Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 3

.

Setting cerita : chapter 14

.

.

"Kau tahu…" Hinata menoleh ke arah Sasuke. "Jika dipikir-pikir kau itu hampir mirip dengan si pria dalam drama itu."

"Apanya yang mirip?" Kata Sasuke dengan sedikit tersinggung.

Bagaimana mungkin Hinata membanding-bandingkan aktor itu dengannya! Dilihat dari sisi manapun juga aktor itu masih kalah jauh bila disejajarkan dengannya.

"Kalian berdua sangat dingin dan arogan. Kalian juga sangat kaya dan memiliki jabatan tinggi. Kalian juga sangat tampan sehingga disukai-"

"Jadi menurutmu aku ini sangat tampan huh." Potong Sasuke.

Sasuke tahu Hinata menyukainya. Ia juga tahu terkadang Hinata merasa malu untuk menatap wajahnya. Bukannya sombong, ia memang tahu jika ia memiliki wajah tampan khas pria Uchiha dengan kulit putih, mata hitam seperti onyx, dan rambut hitam mengkilat seperti burung gagak. Sejak ia masih kecil banyak perempuan yang tertarik padanya berkat wajah yang ia miliki.

Wajah Hinata langsung memerah. Dan itulah reaksi yang telah ia tunggu.

"Bu-bukan i-itu poin pentingnya! Ma-ma-maksudku-"

"Jadi kau diam-diam mengagumiku." Goda Sasuke.

"Ka-kau memang tampan oke?! ITU ADALAH FAKTA! Jika aku membantah hal itu artinya ada sesuatu yang salah dengan penglihatanku."

Sasuke menyeringai puas. Wanita ini benar-benar jujur.

Atau bodoh.

Itulah mengapa ia tidak pernah khawatir jika wanita ini akan menipunya. Berbohong saja ia tidak mampu, apalagi melakukan hal-hal buruk seperti berselingkuh atau menikamnya dari belakang.

Hinata menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Wajahnya masih terlihat merah. "Pokoknya… ka-kalian be-berdua disukai oleh banyak orang hanya karena status dan wajah kalian. Terutama kau Sasuke! Ji-jika ka-kau itu adalah seorang pria miskin dengan wajah jelek maka tidak ada wanita yang sudi melirikmu."

"Oh…" Kata Sasuke dengan tertarik. "Termasuk kau?"

Hinata berpikir sebentar lalu menganggukkan kepala dengan tegas. "Tentu saja! Wajahmu adalah hal yang paling menarik dari dirimu. Seandainya saja kau jelek dan ditambah lagi dengan sikap brengsekmu itu maka akupun tidak sudi melirikmu."

Alis Sasuke berkedut. Ternyata diam-diam wanita ini pandai bicara juga. Dia tidak hanya memuji Sasuke, namun ia juga berhasil menghinanya.

Wanita ini memang jujur.

Tapi terlalu jujur.

Haruskah ia memarahinya?

Hinata lalu melanjutkan perkataannya. "Jika kau jelek pasti Sakura juga tidak akan melirikmu."

Sasuke menghela nafas pasrah menghadapi tingkah wanita ini. "Terserah apa katamu, Hinata."

"Itu memang kenyataannya! Orang-orang mengagumimu karena kau adalah pria tampan yang mengenakan setelan mahal dan mengendarai mobil mewah."

Sasuke tampak berpikir dengan serius.

Ia tahu orang-orang diluar sana mengaguminya karena ia adalah seorang Uchiha yang meskipun masih muda namun telah memiliki Uchiha group. Semua orang menghormatinya karena jabatan yang ia miliki. Semua orang segan padanya karena ia adalah sang pemimpin perusahaan. Semua wanita menyukainya karena penampilan fisiknya.

Jika ia bukanlah seorang Uchiha yang memiliki wajah, harta dan kekuasaan apakah orang-orang itu masih akan mengaguminya?

.

.

Sasuke memasuki lobi kantor Uchiha group dengan langkah yang tegas namun elegan. Mata hitamnya selalu tampak serius, begitu pula tingkah lakunya. Ia adalah seorang pemimpin, sudah menjadi kewajiban baginya untuk bersikap seperti pemimpin.

Sasuke dapat merasakan tatapan setiap orang-orang di lobi itu. Mereka membungkuk memberi hormat namun mata mereka tidak mampu menyembunyikan isi hati mereka.

Kagum… iri… hormat… segan… takut… patuh… Sasuke menyadari itu semua. Ia juga menyadari tatapan nakal dan genit beberapa orang wanita yang berusaha merayunya.

Sasuke menghentikan langkahnya, perkataan Hinata kemarin masih terngiang di benaknya 'Orang-orang mengagumimu karena kau adalah pria tampan yang mengenakan setelan mahal dan mengendarai mobil mewah'

Melihat Sasuke yang tengah berhenti, Kakashi bertanya padanya. "Ada apa Sasuke?"

"Tidak ada." Kata Sasuke sambil melanjutkan langkahnya.

.

.

Kakashi menyerahkan dokumen laporan ke meja Sasuke. "Ini semua dokumen yang kau minta. Apakah kau akan meninjau pembangunan salah satu kantor cabang Uchiha besok?"

Sasuke memainkan pulpen di tangannya. "Kurasa tidak. Kau harus meninjaunya untuk menggantikanku besok."

"Apa kau ada kepentingan lain?"

"Kurasa aku ingin libur kerja besok."

Kakashi mematung. "Kau… libur kerja?" Tanyanya dengan tidak percaya.

"Mm."

"Mengapa? Sasuke yang kukenal sangat anti bolos kerja. Apa kau sakit?"

"Tidak." Sasuke meletakkan pulpen di meja. "Ada sesuatu yang ingin kubuktikan. Aku sangat penasaran."

.

.

"Uh… Sasuke? Me-mengapa kau berpenampilan seperti itu?" Tanya Hinata dengan wajah dipenuhi keheranan.

Sasuke bisa memahami keheranan Hinata. Hari ini ia mengenakan celana jeans yang telah pudar dan sepatu yang terlihat usang. Ia juga memakai kaos hitam biasa dan jaket hitam murahan.

Sasuke hanya mengangkat pundaknya. Sangat sulit menemukan sesuatu yang usang dan biasa. Ia harus mengobrak-abrik tempat penyimpanan pakaiannya untuk menemukan semua ini.

"Ka-kau tidak bekerja?"

"Tidak. Ayo pergi."

"Kemana?"

"Berjalan-jalan. Perkataanmu tempo hari membuatku penasaran."

"Um… a-apakah i-ini a-artinya ka-kau mengajakku pergi berkencan?" Tanya Hinata dengan malu-malu.

Ah, ia tidak pernah bisa memahami jalan pikiran wanita ini. Apakah sepasang wanita dan pria yang pergi berduaan pasti disebut berkencan?

"Ini bukan kencan. Aku hanya penasaran apakah orang lain akan tetap memperhatikanku dengan penampilanku yang seperti ini."

"Po-pokoknya ini kencan!"

"… aku akan pergi sendiri." Kata Sasuke sambil melangkah pergi. Pasti otak Hinata terpengaruhi oleh banyaknya drama TV yang telah ditontonnya.

Lagi pula mengapa ia harus mengajak wanita ini? Ia bisa pergi sendiri.

"Ah! Tu-tunggu…" Hinata lalu meraih lengan Sasuke. "Aku ikut!"

Sasuke ingin sekali menolaknya. Namun ketika ia menatap sorot mata Hinata yang penuh pengharapan entah kenapa ia justru berubah pikiran.

"Hm. 10 menit."

"Eh?"

"Jika kau tidak turun dalam 10 menit aku akan langsung pergi."

"Oke! A-aku akan bersiap-siap."

Sasuke menatap Hinata yang kini pergi berlari menaiki tangga. Wanita itu terlihat sangat bersemangat.

Kencan huh…

.

.

Sasuke menggerutu. Mengapa mereka harus naik bus? Ia sangat membenci transportasi umum. Ia tidak mau jika harus berdesak-desakan dengan orang asing di dalam ruang bus yang sempit.

Sudah lama sekali ia tidak naik bus. Terakhir kali mungkin saat ia masih sekolah dulu. Setelah ia memiliki mobil pribadi, ia tidak lagi menggunakan transportasi umum.

"Busnya sudah sampai."

"Mm." Ia benar-benar tidak menyukai ini.

"Ayo." Tanpa berpikir panjang Hinata memegang tangan Sasuke untuk menyeretnya masuk.

Ketika Hinata hendak memasuki bus tiba-tiba tubuhnya membeku.

Melihat ada yang tidak beres dengan Hinata, Sasuke menoleh ke arahnya.

Wajah Hinata terlihat pucat pasi. Tubuhnya berkeringat dingin, termasuk pula telapak tangannya yang saat ini masih memegang tangan Sasuke.

Hinata terlihat ketakutan.

Tapi apa yang ia takuti?

Apakah ia takut naik bus?

Jika begitu mengapa Hinata tidak mengatakan apapun padanya? Bahkan dua menit yang lalu Hinata terlihat normal dan ceria.

Apa yang terjadi padamu, Hinata?

Sasuke menyeretnya menjauh. Mereka berdua tidak jadi menaiki bus dengan kondisi Hinata yang seperti itu.

Hinata masih memandangi bus yang saat ini bergerak menjauh dengan tatapan kosong. Sasuke benci itu. Dengan sengaja ia mengetukkan ujung jarinya di dahi Hinata untuk membuatnya tersadar.

Tuk!

"Eh?" Hinata terlonjak kaget.

"Ada apa Hinata?" Tanya Sasuke tanpa mampu menyembunyikan kekhawatirannya.

"Ti-tidak ada apa-apa!"

Hinata berbohong. Apa yang ia sembunyikan?

.

.

"Ayo Sasuke!"

Sasuke membenamkan wajahnya di syal sambil menggerutu. "Kenapa kita harus mengunjungi kebun binatang."

Mengapa wanita ini justru memilih mengunjungi destinasi seperti ini? Jika ingin menonton binatang kau cukup menonton videonya di internet. Ada ribuan jenis binatang di sana.

Hinata terkekeh. "Mengapa tidak."

"Ini sangat memalukan. Bagaimana jika ada yang mengenaliku."

"Kau berlebihan Sasuke. Apa salahnya dua orang dewasa mengunjungi kebun binatang?"

Sasuke tetap menggerutu. Ia adalah pemimpin dari Uchiha group damnit! Ia memiliki reputasi yang harus dijaga. Jika ada yang tahu seorang Sasuke Uchiha membolos kerja hanya demi mengunjungi kebun binatang maka ia akan dijadikan bahan lelucon! Harus ditaruh dimana harga dirinya nanti?!

"Cerialah sedikit, Sasuke. Kau dulu pasti juga merasa ceria saat mengunjungi kebun binatang."

Sasuke ingin sekali protes dan pergi meninggalkan tempat ini secepatnya. Namun niat itu ia batalkan ketika melihat Hinata yang terlihat riang. Tidak ada lagi jejak-jejak rasa takut di wajah wanita itu.

Fine, ia akan mengalah untuk hari ini saja.

.

.

"Kau bilang ingin menyentuh surai singa." Kata Sasuke dengan nada datar.

"I-ini singa!"

"Itu bayi singa. Tidak ada surainya."

"Tetap saja ini singa!" Bantah Hinata.

Hinata lalu mengelus tubuh bayi singa itu.

Dasar Hinata! Wanita itu mengatakan ia ingin mengunjungi singa karena ingin membelai surainya. Namun siapa sangka saat melihat binatang itu dalam jarak dekat nyalinya menjadi ciut. Wajahnya menjadi pucat hanya karena mendengar auman singa. Bahkan ketika si pawang memberi makan singa itu dengan daging mentah, tubuhnya justru gemetar.

Hinata memang aneh.

"Kau ingin menggendongnya?" Tanya si pawang.

"E-eh?! Bo-boleh?"

Sasuke menahan senyum ketika melihat sepasang mata Hinata yang berbinar-binar.

Hinata tertawa saat bayi singa itu berada di gendongannya. "Sasuke! Cepat ambil ponselku yang ada di tas. Aku ingin berfoto dengan bayi singa."

Sasuke justru melipat tangannya di dada. Sekarang wanita ini berani memerintahnya huh. Semakin lama nyali wanita itu semakin besar. Cara bicaranya juga semakin berbeda, tidak lagi terbata-bata. Berbeda jauh dengan wanita yang ia nikahi dulu.

"Sasuke! Ku-kumohon…"

Dengan menghela nafas Sasuke mengambil ponsel Hinata. Entah darimana ia mendapatkan kesabaran untuk menghadapi wanita ini. Mengapa semakin lama ia menjadi semakin mengalah padanya?

"Ponselnya tidak aku kunci. Cepatlah Sasuke! Bayi singa ini mulai berontak."

Sasuke lalu menghadapkan kamera ponsel ke arah Hinata.

Hinata lalu tersenyum ke arah ponsel. Sasuke mengerutkan alisnya. Mengapa wanita ini justru tersenyum kaku dan formal seperti itu? Sama sekali tidak menarik.

Akan tetapi bayi singa di gendongan Hinata itu justru menjilati tangannya dan membuatnya tertawa.

Sasuke tertegun melihat tawa Hinata.

Wanita itu terlihat sangat cantik saat tertawa bahagia seperti saat ini. Dan harus Sasuke akui, ia terpesona.

Dan Sasuke memotret Hinata yang sedang tertawa bahagia. Mengabadikannya.

"Sudah?"

"Mm."

"Bagaimana?"

"Wajahmu terlihat jelas."

Mendengar komentar darinya, Hinata justru cemberut. Sampai kapanpun Sasuke tidak akan mengakui jika ia terpesona pada tawa Hinata.

Hinata lalu mengembalikan bayi singa yang ada di gendongannya pada si pawang.

Sasuke melihat ponsel yang masih berada di genggamannya. Di layar ponsel itu masih terpampang dengan jelas foto Hinata yang sedang tertawa bahagia. Tanpa pikir panjang lagi ia mengirimkan foto ini ke ponselnya.

Mengapa ia melakukan hal ini? Bahkan ia sendiri juga tidak tahu.

Sasuke melirik ke arah Hinata yang kini masih setia mengelus bayi singa itu.

Hinata memandangi bayi singa itu dengan tatapan kagum sekaligus takjub. Sepasang mata rembulannya berbinar-binar. Hinata terlihat lugu dan polos.

Seperti seorang anak kecil yang takjub melihat hal-hal yang baru.

Seperti apa Hinata saat masih anak-anak dulu? Apakah ia anak pendiam yang lugu dan polos ataukah ia seseorang yang jahil dan banyak tingkah? Apakah Hinata dulu cengeng? Namun pasti Hinata sangat manis saat masih kecil dulu dengan sepasang mata rembulan yang besar dan hidungnya yang mungil.

Anak huh…

Sejujurnya ia tidak pernah memikirkan tentang 'anak'. Baginya, memiliki anak adalah sesuatu yang normal dan kelak suatu hari nanti pasti akan ia miliki.

Terkadang ia lupa jika kini ia telah menikah dan memiliki istri. Bagi seorang pria yang telah menikah, urusan 'anak' adalah hal yang normal.

Hinata adalah istrinya.

Mereka adalah sepasang suami istri. Setiap orang pasti mengharapkan mereka segera memiliki anak. Itu hal yang seharusnya terjadi. Sesuatu yang normal.

Apakah Hinata pernah memikirkan tentang hal ini?

"Sasuke, ayo mengunjungi rusa." Kata Hinata yang berjalan menghampirinya.

"Hm." Jawabnya dengan singkat.

Hinata berjalan melenggang di depannya. Rambut panjangnya tergerai bebas dan seakan menari-nari saat ia sedang berjalan.

Jika suatu hari nanti mereka berdua memiliki anak…

Entah kenapa Sasuke merasa tidak keberatan dengan hal itu.

.

.

Please review^^

Saya hanya membuat Sasuke POV di bagian-bagian tertentu saja.