A/N : Gomen minna karena saya lama tidak update. Soalnya saya berkonsentrasi untuk ujian. Lagipula, sejak hari Senin saya sakit. Jadi sama sekali tidak bisa menulis fic TT_TT. Di chapter ini, saya sudah memperbaiki typo. Jika masih ada typo, mohon dimaafkan.

Luffy : Di chapter ini rasanya ada adegan ZoSan. Mungkin. -_-

Ace : Adegan ZoSan diawali dengan Zoro yang cemburu. Mungkin. -_-

ZoSan : WOI! Jangan disebarkan.


First Love in 2 Gank

Disclaimer : Eiichiro Oda

Rated : T

Genre : Romance/Humor

Pair : AceLu (Di chapter ini ada ZoSan)

Don't Like Don't Read


-Chapter 2-

.

.


"KA-KALIAN SUDAH SALAH PAHAAAAMMM!"

"Hah? Salah paham darimananya? Jelas-jelas kalian berdua saling berciuman. Bahkan Ace menindihmu. Coba katakan, salah paham darimanya?"

"Se-semua kejadian tadi tidak seperti yang kau pikirkan. Ace tadi hendak berdiri, tapi ia tidak sengaja menginjak kulit pisang yang ada di dekatnya. Makanya dia jatuh menimpaku." Jelas Luffy panjang lebar. Zoro, Sabo, dan Marco masih belum percaya dengan perkataan Luffy. Jika perkataan Luffy memang benar, mereka harus memastikan ke Ace.

"Apakah benar yang dikatakan Luffy, Ace?"

"Tentu saja. Aku terpeleset dan jatuh menimpa Luffy. Itu hanya kecelakaan. Percayalah, sama sekali tidak ada hubungan apa-apa diantara kami." Jelas Ace.

"Ya ya, Kami percaya."

"Hahaha. Kau ceroboh sih, makanya jadi terpeleset." Ejek Marco. Mendengar itu Ace jadi marah.

"Ini semua...GARA-GARA KULIT PISANGMU MARCO! KALAU SAJA TIDAK ADA KULIT PISANGMU, KEJADIAN TADI TIDAK AKAN TERJADI!"

"Ooo, gitu ya?"

"AP..."

"Tapi, berkat kulit pisang yang kubuang tadi, kau bisa berciuman dengan Luffy 'kan?" Tanya Marco.

Paras Ace kontan memerah. Apa-apaan yang dikatakan Marco. Seenaknya saja ia mengatakan itu di depan Luffy. Tidakkah ia tahu kalau perkataan itu membuat Ace malu? Dasar tidak punya empati. Nanas berhati dingin. Mulutnya itu harus diberi cabe biar dia tidak suka menggumbarkan rahasia orang. Aceserasa ingin meninju Marco.

"Marco, mulutmu mau kuberi cabe? Supaya tidak sembarangan mengatakan rahasia orang. Lagipula sekarang ini aku lagi bosan. Serasa mau meninju seseorang." Kata Ace dengan sabar. Pembuluh vena sudah bermunculan di kepalanya.

"Boleh saja." Jawab Marco santai. Sama sekali tidak takut dengan ancaman Ace.

"Sudahlah Ace. Tidak ada gunanya kau marah-marah pada Marco. seharusnya kau beterima kasih, karena berkat Marco kau bisa berciuman denan Luffy." Kata Sabo. Aahh, sepertinya mulut Sabo harus diberi cabe juga. Mereka berdua memang harus diberi pelajaran.

"Sabo, mulutmu mau kuberi cabe juga? Jika kau mau, aku dengan senang hati memberikannya."

"Hei hei, jangan marah-marah. Sekarang ada Luffy disini."

Ace baru sadar Luffy dan Zoro ada di dekat mereka (telmi), kini Luffy menatap Ace dengan tatapan bingung. "Kalian bertiga bicara apa sih? Memangnya apa hubungannya denganku?" Tanya Luffy heran.

"Begini Luffy, sebenarnya Ace-Hmmpphh."

"JAGA MULUTMU NANAS!"

Ace kontan membekem mulut Marco dengan tangannya. Hampir saja Marco membongkar rahasianya. Dasar mulut ember.

"Hmmpphh-HEY, AKU TIDAK BISA BERNAPAS. KAU MAU MEMBUNUHKU YA?"

"Sesungguhnya, memang itu yang kuinginkan. Ada masalah, wahai Marco?"

"APA KATAMU?"

"Kalian berdua hentikan. Ini bukan waktunya berkelahi." Kata Sabo menasehati teman-temannya. Mereka berdua memang tidak pernah berubah. Selalu saja berkelahi.

Tidak mendengar nasehat Sabo, mereka berduapun kembali berkelahi. Tidak mepedulikan orang-orang di sekitarnya.

"Aarrgghh, KALIAN BERHENTI BERKELAHI!" Teriak Sabo yang berusaha menghentikan mereka. Sungguh merepotkan Ace dan Marco itu.

Sedangkan Luffy dan Zoro yang berada di sana hanya dapat membisu. Keberadaan mereka berdua sepertinya sudah tidak dianggap oleh Ace, Sabo, dan Marco.

"Luffy, sebaiknya kita bantu Sabo. Kasihan dia, dia terlihat kesusahan menghentikan mereka berdua." Kata Zoro yang merasa iba melihat Sabo.

"Kalau itu maumu, ayo." Jawab Luffy sambil meremas jarinya. Sedangkan Zoro mengeluarkan tiga pedang bambu.

Mereka berdua perlahan-lahan menghampiri Ace, Sabo, dan Marco. "Minggir Sabo. Biar kami yang urus mereka berdua." Kata Zoro. Sabo yang melihat mereka berdua hanya dapat mengangguk kecil. Keduanya sudah siap siaga.

"Nah, kalian berdua..." Luffy memulai.

"Cepat hentikan..." Zoro melanjutkan.

"PERKELAHIAN KALIAN!"

BUUAAGGHHH

Dalam hitungan detik, Ace dan Marco terlempar sejauh 200 meter (WHOT?). Sabo yang melihat tiu hanya dapat membelalak matanya. Mulutnya terbuka dengan lebarnya. Terdiam sebiru bahasa. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

'Mereka menghentikan Ace dan Marco hanya dengan sekali pukul? Terlemparnya jauh pula.' Batin Sabo.

"Aduh, apa yang kalian lakukan sih?" Tanya Ace dan Marco serentak.

"Kami memukul kalian." Jawab Zoro santai.

"APA?"

Belum sempat perotes lebih jauh, Luffy sudah memotong perkataan mereka. " Kalian berkelahi terus. Sabo kesusahan menghentikan kalian berdua. Itu sebabnya aku dan Zoro yang menghentikan kalian berdua." Jawab Luffy.

"Tapi tidak perlu memukul segala kan?"

"Justru memukul lebih gampang daripada meneriaki."

"APA?"

"Sudahlah. Lebih baik kita kembali ke kelas. Bel sudah berbunyi." Kata Sabo.

Saat Ace hendak berjalan pergi, Zoro mendekatinya dan membisikkan sesuatu. "Ace, kau tahu tidak. Ciuman yang kau berikan kepada Luffy, adalah ciuman pertamanya. Walau tidak disengaja sekalipun, kau beruntung sekali." Zoro langsung pergi meninggalkan Ace yang tengah membatu.

Apa katanya?

Ciuman pertama Luffy telah ia renggut?

What the hell?

Ace melotot syok. Apa ini serius? Kenapa Zoro mengatakan hal seperti itu? Paras Ace kontan memerah bak buah tomat. Ace meraba dadanya dengan jemarinya. Cepat. Jantungnya berdebar seribu kali per detik.

'Ja-Jadi ciuman itu, ciuman pertama Luffy. Dan telah ku the hell? Kenapa hal ini bisa terjadi?' Batin Ace

Ace hanya dapat melihat Luffy dalam diam. Jantungnya berdegu dengan kencang setiap ia melihat Luffy. Meskipun kejadian tadi memalukan, ia merasa senang (WHOT?). Ia benar-benar mencintai Luffy. Ia berharap Luffy juga mencintainya.

'Aku mencintaimu Luffy. Apa kau juga merasakan perasaan yang sama seperti aku?'

Ace hanya dapat menunggu jawaban dari perasaannya. Hanya waktu yang dapat menjawab enigma itu.


Di lorong kampus.

Bersama Luffy dan Zoro.

"Luffy, apa kau sudah menyelesaikan jurnalmu?"

"..."

"Luffy?"

"..."

"Luffy, kau dengar apa yang kukatakan?"

"Eh...i-iya Zoro. Apa yang kau bilang tadi?"

Zoro hanya dapat melipat kedua tangannya. Ia menatap Luffy dengan skeptis. "Kau kenapa? Daritadi diam terus. Aku panggil kau tidak jawab. Sebenarnya kau mikir apa? Ayo jujur." Tanya Zoro.

"Eeeehh...a-aku tidak mikir apa-apa kok." Jawab Luffy gugup.

"Bohong. Kau pasti mikirin sesuatu. Jujur aja."

"Benar kok. Aku tidak ada mikir apa-apa."

Zoro terdiam melihat gelagat Luffy. Sejenak ia berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum. Ia megetahui jawabannya. Pasti Luffy...

"Kau memikirkan Ace 'kan?"

"EH?" Luffy langsung menoleh ke Zoro dengan wajah yang bukan main merahnya. Apa yang Zoro katakan tadi? "Ke-kenapa kau berpikiran seperti itu Zoro. A-aku tidak memikirkan Ace. Sumpah." Jawab Luffy gugup.

"Benarkah? Wajahmu memerah. Pasti kau jatuh cinta pada Ace." Kata Zoro dengan nada menggoda. Dia tersenyum jahil. Sepertinya dia menemukan kelemahan Luffy.

"Apa katamu? Jatuh cinta? Ti-tidak mungkin aku jatuh cinta. Cintaku ini hanya pada daging."

"Sudahlah. Tidak perlu disembunyikan lagi. Aku sudah tahu. Kau pasti jatuh cinta pada Ace. Kau tidak bisa mengelak lagi." Kata Zoro menjatuhkan vonis ke Luffy.

Paras Luffy merona dengan merahnya. Dia sama sekali tidak bisa menyangkal perkataan Zoro. "Nah...kau jatuh cinta pada Ace 'kan?" Paras Luffy berkali lipat merah dari yang tadi. Asap sudah bermunculan di ubun-ubunnya. Jantungnya sudah siap meledak.

"A-AKU SAMA SEKALI TIDAK JATUH CINTA PADANYAAAA." Luffypun kabur dari Zoro. Dia berlari sekencang mungkin. Sedangkan Zoro, dia hanya dapat tersenyum tipis. Dia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.

"Hahaha. Kau itu gampang sekali ditebak Luffy. Aku yakin kau juga merasakan perasaan yang sama dengan Ace."

Kemudian dia berjalan ke kelas. (Lho? Bukannya dia buta arah? #ditebas Zoro)


Di lorong.

Bersama Luffy.

Luffy pov.

Aku berlari sekencang mungkin dengan wajah yang sangat merah. Jantungku berdebar seribu kali per detik. Wajahku terlihat kacau balau. Apa-apan sih yang dikatakan Zoro. Kenapa dia berpikiran seperti itu. Kenapa dia berpikiran kalau aku ini jatuh cinta pada Ace. Itu tidak mungkin.

Aku berhenti berlari. Napasku terasa sangat berat. Ini sangat aneh. Semenjak aku ciuman (tidak disengaja) dengan Ace, jantungku berdebar dengan kencang. Berada di dekatnya aku juga merasa gugup. Anehnya, daritadi aku memikirkannya terus. Aku sama sekali tidak bisa melupakannya.

Ukh, kenapa aku jadi aneh seperti ini. Aku tidak bisa menyangkal perkataan Zoro. Jujur sih, sebenarnya Ace itu sangat tampan dan tubuhnya sangat atletis, tidak heran dia sangat populer. Jemariku meraba bibirku. Ciuman tadi, merupakan ciuman pertamaku. Anehnya aku sama sekali tidak jijik ciuman pertamaku direnggut oleh laki-laki. Benar-benar aneh.

'Kau pasti jatuh cinta pada Ace.'

DEG.

Kata-kata Zoro kembali tergiang di kepalaku. Jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada Ace? Ukh, aku tidak mengerti. Parasku merona, jantungku berdegup dengan kencang. Apa itu tanda cinta? Ukh, belum pernah aku merasakan hal seperti ini. Sebenarnya...

ADA APA DENGANKU SEBENARNYA?

End Luffy pov.

Luffy kembali berlari ke kelas dengan pikiran kacau balau. Bagaimana nanti dengan nasibnya? Entahlah. Untuk sementara, biarkanlah berjalan terus. Dia hanya dapat menunggu jawaban dari perasaannya.


Di lorong

Bersama Zoro yang sedang...tersesat (lagi).

"Gawat. Aku dimana sekarang? Kalau begini terus, aku bisa terlambat masuk kelas." Kata Zoro kesal karena dia tersesat (lagi). Dasar buta arah #ditebas Zoro.

"Aaahh, dasar Luffy. kenapa dia meninggalkanku sendiri. Dia 'kan tahu kalau aku ini buta arah (jujurnya)". Lho? Bukannya dia sendiri yang bikin Luffy meninggalkannya. Dasar bego. Sudah buta arah, bego lagi #ditebas Zoro.

Selama 2 jam (Whot?) Zoro tersesat. Dia sama sekali tidak bisa menemukan kelasnya. Zoro. Buta arah itu ada batasnya.

"AARRGGHH! AKU SUDAH MENYERAH!" Teriak Zoro kesal. Dia hanya dapat duduk sampai waktu istirahat. Tiba-tiba ada seseorang yang datang.

"Hey marimo, ngapain kau disini? Pelajaran sudah dimulai 2 jam yang lalu." Kata seorang pemuda berambut pirang.

"Berisik. Kau sendiri kenapa ada di luar kelas?" Tanya Zoro dengan kasar. Mendengar itu, pemuda berambut pirang itu menjadi marah.

"Aku di luar kelas karena disuruh guru. Dan kau, bisa 'kan menjawab dengan baik-baik. Tidak perlu sekasar itu. Dasar marimo." Jawab pemuda berambut pirang itu.

"Namaku bukan marimo, alis keriting. Namaku Zoro."

"Aku juga punya nama. Namaku Sanji." Jawab pemuda berambut pirang yang bernama Sanji.

Sanji.

Dia adalah salah satu anggota geng Mugiwara. Dia termasuk petarung top-class di geng Mugiwara. Cara ia bertarung menggunakan kaki. Dia tidak pernah bertarung menggunakan tangan. Dia orang yang playboy. Sudah banyak gadis yang ia sakiti #dibekem Sanji. Dia juga sangat mahir memasak. Dia adalah koki di restoran Baratie. Kemampuannya sebagai koki sudah tidak dapat dihitung lagi kadarnya. Dan Luffy, sangat menyukai makanannya. Sedangkan Zoro...adalah rival abadinya.

"Kau lebih cocok dipanggil dengan alis keriting."

Sanji semakin kesal mendengar perkataan Zoro. Marimo satu ini sama sekali tidak pernah diajarkan sopan santun.

"Kau juga lebih cocok dipanggil marimo."

"Playboy jahanam."

"Jablay laknat."

"Alis papan dart."

"Alga hijau."

Pembuluh vena sudah bermunculan di pelipis mereka. Menatap dengan sangat sengit. Sudah siap untuk menghabisi mangsanya. Dan dalam waktu beberapa detik, pertempuran sudah membahana di lorong kampus dengan sengitnya. Tiba-tiba...

BUAAGGHHH

"HENTIKAN KALIAN BERDUA!"

Dalam sekejap pertempuran berhenti. Keduanya terlempar sejauh 2 meter.

"Ugh...HEY KEPALA ORANGE, APA MASALAHMU?" Teriak Zoro marah kepada wanita yang memukulnya.

"ITU KARENA KALIAN TERLALU RIBUT. ORANG-ORANG DISEKITAR KALIAN TERGANGGU!" Teriak wanita berambut orange. Dia tampak seperti iblis #dijitak Nami.

"NAMI-SWAANNNN~~~~,KAU TETAP CANTIK SEPERTI BIASANYAAAAA." Kata Sanji sambil melakukan Love Huricane.

"Ya ya ya. Makasih pujiannya Sanji-kun." Kata wanita bernama Nami cuek.

Nami adalah salah satu anggota geng Mugiwara. Dia wanita yang sangat pelit, matre, sok genit, lintah darat, ratu iblis#dijitak Nami. Setiap kali ia meminjamkan uang kepada orang lain, ia anggap utang. Dia terkenal dengan sebutan iblis berdarah hijau. Suka ngatur, padahal dia bukan ketua geng. Meskipun galak, sadis, dan kejam, dia termasuk wanita tercantik di Universitas Grand Line. Dan Sanji, sudah tergila-gila padanya.

"Nami-san terlihat semakin cantik jika sedang marah." Puji Sanji terhadap Nami.

DEG

'Eh?Kenapa jantungku tiba-tiba terasa sakit?'

Zoro memegang dadanya sendiri. Entah kenapa, jantungnya terasa sakit ketika Sanji memuji Nami. Ia merasa tidak terima denga perlakuan Sanji terhadap Nami.

'Ada apa denganku sebenarnya?'

"Hey Zoro. Kau kenapa?"

"WUAAAHHHHH!"

Zoro langsung berteriak dengan sangat keras. Orang-orang yang berada di dekatnya langsung tergeletak di lantai akibat serangan suara menggelagar Zoro yang sangat tiba-tiba. Menyerang gendang telinga mereka sampai terkapar. Bisa-bisa mereka tuli.

"Aw...Zoro, kenapa kau tiba-tiba berteriak sekeras itu? Sakit sekali." Kata Luffy sambil mengusap kedua telinganya.

"I-ITU GARA-GARA KAU YANG MENGAGETKANKU SECARA TIBA-TIBA!"

"Cukup. Jangan berteriak lagi."

Sanji yang baru saja sadar dari komanya langsung pergi menghampiri Zoro. "APA-APAAN KAU MARIMO? KAU MAU BIKIN AKU TULI YA?"

"HEY! KAU MENYALAHKANKU? SALAHKAN LUFFY YANG TIBA-TIBA MENGAGETKANKU!"

"Sudahlah kalian berdua, jangan berkelahi lagi."Ucap pemuda berhidung panjang.

"Hai Usopp." Kata Luffy sambil melambaikan tangan kepada pemuda bernama Usopp.

Usopp. Pemuda berhidung panjang ini adalah salah satu anggota geng Mugiwara. Dia orang yang penakut, tukang bohong, dan bisa dibilang lemah berkelahi. Entah kenapa dia bisa masuk ke geng Mugiwara. Tapi, dia sangat pandai dalam menembak. Tembakannya tidak pernah salah sasaran. Meskipun dia penakut, dia punya pacar cantik. Yaitu Kaya, gadis yang sekolah di sekolah putri.

"Hai Luffy." Jawab Usopp.

"Usopp, utangmu di Baratie belum lunas."

"Hey hey, sejak kapan kau seperti Nami? Tiba-tiba saja jadi penagih utang."

"Jadi maksudmu, aku ini penagih utang...Usopp?" Kata Nami sambil Deathglare ke Usopp.

"Mohon maafkan hambamu yang khilaf ini." Kata Usopp sambil bersujud meminta maaf dan...kabur.

"Dasar Usopp. Hey Zoro, kenapa kau tidak masuk kelas?" Tanya Nami kepada Zoro.

"Seperti biasa Nami. Aku ini..." Zoro tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu malu untuk mengatakan kalau dia...

"Tersesat." Ucap Sanji sambil menutup mulutnya agar tidak ketawa.

Paras Zoro kontan memerah. Kenapa alis keriting itu mengatakan bahwa ia tersesat. Tidakkah ia tahu kalau Zoro selalu malu kalau dia dibilang buta arah? Sungguh terlalu. Teman-temannya sudah tampak menahan tawa mereka.

"Maklum Nami-san. Zoro 'kan buta arah parah. Dia sama sekali tidak bisa membedakan kanan atau kiri." Ejek Sanji.

Mendengar ejekan Sanji, paras Zoro semakin memerah. Entah karena kesal atau malu. Melihat wajah Zoro yang mereka anggap lucu, teman-temannya yang sudah tidak kuat menahan tawa akhirnya tertawa dengan besarnya.

"Hahahaha. Zoro, kau ini bodoh sekali." Ejek Luffy.

"AKU TIDAK SUDI DIBILANG BODOH OLEHMU!" Teriak Zoro. Kini ia terlihat seperti iblis.

"Hahaha sabar Zoro. Kalau marah-marah cepat tua lho."

"MANA MUNGKIN AKU BISA SABAR!"

"Daripada marah terus, lebih baik kita ke kafetaria kampus saja. Perutku sudah lapar dari tadi." Kata Luffy yang sedetik kemudian perutnya berkoar.

"Dasar. Kau ini selalu saja kelaparan." Kata Nami sambil memukul kepala Luffy.

"Shishishishishi."

Mereka semuapun pergi ke kafetaria kampus.


Kafetaria kampus.

Bersama dengan Ace, Sabo, dan Marco.

"Hey Ace. Tumben sekali kau mau makan di kafetaria kampus. Kau tidak takut diserbu para fansmu?" Tanya Sabo.

"Entahlah. Tiba-tiba saja aku mau makan disini. Soal fans, tenang saja. Aku bisa melindungi diriku sendiri." Kata Ace sambil meneguk jus jeruknya.

"Aku tahu. Kau pasti ingin bertemu dengan Luffy." Ucap Marco.

"BRRUUUUSSSSSTTTTT!"

"AAAHHHH!" Jus yang diteguk Ace tersembur keluar. Marco yang malang harus kena semburan Jus dari Ace.

Paras Ace kontan memerah. "Kau...uhuk...apa-apan kau? Tiba-tiba saja bicara seperti itu. lihat-lihat tempat dan waktu jika ingin berbicara seperti itu"

"Kau sendiri lihat-lihat jika ingin menyemburkan jus. Jijik tahu." Kata Marco kesal. Aahh wajah gantengnya #Author muntah-muntah jadi lengket karena jus jeruk Ace.

"Kau sendiri yang salah. Bicara seperti itu saat aku sedang minum." Ucap Ace. Parasnya masih memerah. Lebih tepatnya memerah karena kesal daripada malu.

Ace kaget bukan main. Marco tiba-tiba saja berbicara seperti itu. Tidak heran jika Ace menyemburkan jusnya ke Marco. Kasihan Marco, rencananya ingin menggoda Ace ternyata dia sendiri kena batunya.

"Huh. Baru digoda sedikit saja sudah sampai seperti ini. Dengan gampangnya kau menyemburkan jus kepadaku. Wajahku jadi lengket." Kata Marco kesal sambil mengelap wajahnhya dengan sapu tangan.

"Tidak apa-apa kok. Lagipula jus itu cocok di wajahmu."

"APAAA?"

"Sudahlah, tidak usah berkelahi. Lagipula disini kantin, kalau kalian berkelahi anak-anak yang lain jadi terganggu." Kata Sabo menasehati mereka berdua.

"Baiklah." Ucap mereka berdua sambil duduk kembali.

Selama mereka makan, para fans Ace sudah mengerumuni mereka bertiga. 'GAWAT! PARA MONSTER SUDAH DATANG!' Batn Ace.

"Ace-san makanlah bekalku ini." Kata salah satu fans Ace.

"Bekalku saja. Kubuatkan khusus untukmu."

"Bekalku lebih enak dari mereka semua."

Terjadi perkelahian para fans Ace. Teriakan mereka benar-benar membuat Ace terganggu. Sumpit yang ia pegang sampai patah sangking kesalnya. Pembuluh vena sudah bermunculan di kepalanya. Ingin sekali ia meneriaki kumpulan 'manusia GAJE' itu.

'Aaarrggghhh! Bisakah mereka semua membiarkanku makan dengan tenang? Kenapa mereka semua tidak pernah absen meneriakiku? Kalau begini terus aku tidak bisa makan!' Batin Ace sangat kesal.

"ACE-SAN KUMOHON. MAKANLAH BEKALKU INIIII."

"JANGAN! LEBIH BAIK MAKAN BEKALKU!."

"ACE-SAN CUMA MAU MAKAN BEKALKU SAJA!"

"TIDAK! DIA HANYA MAU BEKAL BUATANKU!"

Perkelahian semakin sengit. Benar-benar mengganggu orang-orang yang ada di kafetaria kampus. Semakin lama, Ace semakin kesal. Lipatan sewot sudah bermunculan di kepalanya. Ia berusaha sekuat tenaga bersabar dalam ujian dari neraka ini.

'Sabar Ace, sabar.'

"Ace disini ribut sekali. Ayo kita pindah." Kata Sabo sambil menutup telinganya.

"Tidak. Aku tidak akan pindah sampai..."

"Sampai apa?"

"Sampai..." Paras Ace merona. Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

"Sampai Luffy datang." Seru Marco penuh penekanan. Terutama dibagian 'Luffy'.

"A-APA? AKU TIDAK MENUNGGU DIA KOK!" Seru Ace masih memerah tentunya.

"Tidak usah disembunyikan. Aku tahu hanya dengan sekali lihat."

"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK..."

"Hey Ace. Ternyata kalian ada disini." Suara cempreng yang sangat familiar di teliga Ace sungguh membuat jantungnya serasa copot. Suara cempreng itu sangat mirip dengan suara 'dia'. Jangan-jangan...

"MONKEY D. LUFFY!"

Ace melompat setinggi 3 meter. Dia terlalu kaget. Parasnya merona, jantungnya seakan meledak.

"Kenapa kau sekaget itu? Seperti melihat monster saja."

"A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-a." Ace tidak dapat berbicara dengan normal. Dia tidak dapat menatap Luffy. dia masih malu dengan kejadian yang menimpanya di atap kampus tadi.

"Apa? Kau mau bicara apa?"

"Ti-tidak ada." Jawab Ace gugup. Berusaha mengalihkan pandangannya dari Luffy.

"Wajahmu memerah. Kau sakit?"

"Ti-tidak. Aku tidak sakit."

"Lalu kenapa wajahmu memerah?"

"I-ini..." Ace tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba saja Marco berbicara.

"Wajah Ace memerah tentu saja karena kejadian di atap tadi."

"Ya. kejadian yang sangat langka." Kata Sabo sambil mengangguk kecil.

"Tidak dapat disangka." Kata Zoro.

Paras Luffy dan Ace merona. Oh tidak. Kejadian di atap lagi-lagi diungkit.

"Ka-kalian tidak usah mengungkit kejadian di atap."

"Kenapa? Ini sangat menarik untuk dibicarakan. Jarang-jarang ada kejadian 'itu'." Kata Marco. Kenapa ia suka sekali melihat Ace menderita.

"Memangnya ada kejadian apa?" Tanya Sanji.

"Sebenarnya..."

"WUAAAHHH, CUKUP! TIDAK ADA KEJADIAN ITU! NANAS INI CUMA BERCANDA! JANGAN DENGARKAN OMONGAN DIA!" Ace buru-buru menutup mulut Marco. Nanas ini benar-benar mulut ember. Sangat berbahaya jika memberitahu rahasia kepadanya.

"Beritahu aku. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Sanji semakin penasaran.

"Ti-tidak ada apa-apa Sanji. Marco berbohong." Jawab Luffy.

Sanji tidak percaya apa yang dikatakan Luffy. Jika memang bohong, tidak perlu sepanik itu. pasti ada yang mereka sembunyikan. Sanji berpikir sejenak. Ia memikirkan rencana supaya Luffy mau memberitahunya. Setelah beberapa detik, ia tersenyum. Ia mengetahui apa yang harus ia lakukan.

"Ayolah Luffy, kita 'kan nakama. Tidak boleh ada rahasia diantara kita semua. Kau sendiri yang bilang seperti itu." Kata Sanji sambil tersenyum licik.

Luffy semakin panik melihat senyum Sanji. "Ti-tidak ada apa-apa Sanji. Aku tidak bohong."

"Baiklah jika kau tidak mau memberitahu. Aku tidak akan memaksamu." Kata Sanji. Luffy merasa lega karena Sanji tidak memaksanya lagi.

"Tapi, karena kau tidak mau memberitahuku, kau tidak boleh makan di Baratie untuk selamanya." Kata Sanji penuh penekanan di bagian 'tidak boleh makan' dan 'selamanya'.

JEDAAARRRR.

Luffy menganga syok.

Apa katanya?

Tidak boleh makan di Baratie untuk selamanya?

WHAT.

THE.

HELL?

Hening.

...

...

...

"NANIIIIIIIIIIIIIII!"

Jeritan Luffy menggelegar dengan dahsyatnya. Penampakan Luffy kini menyerupai seorang anak kecil yang baru saja melihat kehancuran dunia.

"Tu-tunggu Sanji. Tadi kau hanya bercanda 'kan?"

Sanji hanya tersenyum. "Tentu saja aku tidak bercanda. Kau tidak boleh makan di Baratie selamanya."

"NANIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!"

Tidak boleh makan di Baratie selamanya.

SELAMANYA?

Ah, ini tidak bisa dibiarkan. Apa jadinya jika Luffy tidak makan di Baratie untuk selamanya. Tidak makan makanan terenak untuk selamanya. Bisa-bisa Luffy menjadi gila. Baginya, yang terpenting adalah makanan, terutama daging. Setiap dipikirannya hanya ada daging. Daging daging dan daging.

Meat is for live.

"Ku-kumohon Sanji, aku tidak akan bisa bertahan hidup jika aku tidak makan masakanmu." Luffy memohon dengan sangat. Ia mulai nangis(bukan betulan).

"Baiklah. Aku tidak akan melarangmu makan di Baratie. Tapi ada satu syarat."

"Apa? Apa syaratnya?"

"Kau harus memberi tahuku kejadian apa yang telah terjadi di atap tadi?" Kata Sanji sambil evilsmile ke Luffy. Yes, Rencananya berhasil. Sanji tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah tahu, jika mengancam Luffy dengan kata 'tidak boleh makan' akan sangat berhasil.

"APA? KENAPA SYARATNYA ITU?"

"Jika kau tidak mau, kau tidak boleh makan di Baratie."

"WUAAHH. BAIKLAH, AKU AKAN MEMBERITAHUMU."

"JANGAN LUFFY! JANGAN TERKECOH OLEH OMONGANNYA!" Teriak Ace panik. Ia langsung pergi membawa kabur Sanji.

"Apa-apaan kau Sanji?" Tanya Ace. Hampir saja Luffy memberitahu rahasianya.

"Tidak apa-apa 'kan Ace. Kita ini nakama, tidak boleh ada rahasia di antara kita." Kata Sanji.

"Hah? Nakama darimananya? Aku ini bukan anggota geng Mugiwara. Jadi aku tidak perlu membongkar rahasiaku."

"Tapi rahasiamu sama dengan rahasia ketua kami. Lagipula si marimo ini mengetahui rahasiamu juga." Kata Sanji penuh kemenangan. Mudah sekali menjebak mereka semua.

'Gawat. Bagaimana ini.' Batin Ace. Nyawanya berada di ujung tanduk.

"Ayolah, katakan. Aku tidak akan memberitahu yang lain."

"Baiklah. Aku akan memberitahumu." Ace hanya dapat pasrah. Tidak ada gunanya menyembunyikan rahasianya ke Sanji. Pemuda pirang ini sangat berbahaya. Lagipula ia tidak akan memberitahu yang lain. Tidak ada salahnya memberitahunya.

"Sebelum aku memberi tahumu, aku harus bilang bahwa kejadian itu hanya kecelakaan. Jadi jangan salah paham."

"Baiklah."

"Sebenarnya..." Bisik Ace ke Sanji. Sanji mendengar dengan seksama. Tiba-tiba parasnya jadi merona. Matanya membelalak kaget. Tidak percaya apa yang ia dengar.

"Ja-jadi kau dengan Luffy..."

"Ya. Tapi itu hanya kecelakaan. Sama sekali tidak ada hubungan apa-apa diantara kami. Kumohon, jangan beritahu yang lain." Pinta Ace ke Sanji.

"Baiklah, aku tidak akan memberitahu yang lain. Tapi ada satu yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa?"

"Apa kau jatuh cinta pada Luffy?" Sanji langsung bertanya to the point. Paras Ace merona dengan pekatnya.

"I-iya." Jawab Ace.

"Lalu, kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?"

"Belum. Aku masih belum punya keberanian untuk menyatakannya."

"Apa? Seharusnya kau katakan pada Luffy. Cepat nyatakan cintamu padanya, sebelum Luffy direbut oleh orang lain." Saran Sanji ke Ace.

"Ta-tapi..."

"Meskipun Luffy pemimpin geng Mugiwara dia sangat populer dikalangan perempuan dan laki-laki. Sudah banyak orang yang menyatakan cinta padanya. Kau harus cepat."

"Tapi, apa Luffy juga mencintaiku?"

"Hah? Alasan macam apa itu? Jika kau memang sungguh-sungguh mencintainya, kau harus menerima apapun resikonya. Aku yakin, Luffy pasti juga mencintaimu." Kata Sanji dengan nada yakin.

"Darimana kau tahu?" Tanya Ace heran. Dengan PeDe-nya Sanji mengatakan bahwa Luffy juga mencintainya?

"Tentu saja aku tahu. Luffy adalah sahabatku sejak kecil. Meskipun ia tidak pernah tahu soal cinta, aku yakin dari gelagatnya mengatakan bahwa ia juga mencintaimu."

Ace terpana dengan perkataan Sanji. Tak disangka ternyata pemuda berambut pirang ini pintar juga. Sanji sangat yakin dengan perkataannya. Mungkin, perkataan Sanji ada benarnya juga. Jika Sanji berkata seperti itu, Ace hanya dapat mempercayainya.

"Terima kasih Sanji. Kata-katamu sangat membantuku."

"Tentu saja. Jika kau ingin berdiskusi denganku, aku tidak akan segan mendengarkannya."

"Sekali lagi terima kasih." Kata Ace dan pergi meninggalkan Sanji

Tiba-tiba Zoro menghampiri Sanji. "Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali? Luffy sudah mengamuk karena kau tidak memberinya bekal makanan." Kata Zoro.

"Cuma membicarakan tentang Luffy."

"Ooo begitu." Kata Zoro tersenyum lega.

Sanji menatap Zoro dengan heran. Entah kenapa Zoro kelihatan beda dari yang tadi. 'Apa yang terjadi dengan marimo ini? Kenapa tiba-tiba ia kelihatan berbeda?'

"Hey, kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh denganku?" Tanya Zoro.

Pertanyaan Zoro mebuyarkan lamunan Sanji. "Eh, tidak ada apa-apa."

"Oh begitu. Kalau ada masalah katakan saja padaku." Kata Zoro sambil tersenyum dengan lembut.

DEG.

Sanji menatap Zoro dengan takjub. Belum pernah ia melihat Zoro tersenyum selembut itu. Parasnya merona, jantungnya berdetak dengan kencang. 'Kenapa senyuman Zoro kelihatan berbeda? Kenapa senyumannya membuatku berdebar? Ada apa denganku sebenarnya.'

Sanji merasa senang ketika ia melihat Zoro tersenyum dengan lembut. Ia pun membalas perkataan Zoro dengan senyuman lembut.

"Terima kasih Zoro."

DEG

Senyuman Sanji kontan membuat Zoro berdebar. Perasaan hangat membasuh hatinya. Ia tidak tahu kenapa bisa begini. Tapi ia merasa sangat senang.

Apa yang akan terjadi dengannya nanti, ia hanya dapat menerima dengan ikhlas.

.

TBC

.


A/N : Saya rasa, chapter yang ini parah. Saya hanya ketik asal-asalan. Mohon maaf jika masih banyak typo. Yup, saatnya membalas review.

Nami : Review kali ini saya yang balas.

Usopp : With me.

Nami : Pertama dari Shinahoshi 1. Makasih atas pujiannya. Maaf jika masih banyak typo. Dan pesan untuk Sabo dan Marco sudah kusampaikan

Sabo : OGAH. MENDINGAN GUA MATI DITEMBAK TENRYUUTOBI.

Marco : GUA LEBIH MILIH MATI MELAWAN ANGKATAN LAUT.

Nami : Begitulah.

Zoro : Untung gua tidak diancam.

Usopp : Selanjutnya dari N and S and F. Usernamemu terlalu panjang. Tapi tidak apa-apa. Makasih buat reviewnya. Author akan berusaha update kilat kalau dia tidak sibuk.

Nami : Lalu dari via-sasunaru. Author memang begitu. Dia suka sekali adegan yang ada kissnya. Maklum.

Auhtor : Begitulah aku #grins.

Usopp : Terakhir dari Portgas D Ren. Makasih pujiannya dan makasih reviewnya.

AceLu : Terus ikuti 'First Love in 2 Gank'. Don't forget to review.

Jaa~~Nee~~