Karin, ada satu hal yang harus kau tahu" ujar Shion antusias. Karin menaikan sebelah alisnya. "Apa?"
"Tadi pagi, saat kau menindas Sakura dengan mengguyurnya. Dan setelah kita pergi, Uchiha menolongnya dan membawanya ke UKS," jelas Shion.
"Uchiha? Uchiha Sasuke maksudmu?" tanya Karin. Shion mengangguk. Namun tiba-tiba Karin menyeringai licik.
"Jadi, sekarang bocah itu sudah memiliki perlindungan? Itu memudahkanku untuk menindasnya" ujar Karin dengan tatapan tajam dan seringainya yang terlihat licik.
Tayuya dan Shion hanya saling pandang. Tidak mengerti apa yang sedang Karin rencanakan.
.
.
Bel masuk telah berbunyi mengakhiri jam istirahat. Semua siswa memasuki kelas mereka masing-masing.
Sasuke duduk terdiam pada di mejanya sambil memandang keluar jendela. Kelasnya sangat berisik berhubung jam pelajaran saat ini kosong. Terkadang beberapa siswi perempuan menyapanya. Tapi menurut Sasuke sendiri itu membuatnya risih.
Karin yang sedang duduk terdiam bosan. Ia melihat Tayuya dan Shion tengah bercanda ria di depannya. Ia alihkan pandangannya pada seluruh kelas. Ada yang saling melempar gumpalan kertas, berteriak tidak jelas, kejar-kejaran dan sebagainya. "Huh! Membosankan," gumamnya.
Pandangannya terhenti pada gadis Haruno yang sedang menulis sesuatu pada buku tulisnya. Karin menyeringai. Sebuah ide terlintas untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke depan kelas. Tayuya dan Shion yang sedang asik, menghentikan obrolan mereka saat Karin berdiri dari kursinya dan berjalan kedepan kelas.
"Mau apa dia?" tanya Shion. Tayuya hanya mengedikkan bahunya. "Tidak tahu,"
Karin menatap Sakura dengan seringainya yang belum pudar dari wajahnya. 'Bagaimana jika kita menghilangkan rasa bosan bersama, Haruno?' batinnya.
"Hei, Minna!" teriak Karin dari depan kelas. Sontak semua terdiam dan menatap Karin heran. "Kalian tahu kan? Kalau ada seorang gadis yang setiap harinya dikucilkan di sekolah ini?" ujarnya lagi.
Semua mengerutkan alis mereka. Bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Karin. Tapi tidak pada Tayuya. Ia justru menyeringai. "Sepertinya aku mengerti arah pembicaraannya" gumamnya. Shion semakin bingung. "Memang apa?"
"Tapi.. sepertinya sekarang dia sudah memiliki seorang pangeran pelindung. Bukankah begitu…" Karin menggantungkan kalimatnya dan menatap Sakura dengan seringai yang semakin lebar. "…Putri Haruno"
Sakura yang awalnya tidak memperdulikan teriakan Karin, kini menghentikan aktivitas menulisnya. Bahkan Sasuke pun yang sedang memandang keluar jendela mengerutkan alisnya dan mengalihkan pandangannya pada Karin di depan kelas.
Para murid sekelas mulai berdesas-desus dan sesekali melirik Sasuke lalu beralih pada Sakura. Sakura mulai mengangkat wajahnya dan menatap Karin dan menghela nafasnya kemudian kembali menulis pada bukunya.
Karin menghampiri meja Sakura dan menggebraknya.
BRAKK
Sakura sempat terkejut dengan gebrakan Karin namun ia tetap terdiam tanpa mengangkat wajahnya.
"Aku hanya heran padamu. Kenapa ada orang yang mau menolong gadis haram sepertimu," Ujarnya. Para murid mulai tertawa kecil mendengar penuturan Karin. Sakura hanya terdiam mendengar murid sekelas mulai menertawakannya.
Karin mendengus. "Memang apa yang sudah kau lakukan padanya sampai-sampai dia mau menolongmu, heh?" tanyanya mengejek. Tawa mulai menggelegar. Karin pun ikut tertawa namun tawa merendahkan.
"Apa yang kau lakukan padanya? Memberikannya uang? Membantunya untuk membayar seluruh akutansi sekolah? Atau.." Karin kembali menyeringai. Yang lain terdiam untuk mendengar kelanjutan kalimat Karin yang menurut mereka bagaikan sebuah dialog komedi.
"…Menjual dirimu padanya? Heh?" lanjutnya membuat Sakura tertohok. Ia merasa direndahkan. Tawa semakin keras terdengar oleh indra pendengaran Sakura. Satu kelas telah menertawakannya oleh perkataan yang sama sekali tidak lucu.
"Haha.. pantas saja kau melakukan itu. Kaa-sanmu saja 'Jalang'!" teriak Karin yang kini membuat Sakura benar-benar terkejut. Bulir air mata mulai menggenang pada mata emeraldnya. Ia meremas pulpen yang ia genggam.
Sasuke pun terkejut dengan perkataan Karin. Dan itu sungguh keterlaluan menurutnya. Alisnya semakin menggkerut. 'Apa yang barusan ia bicarakan itu" geram Sasuke. Karena bagaimanapun juga mendengar ucapan 'Menjual dirimu padanya' Sasuke merasa dirinya ikut direndahkan oleh Karin.
Sakura yang sudah diatas kesabarannya berdiri sambil menggebrak mejanya. Tawa mereka terhenti melihat akhi Sakura. Begitupun dengan Karin.
PLAKK
Semua terkejut melihat Sakura menampar Karin dengan kasar sehingga pipi kiri Karin memerah. Bahkan Karin sendiripun membelalakan matanya.
"Kau! Kau boleh menghinaku! Kau boleh menyiksaku! Bahkan kau boleh membunuhku! Tapi jangan pernah sekalipun kau menghina Kaa-san ku! Kau tidak akan pernah ku maafkan!" Teriak Sakura sambil menujuk-nunjuk tepat di depan wajah Karin. Baru kali ini Sakura terlihat sangat murka pada Karin. Itupun karena Ia menghina Ibundanya. Sakura langsung berlari keluar dan terlihat sesekali menghapus air matanya.
Dan mereka kembali terkejut saat Sasuke bangkit dari kursinya kemudian berjalan ke arah Karin. "Dasar bodoh" gumamnya saat ia melewati Karin dan kemudian berjalan keluar kelas. Karin kembali membelalakan matanya dan menatap sinis ke arah Sasuke.
"Cih! Sial!" gumamnya.
.
.
Sakura berlari ke arah taman belakang sekolahnya. Air mata masih mengalir di kedua pipinya. Ia berhenti tepat di pinggir sebuah sungai. Ia duduk bersimpuh.
"Hiks.. Kaa-san~" lirihnya sambil menengadah menatap langit. Ia genggam kalungnya. "Maafkan Sakura, Kaa-san.. hiks.. maaf~" lirihnya lagi.
Sasuke yang entah mengapa sudah berada tidak jauh dari tempat Sakura. Ia menyender pada tembok di dekatnya. Ia menatap Sakura dengan pandangan datar. Ia sendiri bingung kenapa saat pertama kali melihat gadis Haruno itu ditindas, terbesit sebuah rasa ingin menolongnya. Terlebih saat Naruto menceritakan tentangnya. Rasanya ia ingin melindungi gadis itu. Bukankah ia sangat dingin dan tidak berperasaan pada perempuan terkecuali sahabatnya, Hinata. Lalu kenapa ia mau dan bahkan menolong gadis yang bahkan baru dua hari ia kenal? Sasuke sendiri pun bingung.
Ia berjalan menghampiri Sakura. "Sudahlah, apa gunanya kau menangis?"
Sakura terkejut dan segera menghapus air matanya kemudian menoleh ke balakang. "S-Sasuke-san?"
"Ternyata semua gadis jika ditindas pasti akan menangis. Lemah sekali," ujarnya datar. Sakura mengerutkan alisnya. "A-Apa maksudmu?"
"Wanita itu sangat lemah jika di tindas. Mereka hanya bisa menangis," ulang Sasuke memperjelas. Sakura memandang tidak suka pada Sasuke. "Jika kau ingin menertawakanku sama seperti mereka, tertawa saja sepuasmu. Aku tidak keberatan," Sakura mulai berdiri dari duduk bersimpuhnya dan beranjak pergi.
Sasuke memandang punggung Sakura yang semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangannya. Ia alihkan pandangannya pada langit yang cerah.
.
.
.
.
"Teme!" teriak Naruto ketika melihat Sasuke baru keluar dari gerbang sekolah. Sasuke menoleh dan mendapatkan kedua sahabatnya berlari kecil menghampirinya. "Teme! Ada yang ingin aku tanyakan padamu,"
"Hn. Apa?" Sasuke mulai melangkahkan kakinya dan berjalan santai. Naruto dan Hinata mengikutinya di samping.
"Apa benar tadi pagi kau yang membawa Sakura ke UKS?" tanya Naruto. "Kalau iya, memang kenapa?" tukas Sasuke dengan wajah yang masih menunjukan ekspresi datarnya.
Naruto dan Hinata saling berpandangan terkejut. Selama ini yang mereka tahu Sasuke sangat dingin dan tidak peduli dengan yang namanya wanita tiba-tiba menolong seorang gadis yang ternyata adalah Haruno Sakura. Gadis yang paling dikucilkan di sekolah.
"Teme, kau masih waras kan?" tanya Naruto. "Tentu saja, dobe" jawab Sasuke kesal. "Kau pikir aku ini gila?" tanya Sasuke geram.
"Bukan begitu, teme. Aku hanya heran padamu. Ku kira kau mendengar perkataanku saat itu dan menjauhinya seperti yang lain. Kau… err mau berteman dengan 'anak haram' itu?" tanya Naruto.
Sasuke menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Naruto. "Dan ku kira kau mendengar perkataanku saat itu dan berhenti memanggilnya dengan sebutan 'anak haram'. Aku pun tidak bilang jika aku mau berteman dengannya, mengerti?" jelas Sasuke dan kembali melangkah.
Naruto terdiam di tempatnya dengan sebelah alis terangkat. "Aku tidak yakin kalau dia berkata seperti itu barusan," ujar Naruto pada Hinata di sebelahnya yang juga heran dengan sikap Sasuke.
"M-Mungkin moodnya sedang jelek hari ini," tukas Hinata. Naruto mengangguk meng-iya-kan perkataan Hinata. "Mungkin saja,"
Naruto tiba-tiba menatap Hinata. "A-Apa?" tanya Hinata gugup. "Tapi kau, tetap tidak boleh dekat dengan Sakura itu. Mengerti?" ujar Naruto.
"I-Iya"
.
.
Sakura baru saja sampai di rumahnya. Ia pulang sore hari ini berhubung ada tugas tambahan dari guru piket. Ia melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Rasa lelah menjalar tubuhnya.
"Aku pulang," gumamnya saat membuka pintu.
"Sudah pulang ya, 'bocah jalang'?" tanya seseorang dengan nada sinis. Sakura menoleh ke arah suara. Ia mendapatkan Mikawa sedang menatapnya sinis dengan aura murka dari matanya. Di sampingnya terdapat Karin yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Sepertinya Sakura tahu apa maksud ibu tirinya itu memanggilnya 'bocah jalang' dan menatapnya sinis.
"Apa yang kau lakukan pada Karin disekolah, Haruno," geram Mikawa.
To Be Continue
Huaaaa! gimana? makin aneh ya? gomen telat update, rebutan komputer sama adek saya.. masih pendek lagi.. #panik
piratePrincess : Hehe... ikutin aja terus deh, ntr semuanya dijelasin kok.. itupun kalau anda brsedia membca fic abal saya #pundung.. Review lagi?
Kikyo Fujikazu : Sudah ku duga pasti bkalan ada yg nanya seperti itu.. tenang.. ikutin aja terus alur cerita abal saya.. ntr kejawab kok.. review lagi?
Joo-Chan : Aduh, maaf deh kalo ficnya jadi condong ke sinetron, tapi jujur.. saya gk ngikutin alur sinetron. kalau chpter ini bagaimana? semoga suka #puppy eyes.. review lagi? oh ya, arigatou sarannya :)
Tachi Edogawa : Yup, ini udh update.. review lagi?
Hikaru : oke, sudah, review lagi?
DaRuma Chi TsuToSuke : Huaa~ boleh kok, arigatou ya.. review lagi? XD
d3rin : waduh, jangan bunuh diri atuh.. hehe :) Saku kan orangnya sabar.. :P review lagi?
4ntk4-ch4n : Hue.. gumna? saku udh mulai ngelawan kan? hehe.. review lagi?
Fuyu no Sakura : Haduh, jangan nangis.. cup, cup #nyerahin kain kotor #digampar.. review lagi?
Eky-chan : gomen updatenya lama... review lagi?
agnes BigBang : chper ini sasunya mulai perhatian kan? iya kan? iyalah? bener kan? bener dong? #maksa #ditendang.. Review lagi?
sai kuruta : Iya.. :) ikutin terus ya :)
Misa : salam kenal juga, aduh jangan nangis.. cup, cup, balonnya habis #dilempar.. oke aku lanjutin.. review lagi ya?
Gomen ya kalo chapter ini kurang seru.. gomen juga updatenya telat.. Xita usahain chapter selanjutnya update kilat, ya gak kilat kilat amat sih #plakk..
Xita minta reviewnya boleh? yang menambah semangat Xita update cepat itu adalah review readers dan senpai sekalian.. XD
