A Baby ?
Author : bubbletea88
Main cast : Xi Luhan, Oh Sehun, and others
Warning! Lots of typo, M-PREG, YAOI, OOC and many more :"
.
.
"Appa jahat!"
"Mianhada— appa tidak bisa meluangkan waktu untuk kalian"
.
.
Author's POV
4 months have passed…
Pagi cerah, di musim gugur ini. Meskipun musim gugur, angin yang berhembus masih saja terasa dingin. Di rumah sakit yang cukup ternama di Korea, Luhan –pemuda berwajah cantik yang sedang berbaring itu sedang gelisah. Di sebelahnya ada pemuda bersurai coklat yang menggenggam tangan Luhan untuk menenangkannya.
"Chagiya— apa kau takut eoh?" Luhan hanya mengangguk. "Tenang saja— kau percaya dokter Shin itu ahli kan ?" Lagi lagi Luhan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Sehun.
"Kau itu" kata Sehun gemas sambil mengacak surai Luhan. Paling tidak Luhan bisa sedikit menaikkan kedua sudut bibirnya.
Ya, dokter Shin menyarankan agar Luhan melahirkan dengan operasi. Setidaknya itu mengurangi kemungkinan salah satu di antara mereka meninggal. Tentu saja akhirnya operasi yang dipilih.
"Aegya— beberapa jam lagi kalian akan keluar dari perut eomma, Chagiya— fighting!" kata Sehun menyemangati. Sehun mengecup bibir Luhan untuk menenangkannya. Niatnya hanya mengecup, namun Luhan menahan tengkuk Sehun untuk memperdalam ciumannya.
"Mmh.. sudah cukup Luu.." kata Sehun dalam ciuman itu. Pasokan oksigen dalam paru paru mereka menipis, terpaksa ciuman itu harus di hentikan.
"Ne, gomawo Sehunnie—" kata Luhan. "I have to give birth to this twins, thankyou for support me"
Sehun hanya tersenyum tulus sambil mengusap perut besar Luhan. sejak 2 minggu yang lalu Luhan sudah berada di rumah sakit ini, untuk berjaga-jaga saja. Dan khusus untuk hari ini, Sehun libur bekerja.
Terlihat seorang pria bertubuh cukup gempal dan memakai kacamata, tak ketinggalan jubah putih dan panjangnya itu. Dokter Shin. Pria gempal itu selalu murah senyum. Lihat saja belum berbicara sepatah kata apapun dokter Shin sudah tersenyum duluan melihat sepasang suami-istri ini.
"Eotte ? Sudah lebih tenang ?" tanya Dokter Shin. Luhan mengangguk. "Sekitar jam 8 nanti kau akan masuk ruang operasi, arraseo ?"
Luhan melirik jam yang ada di dinding. Jam tujuh lewat 28 menit. 'setengah jam lagi' batin Luhan. "algeuseumnida uisanim, gamsahamnida" kata Sehun sopan. "Kau gelisah eoh?"
"Eum—" kata Luhan lucu. Ya anak mereka kembar, yang membuatnya spesial adalah..
Bayi mereka kembar laki-laki-perempuan
Entah mirip siapa nanti, yang jelas jarang ada kelahiran bayi kembar berbeda kelamin.
Dan yang tahu soal ini hanya Sehun juga Luhan, kedua orangtua mereka sama sekali tidak tau.
.
Skip Time
.
Pusing. Luhan mengerjapkan matanya heran, sedikit pusing dan mengantuk. Tapi dia masih bisa melihat ada dokter Shin dan Sehun yang tersenyum di sebelahnya. Luhan masih mengerjap, matanya belum bisa fokus melihat. "Pu-pusing.." kata Luhan, suaranya serak.
"Ah, gwaenchana Luhan-ssi, itu hanya efek sementara dari obat bius tadi, kau harus minum banyak setelah ini— karena kau belum minum dari jam delapan tadi" kata Dokter Shin. "Oh ya, Sehun-ssi juga ikut melihat operasi tadi lho"
Sehun terkekeh sendiri. Luhan ikut tersenyum mendengarnya. "Mereka sangat lucu, Chagiya— kurasa mereka lebih mirip denganmu"
"Kalau begitu, kutinggal dulu ne?" kata dokter Shin.
"Ah Ne, gamsahamnida uisanim" kata Sehun sambil membungkuk.
Sehun membantu Luhan untuk mendudukkan dirinya di ranjang rumah sakit ini. "Dengarkan kata dokter tadi? Kau harus minum banyak"
"Nee—" kata Luhan lucu. "Apa kau sudah memberi nama mereka ?" tanya Luhan. Sehun menggeleng,
"Apa kau tidak takut melihat banyak darah eoh ?" tanya Luhan sambil meminum air mineral dari sedotan.
"Awalnya, takut" kata Sehun. "Tapi, bayi-bayi itu menangis dengan keras sehingga mengalihkan perhatianku. Mereka sangat keras jika menangis" adu Sehun.
"Aku tak sabar melihat mereka" kata Luhan.
Selang beberapa jam kemudian, ketika Luhan sedang tidur. Seorang suster masuk sambil membawa boks yang biasa ada di rumah sakit untuk bayi. Boks kali ini tentu cukup besar, karena membawa dua bayi sekaligus. "Tuan Oh, ini bayi-bayinya" katanya ramah. Sehun tersenyum sambil mengangguk. "Bayi kembar anda sehat, Chukkhae" lanjut suster itu.
Suster itu keluar. Sehun tersenyum kecil saat melihat dua bayi di boks itu menguap bersamaan. Yang laki-laki di balut oleh selimut berwarna biru. Sedangkan yang perempuan, di balut oleh selimut berwarna merah muda.
Sehun masih belum tega membangunkan Luhan dari tidurnya. Jadi Sehun memutuskan menggendong bayi berbalut selimut pink itu.
Ah, yang lahir duluan adalah yang laki-laki. Sedangkan yang sedang di gendong Sehun adalah yang terakhir. Jadi— yang perempuan adalah kakak untuk yang laki-laki.
"Hmm—" kata Sehun saat melihat bayi di gendongannya. Pipi tembam yang merah, hidungnya kecil. Persis Luhan.
"Sehunhh" panggil Luhan sambil mendudukan dirinya.
"Eo ? Kau sudah bangun ?" tanya Sehun sambil meletakkan bayi itu lagi. "Lihat, bayi bayi ini lucu kan ?"
Luhan yang tadinya masih terkantuk-kantuk, menjadi bangun sepenuhnya setelah melihat kedua bayi yang ada di boks itu. "Wah—"
"Kau mau memberinya nama ?" tanya Sehun sambil menunjuk bayi laki-laki itu.
Luhan mengangguk. "Kau memberi nama yang perempuan oke ?"
Sehun mengangguk. "Nana, Oh Hanna—"
"Nama yang lucu Sehun-a, hmm— yang ini.. Oh Manse," jawab Luhan cepat. "Karena Han sudah potongan dari namaku, gantian Se dari potongan namamu" jawab Luhan.
Selain itu, Manse juga berarti 'long life' sedangkan Hanna. Entahlah— Sehun hanya suka dengan nama itu.
"SEHUN-A, eotte-? Wah ini bayi kembar kalian ?" tanya eomma Sehun yang heboh. "Kalian sudah memberi mereka nama ?"
Luhan dan Sehun mengangguk bersamaan. "Oh Hanna, dan Oh Manse"
"Hanna dan Manse, nama bagus" kata eomma. "Hanna ? Apa dia perempuan ?" lanjutnya setelah ia menyadari.
"Ne, eomma mereka kembar berbeda kelamin" jelas Sehun sambil tersenyum.
"Wahh, daebak!" kata eomma sambil menggendong Hanna. Sedangkan Luhan menggendong Manse. "Tapi— kapan kau diperbolehkan pulang?"
"Besok eomma, tenang saja— kan ada Sehun" kata Luhan sambil terkekeh. Eomma dan Sehun asyik berbicara sementara Luhan menyadari bahwa bayi yang ada di gendongannya tersenyum kecil walau hanya sebentar.
"Berarti pemberian dari orangtua Luhan juga orangtua Sehun bisa dipakai, pakaian bayi perempuan dan bayi laki-lakipun sangat banyak" gumam Sehun.
.
.
Menjadi appa-eomma memang susah. Lihat saja hari kedua setelah ada bayi di apartemen. "Sehun-a, tenangkan mereka dulu, aku sedang membuatkan susu untuk mereka!" pekik Luhan dari dapur. Sehun masih berusaha menenangkan keduanya. Beruntung tak lama, Luhan datang dan membawa dua botol susu. Tentu saja, kan Luhan laki-laki, dia tidak bisa memproduksi ASI.
Ding~ Dong~
Bel apartemen mereka berbunyi. "Chankkaman!" teriak Luhan sambil tergesa-gesa keluar dari kamar bayi. "Ah, kalian" kata Luhan sambil mempersilakan mereka masuk. Chanyeol dan Baekhyun.
"Mana bayi-bayi itu hyung ?" tanya Baekhyun di susul Chanyeol.
"Memberi salam pun tidak, kebiasaan lamamu BYUN BAEKHYUN" kata Luhan kemudian terkekeh. "Di kamar dengan Sehun— ayo masuk"
"Baekhyun-a, Chanyeol-a, ini Oh Hanna—" kata Luhan sambil menunjuk Hanna yang membuka matanya.
"Wah, dia mirip sekali denganmu Hyung" kata Chanyeol sambil menggendong Hanna. "Annyeong Hanna-ya, Naneun Park Chanyeol, Chanyeol samcheon hahaha" kata Chanyeol. Entahlah, sepertinya Hanna dan Manse mengerti perasaan orang. Mereka ikut tersenyum jika ada yang tertawa di sekitar mereka.
"Yang ini Oh Manse" lanjut Sehun sambil membereskan botol-botol susu yang ada di meletakkannya di nakas. "Mereka terlalu mirip dengan Luhan, aih, aku sedikit iri hahaha" lanjutnya bercanda.
"Manse-ya annyeong" sapa Baekhyun lalu mengusap pipi tembam nan merah itu. "Aigoo— lihat pipi bulat ini," lanjutnya sambil menyentuh pipi merah Manse.
"Haa~ kami terlalu capek mengurus kedua anak ini" kata Sehun sambil duduk di sofa yang memang ada di kamar bayi. Chanyeol duduk di sebelahnya dengan Hanna yang hanya mengerjap imut di gendongan Chanyeol. "Chagiya, lihat Hanna terlihat sangat nyaman di gendongan Chanyeol"
"Eii— sudah waktunya kalian punya momongan hahaha" goda Luhan. Baekhyun memicing tajam. Entah hidung Baekhyun yang terlalu tajam penciumannya atau Luhan yang kurang peka, tapi Baekhyun mencium bau yang tidak enak.
"Aish— Manse buang air—" kata Luhan setelah menyadari Manse merengek. Luhan segera mengambil popok kain yang baru meletakkannya di sebelah Manse dan mulai melepas pakaian Manse.
"Kau terlihat profesional hyung" kata Chanyeol sambil terkekeh. "Lihat, Hanna menguap, aih, jeongmal yeppeo, mirip dengan Luhan"
"Nah, selesai!" kata Luhan sambil memasukkan popok kain yang kotor ke tempat pakaian kotor.
.
.
Oh Sehun's POV
Kata banyak orang punya anak kembar itu seru. Nyatanya ? hahaha, kami sedikit eh- tidak, sangat kewalahan di sini, padahal baru beberapa hari Hanna dan Manse di rumah. Astaga—
Aku masih memegang botol susu Hanna juga Manse menggunakan kedua tanganku saat Chanyeol dan Baekhyun hyung datang. Keduanya minum dengan cepat. "Kasian sekali, kalian kelaparan eoh?" tanyaku sambil terkekeh.
Tentu saja kami bercakap-cakap, bahkan Hanna sampai tertidur di gendongan Chanyeol hyung. Di Kamar bayi ini hanya ada satu boks yang cukup besar, juga 2 ranjang yang lumayan besar. Tadinya ranjang itu hanya ada satu, merah muda pula. Jadi kami memutuskan untuk membeli satu lagi.
Selama Hanna-Manse masih kecil, kami berdua akan tidur di sini, untuk apa ? tentu saja untuk berjaga jika mereka menangis malam nanti. Memang ini hari-hari terberat. Tentu saja besok aku sudah harus masuk bekerja. Abeoji menyuruhku untuk masuk karena client yang datang cukup banyak dan hari ini rekan kerjaku mengirimiku pesan, katanya mereka sampai kewalahan.
"Chagiya— besok aku akan telpon eomma untuk membantumu di sini. Oke ?" kataku sambil menatap Luhan. Malam ini, seperti rencana, aku dan Luhan tidur di kamar bayi. Kedua ranjang ini hanya di pisah oleh nakas.
Luhan mengangguk. "Ne, aku tidak sanggup jika mengurus mereka sendirian hahaha" kata Luhan sambil menunjuk boks besar di seberang kami.
"Himnae chagiya—" kataku sambil mematikan lampu kecil yang ada di meja nakas.
.
.
Seperti dugaan, tidak mungkin Hanna-Manse tidak menangis malam ini. Kira-kira jam 12 lewat 45, Hanna menangis karena lapar. Tentu saja aku yang bangun, aku tidak tega membangunkan Luhan. Dia tidur sangat nyenyak dan pulas. Beruntung Luhan sudah menyiapkan 3 botol susu di meja dekat boks.
"Nana-ya, Manse-ya, cepatlah besar ne ?" gumamku sambil melihat kedua bayi yang tidur dalam boks yang sama. "Jalja," kataku saat botol susu yang tadi aku berikan ke Hanna tinggal separuh botol. Kuat juga nafsu makannya. Hahaha, sama saja sepertiku.
Aku menguap kemudian berjalan menuju ranjang. Tapi aku berhenti saat melihat Luhan yang meringkuk kedinginan. "Hmm, Chagiya— jalja, gomawoyo" kataku sambil menyelimuti tubuh Luhan.
.
.
Author's POV
Paginya, di saat kedua bayi itu masih tidur dengan pulasnya, Sehun dan Luhan sudah kalang kabut sendiri. Karena Sehun hari ini harus ke kantor dan menyelesaikan semua tanggung jawab yang sempat di serahkan kepada sekretarisnya. Pagi tadi, subuh kira-kira, saham perusahaan tiba-tiba menurun drastis.
Tentu saja secepat mungkin, Sehun harus ke kantor. Luhan juga bangun karena harus menyiapkan sarapan juga beberapa botol susu bayi. Beberapa menit sebelum Sehun berangkat, eomma datang. Seperti yang sudah di rencanakan. Eomma akan datang membantu Luhan.
"Annyeong chagi," kata Sehun saat berada di dalam kamar Oh twins itu. "Kalian, Oh Hanna, Oh Manse— jangan nakal, hari ini halmeonni akan ikut merawat kalian, annyeong" kata Sehun lagi sambil mengecup kedua pipi bayi itu.
Sehun mengecup bibir Luhan dan melumatnya.
"Hei Se— Ah maaf, eomma sudah lancang— barusan sekretarismu menelpon lagi," kata eomma saat membuka pintu kamar.
Luhan hanya menunduk saat ketahuan berciuman dengan Sehun. Pipinya merona. Sehun hanya meringis saat pinggangnya di cubit oleh sang eomma.
"Eomma annyeong!" pekik Sehun sambil menyambar jas hitamnya lalu keluar apartemen.
"Aish anak itu— lupakan, aigoo" eomma beralih pada dua bayi yang masih tidur dengan pulasnya. "Hanna, dan Manse ?"
"Ne, eomma— nafsu makan mereka sangat besar, sama seperti Sehun" kata Luhan kemudian terkekeh. Eomma menggendong Manse.
"Dulu, saat Sehun masih kecil, ia merengek tengah malam, selalu begitu— bagaimana dengan si kembar ini ?"
"Ah, kemarin malam! Hanna yang merengek— Manse cenderung diam—" kata Luhan sambil mengusap pipi Manse. "Mereka lebih mirip aku atau Sehun ?"
"Mereka manis sepertimu, terlebih Hanna— aku yakin ia pasti akan sangat cantik nantinya" kata eomma. "Lihat mata bulat ini, juga dagu yang bulat. Aihh"
"Pipi tembamnya lebih mirip Sehun saat kecil, juga bibir mereka yang cenderung tipis" tambah Luhan.
.
.
Si kembar yang lahir pada 25 April 2013pada musim gugur dengan tangisan yang keras juga wajah damai bak malaikat; memberikan banyak kebahagiaan untuk keluarga kecil itu, beberapa bulan berlalu, tentu saja mereka banyak bertumbuh. Mengajarkan kepada Luhan dan Sehun untuk menjadi orangtua yang baik.
.
.
2015, March 02nd
Dua anak kecil. Dua pasang kaki pendek yang sengaja di hentak-hentakkan di tanah. Juga wajah mereka yang seperti kelelahan. Oh Hanna dan Oh Manse. Mereka sudah menunggu cukup lama di depan Myunghwa Pre-School. Keduanya masih nampak nyaman di kursi ayunan meski banyak orang berlalu lalang di depan keduanya.
"Hanna-ya, Manse-ya!" pekik seorang namja tinggi yang berbalut hoodie putih dan celana hitam selutut. Kedua anak tersebut langsung menoleh dengan cepat. Sesaat mereka masih berusaha mengingat namja tinggi yang ada di hadapan mereka.
Manse hanya mengerutkan keningnya, Hanna? Ia menatap namja itu dengan senyum. "Oh! Chanyeol-samcheon?" kata Hanna dengan gayanya yang lucu.
"Aigoo— Oh Hanna, kau semakin cantik eoh ? Manse-ya, kau tidak ingat aku siapa ?" tanya Chanyeol sambil berlutut menyamakan tingginya dengan kedua anak yang sudah turun dari ayunan.
"E-eh, bukan begitu," jawab Manse sekenanya.
"Kajja, ayo pulang— eomma kalian sudah menyiapkan makanan kesukaan kalian" ajak Chanyeol mengulurkan tangannya. Hanna menggeleng, sementara Manse langsung menyambut tangan Chanyeol.
Chanyeol terpaksa menggodanya sebentar dengan menggelitikinya dan mengajaknya main sebentar. "Ah— Hanna-ya, monsternya lelah, sudah ayo pulang!" kata Chanyeol sambil menggendong tubuh kecil Hanna dan Manse.
.
.
Ding~ Dong~
"Hanna Manse yeogiseoyo!" Teriak keduanya di depan apartemen kompak. Luhan hanya tersenyum sambil melepas celemeknya dan secepat mungkin membukakan mereka. "Kajja, masuk— ganti pakaian dan makan kentang goreng juga susu kalian" kata Luhan sambil mencium pipi keduanya.
"Arraseoyo umma" balas Hanna lalu melesat ke dalam kamarnya dan Manse.
"Chanyeol-a, gomawo— Bagaimana Baekhyun ? Apa bayinya kembar juga?" goda Luhan sambil menyuruh Chanyeol duduk dan meminum teh yang baru saja di seduh.
"Hyung, Baekhyun mual katanya, ia juga pusing" kata Chanyeol.
"Pabboya, itu memang gejala hamil" hardik Luhan.
"Hehe," Chanyeol hanya tertawa. "kami belum check up di bulan ke lima ini, semoga saja bukan kembar"
Luhan tertawa. "Memang repot, tapi lihat— Hanna dan Manse bahkan sudah bisa mengganti pakaiannya sendiri, mereka cepat bertumbuh Chanyeol-ah"
Oh ya, usia Hanna-Manse sekarang 1 tahun 11 bulan. Mereka sengaja di ikutkan Pre-school, agar mereka bisa bersosialisasi dan belajar. Walau 1 tahun 11 bulan, mereka sudah bisa makan dan berganti pakaian sendiri.
Hanna, Oh Hanna. Dia menjadi mirip Luhan, matanya bulat wajahnya bak malaikat. Senyumnya bahkan sudah menjadi senyum favorit Chanyeol. Hanna bersikap lebih dewasa daripada Manse.
Manse, Oh Manse. Manse memang lebih kekanakan jika di banding nunanya, Hanna.
Walau berbeda kepribadian, tontonan kartun mereka kurang lebih sama. Porroro, ya tentu saja—
Bahkan sekarang, Hanna dan Manse duduk diam di kursi dan memakan kentang goreng mereka sambil meminum susu favorit mereka dan di temani Porroro. Bagi Hanna, suss stroberi. Bagi Manse, susu pisang.
"Mereka sudah bertumbuh sekarang, bahkan Hanna sudah bisa lebih waspada" kata Chanyeol lalu meminum tehnya.
"Oh ya ?" tanya Luhan.
"Tadi saat kuajak pulang ia tidak mau, padahal Ia tau jika aku Chanyeol" cerita Chanyeol. "Hanna-ya, aku minta satu. Aaaa~" goda Chanyeol. Hanna menggeleng cepat.
"Mokjima.." kata Manse sambil merengek lucu.
"Aish, dasar—" hardik Chanyeol. "Oh ya Hyung, apa Sehun lembur ? aku ingin titip pesan, bilang padanya; jika bisa hari Sabtu di café biasanya jam 4 sore. Oke ? Gomawo sebelumnya" jelas Chanyeol panjang lebar.
"Eum.. dia berangkat pagi dan selalu lembur, aku khawatir padanya…" kata Luhan pasrah. "Oke, Baiklah— aku pulang dulu hyung, kasihan Baekhyun"
"Eum, annyeong— hati-hati, jaga Baekhyun baik-baik!" pekik Luhan sambil terkekeh sekilas.
"Eomma.." Panggil Manse.
"Appa pulang cepat tidak hari ini ?" lanjut Hanna. Hanna maupun Manse seakan menatapnya penuh harap. Berharap ayahnya segera pulang dan bermain bersama mereka. Beberapa bulan ini kantor Sehun sedang di alami krisis yang cukup berat.
"Eomma juga tidak tau sayang" kata Luhan sambil mengusap kedua pipi anaknya itu. Wajah Hanna dan Manse berubah. Awalnya antusias, tapi yaa begitulah. "Jangan sedih ne ? Nanti eomma coba hubungi appa, arrachi?"
"Eung!" kata Manse sambil mengunyah kentang gorengnya.
"Anak pintar. Jjang! Setelah ini, kita pergi yuk ? Ke kantor appa ?" tanya Luhan.
Hanna mengangguk. "Hanna sudah selesai makan, ayo kita berangkat!"
"Aniya, mandilah dulu, Manse-ya, mandi sana" kata Luhan sambil membereskan peralatan makan keduanya.
"Arraseo Umma!" pekik keduanya lalu melesat ke kamar mandi. Sementara Luhan tersenyum melihat kedua anak kembar itu lalu menyusulnya.
.
.
"Ne, kau urus dulu, edit ulang lalu berikan padaku, biar aku yang tandatangan!" kata Sehun tegas. Ya— pemuda bermarga Oh ini sedang sibuk-sibuknya di kantor. Karena ini termasuk musim anak sekolah libur, Sehun sedikit kekurangan karyawan karena banyak yang cuti.
"Aish, apa dia cuti ?" tanya Sehun pada sekretarisnya.
"Ne sajangnim, apa perlu kuhubungi ?" tanya sekretarisnya. Sehun hanya mengangguk.
"Ta-tapi jika ia tidak bisa sudahlah, biarkan" kata Sehun lalu kembali ke ruangannya.
Berantakan. Ruangan dengan desain mewah ini cukup berantakan. Meja di dekat sofa penuh dengan kertas juga ada secangkir kopi yang di biarkan dingin oleh sang pemilik ruangan. Begitu halnya dengan meja kerjanya. Kertas-kertas berserakan, tumpukan map dan buku, juga pulpen.
Sebenarnya, tadi Sehun berencana membereskannya tapi saat melihat waktu yang ada tidak banyak, Sehun jadi kalang kabut. Aish— Sehun bersandar sejenak ingin mengistirahatkan tubuhnya. Semalam ia pulang hanya untuk mengambil berkas penting kemudian kembali lagi. Ya – ia tidak tidur, sama sekali tidak.
Tok Tok!
Sehun membuka matanya dan membiarkan suara ketukan pintu itu.
TOK TOK TOK TOK TOK!
Karena bertambah keras, Sehun mengerutkan kening kemudian membuka pintu ruangannya. "Ada a— eh ? Kalian ?"
"Annyeong hasseyo appa!" teriak Manse yang memakai kaos biru dengan gambar paus yang di padukan dengan celana pendek putih juga sepatu hitam. Hanna terlihat cantik dengan baju terusan dengan lengan pendek berwarna dan bergambar sama dengan Manse.
"Annyeong Sehun-sajangnim!" goda Luhan sambil tersenyum.
"Masuklah" kata Sehun sambil memeluk pinggang Luhan. "I miss you chagiya" goda Sehun saat pintu ruangannya sudah tertutup, ia memotong jarak di antaranya dan Luhan sambil mengembuskan napas di ceruk leher Luhan.
"Sehunh.. ada Manse dan Hanna, lepas!" pekik Luhan kegelian saat Sehun menggelitik pinggangnya. "Aish—"
"Appa janji kan hari Minggu besok kita ke taman bermain ?" tanya Hanna sambil membawa boneka unicorn kesayangannya.
"Aku tak sabar naik kuda-kudaan!" pekik Manse senang. Keduanya menatap Sehun penuh harap.
"Hanna-ya, Manse-ya— jeongmal mianhae, Appa tidak bisa menemani kalian.."
" Appa.." Manse hanya mendesah kecewa
"Appa jahat!" pekik Hanna sambil lari ke arah Luhan. "Eo-eomma, a-appa ja-jahat!" katanya sambil terisak.
TBC!
Hahaha gimana ? ngelantur ya ceritanya ?
Haduh kok rasanya tambah payah ya ceritanya ?
Maaf kali di chap kali ini nggak ada NC-nya, banyak typo dll karena gaada feel karena besok harus ujian praktek .-.
But, Thanks to :
Novey | Kim YeHyun | hanhyewon357 | RZHH 261220 II | Hun.K Salvatore | Maple fujoshi2309 G.A.N | hunhan1220 | oh chaca | guest | someonelahhh | lisnana1 | Luhahanie | ChagiLu | y00ra
Last but not least,
Mind to review ?
Your review is important to me^^
Thankyou for reading this failed fict
