Disclaimer: Hunter x Hunter masih belum milikku. Kalau udah jadi milikku, Gon bakal jadi cewek, mhuahahahaha! *ah, maaf, sisi lainnya author keluar secara tidak sengaja*
CHAPTER 2
Killua menatap sekelilingnya dengan bosan. Ia berpikir ujian Hunter yang selama ini didengarnya dari Ayahnya adalah sesuatu yang hebat, sulit, dan penuh tantangan. Namun melihat orang-orang yang berada di sekitarnya, kemungkinan besar ayahnya hanya melebih-lebihkan ceritanya.
Killua berbalik saat merasakan seseorang mendekatinya. Dilihatnya seorang laki-laki pendek yang agak gemuk membawa beberapa kaleng jus jeruk berjalan ke arahnya.
"Hei, siapa namamu?" laki-laki itu menyapanya terlebih dahulu.
"Sebelum kau menanyakan nama seseorang, sebaiknya kau memperkenalkan dirimu terlebih dahulu." Killua menjawab dengan dingin.
"Ah, kau benar. Aku Tonpa." Jawab laki-laki itu.
"Namamu seperti nama sebuah senjata." Komentar Killua.
"Itu Tonfa!" jawab Tonpa dengan nada yang agak tinggi. Namun tiba-tiba ia kembali ke nada bersahabatnya. "Kau mau jus?" tanyanya sambil mengulurkan sekaleng jus pada killua.
Killua tersenyum dalam hati. Ia sudah melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang meminum jus itu sejak tadi. Namun ia tak peduli. Killua mengambil beberapa kaleng jus yang diberikan Tonpa, membukanya, dan meneguknya sampai habis. Dilihatnya Tonpa menatapnya sambil ternganga.
"Kenapa? Kau heran? Jangan khawatir, racun tak akan bisa membunuhku." Jawab Killua sambil menyeringai. Tanpa ragu lagi, Tonpa segera menjauh dari Killua.
##
Gon, Kurapika, dan Leorio menatap bangunan di depannya dengan tak percaya.
"Hei..hei..yang benar saja. Kapten itu mengirim kita ke sebuah restoran?" Tanya Leorio.
Gon tak menjawab pertanyaan Leorio dan berjalan masuk ke dalam restoran itu. Kurapika dan Leorio tak punya pilihan lain kecuali mengikutinya.
Kring…kring…
Seorang pelayan bergegas menyambut mereka ketika mereka memasuki restoran itu.
"Anda sudah memesan tempat sebelumnya Tuan-tuan dan Nona?" Tanya pelayan itu.
"A..ano… kami kesini karena seseorang menyuruh kami." JAwab Gon dengan ragu.
"Bolehkah kami tahu siapa dia, nona?"
"Seorang Kapten kapal."
Ekspresi pelayan itu berubah. Dari senyum bisnis menjadi wajah serius. "Bisakah anda memperlihatkan buktinya?"
Gon memberikan secarik kertas yang sebelumnya diberikan oleh Kapten kepada pelayan itu. Kurapika dan Leorio menatap heran, tak menyangka dengan perkembangan baru ini.
Pelayan itu kembali ke wajah senyum bisnisnya. "Wah..wah.. sudah lebih dari 7 tahun kapten itu tak mengirim siapapun ketempat ini. Kalian pastilah istimewa." Dia melambaikan tangannya dan seorang pelayan lain bergegas ke arahnya.
"Tolong antarkan Tuan-tuan dan nona ini ke tempat itu." Perintahnya pada pelayan yang baru datang itu.
Pelayan itu mengangguk. "Silahkan ikuti saya, Tuan-tuan dan Nona."
Gon akan mengikuti pelayan itu ketika merasakan seseorang memegang tangannya. "Kurapika?" Gon menatap Kurapika dengan pandangan heran.
"Kau yakin ini aman Gon?"
"Tentu Kurapika. Kapten itu tak mungkin merencanakan sesuatu yang buruk pada kita, aku yakin."
Kurapika melepaskan pegangannya pada Gon. "Baiklah, jika kau begitu yakin pada kapten itu, kali ini aku akan mengikutimu."
Gon tersenyum. "Bagaimana denganmu, Leorio?"
Leorio mengangkat bahunya. "Pilihan apa yang kupunya? Toh aku juga tak punya rencana khusus."
Gon menggandeng tangan Kurapika dan Leorio. "Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu?" gon segera menarik mereka berlari mengikuti palayan yang telah lebih dahulu berjalan.
"Hmm..mereka memang menarik, pantas saja dia mengirim mereka kesini." Pelayan yang pertama kali menyambut mereka menatap kepergian mereka dengan senyum.
##
Gon, Kurapika dan Leorio dikirim ke sebuah ruangan kecil. Di ruangan itu terdapat sebuah meja dengan beberapa kursi, sementara diatas meja itu telah disiapkan hidangan lengkap yang masih mengepulkan asap.
"Silahkan nikmati hidangan anda, Tuan-tuan dan Nona. Perjalanan akan memakan waktu sekitar setengah jam." Pelayan itu berkata dengan nada resmi.
"Perjalan kemana?" Leorio bertanya ketika dilihatnya pelayan itu akan menutup pintu.
Pelayan itu menatap Leorio dengan wajah heran. "Tentu saja untuk ujian Hunter, Tuan." Ia membungkuk sekali lagi sebelum menutup pintu.
Segera setelah ia menutup pintu, ruangan itu terasa bergerak. Kurapika dan Gon duduk di kursi yang telah disediakan, sementara Leorio berjalan kearah meja dengan ekspresi kesal.
"Hunter? Apa itu?" Gon bertanya ekspresi polos setelah mereka menghabiskan hidangan yang disediakan di atas meja.
"Aku juga tidak yakin Gon." Kurapika menjawab. "Kupikir Hunter itu hanyalah legenda."
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu bahwa Negara kita punya organisasi agen rahasia yang menjaga keamanan Negara secara diam-diam bukan?"
Gon menggeleng. "Bukankah menjaga keamanan adalah tugas polisi?" tanyanya lagi.
"Benar. Tapi ada juga musuh yang tak bisa dikalahkan polisi karena mereka lebih pintar dan lebih kuat dari penjahat biasa. Nah, Hunter adalah orang-orang yang bertugas menjaga keamanan tersebut secara diam-diam. Sekarang aku paham kenapa kapten itu berkata bahwa mungkin impian kita akan tercapai jika kita mengikuti ujian ini." Kurapika menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Karena Hunter adalah pasukan elit diantara yang elit. Mereka diberi dana tak terbatas, akses ke tempat-tempat khusus, dan izin membunuh." Kali ini Leorio yang menjawab.
Kurapika mengangguk kembali. "Itulah kenapa hunter lebih seperti legenda daripada nyata. Mereka dikabarkan sangat kuat, sehingga satu orang hunter bisa menghabisi penduduk 1 kota bahkan tanpa menitikkan keringat."
"Hooo…" hanya itu reaksi Gon. "Oh, ngomong-ngomong Kurapika, Leorio, kalian merasakan arah ruangan ini bergerak selalu berubah-ubah bukan? Kira-kira kemana kita akan dibawa ya?"
"Sebelumnya kita bergerak menurun, kemudian mendatar, menurun, dan sekarang kembali mendatar." Kurapika melirik jam yang ada di dinding ruangan itu. "Jika perkataan pelayan itu benar, seharusnya sekarang kita sudah sampai."
Tepat saat Kurapika menyelesaikan perkataannya, ruangan itu berhenti bergerak. Pintunya terbuka dan mereka bertiga segera keluar.
"Ruangan bawah tanah?" Gon kembali bertanya dengan heran.
##
Tonpa menatap 3 orang pendatang baru itu dengan ekspresi licik. Dilihat dari penampilan mereka, pendatang baru itu bukanlah orang-orang yang kuat. Seorang gadis remaja dengan wajah lembut dan rambut hitam, seorang gadis lagi dengan rambut kuning keemasan, dan seorang laki-laki paruh baya. Kombinasi yang aneh, Tonpa berpikir saat menatap mereka. Ia memutuskan bahwa aman untuk mendekati orang-orang baru ini.
"Hai, kalian orang baru?" sapanya.
Ketiga orang itu serentak menatap ke arahnya. Tonpa mengeluarkan kaleng-kaleng jus andalannya. "Aku Tonpa. Kalian mau jus?"
"Wah, terima kasih." Leorio mengambil satu kaleng dan diikuti oleh Kurapika dan Gon. Tonpa memperhatikan mereka dengan harap-harap cemas. Perhatiannya terfokus kepada Kurapika dan Leorio yang akan meminum jus itu, namun perhatiannya teralih saat ia melihat Gon memuntahkan jus itu kembali.
"Tonpa-san, sepertinya jus mu sudah kadaluarsa. Rasanya aneh." Gon berkata sambil berusaha mencari expired date di kaleng jus itu.
Tonpa mengalihkan pandangannya kepada Kurapika dan Leorio yang juga sudah menuangkan jus mereka ke tanah. "E-eh? Be-benarkah?" Tonpa menjawab dengan nada gugup.
"Un." Gon mengangguk. "Untung saja aku yang lebih dahulu meminumnya. Aku sudah terbiasa mencoba berbagai jenis tanaman, jadi aku bisa membedakan rasa dengan mudah." Jelas Gon.
"o-oh.. begitu.."
Seorang (atau seekor?) makhluk seperti gel hijau mendekati Gon, Kurapika, dan Leorio.
"Hai, kalian yang terakhir. Ini nomor kalian, jangan sampai hilang." Ia memberikan tiga buah plat nomor pada mereka. Leorio mendapat 403, Kurapika 404, dan Gon 405.
Kriiiing!
Tiba-tiba terdengar suara alarm yang keras. Seluruh peserta ujian yang berada disana menoleh kea rah sumber suara. Ujung lorong yang sebelumnya tertutup, kini terbuka menampakkan seorang laki-laki paruh baya dengan kumis dan pakaian resmi memegang sesuatu yang mengeluarkan suara alarm tersebut.
"Baiklah. Ujian akan dimulai sekarang. Aku Satotz, penguji pertama kalian. Yang harus kalian lakukan hanyalah mengikutiku sampai ke tempat ujian babak kedua. Itupun kalau kalian bisa melakukannya."
Tanpa menunggu reaksi apapun, Satotz langsung membalikkan badannya dan mulai berjalan.
Peserta yang lain segera mengikutinya. "Psst…hanya ini ujiannya? Tak kusangkan akan semudah ini." Bisik-bisik mulai terdengar.
"Dasar bodoh." Batin Tonpa. "Ini baru dimulai."
##
"Sudah 4 jam kita berlari, perkiraan jarak yang kita tempuh mungkin sudah 60 kilometer." Kurapika bergumam.
"Eeeh? Sudah sejauh itu?" Leorio menatap Kurapika yang berlari disampingnya. Ia sudah mulai kelelahan dan kehabisan napas.
Rrrrt…rrrtt..
Leorio menatap kaget seorang remaja laki-laki dengan rambut putih keperakan yang dengan santainya mengayuh skateboardnya.
"Oi..teme! Kau tak boleh curang! Ini adalah ujian daya tahan tahu!"
"Kata siapa?"
TWITCH!
"Oi..oi…" Leorio bertambah kesal saat melihat ekspresi datar anak itu.
"Dia benar Leorio." Gon tiba-tiba sudah berlari disamping Leorio. "Penguji itu hanya berkata agar kita mengikutinya."
"Gon, kau sebenarnya dipihak siapa, hah?"
"Leorio, sebaiknya kau simpan tenagamu untuk berlari. Lagipula teriakanmu mengganggu konsentrasi orang-orang yang berlari." Kurapika muncul di sisi lain Leorio.
Gon tersenyum saat melihat korban teriakan Leorio. "Hei, kelihatannya kita seumuran. Aku Gon, 15 tahun. Siapa namamu?"
"Killua. 15 tahun." Killua menjawab pendek. Ia menatap Gon yang sedang berlari disampingnya, lalu tiba-tiba melompat dari skateboardnya dan menangkap skateboard itu. "Kurasa aku juga akan berlari."
"Woow.. Kakkoi… " Gon menatap dengan kagum.
##
Beberapa puluh kilometer kemudian, akhirnya mereka bisa melihat pintu keluar.
"Yaay! Akhirnya!" Gon melompat dengan riang. "Ne, Satotz-san, apakah ini tempat ujian babak kedua?" Gon bertanya sambil mengamati pemandangan diujung lorong tempat mereka keluar.
"Tidak." Satotz menjawab sambil menatap Gon dengan penasaran. "Kita masih harus melintasi daerah rawa ini terlebih dahulu sebelum sampai di lokasi ujian babak kedua."
"Oooh…" Gon menatap kearah daerah yang terlihat seperti padang rumput yang diselimuti kabut yang terbentang dihadapannya. "Kita akan berlari lagi? Sepertinya menarik. Apakah disini ada hewan-hewan liar?"
Satotz lagi-lagi menatap Gon dengan penasaran. Gadis macam apa yang sudah berlari selama beberapa jam namun tak meneteskan keringat setitikpun? Dan ditambah lagi dengan sikap riangnya, seakan ujian ini tak menimbulkan tekanan apapun padanya.
Satotz baru akan menjawab pertanyaan Gon, namun tiba-tiba terdengar teriakan.
"Jangan dengarkan ia! Dia adalah seorang penipu!" Seorang laki-laki yang dipenuhi luka muncul entah darimana, berteriak sambil menunjuk ke arah Satotz. "akulah penguji kalian yang sebenarnya!"
Kericuhan langsung terjadi pada kerumunan peserta ujian. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya. Seorang ninja dengan kepala botak berteriak pada Satotz, "Kau menipu kami?"
Satotz hanya diam.
"Dia adalah spesies monyet peniru!" Teriak laki-laki penuh luka itu lagi. "aku berhasil mengalahkan salah satu diantara mereka. Lihat ini!" Ia menarik lengan seekor monyet yang kelihatannya sudah mati. Monyet itu memang agak mirip dengan Satotz, karena mempunyai rambut, bentuk wajah, dan kumis yang sama.
Gon menatap Satotz dengan ekspresi polosnya yang biasa. "Ne, menurutku Satotz-san penguji kita yang sebenarnya."
"Gadis kecil, kau tahu apa?" gerombolan peserta ujian menatap Gon dengan ekspresi meremehkan.
"Terserah kalian, tapi aku akan mengikuti Satotz-san." Gon menatap kerumunan itu dengan tenang.
Kurapika dan Leorio berdiri disamping Gon. Mereka sudah memutuskan akan percaya pada Gon, karena sudah terbukti, Gon selalu benar, paling tidak sampai saat ini.
SWISH! SWISH!
Tiba-tiba laki-laki yang mengaku sebagai penguji yang asli itu terdiam. Di wajah dan sekujur tubuhnya tertancap beberapa kartu. Peserta yang lain segera mengalihkan pandangannya pada Satotz, yang memegang beberapa kartu ditangannya.
"Dengan begini, masalah terselesaikan bukan~~?" Seorang laki-laki dengan penampilan seperti badut berdiri sambil menjilat sebuah kartu. Di dadanya tertempel nomor tag 44. "Penguji pada ujian hunter adalah seorang hunter yang bersedia menjadi penguji tanpa dibayar. Kesimpulannya mereka adalah hunter professional, dan bukan amatiran biasa~~."
"Terima kasih atas penjelasannya, namun jika kau menyerang penguji sekali lagi, maka kau akan didiskualifikasi." Satotz berkata sambil membuang kartu yang dipegangnya.
"Hai~~hai~~" Badut itu berkata dengan nada malas-malasan.
"Woow… dia hebat." Gon menatap badut itu dengan kagum. "Ne, Kurapika, bagaimana kartu itu bisa menancap? Bukankah kartu itu terbuat dari kertas? Siapa badut itu?"
Kurapika menatap Gon dengan heran. Gon sama sekali tidak terlihat terpengaruh dengan pembunuhan yang baru saja disaksikannya. Ah, well, yang dibunuh memang bukan manusia, tapi tetap saja, sebagai seorang gadis, tidakkah ia merasa takut?
"Ia Hisoka, dan ia berbahaya." Tonpa yang berdiri di dekat Kurapika menjawab pertanyaan Gon. "mengapa kartu itu bisa menancap? Itu pastilah karena kemampuannya." Tambah Tonpa. "dan jangan panggil ia badut, ia adalah seorang magician."
"Hooo…" Gon menatap Hisoka yang sedang asyik mengocok kartunya. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Satotz. "Jadi, apa jawaban pertanyaanku tadi, Satotz-san?"
"Daerah ini disebut Rawa Numere, atau Rawa Penipu. Daerah ini selalu berkabut, karena itu kalian harus mengikutiku atau kalian akan tersesat dan menjadi mangsa penghuni rawa ini." Jelas Satotz, bukan hanya pada Gon, namun juga pada perserta lainnya. "Masih banyak makhluk-makhluk seperti monyet tadi, yang bersembunyi di rawa dan menunggu mangsanya. Perlu kalian ketahui, panitia ujian tidak akan bertanggung jawab atas kematian ataupun luka-luka yang terjadi pada ujian ini. Kalian telah diperingatkan dan pasti tahu tentang resiko mengikuti ujian ini bukan?"
Glek. "Kematian?" Gumam Leorio.
"Kau mau mundur?" Tanya Kurapika saat melihat ekspresi ragu Leorio.
"Tidak." Leorio menjawab pendek. "Aku butuh uang." Leorio mengepalkan tangannya. "Inilah satu-satunya jalan yang tersedia saat ini. Lagipula, aku tak akan mati semudah itu."
Gon tersenyum mendengar jawaban Leorio. "Itu baru semangat, Leorio!"
"Che, kau banyak bicara, ossan." Killua yang mendengar Leorio berkomentar pedas.
"Oi teme! Aku bukan 'ossan'! aku masih 18 tahun!" Teriak Leorio dengan emosi.
Perhatian peserta yang sedang berkumpul teralih. Mereka menatap Leorio dan berteriak bersamaan, "Tak mungkin!"
##
"Leorio…" Gon berusaha menyapa Leorio yang masih kesal karena kejadian tadi.
Saat ini mereka sedang berlari di rawa-rawa yang tanahnya lembab. Tentu saja, dibandingkan berlari diatas lantai yang keras, berlari di tanah yang lembab lebih meghabiskan tenaga.
"Biarkan saja Gon." Kurapika yang berlari disamping Gon tersenyum menatap Gon. "Ia tak akan diam selamanya."
Gon akhirnya diam. Mereka sudah berlari selama beberapa saat, dan dari tadi mereka sudah beberapa kali mendengarkan teriakan-teriakan dari arah belakang ataupun samping mereka, namun tak ada teriakan dari arah depan. Itu berarti Satotz memang mengetahui rute yang aman untuk berlari.
"Jika kalian ingin selamat, sebaiknya kalian berlari lebih cepat." Killua yang tiba-tiba saja muncul disamping Gon berkata dengan nada datar.
"Eeh? Kenapa?"
"Hisoka mulai tidak sabar."
"Tidak sabar untuk apa?"
Killua menjawab dengan kesal, "Sebaiknya kau berlari saja!"
Gon mengerucutkan bibirnya dengan kesal. "Aku kan hanya bertanya."
Killua tak menjawab. Ia hanya mempercepat tempo berlarinya. Melihat itu, Gon juga mempercepat temponya, namun tidak sebelum ia berteriak memberi peringatan pada Kurapika dan Leorio yang tertinggal dibelakangnya.
"Kurapika, Leorio! Killua bilang kita harus cepat jika ingin selamat!"
"Kami akan cepat jika kami bisa, bodoh!" terdengar sayup-sayup makian Leorio.
"Kau duluan saja Gon! Kami akan baik-baik saja!" sahutan Kurapika terdengar sesudahnya.
##
Gon terus berlari disamping Killua. Namun ia tak tenang, perasaannya mengatakan ada sesuatu yang salah terjadi pada Kurapika ataupun Leorio. Gon berhenti berlari. "Killua, sudah kuduga, aku tak bisa meninggalkan mereka dengan tenang. Aku akan kembali ke belakang." Gon tersenyum pada Killua sebelum berlari kearah yang berlawanan.
"Kenapa?" Gumam Killua.
"Karena mereka adalah temanku!" sahut Gon sebelum ia menghilang ke dalam kabut.
"Teman?" Killua menatap kepergian Gon dengan ekspresi bingung.
##
Sementara itu, sesuai perkiraan Killua, Hisoka yang bosan mulai bermain-main dengan peserta lainnya. Beberapa peserta yang kurang pintar melayaninya dan berakhir dengan sekujur tubuh tertusuk kartu.
"ah, sial." Umpat Leorio saat melihat mayat-mayat yang bertebaran dan Hisoka yang berdiri diantara tumpukan mayat itu.
"Leorio," bisik Kurapika. "kita tak akan bisa melawannya. Satu-satunya cara kabur ialah berpencar."
"Kapan?" balas Leorio.
"Sekarang!" teriak Kurapika dan ia langsung lari kearah berlawanan dengan leorio.
"Ara~~ kalian berusaha kabur? Aku suka tantangan~~" Hisoka berkata sambil (lagi-lagi) menjilat kartunya. Ia baru akan berjalan ke salah satu arah, saat terlihat bayangan didepannya.
"Aku tak ingin kabur seperti pengecut!" Leorio yang sudah memegang sepotong kayu berlari menyerang Hisoka.
"Aah~~ aku suka tatapan matamu~~" Hisoka menghindari serangan Leorio dengan mudah. Ia menghindar kearah belakang Leorio. Saat tangannya hampir menyentuh Leorio, seutas tali dengan kail pancing menghantam wajahnya dengan cukup keras. Hisoka mengalihkan wajahnya kearah sumber serangan itu.
"Gon!" Teriak Leorio dengan panik. "Kenapa kau kembali?"
"Untunglah aku tepat waktu." Gon bergumam sambil terengah-engah. "kau tak boleh melukai teman-temanku!" Teriaknya pada Hisoka.
Hisoka menatap Gon dengan tertarik. "Gadis kecil, apa kau menggunakan kail untuk menyerangku?"
Gon tak menjawab dan menyerang Hisoka kembali dengan kailnya. Namun Hisoka sudah memperkirakannya dan menghindar. Sama seperti pada Leorio, tiba-tiba saja ia berada dibelakang Gon, memainkan kunciran rambut Gon dengan santainya.
"Aku juga menyukaimu~~" Hisoka menggulung-gulung ujung rambut Gon dengan telunjuknya. Gon bisa merasakan Hisoka dibelakangnya, tapi tiba-tiba saja tubuhnya terasa kaku, tak bisa bergerak.
"Akan sia-sia menghabisimu sekarang~~" Hisoka berpindah dan dia berada di depan Gon. Ia mengangkat dagu Gon dengan jarinya. "Aku akan menunggumu matang, sebelum menghabisimu~~" Dia berkata dengan senyum.
"Teme! Apa yang kau lakukan pada Gon?" Leorio berlari dan kembali menyerang Hisoka. Kali ini Hisoka meninju wajah Leorio hingga Leorio terpental dan tak sadarkan diri. Hisoka mendekat kearah Leorio dan membopongnya seakan membawa sekarung beras.
"A-akan kau apakan Leorio?" Gon yang berhasil menemukan suaranya bertanya dengan nada gugup.
"Jangan khawatir, aku tak akan membunuhnya karena aku juga menyukainya~~" Jawab Hisoka. "Sebaiknya kau mulai berlari kembali, gadis kecil. Atau kau tidak akan sempat sampai di tempat ujian berikutnya~"
Gon masih berdiri dengan kaku. Baru setelah Hisoka menghilang dalam kabut, ia terduduk dan merasakan seluruh tubuhnya gemetar.
"Perasaan apa ini?" Gon bertanya-tanya sambil menatap tangannya yang masih gemetar.
Hello-hello, Cha disini…^^
Finally, chapter 2…
Thanks buat yang udah singgah, Nispedana dan Angchin-san..
Hontouni arigatou… *bow*
Chapter berikutnya gak akan dikasih judul lagi. Kenapa? Karena authornya gak punya ide buat judul-judulnya, hehe…
Anyway, enjoy it dan jangan lupa tinggalkan jejak…
