Felicity
By. Happinessbee (Strawbaekie)
.
.
.
.
Genre : Romance
Rating : M
Main cast : Park Chanyeol and Byun Baekhyun
Other EXO member
Pairing : Chanbaek (main pairing)
Hunbaek, Chansoo
(Gender Switch!)
Enjoy my story guys!
.
.
.
Seorang lelaki tengah menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap. Park Chanyeol, seorang lelaki tampan yang sangat digilai oleh kaum hawa itu tengah bersantai sejenak sambil menyesap si pahit kesukaannya. Ia lemparkan pandangannya ke arah jendela besar yang berada di sudut café. Tujuannya datang kemari bukan sekedar menikmati kopi hitam yang kini tinggal setengah itu tetapi juga ingin bertemu dengan seseorang yang cukup spesial dalam hidupnya.
"Apakah kau sudah lama menunggu?" suara itu.
Chanyeol mengalihkan pandangannya kala telinganya mendengar sebuah suara yang menjadi favoritnya. Seorang gadis dengan balutan setelan kerja berwarna biru itu berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah undangan berwarna merah muda.
"Tidak, aku baru saja sampai." Chanyeol bangkit lalu mencium kening gadisnya lalu membawanya duduk di hadapannya. Kyungsoo, melihat cangkir kopi Chanyeol yang sudah tandas setengah yang menjadi pertanda bahwa lelaki itu sudah menunggu cukup lama untuk kedatangannya.
"Maafkan aku, tadi ada rapat mendadak." Kyungsoo menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena telah membuat Chanyeol menunggu lama.
"Hey, hey tidak apa-apa." Chanyeol bangkit menghampiri Kyungsoo, membawa kepala gadis itu untuk ia tenggelamkan di perutnya sambil mengusap-usap surai caramel itu. Kyungsoo mengangguk dalam dekapan Chanyeol. Ia mendongak, melihat mata lelakinya lalu tersenyum manis. Hal tersebut membuat Chanyeol menundukan kepalanya lalu mencium puncak kepala Kyungsoo.
"Ini. Kau harus datang." Kyungsoo memberikan undangan merah muda yang dibawanya tadi kepada Chanyeol. Pria itu membuka undangan yang Kyungsoo berikan. Setelah membacanya sekilas, tak lama bibir pria itu menekuk kebawah membuat Kyungsoo menaikkan alis.
"Kenapa? Kau bisa datang kan?" tanya Kyungsoo memastikan ekspresi wajah kekasihnya. Chanyeol tersadar akan bibirnya yang tertekuk, segera ia menyunggingkan senyum yang membuat si gadis bersurai caramel juga ikut tersenyum.
"Akan ku usahakan datang." Ia mengusap pelan surai kekasihnya lagi sebelum beranjak untuk kembali duduk di kursinya. Ia berpikir sejenak. Jika boleh jujur, ia ingin menghadiri pesta ulang tahun kekasihnya. Namun, pada hari yang sama pula ia memiliki sebuah meeting penting.
Jika sudah begini apa yang akan ia pilih?
Tiba-tiba suara dering ponsel terdengar dari saku celananya. Chanyeol segera mengambil ponsel yang berada dalam sakunya, ia meminta ijin pada Kyungsoo untuk mengangkan panggilan yang ternyata berasal dari sekretarisnya.
Kyungsoo membiarkan Chanyeol yang sedang mengangkat teleponnya di dekat meja kasir, ia arahkan pandangannya menuju jendela café yang langsung terarah pada jalanan padat kota Seoul. Saat ia sedang mengamati beberapa kendaraan yang hilir mudik, matanya tertuju kepada seorang gadis yang sangat ia kenal betul keluar dari sebuah mobil merah dengan seorang lelaki yang baru saja keluar dari kursi kemudi.
"Baekhyun? Dengan siapa dia?" tanpa sadar Kyungsoo menggumam.
"Baekhyun?" Kyungsoo terkesiap melihat Chanyeol yang sudah menyelesaikan panggilannya. Lelaki itu kembali duduk lalu menyesap kopinya yang sepertinya sudah mulai habis.
"Iya, dia temanku." Lelaki itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya lalu melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. "Sepertinya aku harus pergi, maaf tidak bisa mengantarmu kembali ke kantor. Kau tidak apa-apa kan bila menggunakan taxi?" Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban. Sebelum meninggalkan kekasihnya, Chanyeol mencium kening Kyungsoo sebagai salam perpisahan. "Kabari aku jika sudah sampai." Dan lelaki itu pun hilang dari pandangan Kyungsoo.
.
.
"Kim Sehun, jangan menyeretku lagi!"
Baekhyun menghempas tangan Sehun yang mencengkram pergelangan tangan kirinya. Membuatnya menjadi berwarna merah.
"Ayolah nunna, temani aku berbelanja. Aku ingin membeli beberapa barang untuk keperluan liburan nanti." Sehun merengek kepada Baekhyun yang sudah memberikan tatapan tajam sedari mereka memasuki gedung pusat perbelanjaan itu. Perlu diketahui, pukul sepuluh pagi tadi Sehun sudah menggedor-gedor ruangannya. Ia berteriak dari luar agar Baekhyun mau menemaninya berbelanja. Baekhyun yang sedang mengerjakan laporan itu pun mengacak rambutnya frustasi mendengar gedoran Sehun di pintunya. Apakah adiknya itu tidak tahu waktu? Dengan langkah dihentak Baekhyun membuka pintu ruangannya dan disambut dengan senyum manis sang adik manja. Sehun merengek minta ditemani belanja, alsannya "Agar disana kita tidak perlu repot berbelanja lagi." Katanya dengan sangat yakin. Baekhyun hanya memandang Sehun dengan tatapan malas lalu menutup pintu ruangnnya tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ia bawa badannya untuk duduk di kursinya kembali lalu melanjutkan mengerjakan pekerjaan yang sempat terhenti.
Sekitar sepuluh menit melanjutkan pekerjaannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia lihat nama yang tertera di layar ponselnya, seketika ia membuang ponselnya ke dalam laci. Itu Sehun yang menelepon. Baekhyun kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak berapa lama ponselnya kembali berdering. Ia menggeram frustasi, diambilnya ponselnya itu dari laci menekan menekan beberapa tombol untuk menonaktifkan ponselnya. Sekarang ia dapat melanjutkan pekerjaannya dengan nyaman.
Saat dirinya sedang focus mengecek beberapa email masuk di komputer, telepon yang berada di atas mejanya berdering. Dengan matanya yang masih focus tertuju pada layar monitor ia mengangkat telepon itu, "Ya, dengan dokter Kim Baekhyun. Ada yang bisa saya bantu?"
"Appa?"
Memang bukan Kim Sehun namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Kini Baekhyun sudah berada di ruangan ayahnya. Di dalam ruangan ayahnya terdapat si manja sedang duduk di sofa dengan ponsel yang berada dengan genggamannya.
"Ada apa appa memanggilku kemari?" tanya Baekhyun.
"Temani adikmu berbelanja, dia baru saja kembali ke Seoul. Appa khawatir jika ia nanti tersesat." Baekhyun menganga mendengar perkataan ayahnya. Tersesat? Memangnya Sehun tidak memiliki mulut untuk bertanya? Sebenarnya berapa umur adiknya itu sampai-sampai ayahnya memintanya untuk berbelanja.
"Tapi appa, pekerjaanku masih banyak. Lagipula ini adalah jam praktikku." Baekhyun merengek kepada ayahnya. Ia sebenarnya malas jika harus keluar. Selain matahari yang terik, ia terlalu malas pergi dengan adik manjanya yang merepotkan.
"Appa sudah meminta Sunmi untuk menggantikanmu sementara dan ia menyetujuinya." Baekhyun tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia tatap adiknya yang kini tengah memasang senyum kemenangan.
Dan sekarang di sinilah ia, berada di sebuah gedung pusat perbelanjaan terbesar di Seoul.
"Apa yang akan kau beli? Cepat, waktuku tidak banyak." Baekhyun memandang jam tangannya lalu mengarahkan kembali tatapannya pada lelaki berkemeja hitam itu.
"Tidak baik jika berbelanja dengan keadaan terbutu-buru." Sehun menggenggam lagi tangan Baekhyun untuk mengajaknya lebih masuk ke dalam gedung rasaksa itu.
Setelah sekitar lima belas menit berjalan, mereka sampai di depan toko yang menjual beberapa barang pernak-pernik. "Apa yang akan kau lakukan disini?" Baekhyun menatap heran Sehun yang terlihat berbinar memandang isi dari toko yang didominasi warna biru itu. Ia membawa Baekhyun masuk ke dalam.
"Ini bangus nunna." Sehun mengambil sebuah kacamata hitam berbentuk hati berwarna biru yang cukup besar. Ia pasangkan kacamata itu pada Baekhyun. "Ya! Apa yang kau lakukan." Baekhyun menyingkirkan tangan Sehun yang berusaha memakaikan kacamata itu. Sehun cemberut lalu kembali asik memilih beberapa benda yang menurutnya menarik.
Lama-lama Baekhyun bosan, memperhatikan Sehun yang sedang memilih kaus kaki. Ia memutuskan untuk berkeliling. Tempat ini cukup bersar untuk ukuran toko pernak-pernik. Matanya lalu tertuju kepada sekumpulan boneka yang berada di sudut ruangan. Ia membawa langkahnya kesitu.
"Waaah, lucu sekali." Ia mengambil sebuah boneka berbentuk beruang berwarna cokelat. Ia usap bulu boneka itu lalu tersenyum geli karena bulu-bulu cokelat yang halus menggelitik telapak tangannya. Ia mengembalikan lagi boneka itu lalu berjalan mundur, tanpa disangka punggungnya menabrak sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Dan saat bersamaan pula ada anak kecil yang berlari di hadapannya sehingga membuat tubuhnya terdorong dan akhirnya terjatuh ke arah belakang. Tepat ke arah sekumpulan boneka beruang yang membentuk sebuah menara.
"Aww.." Baekhyun mengaduh, merasakan pergelangan kakinya yang sedikit terkilir. Namun saat dirinya mencoba berdiri tiba-tba..
Brukk..
Sekumpulan bonekan jatuh menumpa dirinya dan seseorang yang berada tepat di bawahnya. Tunggu, dibawahnya?
Baekhyun segera menyingkirkan boneka-boneka beruang yang mengubur tubunya. Ia mengaduh merasakan pergelangan kakinya yang sakit. Baekhyun memutar tubuhnya, ia melihat seorang lelaki yang masih terduduk dengan sebelah tangannya memegangi tepat pada selangkangannya. Melihatnya arah tangan lelaki itu membuat pipi Baekhyun bersemu.
"Maafkan aku." Baekhyun membungkuk berkali-kali lalu membantu lelaki itu berdiri. Ia mengulurkan tangan untuk membantu lelaki itu berdiri, namun tak ada respon. Lelaki itu tetap saja menunduk. Dengan inisiatifnya, Baekhyun mengambil tangan pria itu yang masih berada pada tempat yang sama. Lelaki itu terbelalak saat melihat tangan Baekhyun yang menggenggam tangannya. Tanpa sadar tangan Baekhyun, menyentuh sesuatu yang berada di balik celana lelaki itu. Baekhyun yang merasakan ada sesuatu yang seharusnya tak ia rasakan pun menarik kembali tangannya. Ia malu, wajahnya kembali bersemu.
Dengan sekuat tenaga lelaki itu berdiri. Ia tatap Baekhyun yang masih menundukan kepalanya.
"Lain kali hati-hati nona."
Suara itu..
Baekhyun segera mengangkat kepalanya, dan betapa terkejutnya ia bahwa lelaki yang tadi memegangi selangkangannya itu adalah lelaki yang sama yang menabraknya di bandara tempo hari.
"Kau?" Baekhyun mengarahkan telunjuknya tepat ke arah lelaki itu.
Chanyeol, lelaki itu hanya memandang jari telunjuk Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Baekhyun lagi, ia tatap lelaki itu dengan tatapan tajam. Jujur, ia masih membenci lelaki tinggi di hadapannya ini. Gara-gara dirinya, Baekhyun harus menghadapi beberapa kesialan. Takdir apa yang mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini. Terjatuh tepat di atas selangkangan pria itu dan tanpa sengaja tangannya menyentuh miliknya? Oh, jangan katakana ini sebuah awal dari kesialannya lagi.
Lelaki itu tak peduli dengan tatapan Baekhyun lalu berjalan meninggalkannya.
"Ya! Aku sedang berbicara padamu. Ya! Ya! Tunggu." Baekhyun mencoba mengejar lelaki itu. Ia cukup kepayahan karena kakinya yang sedikit terkilir ditambah sepatu hak miliknya. Beberapa kali ia hampir terjatuh. Sampai-sampai karena tidak memperhatikan langkahnya, ia menabrak seseorang yang kini sedang memegangi tubunya yang hampir ambruk.
"Kau mau kemana?" itu Sehun.
Kemana perginya orang itu?
Baekhyun mencari-cari lelaki tinggi yang tadi mengabaikannya. Sehun yang melihat sang kakak terlihat sedang mencari-cari seseorang segera menepuk pipi Baekhyun.
"Kau mencari siapa?" Baekhyun tersadar karena tepukan Sehun pada pipinya. Tatapannya kini beralih kepada Sehun. Ia menggelengkan kepalanya. Kemudian matanya menangkap dua tas karton yang berada pada genggaman Sehun.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau cari?" Sehun mengangguk. "Ayo kita pulang." Baekhyun mengajak Sehun keluar dari toko pernak-pernik itu sambil beberapa kali matanya menelusuri sekitar untuk menemukan lelaki tadi. Ia penasara, sebenarnya siapa lelaki itu, dan mengapa jika bertemu dengannya hidupnya pasti akan mengalami kesialan.
.
.
Chanyeol melangkahkan kakinya menuju toilet terdekat. Sial, gara-gara gadis itu sesuatu yang berada di balik celananya sedikit terbangun. Ia segera mencari bilik toilet yang masih kosong untuk menuntaskan masalah di balik celananya. Setelah beberapa saat, lelaki itu keluar walaupun belum tuntas sepenuhnya. Ia tidak mungkin mengerang di dalam bilik toilet umum. Mau ditaruh mana mukanya?
Setelah membersihkan tangannya, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Siapa gadis itu sebenarnya. Mengapa aku selalu bertemu dengannya di tempat yang tak terduga." Chanyeol bertanya pada dirinya sendiri yang berada di dalam cermin. Ia mengingat kejadian tempo hari saat dirinya bertemu pertama kali di bandara. "Dan yang pasti, aku selalu mendapat kesialan."
Flashback
Sesaat setelah dirinya mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri yang tidak diindahkan sama sekali, ia langsung berlari menuju Ibunya yang sepertinya sudah menunggu lama. Dengan setengah berlari, ia mengahmpiri ibunya yang sedang duduk di salah satu kursi tunggu yang disediakan disana.
"Ibu.." Chanyeol memanggil ibunya. Wanita yang Chanyeol panggil ibu itu mendongakkan kepalanya. Ia tersenyum melihat putranya yang sudah lama tak ia jumpai berdiri di Park langsung membawa Chanyeol ke dalam pelukannya. Lelaki itu mendekap erat sang ibu. Ia tumpahkan segala rasa rindunya pada wanita yang sudah membesarkannya ini.
"Kau semakin bertambah tampan." Nyonya Park mengusap wajah Chanyeol. Lelaki itu membawa tangan ibunya untuk ia cium.
"Ayo bu kita pulang, ibu pasti lelah." Kemudian Chanyeol membawa koper ibunya pada tangan kirinya lalu tangan kanannya ia gunakan untuk menggenggam tangan ibunya. Ia sangat rindu digandeng seperti ini oleh ibunya. Seakan-akan ia kembali kepada masa kanak-kanak saat dirinya pertama kali masuk sekolah. Ia sama sekali tidak mau melepas gandengan ibunya. Lucu sekali.
"Sebentar bu, aku mau mengambil kunci mobil dulu." Chanyeol melepas genggamannya saat ia dan ibunya telah sampai di depan mobilnya. Ia mengambil kunci mobil yang berada di saku mantelnya.
Tidak ada.
Ia kembali mencari kunci mobilnya di saku yang lain, tetapi nihil. Ia mencari ke semua saku yang menempel di celana, kemeja serta mantelnya namun tetap tidak ada.
Kemana kunci mobilnya?
Ia berpikir dimana dirinya meletakkan kunci mobilnya. Dan seketika ia teringat.. setelah keluar dari mobil, ia segera mengunci mobilnya lalu berlari memasuki bandara. Ia tak sadar jika masih mengenggam kunci mobilnya. Dan saat menabrak gadis itu, kemungkinan besar kunci itu terlempar entah kemana. Setelah mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri namun tidak diindahkan sama sekali, ia segera berlari menghampiri ibunya. Sampai-sampai ia tak sadar kalau kunci mobilnya sudah tidak ada dalam genggamannya.
Merutuki sikap bodohnya, Chanyeol menepuk dahinya.
Nyonya Park bingung memandant putranya yang terlihat frustasi, ia pun bertanya, "Ada apa Chan?"
"Ibu, apakah ibu tidak apa-apa jika pulang menggunakan taxi?"
end flashback
Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika ia mengingat itu dirinya mendadak emosi. Karena kejadian itu, ia harus rela berada di bandara selama empat jam demi kunci mobilnya kembali. Ditambah dirinya harus menunda rapat penting hanya karena sesuatu yang sangat-sangat tidak penting. Chanyeol menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua, ia harus kembali ke kantornya. Rencananya untuk membeli hadiah ulang tahun Kyungsoo gagal karena gadis itu.
Lihat saja, jika ia bertemu dengan gadis itu lagi ia tidak akan melepaskannya.
TBC
Tsaaahhhh
Ketemu lagiii. Aku sengaja update dua kali, soalnya pada penasaran kan dimana Chanyeol. udah, Chanyeol itu di hati Baekhyun kok gak bakal kemana-mana *eaaak. Buat yang tanya Baekhyun-Sehun kakak adek itu pasti yaaa, tapi kalo buat kejelasanya kenapa sih mereka kok kaya gitu, deket banget kaya orang pacaran.. emm jawabannya tunggu aja yaa kelanjutannya hehehheew
Makasih yaa untuk kalian yang udah follow, like, review dan read ff aku. Mwaaaahh..
See you next chap!
