Guanho

Guanlin x Seonho

———————

Seonho menatap Guanlin yang duduk disamping ranjangnya.

Guanlin tersenyum melihat Seonho yang menatapnya, tapi Seonho masih memasang wajah tanpa ekspresi.

"Ayo sekarang makan".

Seonho menggeleng.

"Aku tidak lapar".

"Tapi kau harus makan, biar cepat sehat" bujuk Guanlin lagi.

"Aku sudah sehat. Sudah ku bilang aku tidak lapar".

Seonho menyingkirkan sendok berisi bubur yang kini dihadapannya, hingga sendok itu terjatuh ke lantai.

Guanlin hanya tersenyum tipis. Seonho memang tidak bisa dipaksa.

"Baiklah kau tidak ingin makan" Guanlin meletakan mangkuknya di atas meja.

"Lalu apa yang kau mau ?" Lanjut Guanlin.

"Aku ingin pulang" Seonho berucap dengan sangat pelan, lalu menekuk kakinya, meletakan kepalanya diatas lutut dan memeluk kakinya.

Guanlin mengusap kepala Seonho sayang.

"Kita akan pulang setelah dokter mengijinkan. Karena itu kau harus makan biar hasil pemeriksaan nanti benar-benar stabil" jelas Guanlin.

"Tapi aku tidak mau makan" Seonho menenggelamkan wajahnya. Lalu menangis.

"Baiklah aku tidak akan memaksamu makan. Bagaimana jika kita berkeliling ke taman rumah sakit ?" Tawar Guanlin.

Seonho mendongak menatap Guanlin dengan air mata yang membasahi pipinya.

"Bolehkah ?" Tanya Seonho.

Guanlin mengangguk. "Tentu saja" lalu dia menghapus air mata yang berada dipipi Seonho.

"Baiklah aku akan mengambil kursi roda" Guanlin berjalan ke sudut ruangan yang memang sudah disiapkan sebuah kursi roda.

Guanlin mengangkat tubuh Seonho lalu mendudukkan di kursi roda. Terus mulai mendorong kursi roda itu.

Seonho memejamkan matanya. Merasakan angin yang menampar wajahnya dengan pelan. Merasakan udara yang masuk ke hidungnya. Kemudian dia menghela nafas.

Guanlin berdiri di belakangnya. Ikut merasakan udara yang ada ditaman ini.

"Guanlin" suara Seonho begitu pelan sehingga angin seolah-olah membawanya.

"Hmm ?" Guanlin beralih berjongkok didepan Seonho. Memegang tangan Seonho dan mengusapnya pelan.

"Kenapa ?" Tanya Guanlin melihat Seonho yang hanya menatapnya.

"Kenapa kau berada disini ?".

"Hei, ada apa dengan pertanyaanmu ? Kenapa kau bertanya seperti itu Seolah-olah kau tidak mengharapkan aku disini".

Seonho diam.

Guanlin menghela nafas dan membuangnya kasar.

"Aku datang ke rumah sakit ini, untuk menemuimu, apa lagi ? kekasihku baru saja bangun dari tidur panjangnya, otomatis aku harus ke sini bukan ?".

Mendengar itu Seonho menjauhkan tangannya dari Guanlin. Membuat Guanlin menatapnya.

"Kita sudah berakhir Guanlin".

"Siapa bilang ? Aku tidak pernah menyetujuinya".

"Tapi malam itu aku memutuskannya Guanlin. Kenapa kau tidak mengerti".

Seonho menangis.

"Dengar, Seonho. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. karena Aku mencintaimu. Jangan pernah mengatakan bahwa kita sudah berakhir. Berhentilah menangis".

Guanlin menghapus air mata Seonho pelan.

"Kenapa kau melakukan semua ini padaku Guanlin ? Kenapa ? Hiks".

"Aku benar-benar minta maaf, Seonho. Aku tidak pernah berniat melakukan itu. Semuanya terjadi begitu saja–"

Guanlin menghela nafas.

"–mau mendengarkan penjelasan ku ? Aku akan mengatakan yang sejujurnya".

Guanlin menunggu respon Seonho, tapi Seonho hanya terdiam. Lalu tersenyum tipis, menatap Seonho yang kini menatapnya.

Guanlin tahu itu jawaban Seonho. Seonho akan mendengarkannya.

Chup

Guanlin mengecup bibir Seonho sekilas, membuat sang empu terkejut, karena perlakuan Guanlin yang terlalu tiba-tiba.

"Sebelumnya aku minta maaf, karena telah menyembunyikannya dari mu. Aku hanya ingin memberikan ini untukmu" tangan Guanlin yang tadinya berada di pipi Seonho beralih ke arah saku celananya dan mengambil sesuatu lalu menunjukkannya pada Seonho.

Mata Seonho langsung melebar melihat benda itu.

Dia begitu terkejut. Bagaimana tidak ? Jika dihadapannya Guanlin menunjukkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang berisi sepasang cincin, berwarna perak dengan desain yang begitu simpel namun terlihat begitu indah dan cantik.

"Aku tahu kau pasti terkejut. Bahkan aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu lagi waktu itu. Tapi sebelum aku menunjukkannya kau marah padaku dan ingin memutuskan hubungan kita dan semuanya terjadi, kau mengalami kecelakaan. Dan aku harus membatalkan semuanya untuk menunggumu segera sadar".

Guanlin masih menatap Seonho yang kini mulai mengeluarkan air matanya. Tangannya secara perlahan menghapus air mata yang membasahi pipi Seonho.

"Jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihatmu menangis. Mulai sekarang kau harus tetap tersenyum" tangannya mengelus rambut Seonho secara pelan.

"Dan soal Jihoon. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan dia. Dia hanya temanku. Dia hanya membantuku ketika aku membutuhkan pekerjaan–

"K–kau bekerja ?" Tanya Seonho tiba-tiba dengan suara paraunya sehabis menangis.

Guanlin tersenyum melihat respon Seonho. Lalu mengangguk.

"Aku membeli cincin ini dengan uang kerja kerasku sendiri. Karena aku benar-benar serius denganmu, jadi aku tidak menggunakan uang orang tuaku. Ayah memang sempat memarahiku karena aku harus benar-benar membagi waktu untuk menyelesaikan skripsiku, tapi saat aku menjelaskan semua ini untukmu dan ingin melamarmu sebelum sidang, jadi beliau mengizinkanku. Karena beliau tahu ini adalah salah satu usahaku untukmu".

Mendengar penjelasan Guanlin, Seonho memikirkan sesuatu.

Jadi selama ini perkiraannya salah ?

Karena yang Seonho tahu, Guanlin adalah calon pewaris tunggal di keluarganya yang kaya. Otomatis dia akan menjadi pengganti ayahnya di perusahaannya.

Rela melakukan ini untuknya ?.

"Maaf karena sempat mengabaikanmu. Aku benar-benar sibuk waktu itu, dan aku paham kenapa kau mengatakan hal seperti itu malam itu. Aku sadar, waktu itu aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan Jihoon. Tapi sungguh aku tidak ada hubungan apapun dengannya, aku hanya mencintaimu–".

"–Malam itu sebelum kau mengalami kecelakaan. Aku berniat menemuimu. Tapi Jihoon menghubungiku dan ingin mengatakan sesuatu yang penting dan dia mengatakannya sebagai permintaan yang dia inginkan, sebelumnya aku memang menawarkan satu permintaan karena dia sudah membantuku. Jadi ya aku menemuinya".

Guanlin berjalan menuju mobilnya. Malam itu dia mau menuju ke suatu tempat.

Langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar. Melihat siapa yang menghubunginya.

'Ayo kita bertemu' suara disebrang sana terdengar begitu riang.

"Sekarang ?".

'Tentu saja".

"Aku tidak bisa. Aku harus ke suatu tempat".

'Aku akan memberitahumu permintaanku. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Jadi bagaimana ? Kau tidak mau terus-terusan mempunyai hutang kan ?'.

Guanlin terlihat berpikir.

"Hmm baiklah. Beritahu lokasinya".

Guanlin langsung memutuskan panggilannya sepihak. Dia nemghela nafas berat.

Guanlin sudah sampai ditempat yang menjadi lokasi pertemuannya. Dia berjalan mencari sosok yang dikenalnya.

Dia menyusuri taman itu dengan cepat.

"jadi apa permintaanmu ?" Tanya Guanlin to the point pada orang didepannya.

Jihoon tersenyum manis.

"Ayo berkencan denganku" Jihoon mengatakannya dengan begitu semangat.

"Malam ini saja" lanjutnya.

Guanlin terdiam mendengar permintaan Jihoon.

"Kenapa ?".

"Eh ?".

"Kenapa kau ingin berkencan denganku ? Kau kan tahu aku sudah memiliki kekasih".

Jihoon terdiam. Lalu mengambil nafas dan membuangnya pelan.

"Sebenarnya... aku menyukaimu" Jihoon menundukkan wajahnya.

Guanlin terkejut mendengarnya. Dia pikir Jihoon tidak akan pernah menyukainya.

"Aku tahu kau sangat mencintai Seonho dan kau tidak akan pernah melepaskannya. Tapi setidaknya, sebelum kau seutuhnya menjadi milik Seonho, a–aku juga ingin merasakan kau menjadi milikku" jelas Jihoon cepat.

"Hmm baiklah. Cukup untuk malam ini".

Sebenarnya Guanlin ingin menolak. Tapi karena ia sudah berjanji, jadi ia menerimanya. Walaupun dalam hatinya ia merasa was-was, takut Seonho melihat kejadian itu.

Dan malam itu Guanlin melakukannya bersama Jihoon layaknya orang-orang berpacaran. Sebenarnya Guanlin hanya mengikuti Jihoon, bahkan saat Jihoon melingkarkan tanggannya ke bahu Jihoon, Guanlin sempat menjauhkan tangannya, tapi Jihoon tetap melakukannya lagi dan lagi.

Ponsel Guanlin bergetar, dengan cepat dia melihat ponselnya dan melihat nama kekasihnya yang menelpon.

Guanlin akan mengangkatnya dan sedikit menjauh dari Jihoon. Tapi Jihoon menahan tangannya. Sehingga Guanlin pasrah dan baru saja akan menggeser icon hijau, panggilan berakhir.

Dia menghela nafas pelan.

'Mungkin jika penting Seonho akan menghubunginya lagi' pikirnya.

"Guanlin ayo masuk ke kafe itu".

Guanlin mengangguk mengiyakan.

Mereka duduk saling berhadapan. Setelah memesan makanan. Diluar tiba-tiba hujan deras. Guanlin dengan cepat mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkannya pada kekasihnya.

Namun pesannya hanya dibaca saja dan tak ada balasan. Lalu setelahnya Guanlin menghubungi kekasihnya berkali-kali tapi tidak ada satupun panggilannya diterima.

Guanlin mencoba berpikir positif.

'Mungkin Seonho tidak sedang memegang ponselnya'.

Guanlin tahu Seonho benci hujan deras pada malam hari. Karena akan mengingatkannya pada kematian orang tuanya.

Dan Guanlin harus benar-benar memastikan Seonho ada di rumah. Atau setidaknya tempat yang membuatnya nyaman dan ada banyak orang.

Jihoon yang melihat gelagat khawatir Guanlin langsung menghiburnya. Disaat Guanlin sudah mulai terhibur, mereka menyadari kedatangan seseorang dengan tetesan air yang membasahi meja dan lantai.

"S–Seonho ?" Guanlin terkejut melihat Seonho yang kini ada disampingnya dengan keadaan kacau. kedua matanya memerah, ujung hidungnyapun juga memerah, rambutnyapun juga basah dan acak-acakkan, bibirnya pucat.

Guanlin tahu Seonho kedinginan. Ia berdiri mensejajarkan dengan Seonho.

"Dan kau tahu bagaimana akhirnya bukan. Malam itu juga aku langsung meminta Jihoon untuk tidak terlalu dekat denganku".

Seonho tertegun mendengar penjelasan Guanlin. Ia menjadi merasa bersalah.

"Maaf" gumamnya dan menunduk.

"Kau tidak salah, sayang. Aku yang salah sudah menyembunyikannya darimu. Lihat aku ".

Tangan kiri Guanlin mengusap pipi Seonho secara perlahan. Dan sedikit mengangkatkan wajah Seonho supaya bisa saling menatap.

"Tersenyumlah untukku" Guanlin tersenyum tipis.

Tapi Seonho bingung

Haruskah ia tersenyum ? Mengikuti permintaan Guanlin ?.

"Aku tidak mau. Malu~" Seonho menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu, kalau terlalu lama menatap Guanlin.

Guanlin terkekeh pelan. Kekasihnya begitu lucu. Lalu mengusap kepala Seonho sayang.

"Tetaplah disampingku, okay ?".

Seonho mengangguk, walau awalnya ragu.

Kini Seonho tidak menutupi wajahnya lagi. Tapi pipinya langsung memerah saat mengetahui Guanlin yang sedang menatapnya intens.

"Yoo Seonho–

–will you marry me ?".

Seonho kembali terdiam mendengar pertanyaan Guanlin, sedangkan Guanlin menunggu jawaban Seonho.

Guanlin menunggu moment seperti ini, dimana dia akan melamar Seonho, dan Seonho akan menerima lamarannya.

Tapi kini Guanlin akan menjadikan moment ini salah satu kenangan terindahnya.

Karena seperti harapannya Seonho–

"Yes, i will" – menerimanya.

Setelah itu, Guanlin memasangkan cincin ke jari manis kekasihnya, begitu juga Seonho.

Seonho merasa sangat bahagia. Sudah seharusnya dirinya tidak meragukan Guanlin lagi.

Dan mulai sekarang Seonho akan selalu percaya, bahwa Guanlin tidak akan pernah meninggalkannya dan akan selalu mencintainya.

"Ayo kita menikah minggu depan ?".

Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Guanlin romantis sekali. Huh, kenapa Samuel tidak seromantis dan sepengertian Guanlin 'sih ? Aku merasa iri kepada Seonho".

"Kau pikir kau saja yang merasa iri. Huhu, aku juga. Kau tahu Woojin kan tidak sesabar dan seperhatian Guanlin".

"Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Aku kan tidak ada seseorang yang dapat ku mintai perhatian"..

"Siapa bilang tidak ada ?".

"Kau kan ada si Haknyeon, Lee Euiwoong. Sampai kapan kau mau menggantungnya ?".

Euiwoong hanya mendengus kesal mendengar kedua sahabatnya.

END