A/N: Singkat, padat, ringan. Here's chapter three!

Disclaimer Naruto ver.: "*Thumbs up* Yo! Seluruh dunia ninja beserta isinya adalah milik Masashi Kishimoto ojisan, Aurellia484-chan hanya akan membuatku lebih keren di fic ini!"

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

(Preview)

Minato mengerutkan dahi, ia telah membuat kesalahan yang benar-benar fatal. Ia sama sekali tidak menuliskan segel yang mewakili kecepatan dan memindahkan, dia malah menuliskan segel yang mewakili pergi dan depan.

Itu berarti…

"Lagipula, siapa namamu?" tanya Naruto membuyarkan konsentrasi, "Aku sudah memberi tahu namaku, sekarang beri tahu namamu!"

"Namaku…" Minato hanya bisa terdiam, sama sekali tidak tahu apa yang harus ia katakan.

(end preview)

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

"Namaku..." Minato terdiam. Rasanya tak ada yang tak ganjal saat ini, pertama 'kemunculan' Naruto yang tiba-tiba, lalu Hokage Keempat memiliki nama yang persis sama dengannya (plus, sejauh ini hanya ada tiga Hokage), diikuti lagi dengan kesalahan yang ia buat di segel Hiraishin…

Tak ada yang normal setelah ia mencoba tehnik Hiraishin ini.

Minato kembali mengerutkan dahi, ia kembali melihat segel Hiraishin di kunai bermata tiganya lekat-lekat. Apa semua ini karena segel ini? Apakah ia membuat kesalahan selain menuliskan 'pergi' dan 'depan' yang bisa jadi lebih fatal seperti tanpa sengaja menciptakan dan menempatkan sebuah segel genjutsu yang hanya bisa dipatahkan jika ia menghancurkan segel genjutsu tersebut? Jika ya, maka itu dapat menjelaskan seluruh keganjilan ini…

Tapi, itu jelas-jelas tidak mungkin. Segel genjutsu butuh ruang sedikitnya sebesar kertas peledak untuk dapat berfungsi, terlalu besar untuk digabungkan dengan segel Hiraishin. Lagipula, disain segel genjutsu sangat rumit, tidak mungkin ia tanpa sengaja membuat segel genjutsu di tempat yang seharusnya milik segel Hiraishin.

Lagipula, ia sudah mengecek segel itu berkali-kali, mana mungkin kesalahan besar seperti itu dapat terjadi? Mungkin ia harus menanyakan hal ini pada Jiraiya-sensei?

Sayangnya, karena ia kemungkinan tengah ia sedang terjebak dalam genjutsu tetap ada, dan jika itu benar maka Jiraiya-sensei tidak mungkin 'asli'.

Apakah dengan menghancurkan atau meninggalkan kunai ini, segalanya akan kembal—

"Hey-hey! Apa kau masih sadar?" Naruto melambaikan tangan di depan mata Minato, membuat remaja dengan jambang panjang itu menggeleng, menghentikan renungannya.

"A-ah… ya…" Minato tersenyum kecil, "Aku sepenuhnya sadar, Uzumaki-san."

"Kau sudah melakukannya berkali-kali! bengong lagi, bengong lagi, bengong lagi!" Naruto mendengus, "aaaaah! ayolah! Cepat beritahu aku siapa namamu, aku sudah sangat penasaran 'nih, Dattebayo!"

Senyum Minato memudar, haruskah ia memberitahu namanya yang sesungguhnya? Pada saat ini, perang tengah berlangsung, dan kemungkinan ada mata-mata di dalam desa cukup besar, terutama setelah ia merasakan bocah Naruto ini yang begitu besar dan liar, Minato memperkirakan Naruto cukup kuat untuk mengalahkannya dalam waktu singkat.

Ia juga belum pernah merasakan chakra Uzumaki Naruto ini dimanapun di sekitar Konoha. Dengan chakra sebesar itu, Naruto seharusnya dapat dengan mudah dilacak olehnya, semudah melacak Kushina yang memiliki chakra tak kalah besar dari Naruto…

Apakah ini karena mereka sama-sama berasal dari klan Uzumaki? Baik Kushina maupun Naruto sama-sama mengucapkan kata aneh di akhir kalimat jika sedang frustasi, bingung atau marah.

Ia akan memilih jalan aman dengan tidak memberitahu nama aslinya. Lebih baik memilih jalan aman daripada menyesal di kemudian hari, kan?

Lagipula, Naruto mengatakan nama Hokage keempat sama persis dengannya, jadi besar kemungkinan Naruto tidak akan percaya jika ia mengatakan nama aslinya.

"Namaku Shinji Mamoru, panggil saja Mamoru! salam kenal!" Minato tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya, "maaf baru kenalan sekarang, Uzumaki-san!"

Naruto tersenyum lalu balas menjabat tangan Minato, "Yosh! Senang berkenalan denganmu, Mamoru! lagipula, jangan panggil aku Uzumaki-san! Kedengarannya sangat kuno tahu!"

"Panggil saja aku Naruto!"

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

"Selamat malam Sensei, Rin, Obito…" ia memulai, "Apa kabar? Aku harap kalian baik-baik saja, dan bahagia di sana…"

INU tersenyum kecil di balik topengnya, banyak sekali yang ingin ia sampaikan pada mereka, banyak sekali hingga ia kehabisan kata-kata, walaupun ia selalu menyempatkan diri kemari sesering mungkin, selalu saja ada yang ingin ia sampaikan pada mereka. Senseinya, Rin, Obito…

Tapi pada akhirnya, hanya kata-kata itu yang dapat keluar. Setiap kali ia mengunjungi Monumen ini, ia hanya bisa mengatakan "Apa kabar?" pada teman-temannya.

Rasanya, INU ingin membenci dirinya sendiri.

Lantas, ia hanya berdiri di sana memandangi batu hitam tersebut seperti orang bodoh, membaca nama-nama yang tertera di batu tersebut berkali-kali dan berdiri diam seharian seperti orang bodoh.

Teman-temannya tidak dikubur disini, tentu saja tidak. Senseinya, Namikaze Minato terkubur di pemakaman Konoha, di bagian makam para pahlawan yang telah gugur, dengan makam marmer megah, malahan bisa dibilang ia memiliki sebuah tugu penghormatan diatas makamnya. Kakashi membiarkan pikiran konyol terlintas di benaknya sesaat, bahwa senseinya menggeliat-geliat di peti matinya, sambil mengeluh bertapa beratnya tugu tersebut.

Konyol sekali.

Obito dan Rin memiliki makam mereka masing-masing, tak lebih dari batu nisan kecil untuk 'menghormati' kematian mereka. Jasad keduanya tidak dikubur, kemungkinan besar jasad Rin telah dilenyapkan oleh Ninja pemburu Konoha untuk menutupi jejak, sementara Obito...

INU menghela nafas, cepat-cepat menyingkirkan pikiran mengenai Obito. Sekedar memikirkan kematian teman-temannya saja sudah membuat buih-buih kemarahan berkembang dalam dirinya.

Melirik matahari yang mulai terbit, INU hanya bisa menundukkan kepalanya. ia harus menjalani tugasnya sebagai seorang ANBU, suka atau tidak.

"Sensei, Rin, Obito… aku pergi dulu," Ucap INU sambil memberi penghormatan terakhir, "sampai jumpa…"

Tak ada hal lain yang lebih INU inginkan selain bertemu dengan mereka untuk terakhir kalinya, walaupun ia harus membayar dengan nyawanya sendiri.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

Umino Iruka bukan seorang Chuunin yang bahagia setelah selesai mengerjakan raport tengah semester anak-anak tahun terakhir. Ia kini duduk di kursinya di ruang guru, menatap kesal selembar kertas raport yang ada di tangannya.

Oh, tentu saja rata-rata tahun ini naik sekitar 5%, semuah peningkatan yang sangat impresif, mengingat tahun lalu rata-ratanya turun sekitar 2,1%.

Tapi ia tidak bahagia, sama sekali tidak. Semua kebahagiaannya hilang seketika setelah melihat raport Uzumaki Naruto.

Ternyata semua teriakkannya di kelas sama sekali tak mempan untuk menembus tengkorak tebal Uzumaki Naruto.

Tch, bisa-bisanya ia mendapat rata-rata 35 di raport. Semua mata pelajaran diwarnai tinta merah, dan sebuah lingkaran besar, yang sengaja dicetak ekstra tebal menggunakan tinta Hitam mengisi kolom nilai untuk praktek Genjutsu. Nol. Untuk. Pelajaran. Genjutsu.

Iruka mengerang, apakah ia harus memeriksakan otak Naruto pada dokter? Mungkinkah semua tonjokkan Haruno Sakura di kepalanya menyebabkan semacam gangguan ingatan? Lima tahun sudah ia mengajar di akademi, dan belum pernah sekalipun ia melihat murid yang memiliki nilai nol di raport mereka. Apakah ia gagal dalam mendidik muridnya?

Naruto selalu bercita-cita menjadi seorang Hokage, bagaimana jika mimpinya tidak tercapai hanya karena ia gagal di akademi? Bagaimana jika ia tidka bisa bertahan di dunia Shinobi yang kejam kerena kurangnya bimbingan di usia dini darinya?

Iruka menggeleng, cepat-cepat menyingkirkan pikiran negatif yang melayang-layang di kepalanya, 'Naruto pasti bisa, ia punya bakat dan akan sukses suatu hari nanti, aku yakin.'

'Tapi ini,' batin Iruka mendelik tajam pada kertas raport Naruto, 'tak bisa dimaafkan.'

"Ara-ara… Iruka-kun, kertas itu bisa bolong kalau kau terus memandanginya seperti itu!" seru Mizuki, salah seorang rekan kerja sekaligus teman baiknya secara tiba-tiba dari ujung seberang ruangan.

Iruka tersenyum kecil, "Kau terlalu membesar-besarkan Mizuki."

Suara kekehan Mizuki dapat terdengar, "mungkin aku terlalu menghayati materi pembelajaran bahasa anak-anak tahun terakhir! Mengajarkan anak-anak Denotasi dan Konotasi sangatlah menghibur!"

"Oh ya?" tanya Iruka, mengingat bagaimana suasana pada saat jamnya mengajar, sama sekali tidak menghibur. Kebanyakan memilih untuk tidur daripada mendengarkan ceramahnya tentng berbagai taktik dasar yang umum digunakan di kalangan Ninja. Maklum, karena seluruh kekurangan, kelebihan, serta kerja sama yang dibutuhkan untuk sebuah keberhasilan menggunakan taktik tersebut ia jelaskan secara detil.

"Anak-anak zaman sekarang sangat pintar dalam merangkai kata-kata," Mizuki mendengus bercampur tawa, "siapa yang mengira seorang Inuzuka Kiba dapat merangkai kata-kata yang sangat puitis?"

"Kiba?"

"Yep, aku menyuruhnya membacakan kalimat rangkaiannya yang mengandung konotasi, dan kau tahu apa isinya?" Mizuki tersenyum kecil, " 'Hatiku melompat keluar ketika melihat senyumanmu yang manis' "

Iruka tertawa, "Apakah ia mengatakan untuk siapa kalimat itu?"

"Ah, sayangnya tidak…"

Iruka tersenyum, kembali membenamkan batang hidungnya di kertas raport Naruto. Bagaimana caranya agar ia bisa memasukkan pelajaran ke dalam otak Naruto?

Jawabannya langsung muncul, tapi Iruka harus bersedia pulang ke rumah dengan dompet megap-megap minta di isi.

Ramen. Ramen dan banyak sekali ramen.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

"…jadi, kamu paling suka ramen?" Tanya Minato dengan senyum kecil, menatap Naruto yang memakan ramen instannya seperti menelan air.

"Ya… begitulah!" Naruto menganggukkan kepalanya dengan mulut penuh mie, hanya tiga detik mengunya lalu ia langsung menelannya, "ramen adalah makanan terbaik di jagad raya, 'ttebayo!"

"Aku setuju denganmu," Minato mengangguk, "tapi memakan ramen paling enak di saat…"

"Siang-siang atau saat hujan!" Naruto menyela Minato yang tersenyum lebar, "Lagipula Mamoru, apa kau mau makan satu?"

Minato menggeleng, "Oh, tidak terima kasih. Aku tidak lapar."

Naruto menyingkirkan mangkuk ramen sterofoamnya yang ke-lima ke tumpukan mangkuk serupa yang lainnya, ia bersendawa keras dan meregangkan diri di lantai dengan begitu santainya, "Ahhh! Kenyangnya!"

Minato hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku Naruto yang sangat cuek, sulit di percaya seorang yang semalas dan secuek itu dapat menjadi seorang shinob—

"ARGH! AKU TERLAMBAT KE AKADEMI!"

Ah, ternyata ia belum menjadi seorang ninja sungguhan.

Minato tidak dapat menahan cengiran kecil yang muncul diwajahnya ketika Naruto tiba-tiba berlarian ke sekeliling ruangan, mengambil barang-barang yang berceceran di sekitar apartemen ini! lucu sekali ketika ia bergulat mengganti baju sambil berusaha mengumpulkan buku-buku pelajaran yang berantakkan di lantai lalu memasukkannya ke tas yang hampir bolong sekaligus. Naruto mengambil beberapa baju dari lemari pakaian Minato, baju-baju asing yang belum pernah ia lihat sebelumny—hei, tunggu dulu…

...!

Cengiran Minato hilang seketika.

"Aku pergi dulu, Mamoru!" seru Naruto yang sudah siap (tanpa mandi) dari arah pintu, Minato tak mengacuhkannya.

Bentuk dari lemari dan keseluruhan ruangan sama persis seperti yang ia ingat, dengan beberapa goresan di sana-sini, tapi kenapa sprei yang digunakan berwarna putih? Ia baru saja mengganti sprei kasurnya kemarin, dan ia menggunakan sprei berwarna biru muda, bukan putih! Bahkan pintu lemari yang Naruto biarkan terbuka memperlihatkan belasan kaus rantai murah, kaus oblong berwarna terang, beberapa celana pendek, dan beberapa jumpsuit berwarna oranye silau, jelas-jelas bukan selera Namikaze Minato.

'Baju-baju itu lebih pantas untuk berada di keranjang cucian dari pada di dalam lemari' batin Minato mengerutkan hidungnya dengan jijik.

Rak buku miliknya yang seharusnya berada di samping lemari, kini berada di dekat dapur, berisi berpuluh-puluh ramen cup instan, piring, dan… sesuatu yang terlihat seperti kain bulukan dalam kemasan roti. Semua buku-bukunya menghilang, laci-laci bawah lemari terbuka lebar, ramen cup telah menggantikan gulungan-gulungan berisi segel-segel yang ia ciptakan dengan bantuan Jiraiya serta Kushina…

Itu berarti semua catatannya tentang Hiraishin juga ikut menghilang.

Minato menggaruk-garuk rambut jabriknya, sebuah kebiasaan lama yang ia lakukan kala merasa terdesak, tertekan atau panik. Rasa panik yang sudah lama tidak ia rasakan muncul dalam dirinya.

Minato teringat akan laci rahasia dalam lemarinya, ia juga menyimpan gulungan Hiraishin di dalamnya…

Minato mengobrak-abrik lemari baju-'nya' menyingkirkan semua pakaian kusut Naruto ke samping dalam upaya mencari laci rahasia di lantai lemari, 'ah, ini dia!' batin minato setelah menemukan sebuah celah kecil dan mencongkelnya, memperlihatkan sebuah tempat kecil di dalamnya. Bukan berisi gulungan, tapi uang receh yang sama sekali bukan miliknya, serta sebuah dompet boneka kodok berwarna hijau.

'Mati aku…' Minato menelan ludah, 'aku salah membuat segel Hiraishin menjadi sesuatu yang lain, dan sekarang semua salinan segel Hiraishinku hilang! Aku harus segera mencari Jiraiya—itu dia! Jiraiya-sensei! ia punya salinan Hiraishinku juga! Ia pasti dapat menolongku.'

Minato bergegas menuju pintu apartemen yang lebih cocok dibilang kamar kost, membuka pintunya—

Terkunci.

Tidak masalah, ia bisa selalu keluar lewat jendela seperti Jiraiya-sensei. Jadi ia lakukan, ia melompat ke atap di bawahnya dan melompat lagi ke atap bangunan lain… pada akhirnya, ia mengerti kenapa Jiraiya-sensei selalu keluar masuk dari jendela.

Kau merasa seperti seorang emejing Sepider-men, yang meluncur demi menyelamatkan wanita pujaan hati. Tapi pada kasus Minato, bukan cewek yang ia cari, tapi gulungan.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

~pada suatu tempat~

Jiraiya menghela nafas kecewa, hari ini bukanlah hari kebeluntungan baginya, ia sudah mencari ke empat tempat pemandian umum di Konoha, tapi tak ada yang dapat ia temukan selain ibu-ibu, dan beberapa… fosil hidup yang sedang berendam.

Kecewa, Jiraiya memutuskan untuk mengunjungi Minato satu jam lebih awal dari yang ia targetkan sebelumnya. Dua menit kemudian, ia sudah bertengger di jendela yang sudah sangat sering ia kunjungi.

Jiraiya memasang senyuman terlebarnya, "Ohayo~ muridku tercin—" Jiraiya terdiam, Minato tidak ada di rumah.

Jiraiya merasa ada sesuatu yang aneh, mengenal muridnya yang satu ini, Minato adalah orang yang teliti dan perhitungan. Tidak mungkin ia meninggalkan rumahnya dengan jendela yang terbuka lebar, kasur berantakkan, dan kunai Hiraishin di atas kasur.

"Minato?" Jiraiya memanggil Minato sekali untuk memastikan, "kau di sini?"

Hening.

Well, ini aneh.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

~kembali ke Konoha~

Minato melompati atap demi atap dengan kecepatan penuh, merasakan jantungnya berdegup cepat di dada, nafasnya mulai terasa sakit setelah hampir setengah jam ia melesat seperti orang gila dari satu pemandian ke pemandian lainnya, mencari tanda-tanda dari Jiraiya. sudah enam pemandian ia datangi dan hasilnya nihil, sekarang ia tengah berusaha mendeteksi chakra Jiraiya di seluruh desa sambil berkeliling-keliling.

Minato merasa seperti orang sinting.

Ia dapat merasakan chakra Naruto dari arah akademi Konoha, tapi ia tidak dapat merasakan Chakra Kushina ataupun Jiraiya dimanapun.

Minato mengigit bibirnya, mungkin Kushina pergi menjalani misi tanpa sepengetahuannya, itu cukup masuk akal. Tapi Jiraiya? Mana mungkin petapa itu pergi begitu saja? Bahkan setelah berkata sedang mengambil cuti seminggu ini?

Baiklah, Jiraiya mungkin punya urusan dengan jaringan mata-matanya dan harus pergi keluar desa, ia bisa menerimanya. Tapi siapa lagi selain Jiraiya dan Kushina yang bisa ia percaya?

Ah, beliau pasti bisa.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

"Maaf! Aku terlambat 'ttebayo!" seru Naruto sambil memasuki kelas, seketika tiga puluh kepala menoleh ke arahnya, termasuk pula Iruka yang langsung berdiri dan menggunakan jurus kepala besarnya.

"UZUMAKI NARUTO! TERLAMBAT LAGI?!" Seru Iruka.

Naruto menelan ludah dan mundur beberapa langkah, benar-benar takut dengan ekspresi Iruka yang demikian, beberapa murid tertawa.

"Aku kedatangan tamu di rumahku Iruka-sensei!" Naruto coba menjelaskan, tapi Iruka sama sekali tidak mendengarnya.

"Duduk. Dan. Kerjakan. Ini." ucap Iruka, sambil memberikan tiga lembar kertas pada Naruto, "kerjakan soal latihan BAB kemarin yang ada di kertas paling atas, dua kertas yang kosong gunakanlah untuk menulis ringkasan BAB tujuh tentang perang shinobi ketiga, anggap saja sebagai hukumanmu!"

"Apa?! Sensei! Itu tidak adil!" seru Naruto, "Aku tidak pernah melihat yang lain dihukum seperti aku!"

"Itu karena mereka tidak terlambat serta tidak mengeluh sepertimu, Naruto!" Ujar Iruka sebal, "Sekarang, duduklah!"

Naruto mecibir pelan, mengucapkan sesuatu yang membuat mata Iruka melebar, "Naruto! Ringkas BAB delapan sekalian!" seru Iruka sambil memberikan dua lembar kertas lagi, "HARUS selesai hari ini juga! Mengerti?!"

"H-hai, I-I-Iruka Sensei!" Gagap Naruto, buru-buru duduk di kursi kosong sebelah Kiba dan Akamaru, keduanya langsung mengerinyitkan hidung setelah Naruto mendekat.

"Yip! Yip! Yip!" gongong Akamaru pelan, tentu saja hanya Kiba yang mengerti karena ia langsung tertawa.

"Akamaru bilang kau berbau seperti anjing basah. Apa kau belum mandi seminggu, Naruto?" tanya Kiba sambil menutup hidungnya.

"Tutup mulut, 'ttebayo!"

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

Hiruzen menggelengkan kepalanya setelah selesai membaca sebuah gulungan yang lumayan panjang, sebuah laporan keuangan mendetil yang dikirim oleh seorang direktur pusat perbelanjaan di desa air panas, ceritanya sang direktu sangat marah tokonya telah hancur karena ulah dua shinobi Konoha mabuk yang berkelahi di dalam gedung pusat perbelanjaan miliknya, tentu saja setelah mencuri lalu menegak berbotol-botol sake dari salah satu toko yang terdapat dalam gedung.

Kedua shinobi tersebut telah membayar denda, juga menetap dalam penjara indah Konoha, tapi nampaknya sang direktur belum puas hanya dengan itu. ia ingin gedungnya diperbaiki dengan uang desa.

Hiruzen benci harus mengatakannya, tak ada pilihan lain lagi selain menyetujui permintaan si direktur. Jika ia bertemu dengan dua sinobi di atas yang menyebabkan Konoha rugi jutaan Ryou, hari ini, besok, atau selama sisa hidupnya, ia pasti akan memberikan jurus itu pada pantat mereka dan menerbankan mereka ke Iwagakure sekalian.

Biar tahu rasa, kukukuku…

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

"HACHOOO!"

Asistennya segera berlari di sampingnya, memberikan sehelai sapu tangan dengan tatapan khawatir, "Apa anda baik-baik saja Orochimaru-sama? Apakah ada yang salah dengan percobaan anda?"

Orochimaru menggeleng, "Ah, tidak Kabuto. Tidka ada apa-apa… mari kita lanjutkan mengambangkan potensi tulang ekor manusia ini, kukukuku…"

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

Hiruzen menghela nafasnya, setidaknya ia hanya sedikit lelah karena mengisi dokumen kurang penting seharian, dan tidak harus mengurusi laporan misi yang gagal dari para ninja atau kematian seseorang.

Pintu diketuk, dan Mayuri masuk. Hiruzen memberikan senyuman hangat pada asisten pemalunya ini, "Ada apa Mayuri?"

Mayuri menggeleng, seluruh tubuhnya pucat pasi dan keringat dingin mengucur dari pelipisnya, "a-ada yang ingin b-bertemu d-d-dengan a-anda…" pekiknya pelan.

"Ah, persilahkan ia masuk," ujar Hiruzen, Mayuri langsung membukakan pintu dan Hiruzen membeku.

Ia sudah tidak melihat wajah orang ini lebih dari satu decade.

"Selamat pagi, Sandaime-sama!" kicau orang itu, "saya datang kemari ingin—"

"Siapa kau?" tanya Sandaime dingin.

"Uh…. saya Namikaze Minato, tuan. Saya … apakah hanya saya atau anda memang benar-benar menua dua puluh tahun?"

Sandaime mengerutkan dahi, ia memang telah menua dua puluh empat tahun sejak ia melihat wajah Namikaze Minato muda ini terakhir kali, dengan pakaian yang persis sama seperti yang biasa ia kenakan. siapapun orang ini, ia benar-benar bodoh untuk menirukan Namikaze Minato dua puluh empat tahun yang silam.

Tapi… kenapa ia merasakan aura dan pola chakra anak ini persis sama dengan Hokage Keempat ketika masih menjadi seorang chuunin?

"Apakah hanya diriku, atau kau memang memiliki pola chakra yang serupa dengan mendiang Hokage keempat?" Hiruzen balas bertanya pada Minato.

Minato menggeleng, "entahlah, mungkin hanya kesamaan nama?"

Bocah ini, selalu berpura-pura polos.

WAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAWAW

TBC

RnR please?

A/N: Endingnya agak sedikit… meh. Chapter tiga ini hanya sekedar filler dan hampir tidak ada adegan penting dalam plot. Yang jelas, ini bukan chapter terbaikku, tapi aku rasa beberapa hal dasar perlu aku tuliskan di chapter ini. Ada beberapa bagian yang membingungkan, aku tau kok. Aku yang nulis cerita, dan aku baca lagi ceritanya, adegan Jiraiya dan INU akan sedikit membingungkan, tapi aku akan menjelaskan semuanya di chapter selanjutnya…

BTW, aku kasih dulu beberapa poin-poin penting yang harus diketahui:

Cerita ini mengambil tempat di bulan Juni, enam bulan sebelum Naruto lulus di Desember/Januari (awal seri). Itu berarti, saat ini Naruto masih berumur 11 tahun (karena ulang tahunnya Oktober), dan Minato 12 tahun (karena ulang tahunnya januari). Minato akan berumur 13 tahun tidak lama setelah Naruto lulus dari akademi.

Ini bukan cerita Romance, tapi friendship. Akan ada romance antara Naruto dengan seseorang, tapi tidak bagi Minato. MinaKushi itu wajib, karena cerita ini ada kaitannya dengan nasib dan waktu, maka MinaKushi harus ada. Atau Naruto nggak akan tercipta (hayoooh, masuk akal kan?). Kalau nggak salah, aku buat poll untuk nentuin siapa pasangan Naruto.

Naruto nggak akan Over powered, Minato juga nggak. Memang AU, tapi nggak sampai keluar dari cannon.

Sekedar iseng: kok Naruto The Last sangat, sangat mengecewakan ya? lebih bagus lost tower/road to ninja! BTW, katanya bakalan ada Baruto: Naruto the Movie yang akan keluar… tahun ini well, semoga nggak mengecewakan!

Thanks to: jamal, Bayangan semu, Amnoki UzumakiNokiTtebayou, lateliv98, 20th Ward Eyepatch, takiyamao200, Luca Marvell, Keys13th, Khioneiyz, Riena Okazaki, Uzumaki Akagami, Valencia Byun, budibakso38, sinternisti, illyachan, , ManaTheAngelOfDarkness dan juga wisnataivonny yang sudah review/fav/follow cerita ini.

JIKA ADA KRITIK/MASUKAN/PENDAPAT TOLONG JANGAN SEGAN-SEGAN UNTUK PM/REVIEW!

Review is my food.

Untul next time kita bertemu lagi, aurellia484 out!