Seseorang Di Matamu

.

.

Lingkar hitam menggantung sempurna di sekitar mata Sasuke. Ia tidak bisa tidur semalaman. Wajahnya sayu tanda kalau hari ini kantuk menghantuinya. Salahkan otaknya yang tak mau mengenyahkan sosok Naruto dari benaknya. Juga matanya yang memutar kembali adegan ciuman di atap sekolah jika Sasuke paksa memejam.

"Uchiha!"

Sasuke menoleh begitu ia mendengar seseorang memanggilnya. Nara Shikamaru. Bocah jenius dari kelas 3-A itu kini sedang bersandar di pintu masuk kelasnya. Teman satu komplotan Uzumaki Naruto. Orang yang menyebabkan matanya tak bisa terpejam beberapa hari ini.

"Mencari Naruto?", tandas Shikamaru. Pemuda itu kini mengubah posisinya menjadi berdiri tegap. Tubuhnya yang lebih tinggi dari Sasuke, membuat penyandang marga Uchiha itu mendongak.

"Eh?". Sasuke terkaget. Bukannya tidak tahu apa maksud dari pemuda berambut nanas itu. Hanya saja, mendapat pertanyaan telak yang tepat sasaran membuatnya blank seketika. Apa tampangnya sekarang sudah menunjukkan isi hatinya? Sangat!

"Dia baru saja dipanggil Kakashi-sensei". Shikamaru melanjutkan bicara. Tidak peduli apakah informasinya sampai ke telinga lawan bicaranya atau tidak.

"Ha.. tidak, aku-", Sasuke gelagapan. Ia belum bisa mengendalikan kekagetannya.

"Kalau kau tanya kenapa, aku juga tidak tahu. Ia langsung menghilang ke kantor guru begitu Kakashi-sensei menyuruhnya."

"A..", Sasuke urungkan niatnya untuk menyangkal. Lagipila Shikamaru sudah tahu tujuannya melirik kelas 3-A. "Oh...", jawabnya kemudian. Sasuke berbalik. Sepintas ia melongok lagi ke dalam kelas 3-A.

Shikamaru menatap punggung Sasuke yang turun. Terdengar pula helaan nafas lelah dari Sasuke. Sudah seminggu sejak kejadian ciuman di atap waktu itu. Dan seminggu pulalah, adegan kucing-kucingan ala Sasuke dan Naruto berlangsung.

Sebenarnya hanya Naruto saja yang selalu menghindar dari Sasuke. Sasuke sendiri sering mencari sosok Naruto, meski tak pernah diungkapkannya.

"Dia pergi", Shikamaru melirik pojok belakang. Disana, seseorang dengan rambut kuning jabrik berusaha keluar dari tempat persembunyiannya. Terdengar beberapa suara gubrak dari Naruto. "Mau sampai kapan kau menghindarinya? Hahhhh merepotkan!"

Naruto tidak menjawab apapun. Pandangannya sendu terarah pada tempat dimana Sasuke tadi berdiri. Ia merunduk. Pikirannya kacau. Apa yang dilakukannya ini benar? Entahlah. Naruto tidak tahu harus bagaimana. Otaknya tidak pernah disetel untuk berpikir hal-hal yang menyangkut perasaan. Jangankan perasaan, mata pelajaran pun, otak Naruto selalu bebal.

"Oi Naruto! Kakashi-sensei mencarimu".

Seruan dari salah seorang temannya yang bertubuh gemuk dan membawa keripik, menyadarkan lamunan Naruto. Ia mengerjap beberapa kali seperti orang bingung. "Apa?"

"Kakashi-sensei mencarimu"

"Oh, terimakasih Chouji", Naruto berlari, ia sempat berbalik ke arah Shikamaru, "Arigatou Shika."

"Kh, mendokusai na..."

.

.

Disinilah Naruto. berhadapan dengan guru yang hampir seluruh wajahnya ditutupi masker abu-abu. Matanya meirik kesana kemari. Mengamatai hampir sertiap sudut ruang guru. Lalu beraih lagi pada Kakashi hanya untuk mendapatinya, masih menunduk mencari sesuatu.

Sebenarnya Naruto juga tidak tahu, kenapa guru nyentrik itu memanggilnya. Setahunya, ia tidak pernah mencari masalah. Lagipula, dalam kelas pun Naruto tidak pernah mendapat nilai rendah untuk mata pelajarannya. Tapi, sekali lagi, Naruto tidak tahu jawabannya.

"Etooo... anoo sensei... ada apa kau mencariku?", Naruto ragu. Jemari kecoklatannya bersarang di kepala pirangnya. Ia juga ikut-ikutan merunduk. Mencari tahu apa sekiranya sang sensei cari sejak tadi.

"Ah, ketemu". Seperti ada efek bling-bling di sekitar Kakashi. Matanya melengkung ke bawah. Tangannya menunjukan buku bersampul orange yang disinyalir sebagai buku mesum yang tak pernah absen dari tangannya. Sungguh, Naruto cengo luar biasa. Kalau boleh, mungkin sekarang ia sudah melongo. Huft.

"Oh Naruto ya. Kau sudah datang rupanya", kata Kakashi lagi. Ia mulai membuka buku yang masih disinyalir mesum itu.

"Sebenarnya, aku sudah disini sejak tadi sensei", jawab Naruto kikuk. Mencuri pandang pada buku bersampul oren milik sang Hatake.

"Ara... benarkah?"

"Ya... sejak kau mencari buku –Naruto menunjuk buku orange milik Kakashi, itu."

"Ahahaha... kau ini. Baiklah, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Duduklah", Kakashi menarik kursi di sebelah mejanya. "Satu bulan lalu, kau ikut tes Universitas Suna?"

"Ah itu", kembali tangan Naruto bersarang di kepalanya. "Aku hanya coba-coba"

"Sungguh? Kau tahu kalau setiap tahun, Universitas Suna membuka jalur pendaftaran siswa berprestasi kan?"

"Ya, khusus untuk Fakultas Seni"

"Kau juga tahu bagaimana prosedur pendaftarannya kan? Mereka lebih memilih para pendaftar yang memang berbakat dibidang seni tertentu daripada hasil tes tertulisnya."

"Ya aku tahu. Karena itu aku mengirimkan karya lukisku untuk syarat pendaftaran jurusan Seni Lukis. Tapi, aku tidak terlalu yakin sensei."

"Hmmm, sayangnya, dua hari yang lalu ada surat panggilan untuk siswa SMA Konoha bernama Uzumaki Naruto, dari US". Kakashi memperlihatkan amplop putih dengan logo Universitas Suna. Membuat kedua bola biru Naruto hampir keluar dari tempatnya.

"Kau... tidak bercanda kan, sensei?"

"Untuk apa aku bercanda? Selamat ya, kau lolos"

"Oh, ini tidak bisa dipercaya."

"Ya, memang tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin, murid yang setiap hari selalu bolos dan berperingkat rendah sepertimu bisa lolos tes pertama Universitas Suna", Kakashi mengatakannya sambil lalu. Tak memedulikan Naruto yang melompat kegirangan. Mengacuhkan lirikan sebal para rekan kerja. Kembali berkutat dengan buku bersampul oren yang amat dicintainya.

"Kau terlihat meragukanku sensei. Tapi, astaga, aku sungguh tidak percaya"

"Hm", Kakashi kembali membuka buku bersampul orangenya. Ia lebih memilih membaca buku itu daripada melihat Naruto berjingkrak dengan euforianya. "Bawalah itu, kau akan membutuhkannya nanti"

"Eh?"

"Yang dibawah sana"

Naruto menghentikan acara jingkrak-jingkraknya. Ia melirik ke bawah, dimana ada tumpukan buku bersampul merah dengan judul 'Kumpulan Soal-soal Universitas Suna'. "Kau memberiku ini, sensei?"

"Hn, meski Fakutas Seni Suna lebih memilih mereka yang berbakat, bukan berarti nilai akademiknya dinomor duakan."

"Oh... arigatou sensei"

"Hn. Oh ya, sebenarnya bukan hanya kau yang mendaftar di Suna. Ada Gaara juga. Ia mendaftar dengan jalur beasiswa."

Mendengar nama Gaara, mimik muka Naruto sedikit berubah. "Benarkah?"

"Harusnya ia sudah datang."

"Sensei". Sebuah suara menginterupsi kegiatan Kakashi yang hendak kembali membuka buku mencurigakan miliknya.

Sosok Gaara berdiri di belakang Naruto.

.

.

Gaara dengan mimik muka yang ditahan untuk tidak meledak, meminta Naruto menemuinya di atap sekolah. Ia bersidekap. Punggungnya membelakangi Naruto. Menghempaskan nafas kasar sebelum akhirnya berbalik dan menatap tajam mata biru laut itu.

Naruto bergerak kikuk. Berhadapan dengan salah seorang pemilik death glare legendaris yang menyaingi Uchiha membuatnya sedikit takut. Beberapa kali ia meneguk ludah. Tenggorokannya sedikit kering akibat tegang. Naruto tidaklah terlalu akrab dengan bocah Sabaku di hadapannya. Mereka tidak pernah berada dalam kelas yang sama. Naruto mengenal Gaara karena dulunya ia adalah ketua dewan kesiswaan, selain karena ia teman akrab orang yang sejak dulu dicintainya. Sedangkan Gaara mengenal Naruto ketika acara festival sekolah tahun lalu. Saat itu Naruto adalah ketua kelas 2-C, yang mengajukan proposal untuk acara kelasnya.

Selama ini, tidak ada yang benar-benar mengusik pikiran Gaara. Tidak ada. Bagi Gaara, semua masalah selalu bisa dihadapi dengan kepala dingin. Ia lebih sering bertindak dengan logika daripada perasaan. Tapi kali ini, lain ceritanya. Gaara sudah ingin meledak. Ada banyak amarah yang berkumpul menyesaki dadanya. Siap ia keluarkan bila itu memang diperlukan. Dan yang berhasil membuat Gaara mati-matian menahan perasaanya adalah bocah blonde yang berdiri tidak jauh darinya.

Sudah satu minggu ini, Sasuke bertingkah aneh. Ia lebih suka melamun. Sasuke memang pendiam, tapi ia tidak pernah sependiam ini. Apalagi jika bersamanya. Seminggu ini pula, tatapan cinta yang selalu ia dapat dari Sasuke menghilang. Bukannya Gaara tidak tahu. Ia hanya pura-pura tidak tahu.

Ya, Gaara ada disana. Tepatnya di balik pintu yang menghubungkan tangga dengan atap sekolah. Menyaksikan semua yang dilakukan Naruto pada Sasuke dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Naruto mencium dan mengatakan perasaan pada kekasihnya. Membuatnya mati-matian menahan agar tak menghancurkan pintu dan menghajar Naruto saat itu juga. Memberinya beberapa pukulan karena berani menyentuh miliknya. Sasukenya.

"Katakan padaku Uzumaki, apa kau mencintai Sasuke?"

Deg. Gaara menatapnya tajam. Lebih tajam dari yang biasa ia dapatkan. Seolah Gaara ingin melubangi pikirannya. Naruto terdiam. Masih terdiam bahkan saat prtanyaan Gaara terulang untuk kedua kalinya.

"Katakan padaku Uzumaki, apa kau mencintai Sasuke?"

Posisi mereka masih sama. Saling berhadapan.

"Apa maksudmu?"

"Katakan padaku Uzumaki, apa kau mencintai Sasuke?". Tiga kali.

"Aku.. tidak menger.."

"Katakan padaku Uzumaki, apa kau mencintai Sasuke?". Empat kali.

"Katakan padaku Uzumaki, apa kau..."

"Ya!". Pertanyaan kelima Gaara tidak sempat ia selesaikan karena Naruto menyelanya. Saat ini mata biru itu bahkan berani menatap jade-nya. Sudah tidak bisa lagi menyangkal. Naruto memang mencintai Sasukenya. "Aku mencintainya. Sangat!"

Mencoba tidak terpancing emosi Gaara kembali menghela nafas. Ia harus tetap berkepala dingin. Bukan caranya kalau mudah tersulut hanya karena ada orang lain yang mencoba mengusik miliknya. Bukan kali ini saja. Dulu bahkan ada orang yang berani meneror Sasuke karena pernyataan cintanya ditolak. Dan Gaara bisa mengatasi hal itu dengan kepala dingin. Ia tidak boleh terpancing.

"Aku hanya ingin tahu saja. Aku tidak peduli kalau kau mencintai atau sampai menyatakan perasaanmu padanya". Jeda. Gaara mendekat, "Tapi,". Ia berbisik tepat di telingan kanan Uzumaki, "jangan berani menyentuhnya". Gaara berbalik merasa jika urusannya dengan Naruto sudah berakhir saat ini.

Naruto masih di tempat semula. Tak bergerak barang seinchi pun dari sana. Angin yang menerpa atap SMA Konoha menerbangkan surai pirangnya. Matanya tak berkedip. Ada rasa marah disana, menyirat penuh ancaman.

"Heee... bagaimana kalau.. Sasuke yang membiarkanku menyentuhnya?". Nada sing a song itu mengalun begitu saja. Tanpa permisi menyapa indra pendengan Gaara. Membuatnya seketika menghentikan langkah. Meluruhkan niatnya yang ingin segera meninggalkan atap sekolah. Berbalik dan memeberi Naruto tatapan mematikannya secara cuma-cuma. "Sasuke bahkan tidak menolak saat aku menciumnya. Ia membiarkan lidahku menembusi pertahanannya, kau tahu?". Lagi. Nada suara Naruto yang membuatnya semakin mengepalkan telapak tangannya. Membuat jemarinya memutih karena amarah menguasai kepalanya. "Satu lagi, Sasuke menikmatinya. Sangat menik..."

BUAGH.

Kalimat terakhir Naruto terbang dibawa angin. Ia tersungkur dengan sudut bibir meneteskan darah. Gaara terengah. Amarahnya memuncak. Kalau bisa ia ingin sekali menghancurkan wajah menyebalkan Naruto. Dan hal itu memang ia lakukan. Menghantamkan tinjunya. Tepat mengenai pipi kanan Naruto. Dan pergi, setelah, "Jangan. Dekati. Sasuke!"

"Cih, sial!"

.

.

"Kau benar-benar menyeramkan ya?"

Gaara yang hendak melanjutkan langkahnya terhenti seketika. Seorang pemuda berwajah malas menghadang jalannya. Pemuda yang diyakininya sebagai komplotan si rambut pirang yang beberapa saat lalu menjadi dalang dari segala puncak amarahnya. Berdiri menyender pada dinding koridor dengan gaya khasnya. Tangan bersidekap di depan dada.

"Nara Shikamaru".

Entah kenapa, tapi pemuda jenius dari kelas 3-A itu menangkap ancaman dari kalimat yang baru saja Gaara keluarkan.

"Apa maumu?"

Kembali, kalimat tanya Gaara keluarkan dengan nada ancaman disetiap katanya. Tangan pemuda bersurai merah itu sudah mengepal. Siap melayangkan pukulan jika orang di hadapannya itu berniat membalas perbuatannya.

"Tidak ada!", jeda. Shikamaru kini menegakkan tubuhnya. Menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. "Kalau kau berpikir aku akan membalas perbuatanmu yang memukul Naruto, kau salah". Kini kedua tangannya tenggelam di saku celana. Suaranya masih sangat tenang. "Aku yakin kau tidak buta dengan semua yang sudah terjadi". Shikamaru berbalik. Meninggalkan Gaara yang kini terdiam tak mengerti maksud Shikamaru.

"Kenapa?"

Shikamaru berhenti mendadak. Memutar tubuhnya hanya untuk mendapati tatapan mematikan dari Gaara. Menelisik lebih jauh, rupa-rupanya genggaman tangan Gaara menguat. Mungkin satu atau dua pukulan lagi sampai amarahnya reda.

"Hn?", Shikamaru bertanya lewat gumama. Pasalanya si pria merah itu tak kunjung buka suara.

"Kenapa kau bertingkah begitu tenang?", Gaaa mendekat. "Bukankah kau juga sama?". Jeda. Membiarkan Shikamaru kebingungan dengan arah pembicaraan mereka. "Aku tidak bodoh Nara. Selama ini, kau selalu memerhatikan Sasuke. Memang benar jika wajah mengantukmu bisa mengelabui semua orang, tapi tidak denganku". Gaara mencengkeram kerah seragam Shikamaru. Mendekatkan wajahnya kemudian berkata dengan berbisik, "Aku tahu kau menyukai Sasuke. Aku membiarkanmu karena selama ini kau tidak menyentuhnya. Tapi... bukan berarti aku akan melepaskanmu jika kau mulai bertingkah untuk memisahkan kami berdua!"

Gaara melepas cengkeramannya. Membuat Shikamaru terhuyung ke belakang. "Camkan itu!", ancamnya sebelum pergi meninggalkan Shikamaru yang membelalakan mata.

"Oi!". Gaara sudah cukup jauh. Namun ia menyempatkan diri berhenti untuk mendengar apa yang ingin Shikamaru katakan. "Tidakkah kau mengerti? Lain kali datanglah ke kawasan Shin'ou.", katanya setelah sadar dari keterkejutannya. "Kau akan tahu apa maksudku!"

Tak memedulikan ucapan Shikamaru, Gaara kembali melangkah. Shikamaru menghela nafas. Akhirnya rahasianya terbongkar. Padahal dengan wajah mengantuknya, bahkan Naruto yang bersabat dengannya sedari kanak-kanak tidak tahu kalau ia juga memendam rasa pada si Uchiha.

Memang benar. Tak bisa dipungkiri jika pesona Uchiha satu ini begitu memikat. Meski dengan wajah datar dan tampang yang selalu tidak peduli pada sekitarnya. Tak membuatnya kehilangan pesona. Awalnya Shikamaru tidak terlalu memusingkan. Tapi berkat cerita-cerita Naruto mengenai kekagumannya pada Sasuke. membuat Shikamaru mau tak mau mulai memerhatikannya.

Dan begitulah. Cinta memang selalu 'jatuh' sembarangan.

.

.

"Kalau kau bertanya tentang lukaku, aku tidak mau menjawabnya".

Shikamaru meneliti wajah Naruto. Ada lebam biru di sudut bibirnya. Tahu darimana asal luka itu, Shikamaru bungkam. Memilih melirik ke arah lain, tepatnya pintu kelas mereka yang sedikit berderak. Mungkin angin... atau memang ada orang lain. Jawaban kedua membuat Shikamaru menampilkan seringai menyebalkan.

"Aku melihat Sabaku Gaara berjalan dengan dikelilingi aura menyeramkan", Shikamaru menolehkan matanya pada Naruto yang masih sibuk dengan lebam biru di sudut bibirnya. mengacuhkan sosok lain yang kini bersembunyi di balik pintu.

Naruto menelengkan wajahnya. Nyeri kembali dirasakan. Tangannya mengompres luka di sudut bibirnya dengan es yang entah ia dapat darimana. Menatap tidak mengerti pada pemuda nanas yang sejak tadi melempar tatapan menyelidiknya.

Shkamaru menghela nafas. Ia lupa kalau sahabat kentalnya memiliki kapasitas otak yang pas-pasan. Apalagi ditambah masalahnya dengan pemuda berambut hitam yang sejak seminggu lalu dihindarinya. Tambah bebal lah otak bodohnya. Bukan Shikamaru menjelekkan atau apa, memang begitulah kenyataannya.

"Aku tidak tahu maksudmu Shika?"

Tuh kan? OMG!

"Maksudku, luka itu menjelaskan mengapa hari ini Sabaku lebih menyeramkan dari biasanya."

"Haah...". Yakinlah kalau mulut Naruto saat ini muat dimasuki satu kepalan tangan. Mattaku...

"Sudahlah."

Kembali Shikamaru mengamati bagaimana es itu mengompres sudut bibir Naruto. Juga ringisan bocah blonde itu. Kalau diperhatikan lebih teliti, sebenarnya bukan hanya Sabaku Gaara saja yang beraura lebih suram dari biasanya. Naruto pun demikian. Mungkin bagi mereka yang tidak mengenal Naruto lebih dalam, tidak akan tahu kalau pemuda berisik yang biasanya ceria itu bisa sangat membahayakan seperti sekarang ini. Selama berteman dengan Naruto, Shikamaru baru kali ini melihat ekspresi semacam itu dari Naruto. Mata Naruto berkilat tajam. Seperti ingin menghancurkan sesuatu. Pemuda jenius itu yakin, setidaknya ada retakan tembok disalah satu sudut sekolah ini.

"Hei Naruto"

"Hn?"

"Kita sudah hampir lulus, berarti sudah hampir tiga tahun kita sekolah disini".

"Lalu?"

"Kalau begitu, hampir tiga tahun juga kau menyukai Uchiha, kan?"

Seketika Naruto beralih menatap Shikamaru. Yang ditatap hanya menguap malas. Tidak sadar kalau hal itu membuat Naruto meringis sedih. Ada keheningan yang seolah berputar di sekelilingnya. Membuat sesak nafas. Bukan pertanyaan sulit, karena jawaban yang dibutuhkan hanya 'ya' atau 'tidak'. Tapi bagi yang menjawab...

"Kau tahu,", Shikamaru menguap lagi, "pertama kali bertemu dengannya adalah ketika aku membolos pelajaran pertama. Di atap sekolah. Aku melihatnya. Berdiri dekat pagar pembatas...". Naruto menerawang. Mencoba menggali kembali memori yang tak pernah hilang.

Flashback Naruto POV

Aku melihatnya. Berdiri dekat pagar pembatas. Pemuda itu, pemuda yang berseragam sama denganku. Saat itu aku terpaku. Begitu sadar ternyata suka, begitu suka aku malah tidak bisa berhenti menatapnya. Aku memang tidak tahu alasannya. Tapi... aku senang. Aku senang melihat pemuda itu.

Kata orang, ada banyak alasan untuk jatuh cinta. Dari alasan klise sampai hal-hal berbau romantisme. Senyumnya lah, tatapan matanya lah, wajah cantiknya lah, hatinya lah dan masih banyak alasan lainnya. Pemuda itu memiliki segalanya. Wajah dingin itu menegaskan semuanya.

Dia memang tidak menunjukkan padaku senyuman menawannya. Bagaimana kepribadiannya. Tapi sekali lihat aku bisa tahu, betapa segaris senyum miliknya pasti sangat menawan. Dan hal itu memang benar. Ketika ia berbalik menatapku. Sejenak mata kami bertemu. Sebelum seulas senyum itu ia arahkan padaku sembari tubuhnya membungkuk. Kemudian pergi begitu saja.

Saat itu, aku hanya merasa sangat senang.

Flashback Naruto POV end

"...aku juga tidak tahu, begitu sadar ternyata suka. Begitu suka tak bisa berhenti. Memang begitu kan, aku tidak tahu mengapa. Tapi aku senang bisa menyukainya."

Shikamaru mendecih. Ia sudah tahu cerita itu. Cerita yang diulang setiap hari oleh Naruto ketika mereka masih ada di kelas satu. Waktu itu ia bahkan harus rela berpusing ria demi membantu Naruto mencari siapa pemuda yang dimaksud. Yang ternyata adalah Uchiha Sasuke. Si pemuda tampan yang langsung menarik perhatian baik siswa maupun siswi SMA Konoha ketika awal semester kelas 1.

"Dasar bodoh. Maa! Kurasa aku tidak perlu mencemaskanmu lagi". Naruto berkedip beberapa kali. Ia menatap heran Shikamaru yang mulai beranjak dari duduknya. Membenamkan kedua tangannya pada saku celana seragamnya. Ia berujar.. "Tapi, sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu pada orang disana". Mata Naruto bergulir. Mengikuti gerakan dagu Shikamaru. Benar saja, di ambang pintu ruang kelasnya berdiri sosok orang yang dicintainya.

"Sasuke..."

.

.

Sejak beberapa menit yang lalu hanya diisi kecanggungan semata. Tidak ada yang berani buka suara. Baik Sasuke maupun Naruto masih berpikir, kiranya pembicaraan apa yang pantas menjadi topik saat ini. Mata mereka pun tak saling pandang. Lebih memilih objek lain sebagai pengalih perhatian. Seperti meja atau papan tulis.

Awalnya, tidak sedikit pun terbesit di pikiran Sasuke untuk mengunjungi kelas Naruto. Tapi rupa-rupanya, tepat saat bel istirahat berbunyi ia langsung melesat. Dan kakinya malah membawanya ke depan pintu kelas 3-A. Sasuke bingung harus berbuat apa. Ketika matanya menemukan sosok yang selama ini mengganggu pikirannya, ia malah tidak tahu harus apa. Padahal ada banyak pertanyaan yang belum sempat ia lontarkan semenjak insiden ciuman di atap sekolah. Mengingat itu, tanpa sadar wajahnya memerah.

Naruto yang menyadari perubahan mimik Sasuke terlihat khawatir. Belum sempat tangan kanannya terulur hendak menyentuh pundak Sasuke, Sasuke sudah berbalik menghadapnya. Alhasil mata keduanya kembali bertemu. Hening lagi beberapa detik, sebelum keduanya sadar dan akhirnya melepas kontak mereka.

"Maaf...". Naruto yang pertama kali buka suara demi pecahnya keheningan yang entah sudah berapa lama.

Sasuke kembali memandang Naruto. Tak sengaja manik kelamnya menangkap bekas lebam biru di sudut bibir pemuda itu. Kembali satu pertanyaan bersarang di hatinya.

"Kau bisa melupakannya", jeda. Posisi Naruto masih sama, kepala tak mau menoleh. "Waktu itu, anggap saja tidak pernah terjadi. Lupakan jika aku pernah", jeda lagi. Sasuke menanti, kalimat selanjutnya yang sepertinya tak akan pernah keluar dari bibir Naruto. Pemuda berambut pantat ayam itu tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan entah kenapa, ia tidak suka.

"Anggap kalau aku tak pernah mengatakan apapun. Anggap kalau itu tak pernah terjadi".

Meski sudah menduganya, tetap saja Sasuke merasa terkejut. Ia tidak menyangka kalau Naruto adalah tipe pemuda yang akan lari begitu saja. Setelah seminggu ini ia memenuhi kepala Sasuke, membuatnya dilanda kebingungan yang teramat sangat akan perasaannya saat ini. Tentu saja, amarahnya meluap. Belum pernah ia dipermainkan orang lain. Dan Naruto, pemuda yang baru beberapa bulan dikenalnya, dengan berani mempermainkannya.

"Kau benar. Anggap tak pernah terjadi". Sasuke menggantung kalimat selanjutnya. Kalau Naruto bisa mempermainkannya, maka ia juga bisa mempermainkan pemuda itu. "Karena selama ini aku juga tak pernah menganggap kalau itu adalah sebuah ciuman".

Sasuke beranjak dari tempatnya.

BRAK!

Naruto sadar ia telah membuat kesalahan besar.

.

.

Itu adalah kali terakhir Naruto bicara dengan Sasuke. Satu bulan menjelang ujian kelulusan. Semuanya berjalan normal. Naruto dengan kesibukannya dan Sasuke pun demikian. Ah! Bukan! Bukan sibuk sebenarnya. Alasan di balik itu semua hanyalah agar mereka tak saling memikirkan. Mengubur dalam-dalam rasa cinta yang sekian lama membara. Melupakannya dengan mengalihkan perhatian pada kertas-kertas ujian. Baik Naruto dan Sasuke tak lagi saling sapa. Benar-benar kembali seperti apa adanya. Saat mereka tak saling kenal. Saat mereka adalah dua orang asing yang hanya tahu nama saja. Padahal satu sekolah, satu angkatan. Dan mungkin ini adalah kali terakhir mereka bertatap muka.

Karena upacara kelulusan tinggal menunggu waktu saja.

.

.

Gaara berdiam di posisinya. Ia tatap pemuda berambut aneh itu lama. Pemuda yang sejak tiga puluh menit lalu tak lagi mau menatapnya. Menggulirkan kelereng hitam miliknya pada objek yang sekiranya dapat mengalihkan perhatian dari mata jade Gaara. Menolak kontak apapun pada si pemuda Sabaku.

Sebagai orang yang bisa dibilang 'kenal' dekat dengan sang Uchiha, tentunya perubahan sekecil apapun akan cepat disadarinya. Dan itulah yang sekarang ini ia rasakan. Sasuke telah berubah.

"Tatap mataku Suke!", katanya pasrah. Tiga puluh menit yang bergulir dengan kegelisahan dibenak Gaara. Tiga puluh menit yang terasa mencekik tenggorokan.

Flashback

Gaara memandang Sasuke dengan heran. Pemuda itu mematung di pintu masuk kawasan Shin'ou. Matanya menatap tajam tulisan besar yang menggantung disana. Mengabaikan pikirannya, ia menggandeng tangan Sasuke. Membawanya masuk. Mengitari stand-stand penjual makanan.

Senja mulai menampakkan dirinya. Remang kawasan Shin'ou akibat bias kejinggaan yang menyinari setiap celah disana. Ada begitu banyak stand yang sudah dicicipinya. Pun begitu banyak kenangan disetiap stand-nya. Sasuke masih termangu. Ia sudah tidak ada disana. Jiwanya berkelana pada beberapa bulan lalu. Ketika dirinya dan seorang pemuda pirang bergandengan tangan mengitari luasnya kawasan Shin'ou.

"Suke? Sasuke!"

Mengerjap bingung. Tersadar dari lamunannya, Sasuke beralih menatap sosok Gaara yang membalasnya dengan raut khawatir. "Kau baik-baik saja?", katanya kemudian. Tentu saja, melihat kekasihmu bermuram durja diacara kencannya pastilah membuat rasa khawatir di dada. Apalagi yang kau dapati adalah seorang Sasuke tengah memikirkan sesuatu entah apa. Padahal ujuan sudah terlewat seminggu yang lalu.

"Kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Maaf..."

"Kau yakin? Kalau kau tidak suka, kita bisa pergi dari sini?". Lagi suara lembut bernada kekhawatiran keluar dari si pemuda berambut merah.

"Hn. Tidak apa, aku baik-baik saja". Dan hanya seutas kalimat tak meyakinkan yang bisa Sasuke ucapkan, tentunya dengan ketidakpercayaan sepenuhnya dari Gaara.

Mencoba tidak berpikir macam-macam, pria Sabaku itu menghela nafas. ia kembali menautkan jemarinya pada jemari Sasuke yang sempat terlepas. Tangan satunya membenarkan letak syal yang Sasuke kenakan hari itu. Hanya pengalih perhatian, agar Sasuke yakin bahwa Gaara percaya penuh padanya.

"Baiklah. Ayo, kita akan menonton acara pentas seni. Kau pasti suka".

Dan dengan kalimat itu, Gaara kembali menarik Sasuke. Menyalip beberapa pejalan kaki yang juga tengah mengunjungi kawasan Shin'ou. Sedang Sasuke, pikirannya kembali berkelana ke beberapa bulan lalu.

Flashback end

Disinilah mereka, di atap gedung yang sama dengan yang pernah Sasuke kunjungi. Atap gedung yang sekelilingnya membiaskan warna senja sore itu. Atap gedung yang menjadi tempat dimana ia mempertanyakan siapa sebenarnya pemuda yang ia cintai. Karena disanalah, Sasuke untuk kali pertama jatuh pada sosok selain Gaara.

Kejadian kali ini pun sama. Dimana Sasuke berdiri tepat empat meter di depan panggung. Mendengarkan kata-kata sang MC yang mengajak para penonton memberikan tepuk tangan yang gemuruh untuk penampilan seseorang. Bedanya, ia tidak sendir melainkan ada Gaara yang menggenggam erat tangannya. Dan jujur saja, Sasuke sedikit... entahlah, mungkin merasa aneh.

Tepat ketika pemuda berambut pirang muncul dengan gitar yang sama, yang pernah ia gunakan untuk bernyanyi beberapa bulan lalu. Tanpa sengaja mata keduanya bertemu. Untuk kali pertama sejak mereka menjadi asing satu sama lain. Dan begitu sang MC mempersilakan pemuda di atas panggung itu untuk menyihir penonton dengan suaranya, Sasuke berpaling. Dia tidak ingin lagi jatuh untuk kali kedua.

Gaara menyadarinya. Tentu saja, ia sadar bagaimana ekspresi Sasuke berubah meski tidak kentara. Ia juga menyadari bagaimana Sasuke melepas kontak yang terjadi beberapa detik itu. apalagi ketika tautan jemari Sasuke terlepas dari gengamannya, rasanya kalau tangan itu tak mungkin ia genggam lagi.

"Sasuke?".

Intro dimainkan, suara merdu bergema disana. Senyap melanda atap bangunan tempat mereka berdiri menyaksikan pertunjukkan.

Aisaretai demo aisou to shinai

Sono kurikaeshi no naka wo samayotte

Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte

Suki na hito ni wa suki tte tsutaerunda

"Sasuke?".

Lagu masih mengalun. Musik pengiring dari dawai-dawai gitar dan teman-temannya melingkupi setiap sudut gedung. Memenuhinya dengan segala sesuatu yang coba disampaikan oleh penyanyi kepada para penonton.

Anata ga boku wo aishiteru ka aishitenai ka

Nante koto wa mou docchi demo ii n da

Donna ni negai nozomou ga

Kono sekai ni wa kaerareru mono ga takusan aru darou

Sou soshite boku ga anata wo aishiteru to iu jijitsu dake wa

Dare ni mo kaerareru shinjitsu dakara

"Sasuke!".

Bersamaan dengan panggilan Gaara yang ketiga lah, ia berbalik. Tersentak. Dan begitu mendapati jade Gaara yang menatapnya begitu intens, rasa bersalah muncul dihatinya. Alasannya? Karena laki-laki itu kini tak terpantul dari mata hitamnya.

Atmosfir keheningan perlahan mendominasi.

Sen no yoru wo koete anata ni tsutaetai

Tsutaenaka naranai koto ga aru

Aisaretai demo aisou to shinai

Sono kurikaeshi no naka wo samayotte

Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte

Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da

Kimochi wo kotoba ni suru no wa kowai yo demo

Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da

Masih diam. Mata itu seolah enggan untuk balas menatapnya. Gaara tahu alasan mengapa kelereng hitam Sasuke bergulir kesana kemari. Ketiadaan cinta yang bersarang disana untuknya. Semuanya sudah benar-benar berubah. Pemuda itu bukan lagi Sasukenya.

"Sou ka", seolah hening yang begitu lama ini tak membuatnya enggan bicara. Ia melanjutkan, "apa aku sudah kalah? Apa aku tak bisa lagi ada disana? Di matamu?"

Alunan musik itu semakin memuncak. Sebagian penonton terkesiap.

Kono hiroi sekai de meguri au yorokobi wo kotoba jya ii arawasenai ne

Dakara bokutachi wa hohoemi

Iro azayaka ni sugiru aki wo doremi de utatte

Fuyu wo se ni haru no komorebi wo machi

Atarashiku umare kawaru dareka wo mamoreru youni to

Sasuke tersentak. Sedikit banyak ia tidak mengerti apa maksud kata-kata Gaara. Untuk sekian detik kembali hening merajai keduanya. Membiarkan helai-helai angin membelai dua wajah seputih porselain mereka. Menggetarkan kulit, mengirim hawa dingin malam itu.

"Sekali lagi! Biarkan aku memilikimu sekali lagi, Sasuke".

Entah dorongan darimana. Tangan Gaara menangkup pipi Sasuke. Membawa wajah itu mendekat. Membuat mereka akhirnya bertatapan. Dan Sasuke merasa kalau dirinya tak boleh menolak sentuhan Gaara. Ia pasrah saja. Membiarkan bibirnya dipagut mesra oleh kekasihnya. Membuainya. Membuatnya kembali mengecap rasa manis sebuah ciuman.

Kita michi to yukisaki furikaereba itsudemo okubyou

na me wo shite ita boku

Mukiaitai demo sunao ni narenai

Massugu ni aite wo aisenai hibi wo

Kurikaeshite wa hitori bocchi wo iyagatte

Ano hi no boku wa mukizu no mama de hito wo aisou to shite ita

Tapi, tidak! Bukan Gaara yang saat ini ada dibenaknya. Melainkan sosok lain yang juga meruntuhkan hatinya. Sosok yang mati-matian ia singkirkan dari pikirannya. Namun malam ini, runtuh sudah. Dikawasan Shin'ou, tepatnya dimana Sasuke jatuh pada pesona sosok itu, pertahanannya jebol. Digilas oleh lumatan bibir Gaara yang menuntut.

Sen no yoru wo koete ima anata ni ai ni yukou

Tsutaenaka naranai koto ga aru

Aisaretai demo aisou to shinai

Sono kurikaeshi no naka wo samayotte

Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte

Suki na hito ni wa suki tte tsutaeru n da

Sono omoi ga kanawanakutatte suki na hito ni suki tte tsutaeru

Sore wa kono sekai de ichiban suteki na koto sa

Sen No Yoru Wo Koete - AquaTimez

.

.

Naruto meradang. Tepat empat meter dari panggung tempatnya berdiri. Ia melihatnya. Hati kecilnya berteriak agar ia berlari. Tapi logikanya berkata kalau ialah yang menjadikan semuanya seperti ini. Dialah yang akhirnya mengundurkan diri. Dialah yang dengan mulutnya sendiri berkata pada Sasuke untuk melupakan semuanya. Akhirnya, dia pula lah yang kini menyesal.

Lagu telah usai. Tepuk tangan riuh membahana di tempat itu. Memenuhi langit senja dengan sorak sorai penonton yang menikmati saat-saat dimana hati mereka menyatu dalam alunan musik syahdu yang dipersembahkan Naruto.

Hanya saja... mereka tidak tahu. Jika sang persembahan kini meredam pilu. Menahannya sedalam mungkin. Menguburnya jauh dalam dasar hati. Mencoba melupakan suatu hal yang sejak awal memang harus dilupakan. Karena itulah yang memang kini ia lakukan. Melukai hatinya sendiri.

Dan tanpa sadar, si pemuda bermata biru yang kini meneteskan pertahanannya dalam bentuk air mata itu. Pun menyakiti beberapa hati yang lain.

.

.

Shikamaru berdiri di ambang pintu yang menghubungkan atap dengan tangga. Bersidekap dada menanti usainya acara. Pikirannya kalut. Sengaja atau tidak dirinya kini telah terlibat dalam jalinan rumit yang dinamakan cinta. Memang benar, kalau ia tidak terlalu memikirkan sesuatu yang seperti itu. Namun, melihat semua di balik layar malah semakin membuatnya merasa tersingkirkan.

Lagi pula, sejak awal ia memang seharusnya tak bermain dengan perasaan. Baik perasaan Naruto, Gaara, maupun Sasuke. Satu lagi... perasaannya sendiri. Yang kini terluka tanpa sebab. Hanya karena pemandangan yang seharusnya ia tahu akan jadi seperti ini.

Kini ia tahu. Bahkan sebelum berperang pun, Shikamaru telah kalah. Tanpa sempat mengangkat senjata. Tanpa sempat dekat dengan orang yang ia sadari jadi cinta pertamanya. Berbeda dengan Gaara yang kalah karena telah maju berperang. Shikamaru hanya seorang pengecut yang berada di punggung sahabatnya. Mencoba membantunya padahal hati luar biasa geram. Mendengar segala curahan hati yang malah makin memanaskan perasaan.

Shikamaru sadar, dirinya tak lebih dari ular berbisa. Karena itulah ia memutuskan untuk membantu sekuat tenaga. Dua orang yang mungkin 'belum' menyadari perasaan masing-masing. Menyatukan dua orang bodoh yang tenggelam dalam ego masing-masing.

Hanya itu yang kini bisa ia lakukan. Dan lagi setidaknya di antara mereka berempat, dua orang bisa mengantongi kebahagian.

.

.

Gaara melangkah kecil. Helai-helai nafasnya tertinggal jauh di belakang sana. Ia telah sendiri. Menelusuri jalanan ramai yang membuatnya semakin terasing malam ini. Kecamuk dalam hatinya membuat ia berpikir berkali-kali. Apakah melepas Sasuke adalah tepat? Rasa cinta yang terpendam sejak lama, sampai akhirnya ia bisa menyatakan dan menepis jarak persahabatan diantara mereka. Semua itu adalah mimpinya. Keinginannya sebagai laki-laki yang mencintai. Keegoisan tersendiri yang mengatasnamakan rasa nyaman sehingga Sasuke menerimanya. Tapi benarkah demikian? Lalu mengapa sosoknya mudah tersingkir hanya dalam beberapa bulan Sasuke mengenal pemuda lain?

Gaara tidak mengerti. Terlalu rumit untuk urasan seperti ini. Kepalanya sudah penuh oleh sosok Sasuke yang saat ini tak lagi melihatnya sebagai lelaki. Hanya sebatas sahabat masa kecil. Dan apakah Gaara menyesal? Tidak! Hanya saja...

Susah dijelaskan. Tapi walau bagaimanapun, menjadi satu sosok penting bagi Sasuke itu sudah cukup baginya. Meski hanya berlebel sahabat. Ya, mungkin sudah cukup!

Dan lagi, dirinya masih punya banyak waktu untuk mencari cinta yang lain. Untuk saat ini, biarlah seorang Sabaku Gaara tenggelam dalam rasa sakit keran mencintai. Gaara tersenyum sendu.

.

.

Sasuke termangu. Kini ia sendirian. Duduk dengan sebuah jaket yang Gaara berikan padanya. Gaara sudah pergi sejak tiga puluh menit lalu tanpa mengatakan apapun setelah mengantarnya sampai di halte.

"Sekali lagi! Biarkan aku memilikimu sekali lagi, Sasuke".

Kalimat Gaara saat mereka menyaksikan pertunjukkan masih terngiang. Memenuhi pikiran Sasuke dengan segala kemelut yang membuatnya sakit kepala. Ia sadar. Akhir-akhir ini hubungannya dengan sang kekasih merangkap sahabat memang merenggang. Sasuke perlahan mulai menjauh. Entah karena apa. tapi dalam hati ia selalu terusik. Setiap bersama Gaara selalu terasa berbeda. padahal perlakuan Gaara padanya tak pernah berubah. Sejak mereka masih berteman sampai mereka menjalin hubungan percintaan.

Tapi, apa yang tengah terjadi saat ini? Sasuke tidak mengerti. Rasa nyaman itu masih ada. Tapi ada hal lain yang mengusik kebersamaannya dengan pemuda Sabaku. Sosok lain yang akhir-akhir ini mengganggu tidurnya. Yang selalu melintas ketika ia tengah duduk berdua dengan Gaara.

Uzumaki Naruto.

Entah mengapa nama itu terus saja berputar dalam kepalanya. Sosoknya, tingkah lakunya. Dan yang terakhir, adalah perbuatannya beberapa saat lalu. Di atap sekolah.

Sasuke menunduk. Apa yang ia lakukan benar. Melepas genggaman tangan Gaara? Dan kembali menjalin hubungan persahabatan dengannya? Tapi apa mungkin bisa seperi itu? setelah dirinya kini melukai perasaan pemuda berambut merah itu, dirinya tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Dalam hatinya sendiri pun ia tidak yakin. Kalau semua akan kembali seperti semula. Apa yang harus ia lakukan?

Belum lagi perasaannya kini tak menentu. Sasuke tak bisa membohongi dirinya sendiri. Jika ia pun terluka kala onix kelamnya bertemu pandang dengan kilau biru Naruto. Mata biru itu! Mata yang menyiratkan kesakitan teramat sangat. Cemburu. Dan... kekalahan...

.

.

-silakan tinggalkan pesan dan kesan-

.

.

*sekedar cuap-cuap:

Makasih buat semua yang udah review fic ini, hontou ni arigatou gozaimasu...

Animers Lawliet: haha maaf... tapi fic ini rencananya Cuma nyampe chap 4 jadi y adegan rebutannya ga banyak

Lady Spain: apa chap ini sudah menjelaskan?

SapphierOnyx Namiuchimaki: Shika sama Naru murni temenan, dan ya... karena Sapphier-san tanya Shika gebetannya siapa... eng ing eng... disini saya bikin Shika juga suka sama Suke... maaf kalau gak suka.. tapi saya mah bingung jadi ya seperti itulah... #ngomong apa

NS Lovers: Neji gak muncul... maaf y...

yassir2374: apa iya? Hehehe jadi malu... makasih...

Jasmine DaisynoYuki: haha iya... apa galaunya Suke udah ngena?

Collin Blown YJ: aishhh baper kenapa?

dieNsL: maaf banget tapi karena alurnya cepet dan ini berakhir di chap 4 jadi ya... Sasu nggak saya bikin cemburu... tapi lebih ke galaunya... hehe makasih...

Hatsuki Anita Ant mainstream: ini udah update kok

guestnya guest: ini udah update kok

: nasib gaara... gimana ya? Makasih udah mau nunggu fic saya yang satu ini...

rena mitsouko: makasih...

udah segitu dulu makasih buat semuanya dan semoga chap ini gak mengecewakan #kecupsayang #muachhh...