Disc : Masashi Kishimoto

Freedom and Love

Genre : Drama, Family, romance, action.

Pair : ...femNaru

Warning : FemNaru, OOC, typo, Miss typo, masih amatir

Chapter 3

Naruto menghela nafas, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Hari ini Dia mencoba menyusup kedalam kediaman Namikaze. Bukan menyusup secara sembunyi-sembunyi bukan. Dia menyusup dengan cara terang-terangan, menjadi seorang pekerja disana, Dia bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai Guru demi melancarkan acara penyusupan ini.

"Ano... Permisi, Saya pekerja baru yang menangani pekerjaan pagi sampai sore hari." Naruto memperkenalkan diri.

"Ah jadi pekerja baru itu Kau. Masuklah, Ayame sudah menunggu,"

Naruto melangkahkan kakinya. Ada rasa rindu dan juga sakit saat masuk kesana. Kenangan indah bahkan kenangan buruk masuk kedalam memori otaknya. Namun tenang, Dia adalah pribadi yang bisa menguasai diri sekarang, Dia tak akan goyah hanya karena masalah ini.

"Akhirnya Kau datang. Kau akan bertugas untuk keperluan Tuan muda, karena Tuan Muda sangat pemilih, Kau harus berhati-hati, Ahh dan Kau bilang hanya bekerja patuh waktu? Itu tak masalah, memang pekerja untuk Tuan muda ada dua orang." Seorang maid menjelaskan dengan lancar, Naruto hanya mengangguk mengerti, meski tak tahu alasan kenapa Kakaknya yang dipanggil Tuan Muda itu sampai butuh pelayan pribadi.

"Peraturan disini simpel, jangan pernah membawa isu dalam rumah ke luar rumah. Dinding disini bahkan bermata dan bertelinga. Perhatikan sikap dan tindakanmu. Disini tak ada kata Senioritas, Kita bekerja bersama. Baiklah, Kau Akazawa Naru, ikut denganku, yang lain langsung bekerja. Ayo," Naruto mengikuti langkah Ayame memasuki Kediaman utama, karena tempat berkumpulnya para pekerja memiliki tempat yang berbeda.

'Tok. Tok. Tok.'

"Tuan Muda. Ini Ayame, Saya membawa pelayan baru." Ayame mengetuk pintu kamar yanh diketahui itu kamar dari Kakaknya Kurama.

"Masuklah,"

Ayame membuka pintu, masuk bersama dengan Naruto, "Tuan Muda. Pelayan baru ini bernama Akazawa Naru, Dia yang akan melayani Anda dari pagi hari pukul 06.30 sampai Sore pukul 14.00, dan dilanjutkan oleh pelayan lama Anda sampai Malam hari."

Bolehkan Naruto menangis dan memeluk Kakaknya sekarang? Kenapa dengan kondisi Kakaknya? Sekuat tenaga Naruto menormalkan suara yang akan Dia keluarkan.

"Akazawa Naru desu. Saya yang akan melayani Anda mulai sekarang." Naruto membungkuk hormat meski Kakaknya tak dapat melihat.

"Baiklah. Tuan muda, Saya permisi. Dan Naru layani Tuan muda dengan baik," Ayame pergi meninggalkan keduannya. Naruto masih menatap Kurama, air matanya terlihat keluar, Naruto langsung mengelapnya, Dia harus kuat.

"Aku ingin mandi." Ujar Kurama kemudian.

"Ha'i. Saya akan menyiapkannya Tuan." Naruto berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamar itu, menyiapkan air hangat, handuk dan peralatan mandi untuk Kakaknya.

Naruto menyelupkan tangannya, mengatur suhu untuk Kakaknya mandi, kalau tak salah, Kakaknya itu lebih suka berendam di air yanh sedikit lebih panas.

"Airnya sudah siap." Kurama mengambil tongkatnya, berjalan kearah kamar mandi.

Melihat Kurama masuk kamar mandi, Naruto langsung menyiapkan baju untuk Kurama yang menurut Naruto cocok.

Matanya fokus pada meja yang ada disana, 2 buah figura kecil disana. Penasaran, Naruto menghampirinya, tersenyum sedih, itu foto dirinya saat Wisuda dan Kurama yang datang sebagai walinya, karena Kedua orangtuanya tak bisa datang. Senyum sedihnya berubah menjadi senyum senang, disana foto Kurama bersama seorang wanita cantik tersenyum bahagia. Mungkinkah itu Kekasih Kakaknya? Wow Kakaknya normal ternyata.

Cklek.

Kurama keluar dengan handuknya, Naruto bergegas menghampiri.

"Kau bisa siapkan sarapan pagiku saja dan bawa kesini." Perintah Kurama.

"Anda tak akan makan bersama?" Tanya Naruto.

"Tidak. Nafsu makanku hilang jika bersama Mereka. Dan jangan banyak bertanya, cepat pergi." Usir Kurama.

Naruto membungkuk dan keluar kamar, sedangkan Kurama menuju tempat tidurnya, tempat biasa menyimpan bajunya yang akan dipakai.

Naruto berjalan menuju ruang makan, langkahnya terhenti sebentar, Ayah dan Ibu serta dirinya yang palsu tengah makan bersama.

"Ruko hari ini Kau ke Dokter?" Tanya Kushina.

"Ha'i." Jawab Naruko.

"Ayah harap ingatanmu kembali. Bukankah Kau memiliki cita-cita sebagai psikolog?" Ujar Minato.

"Aku sudah menyerah Ayah. Aku akan mencoba menjalani hidupku yang sekarang, karena Naruto sudah lama mati."

Naruto meremas baju maidnya, Dia bilang Naruto sudah mati, ingin rasanya Dia berteriak didepan wanita itu. Berani-beraninya Dia berkata seperti itu, dan apa katanya tadi, menyerah akan cita-cita? Jangan bercanda, Dia masih memiliki cita-cita itu, dan tak akan menyerah.

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Sai?" Tanya Kushina.

"Dia bahkan tak menganggapku ada. Ugghh... Dia mengejar wanita pelayan Cafe terus." Jawab Naruko sebal.

Minato tertawa, "Sudahlah Sayang. Kau itu cantik, masih banyak lelaki yang mau bersanding denganmu, "

Naruto mengatur nafas, berjalan mendekati ketiganya. "Ohayaou gozaimasu Tuan, Nyonya, Nona. Saya mau mengambil sarapan Tuan muda." Naruto membungkuk hormat, senyum palsu terukir sempurna di bibirnya.

"Oh pasti Kau pelayan baru Kurama." Ujar Kushina.

"Ha'i. Akazawa Naru desu, Maaf Saya permisi. Tuan Muda sudah menunggu." Naruto mengangkat nampan berisi sarapan untuk Kurama dan bergegas pergi dari sana.

"Kau lama." Protes Kurama, kemejanya belum dikancing, Ahh tentu saja, karena Kurama sedikit kesulitan saat mau mengancingi baju tadi.

"Maafkan Saya." Naruto menyimpan nampan dimeja yang ada disana dan membantu Kurama mengancingi bajunya.

"Silahkan sarapan Anda." Naruto memberikan sendok pada Kurama setelah Kurama duduk nyaman didepan meja.

Kurama mengambil mangkuk nasi perlahan, dan menyendokannya, Naruto dengan cekatan mengambil sumpit, menyimpan potongan daging diatas nasi yang sudah disendoki.

Kurama terdiam sejenak, sebelum akhirnya melahap nasi itu.

Naruto menahan tangis, tadi Dia melihat kedua orangtuanya tertawa bersama orang asing, dan sekarang Dia harus melihat Kakaknya sarapan seorang diri, dan harus dibantu.

"Kau menangis?" Tanya Kurama.

"Ti-tidak Tuan." Jawab Naruto gagap, Memegang pipinya yang terasa basah.

"Kau kasihan padaku? Sayangnya Aku tak perlu dikasihani." Ujar Kurama dingin.

"Maafkan Saya." cicit Naruto.

"Aku sudah selesai. Aku ingin ke taman belakang." Kurama mengambil tongkatnya, berjalan diikuti Naruti dari belakang.

"Kau mau kemana Ku?" Tanya Kushina saat berjalan melewati ruang makan.

"Bukan urusanmu Aku mau kemana." Jawab Kurama datar, melanjutkan perjalanannya.

"Sopanlah pada Ibumu Kurama." Teriak Minato yang tak ditanggapi oleh Kurama.

"Jangan berkomentar tentang tingkahku tadi," ujar Kurama tiba-tiba.

"Saya bahkan belum mengatakan apapun. Kenapa Anda bisa tahu Saya akan berkomentar?" Tanya Naruto.

"Dan dari perkataanmu, sekarang Aku yakin Kau pasti akan berkomentar tadi." Naruto hanya diam, memang benar tadi Dia ingin mengatakan sesuatu tadi.

"Kau menangis melihat kondisiku. Itu sudah cukup mengetahui sifatmu yang sensitif. Kau terlalu baik hati, sifatmu yang seperti itu bisa membuatmu terkena masalah." Ujar Kurama.

Naruto memegang lengan Kurama, membantunya duduk dibangku taman.

"Berapa usiamu?" Tanya Kurama.

"Tahun ini 22 Tuan." Jawab Naruto.

"Masih muda. Dan Kau memilih pekerjaan seperti ini. Kenapa?"

"Aku butuh uang tentu saja." Jawab Naruto.

Kurama tertawa, jawaban yang tak diduga, "Hmm. Aku cukup terkesan."

"Ku..."

Kurama langsung menghentikan tawanya, Naruto menatap wanita cantik yang baru datang tadi, wanita yang ada di foto.

"Untuk apa Kau kesini?" Tanya Kurama dingin.

"Apa salah jika seorang tunangan ingin bertemu tunangannya?" Wanita itu balik bertanya.

"Bukankah Aku sudah memutuskan pertunangan Kita Itachi."

"Aku tak mau. Sudah berapa kali Aku bilang,"

"Saya akan mengambilkan teh dan cemilan." Pamit Naruto.

"Ku. Aku mencintaimu," Itachi duduk disamping Kurama menggengam erat pria tampan dihadapannya itu.

"Aku tak mencintaimu lagi," ujar Kurama melepas genggaman tangan Itachi.

"Aku tidak menangis..." Itachi bersuara saat Kurama akan mengatakan sesuatu.

"Aku tak menangis, namun bisakah Aku tetap disampingmu?" Tanya Itachi.

"Cari pria yang lebih sempurna dan lebih baik dariku. Kau pantas bahagia Tachi..."

"Aku tak akan bahagia tanpamu."

"Kau ingat perkataan Dokter bukan? Meski ada mata yang cocok untukku mustahil Aku bisa melihat lagi. Pergilah," Kurama mengusir.

"Ya. Aku akan pergi, tapi pasti Aku akan kembali lagi. Dasar rubah sialan," Itachi beranjak pergi meninggalkan Kurama.

Naruto datang membawa teh dan cemilan.

"Are... Kemana wanita cantik itu pergi?" Naruto celingukan.

"Silahkan tehnya Tuan." Menyodorkan cangkir teh dimeja depan dekat Kurama yang masih terdiam.

"Anda pasti menyakiti wanita cantik itu ya Tuan?"

"Jangan sok tahu,"

"Melihat sikap Anda pada Saya. Saya yakin 100% Anda menyakitinya." Ujar Naruto yakin.

"Duduklah, temani Aku minum teh, Jangan menolak karena ini perintah dari majikanmu." Kurama menepuk tempat disebelahnya.

"Dia wanita baik, Dia adalah wanita yang berhasil mengambil hatiku. Dia mengejarku bertahun-tahun, terkadang Dia bertingkah bodoh hanya untuk mengambil perhatianku. Aku hanya ingin Dia bahagia," ujar Kurama,

"Aneh ya, Aku mengatakan ini padamu. Aku belum pernah bercerita pada siapapun, adikku, orangtuaku, pelayan pribadiku yang dulu. Mungkin karena auramu mirip dengan adikku sebelum kehilangan ingatan, namamu Naru kan? Namamu hampir mirip,"

'Kau merasakanku Ku-nii, Ya ini Aku, Nii-san tenang saja, mulai sekarang Aku yang akan mendengarkan semua keluh kesah Nii-san. Dan jika semuanya telah terungkap, Kita akan bersama lagi.'

"Apa Tuan berfikir Dia akan bahagia dengan orang lain? Tuan sepertinya tak peka terhadap perasaan wanita." Komentar Naruto.

"Hahaha benar-benar mirip. Jika saja adikku tak kehilangan ingatannya, Dia seperti orang lain sekarang. Aku ingin semuanya kembali seperti semula, bahkan Kedua orangtuaku bersikap aneh. Aku merasa seperti orang lain di rumahku sendiri."

Naruto tak tahan, Dia mengenggam tangan Kurama, mencoba menguatkan sang Kakak.

"Tuan. Anda pasti bisa bahagia,"

Kurama terkejut, "Na-naruto?"

Terkejut, Naruto melepaskan gengamannya, "Tuan? Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto setelah melepas rasa terkejutnya.

"Ah.. Maaf, Aku terlalu merindukan adikku yang dulu." Jawab Kurama.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Kurama.

"Jam 10 Tuan." Jawab Naruto.

"Aku ingin beristirahat di kamar, setelah itu Kau juga bisa istirahat." Kurama berdiri, meraih tongkatnya dan berjalan menuju kamarnya.

Naruto menatap kesana-kemari setelah mengantar Kurama ke kamarnya. Jam 10 sampai jam stengah 11 adalah istirahat bagi para pekerja, Dia memiliki waktu selama 30 menit.

Cklek.

Naruto membuka pintu kamar yang dulu merupakan kamar tidurnya.

"Sepertinya kamar ini tak digunakan oleh si palsu itu." Gumam Naruto melihat kamarnya yang terlihat rapih meski sedkit berdebu.

'Tak mungkin ada yang tahu Aku memiliki tempat yang seperti ini,' batin Naruto menyingkap karpet didekat tempat tidur, membuka salah satu keramik lantai yang ada disana.

"Masih ada." Gumamnya senang.

Menatap barang-barang yang ada disana, salah satunya sapu tangan milik Sasuke.

"Wow bahkan uangku juga masih ada. Lumayan bukan untuk biaya hidup." Ujarnya dan mengambil barang-barang yang ada disana, memasukan semuanya kedalam kantung bajunya dan keluar darisana, bergabung bersama para pekerja untuk beristirahat.

Jam menunjukan pukul 2 sore waktunya pulang, dan Naruto sudah pamit pada Tuannya bergegas pergi, sekarang ini Dia meminta Boss pemilik Cafe untuk mengubah jadwal kerjanya menjadi sore sampai malam. Bossnya memang bisa diajak kompromi.

"Naru..." Sai menyapa Naruto dari dalam mobilnya.

"Yes. Sai, Aku ikut mobilmu, antar Aku sampai Cafe." Tanpa diajak maupun ditawari Naruto masuk mobil Sai, membuat pria itu tertawa kecil.

"Kau itu wanita Naru. Tunggulah sampai Aku menawari tumpangan, kapan Kau bisa punya pacar dengan sikapmu yang seperti itu hah?!" Sai mengacak rambut hitam Naruto, sedangkan Naruto cemberut tak suka.

"Andai Aku punya adik sepertimu. Pasti akan seru." Ujar Sai.

"Ah iya, bagaimana dengan Karin-senpai?" Tanya Naruto dengan wajah berbinar penasaran.

"Dia itu tipe orang yang tak bisa jujur. Aku tak tahu harus pakai cara apa," jawab Sai.

"Kata Karin-senpai, Kau itu selalu menempel padaku,"

"Begitu? Mungkin Aku harus sering menempel padamu."

"Aku tak mau dekat-dekat dengamu. Penjahat saja takut padamu."

"Tentu saja takut. Aku ini polisi Naru,"

Sai memasukan mobilnya ke tempat parkir Kafe membuat Naruto mengerenyit bingung.

"Aku hanya minta antar."

"Aku juga ada urusan disini. Kawan-kawanku ingin bertemu disini,"

Sai keluar dari mobil, dan membukakan pintu untuk Naruto.

"Wow... Kau sehat Sai," Naruto tertawa melihat kelakuan Sai.

"Aku ini lebih tua darimu dan masih saja menyebutku Sai, Sai, Sai. Ayo masuk," Sai merangkul pundak Naruto, membawanya masuk kedalam Cafe.

"Sai. Berhenti disana dan jangan menyentuh Naru," menyeringai, Sai menyeringai saat melihat Karin cemburu.

"Tenang sayang. Naru hanya kuanggap sebagai adik." Ujar Sai menyentuh pundak Karin.

"Siapa yang Kau panggil sayang brengsek?! Pergi sana!" Teriak Karin.

"Oii.. Cafeku bisa bangkrut, pelangganku pergi semua. Dan Kau Sai, cepat kemari." Shikamaru keluar dari ruangannya memanggil Sai yang masih bersenang-senang menatap ekspresi kesal Karin.

"Sudahlah Senpai. Kau mau pulang bukan? Ayo ke ruang ganti bersama." Naruto menarik Karin yang bisa saja meledak disana.

"Awas Kau Sai. Kubalas Kau nanti penjahat," teriak Karin, Sai hanya dadah-dadah dengan senyum senang masih terpatri dibibirnya.

"Oh ya Naru. Tadi ada orang yang mencarimu. Dan menitipkan amplop ini."

'Akasuna Sasori'

Naruto membuka amplopnya tergesa-gesa, saat melihat nama yang tercantum disana.

'Jangan pergi terlalu jauh. Hiduplah tanpa mengetahui apapun, Konan kapan saja bisa mati.'

Itu isi pesan di belakang foto Konan yang terlihat sangat menderita diruang tempat penyiksaan.

"Naru? Kau baik-baik saja?" Tanya Karin khawatir.

"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir senpai." Jawab Naruto bergegas memasykan foto itu kedalam tasnya.

'Jadi selama ini Kau yang mengirim foto-foto Konan-nee. Tapi untuk apa?' batin Naruto,

Jika Kau harus memilih Cinta dan dendam apa yang Kau pilih?

Naruto kini tengah dihadapkan dengan situasi dimana Uchiha Sasuke tengah di kroyok oleh beberapa preman, jangan tanya alasan preman itu menyerang si Uchiha, karena Naruto juga baru sampai disana.

"Oii... Sedang apa Kalian?! Aku sudah memanggil polisi," Teriak Naruto.

"Cihh... Ayo pergi." Ujar grombolan preman itu. Meninggalkan Sasuke yang tergeletak.

"Uchiha-san. Kau baik-baik saja?" Tanya Naruto,

"Oh Kau karyawan Shika. Aku baik-baik saja," jawab Sasuke. Naruto menjauhkan tubuhnya sedikit, bau alkohol, Sasuke mabuk.

"Aku antar pulang. Dimana rumahmu?"

Tak ada jawaban, menyesal rasanya tadi tak pulang bersama teman-temannya, mungkin Dia tak harus bertemu Sasuke.

Naruto merogoh saku Sasuke, mencari alamat dari kartu identitas Sasuke.

"Taxi..." teriak Naruto melambaikan tangannya, terpaksa Dia harus mengantar teman masa kecilnya itu. Ahh padahal Dia ingin istirahat, besok Dia harus bekerja lagi di kediaman Namikaze.

Taxi itu berhenti di depan Kediaman Uchiha, dengan susah payah Naruto membawa Sasuke setengah diseret, untung saja ada penjaga rumah kediaman Uchiha dan membantunya sampai ke pintu depan.

"Ya tuhan ototou. Masuk, masuk." Itachi membantu Naruto membawa Sasuke ke kamarnya.

"Terima ka... Kau pelayan Kurama bukan?" Itachi menunjuk Naruto.

"Ah. Wanita cantik yang disakiti Tuan muda." Ujar Naruto asal ceplos.

"Ahaha takdir apa ini, ternyata Kau teman Sasuke. Dan terima kasih memanggilku cantik, terima kasih juga sudah mengantarkan adikku. Namaku Uchiha Itachi, Kau bisa memanggilku Itachi-nee."

"A-akazawa Naru desu. Aku bukan teman Uchiha-san, hanya saja Uchiha-san teman Bossku jadi Aku membantunya,"

"Begitu. Ayo Aku buatkan coklat panas. Biarkan si baka itu tidur." Ajak Itachi.

"Tapi saya mau pulang," tolak Naruto halus.

"Tidak. Tidak. Tak baik wanita pulang malam sendirian. Kau akan menginap disini, Aku juga ingin banyak bercerita tentang Kurama." Paksa Itachi.

Naruto mau tak mau mengaangguk saja, lagipula Dia juga merasa malas, terlalu lelah mungkin. Dan malam itu Mereka banyak bercerita, dari mulai kisah awal cinta Itachi sampai acara pemutusan tali pertunangan, entah kenapa Itachi merasa nyaman saat bercerita pada Naruto yang merupakan pelayan pribadi dari Kurama.

Sasuke bangun pada pagi harinya, kepalanya terasa sakit. Ahh ini semua gara-gara keempat sahabatnya mengajak dirinya berpesta setelah itu... Ahh Dia tak ingat, Dia butuh minum.

Dengan malas Sasuke keluar kamar, menuju dapur, melihat sang Kakak yang sibuk memasak, aneh memang melihat salah satu pemilik perusahaan besar di Jepang lebih memilih masak sendiri daripada menyewa pekerja, namun itu sudah menjadi kebiasaan sejak Ibu Mereka masih ada, meski begitu Mereka masih memiliki pekerja dibagian kebersihan, keamanan dan perkebunan.

"Sudah bangun pemalas. Kau hanya bisa menyusahkan orang saja." Sapa Itachi melihat adiknya mengambil gelas untuk minum.

"Berisik, masih... Ugghh.." Sasuke menutup mulutnya, perutnya terasa diputar.

"Tunggu Sasuke jangan dikamar mandi itu..." teriak Itachi,

'Kyaaaaa'

Itachi terlambat, bahkan Sasuke kini hanya bisa memegang kepalanya sakit akibat dilempar botol shampo.

"Nee-san siapa Dia?" Tanya Sasuke menunjuk pintu kamar mandi yang sudah tertutup kembali, bahkan rasa mualnya hilang entah kemana.

Itachi menatap Sasuke, antara marah dan lucu, wajah adiknya yang merah itu terlihat sangat manis, mirip Sasuke waktu kecil.

"Kau mabuk bahkan lupa siapa yang menolongmu." Itachi mengelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.

Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah Naruto yang merah menahan amarah.

"Tidak sopan. Ketuk dulu jika mau masuk Uchiha-san," ujar Naruto.

"Kau yang ceroboh. Kenapa tak dikunci pintunya dobe?" Tanya Sasuke, menyalahkan Naruto.

"Itu karena kunci pintunya rusak, teme." Naruto mambantu, Dia kelepasan

"Sudahlah Naru. Dan jangan panggil Sasuke Uchiha-san ya. Karena penghuni disini juga bermarga Uchiha semua." Ujar Itachi mencoba menengahi.

"Tapi Nee-san. Di-dia... Arrgghh... Aku tak bisa menikah," mata Naruto berkaca-kaca,

Sasuke mendengus, "Memangnya apa yang bisa kulihat darimu hah?! Papan rata!"

"Dia melihatnya. Dasar mesum," tunjuk Naruto.

Khem.

Suara deheman dari lantai 2. Fugaku menatap ketiganya seolah meminta penjelasan, "Selamat pagi Ayah." Sapa Itachi.

"Siapa gadis cantik ini Itachi?" Tanya Fugaku menatap Naruto yang menunduk malu karena ketahuan membuat gaduh dirumah orang.

"Namanya Akazawa Naru. Dia menolong Sasuke saat mabuk dan membawanya kesini, Ahh Dia juga pelayan pribadi Kurama, dan sekarang Dia juga merupakan adikku." Itachi memperkenalkan Naruto.

"A-akazawa Naru desu. Sa-salam kenal Uchiha-san." Naruto memperkenalkan diri.

"Naru ya. Aku Uchiha Fugaku, Kepala keluarga ini, Kau bisa memanggilku dengan panggilan Paman. Itachi, sarapan sudah siap bukan? Kenapa Kita tidak langsung makan, dan Sasuke. Cuci muka sana." Ujar Fugaku.

Acara makan Mereka diisi keheningan, Naruto yang masih memendam kekesalan hanya menatap Sasuke dengan pandangan menusuk, Itachi hanya bisa senyum-senyum tak jelas. Fugaku yang tahu ceritanya dari Itachipun sedikit mengangkat sedikit sudut bibirnya.

"Sasuke. Nanti antar Naru ke kediaman Namikaze ya."

"Hah? Kenapa harus Aku Nee-san?" Protes Sasuke.

"Kau berhutang pada Naru. Jika bukan karenanya Kau sudah babak belur. Apa sih yang Kau lakukan sampai bisa berurusan dengan preman. Jangan banyak protes,"

Sasuke bungkam, ini semua gara-gara 4 sahabat biangkeroknya. Namun ada hal lain yang difikirkannya, Naru mengingatkannya pada Naruto.

"Apa?!" Tanya Naruto karena tak nyaman Sasuke sedari tadi meliriknya dari saat Mereka memasuki mobil.

"Kau Naruto?" Tanya Sasuke hati-hati.

"Hah? Apa yang Kau katakan?" Panik tentu saja, apa dengan mudahnya Dia ketahuan oleh si Uchiha disampingnya ini?

"Jangan berbohong dobe?!"

"Sudah kubilang berhenti memanggilku dobe, teme." Naruto menutup mulutnya, dengan cekatan Sasuke menepikan mobilnya, menatap Naruto tajam.

"Hanya Aku dan Naruto yang tahu panggilan Kami berdua. Katakan jika itu benar Kau Naru. Kau Naruto yang kukenal."

"Jangan memaksaku," ujar Naruto lirih.

"Aku tak akan memaksamu jika Kau jujur padaku," teriak Sasuke.

"Memangnya jika Aku Naruto Kau mau apa? Kau yang meninggalkanku saat itu Kau lupa?! Kau bahkanbtak peduli pada gadis kecil itu?!" Naruto membalas teriakan Sasuke, keduanya terdiam saling menatap.

"Gomen. Aku harus bersekolah ke Amerika saat itu," ujar Sasuke lirih.

"Lalu kenapa Kau tak bilang padaku? Aku menunggumu. Kau adalah teman pertamaku saat itu, Aku kesepian." Tanya Naruto.

"Aku tak sanggup. Melihat senyum polosmu, Aku tak mau melihatmu menangis."

"Begitu. Bisa Kau antar Aku ke Kediaman Namikaze?" Tanya Naruto.

"Baiklah."

"Kau tak merasa aneh Naruto ada dua?" Tanya Naruto melihat sikap Sasuke yang terlihat biasa.

Sasuke melemparkan dokumen pada Naruto, "Meski Aku baru disini. Namun Aku memiliki banyak koneksi. Naruto di kediaman Namikaze bukan Naruto yang dulu kukenal. Dan juga..."

"Dan juga?" Naruto penasaran.

"Saat bertemu di pesta, dilengan Naruto sana tak ada bekas luka. Namun saat tadi pagi Aku tak sengaja melihat lenganmu yang ada bekas luka jahitan, Gomen."

Wajah Naruto memerah malu, "Ka-kau. Benar-benar, dasar teme mesum." Raung Naruto.

"Hanya saja... Aku tak menyangka Kau begitu dekat."

Keduanya melanjutkan setengah perjalanannya dengan keheningan hingga sampai ke Kediaman Namikaze, "Terima Kasih,"

"Aku akan menunggu di Cafe Shika,"

Naruti menatap jamnya. Oh bagus, hampir saja Dia terlambat. Pukul 06.15, Ngomong-ngomong apa di Kediaman Uchiha tadi acara sarapan paginya tak terlalu pagi?

TBC

A/N : Awalnya Saya mau membongkar rahasia Naruto didepan Sasuke nanti. Namun Saya berfikir kembali, setidaknya ada seseorang yang menjadi sandaran Naruto saat Dia terpuruk. Jadi biarkanlah Sasuke tahu hal yanh sebenarnya agar Dia juga dapat membantu hehe.

Oke segitu ajalah, Maaf jika fanfic chapter ini Gaje, Jaa matta ashita Minna