THE DOLPHIN TRAINER

By Sava Kaladze's

Disclaimer: Absolutely, Tite Kubo..

Chapter 3

.

.

.

Karakura Mall.

Tempat itu terletak di jantung kota Karakura. The center of the city. Pusat perbelanjaan yang terdiri dari 8 lantai itu berdiri megah sebagai satu-satunya mall termegah di Karakura. Dibangun oleh keluarga Yamamoto, mall itu dianggap sebagai landmark modern kota itu. Semua jenis toko ada di mall tersebut. Semua perlengkapan kebutuhan rumah tangga, makanan dari seluruh penjuru negeri Jepang bahkan internasional, mainan anak-anak bermacam rupa, pakaian dari garmen tingkat regional sampai desainer kenamaan tingkat dunia, segala macam hal dari yang termurah sampai termahal...singkatnya all you need from head to toe.

Ada tiga toko buku di Karakura mall. Yang pertama adalah toko buku afiliansi dari sebuah negara superpower di Eropa, Wordbanks. Toko buku itu menjual hampir semua buku yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, dalam semua edisi—hard cover, soft cover dan paperback. Harganya tentu saja beragam, meski selazimnya buku import tetap saja mahal. Wordbanks selalu dipenuhi oleh pengunjung berkulit merah kepucatan—orang Eropa atau Amerika yang berdiam di Karakura. Ada juga orang-orang Jepang yang berkeliaran di toko buku itu, akan tetapi mereka umumnya pengajar universitas, bisnisman atau kalangan tingkat atas yang tak segan-segan mengeluarkan uang banyak untuk buku import yang mereka butuhkan.

Toko buku kedua adalah toko buku Akai Hato. Toko buku didesain khusus untuk anak muda. Interior yang berwarna-warni dan cat berwarna cerah mendominasi toko buku yang hampir 70% pengunjungnya adalah remaja. Buku-buku yang dijual didominasi oleh buku cerita anak-anak, novel remaja dan komik. Semua buku disampul plastik selayaknya buku-buku yang dijual di toko buku biasa, akan tetapi selalu ada satu eksemplar yang boleh dibaca gratisan dan jika tidak mau menunggu, pengunjung dapat langsung membeli. Banyak sekali kolektor yang sengaja datang untuk membeli di sana dan dengan sukarela mendaftar menjadi member tetap toko buku Akai Hato. Setiap member di toko buku tersebut berhak mendapat diskon 5% pembelian buku dan komik apa saja dan juga plastik pembungkus cover buku secara cuma-cuma. Pantas saja toko itu selalu ramai oleh kolektor komik—mereka merasa benar-benar dmanjakan.

Toko buku ketiga adalah toko buku Hanazawa. Toko buku yang satu ini adalah toko buku yang kepemilikannya dimiliki oleh orang lokal—orang asli Karakura. Seorang pengusaha pecinta buku bernama Ishida Uryuu menawarkan konsep toko buku yang berbeda dari dua toko buku lainnya yang ada di Karakura Mall. Interior Hanazawa lekat sekali dengan budaya Jepang. Rak-rak yang menyimpan bukunya adalah rak-rak kayu tradisional. Buku-buku yang dijual juga didominasi buku berbahasa Jepang, meski ada juga buku-buku berbahasa lain yang dijual meski tidak terlalu banyak. Di dalam toko buku terdapat cafe kecil yang menyerupai kedai minum teh—dengan tatami dan meja kecil. Semua penganan dan minuman yang bisa dipesan adalah resep tradisional Jepang. Para pelayannya pun mengenakan yukata dan hakama. Singkat kata, begitu seorang pengunjung masuk ke dalam toko buku Hanazawa ia akan merasa kembali ke suasana tempo dulu. Nyaman dan vintage.

Nah di toko buku itulah Rukia berdiri di depan salah satu rak buku-buku cerita anak. Ia menunggu kedatangan seseorang. Seseorang yang minggu-minggu terakhir ini selalu berkirim pesan singkat dengannya melalui telepon seluler.

The dolphin trainer—Kurosaki Ichigo.

Rukia mengenakan baju terusan berwarna biru muda dengan renda manis di sekeliling leher dan tangan bajunya. Rambutnya yang hitam sebahu baru saja ia keramas tadi siang sehingga masih tercium aroma strawberry khas shampoo kesukaannya. Di bahunya tergantung tas bertali panjang dengan ukuran sedang. Sepatu berhak sedang dengan lilitan tali hingga ke tungkai terlihat menambah manis kakinya yang jenjang.

Ia terlihat manis sekali.

Rukia melirik arlojinya. Sudah pukul 5 lewat 5 menit, akan tetapi belum terlihat tanda-tanda bahwa pemuda bernama Ichigo akan menunjukkan batang hidungnya. Wajah manis gadis itu mulai terlihat cemas. Bagaimana tidak? Ia sengaja datang 30 menit lebih awal agar bisa mempersiapkan dirinya untuk bertemu pelatih lumba-lumba yang telah membuatnya nekad meminta nomor teleponnya. Itu berarti sudah 35 menit ia berdiri menunggu. Kakinya sudah agak pegal. Penjaga toko berpakaian yukata sudah berkali-kali mondar-mandir di depannya seakan-akan mau mengecek apa yang sedang ia lakukan. Tentu saja Rukia merasa tidak enak. Ingin sekali ia langsung masuk ke cafe dan memesan minuman, akan tetapi ia jelas sekali menulis bertemu di children's book section di sms nya yang terakhir kepada Ichigo.

Itu sebabnya ia kekeuh berdiri selama 35 menit di depan rak buku cerita anak-anak.

Seorang pemuda mengamati sosok mungil Rukia dari balik sebuah rak yang besar. Ia memakai sebuah topi karet yang menutupi seluruh rambutnya yang berwarna orange mencolok. Tentu saja ia memakai topi itu dengan tujuan yang jelas—ia tidak ingin segera dikenali oleh siapapun yang akan langsung mengenalinya dengan hanya melihat warna rambutnya.

Seperti gadis berbaju biru itu misalnya.

Ichigo merengut sebal. Ia benar-benar tidak ingin pergi ke toko buku ini. Tidak ingin bertemu dalam suatu kencan buta atau apapun namanya dengan gadis yang sama sekali ia tidak kenal. Ia kan memang tidak kenal gadis itu, terlepas kenyataan bahwa dirinya dan gadis itu secara intens saling berkiriman sms akhir-akhir ini. Nomor teleponnya, iya. Dirinya, tidak. Bukan dirinya yang mengirim sms pada gadis bernama Rukia itu. Grimmjow sahabatnya yang melakukan itu.

Grimmjow tinggal di satu gedung apartemen yang sama dengannya. Hanya berselang tiga pintu. Mudah saja baginya meminjam telepon genggam Ichigo, toh Ichigo mempunyai 2 buah telepon genggam yang berbeda nomor.

Pertanyaannya...kenapa?

Pemuda berambut biru itu hanya ingin membantu Ichigo mendapatkan gadis yang tepat. Itu saja. Tidak lebih tidak kurang, kata Grimmjow. Grimmjow agaknya bosan melihat Ichigo selalu berkutat di sekitar kolam renang dan apartemen saja. Ia yang terkenal mudah menaklukkan gadis manapun yang dia mau dengan tatapan matanya saja, ingin Ichigo berkencan dengan gadis yang baik. Seperti Rukia itu misalnya.

Masalahnya hanya satu.

Rukia benar-benar bukan tipe gadis impian Ichigo.

Ichigo melirik gadis bernama Rukia yang terlihat cemas menunggu di depan rak buku anak-anak. Lagi-lagi ia merengut. Gadis itu benar-benar bukan tipenya. Wajahnya sih cantik, tapi tubuhnnya terlalu mungil, rambutnya juga hitam dan tidak panjang dan yang paling tidak menarik di mata Ichigo, dadanya terlalu rata.

Duh, jauh sekali dari gambaran Ichigo tentang gadis impiannya. Ia perlahan tersenyum dan bayangan gadis berambut pirang, bertubuh sintal dengan senyuman menggoda dan dada yang menggairahkan spontan terpeta dalam otaknya. Ya ya ya...gadis seperti yang ia lihat di majalah-majalah pria luar negeri itulah yang ia impikan. Bukan seperti gadis itu, matanya mengarah pada Rukia.

Ia sudah cukup melihat dan tetap tidak ada suatu perasaan apapun yang membuatnya ingin bertemu dengan gadis itu dalam suatu kencan.

Dengan tergesa pemuda bertopi itu meninggalkan toko buku Hanazawa.

Sesosok lain yang berada di sudut lain dari toko buku itu menggeram kesal saat ia menyaksikan pemuda bertopi meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa. Amarahnya mendadak memuncak. Susah payah ia lakoni atur pertemuan antara Ichigo dengan Rukia sore ini dan dengan mudahnya pemuda itu pergi begitu saja! Sungguh terlalu!

Grimmjow yang berdiri di depan rak buku masak mengepalkan tangannya dengan kesal. Sangat-sangat kesal.

Sudah lebih dari setengah jam ia berdiri di situ. Ia ingin memastikan bahwa kencan yang ia rencanakan via sms atas nama Ichigo berjalan dengan lancar. Alih-alih berjalan seperti yang ia rencanakan, Ichigo malah kabur dari tempat ini.

Grimmjow menghela nafas dalam-dalam, mencoba meredakan kekesalan hatinya. Ia lalu melirik gadis berbaju biru yang masih setia berdiri sambil sesekali mengambil buku cerita anak-anak dari rak, membaca sinopsis cerita di bagian belakang buku, lalu kembali menoleh ke arah lorong toko buku seakan menantikan sesuatu.

Wajah gadis itu terlihat cemas.

Grimmjow melirik arlojinya. Sudah pukul 5.25, wajar jika gadis itu terlihat cemas. Hampir 1 jam ia berada di tempatnya berdiri. Ia pasti kelelahan dan tidak sabaran. Grimmjow sungguh tak tega. Secara teknis kan ia yang sebenarnya mengajak gadis itu berkencan atas nama Ichigo tentunya.

Pemuda berambut biru itu lalu memantapkan dirinya untuk melakukannya. Tak mungkin ia membiarkan gadis itu terus berdiri di tempatnya selama beberapa jam ke depan kan? Seseorang harus menyelamatkannya kan?

Ia lalu melangkah dengan cepat ke hadapan gadis itu.

Rukia terlonjak dari tempatnya berdiri saat sesosok tinggi berambut biru yang sangat mencolok muncul di depannya dengan tiba-tiba. Rukia menatap pemuda di depannya dengan kebingungan. Ia tak mengenal pemuda ini, meski samar-samar ia merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat.

"Rukia?"

Suara bariton yang khas keluar dari mulut pemuda itu. Suara yang terdengar sangat macho, sangat kelaki-lakian. Rukia sekali lagi terlonjak dari tempatnya berdiri. Ia mendongak menatap pemuda yang bertubuh sangat tinggi itu.

"Kamu Rukia kan?"

Rukia mengangguk dengan ragu-ragu. Bagaimana pemuda ini mengetahui namanya sedangkan ia yakin sekali ia tak mengenal pemuda ini?

Pemuda itu tersenyum.

Senyuman yang membuat lutut Rukia mendadak lemas. Senyuman yang pasti membuat puluhan gadis di luar sana juga akan lemas lututnya. Senyuman maut yang kiranya hanya dimiliki oleh Don Juan de Marco yang terkenal akan kelihaiannya menggaet wanita-wanita cantik.

Rukia cepat-cepat mengatur keterkejutannya.

"Maafkan keterlambatanku. Temanku Ichigo mendadak sakit perut tadi siang dan tak bisa datang kemari menemuimu. Ia lupa mengabarimu, dan baru ingat sore tadi. Ia tak bisa menghubungimu, jadi segera saja mengutusku. Sekali lagi...aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu begitu lama," pemuda itu lalu membungkukkan punggungnya dengan takzim.

Rukia terpana melihat pemuda itu membungkuk hormat padanya. Segera ia bungkukkan juga punggungnya.

"Tidak apa-apa. Aku baru saja sampai kok, tidak menunggu terlalu lama. Mungkin baru beberapa menit yang lalu,"ujar Rukia dengan suara yang terdengar tak enak dengan sikap pemuda di depannya.

Grimmjow mengangkat tubuhnya. Beberapa menit yang lalu? Ia tahu pasti Rukia sudah sampai hampir sejam yang lalu. Benar-benar sikap seorang wanita yang baik, pikir Grimmjow, ia tak ingin membuat lawan bicaranya merasa bersalah.

"Kenalkan, aku Grimmjow Jeagerjacques,"ujar Grimmjow seraya mengulurkan tangannya.

Gadis berambut hitam itu menyalami tangan kekar yang terulur di hadapannya dengan ragu,"Rukia...Kuchiki Rukia."

"Aku banyak dengar cerita tentangmu,"ujar Grimmjow. Karena aku yang selama ini mengirimkan sms padamu, lanjutnya dalam hati.

Rukia tersenyum malu. Ia tertunduk sesaat.

Grimmjow terkesima melihat senyuman malu-malu Rukia. Ia tak menyangka gadis itu bisa tersenyum seperti itu. Ia tahu cerita nekad gadis yang meminta nomor telepon Ichigo di Ocean Arena tempo hari dan ia langsung berpendapat, Rukia pastilah seorang gadis agresif yang terbiasa berhadapan dengan laki-laki model apapun juga.

Akan tetapi...Rukia tidak tampak seperti gadis yang agresif seperti yang diceritakan Ichigo. ia tampak baik. Kesan yang sebenarnya terlihat dari isi sms-smsnya. Ia memang gadis baik-baik. Akan tetapi di hadapannya, ia juga melihat bahwa Rukia sepertinya gadis yang polos.

Mendadak rasa penyesalan menyeruak dari dalam hati pemuda itu. Ia kan telah membohongi gadis itu. Ia telah menimbulkan kesan bahwa Ichigo naksir gadis itu. Duh Grimmjow ingin rasanya menonjok wajahnya sendiri!

Rukia lalu mengangkat wajahnya. Ia menatap Grimmjow dengan sorot mata kelelahan. Ia sudah berdiri di toko itu selama satu jam tanpa istirahat, sudah pasti ia merasa lelah.

"Jeagerjacques san, aku mohon pamit,"kata Rukia lembut.

Grimmjow terpana sesaat. Tak menyangka kalimat tersebut akan keluar dari gadis itu.

"Cukup Grimmjow saja!"serunya cepat.

Rukia segera mengangguk,"Oh...Grimmjow? baiklah. Terima kasih sudah mengabari ketidakhadiran Ichigo padaku. Aku pamit."

"Kau mau pergi?"tanya Grimmjow—tidak percaya.

Rukia mengangguk,"Aku ada janji dengan Ichigo. Jika ia berhalangan, aku lebih baik pulang. Sampaikan saja salamku agar ia lekas sembuh."

Grimmjow menggelengkan kepalanya berkali-kali,"Tapi kan bukan berarti kau harus langsung pulang," Tidak setelah kau menunggu satu jam demi si Kampret itu, Rukia,"Ini sudah hampir malam. Bagaimana kalau aku traktir kau makan malam?"

Rukia terdiam. Ia menimbang-nimbang.

Ia terpesona pada pandangan pertama terhadap pelatih lumba-lumba bernama Ichigo dan dengan spontanitas yang mencengangkan, meminta nomor telepon pelatih lumba-lumba itu. Ia yang duluan memulai pertemanan mereka dengan mengirim sms dan seperti yang ia harapkan, Ichigo membalasnya. Ichigo yang mengusulkan kencan ini, akan tetapi ia tak datang karena sakit. Ia mengutus seorang temannya yang warna rambutnya tak kalah aneh untuk mengabarinya. Sekarang teman Ichigo ini mengajaknya makan malam?

Apa bijaksana menerima tawaran makan malam dari teman seseorang yang kau taksir, Rukia? tanya Rukia dalam hatinya.

"Please..."ujar Grimmjow seakan ingin meyakinkan gadis yang masih terlihat ragu di hadapannya.

"Apa tidak merepotkan kamu?"Rukia masih ragu.

"Tidak. Sama sekali tidak."

"Aku tak enak hati. Kamu kan hanya dimintai tolong mengabari kondisi Ichigo."

"Jangan begitu. Aku free malam ini dan si kam...maksudku, Ichigo juga pastinya tidak keberatan aku mengjakmu makan malam. Ini kan salah dia,"Grimmjow menyeringai membayangkan wajah berkerut Ichigo yang malam ini terasa menyebalkan di mata Grimmjow.

"Ia kan sakit, mana bisa disalahkan?"

Grimmjow mengangguk. Betul, sakit jiwa. Atau minimal, sakit mata,"Oh iya, Ichigo kan sakit ya."

Rukia menghela nafas—masih menimbang. Ia melirik Grimmjow yang terlihat berharap ia mengiyakan tawarannya. Rukia mendadak merasa tak enak hati. Pemuda berambut biru ini sepertinya serius.

"Baiklah."

Grimmjow langsung tersenyum sumringah. Beban penyesalan di hatinya terasa agak berkurang. Setelah membuat gadis ini menunggu sejam lebih, paling tidak ia bisa mentraktirnya makan—dengan begitu ia tidak terlalu merasa bersalah.

"Oke, mari kita tinggalkan tempat ini,"bisik Grimmjow.

.

.

.

.

Sebuah restoran di Karakura Mall.

Grimmjow memilih sebuah restoran masakan china untuk mentraktir Rukia. Restoran itu menyajikan segala macam masakan china yang dimasak langsung oleh koki yang berasal dari Hongkong dan Taiwan. Restoran bermana Red Bowl itu cukup terkenal dengan makanannya yang lezat dan harganya yang agak mahal. Pengunjungnya pun biasanya kalangan berduit dan harus mereservasi tempat sebelumnya jika ingin berkunjung ke Red Bowl.

Rukia agak heran Grimmjow membawanya ke tempat itu.

Pelayan membawa mereka ke sebuah kamar yang letaknya agak ke dalam restoran. Awalnya Rukia ingin protes karena harus makan di ruangan yang tertutup berdua saja, namun ia baru sadar memang seperti itulah ruangan makan di restoran ini. Semuanya merupakan ruangan-ruangan yang disekat seperti kamar-kamar sendiri. Tujuannya pasti hanya satu, untuk menjaga privasi.

Kamar makan itu tidak begitu besar. Jendela kaca sewarna pelangi mengelilingi dua sisi dinding kamar itu. Jendela yang besar terletak di depan meja—merupakan jendela menuju view ke atas panggung yang terletak di tengah-tengah restoran. Seorang wanita cantik berparas sangat oriental menyanyikan lagu-lagu Teresa Teng. Rukia langsung menyimpulkan pastilah di dalam setiap kamar makan ada jendela yang memungkinkan pengunjungnya menonton pertunjukan di atas panggung.

Pantas saja harus reservasi.

Rukia melirik Grimmjow yang sedang membaca daftar menu di seberang meja. Pemuda itu memiliki dagu yang lancip, rahang yang tegas dan mata biru laut sewarna dengan rambutnya.

Mata pemuda bernama Grimmjow itu...pastilah daya tarik utamanya selain senyum, pikir Rukia dalam hati. Matanya yang biru laut itu indah sekali—kedua bola matanya mengesankan keteduhan dan ketenangan. Akan tetapi saat orang beralih dari mata ke rambutnya yang senada, kesan teduh dan tenang itu langsung berubah 180 derajat. Rambutnya yang biru itu malah membuatnya terlihat pembangkang, pencinta kebebasan dan agak urakan.

Dua hal yang bertolak belakang berada dalam satu sosok pemuda.

Entah kenapa dua hal berlawanan itu malah membuat pemuda ini terlihat...menarik.

Deg!

Rukia tersentak sendiri. Apa hatinya tidak salah kasih komentar barusan? Hatinya bilang pemuda di depannya ini menarik?

"Mau pesan apa?"tanya Grimmjow yang sukses menyadarkan Rukia dari lamunannya.

Rukia segera meraih daftar menu di atas meja dan membaca sekilas. Ia sedikit terbelalak melihat harga makanan yang tertera dan langsung memutuskan tidak mau melihat daftar harga makanan di halaman-halaman berikutnya.

"Jadi...Rukia mau pesan apa?"tanya Grimmjow lagi.

"Ikut pesanan kamu saja deh,"jawab Rukia singkat.

Alis mata pemuda di depannya berkerut,"Ikut pesananku? Yakin?"

Gadis bermata ungu itu mengangguk.

"Oke..."Ia menunjuk daftar menu di tangannya pada pelayan yang sedari tadi berdiri di samping meja dengan takzim,"Aku pesan dua nasi hainam, satu porsi capcay seafood, satu bebek goreng peking, empat porsi dimsum juga...campur antara siomay, hakau, hisit udang juga," Grimmjow membuka-buka daftar menu lagi,"Untuk makanan pembuka aku pesan sup asparagus dan makanan penutupnya...es burung walet. Keduanya dua porsi. Minumannya..."Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari daftar menu ke arah Rukia,"Kau suka minum apa?"

Rukia terbelalak mendengar semua pesanan yang dibacakan Grimmjow. Banyak sekali! Siapa yang mau makan sebanyak itu?

"Air putih saja,"jawab Rukia cepat.

"Oke...dua air putih,"ia menyerahkan daftar menu ke tangan sang pelayan,"Nanti kalau ada lagi yang akan kupesan akan aku ya, tidak pakai lama ya?"

Pelayan itu mengangguk dengan takzim. Ia membacakan seluruh pesanan Grimmjow sekali lagi, lalu pergi keluar kamar setelah Grimmjow mengiyakan pesanannya.

Rukia masih terkaget-kaget dengan pesanan Grimmjow. Ia menatap pemuda di seberangnya dengan mata setengah melotot.

"Kamu mau makan semuanya?"

Grimmjow melayangkan pandangannya ke arah penyanyi cantik yang sedang menyanyikan sebuah lagu Teresa Teng dengan mendayu-dayu. Tidak seindah suara penyanyi aslinya, tapi juga tidak buruk. Suara penyanyi itu cukup merdu untuk ukuran penyanyi klub.

"Bukan aku, tapi kamu,"tukas Grimmjow—tetap menatap penyanyi di atas panggung.

"What? You've gotta be kidding me!"

Grimmjow menoleh dan mendapati wajah Rukia memerah. Ia langsung terkikik.

"Just kidding, Rukia."

"Kenapa pesan sebanyak itu?"Rukia masih panik.

"So we have plenty of time to talk."

"About what?"

Grimmjow menyeringai,"Ichigo tentunya."

Mendengar nama yang disebut barusan, hati Rukia mendadak dagdigdug. Bayangan pemuda tampan berambut orange berkelebat di benaknya—sukses membuatnya terpaku di kursinya dan bersiap menyimak perkataan Grimmjow tanpa ketinggalan satu patah kata pun.

"Aku dan dia pelatih lumba-lumba di Ocean Arena..."Grimmjow memulai ceritanya.

Itu menjelaskan kenapa ia merasa ini bukan pertama kalinya ia melihat pemuda ini. Rambut yang mencolok itu kan trademark para pelatih lumba-lumba di Ocean Arena saat ia dan murid-muridnya menonton pertunjukkan lumba-lumba tempo hari.

"Ichigo adalah pelatih yang paling berkomitmen tinggi dalam melatih lumba-lumba. Mamalia itu adalah hidupnya, kepada siapa ia mencurahkan perhatian dan keseriusannya. Beda lah denganku."

"Heh...maksudmu?"Rukia tambah tertarik dengan cerita Grimmjow.

"Aku jadi pelatih lumba-lumba karena aku suka berenang dan suka binatang. Tidak berniat menjadikan ini sebagai profesiku. Lain dengan Ichigo, seluruh keluarganya bekerja di Ocean Arena dan wahana rekreasi lainnya. Menjadi pelatih lumba-lumba adalah impiannya sedari kecil."

Rukia tersenyum. Impian sedari kecil memang membuat seseorang mencurahkan waktu dan tenaganya untuk mencapainya. Seperti dirinya juga. Ia selalu ingin menjadi guru sejak kecil...dan sekarang ia telah mencapai impian masa kecilnya itu.

Grimmjow terdiam sesaat. Ia terpaku melihat senyuman yang terulas di bibir mungil gadis di depannya. Senyuman itu terlihat ringan namun sangat membius, karena jarang sekali disunggingkan pemilik bibir itu.

Apa karena ia jarang bertemu gadis ini?

Rukia seorang guru, ia pasti sering tersenyum pada anak muridnya.

Apa gadis ini sadar, senyumannya demikian membius?

Grimmjow menarik nafas panjang.

Ia harus berhasil dengan misinya mendekatkan Ichigo dengan gadis bernama Kuchiki Rukia ini. Ichigo harus melihat gadis ini dengan mata hatinya, bukan dengan mata fisiknya. Harus! Ia akan membuat Ichigo membuka matanya lebar-lebar. Pasti itu!

Tak berapa lama kemudian satu-persatu pesanan datang dan mereka memulai santap malam itu dengan perlahan. Kedua telinga Rukia siap mendengarkan semua cerita Grimmjow. Grimmjow pun siap mengumpulkan semua kelebihan hati itu di dalam otaknya.

Ia harus menyusun rencana, rencana dan rencana.

...

...

...

To be continued.

.

.

.

A/N:

Aku tertawa-tawa sendiri membaca review yang masuk dari reman-teman sekalian, hehehehehehe...

Makasih banyak untuk yang udah review chapter 2: Arlheaa, Bl3achtou4ro, minami kyokai, zangetsuichigo13, girlinlightblue, kurochi agitohana, ougon22, chappynk ichiruya, jee-ya zettyra, eka kuchiki.

Review kalian semua adalah penyemangat buat aku update di tengah-tengah kesibukan tanpa jeda hehehehhehehe...