A Promise by Kusanagi Mikan
Vocaloid by Yamaha and Crypton FM
Warning : GaJe, typo, abal, de-el-el
Chapter 3
- Normal PoV -
Wajah Len memucat saat gerombolan Tei berkenalan dengan Rin dan Lily. Mereka memang tersenyum manis. Tapi itu senyum palsu. Len tahu itu. Maksudku, Tei, Haku, Mayu, dan Kiku adalah gadis-gadis psycho di sekolah mereka. Tepatnya, mereka cukup sadis dan 'berbeda'. Kadang mereka bisa bersikap manis di depan orang, namun di belakangnya sungguh mengerikan.
"Jadi namamu Mikagane Rin, ya?" Kiku memastikan.
Rin mengangguk. "Iya!"
Kiku tersenyum manis. "Kami akan menjadi 'temanmu', Rin."
"Tentu saja! Aku yakin!"
"Memangnya... Hal apa yang membuatmu yakin kami akan menjadi temanmu?" tanya Mayu misterius.
"Eh?" Rin melongo. "Kiku kan tadi bilang, kalian akan menjadi temanku!"
Yang ada di pikiran semua orang saat itu adalah, Rin terlalu polos. Mayu tampak agak terkejut mendengar jawaban Rin yang terlalu polos. Tapi kemudian ia tersenyum.
"Lalu... Apa Rin-chan punya hubungan dengan Kagamine-san?" tanya Mayu.
Semua terdiam mendengar pertanyaan Mayu. Terutama Rin dan Len. Hampir semua memasang wajah tegang. Kecuali, yah Lily. Wajahnya masih datar. Sama sekali tidak tertarik dengan pertanyaan Mayu.
"Tentu!" jawab Rin. "Kami adalah teman!"
Oke, jawaban Rin kelewat polos. Yah... Enggak polos-polos banget, sih. Lagian Rin benar kan, bilang hubungannya dengan Len itu teman? Tapi 'hubungan' yang Mayu maksud di sini adalah... JRENG JRENG JRENG! *Mikan digaplok* Iya, hubungan yang Mayu maksud adalah pacaran atau semacem itu.
"Oh... Teman, ya..." Mayu mengangguk-angguk.
KRIIIIINGG! Bel masuk berbunyi keras. Setiap anak langsung duduk di tempat masing-masing. Rin, tentu ia sebangku dengan Len. Kalau Lily, duduk di depan Rin dan Len. Kebetulan, pemilik tempatnya enggak masuk. Jadi Lily bisa duduk di situ sembari ngawasin Rin.
Seorang guru masuk dengan mendobrak pintu kelas. Hal yang sudah biasa bagi anak kelas 3-1. Mereka sudah hapal siapa guru yang mendobrak pintu. Guru itu adalah Yuki-sensei (Readers : WTF?! Yuki jadi guru?!. Mikan : Lagian Mikan bosen gurunya itu-itu aja -3- Mikan pengen bikin guru baru! Nggak apa-apa, kan? *megang kapak*. Readers : I-Iya *merinding*)
"Ohayou!" sapa Yuki-sensei dengan riangnya (disini Yuki rambutnya panjang, tapi masih dikuncir 2)
"Ohayou, sensei!" balas murid kelas 3-1 malas-malasan.
Yuki-sensei tersenyum. Matanya memandang seisi kelas, hingga menangkap dua makhluk (Mikan digampar) maksudnya 2 gadis yang belum di kenalnya.
Yuki-sensei berjalan mendekati Rin dan Lily, lalu menyapanya ramah.
"Permisi, Nona. Kalian murid baru di sini? Sepertinya aku belum di beritahu..."
"Namaku Lily, dan ini Mikagane Rin. Kami hanya sehari berada di sekolah ini. Kakak Rin sudah memberitahunya ke Kepala Sekolah. Apa anda belum mendapat pemberitahuan?" jawab Lily dingin.
Yuki-sensei yang mendengarnya agak terkejut mendengar jawaban dingin dari Lily. Dan terkesan jutek. Tapi kemudian ia kembali tersenyum.
"Maaf. Kepala Sekolah memang belum memberitahu saya. Lily-san dan Rin-san, kalian bisa mengikuti pelajaran hari ini seperti murid lain. Jika ada kesulitan, silahkan di tanyakan," kata Yuki-sensei.
"Baik, sensei!" jawab Rin sambil tersenyum manis.
Yuki-sensei terpana sebentar melihat senyum Rin yang manis. Sangat bertolak belakang dengan Lily. Ia nyaris tidak pernah tersenyum. Kalau tersenyum pun, hanya senyum paksaan atau senyum dingin. Berbeda dengan Rin yang selalu tersenyum.
"Belajar yang baik, ya," Yuki-sensei tersenyum, kemudian kembali ke depan kelas dan mulai mengajar.
- Len PoV -
Sepanjang pelajaran, aku nyaris tidak bisa berkonsentrasi. Bagaimana bisa berkonsentrasi, coba? Dia, Rin, ada di sebelahku. Mendengar celotehan Yuki-sensei yang aku yakin tak dia mengerti, dengan memasang senyum manis di wajahnya.
Dan berkali-kali... Banyak anak lelaki menoleh ke arah Rin dengan wajah memerah! Siapa yang bisa konsentrasi kalau hampir tiap detik selalu di tengoki?
"Ehem!" Yuki-sensei berdehem cukup keras. "Bisakah berhenti menengok ke arah Rin-san?"
Huh! Rasakan itu!
"Iya, Sensei..." jawab anak-anak laki-laki dengan lesu.
Bagus! Makanya jangan lihat-lihat Rin terus! Ehh... Jangan bilang aku cemburu, ya! Aku merasa risih karena banyak yang menengok ke arah Rin - dan otomatis ke arahku juga. Yah, walau aku biasa di perhatikan fangirl-fangirlku, tapi bukan oleh cowok!
Pelajaran berakhir ketika bel istirahat berbunyi. Yuki-sensei cepat keluar kelas dengan membawa tas miliknya. Aku menengok ke arah Rin. Wajahnya... Pucat? Lengannya juga penuh dengan lebam. Eh, lebam?
"Rin," panggilku pelan.
Rin tersadar, kemudian menoleh. "Iya? Ada apa, Len?" tanya Rin, ceria seperti biasa. Namun menurutku kali ini agak di paksakan.
"Kenapa... Lenganmu penuh dengan lebam?" tanyaku heran. Aku baru menyadarinya sekarang, karena kemarin dia memakai gaun lengan panjang.
"Lebam? Err... Ini cuma terkena benturan saja kok, Len. Hehe..." jawab Rin terkesan di paksakan. Aku tahu dia berbohong.
"Bohong."
"Aku be- Ukh!" Rin menutup mulutnya. Darah mengalir dari sela-sela jari tangannya.
"Rin!" pekikku kaget.
Lily menengok ke arah Rin. Ia tampak sangat panik. Cepat-cepat Lily membopong Rin keluar. Mungkin ke toilet.
"Rin kenapa, ya?" tanya Miki khawatir.
Piko dan Miki menghampiri mejaku, aku masih terpaku. Aku belum pernah melihat orang muntah darah - atau batuk darah sebelumnya.
Tanpa sadar, aku bangkit dan berlari menyusul Rin dan Lily. Piko dan Miki hanya bercengo ria melihat tingkahku.
"Rin!" seruku di depan pintu toilet wanita. Err... Jangan bilang aku mesum, ya! Aku melakukan ini untuk melihat keadaan Rin, kok!
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara muntah, air mengalir, dan tepukan-tepukan.
"Rin? Lily?"
"Tunggulah sebentar," jawab Lily dingin.
Aku menurut dan menunggu. Tak lama, Rin dan Lily keluar. Lily menggendong Rin di punggungnya. Wajah Rin tampak pucat, dan lemas.
"Rin, bagaimana keadaanmu? Tadi kamu kenapa?" tanyaku cemas.
"Aku tidak apa-apa, Len..." jawab Rin lemas.
"Bohong! Kau lemas begitu! Dan tadi kau muntah darah, kan!"
Rin terdiam. Mata aquamarine-nya tampak sedih.
"Rin, kau mau sekolah lagi atau pulang?" tanya Lily pada Rin.
"Aku mau sekolah saja! Aku ingin sekolah sampai pulang nanti!" jawab Rin.
"Tapi, kau tidak kelelahan?"
"Rin pulang saja," kataku. "Pulangnya masih lama, lho. Nanti Rin kelelahan."
"Nggak!" Rin menggeleng. "Aku masih kuat! Aku mau sekolah! Hanya untuk... Satu hari ini saja," lanjut Rin lirih.
Aku dan Lily yang melihatnya menjadi tidak tega. Walau aku heran, memangnya dia belum pernah sekolah? Tapi baiklah. Aku dan Lily menuruti permintaannya untuk tetap sekolah pada hari ini saja.
~ Istirahat kedua *sekali lagi, Mikan males nulis *digampar* ~
Normal PoV -
"Istirahat kedua, ya," gumam Rin.
Saat itu, Len tidak ada di kelas. Alasannya? Ikutan rapat OSIS. Len memang anggota OSIS. Jadinya sering ikut rapat di tengah pelajaran.
Lily juga nggak ada di kelas. Dia ke kantor Kepala Sekolah. Biasalah, jawab pertanyaan ini itu dari kepala sekolah. Jadi, Rin sendirian di istirahat kedua ini.
"Rin, ke kantin, yuk!" ajak Miki.
"Ayo!" Rin menyetujui sembari tersenyum manis.
"Tunggu dulu!" bentak Tei.
"Eh? Tei-chan, ya? Ada apa?" tanya Rin ramah.
"Sini ikut!" Tei menarik paksa Rin dengan kasar. Rin terpaksa menuruti Tei. Karena ia tidak kuat melawan tenaga Tei yang tergolong besar.
Miki menahan Tei. "Kau mau bawa kemana Rin, Tei?! Jangan kasar, dong!"
"Berisik! Kiku, singkirin dia!" perintah Tei.
Kiku menarik Miki dari Tei. Kemudian ia mendorong Miki ke tembok.
"Akh!" pekik Miki ketika kepalanya terbentur tembok cukup keras. "Sakit..." keluhnya sambil memegangi kepalanya.
Kiku menatap Miki sinis. Kemudian berjalan meninggalkan Miki, mengikuti Tei.
"Rin..." gumam Miki lirih, sebelum ia terjatuh pingsan. Sendirian. Karena tidak ada orang lain selain Miki di kelas 3-1.
Gudang
Tei mendorong Rin hingga gadis itu terjatuh. Terdengar bunyi keras ketika kulit Rin bersentuhan dengan lantai gudang yang kotor.
"Tei-chan?" tanya Rin lemas. Matanya sudah berkunang-kunang sekarang. "Kenapa kau bersikap kasar padaku?"
"Kenapa katamu, Mikagane Rin?" Tei tersenyum manis. Namun sesaat kemudian berubah menjadi seringaian dan wajah kejam. "KARENA KAU MENDEKATI LEN! KARENA KAU DEKAT DENGAN LEN! KAU PIKIR DIRIMU SIAPA, HEH?! BERANI SEKALI KAU MENDEKATI LEN!"
Rin terkejut mendengar penuturan kata dari Sukone Tei. Gadis berambut putih itu terus melontarkan amarahnya dengan emosi. Gudang terletak 'menyendiri' dari bangunan sekolah. Lagipula, jarang ada yang pergi ke gudang. Jadi, tak ada yang mendengar Tei berteriak. Kecuali Rin dan gerombolan Tei, tentu saja.
"Tunggu, Tei. Kau salah paham, aku tidak mendekati Len!" Rin berusaha menenangkan Tei. "Lagipula, aku dan Len hanya teman! Kami tidak sengaja bertemu di bukit belakang sekolah."
Tei menatap Rin sinis. "Hanya teman? HANYA TEMAN KAU BILANG?!"
Rin merinding melihat Tei yang mengamuk. Tei menarik rambut Rin dengan kasar. Kemudian menjatuhkannya lagi dengan keras. Membentur lantai tentulah sakit.
"KAU BAJINGAN! ENYAHLAH KAU!" Tei mengambil kayu, entah dari mana, dan memukulkannya berkali-kali ke tubuh Rin.
Gadis malang itu hanya bisa menjerit berkali-kali dan meronta kesakitan, hingga akhirnya tubuhnya diam setelah mendapat banyak pukulan menyakitkan dari Tei.
"Kau sudah mati, ya? Baguslah. Tapi kalau belum, tak ada yang akan menemukanmu juga. Hahaha!" Tei mengambil banyak kardus, kemudian meletakkannya menutupi tubuh Rin.
"Semoga tak ada yang menemukanmu!" ucap Tei. Ia dan gerombolannya keluar dari gudang, kemudian mengunci gudang itu. Kuncinya Tei curi dari penjaga sekolah.
"Selama-lamanya!" Tei melanjutkan perkataannya, seraya melempar kunci itu jauh-jauh. Kemudian, ia tertawa bak iblis, dan pergi.
Di dalam, Rin terbaring lemas dengan kardus-kardus berat menimpa tubuhnya. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya.
"Len..." bisik Rin lemah, sebelum menutup mata aquamarine-nya.
Kau hanya mengharapkan pertolongan dari lelaki itu
Karena kau tahu, dialah yang akan mendampingi hidupmu yang singkat itu
Gomen aneh! Review please!
