Williewillydo: terima kasih atas koreksinya :D

Hinamori hikari: ini gara-gara keyboard author yang soak haha terima kasih. Wkwk kambingnya cowok kok itu wwww

Elzakiyyah: sebenernya semua disiksa setiap bulan. Nah kebetulan bulan ini jatah Sasuke :D

Himmmechi: udah lho :D

Nana: main story pertama aja Cuma 42ribu wkwk tapi sebenernya kalau main sendiri feelnya lebih dapet uhuhu

Sakulov: terima kasih sudah bersedia menunggu fic ini. Nanti aku sempilin deh GaaSakunya :D

Intanm: yah maklumlah Sasuke agak-agak terganggu wkwk *digebukin

Uchihaliaharuno: tapi humore kurang mbak chapter iki wkwk

Undhott: jangankan kamu, author aja baca bolak balik :v

Prissa Armstrong: aduh jangan gitu dong kan kasian sasukenya wkwk

echaNM: mungkin Cuma di gebukin wkwk ho'oh nanti di jelasin kok traumanya.

Zarachan, santiDwiMw & hanazono yuri: silakan baca :D

Lvenge: kambingnya menang banyak...

Firza290: akhir2 ini ffn kayaknya sering error emang.. aku aja ketipu pas main gamenya haha kirain yuri itu mantannya wkwk lah kan bagi sasuke cewe emang benda wkwk ah tenang sasuke Cuma digebukin kok, gak diapa-apain. Nanti dijelasin kok traumanya apa...


.

"Baiklah kalau begitu, semuanya sudah diputuskan." Tanpa menunggu jawaban dari Sasuke Pain memutuskannya seenak jidat.

"...Orangtua sialan." Umpat Sasuke.

"Baiklah. Ini adalah nomor kalian, jangan lupa memasukkannya dalam ponsel masing masing." Pain memberi secarik kertas dan Sasuke mulai memasukkan nomornya, sorot wajah tegang terlukis jelas di wajahnya.

"Benda X: xxxxxxxxxxxxxxxxx" Sasuke membacakan kembali nomornya.

Sakura meringis mengetahui namanya di ponsel Sasuke. Bagaimana mereka akan bertahan bersama di negara asing?


.

TRUE LOVE SWEET LIES

CHAPTER 3


.

.Sementara itu di dalam kantor, setelah Sakura pergi ke kamar, Pain berbicara dengan Sasuke mengenai rencana yang akan mereka jalankan.

"...Aku tidak setuju dengan keputusanmu." Sasuke mengerutkan dahinya setelah mendengar rencana Pain, "Selamanya tidak akan pernah." Tandasnya.

"Tolong singkirkan masalah pribadimu itu dan bekerja samalah." Kata Pain.

"Kau sudah merencanakan hal ini dari awal bukan, bahwa aku harus bekerja sama dengan itu.." Sasuke menggertakkan giginya, bahkan mengganti sebutan Sakura dengan 'itu' masih terasa sulit untuk diucapkan.

"Ah, Sasu—" Pain merengek sambil menyentuh bahu Sasuke, namun pria pantat ayam itu segera menepisnya.

"Terserahlah. Aku akan melakukannya, dan tolong ingat. Ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya."

Slam

Hentakan yang lumayan keras menggema sesaat setelah Sasuke pergi. Sementara Pain cengok, namun kemudian ia kembali ke mejanya.

.

.

.

Beberapa hari kemudian mereka terbang menuju Semenanjung Arab untuk melakukan investigasi. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan Sasuke yang menyupirinya. Hening. Bahkan dari awal keluar dari gedung sampai sekarang mereka tak saling mengobrol. Sasuke lebih sering menyumpali telingannya dengan headphone, tentu saja itu semata-mata hanya untuk menghindari percakapan diantara mereka. Dan ingatkan Sakura unuk bersyukur karena tempat duduk mereka saat di pesawat terpisah cukup jauh. Namun sekarang, mengingat keduanya sedang bersama-sama dalam mobil keheningan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan.

"Um, di luar sangat panas, benar kan?" Sakura menoleh kearah Sasuke, namun pemuda itu diam. "Kau tahu kalau kau tidak rutin membersihkan mobilmu kau harus membayar denda disini. Itu sebabnya semua mobil disini nampak bersih terawat."

"..."

Sakura menelan ludahnya, Sakura berpikir mungkin dia salah dengan mengambil topik yang begitu membosankan.

"Hey kau tahu." Sakura kembali menoleh kearah Sasuke, "Akan ada hujan meteor yang terjadi besok malam?"

"..."

"Namanya adalah meteor atlantis. Salah satu hobiku adalah memotret langit malam. Aku yakin kau tahu itu. Kau tahu pekerjaanku. Maksudku, kalian adalah detektif."

"..."

"Aku harap aku bisa mendapatkan gambar yang bagus..."

"...Hey." Sasuke mengernyitkan dahinya, pandangannya masih tertuju ke depan.

"Hm?" sementara itu Sakura menyahut senang, setelah mengoceh panjang lebar Sasuke akhirnya merespon omongannya.

"Jangan melihat ke arahku."

"Ha?"

"Jangan bicara denganku." Lanjut Sasuke, "Dan bahkan jangan bernapas."

"Apa?!" Sakura menaikkan kedua alisnya saat mendengar ucapan tak masuk akal dari Sasuke. Sakura menggembungkan pipinya kemudian menjauhkan pandangannya dari si brengsek itu.

Dan setelah keheningan yang menyiksa tersebut, mereka akhirnya sampai di kota. Sasuke keluar dari mobil dengan buru-buru sementara Sakura mengikutinya dari belakang memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

Duk

Sakura dengan tidak sengaja menubruk punggung Sasuke saat pria itu tiba-tiba berhenti di depan salah satu penjaja karpet. Sasuke mengamati karpet disana satu persatu tanpa menghiraukan hidung Sakura yang linu gara-gara menabrak punggungnya. Sakura mengeluh, seharusnya dia mengatakan sesuatu kalau ingin berhenti.

"Um.." Sakura mendekati Sasuke dan memasang wajah marahnya, "Bisakah kau menjelaskan sesuatu padaku? Aku menyadari kalau kau membenci wanita, tapi ini adalah investigasi. Dan aku adalah..."

"Istriku." Sasuke menoleh.

Deg

Untuk sesaat Sakura terasa membeku. Ia bahkan dapat merasakan kakinya gemetaran. Entah mengapa udara di sekitarnya yang memang sudah panas malah bertambah panas, apalagi dia merasakan panas itu berpusat pada kedua pipinya.

"Itu adalah rencananya. Jadi bekerja samalah." Kata Sasuke, pria itu kembali berfokus pada karpet di sana.

"Ah..." Sakura mengangguk mengerti. Meskipun ada sedikit rasa kecewa yang hinggap di hatinya.

"Sekarang diamlah dan berpura-pura memilih karpetnya."

Sakura mengangguk lalu berjalan melihat-lihat karpetnya. Bersamaan dengan itu penjaja karpet tersebut mendekati Sasuke dan mulai bercakap dengan bahasa inggris. Sasuke terus bericara dengan bahasa inggrisnya yang fasih sementara Sakura melongo dibuatnya. Sialan aku tidak tahu kalau inggrinya sebagus itu!

"Show us that one." Kata Sasuke.

"Sure."

Untuk beberapa saat, Sasuke meletakkan kedua tangannya di sekitar karpet yang penjaja tersebut berikan padanya. Dan saat itu Sakura melihat Sasuke mengambil sesuatu dari sana. Merasa diamati sasuke menoleh kearah sakura, "Berhenti penasaran. Kita hampir selesai. Kembalilah ke mobil."

Sakura mengangguk lalu pergi ke mobil yang mereka parkirkan di seberang jalan.

.

.

.

Sakura diam di dalam mobil dan terus bertanya-tanya, mungkinkah penjaja karpet itu seorang informan?

Crack crack

Sakura menoleh dan sadar bahwa sekarang dia sudah terkepung di dalam mobil. Di luar sana beberapa pria bermasker berusaha untuk membuatnya keluar. Beberapa dari mereka memukuli kaca mobilnya, dan yang lainnya mencoba untuk membuka paksa pintunya. Dalam kepanikan itu Sakura menoleh kearah pria yang menunjuk ke arahnya dan mengucapkan sesuatu.

"Apa mereka ingin aku membuka pintunya?" Sakura bergumam. Tubuhnya gemetar, sementara Sasuke masih belum kembali juga.

Karena tak mendapati respon dari Sakura, pria yang menuding tadi mengarahkan sebuah pipa besi dan memukulkannya pada kaca tepat di pintu dimana Sakura duduk.

Craaaaaassh

"Kyaaaah!"

Sakura dengan panik merangkak menuju kursi belakang, dia meringkuk sambil menutupi kepalanya. Mereka akan benar-benar membunuhku!

Salah satu dari mereka hampir saja menggapai Sakura saat tiba-tiba Sasuke menarik pria tersebut dan mulai menghajarnya.

"ArrggH!" pria di tangan Sasuke terbanting dengan keras lalu pingsan. Sementara pria lain yang datang dengannya segera berlari berlawanan arah untuk menyelamatkan diri.

Sasuke menghela napasnya lalu mulai membuka pintu belakang untuk memastikan keadaan Sakura.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke.

Sakura perlahan menaikkan kepalanya dan mendapati Sasuke sudah berdiri di depan pintu. "Sasuke-kun.. "

"Kau terluka?" tanya Sasuke.

"Huh?" Sakura menatap lekat pada Sasuke, dia pikir Sasuke akan meneriakinya, "Aku... baik-baik saja... Sepertinya aku telah diikuti atau semacamnya..."

"Jangan khawatir, mereka hanya perampok biasa."

Sasuke mengumpulkan pecahan dari kaca mobilnya lalu menyimpannya. Setelah membersihkan kursinya Sasuke mulai menjalankan mobil, dalam perjalanannya menuju hotel Sasuke terkadang melirik kearah Sakura yang sekarang duduk di belakang melalui spion tengahnya. Untuk sesaat perasaan senang menghinggapinya saat dia sadar bahwa ternyata Sasuke mengkhawatirkannya. Sasuke cukup dingin, namun ternyata dia mampu bersikap baik kadang-kadang.

.

.

.

Di hotel.

Sakura merentangkan tangannya lega. Setidaknya disini sangat aman baginya. Sakura membiarkan Sasuke yang mengurus semuanya di meja resepsionis, sementara dia duduk bersantai di salah satu sofa di lobi.

"APA?!"

Sakura menoleh saat Sasuke tiba-tiba berteriak dengan bahasa Jepang. Sakura lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Sasuke yang sedang bertingkah aneh. Sasuke pergi sambil terus mengomeli resepsionis yang malang yang terlihat depresi untuk menenangkannya.

"Aku benar-benar tidak percaya ini!" Sasuke menggeram lalu dengan kasar mendorong bellboy yang berniat untuk membawakan koper mereka. Sasuke menarik kopernya dengan kasar lalu pergi meninggalkan para petugas hotel.

"So—sorry." Sakura membungkukkan badannya lalu berlari menyusul sasuke sambil menarik kopernya.

Kenapa aku yang minta maaf lagi untuknya?

.

.

.

Sasuke membanting pintu saat mereka sudah sampai di kamar yang sudah dipesan sebelumnya. Ruangan yang cukup besar bercat putih, dengan karpet lantainya yang berwarna coklat. Dan disana hanya ada satu tempat tidur yang cukup besar.

"Ini.." Sakura bergumam, oh mungkin ini kamar Sasuke-kun. "Jadi dimana kamarku?" Tanya sakura.

"Disini."

"Oh.." Sakura ngangguk-angguk, "Lalu dimana kamarmu?"

"Disini."

Huh?

"Ke—kenapa."

"Hotel ini mengacaukan segalanya."

"Kalau ini kesalahan mereka mereka cukup memeri kita kamar yang lain." Ujar Sakura.

"Tentu saja aku sudah melakukan itu.." kata Sasuke.

"Kalau begitu apakah kita tidak bisa bertukar dengan kamar berdouble-bed?"

"Tidak semuanya sudah dibooking."

Sialan!

Jadi malam ini mereka harus tidur di satu ranjang.

"Hanya ada satu ranjang disini." Kata Sakura.

"Kau tidak berpikir kita akan tidur seranjang kan?" Sasuke menyipitkan matanya saat memandang ke arah Sakura.

"Lalu pilihan apa yang kita punya sekarang?" Sakura bergumam.

Sasuke dan Sakura diam memikirkan apa yang harus mereka lakukan, tak ada sofa. Hanya ranjang.

"Salah satu dari kita harus tidur di lantai." Sasuke menatap kearah lantai berlapis karpet di dekat ranjang.

"Kalau begitu biarkan aku-"

Sasuke menyunggingkan senyuman anehnya, "Baiklah kalau begitu." Kata Sasuke dengan wajah leganya, pria itu lalu naik ke ranjang dan mulai berbaring.

Sakura mendesah panjang penuh kecewa namun Sasuke terlihat tak menghiraukannya. Yah sepertinya Sakura pun harus pergi tidur juga.

Sakura mengambil tasnya dan menggunakannya sebagai bantal, "Selamat malam ka—"

Fssssssshhhh

"Aaaaaaaaaahhh!"

Sasuke dan Sakura berjingkat bersamaan saat air dengan deras mengucur dari sprinkle.

"Apa yang terjadi dengan sprinkle sialan itu!" kesal Sasuke.

"Sprinkle?"

Belum sempat Sakura mendongak keatas, Sasuke lebih dulu menaiki kopernya dan menekankan tangannya pada sprinkle yang mengeluarkan air disetiap sisi kamarnya.

"Kenapa airnya tiba-tiba berhenti?" Sakura mendongak saat melihat air masih mengucur di sisi lain namun tidak di tempatnya berdiri dan mendapati Sasuke berhasil menghentikan air dari salah satu sprinklenya.

"Panggil bagian resepsionis!" Sasuke berteriak sambil terus menekankan tangannya.

"Kau benar..." Sakura segera berlari dan menyahut telepon di meja kamar itu, kemudian menekan nomor yang tertulis disalah satu halaman buku disana.

"Ha-hallo."

"Hello."

Sakura mendengus saat resepsionis tersebut menjawabnya dengan bahasa Inggris. Sakura menoleh ke arah Sasuke, "Aku tidak bisa Sasuke-kun."

"Tidak bisa apa?"

"Mereka ngomong Inggris."

"Lalu?"

"Tapi aku..."

"Teriak saja!"

"Apa?"

"Teriak dengan bahasa Jepang."

Sakura dengan bimbang kembali menempelkan telepon tersebut di telinganya, Sakura menarik napas panjang dan mulai berteriak, bahkan saat itu Sasuke hampir saja terjatuh gara-gara kaget.

.

.

.

Sprinkle itu akhirnya berhenti. Namun ruangannya sudah terlanjur basah kuyup. Pelayanan di hotel ini benar-benar sangat buruk... Penjaga hotelnya hanya bilang "aku yakin ini akan baik-baik saja." Dan lalu pergi keluar meninggalkan mereka.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Sakura menoleh kearah Sasuke. Dia harap Sasuke tidak akan bersikeras untuk menyuruhnya tidur di lantai.

"Aku berhasil menyelamatkan tempat tidurnya." Kata Sasuke.

Sakura melihat lebih dekat dan Sasuke memang benar, ranjang tersebut hanya sedikit basah pada bagian sisinya. Dan itu semua berkat Sasuke yang menutupi sprinkle itu dengan tangannya.

"Bagus.."

Namun hal itu masih tidak merubah kenyataan bahwa hanya ada satu ranjang disana.

"Apa kau tidak mau tidur?" Sasuke bertanya sambil membaringkan tubuhnya di kasur dan menyelimuti dirinya.

"Sebenarnya aku mau, tapi... tidak ada tempatku untuk tidur..."

"... Berhenti mengeluh. Aku sudah menyisakan tempat yang cukup untukmu."

"Huh?"

Sakura melebarkan matanya, jadi dia oleh tidur di ranjang itu bersamanya?

"Kalau kau tidak mau menggunakannya, aku akan memakainya sendiri." Kata Sasuke sambil sedikit demi sedikit menggeserkan tubuhnya ke tengah ranjang.

"Tidak, aku mau! Aku mau!" Sakura segera merangkak di ranjang tersebut sebelum Sasuke merubah pikirannya. "Um, rambutmu masih basah, Sasuke-kun."

"Ck, tinggalkan aku sendiri." Sasuke membalikkan tubuhnya dan memunggungi Sakura, berusaha menolak semua yang akan dikatakan oleh Sakura.

Dan tak lama setelah itu, Sakura mendengar dengkuran halus darinya, dia cepat sekali tertidur seolah-olah Sakura tidak pernah ada. Sasuke juga melakukan hal yang sama di malam mereka bertemu. Sakura memandangi punggung di depannya, Sasuke mungkin kelelahan. Banyak hal yang terjadi hari ini. Saat matanya menerawang punggung lebar Sasuke, Sakura mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Punggung Sasuke sangat lebar..

Sakura bergumam pelan, rasanya dia pernah mengalami hal semacam ini. Pipi Sakura merona seketika saat mengingat malam dimana sasuke menciumnya. Dan ini bagaikan dejavu, saat itu dia menatap punggung Sasuke seperti ini.. Lalu tiba-tiba sasuke berbalik dan...

"Waaah! Tidak tidak tidak!" Sakura berusaha membuang kenangan memalukan itu dan dengan cepat membalikkan tubuhnya. Namun semakin Sakura mencoba untuk melupakannya, semakin cepat denyut nadinya terasa.

Bahkan detang jantungnya semakin keras berdetak, Sakura khawatir Sasuke akan mampu mendengarnya.

Ayolah tenang.

Tenang

Tenang.

.

.

.

"Mmmm... Kenapa aku merasa kepanasan..." Sakura bergumam saat tubuhnya merasa sangat panas dan sesuatu bergerak di tubuhnya. Sakura perlahan membuka matanya dan melihat Sasuke memeluknya dengan erat.

K-kenapa jadi seperti ini?

Sakura meneguk ludahnya, saat ini wajah sasuke sangat dekat dengannya. Saat sakura mencoba melepaskan dirinya, Sasuke membuka mata. Dan perlahan Sasuke menekankan bibirnya pada miliknya.

"He-hentikan kubilang!"

Terkejut dengan suaranya sendiri, Sakura berjingkat lalu duduk di tempat tidur sambil terengah-engah. Ia menyadari bahwa ia hanya bermimpi, rasa panas itu rupanya karena dia terikat dengan selimutnya. Sesaat setelah itu Sakura menghela napas leganya.

Kenapa aku harus bermimpi macam itu?

Sakura mencoba untuk menenangkan dirinya dan kembali tidur. Meskipun pada kenyataannya Sasuke benci wanita, namun itu tidak membuat Sakura kehilangan penjagaannya. Dan karena hal itu ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak.

Aku terbangun sekarang, terima kasih untuk mimpi yang mengerikan tadi.

Sakura menendang selimutnya lalu kembali menutup mata. Namun sesaat kemudian Sakura terlihat mengernyitkan dahinya, gadis bersurai pink itu berbalik ke arah Sasuke dan menyadari kalau bukan ruangannya yang panas, namun punggung sasuke. Sakura dengan pelan-pelan menyentuh punggung Sasuke yang kini basah dengan keringat.

"Sasuke-kun?"

"Hn..."

Sasuke menelentangkan dirinya setelah bergumam dan tepat saat itu Sakura segera menyentuh dahi Sasuke.

"Kau demam!"

Tidak heran lagi. Sasuke pergi tidur dengan keadaan basah kuyup.

"Sasuke-kun, kau harus mengganti pakaianmu."

"Hn.."

Sasuke hanya terus bergumam, pandangannya terasa penuh kabut, tidak ingin menjadi bertambah parah Sakura memutuskan untuk melepaskan pakaian Sasuke. Sakura melepaskan satu persatu kancing kemejanya lalu menarik hati-hati lengan pria yang semakin lama bernapas semakin berat itu. Sakura membiarkan Sasuke bersandar padanya selama dia melepaskan kemejanya. Tubuh sasuke sangat panas, bahkan wajahnya terlihat begitu merah. Sakura kembali membaringkan Sasuke lalu melompat dari ranjang dan mulai mengambil pakaian dari koper Sasuke. Sakura kembali ke ranjang dan memakaikan sweater pada Sasuke. Sakura terengah-engah, tubuhnya yang kurus itu harus ia paksakan untuk menahan tubuh Sasuke yang berat. Namun ia kembali bergerak, setelah berhasil memakaikan sweaternya, Sakura membasahi handuk kecil yang sempat ia bawa dan meletakkannya pada dahi Sasuke, namun hanya butuh beberapa menit saja handuk yang dingin berubah menjadi hangat.

"Hn..." Sasuke bergumam, napasnya terdengar sangat berat. Sasuke bahkan terlihat membuka mulutnya, seolah ia membutuhkan banyak asupan oksigen. Sakura kembali meletakkan handuknya sambil memandangi Sasuke. Aku penasaran apakah dia sekarang kesakitan..

Sakura menggigit bibir bawahnya penuh kesal, mengapa dia tidak menydarinya segera? Beberapa saat berlalu dan Sakura masih setia mengganti handuknya meskipun dia sendiri sebenarnya sudah sangat lelah dan mengantuk. Kurang lebihnya sekitar 3 jam berlalu, kesakitan yang terpancar pada wajah Sasuke semakin memudar. Dan saat itulah Sakura mampu bernapas lega mengetahui demam Sasuke sudah turun.

"Apa kau sudah merasa baik, Sasuke-kun?"

"Hn.." Sasuke menyahut dengan senyuman tipis di bibirnya.

Wajahnya terlihat sangat damai saat dia mengambil napas panjang dan lalu tertidur. Sasuke terlihat sangat tidak berdosa sekarang. Sangat berbeda dengan sisi nyatanya. Sakura menekankan telapak tangannya pada pipi Sasuke.

"Baguslah, demammu sudah berkurang sekarang."

Sakura merasa sangat tenang sekarang, namun setelah itu Sakura dengan tidak sadar menjatuhkan dirinya dan tidur dengan dada Sasuke sebagai bantalnya.

.

.

.

Riiinnnggg riiinnnggg

"Hmm..." Sakura melenguh panjang, rasanya ia baru saja tertidur beberapa saat yang lalu, namun sekarang suara telepon mengusik ketenangannya. Sakura masih setengah sadar saat menggerakkan tangannya mencoba meraih entah ponsel siapa yang terus berbunyi. Namun kemudian tangannya menyentuh sesuatu yang lembut.

"S-sasuke-kun?!" Sakura berjingkat saat menyadari posisinya, ia ingat rupanya dia dengan tidak sadar tertidur di atas Sasuke. Sakura melompat dari tempat tidur dan mencari ponselnya, namun bukan ponselnya yang berbunyi. Suaranya datang dari tas Sasuke.

"Sasuke-kun, ponselmu berbunyi..." Sakura mengangkat tas Sasuke dan meletakkannya di samping Sasuke yang masih tertidur, Sasuke meraba isi tasnya kemudian mulai mengangkat panggilan sedari masuk, matanya setengah terbuka.

"Halo..."

Saat dia diam mendengarkan si penelpon, mata Sasuke tiba-tiba terbuka lebar. "Aku mengerti. Terima kasih." Sasuke mematikan ponselnya, "Ayo pergi."

Sasuke melepaskan sweaternya dan memasukkannya asal ke dalam koper, ia lalu mengambil kemeja lainnya untuk dipakai.

"Pergi kemana? Sekarang?"

"Seseorang melihat Anko, si pengawal pangeran." Sasuke menjelaskan dengan buru-buru, "Kita mungkin masih bisa untuk mengejarnya."

"Tapi kau masih sakit."

"Tidak ada waktu untuk memikirkan itu!" Sasuke berjalan buru-buru ke pintu, "Ayo!"

.

.

.

Setelah keluar dari hotel, mereka buru-buru masuk kedalam mobil. Selama perjalanannya Sakura ak henti-hentinya menoleh ke arah Sasuke yang masih terlihat pucat. Tak berapa lama Sasuke memberhentikan mobilnya. Mereka keluar dari mobil dan mulai berlari ke pinggiran kota. Dimana terdapat gedung-gedung tua, bertolak belakan dengan gedung megah di pusat kota. Mereka terus berlari berbelok-belok melewati gang yang sempit. Mereka seperti sedang berada di dalam labirin.

"Harusnya ada disekitar sini..." Sasuke berhenti, mengecek posisi mereka di ponselnya. "Sebelah sini."

Sakura mengikuti Sasuke dan kemudian mereka berhenti di bawah bayangan salah satu gedung. Satu-satunya yang dapat Sakura dengar di dalam kesenyapan itu hanyalah suara napas mereka. Terlebih suara napas Sasuke yang sangat berat. Sakura mendongak menatap Sasuke wajah pria itu sudah semakin pucat. Wajah pucatnya begitu mengerikan.

"Sasuke-kun, kau benar-benar sakit..." Sakura berucap dengan pelan.

"Aku baik-baik saja."

"Tapi kau terlihat sangat-"

"Berisik!" Sasuke menoleh kearah Sakura dan berkata dengan nadanya yang marah, "Kau sebaiknya tidak mengganggu!"

...

"Itu dia." Sasuke yang kembali memfokuskan dirinya pada investigasi ini melihat Anko.

"Apa?"

"Kamera." Sasuke menoleh kearah Sakura.

"Ah, benar." Sakura dengan cepat mengarahkan kameranya, namun saat kamera Sakura mendapakan fokusnya, Anko menoleh.

"Sialan! Dia melihat kita!" Anko mulai berlari dan Sasuke mengejarnya. Tapi, Sasuke kehilangan keseimbangannya dan terjatuh bertumpu pada lututnya.

"Sasuke-kun!" Sakura berlari menyusul Sasuke, "Apa kau baik-baik saja?!"

Sakura kembali menyentuh dahi Sasuke, rupanya demam Sasuke kembali naik. Sakura menoleh kesana kemari dengan raut wajahnya yang khawatir, dia harus melakukan sesuatu.

"Berpeganganlah padaku!" Sakura meletakkan lengan Sasuke di bahunya, "Kita harus pergi kesuatu tempat dimana kau bisa beristirahat."

"Kita tidak butuh waktu untuk itu." Sasuke mendorong Sakura dan mencoba berdiri.

"Tidak, Sasuke-kun! Kau sedang tidak sehat!"

"Itu bukan masalah! Aku harus pergi!" Sasuke terus berusaha berdiri meski itu mustahil, "Aku akan membuktikannya.. Aku akan membuktikan kalau aku tidak membutuhkan bantuannya!"

Siapa yang dia maksud?

Sakura menggigit bibir bawahnya, gadis pink itu kemudian berdiri dengan tangan mengepal, "Kalau begitu... Aku yang akan pergi."

"Hey."

Sasuke memegang tangan Sakura berusaha untuk menghentikannya, namun gadis pink itu mengibaskan pegangannya tak peduli dan segera berlari. Bagaimana pun, Sakura tidak bisa membiarkan Sasuke pergi saat sakit seperti itu. Namun siapa yang barusan Sasuke maksud? Sakura berlari secepat yang dia bisa, dan tiba-tiba apa yang pernah terjadi di kantor dulu melintas di kepalanya. Saat itu, saat Sasuke mencoba meng-hack kamera pengawas, wajah Sasuke saat itu, wajahnya saat dia mendorong Itachi.. Mungkinkan dia membicarakan tentang Itachi.

.

.

.

Sakura terus berlari melewati gang sempit hingga ia tiba di kota yang ramai.

Apa aku kehilangan dia?

Terlalu banyak orang yang berlalu lalang disana. Sakura hampir saja menyerah saat tiba-tiba sebuah mobil hitam lewat di depannya. Sakura mengerutkan dahinya dan melihat Anko duduk di kursi belakang.

Itu dia!

Sakura mulai mengambil banyak poto, namun tak lama setelah itu Anko menyadarinya dan dia segera menutupi wajahnya dengan tangan. Sakura tak mempedulikannya dan terus menggambil poto sebanyak yang ia bisa. Sambil terus mengarahkan kameranya Sakura kembali berlari. Tapi..

Duk

"Waaaahh!" dengan sembrononya Sakura menabrak seorang pejalan kaki dan hal itu membuat dirinya terlempar ke tanah. Dan sekarang mobil itu semakin menjauhinya. Dengan keras kepalanya Sakura kembali mengarahkan kameranya kearah mobil dan mengambil poto lainnya.

.

.

.

Setelah berhasil mendapat banyak gambar, Sakura berlari menyusuri gang untuk menemui Sasuke.

"Hm, Sasuke-kun?" Sakura menoleh kesana kemari. Sasuke tidak meninggalkannya bukan?

"...Aku disini."

Sakura berbalik dan melihat Sasuke berdiri di tempat yang cukup gelap. "Kau baik-baik saja?" tanya Sakura sambil berlari mendekatinya.

"...Itu kata-kataku."

"Apa?"

"Lenganmu."

Sakura mengangkat lengannya dan menyadari bahwa ia terluka cukup dalam disana. "Oh, aku hanya terlalu bersemangat mengambil gambar, jadi aku tidak menyadarinya."

"Hal semacam ini terus terjadi karena kau sangat ceroboh." Kata Sasuke.

"Tapi aku mendapatkan potonya." Sakura mengangkat kameranya sambil tersenyum lebar, "Aku tidak yakin sebagus apa potonya."

Keduanya lantas duduk berdekatan sementara Sakura mulai menunjukkan pada Sasuke poto yang berhasil dia ambil, "dia yang duduk di kursi belakang kan?" Sakura men-zoom gambarnya lalu menoleh.

"Ya." Jawab Sasuke, "Hn, pria itu."

Sasuke bergumam sementara Sakura kembali melihat ke arah hasil potonya. Ada seorang pria yang duduk di samping Anko.

"Itu..." Sasuke kembali bergumam. Ia lalu menyahut kamera dari Sakura dan melihat keseluruhan poto. "Ini terlihat kurang jelas. Tapi kau bisa melihat plat nomernya di gambar ini."

"Oh, itu gambar yang kuambil setelah aku jatuh."

Sasuke mengambil ponselnya dan mulai berbicara dengan seseorang, "...Yep, dapatkan mobil dengan plat nomor itu. Aku mengandalkanmu."

Sakura menghela napasnya, ia senang ia tidak menyerah. Sebuah senyum ceria terbentuk di bibirnya.

"Kenapa kau terlihat sangat senang?" tanya Sasuke.

"Huh?"

"Aku tidak percaya betapa keras kepalanya kau!" lanjutnya, "Ini bukanlah sebuah permainan. Kalau kau mengacaukannya, kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari sekedar goresan!"

"Maafkan aku..."

"Tapi... Terima kasih."

Sakura mendongakkan wajahnya dan menatap Sasuke namun Sasuke segera menoleh kearah lain, benarkah pria ini baru saja berterima kasih padanya?

"Barusan kau..."

"Bukan apa-apa." Sasuke tetap tak memalingkan wajahnya, namun semburat pink yang tipis memenuhi pipinya. "Ayo pergi."

"Hehe..."

"Apa?" Sasuke menoleh saat Sakura terkekeh, dan sekarang Sakura mampu melihat pipinya yang kemerahan itu.

"Bukan apa-apa." Sakura memamerkan deretan giginya. Dia senang kerja kerasnya tidak sia-sia.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, mereka sudah mendapatkan analisis penuh dari poto yang Sakura dapat. Dan itu berkat informasi yang mereka dapat dari orang yang dihubungi Sasuke saat itu. Mereka bisa mengira-ngira di area mana sang pangeran kemungkinan dibawa.

"Baiklah, ayo cari keseluruh area." Kata Sasuke.

Akhir-akhir ini Sasuke lebih bekerja sama dalam mencari informasi sebelum memutuskan melakukan sesuatu. Mungkin Sasuke sudah menganggapnya bagian dari tim sekarang?

"Aku akan melihat ke gedung itu." Sasuke menatap gedung kosong di depannya, "Beritahu aku kalau kau melihat sesuatu yang mencurigakan di luar."

"Baik." Sakura mengangguk.

Slam

Sasuke mulai masuk ke dalam sementara Sakura berjaga di luar. Tak lama Sasuke keluar dengan hasil nihil. Mereka memeriksa semua bangunan yang kosong. Namun mereka masih tidak menemukan petunjuk apapun.

Klik

"Hey." Sakura berjalan mendekati Sasuke, "Kau menemukan sesuatu?"

Sasuke menggeleng, "Tidak. kita harus berhenti sampai disini."

"Ya.."

Matahari sudah semakin tenggelam. Dan semakin gelap saat mereka sampai ke dalam mobil. Mereka kemudian meninggalkan distrik perumahan tersebut, dan dalam perjalanan mereka ke hotel mereka sepenuhnya diselimuti oleh kegelapan.

"Oh, bintang." Sakura menerawang keluar jendela, "Lihatlah keluar jendela. Sangat indah!"

"..." Sasuke dengan tenang memelankan mobilnya dan mematikan lampu. Dan tanpa lampu tersebut, Sakura semakin jelas melihat bintang yang bertebaran di atas sana.

"Wow.." Sakura membuka kaca mobilnya dan menatap dengan kagum. Selama hidup, ia belum pernah melihat langit berbintang seindah ini.

"Mau melihat keluar?" Sasuke menoleh.

Sakura menoleh dengan perasaan terkejutnya, "Apa kau yakin?"

"Hanya sebentar saja."

"Baiklah kalau begitu."

Sasuke meminggirkan mobilnya dan mereka keluar. Mereka berjalan di tengah gurun. Tidak ada yang lain disana kecuali pasir dan langit berbintang diatas kepala mereka. Untuk beberapa alasan Sakura merasa kesepian, dan dia memberanikan diri untuk mendekat pada Sasuke. "Luar biasa." Kata Sakura. "Banyak sekali bintangnya, aku bahkan tidak sulit untuk menemukan rasinya."

"Benarkah?"

"Aku belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya."

"... Jadi dimana hujan meteornya?" tanya Sasuke.

"Apa...?"

Jadi saat itu dia mendengarkan aku?

"Kita terlalu sibuk, jadi mereka sudah terlewat." Sakura tersenyum sambil menggaruk kepalanya.

"Oh..."

"Tapi akan ada hujan meteor di Jepang bulan depan." Kata Sakura, "Lebih tepatnya hujan meteor Leonid.."

Sesaat setelah itu, sebuah bintang jatuh muncul melintasi langit.

"Oh..." mereka berdua mengulurkan tangannya dan tepat saat itu masing-masing ujung jari mereka bersentuhan.

Sasuke tersentak lalu menarik tangannya.

"M-maaf."

"Tidak apa-apa..." Sasuke menutupi mulutnya dengan tangan, wajahnya kembali memerah, namun karena disana cukup gelap Sakura tidak bisa menyadarinya.

Sasuke biasanya akan menjauh beberapa langkah darinya, namun tidak untuk kali ini. Sasuke terlihat nyaman-nyaman saja berada di dekatnya. Atau mungkin Sasuke sudah mulai sedikit menyukainya? Sakura tersenyum kecil.

"Oh, ada satu lagi." Kata Sakura.

"Apa? Dimana?"

Bintang jatuh lainnya muncul di langit, dan mereka berdiri semakin berdekatan. Namun itu tidak terlihat mengganggu bagi Sasuke berdiri berdekatan seperti ini sambil menatap langit. Dan untuk beberapa alasan Sakura merasa senang.

.

.

.

Beberapa hari kemudian mereka mendapat informasi bahwa Anko telah kembali ke Jepang, jadi mereka memutuskan untuk kembali ke Jepang juga.

"Hey." Sasuke membuka pintu kantor dan disusul Sakura yang berjalan di belakangnya.

"Kami kembali." Kata Sakura.

"Oh, selamat datang." Pain berdiri dari kursinya, "Jadi bagaimana perjalanan kalian?"

"Mengerikan." Timpal Sasuke, "Pelayanan hotelnya sangat buruk. Sprinklenya rusak, dan aku terkena sakit gara-gara itu."

"Itu memalukan." Kata Pain, "Kalian berpura-pura menikah, jadi selama kalian pergi aku membayangkan sesuatu, dan berharap mendengar kabar baru dari kalian."

"Apa kau bodoh?!" Sasuke blushing.

"Aku hanya bercanda." Pain menepuk-nepuk bahu Sasuke, "Semua orang sangat khawatir pada kalian."

"Ya." Itachi menyahut, "Kami khawatir sampai gila membayangkan kalian akan melakukan sebuah perkembangan."

"Tidak ada yang bertanya padamu." dengus Sasuke, "Dan lagi aku bukan anak kecil."

Sasuke berbalik lalu berjalan menuju mejanya. "Kirimkan poto yang kau ambil ke emailku."

"Oh, baiklah." Kata Sakura.

"Kau bisa menggunakan komputerku, Sakura." Kata Pain.

"Terima kasih."

Sakura melepaskan SD card kameranya dan menancapkannya ke komputer Pain. "Bisakah kau memberitahuku alamat emailmu?"

"Hn.. Alamatnya Uchiha... Ahh, terlalu merepotkan." Sasuke bangkit dari kursinya dan mendekati Sakura, Sasuke membungkukkan badannya dan mulai mengetik alamat emailnya. Wajahnya berada sangat dekat dengan Sakura. Dan Sasuke terlihat begitu serius.

"Itu sangat aneh." Di belakang sana Pain berbisik pada Itachi.

"Ya, biasanya dia tidak bisa sedekat itu..." balas Itachi.

"Kau berpikir sesuatu sudah terjadi selama perjalanan mereka?" Pain tersenyum miring.

"Tidak mungkin. Dia tidak akan—"

"Ada apa dengan kalian? Apa yang kalian bisikkan?" Sasuke yang sudah selesai mengetikkan emailnya berbalik.

"Oh, bukan apa-apa. Kami hanya sedang berbicara tentang bagaimana kerasnya kalian bekerja padahal kalian baru saja sampai di rumah."

Pembohong! Aku bisa mendengar semua ucapan mereka...

Sakura menembakkan pandangannya pada kedua pengganggu di belakangnya sampai dia mendengar sebuah email masuk. Email dari Sasuke yang sudah kembali ke mejanya.

Uchiha_Sasukee: "Pekerjaannya selesai sekarang. Jadi cukup baca ini dan tertawalah."

Sakura mengklik link disana dan muncullah sebuah page dengan judul "Goat Lovers Unite." (persatuan pecinta kambing)

"Pfft. Apa-apaan ini.." Sakura menahan tawanya.

Ding

Sebuah email lain kembali masuk.

Uchiha_Sasukee: "Menyenangkan, bukan?"

HarunoSaku: "Aku tidak menyangka banyak orang yang menyukai kambing."

Uchiha_Sasukee: "Tidak cukup banyak menurutku."

HarunoSaku: "Biar kutebak usernamemu adalah Yurike 'kan? Gabungan dari Yuriko dan Sasuke."

"Tidak mungkin!" alih-alih mengirimnya dengan email, Sasuke malah mengucapkannya dengan lantang. Dan sesaat setelah itu Sasuke mengedarkan pandangannya, dan kemudian kembali duduk.

"Pffft." Sakura mendengus berusaha menahan tawanya.

"Baiklah kalian." Pain berkacak pinggang, "Ada apa lagi ini?"

.

.

.

Malam harinya, ketua mengundang seluruh rekannya termasuk Sakura ke bar.

"Jadi, ini untuk sambutan kepulangan Sasuke dan Sakura. Cheers!" Pain mengangkat gelasnya.

"CHEERS!"

Trang

"Jadi aku dengar kau melakukan pekerjaan dengan sukses." Sasori menoleh kearah Sakura.

"Oh, itu bukan hal yang besar." Sakura mengangguk malu.

"Tapi kami telah mendapatkan petunjuk besar dari sana." Imbuh Gaara.

"Itulah mengapa dia seorang profesional." Lanjut Sasori.

"S-sungguh, itu bukan apa-apa.." Sakura mengangguk-angguk malu dengan pujian mereka.

"Mungkin itu hanya karena dia memiliki kamera yang bagus." Sasuke yang duduk di samping Sakura tersenyum miring.

"Huh?"

"Biarkan aku melihatnya." Sasuke meraih kamera yang tergantung di leher Sakura.

"Tidak mau! Kamera ini adalah hidupku. Aku tidak membiarkan orang lain menyentuhnya!" Sakura dengan cepat memeluk kameranya dan memunggungi Sasuke.

"Kau menggunakan semacam trik kamera benarkan?" kata Sasuke. Pria itu masih mencoba meraih kamera Sakura, walaupun sekarang Sasuke lebih terlihat seperti memeluknya dari belakang.

"Tentu saja tidak!"

"Biarkan aku melihatnya."

"Hentikan, Sasuke-kun!"

"...Apa yang sedang terjadi disini?" melihat sesuatu yang sangat ganjil Sasori angkat bicara.

"Apa mereka sudah melewatinya?" ujar Itachi.

"Apa? Garisnya?" Sasori menoleh terkejut.

"Mereka sudah melewati garisnya..." kata Pain.

"Aku tidak pernah berpikir hal ini akan terjadi." Lanjut Gaara.

"Berhentilah bicara bodoh, kalian semua." Sasuke menghentikan kejahilannya dan menatap ketus.

"Y-ya!" susul Sakura.

Sasuke menarik napasnya, "Aku dan Sakura hanya..."

Sakura bahkan semua rekannya menoleh ke arah Sasuke.

"Woa, kalian pasti sangat dekat kalau kau sampai memanggil Sakura dengan namanya." Kata Itachi.

"T-tidak juga." Sasuke kembali blushing.

"Jangan bilang.." Pain menyahut ponsel Sasuke dari tangannya, "Aku tahu itu. Dia sudah mengubahnya."

Pain menunjukkan kontak info Sakura di ponsel Sasuke tertulis 'Sakura' dan bukan 'benda X' lagi.

"Woa, kau luar biasa.." Itachi menyilangkan lengannya, "Bagaimana bisa kau memenangkan Sasuke? Dia benci wanita."

"Aku tidak melakukan apapun." Bantah Sakura.

"Tidak tidak tidak. Kau pasti sudah melakukan SESUATU." Pain menyeringai sambil menekankan kata 'sesuatu'.

"Cukup. Aku hanya tidak ingin memanggilnya benda x, itu saja!" Sasuke berdiri dan menyahut kembali ponselnya.

"Kau sungguh luar biasa. Aku merasa benar-benar kagum padamu." Kata Itachi.

Semua orang mengangguk menyetujui. Meskipun Sakura bingung dengan perubahan tiba-tiba Sasuke. Akan bohong jika dia bilang dia tidak senang.


Tbc


Note: mobil yang dibawa Sasuke saat di Arab adalah sewaan.

Curhat dikit ya, sebenernya author mau kasih Yuriko namaku jadi walaupun berwujud kambing author bisa cipokan sama sasuke /halah/ sekian.

Terima kasih sudah membaca sampai sini mind to RnR? Terima kasih reviewnya juga!