Love Saves The Earth

Author: Levio Kenta Uzumaki

Genre: Supernatural,Fantasy,Romance/Drama.

Rated:T (for now)

Pairing: [Naruto Uzumaki, Sakura Haruno] and others.

Disclaimer: Masashi Kishimoto's own.

Warning: OOC,abal,Typo,DLDR, etc.

My First Fanfiction, mohon bantuannya minna-san. Bagi yang tidak suka sama pairnya tolong jangan membaca, daripada menyesal, no flame, please?!.
Maaf saya nggak bisa update cepet.*Hontouni Gomenasai. Makasih yang udah mau review, fol & fav. Ok let's read!

.

.

.

"A..da apa sebenarnya, Sai?" ekspresi Naruto yang semula datar berubah menjadi serius.

"Sudahlah cepat!"

Tutt..ttuut

"Ck." Dia berdecak, melihat sekitarnya, ternyata sepi! sebelum akhirnya menghilang bersama hembusan angin.

Chapter 3

.

.

.

.

Wush.. Slap

Tap…tap…tap

Dentuman langkah kaki memenuhi ruangan. Menampakkan sosok pria pirang dengan raut wajah serius berjalan menuju ruang pertemuan anggotanya di Phoenix, markas para Saint. Terletak di pinggir danau ditengah hutan yang indah, namun tidak ada orang yang bisa melihat tempat tersebut.

Krrriiieet.. Blam

Semua anggota Phoenix tengah duduk dengan mimik yang tak bisa diartikan, terkecuali Gaara, masih dengan raut datarnya.

Naruto berjalan mendekat kearah mereka-berdiri tegas, "Kenapa tadi Sai menelponku?"

Semua tak bergeming, Naruto merasa sesuatu yang buruk telah terjadi, dia melihat sekelilingnya, dirasa ada yang ganjil dia menoleh kearah Gaara. Yang ditatap tampak pasrah dan memutuskan menyahut pertanyaan yang barusan Naruto lemparkan.

"Sebaiknya kau ke ruang istirahat Sasori, Naruto."

"?" Alis Naruto terangkat mendengarnya tanda meminta penjelasan.

"Dia terluka cukup parah, hanya kau yang bisa mengobatinya." Gaara menghadapkan tubuhnya ke Naruto dan menepuk pundak sahabat pirangnya itu.

Naruto segera menuju tempat istirahat Sasori seperti yang sahabatnya katakan. Dia memutar gagang pintu perlahan agar tak terlalu menimbulkan suara, matanya berpencar melihat kedalam, saat direksinya terfokus ke seseorang yang mengerang kesakitan seketika matanya membola dan dirinya langsung masuk duduk ditepi ranjang tempat Sasori terbaring lemah dengan mata terpejam menahan sakit, disampingnya seorang wanita berparas cantik bermahkota ungu sedang menangis sambil tangannya mengeluarkan cahaya berpendar hijau terarah kedada sebelah kiri Sasori. Dadanya berlubang kecil kulitnya berkerut seperti membentuk sebuah otot, namun berwarna merah kebiruan.

"I..ini.." raut muka Naruto berubah setelah melihat luka temannya tersebut.

Naruto menggertakkan gigi-geram. Dia tau siapa yang menyebabkan Sasori seperti ini, karena luka ini hanya bisa disembuhkan olehnya, tepatnya hanya bisa disembuhkan oleh Saint tingkat tinggi yang juga istimewa, dan yang menyebabkan luka ini adalah orang yang setara dengannya, siapa lagi jika bukan Madara Uchiha, Lord of Eater.

"Brengsek kau, Madara!" Naruto berusaha menahan emosi, ia tak bisa melihat temannya terluka seperti ini.

Naruto langsung meminta Konan menghentikan pengobatan yang dilakukannya sedari tadi dan kini Naruto merapalkan sebuah mantra yang hanya bisa digunakan olehnya.

"Scomparire." Cahaya toska meneyelubungi tubuh Sasori.

"Aarrrgghh" jeritan Sasori terdengar sangat keras. Konan hanya bisa memejamkan matanya sambil terus menangis tak tega melihat kekasihnya seperti itu.

Mulut Naruto terbuka seperti merapalkan mantra lagi, "Coperchio."

Selang beberapa menit luka Sasori menutup dan perlahan guratan-guratan yang menyerupai otot tersebut memudar. Naruto mengecilkan tekanan cakranya, lalu merapalkan mantra penyembuh biasa. Ia bangkit berdiri dan menyuruh Konan untuk melanjutkan pengobatan tepatnya untuk memulihkan tenaga Sasori. Naruto memutuskan keluar ruangan menuju ketempat teman-temannya berkumpul.

Sai yang pertama bertanya, "Bagaimana keadaan Sasori?"

"Dia membaik, Konan sedang memulihkan tenaganya sekarang." Jawab Naruto seraya menyandarkan punggugnya di sofa lalu diikuti oleh yang lain.

"Syukurlah."

Nagato menegakkan tubuhnya, "Kau tau kan Naruto, luka itu!"

"Yahh.. aku tau." Hembusan nafas panjang terdengar lirih dari rongga hidung Naruto. "Bagaimana bisa Sasori terkena luka itu?" Naruto sekuat tenaga berusaha meredam suaranya agar tak nyaring akibat emosinya yang berusaha ia redam, namun tetap saja terdengar nyaring dan menyeramkan.

"Tenanglah, Naruto" Lirih Pain yang berada didekatnya.

"Bagaimana aku bisa tenang temanku hampir saja mati." Terang Naruto dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.

Semua hanya bisa diam, perkataan Naruto memang benar, temannya hampir saja mati. Dan mereka menyuruh Naruto untuk tenang. Mengagumkan?!

"Jika saja kami datang lebih cepat Sasori mungkin tidak akan seperti ini." Sesal Sai.

Semuannya terdiam, Sai benar jika saja mereka datang lebih cepat dan menyadarinya.

"Sudahlah, semua sudah terlanjur! Lain kali jangan sampai kalian lengah!" putus Naruto , "Lagipula bagaimana hal ini bisa terjadi?" lanjutnya.

Nagato memejamkan matanya erat mengingat kejadian yang baru saja menimpa sahabatnya, Sasori beberapa jam lalu. "Sebenarnya…"

-Beberapa jam lalu-

Seorang pria berbadan tegap dan tinggi tengah berjalan dengan raut muka geram, ia merusak apa saja yang dilaluinya dengan sekali pukul dan sekali ucap. Ia tak menyadari bahwa seseorang tengah mengawasinya dari luar gedung yang ia tempati. Pria itu bersembunyi di balik pohon yang sangat tinggi dan lebat, ia mengenakan jubah berwarna hitam.

Brakk

"Ggrrhh! Dasar tak berguna! Tak ada jalan lain selain aku mencarinya dengan tanganku sendiri! Para bebebah kecil itu tidak akan seimbang melawanku. Hah…hahahahahah" ledakkan tawa yang membuat siapa saja yang mendengar akan merinding. Seringai menyeramkan terpampang jelas wajah pria tersebut.

Srekk

"Ck. Gawat!" pria berjubah merah itu hendak pergi sebelum serangan api mengenainya dan membuatnya terjatuh ketanah.

Brukh

"Argh" rintih Sasori. Tiba-tiba seseorang yang diintainya tadi kini telah berdiri tak jauh darinya.

"Oh.. ternyata hanya bedebah kecil.." senyuman mengejek ia tampilkan, ".. Sasori".

Sasori mencoba bangkit berdiri "Brengsek kau, Madara! Uhuk.." darah segar keluar dari mulut Sasori.

Dengan gerak cepat Madara mengangkat Sasori dengan kasar. "Kau pikir aku tak menyadari keberadaanmu, hah? Kau terlalu ceroboh!" Sekejap tubuh Sasori terbanting keras ke sang empu merintih kesakitan.

"Hh~ Sasori… Sasori. Aku pikir kau sudah cukup ahli menggunakan mantra peredam nyawa. Ternyata aku salah! Kalian masih jauh dari pemimpin kalian! Dan sebaiknya aku musnahkan saja dirimu"

Madara mengeluarkan chakra berwarna ungu kehitaman di telapak tangannya diikuti sunggingan senyum membuat Sasori tahu apa yang akan terjadi, ia hendak berlari namun naas.

Wusshh.. Brukh

"Akkhh" seketika tubuhnya terbanting ketanah matanya berusaha terbuka, tetapi tak kuasa akhirnya matanya terpejam, dan hal itu membuat Madara sangat puas dan kembali mengeluarkan tawanya.

"Hah..ha..hahahahahahaha.. 1 bedebah kecil tumbang…., berikutnya kalian semua akan mati."

Slap

Sekali pejaman mata Madara telah menghilang dari tempat tersebut meninggalkan Sasori yang terkapar.

Sring

Tampak sebuah cahaya putih berpendar membentuk menjadi seorang wanita berjubah kelabu yang hampir menangis dan akhirnya memilih untuk segera membawa tubuh Sasori bersamanya.

Slashh

"Seperti yang kau lihat, Naruto."

Naruto memejamkan mata tanda mengerti setelah Nagato menunjukkan kejadian yang menimpa Sasori kepada Naruto dengan kemampuan khususnya, yaitu mentelepati vision yang telah ia dapat.

"Kenapa dia seceroboh itu?!" tangan Naruto terkepal "…hhh.." selesai berkata Naruto berlalu meninggalkan teman-temannya, membuat semua bingung.

"Ehh… Kau mau kemana, Naruto." Sergah Pain.

Langkah Naruto terhenti, "Keruanganku, istirahat." Ia kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti itu & berlalu ke ruangannya.

Di Phoenix setiap anggota mempunyai ruangan sendiri-sendiri, seperti bilik namun cukup luas. Termasuk ruangan untuk para Guardian. Phoenix tidak hanya digunakan jika ada hal penting atau keadaan darurat seperti pertemuan tetapi untuk tempat istirahat dan juga perlindungan.

.

.

.

Konoha International High School 08.00 a.m

"Kyaaa….. Lee! Singkirkan belalang ini dari pundakku! Kyyaaa" teriak salah seorang siswi KIHS yang sedang berlarian mengejar Lee yang sedari tadi tertawa dan berlari.

"Ahahaha… ha..ha…ha.. Huh.. Sudah.. huh..huh ..lah Tenh-Ten aku.. aku huh.. lelah! Huh.. huh" Lee tak kuasa menahan haus ia meraih botol minumnya yang ia letakkan di mejanya dan langsung meneguk habis air tersebut. Ten-Ten pun melakukan hal yang sama setelah dirasa belalang yang berada dipundaknya sudah tidak ada.

"Oh ya Tuhan. Ini sangat membosankan! Ck." suara gerutuan yang membuat wanita bermata Aqua Marine muak. Siapa lagi yang akan bergerutu seperti itu jika bukan pemuda berkuncir nanas, si Shikamaru Nara.

Ino memasang earphonenya, "Cih, Dasar! Tak pernah berubah!"

Teman sebangkunya yang tak lain adalah Sakura, menggeleng-gelengkan kepalanya bosan melihat pemandangan kelasnya tiap kali pelajaran bahasa tentu saja.

Cklek..

"Ohayou minna." Sapa seorang guru bermasker.

"Ohayou Kakashi-Sensei!" Seluruh siswa yang semula ramai kembali ke tempat duduknya masing-masing. Guru Kakashi menggelengkan kepalanya.

"Emm.. Ehmm.. Begini tentang surat pengajuan atau surat pengantar kalian semuanya diterim oleh perusahaan yang kalian tuju."

"Yayyyy…" teriak para murid kelas XI-A yang bisa memekakkan telinga siapa saja.

"Jadi kita diterima! Wahh" Seru Sakura girang disusul anggukan dari Hinata dan Ino.

"Hmm.. aku jadi tidak sabar, Sakura." Papar Ino.

Sedangkan Hinata tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu.

"Eheemmm.. Baiklah minna, buka materi 6 hal 157."

..

Langkah kaki Hinata terhenti tak jauh dari perpustakaan sekolah, ia terpaku sejenak namun segera tersadar setelah ia yakin bahwa pemuda yang dilihatnya adalah kekasihnya, Sasuke sedang duduk berdampingan dengan Karin, sahabatnya dulu yang kini membencinya. Tangan Karin menggelayut manja dibahu Sasuke dan menempel seperti permen karet, Sasuke hanya mengacuhkan tingkah Karin dia tak mengerti kalau Hinata tengah melihat hal yang tak patut dilihat.

Hinata berusaha menahan tangisannya, tapi lelehan Kristal itu ternyata tak mampu ia bendung. Ia pun berlari meninggalkan pemandangan yang membuat hatinya sakit itu.

"Hiks..Hiks.. hiks.."

Suara tangisan yang sangat dikenali oleh Sakura, membuat Sakura tak nyaman. Dia berada di taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenangkan diri atau untuk membaca sesuatu.

Sakura menghentikan aktivitas membacanya, dia mencari sumber suara isakan tersebut. Begitu dia berjalan terlhat rambut bersurai indigo terduduk dibalik pohon Sakura yang tak jauh dari tempat duduk taman. Sakurapun segera menghampirinya.

"Hinata? Kau kenapa?" Kenapa menangis?" Sakura merengkuh Hinata dan mengelus pundaknya pelan.

Tak ada respon, hanya isakan yang semakin keras ia dengar hingga membuatnya bingung.

"Hey? Kau taka apa kan? Ceritakan padaku?" hibur Sakura.

Hinata mengusap air matanya. Sakura masih mencoba bertanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Huff.." Hembusan nafas Hinata keluarkan, "A..ku tak apa, S-Sakura-chan"

Sakura hanya bisa memutar bola matanya, ia tahu Hinata berbohong.

"Huh.. Ayolah kau tak pandai berbohong Hinata. Aku tak akan mengatakan pada siapapun!"

Hinata memang tak pandai berbohong, ia juga tidak ingin berbohong sebenarnya.

"Aku tak sengaja melihat Sasuke-kun bersama dengan Karin di depan perpustakaan."Akhirnya ia memilih bercerita. Alis Sakura terangkat.

"Karin?" jelas Sakura. Hinata mengangguk, tangannya mengusap sisa air mata yang memupuk di matanya.

"Hhhh…." Helaan nafas Sakura meluncur teratur.

"Aku tau dan sering mendengarnya, bahwa Karin menyukai Sasuke-kun sejak SMP. Dan A..aku mendengar juga kalau Sasuke-kun juga pernah mencintai… Karin." Tutur Hinata dengan hati-hati.

"Darimana kau dengar hal itu, Hinata?" Sakura yang semula menyandarkan punggungnya di batang pohon belakangnya langsung menjajarkan diri dengan Hinata.

Hinata menundukkan kepalanya "E..eto.. Tenten-chan.."

"Hah~ pantas!" Sakura memijit pelipisnya yang bekerut kesal. "Yah.. itu memang benar, sih…"

Hinata membulatkan matanya dan menoleh kearah Sakura, tanda meminta penjelasan.

Dengan agak tak tega Sakura meneruskan perkataannya.

"Dulu memang Sasuke mencintai Karin, dan mereka pernah berpacaran. Tapi, Karin menjadi berubah, dia mengacuhkan Sasuke terus menerus, beralasan tiap kali Sasuke memintanya untuk bertemu. Sasuke curiga, tanpa sengaja dia bertemu Karin di pusat perbelanjaan dengan laki-laki, mereka sangat mesra seperti kekasih. Awalnya Sasuke tak percaya dan berusaha mengacuhkannya, tapi dia malah mengikuti Karin. Sampai di tempat parker mobil Karin dan laki-laki itu berciuman, mereka tak menyadari jika Sasuke mengikuti mereka sejak tadi. Dia sangat kecewa dengan Karin."

Pikiran Hinata tak menentu, benarkah yang ia dengar barusan? Lalu kenapa Karin masih mendekati Sasuke sampai saat ini?Hati dan pikirannya bergelut tak menentu.

"La..lu..?" Nada yang terlontar sangat lirih namun Sakura masih bisa mendengarnya,

"Lalu?" ulang Sakura memastikan, lalu mengusap dagunya "Sasuke memutuskannya, tanpa mengatakan alasan. Karin tak terima, tapi kau tau Sasuke, kan? Sejak saat itu ia tak pernah menerima dan jatuh cinta pada perempuan manapun. Hingga kau meluluhkan hatinya saat ini"

Pipi Hinata sedikit merah mendengarnya "Benarkah?". Sakura mengangguk.

"Nah, kau jangan khawatir, Sasuke-kun itu mencintaimu Hinata! Jika dia masih mencintai Karin, sejak dulu Karin meminta hubungan mereka kembali pasti Sasuke akan menerimanya. Jangan dengarkan gosip yang tak jelas. OK!"

Anggukan kecil dan pasti ia berikan.

.

.

Suara ribun para siswa KIHS meramaikan telinga. Gadis secerah bunga Sakura sedang melambaikan tangannya kepada seseorang diseberang jalan gerbang KIHS. Karena sekarang ini waktu pulang sekolah.

"Sakura!" teriak orang diseberang jalan.

Sang empu ikut berseru "Shizuka!" berlari menyebrang saat tanda hijau untuk pejalan kaki menyala.

"Ya ampun! Kau..? kenapa bisa sampai disini, Shizuka?" ungkap Sakura sambil memeluk Shizuka.

Mereka melepas pelukan, "Hmmm…, Bagaimana ya?" kata Shizuka tengah berpikir.

"Kau memang tidak berubah ya, Shizuka!" ujar Sakura dan keduanya tertawa.

"Oh.. ya sebelum ke rumah, kita ke game center dulu bagaimana? Sudah lama kita nggak tanding kan?" tawar Sakura dengan mata berbinar-binar.

Shizuka tak kalah berbinarnya dengan Sakura, segera bergegas ia mengangguk dan keduanya melangkah dengan senda tawa.

.

.

.

Kediaman Namikaze. Pukul 07.00 p.m.

"Deidara.. Naruto.. cepat turun makan malamnya sudah siap, nak?" teriak seorang wanita paruh baya yang tengah menuangkan air minum kedalam gelas.

"Iya… Kaa-san" Sahut kedua pemuda disebrang atas bersamaan. Disusul larian langkah kaki menuruni tangga.

"Ramennya punyaku!"

"Punyaku!"

"Punyaku! Kau kan hampir tiap hari makan ramen, Naruto. Jadi, sekarang giliranku! Minggir!"

Kedua pemuda pirang itu berebut Ramen di meja makan yang hanya semangkok saja, sampai tak mempedulikan ibunya yang tengah mengambil beberapa piring di lemari.

"Punyaku, Aniki!"

"Punyaku, Bakka Otoutou!"

"Pun-.. Awww! Itai!" teriak mereka kompak.

"Beginikah sikap kalian anak-anakku sayang?"

Ctarr… Deathglare mengerikan menguar dari wanita yang tak lain ibu mereka yang terkenal dengan julukan Hebanero merah. Keduanya yang semula saling memegang mangkuk ramen kini meletakkannya di meja makan kembali lantas menguai cengiran tanda minta maaf.

"Hehehe… Gomen-ne Kaa-san!"

Kushina melepas jewerannya, "Baiklah, sekarang duduk kita makan."

Kedua primata pirangpun menuruti seruan ibunya disusul sang ayah yang juga duduk untuk segera makan malam.

.

.

Selesai makan malam Naruto hanya berbaring di kamar tidurnya, memandang langit-langit kamar. Entah apa yang ada didalam pikirannya. Sejenak ia memejamkan matanya menghirup udara dan mengeluarkannya dengan hembusan yang terdengar berat. Tiba-tiba…

Drrtt..drrttt

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi… Naruto bisa kita bertemu sebentar?" terdengar nada seorang diseberang.

"Dimana?"

"Taman kota, sekarang."

"Baiklah, aku kesana."

Tuttt…tttuuut

Tanpa basa basi Naruto segera menyambar kunci mobilnya menuju kebawah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

.

.

Hanya 10 menit Naruto telah sampai ditaman kota, ia memarkir mobilnya disisi barat taman. Dari tempat Naruto berdiri tampak seorang perempuan tengah duduk di bangku taman yang kosong mengenakan blush ungu muda sedang melambaikan tangannya kearah Naruto. Tak lama Naruto melangkah menghampiri perempuan itu.

"Kenapa memanggilku malam-malam seperti ini?" Tanya Naruto, nada yang terdengar dingin.

Gadis itu tak menjawab, justru memeluk erat lengan Naruto, membuat Naruto memberatkan nafas.

"Aku sangat merindukanmu, Naruto-kun." Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Merasa tak nyaman Naruto melepaskan pelukan itu dengan lembut agar sang empu tak teringgung.

"Hn.". mendengar nada singkat yang terlontar, gadis itu mengerucutkan bibir.

" Jika tak ada yang penting aku mau pulang. Kau juga harus pulang." Usai berkata Naruto berdiri hendak meninggalkan gadis itu.

"Naruto-kun.." gadis itu berdiri menunduk, ia memegang erat tangan Naruto. Naruto memejamkan matanya sebentar kemudian membalikkan badannya menghadap kearah gadis itu tanpa melepas genggaman sang gadis.

"A..aku.. men-" belum sempat melanjutkan perkataannya, Naruto dengan cepat menghentikan ucapan itu keluar.

"Cukup, Shion!"

Gadis yang bernama Shion itu memandang Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan, buliran bening perlahan mengalir membasahi pipi gadis itu membuat Naruto kian bingung dibuatnya. Pegangan Shion terlepas, Naruto menggaruk tengkuknya yang memang tak gatal.

"Berapa kali aku mengatakannya lupakan perasaan itu." Nada suara yang sangat lembut.

Shion semakin terisak "Hiks.. kenapa? Hiks.. kenapa kau tidak bisa menerimaku Naruto-kun? Apa kau masih mencintai Sh- "

Ucapannya terhenti akibat Naruto memeluknya dengan tiba-tiba, membuat gadis itu terpaku.

"Dengarkan aku, Shion. Aku tahu.., aku terlalu banyak menyakiti perasaanmu dan tidak bisa membalasnya, maaf. Selama ini aku menganggapmu seperti adikku sendiri tidak lebih. Maaf jika perlakuanku dulu membuatmu memiliki perasaan tersebut. Aku minta maaf."

Jejak-jejak airmata yang semula mengering kini kembali membasahi pipi Shion dan ia membalas pelukan yang diberikan pria blonde itu. Naruto mendekapnya dengan erat karena ia berpikir mungkin ini yang terbaik yang bisa ia berikan kepada orang yang sangat menyukainya.

Setelah dirasa Shion tenang, Naruto segera melepas pelukannya.

"Sekarang kita pulang. Ini sudah larut. Aku bisa mengantarmu." Tawar Naruto.

Shion menggeleng, "Tidak perlu Naruto-kun. Aku tadi membawa mobil, dan ada sopir yang mengantarku. Kalau begitu aku pulang… jaa."

Cup

"Gomen, Shion."

Mata Shion membola, tanpa ia sadari Naruto mencium keningnya-sangat singkat, sampai ia tak sadar akan hal itu, namun ia senang. Guratan merah menghiasai pipinya. Alih-alih takut Naruto melihatnya ia membalikkan badan sembari berguman 'Naruto-kun menciumku'.

"Kau tak apa?"

"Aku tak apa-apa. Kalau begitu.. Jaa" Shion berbalik dan melambaikan tangan ke arah Naruto seraya berjalan pulang.

Naruto memandang Shion yang semakin menjauh. Setelahnya ia berlalu meninggalkan taman. Berjalan ketempat mobilnya terpakir. Sesampainya ia langsung memasuki mobil dan melaju pulang. Matanya terlihat sayu, dalam hatinya ia merasa bersalah 'Maafkan aku, Shion.'

.

.

.

Amegakure, 06.00 a.m.

Kota terbasah di Jepang, yang selalu dihadiri awan hitam pembawa hujan. Disebuah distrik pertokoan Ame terdapat pabrik benang yang telah kosong, terdengar isu bahwa tempat itu menjadi sarang beberapa Eater berlevel tinggi.

"Kau sudah membersihkan semuanya kan, Sai?" Tanya seorang berambut merah bata.

"Ya.. tak ada yang tersisa." Sahutnya.

Crriinng… trrang..

"Sepertinya kau menyisakan 1."

Kreekkk..

"Alunan pedang yang indah." Puji Sai.

"Pujian yang menarik."

Pabrik yang tadinya lusuh berdebu kini menjadi genangan dan coretan darah dimana-mana.

"Kurasa sudah cukup main-mainnya." Pemuda bermata safir menghampiri kedua temannya yang sedang membereskan mayat para Eater yang bertebaran.

Tampaknya tanpa mereka sadari, seseorang tengah memandang mereka penuh amarah dibalik gedung seberang yang cukup tinggi.

"Cihh.. tak kusangka mereka akan cepat memusnahkan saudara-saudara kita yang ada disini! Bagaimana bisa?" nada sarkastik mengalun dari bibir seorang pemuda bermahkota hitam.

Sang teman yang berada disampingnya cukup tenang mengenai apa yang dikatakan pemuda barusan.

"Apa perlu kita membalasnya sekarang Kimimaro-san?" cahaya merah marun menyala dijari-jari pemuda bermahkota hitam tersebut bersiap melayangkannya kapanpun ia mau.

"Jangan bodoh, Obito. Dengan melihat apa yang telah mereka lakukan disana kita tak mungkin membalasnya sekarang. Kau ingin mati disini, saat ini juga?!" ujar Kimimaro dengan senyuman yang tak tertarik sama sekali.

Obito yang mendengarnya mengertukkan gigi. "Tsk! Lainkali tak akan kuampuni mereka, jika bukan karena Kimimaro-san melarangku! Padahal aku ingin mencoba kekuatan ini!" celotehnya agak besar kepala.

"Dasar bocah!" tanggap Kimimaro lirih hingga Obito tak cukup bisa mendengarnya.

Kimimaro mengencangkan jubahnya dan membenahi senjata yang dibawanya. "Ayo kita pergi, Obito!"

Disusul anggukan dari Obito setelahnya mantra teleport mereka lontarkan.

Wush…

.

.

Hari minggu yang cukup cerah di Konoha meskipun musim dingin sedang berlangsung. Para penduduk setempat memenuhi jalanan kota maupun gang distrik. Taman kota pun tak kalah ramai tampaknya sedang penuh dengan para pemuda yang melakukan kegiatan olahraga.

Seorang pemuda bermahkota raven tengah mengatur nafas dan memperlambat ritme larinya disisi lapangan basket yang berada tak jauh dari taman. Peluh sebesar butiran jagung mengalir disekujur tubuhnya menandakan ia telah berolahraga dengan keras. Ia mengusap keringat yang membanjir dengan handuk berwarna biru dongker kesukaannya

"Ohayou, Sasuke." Sapa pemuda berambut nanas.

Sasuke melirik pemuda yang kini berada disampingnya menyodorkan sebotol air mineral.

"Ohayou, Shikamaru." Setelah dirasa nafasnya teratur kembali ia meneguk air mineral yang baru saja diberikan oleh Shikamaru.

"Sedang apa kau disini?" Tanya Sasuke datar.

"Tak biasanya kau bertanya duluan…" sindir Shikamaru, ".. ya, seperti yang kau lihat." Shikamaru berujar tak kalah datarnya.

Sasuke mengamati Shikamaru dari atas sampai bawah, tampaknya Shikamaru juga melakukan kegiatan yang sama sepertinya. Dilihat dari celana pendek selutut dan T-shirt lengan pendek dengan handuk dilehernya bagaimanapun terlihat seperti habis olahraga.

"Hn." Satu kata terlontar manis dari mulut Sasuke.

"Hoam.." Shikamaru merebahkan diri di bangku taman yang cukup panjang, Sasuke meliriknya sesaat lalu mendudukkan diri dibawah bersandar dipohon dekat bangku yang ditiduri Shikamaru.

"Oi.. Sasuke?"

"Hn?" balasnya singkat.

"Bagaimana hubunganmu dengan Hinata?" Tanya Shikamaru to the point.

Sasuke yang tadinya berkelana dengan pikirannya sendiri kini teralih ke pertanyaan Shikamaru "Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?"

Shikamaru mendesah lirih "Hh~.. kemarin aku lihat Hinata mengabaikan ajakanmu untuk makan malam, dan sebelumnya aku melihat ia menangis di taman belakang sekolah. Kupikir kalian sedang bertengkar."

Sasuke teringat, memang kemarin saat Sasuke mengajak Hinata untuk makan malam, ajakannya ditolak alasannya Hinata sedang tidak enak badan, jadi ya ia tidak berprasangka terlalu jauh. Dan sampai dirumahpun Hinata tidak memberinya kabar sama sekali, pikirnya mungkin Hinata sedang lelah atau tidur. Tapi kalau soal menangis Sasuke tidak tau sama sekali, dan 'kapan itu terjadi?' batinnya.

Ia teringat sesuatu, kemarin ia tidak makan siang dengan Hinata, dan menyuruh Hinata ke perpustakaan setelah selesai makan, dan Hinata tidak menemuinya. Mungkinkah karena itu Hinata tidak menemuinya di perpustakaan. Tapi kenapa? Apa yang membuat Hinata menangis?

"Apa kau tau sesuatu, Shikamaru?"

Shikamaru menggelengkan kepala, "Kalau aku tau aku tidak akan tanya kepadamu!"

Sasuke semakin bingung akibat jawaban Shikamaru. Sasuke merogoh saku celananya menggapai sesuatu benda balok yang tipis serba pintar, ia seperti sedang mengetik sebuah pesan singkat dan menyentuh tombol SEND lalu menyentuh lagi sebuah icon bergambar seorang gadis berambut Indigo yang cantik.

Shikamaru melirik kearah Sasuke, "Mendokusai."

Meski lamat tapi Sasuke masih bisa mendengar apa yang dikatakan Shikamaru.

"Perempuan itu memang sangat merepotkan."

Sasuke membenarkan ucapan Shikamaru didalam hatinya. Ya memang benar sih, tapi bagi Sasuke Hinata bukan termasuk perempuan yang seperti Shikamaru katakan. Hinata gadis yang baik, lugu, cerdas dan yah.. dia sangat lembut dan penyayang. Seperti calon istri yang sempurna.

Semburat merah muncul di kedua pipi Sasuke, sadar akan hal itu ia segera menghilangkannya. Berpikir seperti tadi membuatnya tersipu sendiri, padahal selama ini ia belum pernah membayangkan hal semacam itu.

"…suke? Sasuke?"

"Hn?"

"Pesanmu sudah dibalas belum?"

Benar juga, tadi dia mengirim e-mail ke Hinata, ia menghidupkan layar ponselnya, tak ada tanda pesan atau peringatan masuk. Raut muka Sasuke berubah sedikit cemas, sebenarnya apa yang telah terjadi pada gadisnya itu. Sejak kemarin Hinata tidak merespon pesan dari Sasuke sama sekali, bahkan panggilannya saja tidak diangkat. Ia semakin khawatir. Ia menggertakkan gigi-gigi bersihnya. Melihat tingkah Sasuke, Shikamaru mendudukkan diri dan menepuk pundak sahabatnya itu.

"Kurasa kau harus berbicaradengannya, Sasuke."

Ucapan Shikamaru ada benarnya, ia harus berbicara dengan Hinata. Ia tidak tahan bila seperti ini, padahal baru kemarin rasanya sudah seperti setahun baginya.

Sepertinya memang ia belum menyadari bahwa Hinata cemburu karena melihat Karin menggodanya di Perpustakaan kemarin.

"Kurasa memang harus."

Mendengar itu Shikamaru menyunggingkan bibirnya, "Cepatlah baikkan."

Sasuke memejamkan matanya beberapa detik, setelahnya ia berdiri dari duduknya, berjalan pulang meninggalkan Shikamaru.

.
.

01.22 p.m.

"Hh~ jadi tinggal seminggu ini ya persiapannya." Sakura berguman sendiri di ranjangnya.

"Huh… padahal aku belum mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa sama sekali!" sprei yang awalnya rapi kini kusut akibat Sakura bertingkah gulung-gulung seperti anak kecil di ranjangnya. Dasar!

Si gadis bubblegum itu termenung tengkurap, ia khawatir bagaimana jika nanti saat jadi guru sukuan ia malah tidak bisa apa-apa. Dan tidak mendapat teman, atau yang lebih parah akan ditertawai dan tidak disukai oleh para murid disana?! Kyaaa, membayangkannnya saja dirinya bergidik ngeri.

Tidak! Seorang Sakura tidak boleh seperti ini, bagaimanapun ia harus berusaha menjadi yang terbaik dan bisa diandalkan.

"Yosh! Aku akan berusaha!" semangat yang berapi terlihat jelas di emeraldnya, sampai-sampai ia berdiri seperti seorang supermen kehilangan sayapnya.

Bruk

Dengan ringan ia menjatuhkan badannya di kasur queen size miliknya, menarik selimut dan perlahan memejamkan kedua kelopak matanya.

.

.

.

"A..A-pa?"

"Doushita no?"

" Bisa Kaa-san ulangi yang tadi?"

Kushina menepuk jidatnya disebrang telepon "Hh… Minggu depan kau jemput Sakura disekolahnya, sekalian mengantar ia kerumah neneknya."

Mulut Naruto masih ternganga mendengar perkataan Kaa-sannya.

"Naruto?"

Ia tersadar "E.. ya Kaa-san."

"Kaa-san anggap kamu sudah mengerti, jadi jangan lupa ya?!"

Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu, "Aha-ha i..iya."

"Baiklah, Jaa."

Setelahnya terdengar nada sambungan yang terputus.

Pemuda jabrik tersebut meletakkan kembali ponsel miliknya ke saku celana. Ia berjalan pelan ke bangku kerjanya, menyandarkan tubuhnya yang kokoh lalu melihat keluar jendela.

"Ehem.. Manager?"

Saking asyiknya melamun ia sampai belum menyadari bawahannya tengah berdiri melipat tangan dan menggeleng-gelengkan kepala melihat managernyatak menjawab panggilannya.

"Namikaze-san?" nada suaranya ia tinggikan, pikirnya agar sang manager mendengarnya. Alhasil.

"Hn.?" Tatapannya belum teralihkan dari jendela. Setelah mendengar deheman dari pemuda tak beralis tersebut barulah ia tersadar.

"Eh- Sabaku, maaf.. Ada perlu apa?" tanyanya kikuk.

Sabaku, tepatnya Gaara menyodorkan secarik kertas laporan survey perusahaan Marilo di Italia kepada Naruto, segera Naruto melihat isinya dengan cermat setelah mempersilahkan Gaara duduk.

Gaara memperhatikan gerak-gerik Naruto. "Apa ada yang kurang?"

Segera Naruto mengendikkan bahu "Tidak, Ini sangat akurat." Ia letakkan kertas itu diarsip mejanya.

"Lalu bagaimana tanggapan mereka tentang penawaran kita? Tanyanya.

Pemuda yang ditanya menyodorkan kertas berlogo M dengan sayap yang besar, Narutopun membukanya.

"Jadi jawabannya ada diundangan ini?" sambil meletakkan undangan itu di mejanya.

Gaara mengangguk. "Apa kita akan kesana?"

"Entahlah, sementara akan aku tanyakan dulu ke Direktur. Nanti keputusannya aku kabarkan."

"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." Pamit Gaara-ia berlalu setelah menunduk hormat ke Naruto.

Tiba-tiba Naruto teringat sesuatu, "Oh ya, Gaara tolong nanti beritahukan untuk berkumpul disana."

Mengerti maksud managernya, Gaara mengangguk. "Hai' ." Dan ia-pun keluar ruangan Naruto.

.

.

.

Tok.. tok..

Ketukan pintu membuat mata indigo itu terbuka. 'Siapa sore-sore begini bertamu, ya!' gumannya.

"Sebentar… " ia turun dari kamar menuju ke pintu depan. Ia-pun membuka pintu..

"Konbanwa, Hinata."

Hinata ternganga melihat seorang yang sedang berdiri didepannya. Sosok yang ia rindu dan akhir-akhir ini membuatnya kesal.

Refleks ia menutup pintu sebelum Sasuke menahan tangannya ketika ia hendak menarik pintu.

"Tunggu… Ikut denganku sebentar."

Jika sudah seperti ini Hinata tak bisa menolak, ia tak tega. Merasa tak ada perlawanan Sasuke menggandeng Hinata dan hendak membawanya kesuatu tempat. Hinata hanya menurut dan mengikuti kemana Sasuke membawanya.

Hingga mereka sampai di taman dekat distrik rumah Hinata. Sasuke melepas genggaman tangannya, dirinya membelakangi Hinata, keduanya terdiam tak tau memulainya dari mana.

.

.

.

Langkah kaki yang beraturan terlihat sedang memasuki lift. Saat pintu lift hampir tertutup Pemuda tak bealis segera menyelonong masuk.

"Untung pintu itu belum membuat tubuhmu jadi 2."

Yang dimaksud melonggarkan dasinya, akibat kegerahan karena berlari.

"Yah, untung saja." Sang pemuda menyandarkan diri "Aku kerumah dulu tak apakan, Taichou?"

Yang ditanya mengangguk-paham.

Ting

Pintu lift terbuka, kedua pemuda 20 tahun itu melangkah keluar. Mereka menuju parkiran dan memasuki mobil masing-masing.

Brum

.

.

Tak ada satupun dari keduanya yang angkat bicara, hanya terdiam. Sasuke berbalik badan menghadap Hinata yang berada dibelakangnya. Hinata tidak tahu harus berbuat apa, tidak biasanya Sasuke seperti ini. Ia berfirasat jika sekarang Sasuke sedang serius, meskipun biasanya juga serius. Namun kali ini sangat berbeda. Saat hendak ia mengeluarkan kata, Sasuke menghentikan niatnya.

"Apa kau masih mencintaiku Hinata?"

Deg

Kenapa tiba-tiba Sasuke menanyakan hal ini? Batin Hinata. Tentu saja ia masih sangat mencintainya.

"A.. Ak-" Hinata tak tahu harus menjawab apa, ia bingung.

"Kenapa kau tidak mengangkat panggilan dariku?" Sasuke menjeda "Kau menjauhiku, bahkan jarang menemuiku saat disekolah, Kenapa? Hn?"

Petanyaan beruntun dari mulut Sasuke membuat Hinata gugup. Sejak kejadian ia memergoki Sasuke dan Karin di perpustakaan ia jadi mengabaikan Sasuke, tak menjawab pesan ataupun panggilan darinya. Ia kesal tiap kali teringat, meskipun Sakura telah menjelaskan perihal tersebut bahwa ia hanya salah paham. Ia hanya takut kalau ternyata Sasuke masih mencintai Karin. Ia tak bisa membanyangkan jika itu nyata. Bagaimana jika Sasuke memilih Karin. Ia tau prasangkanya terlalu jauh.

"Apa kau berpikir jika aku masih mencintai Karin?" nada yang lembut.

Satu pertanyaan yang keluar dari mulut Sasuke yang membuatnya kembali terkejut, membuat Sasuke mengerti kenapa Hinata mengacuhkannya selama ini. Kenapa Sasuke tahu apa yang ia pikirkan?

"I..itu.. Aku..A-ku.." bingung ia menjawab apa. Karena Hinata berpikir demikian adanya.

Melihat Hinata ambigu, Sasuke tak tahan lagi, ia membuat Hinata untuk menatapnya-memegang erat kedua bahu Hinata.

"Lihat aku Hinata…" Hinata menurut. " … Aku tak pernah mencintai bahkan menyukai Karin. Jika kau bepikir aku masih mencintainya itu dulu sebelum dia menghianatiku. Jangan berpikir seperti ini lagi. Apa yang kau lihat di perpustakaan itu kau salah paham. Aku tidak tahan jika kau mengacuhkanku.. Aku.."

Sasuke memotong kalimatnya "… Aku sangat mencintaimu Hinata. Lebih dari yang kau pikirkan!"

Sasuke melepas pegangan tangannya pada pundak Hinata, terasa sangat lemah ayunan tangan itu.

Entah sejak kapan air mata Hinata mengalir, melihat Sasuke seperti ini ia sangat tak tega. Ia merasa bersalah atas sikapnya terhadap Sasuke selama ini, ia tak menyangka jika Sasuke menjadi seperti ini karenanya.

Sasuke mendekap Hinata dalam pelukan. "Kumohon jangan seperti ini lagi. Jangan menjauhiku."

Hinata semakin merasa bersalah, ia membalas pelukan Sasuke mengeratkan pelukannya seakan tak ingin berpisah dengannya.

"Maafkan aku, Sasuke-kun." Hinata terisak. "Maafkan sikapku. Aku.. aku minta maaf."

Sasuke mengeratkan dekapannya pada tubuh ringkih itu. Wangi Hinata menusuk indra penciumannya membuatnya sangat tenang, padahal baru beberapa hari ia tak bertemu dengannya, rasanya sudah lama sekali. Ia sangat merindukan wangi ini, wangi lavender yang sangat ia rindukan.

"Gomenasai Sasuke-kun, Aku telah salah paham."

Sasuke melepas pelukannya-menatap Hinata. Ia mengusap jejak airmata dipipi kekasihnya itu.

"Hhh~" Helaan nafas lega meluncur dari hidung Sasuke. Ia mengusap kepala Hinata.

"Baiklah, sekarang aku akan mengantarmu kerumah, sudah malam tak baik gadisku diluar lama-lama."

Kata-kata Sasuke barusan sukses membuat Hinata blushing. Dan Sasuke sangat menyukai reaksi Hinata seperti itu.

"Aku belum sepenuhnya memaafkanmu."

Hinata terkejut atas ucapan pemuda raven didepannya ini. "E..eh?"

Sasuke mengulas senyum yang tak kentara. "Kalau kau memang ingin aku memafkanmu, Kau harus menurut."

"Me.. menurut?" Tanya Hinata tak mengerti.

Tanpa aba-aba Sasuke berjongkok di depan Hinata. "Kau harus mau aku gendong sampai rumah."

".. E..to.. Tapi-kan.. A..ku." Hinata bingung bercampur malu dan senang.

"Kenapa? Tak mau? Baiklah aku tidak akan memafkanmu." Sasuke hendak berdiri.

Hinata menarik kaos Sasuke, membuat Sasuke yang hendak pergi terhenti.

"Baik..lah."

Blush

Ia-pun menyanggupinya. Kami-sama bantulah Hinata agar tak pingsan, ia tahu ini sangat memalukan baginya.

Sasuke kembali berjongkok. "Ayo."

Hinata hanya menurut dan berusaha menghilangkan kegugupannya. Sasuke berdiri dan mulai melangkah menuju rumah Hinata.

.

.

.

"Apa semua sudah disini?" seseorang membuka percakapan.

Pemuda disampingnya melihat seisi ruangan, "Sepertinya tinggal satu."

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang, "Maaf aku terlambat."

"Cepat kemari." Tutur lelaki blonde yang terlihat ingin segera memulai pembicaraan. Sedang si pria bermahkota merah bata menurut saja apa yang diucapkan pemimpinnya itu. Ia mengambil tempat disebelah pemuda bermuka pucat.

"Langsung saja. Gaara sampaikan laporanmu." Ujar pria blonde.

Gaara memulai penyampaiannya "Tadi pagi diwilayah Ame beberapa Eater telah membentuk pasukan dibeberapa bangunan tua. Tapi rencana mereka terhenti, Sai dan aku telah menumpas mereka. Dan di hutan sebelah barat Konoha ada markas Eater tingkat IV, Aku menyerahkan ini pada sepupu kita di Konoha. Sepertinya mereka berhasil. Dan lusa kita akan ke Konoha menemui mereka. Itu saja."

"Bagaimana laporanmu, Nagato?"

"Kemarin malam penyerangan terjadi di wilayah Kiri dilakukan Eater tingkat V dan III, sempat terjadi kerusakan namun berhasil ditumpas Saint diwilayah Kiri, aku dan Yahiko membantu penumpasan di wilayah barat kota Kiri. Jumlahnya tidak banyak tapi cukup fatal karena beberapa orang menjadi korban, Konan yang mengobati mereka." Selesai berkata ia menunjukan vision yang ia dapat kepada pemimpinnya.

"Aku mencoba mencarinya tapi ia hilang entah kemana, Apa kau mengenalnya, Naruto?"

Naruto tampak terbawa angan, tak lama ia kembali dari pikirannya "Orang itu, kakek yang aku maksud tempo hari…" Naruto kembali mengingat, memang tak salah lagi. Semua yang hadir nampak terkejut.

"Apa kau tak salah?" seseorang disampingnya memastikan.

"Aku tak mungkin salah, orang itu benar-benar mirip, Pain." Jawab Naruto yakin.

Pemuda bemahkota hitam limis mengusap dagu, "yang jadi pertanyaan kenapa kakek tersebut ada dipertarungan itu?"

Benar juga, sebenarnya siapa kakek itu, dan kenapa dia disana. Dan siapa dia?. Semua tampak berpikir sama.

"Jika benar dia seorang Saint, kenapa dia tidak membantu kita?" simpul Gaara. Semua yang ada diruangan besar itu membenarkan ucapan pria bertato Ai itu.

"Saat aku merasakan hawanya, sepertinya dia bukan manusia." Ujar seorang disamping Naruto, Nagato.

Alis datar Naruto berkerut, "Maksudmu dia roh?".

Nagato memberikan anggukan.

Mendapat anggukan itu Naruto jadi sedikit terbayang kejadian saat bertemu kakek itu, memang agak aneh. Jika ia Saint cahayanya tak mungkin putih seperti waktu itu saat lenyap.

Ia semakin tak mengerti, sekarang bukan waktunya itu. Naruto kembali memfokuskan angotanya ke topik yang akan ia sampaikan.

"Aku ingatkan kalian. Seperti yang kita ketahui bahwa di Konoha ada markas besar Eater tingkat VI, pemimpinnya Izuna Uchiha, adik dari Madara Uchiha. Meski tak setingkat dengan Madara tetapi di sangat berbahaya. Dia cukup licik dan cerdas saat menghadapi musuhnya." Naruto cukup mengingat pemuda itu dalam pertarungannya dulu, dia memang tak pandai dalam mantra tapi dia cukup gesit dan merepotkan.

Itu setahun yang lalu, entah sekarang ia makin kuat atau sama seperti dulu, namun Naruto yakin bahwa Izuna menjadi semakin tangguh sekarang.

"Oh, ya.. Nagato, Pein kalian ikut aku ke distrik barat Suna setelah ini, ada beberapa kucing menerobos penjagaan.." Kedua pria yang disebut tengah bersiap. ".. Gaara, Sai, Yahiko. Kalian jaga perbatasan Suna dari Utara dan Timur. Sementara Dei-nii, Sasori, Guardian dan yang lain tetaplah dimarkas. Jangan sampai mengosongkannya." Dirasa semua mengerti mereka lenyap dan pergi ketempat yang dituju menyisakan beberapa anggota lain di markas besar 'Phoenix'.

.

.

.

Suasana tak menyenangkan terkuar di penjuru ruangan yang bernuansa serba hitam ini, terlihat pemuda yang mengenakan jubah senada batu tengah menginterogasi pria didepannya yang membujur kesakitan.

"Siapa yang menghabisi kalian?" suara dingin yang membuat siapapun yang mendengar membeku karenannya.

"Ss-sa..int tingkat VII .." suara yang setengah kesakitan itu terlontar dari mulut pria bermahkota abu-abu.

Izuna mencoba mengambil penglihatan, "Brengsek! Beraninya mereka menumpas habis bawahanku! Tak termaafkan."

Lelaki Uchiha tersebut meninggalkan ruangan itu, berjalan menuju luar ruangan. "Tunggu pembalasanku, bedebah kecil."

.

.

Pusat perbelanjaan sangat ramai seperti biasanya, di sebuah toko akseoris, gadis berambut merah muda yang ramping sedang memilih sederet pita dan tusuk sanggul, disebelahnya seorang gadis ponytail sebayanya sedang asyik mencoba pernak pernik hiasan rambut.

Tak sadar dari kejauhan seorang laki-laki tengah mengamati keduanya. Lelaki tersebut berniat menghampiri mereka belum sempat menjalankan niatnya, seorang temannya mengalihkan perhatian pria itu.

Ketika ia menoleh lagi ke direksi sang gadis, mereka telah meninggalkan toko yang mereka datangi tadi.

Sebersit rasa kecewa menghiasi raut muka lelaki tampan yang mengenakan jacket dengan lambang kipas yang tak asing. Ia pun meninggalkan tempat ia berdiri mengarah ke sebuah kafetaria tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.

Sesampainya disana pemuda itu tak memperhatikan sekelilingnya dan langsung mengambil tempat duduk yang kosong, tak lama terdiam ia mendengar tawa seorang gadis. Ia menyaksikan sekelilingnya, matanya terpaku pada kedua gadis yang tengah berbincang di meja yang tak jauh darinya.

"Gadis yang tadi." Seusai berucap, ia berlalu ke meja gadis semanis musim semi dan ponytail yang menjadi direksinya sedari tadi.

"Boleh aku bergabung?" sapa si Lelaki.

Kedua gadis itu menghentikan obrolannya, keduanya mengangguk dan mempersilahkan pemuda itu.

"Perkenalkan, aku Izuna." Tutur kata yang sopan batin kedua gadis itu.

"Aku Sakura." Gadis bermahkota pink memperkenalkan diri.

"Aku Shizuka." Ujar gadis ponytail disebelah Sakura.

Pemuda bermata hitam tersebut mengulas senyum, "Belum pesan sesuatu?" tanyanya.

Sakura dan Shizuka menggeleng. Mengetahui itu Izuna memanggil seorang maid.

"Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sambil menyodorkan buku menu.

Tampak mereka sedang melihat menu yang tertera setelahnya sang pemuda angkat bicara.

"Chocolate milk shake 1, blueberry pudding 1." Lalu ia menyerahkan buku menu yang dipegangnya ke maid sebelum kembali berkata "Kalian pesan apa?"

"Strawberry soft cake dan green tea 1."

"Mmm.. Short cake Brownish dan Lemontea 1."

Keduanya mengembalikan buku menu itu ke maid.

"Baiklah saya ulangi, Chocolate milk shake 1, blueberry pudding 1, Strawberry soft cake dan green tea 1, Short cake Brownish dan Lemontea 1."

Mereka mengangguk bersamaan. Setelahnya maid itu berlalu meninggalkan mereka.

"Kalian suka berbelanja?" pertanyaan keluar dari Izuna.

Shizuka cepat-cepat menjawab "Yah, sangat. Tapi sepertinya hanya aku yang suka."

Izuna mengernyitkan dahi, "Maksudmu, dia tidak begitu suka?" tanyanya.

"Yah, begitulah." Jawab Shizuka tanpa ragu.

Sedangkan Sakura hanya bisa diam, melihat sepupunya itu akrab dengan pemuda yang baru saja dikenalnya.

Drrtt… drrrtt..

Sakura merasakan ponselnya bergetar, sebuah pesan yang belum terbaca. Sakura membuka pesan itu.

Sakura jika sudah selesai berbelanja segera pulang. Jangan lupa titipan ibu.

Oka-san

Dimasukkannya kembali ponsel pintar itu kesakunya, ia menyikut lengan Shizuka menghentikan pembicaraan sepupunya itu dengan Izuna.

"Kaa-san menyuruh kita untuk segera pulang." Tutur Sakura.

Shizuka merespon dengan anggukan, "Baiklah."

"Izuna-san.." panggil Sakura sementara Shizuka membenahi barang-barang mereka.

Izuna mengalihkan pandangannya ke Sakura bersiap mendengarkan apa yang akan ia katakan.

"Kami akan pulang dulu tak apa, kan?"

"Tentu."

Saat Sakura hendak meletakkan uang di meja Izuna menghentikannya, "Ano.. kau ambil kembali uangmu. Aku sudah membayarnya."

Sakura ling-lung, "Tapi.."

"Pelayan tolong bungkuskan pesanan gadis-gadis ini." Teriaknya ke salah seorang maid.

"Sungguh.. tidak apa-apa. Senang bertemu dengan kalian." Izuna lekas berdiri bersamaan dengan Sakura.

"Ayo, Sakura." Shizuka sudah menenteng tas belanjaannya dengan susah payah.

Sakura mengangguk dan lekas menenteng belanjaannya lalu mereka bertiga keluar dari café itu setelah pelayan menyerahkan pesanan yang belum diterima tadi.

Mereka berpisah dari depan café, keduanya melambaikan tangan kepada Izuna.

Saat Izuna berlalu dari café itu tak sengaja Sakura menoleh ke belakang dan tanpa sengaja melihat jacket yang dikenakan oleh Izuna dengan lambang kipas yang tak asing baginya.

.

.

.

Sakura berusaha dengan cepat mengemasi barang bawaannya, takut jika yang menjemputnya sudah menunggu dibawah. Segera saja ia turun setelah merapikan dirinya kembali.

"Yosh!"

Lelaki bermahkota pirang tengah duduk di sofa bersama dengan dua orang tua paruh baya. Berbincang dengan tawa mereka yang memenuhi ruangan.

"Aku sudah siap." Sakura tak menyadari bahwa sepasang mata tengan terpesona akan dirinya.

"Sakura-chan… Kau membuat kakakmu menunggu lama." Ujar ayah Sakura yang berada disisinya.

Deg.

Sakura memandang orang yang ada dihadapannya dengan muka merah. Sepersekian detik keduanya beradu mata, membuatnya berdegup kencang.

"Naru-nii.. Gomen.."

Naruto membalasnya dengan senyuman. "Baiklah, kalau begitu ayo berangkat." Naruto segera berpamitan "Paman, Bibi, kami berangkat dulu."

Sakura dan kedua orang tuanya berpelukan, Mebuki sedikit menitikkan air mata.

"Sudahlah bu, Aku akan baik-baik saja. Iya kan Ayah?"

"Benar Mebuki, lagipula dia tidak sendirian, Naruto pasti akan menjaganya."

Naruto menyunggingkan senyum terbaiknya, membuat si gadis musim semi tersipu.

"Baiklah, Jaa."

Naruto dan Sakura masuk ke mobil, Sakura melambaikan tangan ke arah orangtuanya.

Keduanyapun berlalu dan hilang dari pandangan Kizazhi dan Mebuki.

.

.

Sakura merebahkan diri di kamarnya, memandang langit-langit mengingat kejadian 15 menit lalu. Semburat merah mewarnai pipi porselennya.

Naruto menurunkan barang bawaan Sakura, lumayan banyak memang mungkin 2 koper sedang. Sakura lalu menghampirinya dan memungut kedua kopernya itu.

"Biar kubantu." Ujar Naruto yang langsung menggambil salah satu koper yang dibawa Sakura.

"Maaf sudah merepotkan nii-san."

Naruto berjalan disisi Sakura, "Tak apa. Tak usah dipikirkan."

"Um..- Aww.." perkataannya terputus akibat tangannya sedikit tergores duri mawar yang dipetiknya.

"Jangan kau usap." Sergah Naruto saat Sakura hendak mengusap darah yang keluar dari jarinya. Tanpa basa-basi Naruto menghilangkan darah itu dengan mulutnya. Sakura tekejut.

Dadanya serasa sesak, tak bisa bernafas.

Bruk..

"Sakura.."

Dan hanya kata terakhir yang Naruto ucapkan yang ia ingat.

"Apa yang terjadi setelahnya? Aku tak ingat sama sekali." Sesal Sakura.

1 hal yang masih terasa baginya. Saat Naruto mengusap darah miliknya itu, dia merasakan sesuatu yang aneh.

Daripada memikirkan hal itu, Sakura memutuskan untuk menyegarkan dirinya. Ia melirik jam dinding, dilihatnya masih pukul 04.00 p.m.

"Sebaiknya aku panaskan air dulu." Ia pun menuju kedapur, dengan langkah santai tak sengaja ia melihat seseorang yang dikenalnya tengah berbicara dengan nenek. Sakura menghampiri pria itu.

"Dei-nii…"

"Eh..Sakura-chan." Keduanya berpelukan, seperti tak berjumpa sekian lama.

Deidara mengacak-acak rambut Sakura, "Kau semakin besar saja."

"Memang harus begitu-kan?" Sakura menjulurkan lidahnya dan berlari menuju kedapur menghindari cubitan Deidara.

"Oi.. awas nanti kau.. dasar." Menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.

Seseorang yang mengenakan jubah hitam bergaris ungu sedang mengintai dibalik jendela-menyunggingkan senyum liciknya.

"Disini kau rupanya, Guardian." Tangannya mengepal seperti membentuk sebuah jutsu.

"Apert-… Akh… "

Brugh….

"Kau pikir bisa semudah itu mengambil dia, Eater?"

Pria Eater itu memandang ketakutan orang disampingnya. Matanya seolah menyiratkan kematian untuknya.

"Sayonara."

Dan sayangnya itu benar.

Klek…

"Eh?.. Suara apa barusan?"

Sakura melangkahkan kakinya kesumber suara-membuka jendela kamar. Melihat sekeliling, namun sepi.

Gadis itu menutup kembali jendelanya. Berjalan kearah tempat tidur.

"Hah.. Sebaiknya cepat tidur. Besokkan hari pertama." Putusnya, lalu mematikan lampu kamar.

..

"Hh~~"

Tanpa Sakura sadari, seseorang menghela nafas panjang di luar kamarnya.

"Sepertinya ini akan semakin sulit." Tuturnya dengan suara berat sambil memandangi langit tak berawan Suna.

Semilir angin menemani hembusan nafas pria itu. Bersamaan dengan itu pemuda tersebut menghilang bersama terpaan angin.

To Be Continue….

~~~~Love Saves The Earth~~~~

Hhhh~~~ Rasanya baru keluar dari kegelapan.. Berat banget ujian buat saya di chapter ini. Mulai dari Laporan Prakerin, kejar materi, UTS, kegiatan club & rumah, sampai tugas harian dari bapak ibu guru yang tak ada habisnya. Akhirnya chapter 3 bisa rampung meski 6 bulan ini baru kelar. #curcol/maap

Sebenarnya ada yang aku kasih tanggal, tapi aku delete. Soalnya saat aku baca jadi nggak pas. #tepuk jidat

Yosh! aku ucapin thanks lagi yang udah review, read,fav & fol fanfic ini. Ada yang udah aku bales.

Yang minta Next, nih udah dilanjut.

Baiklah saya tunggu review yang lainnya, saran, kritik, dll. #ArigatouGozaimasita