IF THE POLICE ASK

.

.

Written by Masaringo

Original Story

www asianfanfics com/story/view/969183/if-the-police-ask-agegap-exo-baekyeol

(ganti spasi dengan titik)

.

.

Jatuh cinta lewat lensa teleskopmu nampaknya terlihat tidak masuk akal, bahkan terlihat konyol. Terlebih lagi saat kau masih berusia 13 tahun. Tapi, jika seiring berjalannya waktu perasaanmu untuk seorang tetangga yang berusia tujuh tahun lebih tua darimu makin bertambah kuat, apakah itu masih juga dianggap cinta monyet?

Indo Trans

by Beescrescent75

.

.

.

Part 2

T/N : kalimat bercetak miring adalah Baekhyun's pov atau kata hati Baekhyun.

Ini terasa sedikit aneh, Baekhyun tidak melakukan apapun di hari ulang tahunnya. Ia biasanya akan merayakan hari itu, tapi tahun ini rasanya tidak ada minat untuk melakukannya.

Banyak sekali hal yang telah berubah, dalam setahun ini. Memikirkan kembali ulang tahunnya yang ke tiga belas, ia merasa sedikit... sedih. Sedikit...kesepian. Tentu saja, Luhan ada disana untuknya, tapi tetap saja.

Tahun ini, ia punya Chanyeol. Karena Baekhyun tidak menyebutkannya, bukan berarti ia tidak ingat akan hari ulang tahunnya, tapi tetap saja. Berada di dekat Chanyeol di hari spesialnya saja terasa sudah sangat cukup bagi Baekhyun.

Walaupun Baekhyun sudah memberitahukan pada mereka, kalau ia tidak menginginkan apapun di hari ulang tahunnya, Luhan dan Yixing tetap duduk dengannya di saat makan siang, dan mereka memberinya hadiah.

Yixing memberinya gantungan kunci kecil, cukup menggemaskan dan kebetulan mirip dengan Mr PB. Dan sungguh menghibur melihat Luhan cemburu akan hal sekecil itu, tapi Baekhyun sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Terlebih lagi saat ia membuka bungkus hadiah dari teman terbaiknya, dan menemukan sebuah lensa baru untuk teleskopnya.

Lensa miliknya telah rusak beberapa minggu yang lalu, ia secara tidak sengaja menjatuhkannya saat melihat Chanyeol bersiap untuk tidur. (karena, sebesar apapun usahanya untuk tidak kekanakan dan melihat Chanyeol lewat teleskopnya, ia masih saja tetap melakukan hal itu ketika tidak sedang bersama laki-laki itu. Well, dan ia sangat ingin melakukannya)

"Aku benci mengingatkanmu tentang obsesi mengerikan yang kau miliki, tapi aku tak tau hal lain yang bisa kuberikan untukmu." Luhan mengedikkan bahunya, sebuah senyum simpul terukir di wajahnya saat melihat betapa senangnya raut wajah Baekhyun dengan hadiahnya.

.

.

.

Mr PB telah tumbuh dengan sangat cepat sejak Baekhyun menemukannya. Anak anjing itu benar-benar hal paling menggemaskan yang pernah ia miliki, caranya berlari ke arah Baekhyun setiap saat ia kerumah Chanyeol adalah hal terfavoritnya sepanjang hari.

Baekhyun telah menyerah untuk mengabaikan hari ulang tahunnya di depan Chanyeol. Itu adalah kesalahannya karena merahasiakan hal itu, dan hal yang tidak disukainya adalah, saat Chanyeol merasa bersalah karena tidak mengetahui hari ulang tahunnya.

Ia berdiri mendengar sura mobil Chanyeol (itu adalah kesenangan barunya) melesat masuk ke jalan rumahnya.

Baekhyun pergi ke pintu depan rumahnya dan melihatnya keluar dari dalam mobil—sejenak terhipnotis dengan senyum menawannya. Momen ini berhasil membawanya ke memori awal mereka bertemu, laki-laki itu terlihat bersinar dari kejauhan. Dan ini juga membawa kembali kenangan yang menyedihkan, saat senyuman itu tak lagi nampak, dan keduanya adalah kenangan yang hangat di hatinya. Ia tidak bisa mengelak dari pemikiran kalau setidaknya ia menjadi bagian dalam bangkitnya Chanyeol dari keterpurukannya.

Apa yang tidak ia sangka adalah, saat muncul kepala lain dari pintu belakang mobil itu, Luhan yang tersenyum jahil sebelum akhirnya membantu pacarnya turun dari mobil, Xing tengah bersembunyi di balik sebuah box kue, dan keluar dari mobil.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Baekhyun masih kesulitan untuk memahami situasi ini, bahkan saat ia duduk di depan kue dan dinyanyikan lagu oleh tiga orang paling berharga dalam hidupnya. Luhan dan Yixing memeluknya dengan sangat erat setelah ia selesai meniup lilinnya, dan jika Baekhyun sedikit terharu dengan kebaikan teman-temannya, well, tak ada seorangpun yang bisa menyalahkannya, kan?

Chanyeol menggendong Mr PB, dan mendekatkannya ke wajah Baekhyun agar anak anjing itu bisa menjilati wajahnya. Ini sungguh sangat mengagumkan dan Luhanpun tidak bisa menyangkalnya. Chanyeol kemudian memeluknya.

Detak jantung Baekhyun serasa berhenti, karena merasa sangat gugup dan aliran darah serasa berkumpul di pipinya. Dan itu adalah sebuah pelukan yang sangat canggung, fakta kalau Chanyeol sekitar 40 cm lebih tinggi darinya. Dan juga Mr PB yang berada di tengah-tengah keduanya layaknya isi sandwich, makin menambah kecanggungan disana. Tapi ini adalah kontak fisik paling jauh yang pernah ia lakukan sejauh ini, dan Baekhyun rasanya rela mati karena sangat bahagia.

Ternyata Luhan adalah seorang aktor yang baik, dan mungkin juga teman yang baik, dan Baekhyun pernah beberapa kali mengakuinya. Luhan telah menceritakan pada Chanyeol tentang ulang tahunnya bebebrapa minggu yang lalu, dan ia telah merencanakan pesta ini jauh hari sebelumnya.

Baekhyun belum pernah selama hidupnya merasa tersakiti dengan persahabatannya dengan Luhan, bahkan semenjak temannya terlihat seperti terkhianati saat ia menemukan tentang obsesi Chanyeol pada video game.

"Kau tau! Kau menghabiskan berbulan-bulan untuk menyembunyikan seri game terbatas ini dariku! Teman macam apa kau ini?

Baekhyun hanya mengedikkan bahunya dengan acuh. Sebenarnya, ia tidak ingin Luhan mengetahuinya. Ia tidak ingin seorangpun mengetahuinya. Itu adalah rahasia mereka, Chanyeol dan dia, dan menemukan fakta kalau ia harus berbagi adalah hal yang membuat perutnya merasa tidak nyaman.

Sepertinya ia harus mulai terbiasa dengan hal itu.

.

.

.

Dan tak ter'elakkan lagi, saat ia mendapati pasangan itu di rumah Chanyeol setelah hari ulang tahunnya.

Yang pasti, Baekhyun belum merasa terancam, dan ada beberapa hal baik juga terkait dengan hal ini.

Sungguh menyenangkan melihat Luhan bersemangat dengan sesuatu, dan melihatnya berusaha mengajari pacarnya, adalah hal yang menyenangkan juga. Yang mana sebenarnya Yixing kurang tertarik dengan game, tapi masih tetap saja mengikuti Luhan kemanapun yang ia pergi, untuk bermain game.

Sungguh menyenangkan menghabiskan waktu dengan mereka tanpa menyadari kalau ia juga bersama Chanyeol. Sebenarnya ia telah sering mengabaikan teman-temannya sejak ia mulai menghabiskan waktu di rumah Chanyeol, lagipula Luhan sudah menjadi teman baiknya seperti yang tadi ia sebutkan, dan ia tau kalau Luhan mungkin sedikit agak kecewa padanya.

Ia masih punya beberapa waktu untuk sendirian saja dengan Chanyeol. Ia sudah terbiasa untuk melakukan beberapa hal hanya berdua dengan Chanyeol dan Baekhyun pikir ia tidak akan bisa bertahan tanpanya.

Suatu pagi, setelah temannya selesai menginvasi rumah Chanyeol, percakapan mereka pun berjalan sangat biasa dan natural diantara mereka.

"Jadi, teman-temanmu..." Baekhyun lalu mendongak ke arahnya, menyadari nada yang dipakai oleh Chanyeol mirip seperti nada penasaran yang digunakan ibunya saat ia ingin tau sesuatu—yang menarik. "Apa mereka...?"

"Aku tidak tau. Tidak pernah menanyakannya," Ia kembali fokus pada makanannya, tidak terlalu tertarik dengan topik itu.

Chanyeol terkejut mendengarnya. "Kau tidak pernah bertanya apakah temanmu sedang berpacaran?"

"Tidak. Itu sangat membuatku geli sebenarnya."

Ia menaikkan alis matanya saat Chanyeol tidak menjawab, melihat kearah raut tegang Chanyeol dalam bingung. Ia lalu menyadari apa maksud perkataannya tadi, dan benar saja, kenapa juga ia harus mengatakan hal seperti itu?

"Tidak, tidak, maksudku bukannya aku tidak peduli kalau mereka sangat gay! Maksudku bukan tentang gay! Maksudku—"

Chanyeol terlihat lebih rileks, dan tertawa sangat kencang mendengarnya. Dan Baekhyun menundukkan kepalanya di meja, sekilas menghindar agar kepalanya tidak menunduk pada makanannya.

"Aku bukan homohobic," Aku cukup gay, kau belum menyadarinya?

"Hanya saja aku telah mengenal Luhan sejak lahir dan aku tidak ingin memikirkan status hubungan pacaran mereka."

"Dan... Yixing, kan? Ia mencuri teman baikmu."Chanyeol menyelesaikan perkataannya, mengerti benar dari seringai yang ia tampilkan.

Bahkan Baekhyun tak mampu menyangkalnya. Luhan telah menjadi semua hal yang ia butuhkan selama ini. Ia bahkan menyimpan perasaan suka padanya beberapa tahun yang lalu, melupakan perasaan itu saat Luhan menceritakan padanya tentang tetangga baru mereka dengan raut wajah penuh semangat. Ia pernah mengalami patah hati, sedikit, pernah merasa kalau ia tidak akan menemukan orang lain yang akan menyukainya apa adanya. Dan sekarang, Yixing telah berada di antara mereka. Lagipula ia tau kalau Luhan juga menyukai Yixing, ia merasa tergantikan. Sangat tergantikan.

.

.

.

Chanyeol bekerja sampai larut dan Baekhyun merasa bosan. Tentu, ia sebenarnya bisa mencoba dan mengerjakan beberapa PR yang sudah ditundanya selama seminggu, tapi ia sedang tidak mood.

Jadi saat ibunya mengatakan kalau ia akan berkunjung ke rumah Mrs Lu, menurutnya itu bukanlah ide yang buruk untuk mengunjungi Luhan dari pada mengabaikan Luhan lagi.

Mrs. Lu memintanya untuk langsung ke lantai atas saat ia sampai, memberitahunya kalau anaknya dan Yixing sedang di sana.

Yixing juga disini. Kenapa ia tidak terkejut? Sejak pembicaraannya dengan Chanyeol pagi itu, ia telah diingatkan untuk tidak merasa tidak nyaman dengan Yixing. Yixing adalah orang termanis yang ia kenal, dan teman yang sangat baik, jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.

Ketika ia membuka pintu kamar Luhan, hal yang paling membuatnya tidak nyaman ternyata menyambutnya. Mereka sedang berciuman. Semacam... bertautan tangan sambil membelai wajah pasangannya, berciuman. Uhh... menggelikan.

Tapi tetap saja... itu terlihat manis. Itu tidak seperti saat melihat Chanyeol mencium Kyungsoo. Ia tidak merasa ingin menangis, atau semacamnya. Ia merasa sedikit senang, bersemangat untuk mereka. Seolah-olah adegan itu adalah chapter terakhir dan pasangan favoritnya di anime akhirnya bersatu. Hmmm... ya seperti itu.

Luhan dengan cepat menyadari kedatangannya, mendorong pacarnya menjauh sebelum melihat dengan malu-malu kearah Baekhyun.

"Menggelikan," Baekhyun tersenyum, merasa terhibur dengan memerahnya pipi mereka berdua.

Luhan lalu membentaknya, "Berhenti tertawa dasar mesum! Ini sangat menjijikkan. Tidakkah kau mengetuk pintu?"

"Kau harusnya belajar mengunci pintu, Lu." Baekhyun berjalan menuju rak buku, melihat sebentar sebelum mengambil sebuah komik. "Itu bisa saja ibumu. Dan itu akan lebih menggelikan. Bersyukurlah itu hanya aku."

Sambil merebahkan tubuhnya di kasur, Baekhyun bersandar di dinding, membuka halaman komiknya. Momen tenang itu tidak berlangsung cukup lama sebelum ia berteriak. "Tunggu! Apa kau... kau belum melakukan itu disini kan?"

Luhan melihatnya dengan tatapan membunuh, Yixing nampaknya hampir pingsan karena malu. Malah sebaliknya, Baekhyunlah yang sangat tertegun, punggung tangan Luhan mendarat di kepalanya sebelum ia sempat menertawakan mereka.

.

.

.

Setelah berjalan seperti biasa, akhirnya sekolah selesai juga. Beberapa hari terakhir di sekolahnya telah berlalu, dan kebebasan tidak pernah terasa semanis saat Baekhyun keluar dari sekolah untuk terakhir kalinya, dan tau kalau ia tidak harus datang ke gedung itu selama dua bulan ke depan.

Ia sangat senang karena sekolahnya berakhir, tidak ada lagi tes, bangun tidur di waktu yang tidak manusiawi, bertahan meghadapi teman kelas yang menyebalkan. Dan intinya, ia merasa sangat bersemangat. Ini akan menjadi musim panas pertama yang akan ia habiskan dengan Chanyeol.

Well, tidak sepenuhnya, tapi hampir seperti itu.

Ini akan menjadi musim panas spesialnya, ia dapat merasakannya.

Chanyeol menyelesaikan ujian akhirnya setelah sekolah Baekhyun tepat berakhir. Ia masih harus berkerja paruh waktu, tapi ia tetap menyisihkan waktu untuk bersama Baekhyun, dan kadang, bahkan ia juga menyisihkan waktu untuk teman-teman anak laki-laki itu.

Pertarungan game mereka telah berubah menjadi turnamen sejak saat itu, dan Baekhyun sangat yakin kalau Luhan ingin menghabiskan banyak sekali waktu untuk bermain game sebanyak mungkin, jika saja Chanyeol tidak harus pergi di sore harinya.

Chanyeol bercerita pada Baekhyun kalau ia dan teman-temannya biasanya pergi ke bar, untuk bermain-main, dan minum beberapa botol bir. Kadang kala mereka akan "mengusai bar", itulah istilah yang ia sebut, tapi menurutnya teman-temannya terlalu memalukan untuk menari di hadapan orang banyak.

"Kau akan mengalaminya juga. Dalam beberapa tahun ke depan, kau akan pergi dengan Luhan, percayalah padaku."

Ya, itu tidak akan terjadi. Kehidupan sosial seperti itu, bagi Luhan (dan juga Baekhyun maupun Yixing) sebenarnya sama sekali tidak ada, tidak ada sama sekali.

Baekhyun berjuang untuk melawan kerasnya hidup di daerahnya sendirian. Yang artinya ia akan menghabiskan setiap waktu kalau tidak dirumah Chanyeol maka ia akan berada di rumah Luhan atau Yixing. Ia mencoba sebisa mungkin untuk mendapatkan waktu dari kedua temannya.

Sebantar lagi, setelah musim panas berakhir, satu-satunya teman dan teman terbaiknya akan meninggalkannya untuk beranjak ke SMA.

Baekhyun sadar kalau itu hanya satu tahun sebelum akhirnya ia dapat menyusul mereka, dan faktanya ia masih akan bisa bertemu dengan mereka setiap hari, tapi tetap saja itu tidak akan sama rasanya. Ia telah menghabiskan setahun sendirian saat Luhan beranjak ke SMP, dan kenangan itu tidaklah menyenangkan.

Saat ini, Baekhyun bukanlah seorang yang sangat peduli tentang apa yang orang lain katakan tentang dirinya. Ia tidak akan membiarkan komentar-komentar bodoh itu mempengaruhi dirinya, terutama itu dibuat oleh remaja-remaja bodoh seumurannya. Tapi tetap saja, itu tidaklah menyenangkan untuk di dengar dan itu adalah hal diluar kendalinya.

Memangnya kenapa kalau ia terlihat feminim? Ia tidak jahat atau menyebalkan layaknya kebanyakan teman sekelasnya kan? Ia memang bersikap seolah menunjukkan kalau ia lebih baik dari semua teman sekelasnya, tapi itu memang benar. Ia cukup bangga dengan dirinya. Dan kedua temannya juga begitu. Dan juga Chanyeol, semoga saja. Baekhyun adalah seorang yang kuat, ia mampu mengatasinya. Dan ia memang harus. Ini hanya setahun, ia terus berkata pada dirinya sendiri. Hanya setahun.

Hal-hal telah berubah diantara mereka bertiga semenjak Baekhyun tau akan hubungan keduanya. Jika ia berfikir kalau mereka adalah pasangan yang anehnya imut, dan sekarang ini menjadi adalah sejuta kali lebih buruk. Ia bahkan tidak ingat kapan Luhan terakhir kali menatap pacarnya dengan tatapan sangat kagum di matanya, dan kapan terakhir ia melihat Yixing tampak sangat senang. Itu bukanlah perubahan yang buruk, harus ia akui, tapi tetap saja aneh.

Untungnya mereka mengurangi kedekatan mereka saat pergi kerumah Chanyeol, jadi Baekhyun punya alasan lain untuk mengunjunginya kapanpun laki-laki itu berada di rumah.

Inilah saat Baekhyun tau beberapa teman Chanyeol (bukan berarti ia belum bertemu dengan mereka, selain Kyungsoo, dan kini ia tidak yakin kalau Kyungsoo bisa dikategorikan sebagai teman Chanyeol lagi). Jongdae dan Yifan adalah orang yang baik, meskipun sedikit aneh saat mereka bertemu Baekhyun (terlebih saat mereka mengetahui umurnya), mereka berkenalan dengan cukup baik.

Luhan dan Yixing langsung sangat cocok dengan Yifan, karena memiliki kesamaan latar belakang kewarganegaraan, jadi mereka mudah berteman. Jongdae, dengan tingkahnya yang kekanakan meskipun ia seumuran dengan Chanyeol, akhirnya menjadi musuh Baekhyun dengan candaanya, dan Chanyeol tidak mampu melakukan apapun selain mengerang pasrah saat menyadari kesalahan terbesarnya mengenalkan kedua temannya pada mereka.

Tetap saja, Baekhyun memastikan untuk mengambil alih Chanyeol untuk dirinya sendiri kapanpun ia mampu, saat pergi bersarapan dirumahnya, dan sebagian besar saat makan malamnya, ataupun saat menghabiskan akhir pekan bermain dengan Mr PB.

Ini menjadi makin sulit bagi Baekhyun. Setiap saat ia menghabiskan waktu bersama (Baekhyun benar-benar menginginkan hal itu) membuatnya jatuh makin dalam dan dalam pada Chanyeol, sangat dalam sampai ia berani mengakui kalau ia tengah jatuh cinta.

Chanyeol menyukai kopi hitamnya, tapi yang tidak terlalu panas.

Chanyeol suka berkebun, kebun buah kecil di belakang rumahnya adalah kebanggaannya (setelah game onlinenya tentunya), dan ia suka bicara pada tanaman-tanamannya. Ia mengajarkan pada Baekhyun apapun yang ia ketahui tentang tanaman itu.

Chanyeol alergi pada binatang-binatang, itulah kenapa ia tidak dapat memelihara anjing saat ia kecil. Ia bisa memelihara Mr PB karena bulunya tidak rontok, tapi kalau ia bisa, ia pasti akan memelihara selusin anak anjing. Ya. Satu keluarga anjing.

Ia punya kasur ukurang besar, dan Kyungsoo tidak pernah tidur di sana. Chanyeol suka berpelukan dan memeluknya saat malam. Dan Kyungsoo bilang kalau itu terlalu gerah untuknya dan kurang nyaman.

Dan baekhyun merasa tertusuk. Ia ingin tidur di kasur yang sama dengan Chanyeol, ingin Chanyeol memeluknya erat dan jatuh tertidur karena suara detak jantungnya. Dan ini terasa makin sulit baginya.

Tapi dari beberapa hal tadi, ia tau kalau Chanyeol adalah orang yang baik. Benar-benar baik. Seperti seorang pemain utama dalam film, sangat baik. Ia akan berjalan-jalan di lingkungan itu dan menyapa tiap orang, membantu orang menyeberang jalan, memuji anak-anak karena mainan baru mereka. Itu sangat keren.

Chanyeol suka membuat orang lain tertawa, membuat mereka lebih baik dalam menilai diri mereka sendiri. Baekhyun hanya membutuhkan satu dari itu semua—senyumannya (yang sekarang telah kembali terukir di raut wajahnya, dan ia tidak akan pernah membuat itu hilang lagi) untuk membuat harinya lebih baik.

.

.

.

Baekhyun sudah terbiasa dengan fakta kalau Chanyeol selalu menganggapnya sebagai adik laki-laki. Ini benar-benar menyebalkan, sungguh, tapi tak ada hal yang bisa ia lakukan. Lagipula, paling tidak dengan seperti ini, dia dapat menghabiskan waktu dengannya tanpa khawatir mempermalukan dirinya sendiri di hadapannya.

.

.

.

Itu adalah sebuah ajakan yang biasa.

"Mau menonton film?

Benar. Biasa. Luar biasa. Seperti Baekhyun. Karena ia sama sekali tidak gugup. Tidak sama sekali. Kenapa ia harus gugup?

Dan ternyata itu adalah film komedi. Baekhyun juga tidak begitu peduli dengan hal itu, dan ia yakin 100 persen kalau ia akan keluar dari bioskop tanpa tau tentang cerita film yang ditontonnya.

Baekhyun bersyukur kalau di ruangan itu cukup gelap, yang mana membuat Chanyeol melewatkan cara ia menatapnya—saat Chanyeol sangat fokus pada film yang ditontonnya. Baekhyun tidak dapat mengalihkan padangan darinya, cahaya yang remang itu membuat Chanyeol terlihat layaknya tokoh dari dunia fantasi dan tidak nyata.

Juga saat Chanyeol tertawa, menurut Baekhyun laki-laki itu adalah orang yang paling tampan. Wajahnya terlihat aneh saat ia melakukannya, tapi tetap saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Saat orang-orang di sekitarnya memintanya untuk tenang, Chanyeol akan terlihat menyesal dan manis saat ia meminta maaf, berusaha dengan sangat keras untuk menenangkan dirinya. Setidaknya sampai adegan lucu lain setelahnya.

Dan Baekhyun sangat menyukainya.

.

.

.

Ia sungguh belum siap akan hal ini. Harusnya ia sudah siap. Dan sekarang itu sangat terlihat nyata.

Ia hanya... terus-menerus menatap Chanyeol. Ia berharap kalau itu tidak terlihat begitu jelas. Paling tidak Luhan belum memukulnya, ini adalah tanda yang baik kan? Walaupun ia tidak cukup yakin dengan Luhan akhir-akhir ini. Mungkin Luhan sendiri tengah menatap terus-menerus kearah Yixing. Siapa tau?

Chanyeol tengah telanjang, ini adalah hal berharga yang patut ditonton. Well, setengah telanjang.

Baekhyun mengalihkan pikirannya dari hal tersebut. Itu bukan hal yang baik, menjadi tamu di rumah Yifan, dan terus memikirkan teman baik Yifan—saat Chanyeol kehilangan kaosnya. Dan laki-laki itu sedang dalam keadaah tubuh yang basah. Dan tampan.

Yifan sungguh baik karena mengundang mereka. Rumahnya sungguh besar, yang hampir sebesar kebodohannya.

Baekhyun juga merasa tidak menyesal karena telah berbohong pada ibunya. Well, berbohong secara tidak langsung, sungguh. Bahkan ibunya tidak menanyainya, dan tidak dirumah untuk meminta ijin darinya. Ia sungguh benci berbohong pada Chanyeol. Ia telah berjanji padanya untuk minta ijin ibunya untuk pergi kerumah Yifan dan jika mereka akan pulang terlambat, tapi ia cukup tau bagaimana sifat ibunya, bahkan saat ia tidak ada disana untuk melarangnya, dia akan tetap berkata tidak akan mengijinkannya.

Ini cukup sebanding menurut Baekhyun. Terutama saat teman Chanyeol ternyata hampir sama menyenangkannya seperti dirinya. Ya hampir.

Dan sekarang, disinilah ia. Sudah sepuluh menit bermain pertarungan air, sampai membuat seluruh tubuhnya basah, tengah mengamati Chanyeol.

Ini bukan pertama kalinya ia melihat laki-laki itu tanpa kaosnya. Tapi tidak sedekat ini. Kebanyakan hanya melihatnya lewat teleskop. Dan ini sungguh tidak ada bandingannya dengan apa yang pernah ia lihat, menatapnya sedekat ini terasa benar-benar dekat dan nyata.

.

.

.

Usaha mereka untuk melakukan sebuah petualangan alam, semacam camping di musim panas, berakhir dengan mereka semua yang duduk di halaman Yifan, menyalakan api untuk memanggang barbeque.

Itu adalah hal yang sangat diharapkan oleh Baekhyun. Siang yang sangat sempurna, dipenuhi dengan canda tawa, dan beberapa kali perang-tembakan-air, dan sekarang adalah sore yang sempurna.

Chanyeol kebetulan tengah tertidur, setelah bekerja di shift malam kemarin. Saat ini kepalanya tengah berbaring di pangkuan Baekhyun, dengan dada telanjang yang tampak naik dan turun dengan teratur.

Ini terasa seperti mimpi baginya, Chanyeol sangat dekat di sentuhan jemarinya, cukup nyata dan membuatnya sangat berdebar-debar. Dan ia makin jatuh lebih dalam pada Chanyeol.

Malam itu, sendiri di kasurnya, Bakhyun memasukkan jarinya ke dalam celananya. Ia tengah berpikiran tentang Chanyeol. Chanyeol, dengan tubuh basahnya, dada bidang yang menindihnya, bergerak perlahan saat ia terbaring. Chanyeol, dengan senyum sejuta dolarnya saat mendorong temannya jatuh kedalam kolam, dan berubah menampilkan ekspresi yang menenangkan saat semuanya selesai. Chanyeol. Chanyeol. Chanyeol.

Sebuah perasaan sangat bersalah menyerangnya saat ia akhirnya selesai dari klimaksnya, dengan jari-jari dan celana yang kotor. Menjijikkan.

Ini sungguh menyakitkan. Menyakitkan baginya untuk peduli pada seseorang yang tidak merasakan hal yang sama padanya, dan tidak akan pernah.

.

.

.

Pergi ke sekolah tanpa Luhan di sisinya terasa sangat sulit. Ia tidak bisa berjalan dengan mereka saat ke sekolah, karena jam masuk sekolah mereka mulai lebih awal darinya. Ia merasa seperti memulai awal sekolah lagi. Teman-teman sekelasnya yang sama sekali tidak mengenalnya, tidak pernah mengganggunya sama sekali, semua nampak disana dan bersiap untuk berurusan dengannya. Kembali ke sekolah berarti menikmati waktu makan siang sendiri, ia berusaha sangat keras untuk melupakan memori beberapa tahun yang lalu. Kembali ke sekolah berarti merasakan kesepian lagi.

Semua menjadi lebih baik saat ia pulang. Bukan sepenuhnya karena rumahnya, tapi lebih karena orang favoritnya.

Karena Luhan dan Yixing masih disekolah, ia tidak merasa sedikit bersalah saat meletakkan semua barangnya sebelum pergi ke rumah Chanyeol.

Dan hanya hal inilah yang membuat kesedihannya hilang. Chanyeol ada di sana untuknya. Walaupun ia tengah berada dalam tumpukan pekerjaan yang menuntutnya, karena ia laki-laki berusia 21 dan sebentar lagi menjadi 22 tahun, mahasiswa jurusan permesinan. Chanyeol ada disana untuknya.

Hanya satu tahun sebelum kelulusan Chanyeol, dan ia merasa tidak bisa untuk tidak ikut senang. Baekhyun ikut bahagia dengan hal itu. Beberapa hal membuatnya lebih baik saat Chanyeol membicarakan hal yang ia sukai, rencana masa depannya, mimpi besarnya. Baekhyun hanya bisa berharap dirinya juga akan berada di sana saat semua itu terjadi.

.

.

.

"Apa kau punya pacar?" Chanyeol bertanya di suatu sore, memecahkan konsentrasinya dari permainan Planet Agak Besar mereka.

"Pacar?" Baekhyun berdiri membeku di tempatnya sambil berfikir, "Tidak."

"Tapi adakah seorang gadis yang kau sukai?"

"Ya sepertinya?" Hey apa yang kau lakukan?

"Oh!" Chanyeol tersenyum padanya, "Apa dia cantik?"

"Sangat," Ia menjawab tanpa ragu. Orang yang ia sukai sangat manis.

"Baiklah. Kuharap kalian berdua berhasil." Ia berkata dengan nada tulus yang membuat Baekhyun mual mendengarnya.

Sebuah tawa garing terlontar dari mulutnya. "Kurasa tidak akan."

"Kenapa tidak? Kau sangat tampan, gadis manapun akan mau berkencan denganmu!"

Baekhyun ingin benar-benar menamparnya. Jika saja wajahnya tidak terlalu tampan untuk ditampar.

"Terimakasih. Kuharap begitu," Tidak, kau tidak harus berharap. "Bagaimana denganmu?" ia tidak ingin tau. Tapi ia harus.

"Aku tidak begitu suka wanita." Chanyeol terkikik, beralih menatapnya. "Tapi ada seorang lelaki yang kusuka."

Jantung Baekhyun berdetak berkecepatan satu mil per jam, bahkan lebih kencang dari biasanya saat ia bersama Chanyeol.

"Apakah dia... imut?"

"Ia seksi," Chanyeol tersenyum, lebih lembut. "Kami satu kelas beberapa kali." Diam. Diam. Diam. "Kita cukup bersahabat, dan dari yang kudengar ia juga menyukai laki-laki." Ia berhenti sejenak, beralih menatap Baekhyun yang hampir menangis, "Aku rasa aku akan mengajaknya berkencan. Bagaimana menurutmu?"

Baekhyun menelan ludahnya, pangkal tenggorokannya terasa tercekik. "Kurasa kau bisa mendapatkan siapapun yang kau sukai." Ia menjawab. Dan itu memang benar.

Untuk pertama kalinya, senyum cerah Chanyeol membuatnya merasa sangat menyedihkan. "Benar sekali, terima kasih Baek."

Ia harus pergi dari sini. Secepatnya.

"Well, Yeol. Aku harus pulang. Ibuku menyuruhku untuk melakukan sesuatu." Ia berbohong, sebenarnya tidak punya cukup energi untuk keluar dari sana.

"Secepat ini?" Chanyeol mempoutkan bibirnya. Jangan lakukan itu.

"Ya, maaf."

"Tak apa. Kau akan kembali besok untuk menyelesaikan gamenya kan?"

"Tentu."

"Apa kau baik-baik saja?"

Tidak sama sekali.

"Ya."

"Baiklah kalau begitu." Chanyeol sedikit tersenyum. "Oh jangan lupa, game yang aku pesan untuk Nintendo 64? Itu harusnya datang besok. Kita harus mencobanya."

"Aku akan datang. Sampai jumpa."

Dengan itu, ia meninggalkan rumah itu dan pamit pada Mr PB.

.

.

.

"Aku mengatakan ini karena aku menyayangimu, kau juga tau kan." Luhan memberitahunya beberapa jam setelahnya, sambil berdiri di daun pintu.

Saat ini matanya nampak merah dan terasa sakit, tapi Baekhyun rasa ia masih bisa menangis selamanya. Luhan sudah memeluknya lama, sampai cukup malam dan sampai membuat ibunya bertanya sedang dimana dia saat ini.

"Tapi kurasa kau harus move on Baek."

Sebuah suara sesenggukan terdengar jelas dari mulutnya. Luhan berbalik tanpa pamit. Jika memang semudah itu melakukannya.

.

.

.

Cinta pertama tidak akan pernah berhasil, iya kan? Itulah yang sering mereka katakan. Dan sebenarnya Chanyeol adalah cinta pertamanya, itu terjadi begitu saja. Laki-laki itu tidak pernah melihatnya selain sebagai seorang adik kecil yang harus dijaganya. Dan sekarang Baekhyun merasa tidak keberatan untuk dijaga, mengetahui kalau Chanyeol mengkhawatirkannya. Cukup besar perhatian yang diberikannya. Tapi tidak cukup besar untuk membawanya ke sebuah hubungan. Setidaknya bukan untuk hubungan seperti yang Baekhyun harapkan.

Dan Luhan benar. Ia harus move on. Atau setidaknya mencoba. Ia tidak berencana untuk sendirian seumur hidupnya hanya karena orang yang paling penting di hidupnya hanya menganggapnya keluarga, iya kan?

.

.

.

Ia punya rencana. Langkah-langkah yang harus ia ambil dan masih banyak lainnya.

Langkah pertama: berhenti mengunjungi Chanyeol. Itu sebuah keharusan. Ia tidak akan dengan mudah melupakan Chanyeol kalau tiap hari ia bertemu dengannya, makin hari makin jatuh cinta padanya. Dan itu tidak akan terjadi. Dan itu sangat sulit, pada awalnya. Ia merasa sangat kesepian di seumur hidupnya. Tapi setidaknya, ia berhasil.

Langkah kedua: dapatkan teman baru. Dan ternyata itu nampak lebih mudah dari yang ia kira. Apa yang harus ia lakuka hanyalah harus merubah semua karakternya dan jangan terlalu memikirkannya. Itulah saat ia mulai bergabung dengan sebuah grup siswa terdiri dari lima orang laki-laki. Ia tidak terlalu ingat nama mereka, tapi itu bukan masalah yang besar. Berhasil.

Langkah ketiga: Berhenti mencintai Chanyeol. Tertunda.

.

.

.

Baekhyun berusaha mengunjungi Mr PB saat ia tau kalau Chanyeol tidak ada dirumah. Ia akan menyeberang pagar yang memisahkan rumah mereka saat ia pulang dari sekolah, untuk bermain dengannya, dan akan menyeberang pagar lagi saat ia mendengar mobil Chanyeol masuk ke area rumahnya. Ia merasa sangat sedih setiap itu terjadi.

Anak anjing itu nampak merindukan waktu yang sering mereka habiskan tiap harinya. Ia tidak begitu berharap Chanyeol juga akan merindukannya.

Sudah seminggu sebelum akhirnya Chanyeol mengetuk pintu rumahnya. Baekhyun jelas tau kalau itu dia, Baekhyun telah melihatnya lewat teleskopnya. Yang mana kegiatan itu sungguh tidak begitu membantu untuk melancarkan rencanannya, well, biarkan ia beristirahat sejenak. Ia mulai terlihat sangat putus asa.

Tapi tetap saja Baekhyun tidak membuka pintu saat itu. Atau di waktu lainnya. Atau lainnya lagi.

Luhan terlihat tidak senang.

"Aku hanya mengikuti saranmu Lu."

Chanyeol telah pergi kerumah Luhan untuk mencarinya beberapa kali.

Dan Baekhyun berusaha tidak peduli.

.

.

.

Bakhyun sering pergi keluar dengan teman...barunya. Ke mall, atau tempat membosankan lainnya. Berpura-pura tertarik sungguh melelahkan, ia baru menyadarinya. Tapi paling tidak ia tidak harus memperhatikan mereka. Mereka hanyalah alasan untuk menjauh dari tempat yang paling ingin ia kunjungi.

.

.

Chanyeol menelfon. Baekhyun tau kalau itu dia, ia baru saja melihatnya lewat teleskop. Ia tidak menjawabnya.

.

.

Malam adalah waktu bagi Baekhyun untuk menjadi dirinya. Ia pergi ke kamar lebih awal, duduk di kasur dengan teleskop yang mengarah ke ruang tamu rumah Chanyeol.

Disanalah ia sering melihat Chanyeol terlihat murung saat menatap piringnya, beberapa kali mengelus Mr PB yang nampak sama murungnya—saat anak anjing itu meminta makan. Ia kemudian naik ke kamarnya, dengan malas memakai piyamanya sebelum membantu Mr PB naik ke ranjangnya. Ia tidak melihat ke arahnya saat ia menutup tutup matanya, sebuah raut murung tampak di wajahnya.

Baekhyun menjauh dari teleskopnya saat lampu itu mati, membiarkan rasa sakit di dadanya menyerangnya pertama kali di hari itu. Ia sudah menahannya dengan baik, ia mengatakan itu pada dirinya sendiri. Itu juga tidak akan membantu Chanyeol, mendapati Baekhyun berada terus disekitarnya saat ia berencana mendapatkan pacar baru.

Tapi Chanyeol terlihat menyedihkan. Ini bukan bagian dari rencananya. Ia harusnya senang karena telah menyingkirkannya, atau setidaknya lega. Ia harusnya pergi keluar dan berkencan dengan teman sekelas yang ia sebutkan, tidak malah terlihat... seperti saat Kyungsoo meninggalkannya. Jauh di dalam hatinya Baekhyun senang karena Chanyeol sama merindukannya sedalam yang ia rasakan.

.

.

Chanyeol pulang terlambat. Baekhyun sudah pulang dari sekolahnya, menghabiskan satu jam bersama Mr PB, menyelesaikan PR, makan malam dan telah bersiap untuk tidur. Karena Chanyeol sama sekali tidak terlihat dimanapun, sekeras mungkin ia mencoba, ia tidak bisa tidur sebelum memastikan kalau Chanyeol baik-baik saja.

Cukup terlihat gelap di luar rumahnya, saat ia mendengar tidak hanya Chanyeol yang pulang kerumah. Baekhyun langsung lari ke teleskopnya, berencana sedikit melihat apa yang terjadi. Dalam beberapa bulan ini ia sudah berusaha untuk mengurangi kebiasaannya melihat Chanyeol lewat teleskopnya hari demi hari. Tapi sekarang ia sangat khawatir dan ia harus melakukannya.

Chanyeol tidak terlihat senang. Itu juga bukan hal yang tidak biasa akhir-akhir ini, tapi ia tidak terlihat sedih. Hanya... bosan. Sangat bosan.

Ia melepaskan sepatunya saat Mr PB menyambutnya, langsung menuju tempat bermain gamenya setelah mengambil sandwich.

Baekhyun merindukan saat melihatnya bermain game, terutama karena tempat itu adalah tempat tersembunyi yang sama sekali tdak bisa ia lihat lewat teleskopnya.

Baekhyun telah menerima kenyataan kalau dirinya tidak akan melihatnya malam itu, saat ia mendengar suara gebrakan pintu belakang yang mengagetkannya, ia menyadari kalau dirinya tadi telah tertidur. Mengintip lewat teleskop, cahaya di kebun Chanyeol membuatnya dapat melihat laki-laki itu tengah berdiri di depan tanaman-tanamannya—itu terlihat seperti benda antik seperti koleksi gamenya.

Itu adalah pemandangan yang sangat damai, dan itu membuat Baekhyun sejenak lupa kesedihan yang melingkupi hatinya.

Ia terus menatap arah itu sampai Chanyeol berhenti bermain, mungkin gamenya sudah selesai.

Chanyeol tiba-tiba mendongak. Dan tersenyum. Senyumnya benar-benar sangat indah. Sampai-sampai mungkin bisa dianggap seorang dokter gigi kalau ia dijalanan, karena senyumnya sangat manis. Baekhyun rindu melihat senyuman itu dari dekat... tapi tunggu.

Chanyeol tersenyum. Mendongak. Menatap kearah Baekhyun berada. Dimana Baekhyun berada, dua jam terakhir ini (well mungkin... dua bulan terakhir), melihatnya lewat teleskop layaknya seorang penguntit. Sial.

Baekhyun melompat dari kasurnya, bersyukur karena ibunya belum di rumah untuk menceramahi aksi berisiknya untuk meraih telepon.

"Baek, apa kau baik-baik saja? Kenapa—"

"Lu..." Ia terdengar mengatur nafasnya. "Aku dalam masalah."

"Apa?! Apa kau terluka?! Kau ingin aku—"

"Tidak ada waktu Lu!" ia memotong perkataan Luhan. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Luhan ada di sana saat nanti tindakan kriminalnya diketahui.

"Dengar, Jika polisi bertanya, katakan pada mereka kalau aku benar-benar menyukai astronomi dan hal semacamnya, oke?"

"Apa yang tengah kau lakukan sebenarnya? Dan tidak akan ada seorangpun yang percaya kalau kau tertarik dengan hal-hal pintar semacam itu."

"Aku melakukannya karena cinta!"

Luhan menutup teleponnya. Sungguh teman yang sangat baik. Siapa yang butuh musuh kalau Baekhyun sudah punya Luhan?

Ia merangkak kembali ke kasurnya, dengan ragu mengintip lewat jendela.

Chanyeol masih disana. Dan kali ini tidak hanya tersenyum, tapi juga melambaikan tangan.

"Kau mau mampir kerumahku atau tidak?" Chanyeol berteriak secepat mungkin setelah ia melihatnya.

Baekhyun benar-benar berakhir. Ia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Apakah mereka akan percaya kalau ia melakukan itu karena cinta? Mungkin tidak. Itu bahkan tidak membantunya, saat ia berbicara pada Luhan, padahal Luhan teman terbaiknya. Tapi terserah. Paling tidak ia telah menghabiskan waktu terakhirnya bebas, bersama cinta sejatinya.

Dengan semua solusi yang telah ia kumpulkan, ia akhirnya keluar rumah, membawa kakinya melangkah di jalan beberapa meter yang memisahkan jarak rumahnya dengan rumah Chanyeol. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Baekhyun mengetuk pintu.

Chanyeol langsung membuka pintunya, seolah ia tengah menunggunya dari balik pintu. Chanyeol tengah tersenyum. Jujur saja, kalau ada satu orang yang harus dipenjara, orang itu seharusnya Chanyeol—dengan tuduhan karena terlalu imut. Dan memiliki senyum yang cukup beresiko untuk kalangan umum. Bagaimana mungkin Baekhyun menolak pesonanya? Jika ia bisa, maka seseorang harus memberinya penghargaan.

"Akhirnya, Mister tak terlihat." Ia berkata sambil membiarkan Baekhyun masuk.

"Apa yang kau bicarakan?" Baekhyun menyahutnya.

"Hey, beri sedikit sopan santun. Aku Hyungmu disini nak."

"Terserah."

Chanyeol berdiri kaku di depan pintu.

"Jadi adakah yang ingin kau bicarakan padaku? Seperti... kenapa tiba-tiba kau tidak datang dan terus mengabaikanku?"

Baekhyun merasa sangat belum siap dengan pembicaraan ini. "Tidak, tidak sama sekali."

Chanyeol lalu mengangguk, tiba-tiba terlihat berekspresi serius.

"Aku tau... tapi, taukah kau, bukan aku yang membutuhkan penjelasanmu." Ia membungkuk dan menggendong Mr PB yang berada di kakinya—menginginkan perhatian dari keduanya.

"Ia yang paling merindukanmu! Kau tidak boleh seenaknya pergi dan mengabaikanku dan anak kita!" Chanyeol memeluk anak anjing itu di dadanya, sambil mempoutkan bibirnya secara dramatis.

Chanyeol seharusnya tidak boleh melakukan itu. Itu terdengar seperti sebuah tamparan di wajahnya, mendengar Chanyeol mengatakan padanya seolah mereka pasangan yang menikah. Dan dikaruniai anak. Well, semacam yang sering Baekhyun impikan.

"Aku... aku sudah menemuinya. Hampir setiap hari." Ia mengaku dengan sedikit agak bersalah, bukan untuk yang pertama kalinya.

"Aku tau. Kau tidak serahasia yang kau kira." Chanyeol menyerigai. "Tapi ia merindukanmu. Itu tidak sama rasanya, tanpamu disini sepanjang waktu."

Mungkinkah itu? Mungkinkah Chanyeol mengakui perasaan melalui anjingnya? Apakah mungkin kalau ia merindukan Baekhyun sedalam yang ia rasakan padanya?

"Maaf Baek."

Baekhyun terkejut, "Apa? Untuk apa?"

"Aku tidak terlalu yakin. Tapi aku pasti telah melakukan sesuatu yang mengganggumu dan itulah kenapa kau tidak datang lagi... tapi aku sungguh-sungguh minta maaf, apapun itu."

Sebuah perasaan nyata, perasaan sedih yang amat sangat menyelingkupinya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi! Hal terakhir yang pernah Baekhyun inginkan adalah membuatnya sedih, itulah alasan kenapa ia meninggalkannya! Dan sekarang satu dari anak-anak anjingnya (dua kalau saja tatapan Mr PB penuh harap padanya) merasa sangat sedih karenanya. Ia tidak akan memaafkan dirinya seumur hidupnya.

"Kau tidak melakukan apapun," ia menjawab, berharap dirinya mampu tetap tenang dan meyakinkan.

"Lalu kenapa kau tidak pernah datang lagi?"

Aku berusaha melupakanmu dan melihatmu setiap hari membuatku jatuh semakin dalam padamu.

"Oh... apa... sebenarnya..." berpikir Baekhyun. Berpikir berpikir berpikir. "Kau... kau bercerita tentang menyukai seseorang. Dan kurasa mungkin itu adalah kesalahanku karena kau terus terjebak bersamaku sepanjang hari dan kau tidak punya cukup waktu untuk berkencan."

Well. Dan itu terucap begitu saja, sangat buruk. Dan kekanakan. Dan terdengar hampir mendekati alasan sebenarnya. Selangkah lagi Baekhyun. Kau layak menghabiskan sisa hidupmu di penjara yang berbau.

"Apa? Apa kau serius?"

Baekhyun mengangguk, setengah mengedikkan bahunya sedikit malu dengan alasan bodohnya.

"Baek. Aku bahkan belum mulai berkencan dengan orang itu saat aku bercerita padamu. Maksudku kenapa kau? Melakukan itu?"

Tetap diam nampaknya adalah pilihan yang paling tepat. Baekhyun tidak berpikir kalau ia mampu membuka mulut dan tidak mengatakan alasan yang bodoh lainnya.

Chanyeol menghela nafas sebelum meletakkan kembali Mr PB ke lantai dan beralih meraih tangannya. Baekhyun berhenti bernapas sesaat saat tangan besar Chanyeol menggenggam tangannya, membiarkan dirinya ditarik ke sofa ruang tamu.

"Baekhyun. Kau tidak akan pernah menjadi beban untukku." Oh kumohon jangan katakan itu Park. Aku mungkin akan mempercayaimu. "Kau sangat penting untukku. Aku benar-benar peduli padamu. Kau sudah seperti keluargaku." Family-zoned lagi. Bagus. "Jadi jangan pernah berfikir kalau dirimu adalah beban, mengerti?"

Apa yang harus dilakukan Baekhyun, selain mengangguk?

"Laki-laki itu... kami, umm, kebetulan berkencan hari ini." Tak ada yang menanyakan itu. "Itu tidak berjalan cukup baik."

Ini menarik perhatian Baekhyun, ia lalu menatap padanya dengan mengangkat satu alisnya.

"Anggap saja, mungkin ia terlihat baik dari fisiknya dan penampilan, tapi ia kurang dari segi pemikiran. Aku yakin itu adalah beberapa jam paling membosankan yang pernah aku alami seumur hidupku. Dan itulah yang terjadi." Chanyeol terkikik dan terdengar dingin. "Tapi itu tak masalah. Ia tidak cocok untukku ngomong-ngomong. Lagipula, sekarang kau bisa kembali kesini kapanpun kau mau kan?"

.

.

Baekhyun tidak melihat Chanyeol lewat teleskop malam itu.

Chanyeol sungguh idiot. Ia membenci Chanyeol.

Atau mungkin tidak.

Tapi ia berharap demikian, kalau ia bisa.

Bagaimana mungkin Chanyeol tidak mengetahui perasaan Baekhyun padanya? Ia berteriak 'pada tiap orang' selain dia.

Tapi lebih dari itu, ia sangat membenci dirinya. Karena ia akan kembali pada Chanyeol. Tiap hari kalau ia bisa.

Dan ia sering memiliki rencana sempurna yang mungkin akan terbuang sia-sia.

Semua telah berjalan normal setelah kejadian itu. Beberapa menit setelah ia pulang, ia akan menyeberang pagar untuk kerumah Chanyeol, menghabiskan sebanyak mungkin waktu bersama MR PB dan menyapa Chanyeol di pintu saat ia pulang. Mereka akan bermain sampai waktu makan malam, makan bersama, mengobrol, dan tertawa seolah waktu mereka terpisah kemarin bukanlah apa-apa tapi hanya sebuah mimpi buruk. Baekhyun makin jatuh cinta lebih dalam.

Kadang, Luhan dan Yixing akan bergabung dengan mereka. Dengan temannya yang lebih sibuk dari biasanya, Baekhyun merindukan mereka, dan ia harus mengakui hari-hari itu adalah yang terbaik.

Dua hari dalam seminggu, meski begitu, Baekhyun berhenti mengunjungi Chanyeol. Ia harus melakukannya, sungguh. Kalau tidak, Chanyeol akan menghabiskan semua waktu luangnya bersamanya.

Hari-hari itu biasanya akan ia habiskan bersama dengan teman yang ia temui di sekolah.

Luhan tidak menyukai mereka. Ia terus mengatakan hal itu, dan menurutnya mereka terdengar seperti anak-anak yang tidak baik, yang lebih baik dihindari. Dan Baekhyun tau itu. Ia tidak begitu peduli, ngomong-ngomong. Mereka bukanlah temannya, hanya orang yang menemaninya saat tak ada orang lain selain mereka.

.

.

Ini terdengar... menarik. Bukan ide yang brilian sebenarnya, ia baru menyadarinya sekarang, lagipula apa yang bisa ia harapkan?

Dan sekarang, ini terasa sungguh menyebalkan.

Ia menyeret dirinya pulang setelah hari menjelang malam, seperti biasanya, tepat saat ia menemukan Chanyeol juga baru pulang dari bekerja.

"Baek!" ia memanggilnya dari pintu, setengah jalan masuk rumahnya. "Mampirlah! Aku akhirnya berhasil melewati dunia Crash 1 dimana aku tertahan kemarin."

Ia sedang tidak mood untuk bermain, tapi ia juga tidak dalam mood untuk menolak menghabiskan waktu dengan orang favoritnya.

Baekhyun bergabung dengannya di sofa beberapa menit setelahnya, mood tiba-tiba meningkat saat mereka bersiap main game.

Ia hampir saja lupa dengan apa yang membuatnya dalam masalah, berkonsentrasi ke game dari pada memikirkannya, saat ia merasa pandangan Chanyeol terpaku padanya.

"Baekhyun apa yang telah kau lakukan?" Ia menjeda game mereka, sejenak, lalu kembali memperhatikannya.

Oh. Ia telah menyadarinya. Baekhyun pikir, Chanyeol tidak akan pernah tau. Paling tidak, tidak secepat ini.

"Bagus, kan?"

"Baek, ibumu akan membunuhmu. Atau mungkin melemparmu keluar rumah."

"Paling tidak ini terlihat bagus untukku. Aku akan mengurusnya nanti," ia mengedikkan bahunya dan kembali fokus pada stick gamenya.

"God, bagaimana mungkin kau melakukan itu tanpa ada ijin orang tua?" Chanyeol bertanya dengan nada sangat perhatian. Baekhyun memutar bola matanya malas. Itu bukan masalah yang besar.

"Salah seorang temanku tau orang yang bisa melakukannya."

"Baekhyun!"

"Tenang Yeol! Aku bukan anak kecil. Aku tau apa yang aku lakukan!" ia balas membentak, sedikit tidak senang dengan nadanya.

Chanyeol melihatnya dengan tatapan dingin, sebelum meraih pergelangan tangannya dan menariknya ke dapur, diikuti dengan Baekhyun yang penasaran, ia melihatnya membuka freezer, lalu mengambil beberapa kotak es batu dan memasukkannya kedalam tas plastik bersih.

"Ini. Tempelkan ini disana," ia memberikannya pada Baekhyun. "Kau harusnya tidak melakukan hal itu tadi. Itu terlihat merah dan terbakar."

Baekhyun mengambil tas plastik itu dan tetap terdiam. Ia tau kalau Chanyeol benar. Ia dapat merasakan telinganya berdenyut, sebuah rasa panas dan sakit terasa di tindikan barunya.

Ia berjengit saat dinginnya es menempel di lukanya, menghela nafas setelahnya saat sakitnya berasa beku.

Setelahnya, ia baru berani melihat ke arah Chanyeol, yang tetap terdiam menyaksikannya. Mereka melakukan kontak mata beberapa saat, sebelum Chanyeol beralih ke konter dapur dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.

"Kau seharusnya tidak ceroboh, Baekhyun. Kau tidak tau tempat apa kau kunjungi itu. Kau bisa saja tertular penyakit atau mungkin terinfeksi karena kurang higenis atau prosedur yang tidak tepat! Apa yang kau pikirkan?"

"Apa? Sekarang kau menjadi ahli disini, begitu?" Baekhyun menghiraukan pertanyaannya. Dan kenapa kalau ia punya tindikan? Itu adalah keputusannya, bukan ibunya, atau Chanyeol. Itu adalah keputusannya. Dan ia sungguh muak karena diperlakukan seperti anak kecil sepanjang waktu.

Chanyeol hanya menghela nafas sebelum menarik satu tangan Baekhyun yang tidak memegang es batu. Lain kali, kalau Baekhyun sudah tidak marah padanya, Chanyeol sudah memikirkannya... memberi nasehat pada Baekhyun adalah hal terbaik yang harus ia lakukan. Tapi tidak sekarang.

Sekarang Baekhyun hanya bisa duduk di kamar mandi saat Chanyeol menggeledah lemari kotak obatnya, bertanya-tanya apa yang tengah dicarinya.

Akhirnya Chanyeol mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna coklat, melihat tanggal kadaluarsa sebelum menyerahkan pada Baekhyun, yang tengah menaikkan alisnya tidak mengerti.

"Itu adalah antiseptik. Untuk tindikan. Oleskan secukupnya pada luka tiap harinya sampai itu tidak sakit lagi. Dan ingatlah untuk memutar tindikan itu beberapa kali. Tapi setelah itu, cobalah untuk tidak menyentuhnya. Terutama jangan, saat tanganmu kotor. Dan itu akan baik-baik saja."

Baekhyun ternganga, "Apa kau juga punya?"

Chanyeol mengalihkan tatapan matanya, pipinya merona tanpa sadar. "Bisa... dibilang seperti itu."

Ia meneliti semua bagian wajah Chanyeol, melihat kalau-kalau ia telah melewatkan sesuatu yang jelas selama ia menghabiskan waktu mereka bersama. Itu tidak ada di sana. Itu tidak ada di dadanya juga, ia sudah pernah melihatnnya telanjang dada.

Memikirkan hal itu... hanya satu bagian tubuh Chanyeol yang belum pernah ia lihat tanpa pakaian.

Matanya tanpa sadar melihat ke arah kejantanan Chanyeol, pikirannya blank saat itu juga.

Tidak mungkin.

Wajah Chanyeol berubah merah, menampilkan ekspresi paling malu yang pernah dilihat oleh Baekhyun.

"Jangan melihat kearahku." Ia menariknya dari toilet, memaksanya keluar dari kamar mandi. "Aku punya pacar nakal dulu, ok?!" ia tiba-tiba membeku. "Kenapa aku memberitahumu tentang ini?!"

Chanyeol terdengar melewati batas. Baekhyun juga tidak tau kenapa ia memberitahunya. Baekhyun hanya bisa fokus pada keinginannya untuk melihatnya, dan itu sungguh membuatnya penasaran. Sial.

Chanyeol mengambil nafas dalam. "Baek, kurasa kau harus pulang. Pikirkan alasan yang bagus untuk ibumu. Kau tau rumahku selalu terbuka kalau ia mengusirmu." Ia bercanda, dengan suara yang masih meninggi.

.

.

Itu benar-benar membuat ibunya lebih dari marah besar, untuk menyuruh Baekhyun membuang tindikannya.

Saat ini Ia tidak peduli. Sungguh menyedihkan karena rasa sakitnya terbuang sia-sia. Dan hal baiknya adalah, karena itu masih baru, mungkin rasa sakitnya tidak akan berlangsung lama. Setidaknya itulah apa yang dikatakan internet.

Itu adalah hal terakhir yang menarik perhatiannya saat malam.

Beberapa jam konsentrasi pada mesin pencarian dengan kata kunci 'tindikan di penis', Baekhyun tau apa yang ia butuhkan.

Ini membuatnya sampai klimaks untuk kedua kalinya malam itu, pemikiran tentang bagaimana rasa tindikan Chanyeol benar-benar membuat pikirannya panas, itulah saat akhirnya Baekhyun tertidur, merasa kelelahan dan terlalu sensitif. Ia bahkan tidak merasa bersalah. Karena ini benar-benar cukup sebanding.

.

.

Mereka tidak pernah membicarakan itu lagi. Chanyeol mengalihkan topik itu sebisa mungkin, dan seberapa ingin Baekhyun bertanya, ia tidak ingin membuat Chanyeol tidak nyaman.

Itu bukan kali terakhir baginya untuk pergi keluar dengan teman-temannya itu. Mereka idiot, ceroboh dan kekanakan. Tepat menjadi hal yang menarik bagi Baekhyun untuk mendapat perhatian Chanyeol.

Ia tidak bodoh, hanya suka berpura-pura bodoh.

Misalkan, pertama kali Baekhyun merokok. Ia pergi ke Chanyeol dengan aroma rokok di baju dan bibirnya. Chanyeol langsung mengetahuinya.

Dan itu membutuhkan satu jam penuh melihat video pembelajaran menggelikan yang pernah Baekhyun lihat dan omelan parah dari Chanyeol, dan akhirnya mengakui kalau ia merasakan tarikan yang cukup kuat dari Chanyeol. Rokok telah membuat tenggorokannya sakit dan batuk, dan rasanya menjijikkan. Ia sangat yakin kalau ia tidak akan mencobanya lagi, jadi Chanyeol bisa berhenti melihatnya dengan cara seperti itu.

Chanyeol menggelengkan kepalanya karena hal itu, menenangkan diri. Itu tidak lama setelah ia akhirnya menceritakan pada Baekhyun kalau ia dulu sering merokok, Chanyeol sudah pernah melakukannya juga karena ia lebih tua darinya, dan Chanyeol berterima kasih pada Kyungsoo karena membantunya berhenti.

Ia memohon pada Baekhyun untuk tidak melakukannya, dengan tatapan mata sangat sedih yang membuat Baakhyun tidak akan berpikiran, bahkan berniat melakukannya lagi.

.

.

Ulang tahun Chanyeol akan segera tiba. Teman-temannya telah menyiapkan pesta kecil untuknya di rumah Jongdae, mengundang Baekhyun dan temannya untuk datang merayakannya.

Yifan memberinya beberapa game untuk PlayStation 2'nya, dan Chanyeol melihat hadiah itu dengan sangat kagum.

"Itu sungguh sulit didapat, Chanyeol. Kau harusnya menyingkirkannya!" ia berkomentar.

Dan itu selalu menjadi obrolan yang sama. Chanyeol lalu akan memukulnya beberapa kali karena menyarankannya untuk membuang bayi kesayangannya. Dan Yifan akan menertawakannya. Baekhyun sadar, sungguh bahagia, ia dapat mengenal semua hal dan orang ini.

Jongdae memberinya koleksi terbau dari Dungeons dan Dragons, yang sangat disukai Si Yang berulang tahun. Dan ruang tamu Chanyeol mulai terlihat seperti terkena teori Big Bang, sungguh.

Luhan dan Yixing memberinya sebuah kaos, dan Chanyeol memeluk mereka.

Baekhyun tidak punya hak untuk cemburu pada teman-temannya. Tetap saja, ia masih gugup saat Chanyeol membuka hadiah darinya. Ia membelikannya sebuah syal rajut, desain bagian depannya mengingatkannya pada Mr PB. Itu kado yang sederhana, dan mungkin yang paling murah, tapi ia terlihat sangat bangga melihat Chanyeol begitu senang ketika laki-laki itu membuka hadiah darinya.

"Terimakasih Baek." Ia berkata dengan senyum yang sangat cerah. "Aku akan memakainya setiap hari."

Dan ia benar melakukannya. Bahkan di hari Natal dan tahun baru, ia memakai syal itu. Atau, setidaknya itulah yang ia katakan pada Baekhyun. Chanyeol segera pergi ke kampung halamannya, setelah masa liburan dimulai, dan Baekhyun belum melihatnya sejak itu. Mereka memang tiap hari mengobrol, dan Chanyeol terus menerus mengiriminya foto apapun, seperti rumah tempat ia tumbuh bersama ibu dan kakaknya. Dan itu terasa manyenangkan, tau fakta kalau Chanyeol memikirkannya.

Saat sekolah telah dimulai, Chanyeol kembali ke rumahnya. Badai salju tidak biasanya terjadi di area itu, membuat kelas diliburkan beberapa kali. Dan Baekhyun, menghabiskan setiap saat di hari itu, di rumah Chanyeol entah bermain dengan Mr PB di salju atau minum coklat panas saat bermain Dungeons dan Dragons.

Kadang Chanyeol mengajaknya keluar dari rumah, dengan sekop ditangannya, membantu membersihkan jalanan tetangga di sekitar rumah mereka. Terutama tetangga itu yang sering dibicarakan oleh ibunya. Wanita-wanita tua itu.

Baekhyun tidak mengerti. Kenapa harus membantu wanita-wanita itu kalau mereka kejam pada Chanyeol?

"Mereka tua Baek. Mereka tidak akan bisa melakukannya sendiri, jadi kita harus membantu mereka, bukankah begitu?"

"Tapi mereka tidak menyukaimu! Mereka yang berbicara dibelakangmu terutama tentang seksualitasmu!" ia membantah di suatu hari. Ia tidak menyukai ide wanita-wanita itu yang memanfaatkan kebaikan Chanyeol, tapi tetap membicarakanya dibelakang.

"Tentu aku tau. Tapi mungkin ini akan membantu mengubah pemikiran mereka. Ini layak dicoba."

Terlalu baik untuk dilakukan.

Ia tidak pernah mengharap pengakuan di hari Valentine. Ia sama sekali tidak pernah, tidak menyangka kalau ia akan mendapatkannya.

Itulah kenapa, saat seorang gadis mungil di kelasnya datang padanya, ia mencoba mengurangi ekspresi terkejutnya. Selain karena telah menjadi teman sekelas selama beberapa tahun, Baekhyun kurang mengenal gadis itu, ia juga merasa tidak terlalu merasa bosan selama itu—karena belum pernah bersama seorangpun selama itu, sungguh.

Ia menolak gadis itu sesopan mungkin, mengingatkan pada dirinya kalau itu bukan kesalahannya kalau ia tidak menyukai... Well, perempuan. Ia tidak bisa sepenuhnya mengakuinya, jadi ia menjelaskan pada gadis itu kalau ia tidak mengenalnya sama sekali.

Gadis itu memaksa kalau itulah gunanya berkencan, untuk mengenal satu sama yang lain.

Ia adalah seorang gadis yang cantik, itulah yang dikatakan teman-teman laki-laki di kelasnya. Tapi Baekhyun tidak pernah melihat orang lain selain tetangganya, tapi kelihatannya gadis itu cukup baik, dan ia tidak menyerah. Tidak akan menyakiti seseorang kalau ia mencobanya kan?

Membutuhkan waktu sebulan bagi Baekhyun untuk menerima tawaran gadis itu. Dan mereka mulai... berkencan. Baekhyun sama sekali tidak tertarik padanya. Itu karena kau gay, suara kecil di kepalanya tengah mengingatkannya, tapi bukan berarti ia tidak melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh pasangan pada umumnnya.

Sejauh ini kencan mereka belum lebih dari pasangan yang berkencan di mall, bioskop, dan yang lain.

Ada apa dengan anak-anak jaman sekarang dan mall? ia membayangkan itulah yang dikatakan Chanyeol

Bicara tentang Chanyeol, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengetahui kencan mereka. Dan memberinya selamat. Baekhyun ingin membunuh Luhan, mungkin saat mereka sendirian nanti.

"Apakah gadis itu yang kau ceritakan sebelumnya? Seorang yang kau sukai?"

Baekhyun terlihat membeku saat mereka memainkan permainan tennis di Wii.

"Bukan."

"Oh sayang sekali. Apa ia lebih cantik?"

"Tidak juga," ia tidak bisa menahan untuk tidak melirik ke arah Chanyeol, "Tapi kurasa dia tidak buruk."

Chanyeol terkikik. "Aku yakin itu. Anak ini punya pacar dan aku sendirian seperti seekor sigung."

"Seekor sigung?"

"Kau tau, binatang-binatang yang hidup menyendiri? Ayolah Baek, kita telah merevisinya di ulanganmu kemarin."

Apa ia tengah sungguh-sungguh sekarang?

"Kau benar-benar aneh. Selain itu, dia bukan pacarku."

"Oh... anak jaman sekarang dan ketakutan mereka mengakui status hubungan."

Hah? Anak-anak jaman sekarang.

.

.

"Ulang tahunmu segera tiba. Apa kau merencanakan sesuatu?" Luhan bertanya di suatu sore. Sambil menyendok sesendok penuh es krim. Ia dan Yixing tengah berbagi padahal cuacanya sungguh sangat dingin. Menggelikan.

"Tidak. Kurasa tidak. Kenapa?"

"Mau datang ke pesta?"

Baekhyun melihat padanya dengan terkejut. Luhan? Di pesta? Itu terdengar seperti hal terakhir yang ingin dilakukan oleh temannya di waktu luangnya.

"Tim basket Xing mengadakannya, dan ia tidak ingin pergi sendirian jadi kurasa aku akan menemninya. Tapi itu di hari yang sama dengan ulang tahunmu, aku tidak ingin kau sendirian."

.

.

Baekhyun mungkin sudah kebal dengan paksaan Luhan, tapi tidak dengan Yixing. Hanya membutuhkan beberapa tatapan puppy eyes dan sebuah senyuman dengan dimple, yang akhirnya membuatnya menerima tawaran itu.

Itulah saat dimana Bakehyun menemukan dirinya di sebuah rumah yang ramai tidak jauh dari rumahnya dihari ulang tahunnya yang ke lima belas. Ia bahkan tidak yakin bagaimana cara mereka bisa masuk kesana, dengan orang yang memenuhi rumah itu, tapi nyatanya mereka disana juga.

Ia juga membawa... pacarnya bersamanya, beranggapan mungkin ia bisa menghabiskan lebih waktu bersamanya.

Tidak sampai satu jam saat ia menyadari kalau ia telah melakukan kesalahan besar. Luhan dan Yixing pergi setelah ia masuk kesana, dan tatapan diantara keduanya, membuat mereka meninggalkan Baekhyun juga membuatnya tidak ingin mengikutinya.

Pasangan kencannya langsung menuju tempat minuman dan melihat kearah lantai dansa, dan sekarang gadis itu telah benar-benar mabuk, menyeret lengan Bakehyun ke keramaian.

Itu memalukan, bahkan lebih memalukan lagi saat gadis itu mengatakan kalau ia ingin merasakan 'kejantanannya', yang mana terdengar seperti kutipan dari situs porno yang kadang dilihatnya di internet saat ia pikir ia masih merasa bukan gay. Yang mana sama sekali tidak menarik.

Punggungnya menabrak dinding dingin dan mungkin kotor di sebuah kamar mandi seorang yang tidak dikenalnya bukanlah ide seksual yang ada di pikirannya. Tapi sekarang disinilah dia, dengan seorang gadis yang terlalu mabuk untuk menyadari apa yang ia lakukan dengan menunduk di depannya. Ia sama sekali tidak pernah merasa tidak bernafsu seperti sekarang dalam seumur hidupnya. Dan ini adalah blowjob terparah yang pernah ada dalam sejarah blowjob. Dan ini keberuntungannya.

Gadis itu tiba-tiba tertidur beberapa menit setelahnya, dan Baekhyun menghela nafas saat ia membenarkan pakaiannya. Ia lalu meninggalkan gadis itu di sofa sebelum pergi dari sana, tau benar kalu dirinya normal dan straight se'straight menara Pizza.

.

.

Memanjat pohon yang mengarah ke balkoni di samping jendela kamarnya terlihat lebih sulit dari biasanya.

Ia tengah mencoba untuk masuk kembali ke ruangannya, saat ibunya yakin kalau ia tengah menghabiskan malamnya di rumah Luhan—setelah pasangan itu menghilang, dan ia juga tidak punya tujuan lain.

Itulah saat Chanyeol menemukannya sepuluh menit kemudian, dingin dan berkeringat dan tidak mampu memanjat lebih tinggi lagi. Itu sudah larut, tapi belum cukup larut untuk Chanyeol bermain Call of Duty. Ia harusnya tau akan itu.

"Kau berbau alkohol." Ia berkata saat meletakkan tas Baekhyun di lantai.

"Bisa dibilang aku minum sedikit, memangnya kenapa?" ia sebenarnya belum minum minuman itu. Lebih tepatnya gadis itu yang mabuk, dan ia menciumnya. Tapi itu akan lebih sulit untuk dijelaskan.

"Kau baru empat belas tahun Baekhyun. Itulah kenapa."

"Lima belas jenius. Hari ini ulang tahunku. Lagipula aku hanya sedikit minum. Bukan mabuk, jika kau mengkhawatirkanku."

"Oh benar. Selamat ulang tahun. Baek. Kau benar-benar bertambah dewasa sekarang." Jawaban Chanyeol terdengar sarkatis.

"Aku membencimu." Ia bergumam. Ia marah pada Chanyeol, tapi itu tidak berarti ia ingin laki-laki itu mendengarnya dan mendapatkan tatapan puppy eyes dari matanya.

Chanyeol mengernyitkan alisnya.

"Jadi ceritakan padaku, seorang lima-belas tahun yang dewasa. Kenapa kau tidak masuk lewat pintu?"

"Ibu pikir aku menginap di rumah Luhan." Ia mengedikkan bahunya

"Oh, dan pulang kerumah tengah malam dengan bau alkohol dan memanjat pohon adalah sebuah ide yang bagus, tentu saja."

Well, Baekhyun tau maksudnya.

"Ayolah, masuk rumahku."

What?!

.

.

Walaupun kelelahan, ia tetap mandi, merasa lebih baik setelah badannya bersih dan memakai piyama tua milik Chanyeol, yang mana sangat kebesaran untuknya.

Ia tidur beberapa jam, dan tidak bangun sampai waktu tengah hari.

Saat ia memakan sarapannya, Chanyeol memberinya sebuah bungkusan kecil di atas meja.

Ia pasti bermimpi.

"Ambilah, itu untukmu. Selamat ulang tahun Baek," ia tidak terlihat semarah kemarin, sebuah raut perhatian tampak di wajahnya, tapi wajahnya menampilkan senyuman saat Baekhyun mengambil hadiah itu—cukup lama karena lengan bajunya menutupi tangannya.

Sebuah kartu ucapan terselip disana

Untuk Baekhyunie

Dari Mr PB dan Chanyeol

Jantungnya berdegup dengan cukup kencang dengan hal itu, dan mungkin itu lebih karena sebenarnya Baekhyun sangat menginginkan hal itu. Dan karena ia cukup gay juga. Ia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat di blowjob oleh seorang gadis cantik—ini cukup memberinya bukti.

Ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam bungkusnya, membukanya dan mendapati sebuah benda cantik. Itu pasti mahal, dilihat dari bentuk detail yang terdapat disana.

Tapi bukan itu yang membuatnya terpesona.

Karena di dalam kotak itu, terdapat sebuah teleskop kecil, hampir seperti replika yang berdiri di kamarnya.

"Kuharap kau tidak menganggapku aneh karena melihat kamarmu." Chanyeol terkikik, terlihat sedikit malu. Oh, kalau saja ia tau, "Dan aku menyadari kalau kau sangat menyukai teleskopmu, iya kan? Kau sering menggunakannya. Aku tidak tau kalau kau suka mengamati bintang."

Chanyeol telah mengetahuinya. Baekhyun sangat yakin polisi akan segera mengetuk pintu rumahnya.

Tapi untuk sekarang, ia sama sekali tidak peduli.

"Terimakasih, Yeol." Ia berkata, dengan suara yang sangat tulus. "Aku menyukainya."

.

.

.

To Be continued….

.

.

.

T/N

Hi dears…

Gimana part 2 ini? Udah merasa terharu belum sama perjuangan Baekhyun? Btw aku menerjemahkannya sambil terharu dan senyum-senyum sendiri loh dengan fluffyyy momennya kkke

Dan masih banyak fluffy momennya lagi di chapter depan. Baek juga udah mulai pervert tuh *yehet*

Oh ya, masih kaku banget nggak dear terjemahannya? Aku udah usaha beberapa kali edit, dan ini memang ff tersulit dari yang pernah aku translate sebelumnya. Bukan karena kosakatanya, tapi lebih ke pov dari penulis/ Baek itu sendiri, dan menyesuaikannya ke Bhs Indo menurutku agak susah. Jadi harap maklum kalo aneh terjemahannya.

Kalo belum jelas di beberapa part tanyain aja dears, biar aku jelasin.

Tidak lupa aku ucapin terimakasih banyak buat yang luangin waktu buat baca, review, fav, dan foll. Salam semangat and….

See u in the next part ^^

.

.

.

#lovesign