Last Summer
Jeon Jung Kook (BTS) short story
Jung Kook x reader
by Morning Eagle
Rating: T
Genre: Romance
.
Disclaimer:: BTS members are belong to God
::Author don't take any material profit from this fiction::
.
.
.
Si gadis melihat pria itu tertunduk, merogoh saku celananya berkali-kali. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya, berbayang. Samar-samar pria itu merutuk, membuat si gadis menunggu dalam diam. Di tengah malam di sebuah mini market yang buka dua puluh empat jam. Si penjaga toko adalah seorang pria paruh baya yang lebih mementingkan ponsel barunya dibandingkan melayani pelanggan yang kekurangan uang untuk membayar.
Hanya sekotak susu dan cemilan ringan. Pria itu tetap merogoh saku celananya dan kini jaketnya. Tapi tidak menemukan apa yang dicarinya.
Si gadis melihat uang kertas di atas counter. Hanya kurang beberapa won. Tanpa menunggu lebih lama si gadis merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa logam sepuluh won dan meletakannya di atas counter.
Pria itu menatapnya. Kali ini wajahnya cukup terlihat jelas. Kedua bola matanya membesar, hidungnya mancung. Dan wajah terkejutnya lebih menarik daripada kelihatannya.
"Tidak apa, hanya kurang beberapa won saja," kata si gadis.
"Tapi—"
"Kau bisa membayarku lain kali."
Pria itu tidak membalas ketika si penjaga toko sudah mengambil uangnya. Pria asing yang seperti bocah lugu, menunduk dalam sebelum berlalu pergi meninggalkan mini market. Si gadis tersenyum ketika pintu tertutup dan punggung pria itu hilang dari pandangan.
Itu adalah akhir musim panas ketika liburan panjang akan segera berakhir. Suara jangkrik akan memudar menuju musim berangin yang lebih dingin. Musim panas pertama bagi si gadis, melewati hari-hari barunya sebagai seorang sales toko ternama di pusat kota, di sebuah tempat di distrik Gangnam.
.
.
.
Musim panas ketiga.
Cuaca lebih panas dengan matahari terik membakar kulit. Si gadis mengangkat kardus terakhir ke dalam toko. Pendingin ruangan menyambutnya dengan sapuan lembut. Menghilangkan peluh dan penat di kepala.
Barang kiriman terakhir. Sebuah produk baru yang sudah mendapat pesanan pre-order dari para pelanggan toko. Si gadis melihat satu kardus yang sudah dibuka, berisi kotak sepatu yang dilabeli khusus. Dan sebuah poster berada di atasnya, siap untuk dipajang pada etalase toko.
Tidak pernah mengira bahwa bintang terkenal di Seoul akan membuat para pelanggan toko menggila, demi sepasang sepatu dan kenangan manis dari para pria tampan dengan senyum meluluhkan hati. Si gadis hanya bisa menatap ketika poster itu dipasang. Langit cerah dan matahari terik. Musim panas ini membuat hatinya terasa gundah.
Dia butuh udara segar dan sekaleng alkohol untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Melupakan pekerjaan, kehidupan, juga masa depan yang tak pasti. Mungkin dua kaleng tak berarti banyak.
Malam hari selesai shift dan menutup toko, si gadis bergegas ke sebuah mini market yang tak jauh dari apartemennya. Mini market dua puluh empat jam, memberikan apa pun yang dibutuhkannya selama tiga tahun terakhir. Pendingin ruangan kembali membuatnya lega, menghilangkan sedikit rasa lelah dan lengket pada kulitnya.
Dia mengambil tiga kaleng alkohol ringan, beberapa untuk cadangan, dan ditambah beberapa makanan ringan. Tidak banyak pengunjung di malam hari menjelang tengah malam. Selain si penjaga toko paruh baya yang ingin shift-nya segera berakhir, tak pernah meninggalkan posisinya bekerja larut malam selama tiga tahun terakhir ini.
Si gadis menaruh barang belanjaan di atas counter ketika si penjaga toko menghitung dengan raut wajah tak bersemangat. Kerutan lebih banyak terlihat di sekitar mata dan mulutnya.
Seseorang menyodorkan sebuah kotak susu dan beberapa cemilan ringan ke arah si penjaga toko, berikut kartu kredit untuk membayar.
Si gadis mengerutkan alisnya tajam, bingung bercampur terusik kentara.
"Hitung semuanya, ahjussi. Aku yang bayar."
"Tunggu dulu—"
Si gadis melihat pria itu, memakai topi hitam yang menutupi separuh wajahnya. Pria jangkung yang menatapnya dengan mata membulat.
"Aku bisa membayar bagianku sendiri," kata si gadis.
"Biar aku yang bayar, noona."
"Noona?"
"Aku masih berhutang kepadamu."
Si gadis terlihat bingung, menatap pria asing itu dengan hati-hati. Benaknya bergulir ke masa lalu, berusaha mengingat jejak raut wajah juga kerutan halus di ujung mulutnya yang menukik. Pria berwajah seperti bocah, terlalu manis dengan tubuh jangkungnya.
Si gadis masih mematung, bahkan setelah barang belanjanya tergenggam erat di tangan. Pria itu hanya melambaikan tangan sambil berlalu pergi. Tak mengucapkan satu kata pun yang bisa membuat si gadis mengingatnya.
"Tunggu—" Si gadis mencegah, menahan pintu kaca dengan sebelah tangan.
Punggung pria itu bergidik dan langkahnya terhenti.
"Siapa kau?"
Pria itu sedikit menoleh. Wajahnya berbayang di bawah gelapnya langit malam. Selain sudut mulutnya yang sedikit menukik.
"Aku hanya ingat bahwa aku masih berhutang beberapa won kepadamu, noona."
Dan pria itu pergi sementara si gadis masih terpaku di tempat. Kesadarannya seakan menampar pipinya. Si gadis mengingat di mana musim panas pertama dirinya bertemu dengan pria asing itu. Terlambat ketika punggung pria itu sudah menghilang di tengah gelapnya malam.
'Seandainya saja aku tahu namanya,' pikir si gadis dalam hati.
Menghela napas panjang, si gadis berjalan pulang menuju apartemennya. Udara lembab membuat kulitnya sedikit lengket. Kepalanya kembali berdenyut ringan. Dia butuh mandi dan meminum alkoholnya, sambil menikmati acara televisi tengah malam yang tak begitu dipedulikannya. Si gadis hanya menyukai suasana ramai di dalam apartemen kecilnya yang terlalu hening. Tinggal seorang diri di sebuah kota besar, merantau untuk mencari jati diri juga nasib.
Si gadis hampir menubruk seseorang yang berhenti di depannya. Dua kaki jenjang dengan sepatu yang dikenalinya dengan sekali lihat. Barang terbaru di tokonya, salah satu yang populer. Si gadis mendongak dan menemukan wajah pria asing itu tersenyum kepadanya. Dengan senyum jahil dan mata membulat.
"Noona, bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?" tanya pria itu tak basa-basi terlalu lama. Sedikit rona merah mewarnai pipinya. Tipe kikuk dengan sebelah tangan menggaruk belakang leher.
Si gadis mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya dalam hati.
"Kumohon?" pintanya lagi.
"Bantuan apa?"
"Bolehkah aku meminjam ponselmu? Ponselku tertinggal di rumah dan aku lupa bertanya sesuatu pada hyeong-ku."
Kali ini ponsel. Apakah hanya sebuah kebetulan semata?
Si gadis merogoh saku celananya, memberikan ponselnya tanpa bertanya lebih lanjut. Disambut oleh senyum lebar si pria asing yang langsung membuat hatinya luluh. Senyum itu terlalu manis dan bisa meredakan amarah dalam sekejap.
"Kau tidak menyebutkan siapa namamu," ucap si gadis, melihat pria asing itu mengetik nomor begitu cepat.
"Noona mungkin akan terkejut bila tahu namaku."
"Kupikir tidak. Mengapa?"
"Panggil saja JK," katanya, ketika suara di seberang telepon memutus pembicaraan mereka. Pria asing itu—JK mengubah suaranya menjadi lebih tidak formal ketika kakak yang dimaksudnya mengangkat panggilannya.
Kurang dari satu menit sebelum JK mematikan ponselnya dan mengembalikan kepada si gadis. Sedikit menunduk, postur tubuh jangkungnya tak lupa memberikan rasa hormat yang jarang sekali dilakukan kebanyakan anak muda.
"Terima kasih, noona."
"Tidak perlu. Lain kali perkenalkan dirimu sebelum meminta bantuan pada orang asing."
"Tentu, akan kuingat." Senyumnya masih belum pudar.
"Pulanglah, hari sudah larut malam, bukan?"
"Aku masih harus melakukan sesuatu, hyeong-ku meminta bantuanku. Apakah noona tahu toko ayam yang masih buka di sekitar sini?"
Lagi, JK meminta bantuan tanpa pamrih. Kali ini senyumnya lebih terlihat seperti sebuah tekanan yang tak mungkin ditolak mentah-mentah.
Si gadis merutuk dalam hati, 'mengapa tidak bisa mengatakan tidak sekali saja?'.
"Sekitar satu blok dari sini. Kau perlu menusuri jalur ini dan belok kanan ketika menemukan sebuah lampu lalu lintas. Tempatnya tepat di sebelah café kopi."
Sekali lagi JK menunduk, memberikan rasa terima kasih dengan senyum lebarnya.
"Terima kasih, noona!"
Dan punggungnya perlahan menghilang di gelapnya malam. Kali ini tidak berbalik lagi. Si gadis menghela napas, merasakan kaleng bir di dalam kantungnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
.
.
.
Ponsel si gadis berdering nyaring. Sebuah nomor tanpa nama muncul di layar. Seseorang yang tak dikenalnya.
Si gadis mengangkat dan berhati-hati bicara.
"Halo?"
"Noona! Ini aku, JK. JK."
Si gadis mengerutkan alisnya tajam. Kebingungan ketika dirinya kembali terhubung dengan bocah itu—dia dengan senyum manis yang ditemuinya di mini market. "Bagaimana kau bisa tahu nomorku?"
"Aku menyimpan nomormu malam itu, noona. Maaf tidak memberi tahumu sebelumnya," kata JK terburu-buru."Bisakah kau datang ke alamat ini siang ini?"
"Kali ini apa? Kau tersesat lagi?"
Suara tawa JK membuat hati si gadis melompat. Seperti teguran manis di musim gugur. Suara JK benar-benar lembut.
"Pokoknya datang saja. Aku akan menunggumu—"
Dan sambungan telepon terputus. Si gadis menatap layar terpaku, lalu sebuah pesan muncul sebagai balasan. Alamat yang dikirimkan JK kepadanya.
Si gadis tidak bisa mengambil pilihan lain. Dia segera mengambil tasnya sebelum keluar dari apartemen. Sinar mentari pagi menyambutnya dari balik pintu. Mengantarkannya pada masa depan yang sulit ditebak. Kakinya menentukan takdir baru di depan mata.
Itu adalah awal musim gugur, akhir dari musim panas ketiga. Si gadis melangkah mantap pada hari-hari barunya yang akan lebih berwarna. Tidak lagi monokrom hitam putih.
Dan ini adalah musim panas terakhir ketika dirinya berjalan seorang diri di gelapnya malam menuju sebuah mini market dua puluh empat jam. Genggaman tangan akan menyambutnya di musim panas berikutnya, melalui hari-hari dengan sinar matahari terik dan lembabnya udara tanpa kekosongan di dalam hati.
.
.
.
.
.
Noona: panggilan (dari laki-laki) kepada kakak perempuan (y/n dalam fic ini)
Hyeong/ hyung: panggilan (dari laki-laki) kepada kakak laki-laki. Untuk hyeong/ hyung ini penulisannya lebih ke hyeong 형, walaupun hyung lebih banyak dipakai
Ahjussi: panggilan untuk laki-laki yang jauh lebih tua (paman)
Kali ini Jung Kook x reader (khusus noona). Melihat JK ga suka dipanggil oppa di salah satu fan meeting ^^ hahhaha~
