Pairing: Chanyeol-Baekhyun
Disclaimer: All of the story belongs to original mangaka. This fiction is remake of Aoi Aki's manga on chapter 8; Tsumasaki ni Kourozu. I do not take any profit of this fiction but pleasure and proudness. Tapi mulai dari chapter ini, this whole odd things milik saya (yay!)
Summary: Musim panas bersama Baekhyun, lagi dan lagi.
.
.
.
Kegilaan malam itu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Bagaimana bisa aku nyaris menelanjangi diriku dan Baekhyun? Yah, tapi kalau dipikir-pikir kembali, aku yakin tidak semua orang bisa melewatkan bibir dan tubuh lezat—ya, aku bilang, literally—lezat, karena aku telah merasakannya dengan mulut bejatku sendiri. Semenjak kejadian aku hampir memperkosa Baekhyun (hanya hampir), aku benar-benar merasa diriku ini adalah orang yang jahat. Setelah memikirkan selama dua hari penuh, dan tentu saja menjaga Baekhyun penuh perasaan dan hati-hati juga, aku dapat mengambil kesimpulan yang benar—menurutku.
Baekhyun sedang heat.
Benar-benar heat seperti, yah, binatang, karena secara teknis, dia memang setengah binatang.
Hari pertama Baekhyun benar-benar tidak mau melakukan apapun. Tidak makan, tidak minum, tidak pakai baju—ini yang paling mengkhawatirkan bagi diriku. Biasanya ketika Baekhyun tertidur, dirinya akan berubah wujud menjadi seekor rubah, rubah yang indah dengan bulu-bulu putih yang lembut tapi, itu semua tidak terjadi sekarang. Baekhyun telanjang di futon yang sudah tiga hari dia tiduri. Futon itu sudah melewati masa basah-dan-kering karena keringat tubuh Baekhyun yang seperti banjir bandang. Di hari kedua tidak ada perubahan sama sekali tapi, Baekhyun sudah mau minum karena kupaksa tapi ini adalah kemajuan yang cukup baik.
Hari ini Baekhyun sudah lebih baikan, masih tetap mendesah-desah dalam tidurnya membuatku dan tubuhku nyaris gila tapi dia sudah mau makan. Warna bibir dan kulitnya sudah kembali cerah membuatku senang. Membuatku senang sampai Baekhyun tiba-tiba merangkak ke atas tubuhku dan menggesekkan kembali tubuh kami. Membuatku panas.
"Chanyeolh,..."
Aku mencoba untuk tetap tenang walau pun tubuh bawahku tidak begitu. Aku memegang kedua lengan kurus Baekhyun dan menahannya untuk semakin menjilati pipiku hingga basah.
"Chanyeolh, aku tidak tahu kenapa. Aku...merasa kesal dan panash."
"Baek, tenanglah." Aku berusaha memanggil kesadaran Baekhyun yang bodohnya telah hilang tiga hari yang lalu. Aku sudah berniat untuk mendorong tubuhnya sebelum aku hilang kendali tapi Baekhyun sudah menangis. Tangisan yang sedih, terdengar seperti, mendengar lolongan yang menyedihkan.
"Chanyeolll..." Baekhyun menangis menyedihkan, membuatku terdiam. Membuatku sedih untuk mendengarnya. Anak itu menangis dan tubuhnya berhenti memaksa ke arahku, tapi aku mendapatkan sinyal yang tubuhnya berikan. Dia juga kebingungan. Benar-benar seperti anak rubah yang kebingungan.
Aku menghela napas di tengah-tengah tangisan Baekhyun. Menutup mataku dan berpikir, mungkin ini lah yang Baekhyun butuhkan. Aku merasa sangat takut menyakiti anak ini.
"Baek, kemari."
Aku mengangkat tubuh anak itu dan meletakkannya di atas tubuhku. Tubuh Baekhyun kecil, jadi aku tidak merasa dia berat atau apapun yang mengangguku. Aku menghela napas, aku akan ambil kesempatan ini.
.
.
Baekhyun megap-megap seperti ikan kecil yang keluar dari air. Benar-benar seperti ikan yang keluar dari air—karena tubuhnya basah dari atas sampai bawah. Bahkan jemariku sendiri sudah dibasahi olehnya, sesuatu yang lainnya.
Baekhyun tidak berhenti memanggil namaku dan mengerang. Membuatku semakin bersemangat dan gairahku meninggi. Aku berusaha sebisaku untuk tidak kasar dan menyakiti Baekhyun tapi tubuh anak itu benar-benar sialan. Aku tidak sempat membuka bajuku atau meminta Baekhyun menghisap kelaminku—ya, aku punya fantasi tersendiri ingin partner seksku mengoralku—tapi Baekhyun hanyalah anak kecil. Jadi, yang kulakukan hanyalah membuka zipper celanaku dan memasukkan kelaminku dengan segera ke lubangnya yang panas, membakar sampai ke gairahku yang terdalam.
Baekhyun merengek padaku tanpa tahu dia ingin apa. Apakah dia merengek karena kesakitan ataukah dia merengek karena ingin lebih? Tapi rasa kesalku tertutupi oleh ekspresi Baekhyun yang seperti bintang porno yang pernah kutonton bersama teman-teman sewaktu sekolah menengah, damn hot.
Aku menggerakkan tubuhku dan mendengar rengekan Baekhyun semakin kencang. Aku tidak mempedulikannya dan mengasumsikan sendiri bahwa Baekhyun menikmati itu. Pemikiran itu membantuku untuk semakin naik. Tubuh Baekhyun terhentak-hentak kasar padahal aku sudah janji pada diriku sendiri untuk tidak menyakiti anak itu tapi aku melakukannya. Baekhyun terlihat seperti orang sekarat tapi liur yang mengalir dari bibirnya membuatku yakin bahwa dia menyukainya. Kami terus bergerak-gerak dengan baik—untuk standar hubungan seks, dan berakhir ketika Baekhyun merengek kencang. Anak itu sampai duluan. Aku mempercepat gerakanku keluar-masuk, agak kesusahan karena tubuhku ikut berkeringat dan licin. Pada akhirnya Baekhyun mengetat dan aku mengeluarkan cairan semenku dengan baik padanya. Tidak akan ada masalah kurasa.
Baekhyun jatuh tertidur meninggalkanku yang berada dalam perasaan yang bercampur aduk.
.
.
-tbc-
p/s: Happy National Author Day!
