Desclaimer © Mashasi Kishimoto

Love Me Harder © Luminouse

Warning! : OOC, Typo (s)

Chapter 3 : Touch it.

.

.

.

.

.

"Ayahmu bekerja sebagai manager, 3 tahun yang lalu dia meninggal akibat serangan jantung yang di deritanya. Ibumu menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan adikmu saat ini masih bersekolah dan tinggal bersama ibumu," Hinata hanya bisa terdiam mendengar apa yang Sasuke katakan.

"Keluargamu saat ini hidup bergantung pada ansuransi dan dana pensiun yang di tinggalkan oleh ayahmu. Demi tidak membuat ibumu khawatir, sepertinya kau tak pernah mengatakan pada ibumu tentang pekerjaanmu. Dan kau bahkan memutuskan untuk bersekolah disini dan tinggal terpisah dengan ibumu."

"Kau..apa kau mencari informasi tentang diriku?!" Hinata mengepalkan tangannya dan menatap sengit Sasuke yang saat ini berjalan menuju jendela besar dan menutupnya dengan gorden.

"Apa yang kau lakukan?"

"Put on that outfit now. Tenang saja, aku tidak akan mengintip dan merekamnya."

"Apa kau beharap aku akan menggantinya di depanmu?!" Hinata melemparkan blazer sekolahnya hingga menutupi wajah laki-laki itu. Dengan cepat gadis itu mengambil box yang berada di sampingnya dan berjalan kearah kamar mandi yang berada di dalam ruang music tersebut. Sedangkan Sasuke hanya bisa tersenyum kecil tanpa berniat menyingkirkan blazer Hinata yang menutupi wajahnya.

"Ha..such an exciting moment." Gumamnya sambil mengangkat blazer yang menutupi wajahnya. Tepat saat itu, Sasuke melihat Hinata berjalan keluar dari kamar mandi sambil menunduk. Gadis itu mengenakan pakaian yang berada di dalam box itu. Blouse putih lengan panjang yang ia padukan dengan mini skirt hitamnya.

Sasuke hanya bisa terpaku beberapa saat dan segera bangun dari duduknya untuk berjalan mendekati gadis itu.

"Aku tak pernah memikirkan, aku bisa bertemu dengan gadis sepertimu." Hinata mendongak saat melihat Sasuke berdiri di hadapannya.

"Tentu saja, kau..kau tak seharusnya bertemu denganku." Gadis itu menatap kilatan mata gelap yang menatapnya dengan tatapan mata yang tajam dan tegas. Hinata memejamkan matanya saat tangan Sasuke melepaskan kacamata yang ia gunakan.

"Ah..jika kau menggunakan sedikit make up di matamu, you'd look exactly like a doll Hinata." Hinata menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Gadis itu segera mengambil kembali kacamatanya.

"Cu..cukup, aku akan kembali ke kelas." Hinata segera berbalik, namun sebelum melangkahkan kakinya, gadis itu merasakan pergelangan tangannya di genggam dan juga merasakan punggungnya menempel dengan dada Sasuke.

"Kau berniat untuk kembali ke kelas dengan penampilan seperti ini?" Hinata hanya bisa menggigit bibirnya saat mendengar Sasuke berbisik di telinganya. Jantungnya berdegup saat melihat tangan laki-laki itu mulai melepaskan kancing teratas blousenya.

"Apa yang kau-" Sasuke tak berniat mendengar protes yang keluar dari mulut gadis itu. Dengan cepat tangannya memegang dagu Hinata sehingga membuat gadis itu mendongak dan menatapnya.

"Aku sudah cukup memberimu waktu saat kau mengganti pakaianmu tadi. So, don't try to defy me this time."

.

.

.

.

.

Hinata hanya bisa berdoa dalam hati dan merenungi kembali masa lalunya. Mungkin dirinya telah melakukan kesalahan sehingga Tuhan menghukumnya dengan cara ini. Menghukumnya sehingga ia bertemu dengan laki-laki kurang ajar yang dengan cepat mengontrol hidupnya. Hinata hanya ingin hidup dengan tenang tanpa adanya masalah.

Hinata menunduk dan memejamkan matanya saat melihat Sasuke berhasil melepaskan kancing ketiga dari blouse yang ia pakai. Hinata tak ingin menjadi gadis lemah dan mudah menyerah dengan keadaan yang saat ini sedang mempermainkannya. Gadis itu membuka matanya saat melihat Sasuke tak lagi melanjutkan aksinya. Namun tubuhnya menegang saat dengan sengaja laki-laki itu menurunkan sebelah blousenya sehingga pundak dan leher gadis itu bisa merasakan dinginnya udara yang menusuk kulitnya.

Sasuke menunduk dan menghirup aroma harum dari tubuh Hinata. Tangannya mengelus pelan pundak halus gadis itu.

"Cukup!" Hinata berbalik menghadap Sasuke dan menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangannya. Gadis itu menatap sengit Sasuke yang saat ini hanya terdiam memperhatikannya. Gadis itu segera menahan tubuh Sasuke saat melihat laki-laki itu mencoba mendekatinya kembali.

"Aku mohon..biarkan aku pergi." Sasuke menatap datar gadis di hadapannya dan segara mendorong tangan gadis itu sehingga membuatnya jatuh terduduk di tangga kecil di belakangnya. Sedangkan Sasuke menekuk kedua lututnya dan sedikit mendongak menatap wajah Hinata yang saat ini sedang memejamkan matanya.

Sasuke segera mendekati leher dan pundak gadis itu dan menciumnya pelan. Laki-laki itu bisa merasakan tubuh Hinata yang menegang. Dengan pelan Sasuke menghisap kulit leher gadis itu, namun aksinya terhenti saat Hinata mendorong kepalanya sehingga membuatnya mendongak menatap wajah gadis itu.

"Kau! What the hell are you doing!" Sasuke segera bangkit dan mengurung tubuh Hinata dengan kedua tangannya. Sedangkan Hinata saat ini hanya bisa mendongak menatap mata kelam di hadapannya.

"Jika kau melawan, aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang teman-teman kelasmu lakukan."

"Kau! Minggir! Biarkan aku pergi!" Hinata membulatkan matanya saat Sasuke mendekati wajahnya sehingga gadis itu bisa merasakan hembusan nafas dan juga aroma yang menguar dari tubuh laki-laki itu.

Gadis itu terpaku saat kedua hidung mereka bersentuhan. Hinata tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan memberanikan diri gadis itu mencoba untuk mendorong tubuh Sasuke, namun niatnya terhenti saat mendengar bunyi bel tanda jam pelajaran kedua ini telah usai. Dan Hinata merutuki dirinya saat sadar melewatkan jam pelajaran dan lebih memilih meladeni laki-laki di hadapannya.

"Oh..second period class sure flew so fast, don't really wanna end like this." Sasuke segera bangkit dan menjauh dari Hinata. Laki-laki itu tersenyum manis kearah gadis itu.

"But I'll save it for next time, Hinata." Gadis itu hanya terdiam menatap datar laki-laki di hadapannya.

"Oh..pakaian itu sengaja aku beli untukmu, jadi kau ambil saja," Sasuke segera berjalan kearah pintu dan menengok kembali kearah Hinata yang saat ini masih terdiam dan menatapnya.

"dan sebaiknya kau segera bergegas karena tempat ini akan segera digunakan oleh kelas lain. Sebaiknya kau mengganti pakaianmu dengan cepat, Hinata." Sasuke tersenyum kecil menampilkan tampang mengejeknya kearah Hinata.

"Apa?!"

"Let's keep in touch, Hyuuga Hinata." Sekali lagi Sasuke tersenyum dan benar-benar pergi meninggalkan Hinata sendirian.

"Sial! Kembalikan keperawanan pundak dan leherku seperti semula Uchiha Sasuke!" Hinata berteriak histeris dan memeluk tubuhnya dengan kedua lengannya.

"Lain kali aku akan membalasnya! Lihat saja kau!"

Sedangkan Sasuke berjalan dengan santainya meninggalkan ruang music sambil meletakkan kedua lengannya di belakang leher.

"Ah..how do I get back to the classroom." Gumamnya sambil mengabaikan tatapan para gadis yang tanpa sengaja berpapasan dengannya.

"Sial! Itu Uchiha Sasuke!"

"Wow..dia tampan dan tinggi sekali."

.

.

.

.

.

"Apa? Ada seseorang mengetahui tentang pekerjaanmu Hinata?" Hinata mengangguk lesu saat Temari-pemilik High Five Bar and Lounge menanyakan hal itu kepadanya. Saat ini dirinya sengaja ingin bertemu dengan Temari di sebuah cafe dan menceritakan hal ini dengannya.

"Apa dia menyebarkannya ke orang lain?"

"Aku..rasa tidak, tapi sepertinya dia cukup tahu dan tertarik tentang pekerjaanku."

"Sepertinya kau tak terlalu memperdulikannya."

"Apa? Tentu saja aku perduli Temari."

"He..apa dia seorang laki-laki?"

"Hm."

"Apa dia tampan?"

"Semua perempuan di sekolahku bilang begitu."

"Hm..sepertinya menarik."

"Apa? Menarik apanya? Dia sangat menyebalkan! Mesum! Dia arrogant! Dan suka memerintah! Aku benci padanya! Aku rasa kata-kata tak akan cukup untuk menceritakan tentang laki-laki itu."

"Hinata, kau tak boleh seperti itu. Kau akan mudah jatuh cinta padanya kalau seperti itu."

"Tentu saja tidak." Temari hanya membuang nafas pelan dan meminum kembali coffe yang tadi di pesannya.

"Hinata, kau tak ingin memberitahu ibumu tentang pekerjaanmu ini? Aku rasa jika kau berbicara dengannya, ibumu akan mengerti dan menerimanya."

"Tidak! Ibuku tak boleh tahu tentang ini. Jika bisa, aku berharap dia tak akan pernah tahu tentang pekerjaanku." Hinata menunduk dan menatap sendu cairan coklat di cangkirnya. Beberapa saat kemudian gadis itu merasakan handphonenya bergetar dan ada pesan yang masuk. Hinata menghembuskan nafas lelah saat tahu Sasuke yang mengirimkan pesan padanya.

'Weekend free?'

'Annoying! Apa lagi yang mau kau lakukan kali ini?!'

Hinata tersentak melihat Temari mendekatkan diri padanya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Sasuke.

"Ho..jadi dia laki-laki itu Hinata? Sepertinya dia akan mengajakmu kencan." Temari tersenyum manis kearah Hinata.

"Apa? Ini bukan kencan Temari." Temari hanya bisa tersenyum kecil saat melihat rona merah di pipi gadis itu.

'See you at the park's bus stop tomorrow at 3 p.m.'

'Don't forget, berpakaianlah seperti saat di ruang music waktu itu^^, good night~'

Hinata menatap kesal deretan pesan yang di bacanya. Sejak kapan dirinya menyetujui ajakan laki-laki itu.

"Well Well, apa kau akan berkencan dengannya besok?"

"Temari aku mohon hentikan."

saya mau liat reviewnya tentang story ini dong hahah #maksa

Regards_luminouse