don't be silent reader~


Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, Irresistible © Venusa Rays and Lyonia Avilura.


.

.

Irresistible

Chapter 3 - Perfect

.

.

Sakura masuk ke dalam aula ruang sekretariat klub berkuda. Langkah kakinya terhenti saat ia melihat kursi-kursi sudah terisi dengan banyak orang. Gadis itu melihat jam tangannya lalu ia menggelengkan kepalanya. Masih ada lima belas menit sebelum acara welcome party dimulai tetapi ruang sekretariat klub berkuda sudah terisi penuh. Lima deret paling depan sudah full terisi dan kebanyakan wanita yang duduk di kursi paling depan. Sedangkan sisa dua deret dibelakangnya berisi laki-laki. Tanpa pikir panjang gadis itu duduk di kursi paling belakang sendiri. Ia tidak mau rambut pinknya terlihat mencolok jika ia memilih untuk di depan.

Dari jauh Tenten menyunggingkan senyumnya saat melihat kedatangan Sakura. Ia membuka ponselnya dan mencoba menelepon seseorang.

"Si pinky sudah datang. Jadi kapan kau kemari dan segera memulai acara ini?"

.

.

.

Lima menit kemudian suasana aula menjadi hening saat seorang laki-laki berbadan tinggi memasuki ruangan itu. Gadis-gadis yang berada di deretan terdepan berusaha mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin agar tetap sadaar saat melihat laki-laki yang dijuluki lelaki tertampan saat ini berdiri diatas panggung kecil di depan mereka.

Sore itu dia memadukan kemeja navy dengan sweater abu-abu sebagai outer. Jeans hitam membuat kakinya terlihat begitu panjang. Tak lupa dengan jam rolex hitam mahal di tangan kirinya sering terekspos karena tangannya yang tak henti bergerak. Laki-laki itu berdeham kemudian ia membuka acara sore itu serta memperkenalkan dirinya.

"Selamat sore semuanya. Selamat datang di klub berkuda Universitas Tokyo. Perkenalkan saya Uchiha Sasuke mahasiswa semester 3 dari Fakultas Ekonomi jurusan manajemen bisnis. Saya berdiri disini selaku ketua klub ini, juga sekaligus ketua klub termuda sepanjang klub ini berdiri."

Gadis-gadis yang berada di deretan terdepan bertepuk tangan dengan gembira setelah Sasuke memperkenalkan diri dan membuka acara sore itu. Beberapa diantara gadis-gadis itu berusaha menahan diri mereka agar tidak menjerit histeris melihat sosok yang penuh dengan kharisma itu. Tepuk tangan yang kelewat keras membuat riuh ruangan itu. Sedangkan Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran saat melihat lelaki bernama Uchiha Sasuke itu.

Detik itu Sakura baru menyadari ternyata ada yang lebih tampan dari Sabaku Gaara di kampusnya.

Sakura Haruno tidak sadar matanya sedari tadi hanyut ikut memandang Uchiha Sasuke. Meskipun baru kali ini Sakura bertemu dengan Uchiha Sasuke tapi ia merasa laki-laki itu penuh dengan sejuta pesona, kharisma, dan ketampanannya yang luar biasa.

Aku yakin dia bukan manusia biasa. Aku yakin dia adalah seorang dewa. Sakura mulai berbicara dengan dirinya sendiri.

Sakura mendengar dua orang laki-laki di depannya saling berbisik-bisik.

"Dengar-dengar Uchiha Sasuke itu selalu menjadi peraih nilai tertinggi di angkatannya."

"Iya yang kudengar juga ayahnya adalah seorang pengusaha besar."

"Pantas saja fansnya banyak sekali. Sudah pintar, tampan, kaya. Apa yang kurang?"

Mendengar percakapan kedua orang itu membuat Sakura yakin bahwa Sasuke benar-benar bukan manusia biasa. Ia terlalu sempurna untuk didefinisikan sebagai manusia.

"Seperti di tahun-tahun sebelumnya, untuk menjadi anggota inti klub ini kalian harus melakukan tes berkuda untuk melihat seberapa bisa kalian menunggangi kuda." Sasuke sambil terus berbicara mengenai persyaratan menjadi anggota inti klub berkuda dengan tak meninggalkan sikap cool-nya. Bibirnya terus berbicara dan bergerak tetapi mata lelaki itu berhenti di satu titik.

Sakura mulai tidak fokus dengan pertemuan ini. Gadis-gadis itu seperti kesurupan. Laki-laki di belakang seperti tukang gosip infotainment. Sedangkan dia tetap diam dengan kepala yang ramai sahut-menyahut. Beberapa kali Sakura bertemu pandang dengan Sasuke, obsidian dan emerald. Sakura bahkan merasa jantungnya akan melompat beberapa menit lagi. Ketua klub berkuda yang sedang memberi beberapa patah kata di depan sedang memperhatikannya. Yang mengherankan, mengapa harus dia?

Tidak tidak. Laki-laki itu tidak mungkin sedang melihatku. Ia pasti melihat yang lain juga. Gumam Sakura dalam hati sambil menarik nafas dan mencoba menenangkan debar jantungnya. Bagaimana bisa gadis biasa-biasa saja seperti dirinya diperhatikan lekat-lekat oleh manusia setengah dewa.

Sakura mencoba melihat ke kanan dan kirinya, tetapi kosong. Hanya ia sendiri yang duduk di deretan paling belakang. Apa ada yang salah dari dirinya sehingga lelaki yang berdiri lima meter darinya itu terus-terusan menatapnya.

Gadis itu mengerjapkan matanya berulang kali. Lalu menundukan wajahnya dan mengangkat wajahnya kembali sambil melihat Uchiha Sasuke. Hasilnya tetap sama, laki-laki itu masih memandanginya. Gadis itu mengernyitkan dahinya. Ia terus berpikir dengan keras. Apa yang salah dengan dirinya?

Mungkin rambut pink-ku terlalu mencolok.

Dengan cepat Sakura mengambil topi rajut dari dalam tasnya dan segera mengenakannya. Kalau kejadiannya seperti ini, ia akan senang sekali jika ada Ino disampingnya. Gadis itu pasti bisa menebak dan memberikan jawaban mengapa ketua klubnya itu sedari tadi terus memandanginya.

Sakura merasa dirinya sedang tidak dalam kondisi sehat. Tidak biasanya ia peduli dengan orang lain, terlebih ia tidak mengenal orang tersebut. Perlahan Sakura mencoba bersikap santai dan masa bodoh dengan sikap Sasuke. Ia mendengarkan penjelasan Sasuke mengenai klub berkuda dengan seksama. Hanya itu, tidak lebih.

Tetapi tiba-tiba suatu hal yang sama seperti sebelumnya terlintas dipikirannya.

Apa ia tertarik padaku?

Sakura menggelengkan kepalanya. Bodoh sekali jika ia berpikiran seperti itu. Mana ada manusia sesempurna Sasuke yang tertarik padanya. Memangnya ia siapa? Lagipula Sasuke siapa? Bukankah mereka tidak saling kenal.

Uchiha Sasuke. Dia benar-benar sempurna.

Sakura menggelengkan kepalanya lagi. Ia kembali teringat perkataan Ino saat mereka berdua masih duduk di bangku SMA.

.

.

"Lain kali kalau mencari pasangan jangan melihat yang sempurna. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Sakura. Lihat saja hubunganmu dengan Gerrard. Memang ia pintar, kaya, tampan. Tapi ia menyelingkuhimu berulang kali dan kau dengan bodohnya terus memaafkannya. Lelaki sempurna seperti itu pasti brengsek. Kau tau sendiri 'kan sekarang" ujar Ino sambil mengusap-usap bahu Sakura.

Sakura masih terisak sambil mengusap air matanya.

"Lalu aku harus mencari lelaki yang seperti apa?" Tanya Sakura.

"Tidak harus sempurna tapi ia mencintaimu setulus hati. Ia akan terus mencintaimu bukan karena kecantikanmu tapi karena kebaikan hatimu. Juga tetap setia meski sifatmu yang seperti itu."

"Kau menyindirku."

"Tidak juga. Tapi kalau ada laki-laki yang betah dengan sifat keras kepalamu mungkin ia benar-benar menjadi cinta sejatimu."

.

.

Sakura menghela nafas dalam-dalam. Jangan mudah tergoda dengan lelaki sempurna, Sakura.

Satu jam berikutnya berlalu dengan lambat sekali. Mulai dari perkenalan satu-persatu dengan anggota inti klub, lalu saling berkenalan dengan calon anggota, dan yang terakhir ditutup dengan makan ramen bersama.

Setelah acara selesai, dengan cepat Sakura segera beranjak keluar dari ruangan. Sakura merasa tidak tahan berada di dalam ruang yang sama dengan Uchiha Sasuke. Entah bagaimana ia merasa sepanjang acara tadi lelaki itu masih saja terus memperhatikannya.

Gadis itu mendesah pelan saat ia melihat diluar hujan turun dengan deras. Bodohnya lagi ia lupa membawa payung. Harusnya ia tahu, meskipun sebentar lagi Tokyo akan berganti musim menjadi musim panas, tetap saja hujan bisa turun sewaktu-waktu.

Sakura berdiri di teras depan Student Center sambil menanti hujan reda. Beberapa kali ia melihat rombongan orang-orang keluar dari ruang aula klub berkuda tetapi karena diluar masih hujan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke dalam aula. Mengingat di dalam ruang aula masih ada Uchiha Sasuke dan gadis itu malas sekali menjadi pusat perhatian lelaki itu maka ia memutuskan untuk menunggu di luar saja.

Sakura mengeluarkan handphone dari saku celananya. Seperti biasa jika sedang merasa bosan gadis itu memainkan kembali permen-permen kesayangannya, Candy Crush.

"Sudah level berapa?"

Sakura terlonjak kaget saat mendengar suara berat laki-laki tepat di sampingnya. Gadis itu menoleh dan mendapati Uchiha Sasuke berdiri dengan sangat dekat di sebelahnya. Aroma parfum lelaki itu tercium menyegarkan. Sakura menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menghirup oksigen disekelilingnya yang masih belum tercemar dari wangi parfum Sasuke.

"Ngg.. ini baru level 300-an." Sakura mencoba menjawab dengan sesopan mungkin.

"Kau dari klub berkuda kan? Kenapa tidak menunggu di dalam saja?"

Itu karena ada kau, bodoh.

"Aku suka melihat hujan." Sakura menjawab singkat sambil tersenyum. Padahal sebenarnya gadis itu paling tidak menyukai hujan. Apalagi sekarang ia sedang mengenakan sepatu berwarna putih. Bisa dibayangkan bagaimana rupa sepatunya nanti bila melewati jalan yang penuh dengan genangan air.

"Aku Sasuke Uchiha. Salam kenal."

Sakura tersenyum mendengar suara berat Sasuke di sebelahnya. "Well, kau sudah memperkenalkan tadi."

Sasuke tersenyum kecil. Gadis di depannya ini tidak biasa. Ia lebih senang membalas kecil kalimat-kalimatnya. Padahal perempuan-perempuan lainnya akan dengan senang hati berbincang dengannya. Tapi gadis ini sepertinya tidak. Bahkan tangannya masih tetap senang dengan ponselnya.

"Bagaimana denganmu?" Sasuke Uchiha memutuskan untuk mengambil tindakan dengan cepat.

Apanya? Orang ini aneh sekali.

"Sakura Woods. Mahasiswa baru. Salam kenal." Sakura tidak ingin menjelaskan dengan lebih panjang. Ia harus melakukan sesuatu. "Sebentar, aku mau telepon dulu."

Sasuke mengangguk singkat.

"Sasori? Bisa jemput aku di Student Center?"

Lamat-lamat Sasuke mendengar ada nama laki-laki lain yang sedang dipanggil Sakura. Sasuke harus tahu dia siapa.

"Ah kebetulan sekali kalau begitu–cepat keluar! Aku di depan, ayo temani aku pulang ya. Oke, bye."

Sasuke masih tidak berkedip mengamati Sakura sampai gadis itu selesai dengan ponselnya. "Sudah mau pulang ya?"

Sakura berdehem. "Iya. Sudah larut–besok kuliah pagi."

Hanya beberapa detik setelahnya dari dalam Student Center Sakura benar-benar senang melihat Sasori muncul. Kakaknya tampak sangat tampan. Hanya dengan jeans dan sweater hitam panjang, rambut merah dan kulitnya yang putih terlihat sangat menonjol. Tangannya memegang payung besar yang cukup digunakan untuk mereka berdua. "Sakura!"

"Hai!" Sakura tersenyum riang melihat Sasori yang berjalan pelan kearahnya.

Sasori melihat ada yang tak beres dengan adiknya. Ada ketua klub paling tampan tapi adiknya malah bertingkah aneh. "Sudah selesai 'kan? Ayo pulang."

Sakura belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada ketua klubnya, tapi tangan Sasori sudah menggamit tangannya dan mengajaknya pergi dari sana. Meninggalkan Sasuke yang mengeluarkan aura membunuh yang tajam.

.

.

.

"Hey Sakura."

"Apa?" Sakura menjawab panggilan kakaknya dengan malas.

"Itu tadi Uchiha Sasuke?"

"Hm." Sakura menjawab sekenanya. "Bisa lepaskan tanganku? Tumben kau romantis."

"Memang kenapa? Kau 'kan adikku." Sakura memutar bola matanya sambil melepas tangan Sasori.

"Wah dia memang benar-benar seperti apa yang dikatakan orang-orang. Kalau begitu bukan gosip lagi namanya, tapi fakta." Sasori berkata ringan sambil terus berjalan di samping Sakura dengan memegang gagang payung di tangan kanannya.

Sakura diam saja mendengar celotehan kembarannya. Sebenarnya kalau tidak dalam posisi terjepit seperti itu ia tidak akan pernah meminta Sasori untuk pulang bersamanya.

"Lalu kenapa kalian berdua berdiri di teras student center seperti itu? Kenapa kau tidak menunggu di dalam saja?"

Lagi-lagi Sakura hanya diam saja dan tidak mencoba menjawab pertanyaan Sasori.

"Kalau dilihat-lihat dari gayanya berbicara dan sikapnya padamu itu sepertinya ia menyuka..."

Sasori dengan segera menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat Sakura menatapnya dengan tajam.

"Berisik. Bisa diam tidak?"

Akhirnya sepanjang jalan pulang Sasori memutuskan untuk mengunci mulutnya. Sepertinya si adik kecil sedang dalam mode penyihir dan siap menerkamnya kapan saja.

.

.

.

Sakura menekuni modul histologinya dengan sangat serius mengingat minggu depan ujian tengah semester mulai datang menyerang. Modul histologinya penuh dengan coretan dan beberapa notes kecil berserakan di meja belajarnya. Buku catatannya penuh dengan ringkasan-ringkasan kecil agar ia semakin mudah menghafal. Ia memejamkan matanya sambil menghafalkan bab histologi jaringan otot dengan serius. Setelah dirasa sudah banyak yang bisa ia hafalkan, gadis itu melihat list materi yang belum ia pelajari. Sakura menghembuskan nafasnya saat melihat ada banyak materi yang belum ia pelajari. Ini baru semester 1 tetapi belum-belum ia sudah merasa lelah. Sakura meletakan pensilnya lalu ia menyandarkan punggungnya di kursi belajarnya sambil memijit kepalanya perlahan. Ternyata menjadi dokter tidak semudah yang ia kira.

Gadis berambut merah jambu itu kemudian berdiri dari kursinya untuk meregangkan otot-ototnya. Sudah tiga jam lamanya ia hanya duduk diam menekuni bukunya. Setelah itu ia mengambil gelas kosongnya untuk diisi kembali dengan air. Sakura keluar dari kamarnya lalu ia berjalan menuju dapur untuk mengisi air.

Sasori melihat kembarannya keluar dari kamar dan berjalan seperti zombie. Lelaki itu ingin menyapa Sakura tetapi ia mengurungkan niatnya. Biasanya kalau Sakura sudah bertingkah seperti zombie berarti gadis itu sedang stress berat. Melihat adiknya yang terlihat stress, Sasori memutuskan untuk menghibur adiknya.

.

.

.

Setengah jam kemudian Sasori menutup pintu apartemen dengan satu kantung plastik menggelantung di tangannya. Ia mengetuk pintu kamar adiknya tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Sasori memutuskan untuk masuk begitu saja. Lelaki itu terlihat kaget saat melihat kamar Sakura yang berubah menjadi kapal pecah. Buku-buku dan kertas-kertas berserakan di kamar adiknya. Ini baru seminggu sebelum ujian, bagaimana nanti kalau ujian sedang berlangsung. Sasori menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang memiliki hobi rajin belajar itu.

Sakura masih diam saja menekuni bukunya. Ia tidak tahu kalau Sasori ada di dalam kamarnya. Sasori menepuk punggung adiknya dan ia terlonjak kaget. Lelaki itu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Sakura.

"Kau pikir lucu?" ucap Sakura dengan kesal. Gadis itu paling tidak suka diganggu saat ia belajar seperti ini.

"Sorry. Aku sudah mengetuk pintu kamarmu berulang kali tapi kau tidak menyahut sama sekali. Akhirnya aku masuk saja."

Sakura mengacuhkan kembarannya itu kemudian ia kembali menekuni bukunya.

"By the way, sejak kapan kamarmu berubah menjadi kapal pecah?" Tanya Sasori.

"Kau mau membantuku membersihkannya?"

Dengan cepat lelaki berambut merah itu menjawab pertanyaan adiknya. "No, Thanks."

"Kalau kau tidak ada keperluan denganku silahkan keluar. Jangan mengganggu konsentrasiku."

Sasori meletakkan sebuah kantung plastik diatas meja Sakura.

"Ini apa?"

"Asupan gizi untuk calon dokter yang terlihat seperti zombie."

"Kau menyindirku?"

"Tidak juga."

Sakura membuka kantung plastik yang berisi 3 steamed bun yang masih panas dan dua kotak susu cokelat dan sekotak vitamin. Melihat Sasori yang diam-diam memperhatikannya itu sukses membuat Sakura merasa tidak enak sudah membentak-bentak kembarannya itu.

"Ngg.. Thanks. Harusnya kau tidak perlu repot-repot."

"Tidak. Ini hanya untuk berjaga-jaga sebelum kau jatuh sakit. Kalau kau sakit nanti pasti aku yang repot." Kata Sasori sambil berjalan keluar dari kamar Sakura.

Sakura memakan steamed bun-nya sambil tersenyum.

Tidak biasanya Sasori perhatian seperti ini.

.

.

.

Tiga hari kemudian.

Sasori melihat adiknya berjalan ke dapur untuk mengambil air yang kesekian kalinya. Malam itu adiknya terlihat semakin seperti zombie. Setelah ia melihat adiknya masuk ke dalam kamarnya kembali, dengan cepat ia menelepon ibunya.

"Mom, S.O.S. Help me, Mom."

Emiliy mengangkat telepon dari Sasori dengan heran-heran. Belum-belum putra sulungnya itu sudah meminta tolong padanya.

"Ada apa, Sasori?"

"Sakura terlihat seperti zombie, bu. Ia seperti kerasukan hantu yang suka belajar. Lalu sudah tiga hari ini Sakura tidak pernah makan malam. Aku selalu makan malam diluar. Aku harus apa, bu?" Sasori menjelaskan kondisi adiknya dengan panik.

Emily tertawa mendengar ucapan putranya. "Biarkan saja, dia kalau sedang belajar memang seperti itu."

"Kau bisa mengajariku untuk memasak nasi tidak, bu? Aku ingin membuatkan Sakura makan malam. Aku takut ia sakit saat ujian nanti."

Emily tersenyum saat mendengar suara Sasori yang terdengar cemas itu. Suatu kemajuan pesat bagi kedua buah hatinya untuk menjadi akur kembali seperti dulu.

"Pertama-tama kau ambil beras satu cup, masukkan dalam baskom lalu cuci hingga bersih dengan air mengalir..."

Sasori mengikuti langkah-langkah yang diinstruksikan dari ibunya dari awal hingga akhir.

"Sudah kutekan bu tombol cook-nya."

"Kau tunggu 30-40 menit lagi mungkin nasinya sudah matang."

"Kalau begitu lauknya apa ya, bu. Ibu bisa tidak mengajariku membuat sesuatu yang mudah?"

.

.

.

Setelah berkutat di dapur selama satu jam, akhirnya Sasori berhasil membuat nasi dan omelette yang berisi wortel dan daging. Tak lupa ia menggambar hati diatas omellet buatannya dengan saus tomat.

Sasori masuk begitu saja ke dalam kamar Sakura, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sambil membawa sepiring omelette buatannya.

"Ini makanlah."

Sakura terlihat heran saat melihat ada sepiring nasi dan omelette yang masih panas di depannya.

"Habiskan. Aku sudah susah payah membuatkan untukmu."

"Sungguh ini kau yang membuat sendiri? Bukan beli?"

"Lihat saja kondisi dapur kalau kau tidak percaya."

Sakura berdiri dari kursinya kemudian berjalan menuju dapur. Gadis itu terlihat shock melihat dapur yang biasanya bersih berubah menjadi kapal pecah dengan mangkuk, wajan, piring, pisau, dan baskom yang bertumpuk di tempat cucian piring. Belum lagi kulit wortel dan kulit telur yang masih berserakan diatas meja dapur dan belum dibersihkan.

Sasori menarik tangan Sakura dan mendudukan gadis itu kembali diatas kursi meja belajarnya. Sakura hendak membuka mulutnya untuk mengingatkan Sasori agar jangan lupa membersihkan dapur kembali, tetapi Sasori sudah menyuapkan satu sendok omelette ke dalam mulut Sakura.

"Ya ya, aku tahu kau akan mengomeliku. Habiskan makanmu dulu baru kau bisa mengomeliku kembali."

.

.

.

Sasori baru keluar dari kamar Sakura setelah lelaki itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa adiknya itu telah menghabiskan makannya. Sakura memandang pintu yang baru saja ditutup oleh Sasori. Mimpi apa ia semalam melihat Sasori berubah sedrastis ini.

Jam dinding di kamarnya sudah menunjukan pukul 10 malam. Sakura merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Ia sudah membaca banyak materi tetapi rasanya tetap ada yang kurang bila ia belum mencoba mengerjakan latihan soal.

Sakura menyalakan ponselnya lalu membuka aplikasi Line. Mungkin kedengarannya ini gila, tapi gadis itu harus melakukan sesuatu.

Ia memasukan ID Name orang yang baru ia kenal beberapa minggu yang lalu. Setelah menekan tombol add gadis itu menekan tombol chat. Ia diam sejenak mencoba berpikir kembali akan keputusan gilanya. Tanpa pikir panjang lagi gadis itu memulai sebuah percakapan baru.

Halo.

Sakura diam lagi memikirkan kalimat selanjutnya.

Ini Sakura Woods. Dulu kita pernah bertemu di perpustakaan. Aku mau bertanya sesuatu. Maaf mengganggu sebelumnya.

Send

Sakura menendang-nendangkan kakinya di udara. Sepertinya ia sudah gila menghubungi lelaki itu lebih dulu.

Tidak apa Sakura. Tenanglah. Kau memang membutuhkan bantuannya. Tenang. Tenang.

Sakura berusaha menenangkan dirinya. Ia melihat layar handphone-nya dengan cemas. Beberapa menit kemudian di layar handphonenya muncul pop up chat Line.

Hai Sakura :D

Kau mau bertanya apa? Akan kujawab sebisaku.

Sakura melonjak kegirangan diatas tempat tidurnya. Sabaku Gaara membalas chatnya.

.

.

Flashback

Seperti biasanya siang itu Ino dan Sakura menghabiskan waktu makan siang bersama.

Sakura memakan beef udon-nya dengan tidak semangat. Nafsu makannya lenyap mengingat ujian yang dalam hitungan hari ke depan akan dilaksanakan.

"Kau kenapa? Tumben tidak nafsu makan. Padahal 'kan kau suka udon." Tanya Ino sambil meminum jus semangka.

"Aku kepikiran ujian minggu depan." Jawab Sakura singkat.

"Kau ini jangan belajar terus. It's okay to be not the best one, Sakura. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kurangi waktu belajarmu dan perbanyak waktu tidurmu. Lihat itu wajahmu, kau terlihat pucat dengan kantung mata hitam dan tebal. Seperti zombie saja." Tegur Ino pada Sakura.

"Tidak Ino. Aku tidak mengincar posisi the best one. Aku hanya merasa yang kupelajari masih kurang banyak itu saja."

"Kau gila ya? Ini baru semester 1 Sakura. Take it easy."

Sakura hanya diam saja mendengar ocehan sahabatnya. Sakura ingin sekali mencoba bersikap sesantai Ino tapi ia tidak pernah bisa. Gadis itu terlalu takut gagal karena selama ini ia tidak pernah gagal dalam hal apapun.

Sakura menyuapkan udon ke dalam mulutnya. Tiba-tiba saja ia tersedak saat melihat seseorang yang menarik hatinya juga sedang makan di kantin.

Ino mengernyitkan dahinya melihat Sakura yang tiba-tiba saja tersedak. "Kau tidak apa-apa?"

Ino mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin. Gadis bermata biru itu hafal sekali dengan sikap sahabatnya. Bila Sakura makan dan tiba-tiba tersedak, pasti dia sedang mendengar atau melihat hal yang mengejutkan dirinya.

"Kau melihat apa barusan?" Ino mulai menginterogasi Sakura. Gadis berambut blonde itu sudah mengedarkan pandangannya ke kantin tapi ia tidak menemukan hal yang istimewa sama sekali.

Sakura menjawab pertanyaan Ino dengan gelengan kepala. Sakura menyuapkan kuah udonnya ke dalam mulutnya sambil matanya sesekali melirik tempat dimana lelaki itu berada. Ino diam saja sambil memperhatikan mata Sakura.

"Ah aku tahu."

Sakura langsung mengalihkan pandangannya saat ia mendengar Ino berkata seperti itu.

"Kau melihat si rambut merah bukan?"

"Ti.. tidak. Bicara apa kau ini."

"Mengaku saja. Kau tidak akan pernah bisa menyembunyikan rahasia dariku Sakura."

Sakura hanya diam saja. Gadis itu tidak menggubris ucapan Ino.

"Aku benar kan. Si rambut merah kan yang kau lihat?" Ino semakin mengeraskan suaranya.

Sakura langsung menutup mulut Ino dengan tangannya.

"Bisa tidak kau kecilkan volume suaramu?" desis Sakura pada Ino.

Ino menahan tawanya. Sakura memang gadis yang mudah sekali ditebak.

"Jadi seleramu sekarang berubah menjadi lelaki berrambut merah?" Ino mengecilkan volume suaranya.

"Berhenti menyebutnya dengan sebutan lelaki berrambut merah. Ia punya nama, tahu."

"Oh ya? Siapa namanya?"

Sakura diam saja tidak menjawab pertanyaan Ino.

"Siapa namanya? Oh, atau kau tidak tahu siapa nama lelaki itu? Kau mau aku mencarikan namanya untukmu Sakura?"

Ino beranjak dari kursinya dengan cepat Sakura menarik tangan Ino dan meminta gadis itu untuk duduk kembali.

"Aku tahu siapa namanya. Aku tahu. Kau bisa diam tidak sih?" Gerutu Sakura.

"Kalau begitu siapa?"

"Gaara. Sabaku Gaara."

Ino tertawa terbahak-bahak untuk kesekian kalinya dan Sakura kembali menutup mulut Ino dengan tangannya.

"Bisa tidak kau tidak gaduh seperti ini. Jangan menarik perhatian."

"Ok, ok, sorry Sakura."

Sakura menghabiskan jus alpukatnya sambil menatap Ino dengan kesal. Ia paling benci kalau Ino berhasil mengulitinya seperti ini.

"Kau mau aku mencarikan informasi tentangnya?"

Sakura menggelengkan kepalanya.

Ino kini mulai sibuk dengan handphone-nya. Ia mulai melakukan penelusuran tentang Gaara melalui relasinya.

"Jadi namanya Sabaku Gaara. Mahasiswa kedokteran kelas internasional semester 3."

"Kalau itu aku tahu." Sakura memotong perkataan Ino.

Ino melanjutkan ucapannya lagi sambil memandang layar handphonenya. "Lahir di Tokyo tapi seumur hidupnya dihabiskan di China. Wah mirip denganmu Sakura. Kau kan juga begitu."

Ino menscroll down layar handphonenya. "Dua semester berturut turut menjadi siswa dengan nilai tertinggi sejurusan kedokteran baik kelas internasional maupun umum. Wow, ini gila Sakura. Dia pintar sekali berarti."

Sakura mulai tertarik dengan informasi yang didapatkan dari Ino.

"Lalu?" Tanya Sakura.

"Disini ia tinggal dengan kakaknya. Kakak perempuannya juga seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan spesialis. ID Line nya SabakuGaara. Nomor teleponnya..."

"Sudah cukup-cukup. Lama-lama kita terlihat seperti stalker."

"Kau tidak mau ID Line dan nomor handphonenya?"

Sakura hanya diam saja.

"Sudah aku kirim ID Line dan nomor handphone Gaara."

Sakura melihat layar handphonenya, ada satu chat message Line dari Ino.

"Mungkin saja kau membutuhkannya atau kau mendadak ada keperluan penting dengannya. Atau bisa juga kau menghubunginya kalau kau tiba-tiba merindukannya."

Sakura memukul kepala Ino dengan notes kecilnya.

"Are you crazy?"

.

.

.

Chat Message Sakura Woods & Sabaku Gaara.

Sakura Woods: Aku mau tanya ini.

Sakura Woods: Kalau ujian histologi teori biasanya soalnya seperti apa ya?

Sabaku Gaara: Sejauh ini tipe soalnya selalu multiple choice. Tidak pernah ada soal essay kecuali untuk praktikum.

Sabaku Gaara: Kalau kau mau aku punya bank soal yang dikumpulkan oleh para senior setiap tahunnya.

Sakura terlonjak kegirangan melihat kata bank soal. Akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Jari-jarinya dengan cepat mengetikkan balasan untuk Gaara.

Sakura Woods: Terima kasih. Kalau begitu apa aku boleh pinjam?

Sabaku Gaara: Besok akan aku foto copy-kan buatmu.

Sakura Woods: Wah harusnya kau tidak perlu repot-repot. Aku bisa memfotocopy-nya sendiri.

Sabaku Gaara: Kalau begitu besok kau selesai kuliah jam berapa?

Sakura Wood: Jam 1.

Sabaku Gaara: Baiklah aku tunggu jam setengah 2 di perpustakaan. Bagaimana?

Sakura Wood: Okay, deal :D

Sabaku Gaara: Okay see u tomorrow. Selamat belajar.

.

.

.

Sakura menatap layar handphonenya berulang kali dengan tatapan berbinar-binar. Besok ia bertemu lagi dengan Gaara. Sakura berdiri dari tempat tidurnya lalu ia membuka isi lemarinya. Gadis itu mulai bingung besok ia harus memakai baju apa untuk bertemu Gaara.

Sakura menggelengkan kepalanya lalu menutup pintu lemarinya kembali. Yang benar saja Sakura, ini kan bukan kencan. Gadis itu kemudian merebahkan badannya diatas tempat tidur sambil memeluk bantalnya. Sepertinya malam ini ia akan bermimpi indah.

.

.

.

Author's Note:

Thanks buat yang udah review, favorite, maupun follow. Maaf updatenya lama. Lyonia sedang sibuk dengan TA-nya dan Venusa sedang bersiap-siap menjalani koass. Nantinya akan diusahakan untuk terus update. Jangan lupa review yaaa don't be a silent reader hehehe`` ^^