Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, typo maybe, OOC maybe, chapter 3 sampai 5 (ending) udah update.

.

.

.

Love Airs

Chapter 3

Close With President

.

.

.

Hinata meremas gaun tidurnya, ah ya ampun kejadian barusan membuatnya sangat malu bahkan rona merah di wajahnya belum hilang sampai sekarang. Dasar tidak sopan! Presiden mesum!

Tidak, itu tidak pantas dikatakan kepada seorang presiden. Tapi kenapa kejadian ini menimpa mereka? Kenapa mereka harus bertemu dalam keadaan yang memalukan seperti ini. bahkan ini tidak lebih baik dari pertemuan mereka yang pertama kali di pesawat.

Kami-sama yang mengatur pertemuan dan perpisahan seseorang baik pasangan maupun hanya seorang teman. Mungkin memang mereka harus bertemu dalam keadaan seperti ini, dalam kekacauan.

Gaara terlihat lebih cool, walau hatinya terasa masih berdebar kencang efek melihat tubuh polos yang mulus seorang gadis. Tadi setelah teriakan Hinata, Gaara langsung menutup pintu itu kembali dan berkata "Pakai bajumu, nanti kita bicara!"

Gaara benar-benar shock, dia masih lelah karena perjalanannya pulang dari Konoha. Tapi barusan, dia justru disuguhi pemandangan yang sangat…er…Gaara bingung menjelaskannya.

Gaara perlu penenangan diri, oke Gaara juga seorang laki-laki. Laki-laki normal kalau melihat tubuh seorang wanita, asti darah mereka akan langsung berdesir. Gaara langsung pergi ke kamarnya dan membasuh mukanya di kamar mandi pribadinya, mengenyahkan segala bayangan tubuh polos Hinata.

Namun walaupun begitu tetap saja saat mereka canggung saat sudah duduk berdua di sofa, namun di sofa yang berbeda.

Setelah melihat wajah Hinata saat ini, Gaara ingat kalau Hinata adalah pramugari yang menumpahkan jus strawberry pada kemejanya. Tapi kenapa pramugari itu ada di sini dan kenapa dia bisa masuk ke dalam apartemennya? Apa makanan yang di meja juga, Hinata yang menyiapkannya?

"Jelaskan padaku, kenapa kau bisa ada di sini!" Gaara memulai juga tidak menyangka kalau presiden yang mereka maksud sebagai majikan Hinata saat ini adalah benar-benar seorang presiden.

Sekarang Hinata mengangkat wajahnya dan menjawab pertanyaan Gaara "Sa-saya pembantu di apatemen Anda."

"Bukankah kau pramugari itu? Kau dipecat?" Gaara tidak tahu kalau Hinata dipecat setelah kejadian itu.

"Iya" dugaan Gaara benar.

Takdir memang aneh, mantan pramugari ini justru sekarang jadi pembantu di rumahnya. Gaara harus memastikan kepada Naruto yang juga pengacara Gaara, kenapa dia bisa menerima Hinata menjadi pembantunya. Apa Hinata sudah tahu sebelumnya kalau Gaara akan menjadi majikannya, atau Hinata menerima pekerjaan ini karena ingin balas dendam kepada Gaara karena telah membuatnya dipecat.

Ah pikiran Gaara mulai melantur. Gaara mengira Naruto akan mencarikan pembantu yang setidaknya berusia 35 tahun ke atas. Tapi ini justru lebih muda dan bekas pramugari pula.

Untuk sementara Gaara tidak mau ambil pusing. Toh setidaknya sekarang ada pembantu yang mengurus rumah ini.

Hinata khawatir Gaara akan memecatnya karena tahu Hinata adalah pembantu rumahnya sekarang yang sebelumnya adalah pramugari yang membuat kekacauan kepadanya, sekalipun Naruto yang meyuruhnya bekerja di sini tapi kan Gaara adalah majikannya.

"Siapa namamu?" tanya Gaara dan Hinata menjawab "Hyuuga Hinata".

"Baiklah, pasti kedua orang di depan pintu itu…" Gaara melirik pintu depan apartemennya "sudah memberitahu tugas-tugasmu di sini." dan Hinata menjawab dengan kata "Iya".

"Sedikit tambahan, aku pulang jam 7 malam. Tapi terkadang lebih larut dari itu."

Gaara mengatakan itu, karena mungkin Hinata akan menyiapkan makan malam untuknya. Sementara Hinata lega, karena Gaara tidak memecatnya. Dia bahkan baru bekerja belum genap satu hari.

"Arigatou, Tuan Presiden"

Gaara merasa aneh dengan gadis ini, orang lain akan menyapanya dengan Pak Presiden atau Presiden Sabaku. Hanya Naruto saja yang mentang-mentang temannya dari SMA seenaknya saja memanggil namanya langsung, walaupun posisi Gaara sudah menjadi presiden dan Naruto adalah pengara pribadinya.

Tapi terserahlah gadis ini mau memanggilnya apa.

.

.

.

.

Gaara sedang duduk di sofanya, tatapan matanya kosong. Beberapa lembar brosur di depannya yang tergeletak di meja dibiarkannya.

Gaara hanya sedang melamun, presiden juga seorang manusia kan? Wajar kalau dia sedang memikirkan sesuatu, bukan sepenuhnya tentang pekerjaannya. Hanya hal yang penting dan tidak penting menurutnya.

Hanya kejadian tadi siang, pembicaraan di ruangannya bersama beberapa menterinya. Yang awalnya pembicaraan mengenai keadaan negara berubah menjadi pembicaraan mengenai kehidupan pribadi seorang presiden.

Kenapa para menteri yang umurnya lebih tua rata-rata sekitar 20 tahun di atas Gaara itu usil sekali sih? Apa mereka tidak punya kerjaan sampai mengurusi urusan pribadinya segala?

Lalu kenapa para wartawan itu sampai berani membuat berita yang membicarakan mengenai presiden mereka, bukan berhubungan dengan negara melainkan kehidupan pribadinya? Ini bukan disebut berita, namun menggosipkan namanya?

Negara ini memakai sistem pers apa sih? Sampai wartawan sebebas itu membuat berita seperti itu, Gaara bukan artis tahu tapi dia presiden negara Suna yang harus dihormati walau umurnya sangatlah muda untuk seorang presiden. Bukankah setelah wartawan mendapatkan berita, sebelum berita itu dipublish, mereka harus mengkonfirmasi dulu kebenarannya kepada pihak yang bersangkutan atau yang mewakili pihak yang bersangkutan tersebut?

Atau mungkin wartawan itu sudah mengkonfirmasi kepada pihak presiden seperti juru bicara presiden atau para menteri mungkin dan membenarkan berita tersebut. Menyebalkan sekali, menusuk dari belakang atau mereka memang punya niat tersembunyi di balik semua ini.

Salah satu menteri memberikan majalah kepada Gaara, majalah yang membuat ekonomi. Tapi kenapa membuat berita seperti itu "Presiden Suna Tidak Laku". Atu majalah ekonomi yang satunya yang memakai tajuk "Presiden Suna Homo".

Apa salah kalau Gaara belum menikah di usia 31 tahun?

Banyak orang yang menikah di usia yang lebih tua dari itu, menyebalkan sekali.

Para menteri itu mengatakan, lagipula memang benar kalau Gaara harus segera menikah. Pemimpin memang harus punya Ibu Negara untuk menemaninya dalam setiap kegiatan, terutama untuk kunjungan keluar negeri.

Gaara hanya ingin fokus dulu menjadi presiden, setelah itu baru memikirkan urusan menikah. Ternyata memang benar mereka punya maksud lain, membicarakan hal itu dengan Gaara. Mereka mulai membicarakan anak perempuan mereka atau anak saudara mereka yang punya jenis kelamin perempuan. Mereka tentu saja memuji perempuan yang berhubungan darah dengan mereka.

Kesempatan mempunyai hubungan yang erat dengan presiden dengan jalan tali pernikahan, bukankah hal yang bagus dalam urusan politik?

Gaara hanya diam dan jengkel mendengar ocehan mereka.

"Ini kopinya, Tuan Presiden."

Gaara tersadar dari lamunannya karena suara Hinata yang mengantarkan kopi untuknya. Hinata menaruh kopi itu di atas meja.

Hinata baru dua hari berada di apartemennya, Naruto sudah mengkonfirmasi kepada Naruto mengenai bagaimana Naruto bisa mengenal Hinata dan apakah Hinata tahu kalau dia akan bekerja di sini. Dari cerita Naruto, Hinata sepertinya memang murni bekerja di sini karena membutuhkan pekerjaan dan itu karena kejadian di pesawat itu yang melibatkan dirinya, yang membuat Hinata harus dipecat.

Ya memang bukan sepenuhnya salah Gaara, hanya saja Gaara sedikit merasa bersalah. Mungkin dengan Hinata bekerja di sini, maka secara tidak langsung Gaara membayar rasa bersalahnya itu.

Lagipula selama Hinata bekerja di sini, dia tidak melakukan kecerobohan apa pun. Semua pekerjaannya rapi, Gaara tadinya mengira Hinata akan bertindak ceroboh seperti waktu di pesawat? Ah mungkin waktu itu Hinata benar-benar sial.

"Oh, ya ampun. Mereka lucu sekali. Apa Tuan Presiden akan menemui mereka?"

Hinata langsung menutup mulutnya, Hinata merasa sangat bodoh sekali karena baru saja tersadar kalau dirinya sok akrab dengan Presiden. Tapi Hinata benar-benar menyukai anak-anak, tidak biasanya Hinata tiba-tiba seperti itu. Hanya saja itu berhubungan dengan anak-anak, makanya dia langsung mengatakan itu tanpa ingat bahwa orang yang sedang diajaknya bicara adalah seorang presiden.

"Gomenasai, Tuan Presiden". Hinata membungkukkan badannya berulang-ulang.

Gaara tidak risih dengan sikap sok akrab dengan Hinata. Justru mengatakan "Kau suka anak-anak?" sambil menunjukkan brosur yang bergambar anak-anak TK yang lucu sekali.

Hinata mengatakan dengan canggung "I-iya" karena dia masih merasa bodoh atas sikapnya tadi.

Gaara akan mengunjungi sebuah TK, memang ada beberapa brosur TK yang ada di atasmeja dan Gaara harus memlih satu Tk untuk dikunjungi. Katanya untuk membuat citra seorang presiden yang dekat dengan anak-anak dan mengenalkan presiden kepada anak-anak.

Gaara tidak suka diatur-atur seperti itu. Apa pencitraan? Berarti Gaara harus berpura-pura karena dia benar-benar tidak tahu apa pun tentang anak-anak. Yang ada di bayangan Gaara, anak-anak itu selalu membuat ribut.

Tapi Gaara tahu, anak-anak juga rakyatnya yang perlu dilindungi dan diurus. Apalagi anak-anak adalah masa depan bangsa. Anak-anak itu perlu mengenal presiden mereka. Maka dari itu Gaara menyetujui kunjungan itu.

"Aku akan mengunjungi mereka. Aku tidak mengerti dengan mereka. Bagaimana harusnya aku bersikap kepada mereka?" seorang presiden meminta pendapat kepada Hinata yang notabenenya hanya rakyat biasa dan juga berprofesi sebagai pembantunya. Ini sungguh kehormatan bagi Hinata.

"Dengan tersenyum tulus dan mendengarkan keinginan mereka."

Hinata masih berdiri, dan Gaara menyuruhnya untuk duduk di sampingnya "Duduklah!" sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya. Hinata menggeleng, itu tidak sopan menurutnya, dia sadar kalau dia hanya seorang pembantu.

Gaara menanyakan "Bagaimana caranya tersenyum tulus?" Gaara memang jarang sekali tersenyum apalagi tersenyum tulus.

"Kalau konteksnya anak-anak, Tuan hanya perlu memerhatikan mereka, memandangnya sebentar. Dan akan muncul keindahan yang muncul dari pancaran wajah mereka. Otomatis hati Tuan akan terasa damai." Hinata tersenyum.

"Sepertinya sulit", kedengarannya memang mudah tapi Gaara tahu sepertinya hal itu sulit untuknya.

"Saya percaya, Tuan Presiden pasti bisa." Hinata menyemangati.

Hinata mengucapkan permisi karena sepertinya Gaara sudah tidak membutuhkannya lagi. Ketika Hinata akan berbalik, Gaara mengucapkan "Arigatou".

.

.

.

.

Hinata menonton televisi yang menayangkan berita Gaara mengunjungi anak-anak. Hinata boleh menonton televisi di apartemen Gaara tentu dengan seizin Gaara, Gaara bilang kalau Hinata bosan, Hinata boleh menonton televisi.

Dalam tayangan tersebut terlihat sekali Gaara yang mengikuti saran Hinata, Gaara melihat satu-persatu anak-anak TK yang berseragam kuning kotak-kotak. Hinata tersenyum dan bangga, ternyata Gaara mengikuti sarannya.

Namun Gaara memang tidak menampakkan senyum tulus, mungkin benar apa yang dikatakan Gaara kalau itu sulit untuknya.

Berita itu menyampaikan kalau Gaara mengenalkan dirinya sebagai presiden. Yang anak-anak itu tahu kalau posisi Gaara itu sangat penting dan keren. Mereka justru berlomba mengajak Gaara bermain. Di luar dugaan, Gaara bukannya risih namun menampakkan senyum tulusnya.

Berita itu mengatakan kalau senyuman Gaara bisa membuat hati para wanita meleleh, mungkin HInata juga seperti itu saat melihat senyuman itu. Hinata jadi merona sendiri. Hinata tahu mungkin Hinata akan menjadi fans Gaara, namun fans yang sangat beruntung karena bisa bertatap muka langsung dengan Gaara setiap hari.

Enyahlah pikiran itu! Itulah yang ada diperintahkan otak Hinata sekarang. Menurut Hinata itu adalah pikiran picik. Hinata tidak boleh seperti itu.

.

.

.

.

Hinata menuangkan segelas air putih ke dalam gelas di depan Gaara. Gaara sudah duduk di kursi, Gaara akan menyantap makan malamnya.

Hinata akan segera pergi, namun Gaara berkata "Makanlah bersamaku!" perintah Gaara.

Tentu Hinata merasa ini tidak sopan. Gaara tahu Hinata akan menolak "Ini perintah, lagipula ini ucapan terima kasihku atas bantuanmu mengenai anak-anak itu."

Hinata menolak lagi "Gomenasai, Tuan Presiden. Tapi saya sudah makan."

Dalam pikiran Hinata, Gaara akan marah kepadanya karena berani makan lebih dahulu dibandingkan majikannya. Tapi Gaara kan pulang malam, dan Hinata sangat lapar. Masa dia harus menunggu Gaara pulang dulu, baru makan. Dia kan bukan istri Gaara, lagpula bagimana kalau Gaara pulang sangat larut dan Hinata tidak bisa menahan rasa laparnya. Hinata kan punya penyakit maag, bisa-bisa maagnya kambuh nanti.

"Kalau begitu, duduklah, temani aku makan!"

Hinata akan menolak lagi, namun tatapan mata Gaara sekarang terlihat seperti benar-benar memerintah. Hinata takut-takut duduk di kursi dekat Gaara.

Setelah itu Gaara mengatakan "Ittadakimasu".

Saat seorang pria mengatakan ingin ditemani atau di sinilah bersamaku kepada seorang wanita. Tanpa wanita itu berbicara apa pun ketika berada di sampingnya, hanya menemani. Itu adalah hal yang sangat membahgiakan untuk seorang laki-laki.

Entahlah kenapa Gaara juga merasa seperti itu kepada Hinata.

Tidak hanya menemani Gaara makan, Gaara juga ingin ditemani menonton film komedi bersama Hinata. Gaara bilang dia hanya perlu hiburan dari segala kepenatannya, makanya dia memilih menonton film komedi.

Hinata berpikir pasti Gaara sangat kesepian selama ini, tapi Hinata jadi dag dig dug sendiri karena duduk bersebelahan dengan Gaara, walau bagaimanapun Gaara kan seorang presiden.

Gaara tidak tertawa sedikitpun padahal filmnya begitu lucu, Hinata hanya sesekali terkekeh. Gaara mendengar kekehan geli Hinata dan Gaara tersenyum, namun tidak dilihat Hinata. Senyum yang sama tulusnya saat bersama anak-anak itu.

Hinata membuatnya sadar kalau anak-anak tidak semenyebalkan itu, suatu hari Gaara juga akan menjadi seorang ayah dan kepenatannya akan hilang seketika saat pulang ke rumah disambut senyum dan tawa dari anaknya.

.

.

.

.

Gaara sangat sibuk sampai mengharuskannya pulang sangat larut, pukul 1 dini hari.

Gaara cukup terkejut, melihat Hinata tertidur di sofa depan televisi. Televisi itu tidak menyala, mungkin Hinata menunggunya untuk menyiapkan makan malam. Kalau seperti ini, seharusnya dia tadi menelpon Hinata kalau akan pulang larut.

Gaara berinsiatif menggendong Hinata ala bridal style ke kamar Hinata. Gaara tahu itu tidak sopan, walau bagaimanapun Hinata adalah seorang perempuan yang harus dihormati dan Hinata buka siapa-siapanya.

Tapi Gaara tidak mau Hinata tidur di sofa sampai pagi, nanti badan Hinata pegal-pegal. Gaara juga dag dig dug saat menggendong Hinata. Entah takut Hinata terbangun atau karena hal lain.

Gaara menyelimuti Hinata samapi sebatas dadanya. Kemudian Gaara pergi ke kamarnya untuk mandi dengan air hangat.

Dan saat Hinata terbangun, Hinata juga terkejut kenapa dia bisa berada di kamarnya. Seingatnya semalam dia ketiduran di sofa karena menunggu Gaara.

Apa dia berjalan saat tidur ya?

Tapi Hinata tidak memedulikan hal itu lagi, mungkin Gaara sudah pulang semalam tanpa sepengetahuannya. Makanya dia harus cepat-cepat mandi dan menyiapkan sarapan untuk Gaara.

.

.

.

.

Gaara menatapa foto para wanita yang berada di mejanya.

Para menterinya semakin gencar saja ingin menjodohkannya. Makanya mereka memberikan foto-foto itu. Gaara tidak begitu tertarik dengan ini.

Hinata menghampirinya seperti biasa untuk menaruh kopi kesukaan Gaara, Hinata melihat foto para wanita itu.

"Aku akan menikah, tapi aku bingung harus pilih yang mana." ucap Gaara tiba-tiba pada Hinata.

Hinata nampak terkejut, entah kenapa ada bagian dari dirinya yang tidak rela ini terjadi. Tapi Hinata tetap merasa hal itu boleh. Maka dari itu Hinata tersenyum.

Kemudian Gaara berkata "Mereka menyuruh memilih, bantu aku!"

Sekarang Hinata mempunyai profesi ganda yaitu pembantu sekaligus teman curhat Gaara.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Ryu update chapter 3 sampai dengan chapter 5 (ending).

Terima kasih banyak buat yang udah baca,review, fave, follow, semangatin dan menunggu kelanjutan cerita ini.

Mohon maaf Ryu ga sebutin satu-satu namanya dan juga ga bales reviewnya. Tapi terima kasih banyak ya :D

Kenapa Ryu update sampai chapter ending?

Alasannya ada di chapter 5.

Terima Kasih

Ryu