Author : Dreamer Girl aka Shin Ha Chan
Cast : All member EXO, dll
Pairing : All EXO Official Couple
Length : 3-?
Disclaimer : Baekyeol milik saya #dibakarbaekyeolshipper#plak#abaikan. EXO member milik orang tuanya, SM Ent. , dan Tuhannya
A/N : Adakah yang nungguin ff ini? Maaf lama update. Chapter 3 update! Enjoy Reading
Warning : GS/Gender Switch/Ranjau Typo(s)/OOC/Ide pasaran/Gaje/Aneh/Absurd/dll.
DONT LIKE? DONT READ!
IF YOU DONT LIKE THIS STORY, LEAVE THIS PAGE
NO BASH NO PLAGIAT
~('-'HAPPY READING'-')~
.
.
.
Chanyeol dan Chen memulai lagu kedua mereka dengan baik. Hingga sedikit lagi sampai lagu berakhir, mata Chanyeol yang sedang menjelajahi café, terhenti pada sebuah meja dipaling ujung dengan seorang yeoja yang sedang tersenyum manis kearahnya. Detik itu juga mata Chanyeol membulat. " I-itu B-Baekhyun! "
.
.
.
ANGEL CHAPTER 3
.
.
.
Setelah lagu benar-benar selesai, pemilik café mengizinkan Chanyeol dan Chen untuk istirahat. Secepatnya Chanyeol pergi ke meja paling ujung itu, tentu sebelumnya ia meminta izin dulu pada Chen.
Setelah sampai dimeja itu, Chanyeol disambut dengan senyuman manis dari orang yang menduduki meja itu.
"Boleh aku duduk?" tanya Chanyeol langsung. Orang itu mengangguk manis.
Chanyeol berdeham kecil setelah bokongnya sukses mendarat dikursi yang berhadapan dengan orang itu. Dia menggaruk tengkuknya, "Kau Byun Baekhyun?"
Baekhyun mengangguk lagi. "Ternyata kau masih ingat denganku, Chanyeol-ssi" jawabnya diiringi tawa kecil.
Chanyeol meremas tangannya sendiri. Ternyata itu benar-benar nyata, batinnya.
"Kau tidak usah takut padaku, Chanyeol-ssi. Aku tidak akan membahayakanmu, hanya membantumu. Itu saja."
Perkataan Baekhyun sedikit menenangkan Chanyeol. Jujur saja, Chanyeol memang takut, tapi saat melihat wajah Baekhyun yang manis—menurutnya—malah membuatnya nyaman.
"Aku masih bingung soal kemarin" ucap Chanyeol pada akhirnya.
Baekhyun mengangguk lalu tangannya menggenggam satu tangan Chanyeol yang ada diatas ia menyalurkan sedikit kemampuannya yang bisa membuat orang nyaman. Awalnya Chanyeol kaget dengan perlakuan Baekhyun yang tiba-tiba itu, tapi setelahnya ia merasa nyaman.
"Mianhae soal kemarin, karena kemarin aku hanya berkenalan saja." Baekhyun menarik nafasnya sebelum kembali melanjutkan, "Sekarang aku akan melanjutkan penjelasannya. Jadi dengarkan baik-baik ne?"
Chanyeol mengangguk, lalu Baekhyun kembali melanjutkan.
"Aku, Byun Baekhyun, adalah seorang Angel. Angel adalah malaikat yang membantu manusia dalam hidupnya. Mengerti?"
Chanyeol mengangguk lagi.
"Sekarang tugasku yang paling terakhir adalah membantumu, Park Chanyeol." Baekhyun mengakhiri penjelasannya dengan masih menggenggam sebelah tangan Chanyeol.
Chanyeol sudah sedikit mengerti tentang Baekhyun dan tugasnya. Tapi, banyak pertanyaan yang bermunculan dipikirannya.
"Ada yang mau ditanyakan?" tanya Baekhyun, seolah tahu apa yang ada dipikiran Chanyeol.
Chanyeol menarik nafasnya dalam, lalu siap memberikan pertanyaan pada yeoja didepannya.
"Kenapa tugas terakhirmu itu aku?" - Chanyeol
Itu takdir, Chanyeol. "Molla, aku hanya menjalankan tugas" - Baekhyun
"Aku tidak punya masalah, kenapa kau harus membantuku?" - Chanyeol
"Kau punya" - Baekhyun
"Tidak" - Chanyeol
"Punya" - Baekhyun
"Tidak, Baekhyun-ssi" - Chanyeol
"Kau punya! Masalahmu adalah kabur dari rumah karena appamu selalu membandingkanmu dengan Yura eonni" teriak Baekhyun gemas.
Raut wajah Chanyeol berubah menjadi seketika. "Itu bukan urusanmu" ujarnya sambil melepas genggaman tangan Baekhyun.
Baekhyun kaget. Kenapa tiba-tiba berubah begini, batinnya. "Kau sebenarnya salah paham, Chanyeol-ssi"
Chanyeol menatap Baekhyun dingin. "Jangan sok tahu. Sebaiknya kau cari saja orang lain untuk tugas terakhirmu." ujarnya sambil bangkit dari kursi lalu berjalan kembali kepanggung.
"Aku tidak sok tahu! Aku tahu karena aku Angel! Dan tugas terakhirku itu kau! Park Chanyeol! Bukan orang lain!" Baekhyun berteriak. Untung saja mereka berada dipaling ujung jadi diujung, jadi pengunjung lain tidak akan terganggu.
Chanyeol langsung berbalik ketika Baekhyun berteriak dengan suara yang bergetar. Seketika ia kaget ssat melihat wajah Baekhyun yang memerah dengan mata berkaca-kaca dan badannya bergetar.. Dengan segera ia menghampiri yeoja itu dan menghapus air matanya. "M-mianhae" ucapnya lirih.
"Hiks.. Aku mohon bantu aku menyelesaikan tugas ini,setelah beres aku berjanji akan pergi." Baekhyun menunduk sambil meremas gaun putih selututnya.
Chanyeol berfikir sebentar lalu mengangguk, "Arraseo, tapi kalu orang tuaku menolak kau harus cari orang lain untuk tugas terakhirmu"
Baekhyun mendongak menatap Chanyeol yang memang lebih tinggi darinya. "Jinjja? Kau mau?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
Chanyeol mengangguk dan tersenyum, lalu tanpa sadar ia menyubit kedua pipi chubby Baekhyun.
"Yeay! -" Baekhyun memekik senang lalu melompat memeluk Chanyeol. Beruntung dapat segera menyeimbangkan berat tubuhnya + Baekhyun yang memeluknya senang. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, entah kenapa. Dan juga wajahnya dapat dirasakan tahukah Baekhyun kalau namja yang dipeluknya tengah gugup setengah mati? Ah ani, dia terlalu polos tenteng hal ini.
"Gomawo, yeol? Baekhyun melepas pelukannya lalu tersenyum manis, memamerkan eye smilenya.
"N-ne" jawab Chanyeol seadanya, ia terlalu gugup saat melihat senyuman yang ia sukai dari Baekhyun. "Aku pergi dulu, masih harus tampil"
Baekhyun mengangguk imut. "Ne, sampai jumpa nanti"
Chanyeol pun kembali kepanggung. Kebetulan waktu istirahatnya sudah habis jadi setelah dia sampai, mereka—Chanyeol dan Chen—langsung menyanyikan lagu ketiga.
Baekhyun tersenyum melihat punggung Chanyeol yang mulai menjauh.
"Orang tuamu tidak akan menolak, Chanyeol. Kau hanya salah paham. Orang tuamu ingin yeng terbaik untukmu. Aku akan membantumu sekuat yang bisa. Karena itu, aku disini" batinnya sambil berjalan dan perlahan Baekhyun menghilang.
.
Saat sedang bermain gitar, Chanyeol melayangkan pandangannya kearah meja paling ujung. Senyumannya mengembang saat orang yang menempati meja itu sudah pergi.
.
.
.
Chanyeol membaringkan tubuhnya disofa abu-abu diruang tengah apartemennya. Ia menggerakkan tubuhnya, mencari posisi yang menurutnya nyaman. Setelah menemukannya ia meletakkan kedua telapak tangannya dibelakang kepala sebagai bantal. Matanya menerawang kelangit-langit apartemennya. Tiba-tiba ia teringat alasan kenapa dirinya pergi dari rumah
:: Flashback ::
Chanyeol berjalan pulang digelapnya malam. Diliriknya jam yang bertengger ditangan kanannya
'Jam setengah 12' gumamnya.
Namja bertubuh tinggi itu baru saja pulang dari latihan band bersama teman Senior High Schoolnya. Posisinya sebagai pemain gitar. Karena itu adalah mimpinya—sebagai pemain gitar handal.
Gerbang rumahnya yang tinggi menjulang sudah mulai terlihat.
'Sedikit lagi'
Dan akhirnya Chanyeol sampai. Dengan segera ia memasuki gerbang itu secara perlahan. Lalu menutupnya juga dengan perlahan. Lalu kakinya langsung berjalan memasuki rumah.
Cklek
Saat pintu terbuka, nafasnya tercekat. Diruang tamu yang langsung menghadap pintu terlihat appa, eomma, dan noonanya tengah berkumpul.
"A-ada apa? Tumben sekali kalian berkumpul." tanya Chanyeol gugup.
Tapi pertanyaan Chanyeol tidak digubris oleh keluarganya,melainkan dibalas tatapan tajam dari appanya.
"Darimana saja kau?"
Chanyeol menelan air liurnya dengan susah payah ketika mendengar nada marah yang tersirat dari pertanyaan appanya. "B-berlatih band"
"Sudah appa bilang! Berlatih band itu tidak ada gunanya! Itu hanya membuatmu jadi bodoh! Lihat noonamu, dia selalu mendapat nilai tinggi! Seharusnya kau turuti noonamu, Park Chanyeol!"
"CUKUP!" Chanyeol berteriak, rahangnya mengeras, "Aku sudah melakukan semampuku appa! Meskipun tidak sebagus noona, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali! Aku lelah. Bermain gitar hanya sebagai pelepas penat. Jika kehadiranku tidak berguna sama sekali disini, aku akan pergi dari rumah. Agar noona saja yang membahagiakan appa." Chanyeol naik kekamarnya. Mengambil ransel kecil lalu memasukkan baju secara asal.
Eomma dan Noonanya yang sedari tadi diam menyaksikan pertengkaran ayah dan anak itu segera berlari menyusul Chanyeol.
"Chanyeol, eomma mohon jangan pergi." Eomma Chanyeol langsung memeluk lengan anaknya yang baru saja keluar dari kamar.
"Chan jangan pergi dari rumah, noona mohon." Noona Chanyeol ikut memeluk Chanyeol.
"Maaf eomma, biar noona saja yang membahagiakan appa. Aku pergi!"
BLAM!
Pintu sukses dibanting keras. Chanyeol berlari tanpa arah dan tujuan. Pikirannya kosong. Hingga ia menabrak Chen. Dan dari situlah awal mereka bersahabat.
:: Flashback End ::
Chanyeol mendengus kesal mengingat kejadian itu. Tiba-tiba ia kembali teringat kata-kata yang Baekhyun ucapan tadi saat di café.
"Kau salah paham, Chanyeol-ssi"
Benarkah? Apa aku masih punya harapan untuk pulang? Tsk! Jelas-jelas appa tidak mengharapkanku, pikirnya.
"Sedang memikirkan ucapanku ya?"
"UWAA!"
BRAK!
Chanyeol terjatuh dengan tidak elitnya dari sofa. Ia meringis sambil mengusap-usap bokongnya yang mendarat dilantai keramik. Dibelakan sofa, seorang yeoja tengah terkikik geli kearahnya.
"Aigoo, aku tahu kau seorang Angel. Tapi jangan muncul tiba-tiba dan mengagetkanku juga!"
Yeoja yang tak lain adalah Byun Baekhyun merubah kikikan(?)nya menjadi tawa. "Mianhae." ucapnya disela tawa.
Chanyeol mendengus kesal. Lalu ia bangkit untuk kembali duduk disofa. Begitu juga dengan Baekhyun, ia mengikuti duduk Chanyeol untuk disebelahnya. Suasana hening sesaat setelah Baekhyun menghentikan tawanya. Hingga akhirnya Chanyeol berdeham kecil—sekedar mencairkan suasana.
"Ada apa?" Namja itu bertanya sambil melirik Baekhyun yang sedang asyik melihat isi ruangan.
"Ne?" Baekhyun beralih menatapnya, "Tentu saja untuk membantumu, yeollie." bibirnya ia poutkan gemas.
Kedua alis Chanyeol bertaut. "Yeollie?"
Baekhyun mengangguk kecil. Lalu memiringkan kepalanya. "Wae?"
Astaga kenapa orang ini imut sekali, batin Chanyeol menjerit melihat betapa imutnya Baekhyun sekarang. Jantungnya berdetak kencang lagi. Persis saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya senang saat di café. Ia memalingkan wajahnya kesamping. "A-aniyo, lupakan saja."
"Ah iya!" tiba-tiba Baekhyun berteriak, otomatis Chanyeol kembali menatapnya, "Apa tadi kau sedang memikirkan ucapanku?"
Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Begitulah," gumamnya nyaris tidak terdengar.
Yeoja didepannya mengangguk mengerti. "Kau tahu yeol?"
"Apa?"
"Orang tuamu itu sangat menyayangimu. Jadi, tidak mungkin mereka mengusirmu begitu saja."
Chanyeol meyenderkan punggungnya kesofa. Tangannya ia letakkan dibelakan kepala sebagai bantal. "Ayahku hanya saying pasa noona saja." ucapnya dengan berat dan diiringi helaan nafas.
"Ani!" Baekhyun menyahut, "Asal kau tahu, mereka juga sayang kepadamu. Tidak mungkin mereka tidak saying pada darah dagingnya sendiri."
Chanyeol menatap Baekhyun sekilas lalu terkekeh. "Kau semangat sekali."
Yeoja mungil itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Benarkah?". Dan dijawab oleh anggukan Chanyeol.
"Kau tahu?"
"Apa lagi?"
"Alasan appamu selalu membanggakan noona?"
"Tidak"
Baekhyun tersenyum. "Appamu itu sebenarnya ingin memberikan acuan agar kau bisa lebih baik daripada noona. Kau tahu untuk apa?"
"Tidak, Byun Baekhyun. Kalau aku tahu juga tidak akan ada kau disini," ucap Chanyeol dengan nada kesal.
Bibir Baekhyun mengerucut kesal. "Sebenarnya, perusahaan keluarga itu akan diserahkan kepadamu,"
Mata Chanyeol melebar. Ia bangkit dari posisi sebelumnya menjadi duduk bersila berhadapan dengan Baekhyun. "Mwo?"
Baekhyun mengangguk. "Itu alasannya kenapa appamu selalu membanggakan noona. Agar kau bisa sama dengan noonamu. Noona tidak mungkin meneruskan perusahaan di Seoul karena dia akan akan melanjutkan kuliahnya di London."
Kini mulut Chanyeol ikut menganga. Dia menjambak rambut frustasi sambil mengumpat dalam hati.
Baekhyun tersenyum maklum. Tangan kanannya yang mungil meraih tangan Chanyeol. "Karena itu aku disini, yeol."
Chanyeol menatap sepasang iris bening dihadapannya. Manik mata yang berkilat semangat. Kedua ujung bibirnya naik. Chanyeol tersenyum sambil merengkuh badan mungil Baekhyun.
"Aku disini untuk membantu menyelesaikan semuanya, yeol."
Chanyeol menelusupkan kepalanya lebih dalam keceruk leher Baekhyun. Wangi khas bayi menguar ke penciumannya. Iris hazelnya perlahan menutup.
"Gomawo—
—baekki."
.
.
.
.
.
Sosok namja tinggi itu menatap horror sebuah rumah didepannya. Oh— jangan berfikir dia sedang mencoba memasuki rumah tua yang menakutkan, karena itu adalah rumah orang tuanya. Yap, sosok itu adalah Park Chanyeol.
Chanyeol memandangi rumah yang dulu sempat ia tempati. Bersama kedua orang tua dan kakak perempuan tentunya. Dia dulu pernah kabur—yah, karena kesalah pahaman itu, jadi wajar saja jika sekarang tangannya berkeringat dingin karena gugup atau takut?
"Yeol?"
Tiba-tiba sebuah suara lembut mengintrupsi lamunannya. Iris hazelnya beralih menatap Baekhyun—orang yang memanggil. "Ne?"
"Santai saja, appamu tidak akan menerkam," ucap Baekhyun, bermaksud menghibur namja disebelahnya.
Tapi candaan Baekhyun membuat Chanyeol menelan air liurnya susah payah. Aih sepertinya namja itu semakin panik.
Keduanya kini sedang berada didepan sebuah rumah megah milih keluarga Park. Baekhyun meminta Chanyeol untuk meminta maaf pada orang tuanya karena kesalah-pahaman. Dan Chanyeol mau tidak mau setuju saja.
Namja dengan tubuh tinggi itu tampak tampan dengan setelan—yang entah sejak kapan berada disela-sela baju dalam lemarinya. Sedangkan Baekhyun tampak sangat cantik dan imut dengan dress putih selutut. Intinya, keduanya terlihat serasi.
Kaki panjang Chanyeol mulai memasuki kawasan rumah megah itu. Diikuti Baekhyun tepat dibelakangnya.
Ting Tong
Bel masuk sukses ditekan dengan gemetaran oleh Chanyeol. Saat bel berbunyi, namja itu seperti mendengar alunan musik horror. Baekhyun yang melihat gelagat Chanyeol, mengusap punggungnya. Beberapa saat kemudian, pintu megah pun terbuka. Sosok yeoja cantik terlihat. Irisnya langsung membulat ketika melihat tamu yang datang.
Begitu pun dengang sang tamu. Tubuhnya berkeringat dan sedikit bergetar.
"Chan-chanyeol?" ucap yeoja itu, walaupun volume suaranya kecil tapi masih terdengar oleh Chanyeol dan Baekhyun.
Kedua ujung bibir Chanyeol perlahan naik. "Ne.. noona."
Tes
Satu cairan lolos dari yeoja yang dipanggil noona oleh Chanyeol. Yeoja itu ikut tersenyum. Bahagia. Karena adik tersayangnya kembali. Tanpa menunggu lagi ia langsung memeluk adik lelakinya, seakan takut akan kehilangan lagi. "Kau akhirnya pulang."
Chanyeol mengangguk sambil membalas pelukan noonanya. Sedikit kaget karena sambutan pertama tidak seperti yang ia bayangkan.
"Yura? Nuguya?"
Tiba-tiba sebuah suara mengintrupsi kegiatan kakak-beradik itu. Yura-noona Chanyeol-melepas pelukannya lalu berbalik.
"Chanyeol. Chanyeol pulang, eomma." kata Yura dengan nada penuh kebahagiaan.
Wanita paruh baya yang baru saja menginjak ubin lantai langsung berlari kecil menghampiri Yura.
Tangannya yang masih lentik itu menggapai wajah tampan Chanyeol. Mengelusnya sayang. Air matanya ikut turun. "Chanyeol, kau pulang nak."
Chanyeol mengangguk sembari meneteskan cairan bening dari matanya. "N-ne, ini aku eomma. Park Chanyeol."
Sama dengan reaksi Yura saat melihat adiknya. Sang eomma langsung memeluk anaknya, erat sekali. Chanyeol pun ikut membalas pelukan eommanya tidak kalah erat.
Chanyeol berulang kali mengucapkan maaf dengan cairan bening yang setia turun. Eommanya hanya mengangguk sambil mengusap punggung Chanyeol. Hingga beberapa saat pelukan itu terlepas. Nyonya Park mengelus surai hitam milik Chanyeol.
"Temui appamu. Dia ada diruang kerjanya." Chanyeol mengangguk patuh, lalu melangkahkan kaki panjangnya kelantai dua—tempat ruang kerja appanya—, hingga pertanyaan noonanya menghentikan langkahnya ditangga.
"Yeol, yeoja manis itu siapa?"
Chanyeol menepuk keningnya. Hampir saja ia lupa dengan Baekhyun yang sedari tadi masih diam didepan pintu.
"Err.. dia—
Perlahan tangan Baekhyun bergerak kecil kearah Chanyeol
—yeojachinguku."
.
.
.
.
.
TBC
:: Is time to ngebacot(?) ::
Heiho! Saw balik bawa chapter ke 3 dari Angel. Adakah yang nungguin ff ini? Kalau ada, maafin lama update. Karenaaa, curcol dikit boleh ya, sebenernya chap ini udah di ketik lama banget, tapi karena kebiasaan saw sebelum ngetik di laptop pasti nulis di buku dulu, saw jadi mager buat ngetik ._. Maaf kalau hasilnya tidak memuaskan. Chapter depan Chanbaeknya tamat. Oiya, makasih buat yang udah mau read, review, follow dan favorit ;; Jangan lupa ripiyu lagi yap.
:: Balesan review ::
jeneul (Guest) : Udah dilanjut :) udah sedikit dipanjangin juga. Serukah? hehe gomawo
