Horaayy~ minna genki?
Tadaima! Sumpah kangen banget jadi author disini…. Gomen ya aku hiatus nya lama(banget) m( _ _ )m *sujud*
Ini semua karna sekolah beserta tugas-tugasnya yang terkutuk hahahaha *plak
Err… aku mau nyoba nerusin fanfic yang sempet berhenti ini. Sekali lagi maaf banget banget banget ya, gatau tah ini fanfic masih ada yang inget ato ngga ato masih ada yang baca ato ngga ato bahkan dilupakan T_T …..*dibekep*
Oke kita langsung ke chap 3 ya… selamat membaca! ^ ^
Disclaimer : Tite Kubo kecuali Gotou Shizuka + Sugimoto+Daisuke yang milik saya :D
Enjoy chap 3!
New Teacher
By
Me :)
Chapter lalu….
"Aku tidak selingkuh! Kau jangan salah paham" kata Gotou-sensei yang melihat pada Ichigo dan suaminya lagi.
"AH! Jangan bohong! Dan kau tahu…" dilihatnya Ichigo yang masih terkejut dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai atas. "Dan jangan bilang kalau dia ini muridmu… jangan bilang kalau kau berselingkuh dengan muridmu sendiri?" kata Sugi lagi sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Maaf Tuan. Kalau Tuan mengira Gotou-sensei selingkuh denganku, kau sudah salah!" kata Ichigo tegas. "Aku disini hanya membantu Gotou-sensei menyelesaikan pekerjaannya sebagai guru dan murid" jelas Ichigo.
"Omong kosong!"
"Sugi! Sugi! Tunggu! Kau salah paham!" seru Gotou-sensei.
"Kalau kau selingkuh, lebih baik kita urungkan niat kita untuk rujuk kembali!" seru Sugi lagi. Mata Gotou-sensei membulat terkejut dengan mulut terbuka. "Tidak. Kau tidak bisa… kau tidak bisa begitu!" balas Gotou-sensei yang sekarang menggelengkan kepalanya mendengar mantan suaminya itu.
"Ya! Aku bisa! Selamat tinggal! Semoga kau bahagia dengan murid selingkuhanmu itu!"
"Kurosaki-kun, maaf kau jadi terlibat. Ibu minta maaf" kata Gotou-sensei lagi. Ichigo hanya mengangguk. "Lalu bagaimana dengan mantan suami ibu? Apa aku harus menjelaskan padanya lagi bahwa ini semua salah paham diantara kita?"
"Kau jangan khawatir, ibu akan bicara lagi pada mantan suami ibu. Dan ibu harap dia akan mengerti" kata Gotou-sensei lagi.
"Aku pulang dulu sensei" kata Ichigo pamit. Gotou-sensei hanya tersenyum dan menghapus air matanya yang entah sejak kapan mengalir sambil melambaikan tangannya pada murid nya itu.
"Ya, aku harap Sugi mau mengerti" gumam Gotou-sensei pada dirinya sendiri. "Aku harap. Demi Hiroshi dan kami semua" tambahnya lagi yang lalu kembali menuju apartemennya.
Chapter 3 : Bimbang
"Ah! Kuso!" umpat Sugi sambil memukul setir. Dia (sangat) kesal dengan kejadian istrinya tadi, oke, mantan istri. Mereka memang masih berpisah, tapi apa gunanya rujuk kembali jika salah satu dari mereka selingkuh. Memang benar Sugimoto masih menaruh harapan rujuk pada mantan istri tercinta nya itu. Ia masih sangat mencintai Gotou Shizuka.
"Aku kecewa padamu Shizuka! Kau bodoh… sangat bodoh.." gumamnya lagi. Sugi kemudian mengeluarkan handphone nya dan menekan tombol panggil.
"Midori-san, bisakah aku titip Hiroshi untuk malam ini ditempatmu? Mendadak aku ada urusan. Iya, besok aku akan menjemputnya sepulang sekolah ditempatmu. Arigatou" ia menutup handphone nya dan segera menaikan kecepatan mobil nya meluncur menuju suatu tempat dimana biasanya ia datang saat sedang frustasi.
BLAM!
"Ah! Onii-chan okaeri! Kami baru mau makan malam, ayo kesini bergabung. Kau belum makan kan?" seru Yuzu ceria melihat Ichigo yang baru pulang.
"Maaf Yuzu aku tidak lapar" jawab Ichigo dingin.
"Apa-apaan kau Ichigo! Berani nya kau bicara begitu pada adikmu dengan nada dingin!" teriak Isshin yang melompat menuju Ichigo namun segera dipukul oleh Ichigo sehingga dia jatuh.
"Otousan! Daijoubu desuka?" Tanya Yuzu sambil menolong ayahnya.
"Aku sedang tidak mood" Ichigo segera menuju kamarnya. Karin hanya menghela nafasnya.
BLAM!
Lagi-lagi Ichigo menutup pintunya dengan keras. Kemudian ia melempar tas nya ke lantai dan duduk di pinggir tempat tidurnya sambil mengusap wajahnya.
"Perlukah menutup pintu sampai sekeras itu?" kata Rukia sambil tetap membaca komik nya. Ichigo hanya diam.
"Tidak bisa ya paling tidak bilang 'tadaima'? Atau bilang 'Hai, apa kabar?' atau—"
"Tidak bisa ya kau diam sebentar saja? Dan terserah aku mau menutup pintu atau mau merusak pintu atau apapun karna ini kamarku." Balas Ichigo ketus. Ichigo berdiri dari tempat tidurnya dan membuka lemari untuk mengambil baju nya.
"Sikap apa itu? Menyebalkan. Kau sedang tidak mood ya?" ichigo masih sibuk mencari baju nya.
"Oi! Kau dengar tidak Ichigo? Ah… apa kau baru saja dicampakkan oleh.. Gotou-sensei?" Gerakan Ichigo langsung terhenti setelah mendengar nama guru nya itu. Rukia mengangkat kedua alisnya. Setelah keheningan yang berakhir 20 detik (Rukia diam-diam menghitung waktu keheningan), Ichigo langsung menarik lengan Rukia turun dari tempat tidurnya.
"Apa sih? Jangan tarik-tarik!"
"Keluar sana. Aku mau tidur"
"Oi Ichigo, kau belum jawab! Chotto… apa tebakan ku benar? Kau dicampakkan Gotou-sensei?" Rukia melebarkan matanya.
"Bisa tidak kau diam? Cepat keluar, aku capek dan ingin tidur!"
"Ichigo, kau benar-benar suka dengan dia? Serius?" Ichigo turun dari tempat tidurnya dan mendorong Rukia yang masih terus bertanya tentang hubungannya dengan Gotou-sensei.
"Oyasumi." Seru Ichigo menutup pintu kamarnya. Sementara dibalik pintu, Rukia memanyunkan mulutnya.
"Rukia-nee" sontak mendengar namanya, Rukia membalikkan badannya.
"Ah, Karin-chan" sapa Rukia tersenyum.
"Kenapa dengan Ichi-nii?"
"Ichigo? Tidak apa-apa kok… memang kenapa?"
"Tadi dia kelihatan aneh. Apa kalian bertengkar?" Rukia menggelengkan kepalanya.
"Tidak kok. Aku yakin Ichigo tidak apa-apa, kau jangan khawatir ne? mungkin dia hanya lelah" kata Rukia.
"Tapi…"
"Sudah tidak apa-apa, daijoubu." Ujar Rukia lagi sambil menuju tangga. Karin hanya terdiam melihat pintu kamar Ichigo yang tertutup.
"Tolong 1 gelas lagi."
"Oi Sugi! Kau sudah minum berapa gelas? Jangan kebanyakan minum. Kato-kun, jangan berikan dia minuman lagi"
"Kato, jangan dengarkan Daisuke. Aku butuh minuman lagi. Hanya 1 gelas saja yang terakhir"
"Sudah berapa kali kau bilang 'terakhir'? Oi Sugi…" Daisuke menghela nafas melihat sahabatnya itu meneguk alcohol yang sudah melewati tenggorokan Sugi.
"Kau bodoh Shizuka… aku juga bodoh mau kembali lagi padamu…." Gumam Sugi setengah sadar. Reaksi alcohol sudah merasuki pikirannya.
"Sugi, mungkin kau salah paham dengan Shizuka-san. Menurutku, dia adalah wanita yang baik. Tidak mungkin dia seperti itu"
"Tahu apa kau tentang Shizu? kau memang pernah jadi pacarnya dulu tapi aku jauh lebih mengenalnya, kau tahu?"
"Justru kau lebih mengenalnya, seharusnya kau lebih tahu dia tidak akan pernah berbuat seperti itu."
"Mungkin saja sekarang kau masih tertarik dengan Shizu, dan sekarang kau senang kalau keputusanku untuk rujuk dengannya batal" Sugi hanya bergumam tidak jelas.
"Dengar Sugi. Kau dan Shizuka adalah teman baik ku. Aku memang pernah mencintai Shizuka, tapi itu masa lalu. Sekarang aku punya keluarga, aku juga tidak suka teman ku bertengkar. Kau tahu, aku senang saat beberapa hari yang lalu kau bilang akan rujuk dengan Shizuka. Tapi—"
"Ah! Sudah cukup! Shizuka! Shizuka! Jangan sebut nama wanita selingkuh itu didepanku!? Aku tidak peduli lagi dengannya!" teriak Sugi. Sugi memegangi kepalnya yang sudah mulai terasa sakit.
"Tenang Sugi… dinginkan kepalamu dulu. Jangan langsung membatalkan rencana rujukmu begitu saja. Cobalah bicara baik-baik dengan Shizuka, ya?" ucap Daisuke sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Aku mau pulang" jawab Sugi. Ia berdiri dari tempat duduknya.
"Sugi, aku akan antar kau pulang ya? Kau tidak bisa menyetir seperti itu"
"Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak usah repot-repot" baru saja bicara begitu, Sugi langsung jatuh karna keseimbangan tubuhnya oleng karna mabuk.
"Biarkan aku mengantarmu, kau butuh tumpangan. Dan kau mabuk berat" dengan itu Sugi membiarkan Daisuke membawanya ke mobil Daisuke.
"Kenapa handphone mu mati? Sugi… kumohon" Shizuka menutup HP nya. Sudah berkali-kali ia menelepon Sugi tapi yang terdengar hanyalah voice mail Sugi saja. Ia sudah lelah menangis sejak kejadian tadi sore. Dan sekarang air matanya mulai kering. Shizuka mengambil figura yang didalamnya terdapat 4 orang yang sedang tersenyum bahagia.
"Mamoru, Hiroshi… maafkan mama…" dipeluknya figura itu sampai ia tertidur di sofa sampai pagi.
"Okaachan! Kau dimana? Okaachan!" terdengar suara seorang anak kecil. Ia berjalan sambil menangis. Kemudian tidak lama ia mendengar suara menyeramkan mendekatinya. Ia terkejut dan berlari. Berlari sampai ia jatuh.
"Kau milikku!" seru nya sambil tertawa jahat.
"Tolong! Tolong aku, kaachan!" seru anak itu menutup matanya dengan lengan sambil menangis.
"Mae.. sode no shirayuki!" hanya dalam waktu 3 detik monster itu membeku dan menghilang dari hadapan anak kecil tadi.
"Kau tidak apa-apa kan?" anak itu masih menutup matanya meskipun Rukia bicara padanya.
"Jangan takut. Monster itu sudah mati.. Hey" ujar Rukia, ia menyentuh lengan anak laki-laki itu tapi kemudian anak itu langsung memeluk Rukia. Rukia terkejut.
"O, oi…" anak itu menangis dipelukan Rukia. Tidak lama setelah itu Rukia hanya memeluk anak itu lagi. "Daijoubu… Kau sudah aman" Ujar Rukia sambil tersenyum.
"Okaachan… aku ingin bertemu okaachan" gumam anak itu cukup keras untuk didengar Rukia. Rukia hanya terdiam.
Matahari sudah terbit dengan terangnya. Sinarnya yang masuk melewati celah-celah gorden apartemennya membuat Shizuka terbangun. Perlahan-lahan Shizuka mulai membuka matanya dan duduk dari sofa.
"Gawat! Aku bisa telat mengajar!" ia tersadar bahwa jam sudah menujuk angka 07.50. shizuka panic dan bersiap-siap ke sekolah.
"Ohayou, Kurosaki-kun!"
"Ohayou" balas Ichigo dengan suara pelan. Inoue heran Ichigo tidak seperti biasanya.
"Ah! Kuchiki-san, ohayou!" seru Inoue melihat Rukia menyusul masuk ke kelas.
"Ohayou, Inoue-san!" jawab Rukia dengan nada ceria yang biasanya ia tunjukkan didepan teman sekelasnya.
"Ne, Kuchiki-san. Ada apa dengan Kurosaki-kun? Apa dia sakit?" bisik Inoue pada Rukia. Rukia melirik kearah Ichigo yang duduk disebelahnya. Dilihatnya Ichigo hanya menutupi wajahnya dibalik kedua lengannya.
"Aku tidak tahu, Inoue" jawab Rukia. Inoue memasang wajah khawatir. Tak lama setelah itu bel berdering. 10 menit setelah bel berdering sama sekali tidak ada tanda-tanda Gotou-sensei datang ke kelas, ia terlambat.
"Ano, minna-san… maaf ibu telat. Tadi ada masalah sedikit di jalan menuju kesini." Gotou-sensei mengeluarkan buku absennya.
"Ayo kita mulai absen sekarang,ne…" katanya sembari membuka buku absennya.
"Kau kenapa Ichigo? Dari tadi muka mu murung terus. Tidak biasa nya" Tanya Mizuiro pada waktu istirahat makan siang di atap.
"Oi Mizuiro-san. Wajah Ichigo memang begitu. Alisnya kan selalu seperti ini" celetuk Keigo. Ia menirukan alis Ichigo yang selalu mengkerut. Biasanya Ichigo memukul Keigo atau melempar sesuatu ke kepala Keigo, tapi ia tidak melakukan apa-apa. Hanya berjalan menuju pintu atap dan menuruni tangga.
"Asano-san, sepertinya kau sudah membuat situasi lebih buruk." Ujar Mizuiro yang melihat Ichigo mulai menuruni tangga.
"B,b,bagaimana ini Mizuiro-san? I,I,ichigo hanya bercanda kan? Iya,kan?" Tanya Keigo panik. Mizuiro hanya menghela nafas dan berjalan ke tempat lain.
"Mizuiro-san! Cho,chotto matte!"
Ichigo duduk dibawah pohon. Sudah 3 kali ia menghela nafas. Ia bingung, merasa bersalah. Ini bukan kesalahan dia sepenuhnya kan? Berkali-kali ia katakan itu dipikirannya namun sama sekali tidak merasa lega sedikit pun.
"Ichigo" pikiran Ichigo dihentikan oleh suara yang memanggilnya. Ia melihat Rukia berjalan dan kemudian duduk disebelahnya. Beberapa saat mereka terdiam.
"Ada apa sebenarnya?" Ichigo tetap diam. "Ichigo—"
"Tidak ada apa-apa. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan"
"Aku tidak khawatir. Aku hanya takut kalau kau tidak konsentrasi untuk pekerjaanmu yang lain. Aku tahu kau sedang ada masalah, terserah kalau kau tidak mau cerita. Tapi jangan terlalu memikirkan masalah sampai berlarut seperti itu. Ingat pekerjaanmu sebagai shinigami."
"Aku tahu. aku tidak lupa kalau aku ini shinigami." Keheningan lagi diantara mereka.
"Ne… kau bisa selalu cerita apapun padaku, kalau kau sudah siap menceritakannya. Aku akan mendengarkanmu kapan pun kau butuh. Yah.. mungkin kau tidak butuh bantuan ku. Tapi tetap aku ini temanmu" Rukia melihat Ichigo sambil tersenyum.
"Kau tidak mengerti, Rukia. "
"Apa maksudmu? Aku memang bukan manusia, tapi aku cukup mengerti perasaan manusia"
"Sudahlah. Terima kasih. Dan kau benar, kau akan selalu jadi temanku" kata Ichigo tersenyum kecil.
"Meskipun aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta" Rukia tertawa kecil. Ichigo mengalihkan wajahnya ke Rukia sejak ia tidak menatapnya daritadi.
"Apa maksudmu jatuh cinta? Kau jatuh… cinta? Dengan siapa?" Rukia tertawa kecil lagi. Ia menggelengkan kepala nya.
"Kau, Ichigo. Bukankah kau yang sedang jatuh cinta?" Ichigo menaikan satu alisnya. "Jangan pura-pura tidak tahu. aku dengar gosipnya dari anak-anak di kelas kalau aku dan Gotou-sensei—"
"Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan Gotou-sensei. Aku dan dia hanya lah sebatas guru dan murid."
"Lalu tadi malam apa? Kau diam saja saat aku Tanya kau dicampakkan olehnya"
"Rukia, aku kira semua yang aku katakan padamu adalah cukup untuk meyakinkanmu kalau aku tidak punya perasaan atau hubungan apapun dengan Gotou-sensei."
"Lalu bagaimana dengan gossip yang satu lagi?" Ichigo bingung dengan pertanyyan Rukia.
"Gosip apa?" Tanya Ichigo.
"Gosip bahwa tadi malam kau selingkuh dengan Gotou-sensei sehingga kau jadi orang ketiga antara Gotou-sensei dan suaminya"
"Dari mana kau dengar gossip itu?" Tanya Ichigo dengan suara pelan.
"Seseorang dari sekolah kita melihat 'kejadian' nya di apartemen yang Gotou-sensei tinggali" Ichigo mengeluarkan suara frustasi. Kejadian kemarin saja sudah membuatnya pusing, sekarang ditambah lagi dengan gossip. Kapan hidupnya akan tenang?
"Ichigo"
"Dengar Rukia, itu tidak benar. Sama sekali. Aku memang pergi ke tempat sensei tapi ada kejadian yang membuat mantan suaminya itu salah paham. Dan jangan kau percaya gossip itu, Gotou-sensei sama sekali bukan orang seperti itu. Kau salah."
"Kenapa kau jadi menyalahkan ku? Aku hanya mendengar gossip, itu saja. Dan aku memang tidak tahu apa-apa tentang Gotou-sensei. Aku juga tidak peduli dengan siapa kau bergaul. Kau mau berpacaran dengannya pun terserah" Ichigo menatap Rukia dengan kaget.
"Rukia, kenapa kau bilang begitu? Kau tahu aku sudah bilang aku tidak ada hubungan apa-apa—"
"Sudah cukup. Aku ke kelas" Rukia segera berdiri dan lari menuju kelas. Ichigo menatap Rukia yang sudah agak jauh dari letak dimana dia dan Rukia tadi duduk.
"Kenapa dia? Ck." Ichigo berdiri dan membuang jus buah yang tadi diminumnya ke tempat sampah terdekat dengan kesal. Ichigo kemudian kembali ke kelas. Tapi pada saat dia melewati ruang guru, seseorang memanggilnya.
"Kurosaki-kun" Ichigo menoleh untuk melihat orang yang memanggilnya. Gotou-sensei tersenyum pada Ichigo.
"Bisa mengganggu sebentar?" Ichigo mengangguk dan mengikuti Gotou-sensei ke meja kerja nya.
"Maaf ya merepotkanmu. Jangan lupa bagikan buku ini juga ya" Ichigo hanya mengangguk sementara Gotou-sensei tersenyum. Bukannya ke kelas, Ichigo hanya terdiam di tempatnya berdiri. Senyum Gotou-sensei hilang.
"Ada apa, Kurosaki-kun?" Tanya Gotou-sensei lembut.
"Anou, sensei… tentang kemarin.. Aku minta maaf." Gotou-sensei langsung mengetahui arah pembicaraan Ichigo.
"Kau tidak usah khawatir. Itu bukan salahmu, jangan dipikirkan ya." Ichigo mengangguk lagi.
"Ibu juga minta maaf, karna kau jadi terlibat dengan masalah ini. Dan ibu juga tahu, di kelas sudah banyak yang mungkin juga salah paham. Maaf ya, Kurosaki-kun" Ichigo menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak peduli dengan gossip itu. Aku hanya merasa tidak enak karna mantan suami sensei salah paham. Atau biar aku saja yang menjelaskan semua padanya, kau bisa memberi aku alamat dia tinggal kan sensei?" gotou-sensei hanya menggelengkan kepalanya.
"Percuma. Dia tidak akan mendengarkanmu, Kurosaki-kun. Tadi malam pun handphone nya tidak aktif. Biar nanti saja aku bicara padanya. Kau jangan khawatir ya," Ichigo mengangguk pelan.
Tidak bisa. Bagaimana pun ia tidak bisa membiarkan salah paham ini berlarut-larut. Entah kenapa ia peduli dengan masalah yang bukan miliknya, kecuali ia memang merasa ia terlibat didalamnya. Dan masalah ini memang terlibat dengannya. Dia tidak mau lari dari masalah ini. Tidak bisa. Apalagi masalah ini ada pada orang yang dia lihat sebagai sosok yang penting untuknya sampai sekarang. Sosok yang menghilang dari hidup nya. Namun dia telah melihatnya lagi didalam diri orang lain.
"Aku harus bicara dengan laki-laki itu. Tapi dimana aku harus mencari nya?" Ichigo berpikir keras. Pikirannya langsung terhenti begitu ia mendengar suara yang ia kenal pada saat melewati taman.
"Kau tidak ingat dimana ibumu tinggal?" anak itu hanya menggeleng. Rukia menghela napas. "Bagaimana aku bisa membawamu untuk bertemu ibumu kalau begitu? Sulit juga ya…"
"Rukia." Rukia melihat Ichigo berjalan mendekatinya. "Sedang apa kau disini?" ichigo langsung melihat seorang anak yang berdiri dibelakang Rukia dengan wajah yang ketakutan.
"Siapa anak ini?" Tanya Ichigo. Alis nya mengangkat sebelah.
"Dia—" HOLLOW! HOLLOW! HOLLOW! Ichigo dan Rukia langsung mengangguk bersama. Ichigo dan Rukia segera berubah menjadi shinigami.
"Hollow nya disana!" seru Ichigo. Hollow itu mendekati mereka. Mereka sudah tahu siapa yang jadi incaran hollow itu.
"Kau jangan kemana-mana. Tetap sembunyi dibalik pohon ini ya" kata Rukia. Anak kecil itu mengangguk sambil menunjukkan wajah yang terlihat ingin menangis. Rukia tersenyum.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja."
"Rukia! Ikuzo!" Rukia segera menghampiri Ichigo yang mulai menyerang hollow yang mendekati mereka. Ada 2 hollow, dan mereka cukup besar. Namun hanya selang beberapa menit saja hollow itu menghilang karna ditusuk oleh zanpakuto mereka.
"Apa yang kau lakukan?" Rukia menatap Ichigo yang tiba-tiba bicara.
"Nani?" Tanya Rukia polos.
"Kenapa kau tidak meng-konsoh anak itu?" Rukia sekarang mengerti apa yang Ichigo maksud. "Kau tahu kan apa akibatnya? Hollow itu akan memakan roh anak itu. Cepat atau lambat."
"Aku tahu." kata Rukia singkat.
"Lalu kenapa?"
"Ada yang dia ingin lakukan sebelum dia ku konsoh. Dia ingin bertemu dengan seseorang sebelum di konsoh"
"Kalau begitu pertemukan saja dia dengan orang itu. Mudah kan? Lalu masalahnya selesai"
"Tidak semudah itu Ichigo. Sudah kucoba tanya padanya dimana ibu nya tapi dia tidak tahu" Ichigo langsung menata Rukia.
"Ibu?" Rukia mengangguk. Perlahan Rukia mulai mendekati anak itu.
"Hei… kau tidak usah sembunyi lagi. Monster itu sudah menghilang" ujar Rukia. Anak itu perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiannya dibalik pohon. Dia langsung memeluk Rukia.
"Sepertinya ia meninggal sebelum ia mengatakan sesuatu pada ibunya. Makanya roh nya masih tidak tenang. Ia juga masih kecil jadi tidak ingat dimana rumah yang ibu nya tinggali sekarang." Jelas Rukia. Ichigo hanya terdiam.
"Ichigo. Apa kau mau membantu nya juga?" Tanya Rukia. Ichigo hanya terdiam. Kemudian ia berjongkok dan melihat anak yang sekarang sudah melepaskan pelukannya dari Rukia.
"Ceritakan bagaimana ciri-ciri ibumu."
"Hiroshi, bereskan mainan mu kalau sudah selesai ya" Hiroshi mengangguk sambil tersenyum.
"Anak pintar. Itu baru anak ayah…" katanya sambil mengelus kepala Hiroshi.
"Ayah. Kapan aku bertemu mama lagi? Aku sudah rindu padanya," senyum nya langsung hilang setelah mendengar pertanyaan anak bungsunya itu.
"Mama sedang sibuk, Hiro. Dia mungkin tidak bisa bertemu dengan mu untuk beberapa hari."
"Sampai kapan?"
"Entahlah. Kau tidak usah pikirkan." Katanya sambil melanjutkan mengelus rambut halus Hiroshi.
"Boleh aku meneleponnya? Aku ingin mendengar suara nya sebentar saja," kata Hiroshi lagi dengan suara memelas. Ayahnya hanya menggeleng.
"Kau bisa mengganggunya. Nanti kalau mama marah bagaimana? Kau tidak ingin membuat mama marah kan?" katanya lagi. Hiroshi hanya menggeleng dan memanyunkan mulutnya.
"Sudah. Sekarang kau taruh mainan mu di kamar, lalu setelah itu kau mandi." Hiroshi mengangguk dan mematuhi apa yang dikatakan ayahnya. Tiba-tiba bel berbunyi.
"Tunggu sebentar!" serunya sambil menuju pintu dan membuka kunci. Dia terkejut melihat siapa yang dating dan berniat menutup pintu, tapi kemudian ditahan.
"Sugi! Kumohon jangan tutup pintu nya. Aku ingin menjelaskan soal kemarin, kumohon…"
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan, Shizuka." Sugi berniat menutup pintu lagi namun Shizuka tetap menahannya.
"Kumohon… paling tidak izinkan aku bertemu Hiroshi. Sebentar saja, Sugi…"
"Mulai sekarang Hiroshi hanya akan mempunyai satu orang tua. Dia tidak lagi membutuhkan ibu sepertimu yang tukang selingkuh dengan muridnya"
"Tidak. Kau tidak bisa memutuskan seperti itu soal Hiroshi!"
"Aku memang tidak bisa, tapi pengadilan bisa. Kau tinggal tunggu persetujuan hak asuhnya dan menandatangani hak asuh itu sebagai tanda persetujuan"
"Tidak akan pernah! Aku tidak mau kehilangan anak lagi, kau tidak bisa seperti ini! Tidak bisa kah kita hanya berbicara baik-baik?"
"Tadi aku memang ingin bicara baik-baik, tapi kau malah mengacaukan mood ku dengan perselingkuhanmu!"
"Kau konyol! Aku tidak pernah berselingkuh! Apalagi dengan murid ku sendiri!"
"Aku tidak peduli!" Sugi langsung menutup pintunya dan menguncinya, ia tidak peduli dengan seruan Shizuka yang meminta ia untuk membuka pintunya dan bertemu dengan Hiroshi. "Pergilah!" serunya dari balik pintu.
"Sugi! Kumohon Sugi… lusa ulang tahun Hiroshi. Mana mungkin aku tidak bertemu dengannya. Sugi!" shizuka hanya menangis karna mantan suaminya baru saja menghancurkan hati nya berkeping-keping. Ia tidak mau kehilangan lagi anaknya.
"Shizuka!" seru seseorang menghampiri Shizuka yang masih menangis di lututnya.
"Kenapa kau disini?" Tanya nya lagi namun dibalas dengan tangisan Shizuka. "Kita bicara di tempat lain saja ya" kata laki-laki itu sambil membantu Shizuka berdiri. Mereka pun pergi ke tempat lain.
"Tadi itu siapa, ayah? Sepertinya ada keributan." Sugi melihat Hiroshi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ah tadi… bukan siapa-siapa. Hanya salesman saja yang memaksa barangnya agar dibeli." Ujar Sugi tertawa gugup. Hiroshi hanya mengangguk-angguk.
"Jadi begitu… Sugi salah paham karna kau tidak sengaja melihat kau dan murid mu di apartemen mu." Shizuka hanya mengangguk kecil. "Dia memang begitu dari dulu. Selalu emosian, tapi sebenarnya dia orang yang baik dan tidak suka pengkhianatan."
"Dia tidak mengijinkan ku untuk menjelaskan semuanya. Bahkan melarangku untuk bertemu Hiroshi. Aku juga ibu nya, dia tidak berhak memisahkan aku dan Hiroshi,"
"Kau benar. Aku mengerti. Kalau aku boleh memberi saran, lebih baik kau biarkan dulu dia tenang. Setelah dia tenang, kalian bicarakan ini baik-baik. Aku yakin dia akan mengerti." Shizuka masih tetap diam, namun perasaan nya sudah lebih tenang.
"Daijoubu. Shizuka yang kukenal selalu tegar dan kuat. Kau tidak pantas menangis. Aku yakin kau dan Sugi akan kembali bersama seperti keluarga yang dulu"
"Arigatou, Daisuke-kun. Kau sudah menjadi teman yang baik untukku dan Sugi. Tapi aku takut masalah ini belum selesai sebelum ulang tahun Hiroshi besok lusa."
"Kau tenang saja. Kalau ia masih saja belum tenang, biar aku yang mencoba bicara padanya agar ia mau bicarakan ini denganmu. Aku memang tidak berhak ikut campur. Tapi aku juga benci kalau kedua teman baikku bertengkar."
"Sekali lagi, aku berterima kasih, Daisuke-kun." Kata Shizuka tersenyum pada sahabatnya itu.
"Tidak masalah. Baiklah, aku harus pergi. Aku takut Keiko khawatir dirumah," Shizuka mengangguk.
"Sampaikan salamku pada Keiko-san dan Mirai-chan,ne.."
"Pasti. Ah, kau mau kuantar pulang?" Shizuka menggeleng.
"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri, ini juga belum larut. Arigatou"
"Kalau begitu aku pulang duluan ya, jaa na," Shizuka melambaikan tangan nya sampai Daisuke masuk ke mobilnya dan menjauh dari tempat Shizuka berdiri.
"Bagaimana bisa ia tidak ingat ibu nya?" Tanya Ichigo pelan, ia berbaring ditempat tidurnya sambil menatap langit-langit, sedangkan Rukia duduk di meja belajar Ichigo sambil membaca komik.
"Itu bisa saja terjadi. Saat ia meninggal, pikirannya terhenti mendadak. Makanya ingatannya setelah menjadi roh terhapus sedikit. Biasanya yang dia ingat hanyalah hal terakhir yang ia ingin lakukan sebelum meninggal, bahkan namanya pun ia tidak ingat. Yang ia ingat hanyalah keinginannya untuk bertemu ibunya." Jelas Rukia.
"Lalu bagaimana kita temukan ibu nya?" Tanya Ichigo yang sekarang duduk.
"Aku tidak tahu." keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Entah kenapa aku merasa familiar dengannya. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat." Rukia menyimpan komiknya di meja. Ia kemudian membuka pintu kamar Ichigo.
"Oi Rukia, kau mau kemana?" Tanya Ichigo.
"Aku khawatir dengan anak itu. Aku mau ke taman menemuinya." Ichigo masih terdiam saat Rukia keluar dari kamarnya.
"Oi Rukia! Aku ikut denganmu!" seru Ichigo.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di taman. Rukia mencari-cari roh anak itu, ia ingin memanggilnya namun bingung karna tidak tahu namanya. Tapi kemudian anak itu muncul.
"Kakak!" seru anak itu berlari menuju Rukia. Dan seperti biasanya ia memeluk Rukia.
"Dari mana kau? Jangan pergi jauh-jauh, bagaimana kalau kau ditemukan oleh hollow?" kata Rukia khawatir layaknya seorang ibu.
"Sekarang kau sudah seperti ibu nya saja, Rukia" Ichigo tertawa kecil. Anak itu hanya bilang 'maaf' sambil tertunduk.
"Tidak apa-apa kalau kau mau main tapi, keadaanmu sekarang sedang sulit. Jangan pergi lagi ya." Anak itu tersenyum dan mengangguk. Sesaat mereka terdiam, tiba-tiba…
HOLLOW! HOLLOW! HOLLOW!
"Mereka datang." Kata Rukia melihat ponselnya dan mendeteksi 3 hollow. "Jumlah mereka ada 3, Ichigo. Bersiaplah." Kata Rukia yang saat itu mengeluarkan permen Chappy nya untuk berubah jadi shinigami. Ichigo mengangguk dan berubah jadi shinigami. Seketika Chappy keluar dan di dalam tubuh Rukia.
"Chappy. Tolong jaga anak ini," perintah Rukia.
"Siap, Rukia-sama!" seru Chappy semangat. Chappy langsung membawa anak itu ke tempat yang aman, cukup jauh dari jangkauan hollow yang sedang datang mendekati Ichigo dan Rukia.
"Mae.. sode no shirayuki," zanpakutou Rukia seketika mengeluarkan es yang mengitari hollow. Tapi hollow itu malah melepaskan serangannya dan mengahancurkan bongkahan es Rukia tanpa terluka sedikit pun. Rukia terkejut. Ia sekali lagi menyerang hollow itu dengan kekuatannya, namun tidak berhasil. Rukia malah terpental ke pohon.
"Rukia!" seru Ichigo yang sibuk melawan 2 hollow. 2 hollow berhasil ia kalahkan, namun hollow yang Rukia lawan bukan hollow biasa. Cukup kuat untuk seukuran hollow yang biasanya mereka kalahkan.
"Rukia! Kau tidak apa-apa?" Tanya Ichigo menghampiri Rukia. Rukia mengangguk. Hollow itu mengaum dan melihat roh anak itu berlari dengan Chappy, kemudian ia mencoba mengejar Chappy.
"Ichigo, cepat kejar hollow itu. Ia pasti mau mengejar Chappy dan anak itu."
"Tapi kau…"
"Aku akan menyusul dibelakangmu. Ayo cepatlah," kata Rukia. Ichigo mengangguk. Ia segera melesat mengejar hollow itu dengan shunpou. Sementara itu Chappy lari dengan menggendong anak itu. Ia berhenti didekat lapangan bola. Napasnya tersengal-sengal karna lelah berlari.
"Gawat! Hollow itu mengejar kita dibelakang!?" chappy celingukan, ia bingung harus bersembunyi dimana karna sudah tidak kuat berlari.
"Dengar, kau lari duluan kesana. Sembunyilah disana, biar aku yang menghadapi hollow ini ya" anak itu mengangguk dan berlari menuju semak-semak yang ada disekitar lapangan sepak bola. Chappy mulai meragukan kata-katanya sendiri, bagaimana bisa ia menghadapi hollow ini sendiri. Ia semakin bingung hollow itu semakin dekat. Hollow itu melihat anak itu berlari dan mengejarnya lebih cepat.
"Chotto matte! Lawan aku dulu sebelum-waaa~~" hollow itu mendorong Chappy sehingga Chappy jatuh terguling-guling ke lapangan bola. Hollow berhasil menyusul anak laki-laki itu.
"Kumakan kau," kata hollow itu sambil tertawa jahat. Anak itu berlari namun tersandung batu dan jatuh.
"Okaachan…" katanya sambil menangis. Sementara itu Ichigo dari belakang melihat anak itu dihadang oleh hollow. Ichigo segera mengayunkan zangetsu.
"Heaaah!" hollow itu menghindar pada awalnya. Namun Ichigo tidak mau kalah, ia mengayunkan lagi zanpakutou nya ke arah hollow itu dan berhasil mengalahkannya. Tak lama kemudian Rukia berlari ke arah anak itu.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rukia khawatir. Anak itu mengeluarkan air mata dan menunjuk lengannya yang tergores saat jatuh. Rukia melihat tangan anak itu dan menyembuhkannya dengan kekuatannya sampai luka nya menghilang.
"Arigatou…" kata anak itu pelan.
"Ada lagi yang terluka?" Tanya Rukia. Anak itu menggeleng kemudian menundukkan kepalanya, terlihat sedih. Saat itu Ichigo mendekati Rukia dan anak tadi.
"Doushita no?" Tanya Ichigo.
"Aku ingat. Saat aku terluka dulu, okaachan selalu mencium luka ku sampai aku merasa lebih baik." Katanya sambil tersenyum. Rukia dan Ichigo saling bertatapan. Tiba-tiba Rukia berdiri dari tempatnya berjongkok tadi dan berjalan sedikit agak jauh.
"Ichigo," ucap Rukia. Ichigo melihat Rukia. "Kemari sebentar" Ichigo mendekati Rukia.
"Rukia, anak itu sudah mulai mengingat ibu nya. Lebih baik kita—"
"Aku akan mengkonsoh nya,"
"Eh?" ichigo terkejut mendengar ucapan Rukia. "Apa maksudmu? Bukankah kita belum menemukan ibu nya? Mereka belum bertemu kan?" Tanya Ichigo. Rukia hanya terdiam.
"Semakin lama dia bertahan menjadi roh, dia akan menjadi target para hollow lain. Ini tidak baik. Bagaimana kalau dia dimakan oleh hollow itu? Itu akan lebih menyakitkan untuknya." Mereka hanya terdiam.
"Karna itu aku tidak bisa menunggu lebih lama dia untuk mengingat atau mempertemukan dia dengan ibu nya. Ini hanya jalan terbaik untuk nya, Ichigo." Rukia mulai berjalan kembali ke arah anak itu tapi terdiam saat mendengar Ichigo.
"Aku tidak setuju," Rukia menatap Ichigo. "Tunggulah sebentar lagi. Sampai ia bertemu ibu nya."
"Ichigo, kau tidak mengerti ya? Tempat ini tidak aman. Tidak. Tidak ada tempat yang aman, para hollow akan segera tahu dimana tempat anak ini bersembunyi. Ini bahaya Ichigo. Apa kau tidak kasihan padanya?" Ichigo menghela napas. Kemudian tiba-tiba dia ingat.
"Kenapa kita tidak titipkan dia di tempat Urahara-san? Aku yakin dia akan aman disana"
"Sejak awal pun aku sudah berpikir begitu, tapi Urahara-san tidak ada dirumah sampai minggu depan. Dia sedang berlibur." Mereka terdiam lagi. "Aku akan tetap mengkonsoh nya" Ichigo memegang lengan Rukia.
"Aku tidak bisa membiarkanmu. Anak itu berhak bertemu ibunya. Dia tidak akan beristirahat dengan tenag kan meskipun kau mengkonsoh nya."
"Setidaknya dia aman dan selamat Ichigo."
"Anak itu akan menyesal Rukia."
"Kenapa kau selalu keras kepala? Tidak bisakah sekali saja kau dengar apa kataku, Ichigo?" kata Rukia dengan nada kesal. "Sekarang lepaskan tangan ku. Aku akan tetap mengkonsoh nya. Terserah kau tidak setuju atau tidak"
"Aku akan lepaskan kau, asal anak itu dipertemukan dulu dengan ibu nya," kata Ichigo tidak mau kalah.
"Kau keras kepala! Sampai berapa lama dia bisa bertahan? Mengingat ibu nya saja tidak tahu! bukankah awalnya juga kau yang menyuruh aku mengkonsoh nya? lepaskan!" seru Rukia. Ia berusaha melepaskan genggaman Ichigo di lengannya.
"Ichigo!"
"Kau tidak mengerti rasanya tidak bisa bertemu ibu!" Tiba-tiba Rukia terdiam. Anak itu akhirnya melihat Ichigo dan Rukia yang masih berseteru.
"Kau tidak mengerti. Dia berusaha bertahan sejauh ini demi bertemu ibu nya. Meskipun tidak mengingat kehidupannya yang dulu, dia tetap masih berusaha mengingat bagaimana rupa ibu nya, bagaimana perlakuan ibu nya, dia ingin bertemu dengannya. Dia berusaha Rukia, kau tahu itu!" Rukia masih terdiam.
"Aku mengerti, Ichigo. Dia memang berusaha, aku melihatnya. Aku merasakannya. Tapi aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya terus menerus. Kau lihat—"
"Kau bilang mengerti tapi kau sebenarnya tidak mengerti!" seru Ichigo lagi.
"Aku mengerti Ichigo!" seru Rukia tidak mau kalah.
"Kau tidak mengerti karna kau tidak pernah merasakannya! Kau tidak bisa kan?!" Rukia terkejut mendengar kata-kata Ichigo. Tiba-tiba Ichigo menyadari kata-kata nya. Ia melepaskan tangan Rukia pelan-pelan.
"Rukia… aku tidak bermaksud—"
"Kau benar. Aku tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan seorang anak yang kehilangan ibu nya. Karna aku tidak pernah mempunyai seorang ibu" Mereka terdiam lagi.
"Kumohon Rukia… aku—"
"Terserah kau saja, Ichigo. Kalau menurutmu itu jalan terbaik untuk anak itu. Kuserahkan padamu." Rukia melihat anak itu sebelum ia pergi meninggalkan mereka Ichigo dan anak laki-laki itu.
"Rukia-sama! Kau tidak apa-apa?" Tanya Chappy. Saat Ichigo hendak mengejar Rukia…
"Kakak!" Ichigo menoleh pada suara yang memanggilnya. Ia hampir lupa anak itu. Ichigo lalu menghampirinya.
"Kau tenang saja, aku akan membantumu mencari ibu mu" kata Ichigo tersenyum kecil. Anak itu mengangguk sambil tersenyum.
END
Oke bercanda, heheheheh :p *plak*
Jadi itu dia fanfic NT chapter 3. Lumayan panjang juga dari chapter yang lalu. tapi maaf ya fanfic ini belum tamat… aku bakal coba lagi bikin lanjutan dari ff ini.
Makasih yang udah mau review, komen, yang mau baca juga. Makasih makasih makasih banget…dan maaf banget ya sekali lagi saya kelamaan hiatus nya.
Mulai selasa aku masuk kuliah tahun pertama, jadi mohon do'a ya huhuhu. Oke kita sudahi curhat yang ga penting ini. Sampai jumpa lagi minna di chap selanjutnya ^_^
Bagi yang ga tau artinya :
Doushita no: ada apa?
Daijoubu(desuka?): tidak apa-apa(kan?)
Chotto matte: tunggu sebentar
Anou: um…/anu…/itu….
jaa!
