Eye-witness

Himkyu's Present

SVT Fiction_Mingyu x Wonwoo (Meanie)

Genre : Romance Hurt/Comfort

Disclaimer : SVT cast are owned by Pledis Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)

.

.

.

.

.

Warning!

Typo(s), Yaoi

I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^

.

.

.

.

.

POV : Kim Mingyu

[POV akan berganti-ganti per chapternya]

.

.

.


Chapter 3

Wonwoo tampak kebingungan ketika aku sudah sampai menariknya ke atap gedung. Angin siang ini terasa cukup nyaman dan tidak terlalu panas. Tempat yang cocok untuk kami berbincang sementara. Ide yang bagus, Mingyu.

"Wonwoo, apa aku menarikmu terlalu keras?" aku mencoba mendekati dan hendak memeriksa situasi pergelangan tangannya yang kutarik cukup keras. Apalagi dengan tiba-tiba berlari terlalu kencang sehingga beberapa kali Wonwoo hampir terjatuh dari langkahnya. Aku takut sudah menyakitinya.

Saat tangannya kusentuh, tiba-tiba ia menjauhi. Seolah mencegah kulitku menyentuh kulitnya. Lagi-lagi tatapan brutalnya menelanjangiku. Tapi itu tidak mengerikan.

Lebih kepada, kasihan.

"Brngsek. Siapa kau?! Apa maksudmu mengikut campur urusanku?!" Wonwoo membentak. Tidak jauh berbeda dari seekor anjing meraung keras pada musuhnya. Ia melihatku seperti musuh, musuh yang sangat dibenci.

Aku mencoba tenang dan tersenyum.

"Aku Kim Mingyu. Kita sudah berkenalan sebelumnya, bukan?"

"Hah? A—aku tidak peduli siapa kau, a—"

"Tapi tadi kau bertanya 'siapa aku'? Jadi kujawab."

"BODOH! Maksudku, apa posisimu untukku sampai kau lancang menganggu rencanaku, sial!?"

Aku tertawa tanpa dosa sembari menggaruk belakang kepalaku. Bertingkah polos ketika di hadapanku ada seorang pemuda emosian yang kini pipinya memerah. Aku tidak tahu kenapa, tapi ia terlihat imut.

"Begini. Kita mungkin belum terlalu kenal. Tapi sebagai seorang teman, aku jelas tidak akan membiarkanmu melakukan kekerasan di sekolah, apalagi dengan seorang Kepala Sekolah. Apa kau tidak takut dikeluarkan karena hal itu?"

"Aku tidak peduli!" Wonwoo bersuara semakin keras. Telingaku jadi agak pengang. "Kalaupun aku dikeluarkan, itu lebih baik. Aku tidak butuh sekolah yang tidak mau menganggapku. Yang kubutuhkan adalah uang!"

"uang? Anak secerdasmu, bisa menghasilkan uang kapanpun dan dimanapun."

Wonwoo terdiam. Maniknya mengerjab-ngerjab penasaran. Lihat. Ia memang adalah laki-laki yang imut di luar kepribadiannya yang sadis. "Be—benarkah?"

"Ya, itu jika kau bisa dapatkan dulu ijasah SMA mu. Mungkin, tidak akan menjadi kesulitan untukmu."

Wonwoo mulai menurunkan intens kemarahannya. Ia berlalu kepada pagar pembatas.

"Jangan merendahkanku di situasiku yang sedang sulit ini."

Aku memperhatikannya yang terlihat putus asa. Aku terus mengawasinya dari kejauhan, takut-takut jika ia berusaha mengakhiri hidupnya.

"Kenapa kau sangat butuh uang untuk saat ini? Bahkan sampai mengorbankan pendidikanmu sendiri. Sayang sekali. Jikalau pun kau butuh, kau bisa kerja part time, kan?"

"Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Kau tidak akan membantu sama sekali. Pergilah! Aku butuh sendiri."

Aku tersenyum. Lebih kepada sindiran. "Baiklah."

Aku mendekatinya. Seraya mengambil genggaman tangannya, kutulis sesuatu di tangan kanannya dengan pulpen yang sedari bertengger di kantung seragamku.

"Kalau kau sangat butuh uang, kau tidak usah mengorbankan beasiswamu. Ajarkan aku saja , aku bisa menggajimu." Lalu kusudahi hasil tulisanku.

Sebuah alamat berharga yang hanya kuberikan untuknya.

Beberapa saat kemudian, aku melaju pada pintu atap hendak meninggalkannya. Aku terpikirakn sesuatu. Pada pertanyaanku sebelumnya, dan bagaimana ia meresponku.

Kenapa ia belum jujur juga padaku padahal aku tahu jawabannya. Aku hanya ingin ia mengungkapnya lebih jelas dari mulutnya sendiri.

Pintu terbuka, aku menelengkan kepala beberapa menit ke arahnya, masih memperhatikan punggungnya. Ia tidak kemana-mana, benar-benar sedang berdiri memperhatikan aku dengan tatapan bingungnya. Benar-benar sangat lucu.

"Sampai jumpa, Anak Pintar." Mengedip sebelah mataku, lalu pergi.

.

.

.

.

.


"Aku mencintaimu."

"KAU GILA! PERGI! KAU MENJIJIKKAN!"

HUG

"Tidak! Karena aku terlalu mencintaimu."

"*hiks* kenapa?! Kenapa kau bisa mencintai pria menjijikkan sepertiku, dan seorang berandal bodoh? Kenapa?!"

"Cinta tidak pernah melihat siapa dirimu. Cinta menerima siapapun kau."

Cklik

"YAK! APA-APAAN INI?!"

Minji, adikku, mencoba merebut remote tv yang sudah kugenggam. Sayang sekali, bahkan untuk tubuh seukuran anak SMP dan punya hormon tinggi dari keturunan keluarga ini juga, masih belum bisa mencapai uluran tanganku.

"Sudah berapa kali oppa bilang, dilarang nonton drama sesama jenis di ruang keluarga. Bagaimana kalo ibu dan ayah menangkapmu? Aku juga yang repot."

"Tapi ayah dan ibu lagi ada pesta! Mereka pulang masih lama! Aku sudah perhitungan. Jadi kembalikan!"

"Ooh, kau tidak memperhitungkan kehadiranku, huh?"

Minji seperti tidak mau tahu. Ia terus berlari bolak-balik mengitariku dan melompat-lompat seperti kancil untuk menggapai remote di genggamanku. Kasihan juga. Aku sebenarnya tidak keberatan dengan apa yang jadi hobinya, aku hanya senang menjahili.

"Kalau begitu jelaskan padaku dulu. Kali ini apa yang kau tonton?"

Minji berhenti bertingkah terlalu aktif. Ia duduk dan berekspresi mengambek.

"Oppa aneh. Melarangku nonton, tapi selalu bertanya apa yang kutonton. Kalau kau tidak suka, tidak perlu minta aku spoiler apapun kan? Kau juga tidak akan mau menontonnya."

Haha.. ya benar. Aku tidak suka cerita macam telenovela yang terlalu dramatis, disentuh dengan gender sesama. Tapi, rasa penasaranku terlalu besar. Aku tidak perlu menontonnya, hanya mengoleksi cerita-cerita dari mulut adikku sendiri. Siapa tahu beberapa di antaranya terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Sekaligus jadi ikut mengawasi, kan?

"Oh ayolah. Aku memang tidak akan menontonnya. Tapi jaga-jaga kalau film yang kau tonton sekarang menganduk sex appeal yang tidak cocok untuk bocah sepertimu."

"Ugh. Aku sudah bilang berkali-kali, semuanya safe kok! Aku juga belum siap kalau sudah mengandung begituan." Minji menautkan beberapa jemarinya. Tingkahnya malu-malu. Hmm, aku mencurigainya. "Tapi, kalo kakakku sendiri dengan partnernya, aku sangat ingin..."

WTF.

Tiba-tiba pikiranku berantakan dan semrawut. Adikku sendiri yang mengatakannya. THE HELL 14th YEARS OLD GIRL SAID THAT TO HER OWN BROTHER?!

"A—apa?! Kau sudah gila?! Sudah berapa lama otakmu dicuci seperti itu, HAH?!"

"Habis, menurutku dan teman-temanku, Oppa itu cocok banget jadi seme! Punya muka tampan dan digilai para wanita, juga—siapa tau—dengan laki-laki juga!"

Well, aku tidak keberatan kalau dia bilang 'aku digilai para wanita'.

Tapi kenapa juga dengan 'LAKI-LAKI'?!

SEME?

Minji tiba-tiba bangun dari bangkunya. Gadis ini jadi bertingkah semangat tak karuan.

"Aku membayangkan Oppa adalah sosok seme perhatian yang sangat protect pada kekasihnya! Seperti dalam drama ini saja! Oppa meyakinkan seorang berandal dengan hati sebeku es, memeluknya-mengecupnya, menunjukkan cinta terbesar oppa hanya untuknya. Sehingga hati es itu meleleh. Ia berubah jadi baik, dan tidak berbuat masalah lagi hanya untukmu." Ia berucap layaknya berikrar kemenangan di medan perang.

Manik mataku mengedip berkali-kali. Mencoba mencerna semuanya, pelan-pelan.

Kenapa rasanya, Deja Vu?

"Wait! WHAT? Kau membayangkanku sampai segitunya?! Karena drama ini?!"

"Tapi itu sweet, Oppa!"

"CUKUP! Kuambil semua kaset drama menjijikkanmu itu!"

"OPPA! JANGAN! OPPA JAHAT!" Minji tiba-tiba meraung ketakutan. Ia menarik-narik celanaku, berusaha mencegatku mendekati ruang pribadinya yang sudah lama tidak kukunjungi. Aku penasaran, berapa banyak kaset jahanam itu disimpan.

Ting Tong

"Eh?! Ayah , ibu?!" Minji melepas tarikannya. Air matanya meluber ke wajahnya. "AKU BAKAL ADUIN KE AYAH DAN IBU! OPPA JAHAT!"

"HEI! TERSERAH! Yang ada kau yang kena hukuman, anak nakal!"

Minji berlari tunggang langgang mendekati pintu masuk dengan aku yang menarik nafas sejenas dengan leluasa. Cerita gila tadi hampir saja menelan kesadaranku.

Tapi aku sama sekali tidak merasa mual. Aku hanya, tertarik?

Eh?

"OPPA!"

Ada apalagi, huh? Anak itu semakin membuatku pusing dengan tingkah polanya yang bisa berubah tiba-tiba jika sudah bersama ayah dan ibu. Aku yakin, dia setelah ini akan tertawa jahat padaku karena sudah membuat-buat akting untuk menjatuhkanku. Bocah penyihir!

"APA—an."

Aku terkejut. Seseorang di luar dugaanku

datang.

Minji terlihat asik merangkul lengannya, dengan sumringah lebar. Wajah menangisnya, ditelan kebahagiaan. Ada apa?

"Oppa! Dia kekasihmu, ya?!"

EH?!

.

.

.

.

.


"Eum, ma—maaf atas ucapan aneh adikku tadi. Ia terlalu banyak menonton hal-hal yang tidak sewajarnya. Haha."

Wonwoo hanya terdiam. Ia masih terlalu asik mengamati setiap bagian dari kamarku. Kamarku memang cukup besar untuk ditempati seorang saja. Bahkan terbilang rapih dan cukup nyaman. Aku selalu senang merapihkan barang.

Apa ia tidak tersinggung jika kuajak kemari?

"Wonwoo. Kenapa malam ini kau datang ke rumahku?"

Pemuda itu menghentikan perhatiannya. "Kau memberikan alamatmu. Jadi aku langsung kemari."

"Well. Sebenarnya bukan berarti itu keharusan sih. Aku hanya iseng saja mencoret tanganmu."

Wonwoo menenggelamkan wajahnya dalam tundukan. "Aku tertarik dengan tawaranmu."

Oh! Tunggu! Mendengar samar-samar ucapannya, aku masih jelas menangkap. Ia sudah memikirkan dengan matang tawaranku tadi siang? How nice!

"Eh? Eum.. kau serius?"

"Aku sangat serius. Tapi, tolong. Bisakah kau membayarku full lebih awal? Aku berjanji, akan melakukan apapun. Aku akan mengajarimu hingga larut, atau dimanapun. Aku bisa melakukannya."

Wonwoo terlihat memaksakan kehendaknya demi uang itu. Jujur, aku sangat sukarela untuk membantunya. Tapi, ia tidak akan suka jika semuanya dilakukan Cuma-Cuma. Aku sudah cukup kenal anak ini. Aku sudah cukup banyak mencari tahu siapa dia. Ia, hanya belum tahu tujuanku padanya.

Orang ini cukup sensitif. Aku tidak bisa lagi menutup celah untuk mendekatinya.

"Kalau begitu. Mulai besok, kau sudah bisa jadi guru privatku. Dan, suka maupun tidak, kau tidak boleh mengusirku jika aku ingin dekat denganmu."

Raut wajahnya sedikit cemas. Ia pasti masih menimang-nimang pernyataanku tadi.

"aku akan membayarmu sekarang. Tinggal kau sebut berapa yang kau butuhkan? Tapi, aturanku tadi berlaku sampai ujian kelulusan. Kau akan mendapatkan extranya jika kau bertahan sampai aku dinyatakan lulus. "

"Sampai lulus?!"

Yes. Aku akan bersama anak ini selama 5 bulan kedepan.

.

.

.

.

.


Dengan segenggam susu, dan roti manis di gigitan. Aku berlari sebelum waktu mendekat ke jam 7.

Entah kenapa semalaman aku terlalu banyak pikiran, atau bahkan bisa dibilang, aku kesenengan?

Tunggu. Ini aneh. Aku bertingkah seperti para pemeran dalam drama yang semalam diributkan.

Grrrtt

Sial! Pintu gerbang tertutup tepat di hadapanku. Tinggal sepersekian detik.

"KAU TERLAMBAT!"

Ah, aku jadi tidak mood makan rotiku lagi setelah ditegur oleh pengawas sekolah.

Setelah itu, ia menyuruhku untuk mengikutinya , bisa kutebak ke suatu tempat yang menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang melanggar aturan.

Lapangan sekolah.

"hukuman telatmu adalah membersihkan lapangan ini dari sampah-sampah."

HAH?! Lihat! Betapa banyak sampah berserakan disini. Apa-apaan ini? Ketika aku dihukum, sampah-sampah ini berkumpul?!

"Sepertinya hari ini kau kurang beruntung. Karena, kemarin lapangan ini dipakai perwakilan ekskul sepak bola untuk persiapan kompetisi hari ini. Jadi kau bisa memakluminya, kan?" Pria botak disampingku menepuk-nepuk punggungku dengan sumringah menyindirku. Sial.

Aku menyambar sapu yang tergeletak dengan perasaan jengkel. Aku merasa ingin mematahkan sapu ini sekarang juga, jika pengawas sekolah botak itu sedang tidak konsen pada tingkahku. Aku benar-benar seperti seorang narapidana.

Ya sudah. Aku dengan senang hati melakukannya. Semakin cepat menyelesaikan tugas bodoh ini, semakin cepat aku ditinggalkan pria botak itu.

"Berikan sapu itu."

Terlalu konsen dengan kegiatanku, kulihat seseorang dengan seragam yang sama berada di hadapanku.

Cukup terperangah ketika menyadari Wonwoo berada di hadapanku. Lagi-lagi, suatu kebetulan.

"Kau juga telat?" aku mengulurkan sapunya. Mungkin aku bisa membantu dengan mengambil sampah-sampah dengan tanganku saja.

"Aku ketahuan membolos kelas."

Aku terkekeh. "Ke atap lagi?"

Wonwoo memalingkan muka. Pasti malu dengan teguranku. Haha.. dia benar-benar menggemaskan.

Eh?

"Sepertinya atap tidak bisa jadi tempat persembunyianmu lagi. Memang mata pelajaran apa kali ini?"

"Bahasa inggris."

"Kau tidak menyukainya? Kau tidak menguasainya?" aku tidak yakin dengan tebakan kedua tadi.

"Mr. Jung terlalu banyak membuat kegiatan berkelompok. Aku melarikan diri dari rencananya hari ini."

"Ah, introvert, huh?" aku terkekeh seraya memungut sampah-sampah ini sedikit demi sedikit.

"diam kau."

Aku tertawa melihat tingkahnya yang seolah tidak peduli, dan terus menyapu rumput-rumput tanpa menoleh padaku.

Sepertinya perbincangan kami semakin intens dari sebelumnya. Dan ia bisa leluasa membuka diri setelah perjanjian kami kemarin.

Aku penasaran, akan berapa banyak hal yang kutahu tentang dia untuk hari-hari berikutnya..

.

.


TBC

Sepertinya chapter ini terlalu pendek. Tapi, semoga masih bisa dinikmati ^^

Cerita ini akan dibuat lebih banyak chapternya dari yang diperkirakan.. tapi gak akan banyak banget gitu. So, dont forget follow biar gak ketinggalan.

Beri review untuk perkembangan next chapter, dan pemberi semangat Miyu untuk update-an selanjutnya! Chow ^o^)ob

.

.


Next:

Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi kenapa dia, yang bernama Kim Mingyu, terus menerus membantuku.

Aku hanyalah orang yang dijauhi dan dihindari. Semua orang takut padaku. Tapi, dia seolah menahanku dengan embel-embel macam ini.

Aku tidak bisa melarikan diri, ia terus merengkuhku. Entah dengan tatapannya, senyumannya, tawanya, perhatiannya. Semuanya. Ia berusaha merengkuhku.

Menjadikan aku miliknya?

Jeon Wonwoo, kenapa kau bisa berpikir sejauh ini?!

Dia hanya si Bodoh lainnya yang sedang merendahkanmu!

Tapi aku tidak bisa berbuat banyak, karena aku butuh uang itu.

.

.

"Aku tidak tahu kenapa wajahmu terlihat lebih .."

"Mengerikan? Kau penasaran dengan bekas luka-luka ini?"

"Tidak. Aku memang terganggu dengan luka-luka itu. Tapi, wajah manismu tetap menarik untukku."