"Puppy and I"

Author: ichativa

Maincast: Park Chanyeol, Byun Baekhyun

Genre: Fantasy, Romance, Humor, Shou-Ai

Rated: T

Disclaimer: Story belong to me! Cast belong to God. Just for entertaint. Please don't ever copy my hardwork!

Enjoy~

.

.

.

.

Air mata membanjiri pipi Chanyeol saat Baekhyun masuk ke dalam ruang operasi. Tubuhnya gemetar hebat. Ia menjambaki rambutnya frustasi. Chanyeol akan menghukum dirinya seumur hidup kalau sampai Baekhyun... ah, ia bahkan tak sanggup mengatakannya.

"Minumlah, Yeol.." Suho membawakan segelas kopi untuk Chanyeol. Tapi yang ditawari hanya mondar mandir seperti orang linglung. Penampilannya persis seperti orang yang habis terkena badai topan angin puting beliung. Berantakan. Baru setelah dokter memberitahu bahwa Baekhyun baik-baik saja, bahwa pisau hanya merobek sedikit usus besarnya, dan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Chanyeol bisa duduk dan bernafas lega. Baekhyun pun dipindahkan ke ruang rawat inap kelas VVIP.

"Baekhyun-ah..hiks.." suara Chanyeol tercekat di tenggorokan. Ia menggenggam tangan Baekhyun erat-erat. Tangan yang biasanya hangat, sekarang terasa sedingin es. "Siapa yang tega melakukan ini padamu?!" ratap Chanyeol.

Kelopak mata Baekhyun bergerak dan perlahan membuka. Ia mengerjap-ngerjap, membiasakan matanya dengan cahaya. Saat mendengar isak tangis di dekatnya, Baekhyun menoleh perlahan.

"Chan?"

"Baekhyun-ah, kau sudah sadar?"

Baekhyun menatap mata besar Chanyeol yang memerah. Setetes cairan bening lolos dari sana. Baekhyun mengangkat tangannya untuk menghapus jejak air mata itu.

"Channie.. Uljima..."

Disuruh jangan menangis, Chanyeol malah menangis semakin keras. Tak mampu lagi membendung air matanya. Ia merangkul Baekhyun erat-erat.

"Maafkan aku Baek.. hiks. Aku tidak menjagamu dengan baik.. padahal aku sudah berjanji akan merawat dan melindungimu.. hiks. Tapi kau terluka karena aku. Aku sangat menyesal.."

Baekhyun menggeleng dan tersenyum lemah. Ia mengelus lembut punggung Chanyeol.

"Chan jangan sedih.. ini bukan salah Chan.."

Malam itu, Chanyeol tidak pulang ke rumah. Dia tinggal untuk menunggui Baekhyun. Chanyeol harus melakukannya. Ia takut meninggalkan Baekhyun sendirian. Ia benar-benar mencemaskan Baekhyun.

Chanyeol melirik bungkusan yang dibawakan Suho. Suho baru saja pergi setelah mengantarkan pakaian ganti, makanan dan vitamin untuk Chanyeol. Tak peduli sesibuk dan selelah apapun, Suho memang selalu mengutamakan kesehatannya.

Sementara itu Suho sudah melaporkan insiden penusukan Baekhyun pada polisi. Tak lupa ia meminta polisi untuk merahasiakannya dari reporter. Dan untuk acara fashion show, Suho pun sudah mengirimkan pengganti. Ia benar-benar bekerja keras. Segaris senyum tersungging di bibir Chanyeol. Disaat seperti ini Suho memang sangat bisa diandalkan.

"Eomma.. eomma.." rintih Baekhyun. Ditengah malam, Baekhyun mengigau dalam tidurnya. Chanyeol yang tertidur di samping Baekhyun pun terbangun.

"Baekhyun-ah? Gwenchana?" tanya Chanyeol seraya memegang tangan Baekhyun. Panas! Kulit Chanyeol seperti terbakar saat menyentuhnya. Chanyeol memeriksa suhu tubuh Baekhyun dengan termometer. 40,2 C!

"Baek, kau demam tinggi! Bagaimana ini?"

Chanyeol segera memanggil dokter jaga dengan panik. Dokter pun memberikan suntikan penurun panas untuk Baekhyun. Setelah beberapa menit, suhu tubuh Baekhyun kembali normal. Namun keringat membasahi pakaiannya. Chanyeol segera mengganti baju Baekhyun dengan piyama rumah sakit yang baru. Chanyeol juga mengelap keringat di wajah serta leher Baekhyun dengan waslap sampai ia tertidur.

.

.

.

"Chan.. bangun.."

"Hnnggh?"

"Bangun, Chan.. ponselmu berdering.."

"Haah?" Chanyeol menegakkan tubuhnya. Semalaman ia tertidur dengan posisi menelungkup di samping Baekhyun. Punggung dan lehernya terasa pegal-pegal sekarang. Mungkin setelah ini ia harus mampir ke apotek untuk membeli beberapa koyo.

"Dari Suho hyung.. sepertinya Chan harus kerja lagi.."

"Argh.." Chanyeol mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Membuatnya tampak semakin sexy. Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Baekhyun dengan mata masih setengah terpejam, mengabaikan panggilan di ponselnya.

"Hmmm, bagus. Kau tidak demam.." setelah memastikan Baekhyun baik-baik saja, barulah Chanyeol beralih ke ponselnya. "Halooo?" jawab Chanyeol malas.

"..."

"Iyaa.. iy— apa? 5 menit? Baik, hyung!" Mata Chanyeol langsung terbuka lebar. Sepertinya ceramah dari Suho mampu membangunkannya dalam sekejap. Ia bangkit berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Dalam 5 menit, Chanyeol telah berdandan rapi dan wangi.

"Nah Baek, aku pergi dulu ya. Ingat, jangan bicara dengan orang asing!" ujar Chanyeol yang diangguki Baekhyun. "Aku akan meminta ahjumma untuk menjagamu.." Chanyeol menyebut bibi yang sering membersihkan rumah dan memasak untuk mereka.

"Oke! Jangan khawatir, Chan.. Fighting! Bye bye~" Baekhyun melambaikan jemarinya yang kelewat lentik. Chanyeol tertawa dan mengusap rambut Baekhyun gemas sebelum pergi.

.

.

.

"Annyeonghaseyoo~" sapa Baekhyun.

"Baekhyun-ah~ Kau sedang apa~?"

"Sedang memikirkan Chan~"

"Ahaha.. Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih demam? Kau menghabiskan makananmu?" tanya Chanyeol, dahinya berkerut khawatir. Saat ini ia tengah berada di kamar ganti. Di sela-sela syuting, ia menyempatkan diri untuk video call bersama Baekhyun.

"Sudah tidak demam, hehe.. Chan jangan cemas. Baek sudah menghabiskan semuanya! Jjajaan~" Baekhyun menunjukkan mangkuk makan siang yang kosong di layar ponselnya. Ia tertawa lebar. Sepertinya keadaannya sudah jauh lebih baik. Baekhyun telah kembali ceria.

"Aigoo anak pintar.. bagaimana lukamu? Apa mereka sudah merawatnya?"

"Sudah, Chan.. Baek sudah sembuh!"

"Hahaha baguslah.. Maaf ya Baek aku terpaksa meninggalkanmu. Tapi aku sudah mengirimkan penggantiku. Kau sudah bertemu dengannya?"

"Sudah, Chan! Baek tidak kesepian lagi karena ada RiRi! Gomawo~" kali ini Baekhyun menggerakkan lengan boneka rilakkuma itu ke kanan dan kiri. Seolah boneka itu melambai pada Chanyeol.

"Mohon jaga RiRi dengan baik.."

"Tentu saja! RiRi kan adik Baek sekarang, thehee.."

"Permisi.. Park Chanyeol? Ayo sekarang giliranmu!" seorang pria dengan kertas di tangannya memanggil Chanyeol dari belakang.

"Chan! Cepat kerja lagi sana. Nanti kau dipecat!"

"Hahaha tenang saja, tidak ada yang berani memecat artis papan atas sepertiku!" sombong Chanyeol. "Ya sudah, aku syuting dulu. Ingat Baek, kau harus istirahat.. jangan kemana-mana! Nanti malam aku akan kembali. Tunggu aku ya!"

"Tentu saja. Baek akan selalu menunggu Chan.."

.

.

.

"Ayo, Baek! Satu suapan lagi! Buka mulutmu.. aaaaa.."

"Sudah, Chan! Baek kenyang!"

"Ayolah! Kalau kau tidak menghabiskannya, aku tidak mau bermain lagi denganmu! Ayo, aaaaaa.." Chanyeol mengangkat sendoknya tinggi dan berputar-putar sejenak, pura-puranya sendok itu adalah pesawat terbang..

Melihat kelakuan abstrak Chanyeol, Baekhyun mem-pout-kan bibirnya. "Baek bukan anak kecil!"

Tapi pada akhirnya, Baekhyun membuka mulutnya juga. Ia melahap suapan terakhir dari Chanyeol dengan wajah masam.

"Aigoo anak pintar.." Chanyeol merapikan poni Baekhyun. Setelah meminum obat, Baekhyun bersiap untuk tidur. Chanyeol menyelimuti Baekhyun sampai sebatas leher.

"Selamat tidur, Baek.." Chanyeol mematikan lampu kamar. Ia menggantinya dengan lampu tidur yang sinarnya lebih redup lalu bergegas tidur di sofa.

"Chan, tidur disini.." Baekhyun menepuk kasur, mengajak Chanyeol agar tidur di sebelahnya. Baekhyun menggeser sedikit tubuhnya ke samping.

"Kenapa? Kau ingin aku mengusap rambutmu sampai kau tertidur?"

Baekhyun mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah, baiklah.."

Chanyeol merebahkan diri di tempat tidur yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang itu. Karena tingginya, sebagian kaki Chanyeol harus menggantung di ujung tempat tidur. Perbedaan besar telapak kaki mereka tampak mencolok sekali. Chanyeol memiringkan tubuhnya ke kanan menghadap Baekhyun. Baekhyun pun memposisikan tubuhnya miring menghadap Chanyeol. Tangan kanan Baekhyun memeluk pinggang Chanyeol.

"Baek, apa kau merindukan ibumu?" Chanyeol ingat saat Baekhyun mengigau memanggil ibunya kemarin malam.

Baekhyun tertegun. "Mmmm, Baek rindu eomma.. sangat rindu.."

"Dia juga pasti sangat merindukanmu.. Apa kau ingin menemuinya? Ayo kita mencarinya.."

"Tidak.. Baek sudah punya Chan.. jadi Baek akan baik-baik saja," Baekhyun mengeratkan pelukannya.

"Kenapa, Baek?"

"Eomma sudah menjadi bintang.. dia melihat kita dari atas sana,"

"Ee.. maafkan aku, Baek.." Chanyeol merasa bersalah sudah mengingatkan Baekhyun akan orang yang sudah tiada.

"Ehm, tidak apa-apa Chan.. tidak usah minta maaf. Bersama-sama Chan saja sudah cukup. Selamat tidur, Channie.."

"Ne.. Mimpi indah, Baekki.." bisik Chanyeol di puncak kepala Baekhyun yang setinggi dadanya. Tangan kirinya membelai lembut rambut Baekhyun. Dalam kesunyian, Chanyeol tersenyum sambil menunduk memandangi Baekhyun. Mengamati setiap inchi wajah Baekhyun. Menghitung bulu mata lentiknya.

.

.

.

Setelah 2 hari 2 malam menginap di rumah sakit, akhirnya siang itu dokter memperbolehkan Baekhyun pulang. Awalnya dokter dan perawat kaget melihat luka Baekhyun yang mengering 2 kali lebih cepat dari orang normal. Tapi mereka menganggap itu sebagai sebuah keajaiban. Kalau saja mereka tau bahwa Baekhyun bukan 'orang normal'..

Chanyeol dan Baekhyun baru saja tiba saat menemukan sebuah paket berwarna coklat di depan rumah. Chanyeol membungkuk untuk memungutnya. Saat Chanyeol hendak membuka paket itu, Baekhyun menghentikannya.

"Chan! Jangan dibuka!" Baekhyun merebut paket dari tangan Chanyeol dan mengendusnya. Plung! Paket itu mendarat indah di tong sampah

"Apa yang kau lakukan, Baek? Bisa saja itu paket penting!"

Baekhyun tak menjawab. Ia hanya menarik Chanyeol masuk ke dalam rumah.

Karena penasaran, Chanyeol kembali mengendap-endap ke halaman rumah setelah menidurkan Baekhyun. Ia mengorek-ngorek tong sampah dan menemukan paket coklat tersebut. Ia mengocok-ngocok dan menempelkannya di telinga untuk memastikan itu bukan bom.

Dan bola mata Chanyeol hampir melompat dari tempatnya. Ia mendadak merasa mual saat membuka paket yang ringan itu. Kotak itu berisi foto Baekhyun dengan coretan tinta merah seperti darah. Wajah Baekhyun diberi tanda silang, matanya seolah menangis darah, dan tertulis 'Mati Kau' disana.

"Hyung! Hyung!" Chanyeol segera berlari panik ke kamar Suho untuk menunjukkan penemuannya. "Dia mengancam akan membunuh Baekhyun!"

"Apa itu, Yeol? Astaga!" Suho hampir saja menjatuhkan ponselnya.

"Kita harus segera menangkapnya, hyung! Baekhyun dalam bahaya!"

"Baik, baik. Akan aku serahkan barang bukti itu ke kantor polisi sekarang juga!"

.

.

.

Keesokan harinya.

Chanyeol dan Baekhyun tengah bersantai-santai di kamar mereka. Chanyeol sibuk dengan gitar dan notebook-nya. Sedangkan Baekhyun duduk di lantai, menatap layar smart HDTV milik Chanyeol tanpa berkedip. Sesekali ia memasukkan jari telunjuk dan jari tengah ke dalam mulutnya. Baekhyun masih setia menonton serial drama favoritnya. Berkisah tentang cinta segitiga antara vampir dan manusia.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang begitu terhanyut dalam cerita. Dari belakang, kepala kelabu bundar Baekhyun tampak sangat menggemaskan. Chanyeol jadi tergerak untuk mendekatinya.

Saking seriusnya, telinga anjing Baekhyun tidak menangkap suara langkah kaki Chanyeol. Ia terkejut saat Chanyeol memeluknya dari belakang. Lengan kekar Chanyeol melingkari lehernya. Chanyeol menaruh dagunya di bahu Baekhyun. Ia menyandarkan satu sisi kepalanya pada Baekhyun.

"Baek.. " panggilnya lirih. "Maafkan aku.. gara-gara aku, kau harus celaka seperti itu.."

"Chan.." Baekhyun menyentuh lengan Chanyeol.

"Sejujurnya, aku lelah, Baek.." Chanyeol menarik nafas berat. "Rasanya aku ingin berhenti dari semua omong kosong ini.. aku ingin pergi ke tempat yang jauuuuuh sekali.. tempat dimana tidak ada orang yang mengenaliku.. tak ada yang menerorku.. disana hanya ada kita berdua.. kau dan aku.. kita tinggal bersama.. berjalan-jalan santai, tanpa perlu diikuti.. tanpa perlu bersembunyi.. menikmati hidup.. bagaimana?" bisiknya tepat di telinga Baekhyun.

Baekhyun meresapi perkataan Chanyeol. Pipinya memanas. Jantungnya berdegup kencang. Susah payah ia menelan ludah. Tinggal di tempat yang jauh? Hanya berdua? Hmm.. itu terdengar tidak masalah bagi Baekhyun.

Pats! Tiba-tiba lampu di rumah itu padam.

"Kyaaaa!" teriak Baekhyun. Ia berbalik untuk memeluk Chanyeol. Wajah kecilnya ia benamkan dalam dada bidang Chanyeol.

"Tidak apa-apa, Baek! Kau tidak usah takut, oke?! Sebentar lagi listrik pasti menyala! Aku akan melindungimu! Su-Suho hyung sudah pergi sejak 3 jam yang lalu.. sebentar lagi dia pasti pulang! Semua akan baik-baik saja! Kau tenanglah, Baek! Jangan takut! Ada aku disini!"

Chanyeol membasahi bibirnya dengan panik. Ternyata dia hanyalah bayi besar. Chanyeol diam-diam berusaha keras menyembunyikan ketakutannya. Detik demi detik berlalu. Suasana terasa semakin mencekam. Kegelapan seperti menelan mereka. Chanyeol dan Baekhyun berpelukan semakin erat.

"Chan.. ada orang..." bisik Baekhyun.

"Baek, kau jangan menakutiku!"

Srek... srek...

"Dengar, Chan? Orang itu semakin dekat.. dia di depan kamar kita sekarang.."

"Mm-m-mungkin i-it-itu Suho hyung?" bulu kuduk Chanyeol meremang.

"Bukan, Chan.. itu bukan Suho hyung.."

"L-la, l-lalu.. lalu s-siapa, Baek?" keringat membasahi dahi Chanyeol.

"Chan diam disini ya.. Baek akan tangkap dia," Baekhyun melepas pelukannya. Ia berdiri dan melangkah ke pintu. Berusaha dengan sekuat tenaga mengalahkan ketakutannya sendiri.

"J-Jangan tinggalkan aku, Baek... Baekki.." ratap Chanyeol. Ia bahkan tidak sanggup berdiri.

Baekhyun mengambil tongkat baseball Chanyeol di dekat pintu. Menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian dan menarik handle pintu.

BUUUGGH!

Bukan Baekhyun yang memukul kepala seseorang sampai pingsan.

"Chanyeol! Baekhyun! Kalian baik-baik saja?" Suho muncul dari tangga sambil terengah-engah. Sebuah payung tergeletak di kakinya.

"Hyuuuung~~" teriak ChanBaek berbarengan. Mereka memeluk Suho seakan-akan Suho adalah Superman.

"Alarm di pintu gerbang yang tersambung dengan ponselku berbunyi. Lalu aku melihat stalker itu memutus aliran listrik di rumah ini. Aku berusaha menghubungi kalian. Tapi panggilanku tidak diangkat. Jadi aku langsung menghubungi polisi.. ah, mereka sudah disini. Kalian tenang saja ya.. Aku juga sudah memanggil teknisi untuk memperbaiki listriknya.." jelas Suho panjang lebar.

"Hyung... aku takut sekali.. hiks!" isak Chanyeol.

"Dasar payah! Badanmu saja yang raksasa, tapi nyalimu sebesar biji semangka.." Suho mengacak-acak rambut Chanyeol. "Si kecil Baekhyun saja tidak menangis.. apa kau tidak malu?"

Pats! Lampu kembali menyala. Chanyeol akhirnya bisa melihat wajah stalker tersebut. Sepertinya dia pernah melihatnya entah dimana. Chanyol masih mengingat-ingat ketika polisi menggotong tubuh penguntit itu dan membawanya ke dalam mobil. Mereka akan menginterogasinya di kantor saat ia sadar nanti.

"Ini, minumlah.." Suho menyuguhkan coklat hangat di hadapan Chanyeol dan Baekhyun. Wajah Chanyeol masih terlihat pucat. Baekhyun sudah menceritakan kejadian yang mereka alami. Suho tak bisa membayangkan bagaimana bila ia terlambat sedetik saja. Bukan cuma Chanyeol yang akan diserang. Baekhyun yang pernah ditusuk sekali, bisa saja kali ini kehilangan nyawanya.

"Baekhyun, terimakasih sudah menjaga Chanyeol.." ucap Suho tulus.

.

.

.

Chanyeol sudah terbiasa dengan pemandangan taxi-taxi berkejaran mengikutinya. Dulu, ia sangat stress menghadapinya hampir setiap hari. Tapi sekarang, ia tak peduli lagi. Chanyeol lebih memilih untuk bercengkrama dengan Baekhyun. Ia akan memusatkan perhatian pada celotehan Baekhyun. Mereka akan bernyanyi, mengobrol dan tertawa pada apa saja. Mengabaikan Suho yang telinganya berdenging saking berisiknya dua mahluk terlampau serasi di belakang. Chanyeol sendiri saja sudah berisik. Apalagi ditambah kolaborasinya dengan Baekhyun, bisa diramalkan dalam 1 bulan ke depan Suho akan sering berkunjung ke dokter THT.

Semenjak ada Baekhyun, Chanyeol memang jadi lebih sering tertawa. Hari-hari Chanyeol terasa lebih ceria, tidak seperti sebelumnya. Ia tak lagi stress dengan jadwal pekerjaan yang menumpuk, perjalanan yang membosankan, dan sasaeng fans. Karena Baekhyun membuat pekerjaan terasa menyenangkan, perjalanan tak lagi membosankan, dan sasaeng tak lagi menakutkan.

Bila Baekhyun tidak menemani Chanyeol bekerja, Baekhyun akan menunggu Chanyeol tepat di depan pintu. Begitu Chanyeol masuk, Baekhyun akan langsung berlari ke pelukan Chanyeol dan bergelantungan di lehernya. Chanyeol akan mengusap kepala Baekhyun. Lalu mereka akan duduk di sofa sambil makan cemilan dan menonton TV.

Pada sore hari, Baekhyun akan menyirami bunga. Baekhyun sendiri yang menanam dan merawatnya. Halaman rumah Chanyeol kini dipenuhi bunga-bunga dengan berbagai warna khas musim semi. Seperti sore ini, Baekhyun sedang menyiram tanaman ketika Chanyeol pulang. Iseng-iseng ia menginjak selang hingga airnya berhenti mengalir.

"Ng? Kok mati?" Baekhyun melihat ke dalam lubang selang.

Srooooot! Tiba-tiba air selang menyemprot ke wajah Baekhyun

"Hyaaaa!" Baekhyun berteriak lenjeh _

"Hahahahaahahaa!" Chanyeol tertawa terpingkal-pingkal. Ia sampai terjerembab di tanah sambil memegangi perutnya.

"Chan jahaaaattt!" Baekhyun pun menyemprotkan air pada Chanyeol.

"Yak! Baekhyun-ah! Berani-beraninya kau!" Chanyeol mengejar Baekhyun. "Sini! Kemarikan selangnya!" Chanyeol berusaha merebut selang dari Baekhyun. Baekhyun berkelit sambil terus menyemproti Chanyeol. Tiba-tiba Baekhyun berhenti dan meringis memegangi bekas luka di pinggangnya. Chanyeol yang melihat Baekhyun kesakitan, berhenti mengejarnya.

"Kau tidak apa-apa, Baek?"

Srooooooott. Baekhyun menyemprot air ke wajah Chanyeol.

"Chan tertipu!" Baekhyun kembali tertawa. Ternyata dia hanya berakting.

"Yak! Kau mulai berbohong padaku? Kemari kau!" Saat merebut selang dari belakang, Chanyeol tampak seperti sedang memeluk Baekhyun. Setelah 10 menit tak berhasil mengejar Baekhyun, Chanyeol menyerah. Sama-sama basah dan lelah, mereka terkapar di tanah. Lumpur mengotori pakaian serta wajah mereka. Mereka saling pandang dan tertawa bersama.

.

.

.

"Baekhyun! Itu cemilanku! Kembalikan!" teriak Suho. Kali ini ia bergabung dalam kegiatan ChanBaek; duduk-duduk santai di depan TV.

"Tidak mau! Weeek.." Baekhyun menjulurkan llidahnya.

"Yeol.. katakan padanya untuk tidak memakan itu! Itu cemilan favoritku!"

"Hyung.. kau kan lebih dewasa, seharusnya kau bisa mengalah. Lagipula cuma snack murahan.. nanti aku belikan lagi, hyung. Biarkan Baekhyun memakannya.."

"Chanyeol! Bukan masalah murah atau mahalnya! Kau tidak bisa tidak membelanya ya?!" Suho berkacak pinggang. Baekhyun pun memakan snack dengan gembira. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Chanyeol. Suho tidak pernah bisa menang melawan Baekhyun selama ada Chanyeol.

"MDH, penguntit yang menyusup ke rumah ikon Kpop, Park Chanyeol, telah tertangkap. Wanita berusia 22 tahun ini diketahui mengidap gangguan panik dan obsesi berlebih terhadap idol tampan tersebut. Dia mengaku cemburu pada pria yang tinggal bersama Park Chanyeol. Dia bahkan pernah menusuknya sekali. Mengakibatkan pria tersebut harus dirawat selama 2 hari di rumah sakit," jelas seorang pembaca berita cantik di TV.

"Ah! Sekarang aku ingat!" Chanyeol menepuk pahanya. "Aku pernah bertemu dengannya di cafe.. saat aku pertama kali bertemu Baek—Bee! Dan saat fansigning.. dia juga orang yang menanyakan Baekhyun! Namanya.. Dohee. Ya, benar itu dia!"

"Syukurlah dia sudah tertangkap.. sekarang Baekhyun sudah aman,"

"Bukankah seharusnya berita ini tidak bocor ke telinga wartawan, hyung?"

"Aku pikir kita harus mengangkat berita ini. Supaya sasaeng fans yang masih tersesat diluar sana bisa sadar dan kembali ke jalan yang lurus.." tambah Suho.

Saat wajah Min Dohee muncul di layar, Baekhyun bersembunyi di balik punggung lebar Chanyeol. Sepertinya dia ingat akan wajah penjahat yang menusuknya. Melihat Baekhyun ketakutan, Chanyeol mengambil remote TV dan mengganti channel.

"Fans Park Chanyeol, siapkan hati kalian! Reporter kami telah menemukan sebuah fakta mengejutkan tentang Park Chanyeol! Apakah itu?" suara cempreng pembawa acara, disertai backsound yang dramatis, memaksa Suho, Chanyeol, dan Baekhyun memusatkan perhatian mereka pada layar TV.

"Park Chanyeol, seperti yang kita ketahui, adalah superstar yang tidak pernah terkena skandal percintaan. Tapi tiba-tiba saja seorang sasaeng muncul untuk menyerang pria yang tinggal bersamanya. Siapakah dia? Sebelumnya mari kita lihat foto-foto berikut ini!" lalu muncullah gambar-gambar Chanyeol bersama Baekhyun di Mall beberapa minggu lalu.

"Akhir-akhir ini, fans dihebohkan oleh kemunculan seorang namja cantik yang disebut-sebut merupakan sepupu Park Chanyeol. Baekhyun, begitu Chanyeol memanggilnya saat fansigning minggu lalu. Sejak itu, nama Baekhyun mulai populer di kalangan fans,

"Jelas sekali dari foto-foto ini bahwa Park Chanyeol sangat bahagia. Lihatlah senyumnya! Dia tampak 1000x lebih tampan disini! Dan lihat tatapan mata mereka.. Aaw! Mereka lebih manis daripada pasangan manapun! Mereka bergandengan tangan dan saling berangkulan. Seakan-akan hanya ada mereka berdua di tempat itu,

"Lalu, apa benar mereka bersaudara? Sepertinya tidak. Mereka lebih dari itu. Salah satu narasumber terpercaya, yang identitasnya harus kami sembunyikan, mengatakan bahwa Park Chanyeol tidak memiliki sepupu bernama Baekhyun! Mencurigakan sekali.. Sekarang mari kita lihat bukti-bukti yang berhasil kami kumpulkan,"

Beberapa foto muncul di layar. Foto-foto saat ChanBaek keluar dari rumah Chanyeol. Foto ChanBaek memakai pakaian yang sama. Foto Chanyeol berjalan masuk ke RS. Dan terakhir, foto Chanyeol memapah Baekhyun keluar RS.

"Park Chanyeol datang dan menginap di rumah sakit. Lalu apa yang menyebabkan Baekhyun masuk rumah sakit? Apa dia hamil? Ah.. aku mulai melantur.. itu pasti akibat insiden penusukan itu, ya kan? Yah.. Walaupun beberapa waktu lalu Chanyeol pernah mengatakan padaku bahwa ia menyukai wanita, tapi dari foto-foto ini aku jadi ragu akan pernyataannya. Kurasa, Chanyeol seorang gay. Dan mereka berpacaran."

Chanyeol, Baekhyun, dan Suho menganga. MC wanita itu menutup acara infotainment dengan sebuah kesimpulan yang subyektif. Tapi efeknya sungguh luar biasa.

"Kang So Young sungguh keterlaluan!" geram Suho. Ia menyebut nama lengkap dari MC Kang. "Berita bodoh macam apa ini? Sementara stasiun lain mengangkat berita sasaeng, dia malah menyorot hubungan kalian! Pasti ada yang salah di dalam otaknya! Ini pencemaran nama baik! Aku bersumpah akan menuntutnya dan menjebloskannya ke penjara!" amuk Suho berapi-api.

"Tenanglah, hyung.." Sebenarnya Chanyeol sudah ingin mengambil kontak mobilnya dan meluncur untuk membakar gedung stasiun TV tersebut. Tapi itu hanya akan menambah masalah.

"Bagaimana aku bisa tenang? Gay!? Lelucon apa lagi ini? Bukan cuma karir, tapi hidupmu dipertaruhkan disini!"

"Tapi, kapan kalian berjalan-jalan di mall?" lanjut Suho. Matanya memicing curiga. "Kenapa kalian semesra itu? Dan itu.. cincin apa itu? Kenapa kalian memakai couple ring? Jangan-jangan kalian..."

"Hyung! Apa sekarang kau juga ikut menuduh kami berkencan?!"

"Engg, tidak. Bukan begitu, Yeol. Tapi foto-foto tadi terlihat nyata. Kalian terlihat baik bersama. Maksudku, kalian kan bersaudara. Wajar saja kalau kalian bertukar pakaian atau bergandengan tangan di tempat umum—atau tidak? Jadi.. mungkin mereka salah paham. Ya, ini salah paham.."

Hanya dalam hitungan jam, berita seputar orientasi sex Chanyeol mendominasi headline surat kabar online maupun offline. Foto-foto Chanyeol saat tengah berjalan berduaan dan bergandengan tangan mesra dengan Baekhyun tersebar luas. Chanyeol dan Baekhyun menjadi trending topic di seluruh dunia.

Jalanan rumah Chanyeol seketika dibanjiri reporter. Mereka berlomba-lomba mencari petunjuk tentang keberadaan Chanyeol dan Baekhyun. Keluarga dan sahabat Chanyeol pun tak luput jadi sasaran mereka. Agensi Chanyeol sibuk menerima telepon dan menyangkal berita bahwa Chanyeol gay. Beberapa produser bahkan membatalkan kontrak dengan Chanyeol akibat skandal tersebut.

"Baik. Baik, akan aku lakukan.." Suho baru saja menutup panggilan dari ponselnya.

"Bagaimana, hyung? Apa kita akan melakukan konferensi pers?"

"Tidak perlu. Sepertinya CEO punya rencana lain untukmu.."

.

.

.

Pagi yang cerah.

Baekhyun terbangun tanpa Chanyeol di sampingnya.

Ia masuk ke kamar mandi. Kosong. Ia melongok ke balkon. Kosong. Ia mencari-cari ke seluruh sudut kamar. Nihil. Baekhyun pun melanjutkan pencariannya ke lantai satu dan bertemu Suho.

"Hyung, Chan dimana?"

"Dia ada kegiatan di luar negeri.."

"Ooh.. luar negeri?"

Baekhyun menggaruk perutnya. Ia tak punya ide seberapa jauh 'luar negeri' itu. Ia hanya pergi ke halaman dan duduk di kursi taman menunggu Chanyeol pulang.

Tapi yang ditunggu tak kunjung datang.

1 hari.. 2 hari.. 3 hari..

Baekhyun menunggu di halaman sejak pagi sampai malam. Suho harus menyeretnya masuk di malam hari kalau tidak ingin Baekhyun terserang flu.

"Baek, kau harus makan.."

Baekhyun menggelengkan kepalanya lemah. Setelah 3 hari tidak mau makan, Baekhyun benar-benar terkena flu. Sekarang ia tergeletak di tempat tidur bagai mayat hidup. Wajahnya pucat pasi dan matanya cowong. Kantung matanya menebal, sepertinya dia juga tidak tidur selama beberapa hari ini.

Baekhyun tidak mau makan kalau tidak ada Chanyeol. Baekhyun tidak bisa tidur kalau tidak dengan Chanyeol. Baekhyun rindu dengkuran Chanyeol yang seperti orang tua. Dia ingin mendengar suara Chanyeol. Ingin bertemu dan memeluknya. Ia merindukan tuannya. Sangat merindukannya..

"Aku tau kau menunggu Chanyeol.. tapi kau harus makan! Kalau tidak, kau akan mati. Kau suka melihat Chanyeol menangis?!"

Baekhyun menggigit bibirnya. Air matanya menetes.

"Chan dimana? Chan kapan pulang?"

"Besok! Chan akan pulang besok! Makanya kau harus makan, ya?!"

"Bohong!"

"Sungguhan, Baek.. ayo buka mulutmu.." Suho menyuapi Baekhyun yang langsung ditampik olehnya. Prang! Mangkuk keramik itu pecah, sup hangat berhamburan mengotori lantai.

"Baekhyun! Kalau kau begini terus, aku tidak akan peduli lagi!" Suho meninggalkan Baekhyun begitu saja. Ia sudah muak dengan Baekhyun.

Baekhyun menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia meringkuk di dalam. Air mata membanjiri pipinya.

"Chan... Chan..." Baekhyun terus merapal nama itu berulang-ulang. Seakan-akan, bila ia sudah menyebutnya sejuta kali, Chanyeol akan muncul dihadapannya . Memeluk dan menghapus air matanya..

"Chanyeol!" tiba-tiba seorang pria muda menerobos masuk ke kamar dan menindih gundukan berbungkus selimut di tengah kasur, yang sesungguhnya adalah Baekhyun.

"A-aaah.." rintih Baekhyun.

"Yak! Chanyeol! Bangun kau, dasar pemalas!"

Pria muda itu menyibak selimut dan terkejut saat mendapati sesosok tubuh mungil meringkuk disana. Sang pria melihat tangan kecil halus yang rapuh seperti kaca sedang menutupi wajahnya. Dan saat mahluk yang awalnya ia kira boneka itu mengedipkan mata kecilnya yang sembab, sang pria merasa dia mirip.. eh, puppy?

"Kau.. bukan Chanyeol. Kau siapa?"

Baekhyun terdiam menatap pria kurus dengan bahu bidang—yang cocok dijadikan sandaran—berdiri di sampingnya. Pria itu tak kalah jangkungnya dengan Chanyeol. Kulitnya yang seputih marmer kontras dengan rambut hitam lebatnya. Ia memiliki fitur wajah dengan rahang yang tegas dan mata yang tajam, membuatnya tampak seperti tokoh anime yang keluar dari manga. Dan gigi taring kecilnya yang agak tersembunyi mengingatkan Baekhyun pada sosok vampir yang baru-baru ini ia lihat dalam drama.

"Sehun!" panggil Suho dari pintu. Ia menjewer telinga pria asing yang lebih tinggi darinya itu. "Sudah ku bilang Chanyeol tidak ada! Kau ini tidak pernah berubah ya! Ayo keluar dari sini!"

"A,a,a,a,ah! Appo!"

"Ikut aku!" Suho melepaskan jewerannya. Kali ini ia menarik lengan Sehun.

"Tunggu, tunggu! Dia siapa? Kenapa dia tidur disini? Apa dia cmewew(?) baru Chanyeol?"

"Kau tidak mengenalnya? Chanyeol bilang dia sepupunya.. dan apa kau tidak melihat TV? Wajahnya terpampang dimana-mana sekarang.."

"Sepupu? Dia kan tidak punya sepupu.. dan aku tidak terlalu suka menonton TV.."

"Tunggu, tadi kau bilang apa?"

"Aku tidak suka menonton TV"

"Sebelumnya.."

"Chanyeol tidak punya sepupu"

"Apa?"

"Chanyeol tidak punya sepupu! Aah.. sekian lama tidak bertemu, kau menua begitu cepat ya? Telingamu pasti bermasalah!"

"Yak! Panggil aku 'hyung'!" Suho berusaha keras agar tinjunya tidak melayang "Dan jangan menyinggung soal telingaku! Kau tidak tau betapa sulitnya hidup bersama dua perusuh dunia!"

Sehun memutar bola matanya

"Sehun, kau yakin dia bukan sepupu Chanyeol?" Suho kembali ke laptop, eh, topik.

"Kalau aku bilang bukan ya bukan! Kau sudah 7 tahun mengenalnya dan tidak tau keluarganya? Kau payah!" Sehun masih melupakan untuk menambah gelar 'hyung'.

"Tapi.. Chanyeol bilang dia sepupu jauh, dari luar negeri.. semacam itu.."

"Dan kau percaya? Ppfffttt.." Sehun tertawa meledek. "Sepupu pantatku!"

"Lalu, dia siapa?"

"Makanya aku juga tanya, dia siapa?"

"Aku tau kau memiliki jiwa, wajah, dan senyum layaknya malaikat.. Tapi bisakah kau berpikir sedikit rasional?" lanjut Sehun. "Mereka tinggal bersama! Dia tidur dengan Chanyeol! Disini! Di kasur ini! Dan dia.. dia.."

"Dia apa?" Suho menunggu kelanjutan orasi Sehun.

"Dia... boleh juga." Pipi Sehun merona, dia mendadak gugup. "Apa aku boleh membawanya pulang... hyung?"

.

.

.

.

.

~TBC

A/n: FF macam apa ini? -_-

Terimakasih banyak buat kalian yang masih antusias menunggu dan membaca FF abal-abal nan PHP ku ini /deep bow/ kalian warbyasah \m/

Terimakasih untuk kritiknya, semangatnya, dan komen2 lucunya. My reviewer, my moodbooster 3

Btw, u can call me "Icha"/ "kak"/ "dek" :3 (i'm 92line). Jangan "author" lah, kayak apa aja.. jadi malu hahah..

Kepada saudari Reni, terimakasih sudah mengoprak2 aku buat posting. Udah persis rentenir dah :'D

Sepertinya masih banyak yang bingung sama cerita di chapter 1 ya? ^^'

Yg masih bingung, bisa cek penjelasannya di author's note chapter 1 ya.. udah aku edit

FF ini mirip sama FF lain? Itu cuma kebetulan ya. Namanya juga sama2 EXO-L, sama2 suka kdrama, jadi kalo ada kesamaan ide sedikit ya wajar.. tapi serius aku 100% gak plagiat kok ._.v aseli buah pikiran sendiri

Umur Baek berapa? Chanyeol kan pernah bilang ke Suho kalo Baek baru lulus kuliah. Nah, ya mungkin seumuran ama Chanyeol lah.. kurang lebih 24 tahun ^^

Fast update donk! Mangaaaap belom bisa.. huhu TT_TT selain punya kesibukan, ni otak emang rada lemot, eh lemot banget malah, hha.. (dan moody)

Oke! Well.. waktu yang aku habiskan buat mengetik FF ini gak sedikit loh.. jadi jangan siderin aku please~ :") review nya ditunggu.. thank you ^^v