Sebuah mobil berwarna hitam pekat berhenti di sebuah gedung bertingkat. Keluarlah seorang laki-laki dewasa berambut hitam panjang beserta dua bodyguard-nya.

Jpret! Jpret!

Suara kamera seketika terdengar. Para paparazzi mulai memotretnya dan para wartawan mulai mengerubuninya dengan beribu pertanyaan. Yang ditanya hanya diam tanpa menjawab sedikit pun dan terus berjalan dengan coolnya. Dua bodyguard itu terus melindunginya dari serangan wartawan.

Jauh dari sana, seorang gadis melihatnya dari layar kaca. Kebencian tampak terlukis di wajahnya ketika ia melihat lelaki itu sedang diwawancarai oleh para wartawan. Ia mengepal tangannya erat-erat. Bibirnya digigit kencang hingga berdarah.

"Aku benci!" ucapnya. "Benci! Benci! Benci! Benci! BENCI!"

.

Bleach © Tite Kubo

The Season

Chapter 3

Hal yang Disembunyikan

.

"Huaah … sebentar lagi musim dingin selesai …" ucap Rukia sambil merenggangkan tubuhnya.

Momo tersenyum kecil. "Kau memang Winter Lovers, ya!"

"Hee? Siapa bilang begitu?" Tanya Rukia.

Momo menunjuk seseorang. "Menurut Shiro-chan! Itu dia orangnya!" Momo segera melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. "Hei! Shiro-chan! Ohayou!"

Toushiro hanya melirik sekilas dan mengangkat satu tangannya sambil tetap berjalan dengan cool-nya. Dan itu hanya membuat Rukia bermuka masam.

"Kau kenapa?" Tanya Momo ketika melihat wajah masam gadis itu.

"Tidak. Tidak apa." Jawabnya dingin.

"Benarkah? Kau terlihat tidak suka dengannya. Apa kau punya masalah dengannya?"

"Tidak."

"Kau bohong, ya?"

"Diamlah! Dan jangan bertanya lagi!" ucap Rukia dengan penuh penekanan.

Momo diam, tidak membalas perkataan gadis itu. Kalimat terakhir yang dilontarkan dengan penuh penekanan itu sudah cukup membuatnya bungkam. Mungkin memang sebaiknya ia tidak mencampuri urusan orang lain.

.

.

~The Season~

.

.

"Hitsugaya, kau maju! Kerjakan nomor tiga di papan tulis!" perintah Gin-sensei dengan tetap mempertahankan senyuman rubahnya.

"…"

Diam. Tidak biasanya pemuda itu diam seperti itu hanya karena melamun.

"Hitsugaya? Kau dengan tidak?"

"…"

Sedikitpun tidak bergeming.

"Psst! Hitsugaya!" Rukia menyikut lengan Toushiro yang sedari tadi diam tidak bergeming sedikitpun. "Hitsugaya Toushiro!" bisiknya lebih kencang lagi.

"E-eh?" Hitsugaya keluar dari lamunannya. Ia menatap Rukia bingung.

Rukia segera membisikinya cepat. "Kau disuruh mengerjakan nomor tiga di papan tulis."

Toushiro mengangguk cepat lalu berjalan ke arah papan tulis dan menuliskan jawabannya tanpa mempedulikan tatapan bingung dari seisi kelas. Tidak sampai satu menit, jawabannya sudah tertera di papan tulis

"Yap, benar sekali jawabannya!" ucap Gin-sensei seraya menyatukan kedua tangannya. "Dan … untukmu, Hitsugaya …" Toushiro berhenti berjalan dan menoleh ke arah gurunya itu. "Perhatikan pelajaran pada jam pelajaran saya! Ingat ini masih peringatan pertama, jadi saya masih memberi kesempatan untuk kali ini!"

Hitsugaya hanya mengangguk sekenanya dan kembali ke tempat duduknya dengan malas. Ia mendengus kesal. "Tanpa memerhatikanpun, bukankah aku sudah pintar, Rubah-sensei?" gumamnya kecil yang tentu saja tidak terdengar oleh guru itu. Iris emeraldnya menatap kosong papan tulis, tetapi rasanya tatapan itu ada yang berbeda dari biasanya.

Rukia yang mendengar gumaman kecil hanya bisa diam. Yah, walaupun tadinya ia memaki-maki Toushiro karena terlalu menyombongkan diri, tapi entah kenapa ia merasa agak khawatir dengan pemuda di sampingnya itu.

Ada apa denganmu?

"Jangan khawatir seperti itu, Kuchiki."

Rukia tercengang mendengar kalimat yang dilontarkan dari seorang Hitsugaya. Bagaimana bisa pemuda itu tahu apa yang dipikirkan gadis ini?

"Raut wajahmu gampang sekali ditebak, Kuchiki."

Rukia memalingkan wajahnya. Ia melirik pemuda itu sinis. "Bagaimana bisa aku mengkhawatirkanmu?" Dusta. "Aku sama sekali tidak peduli pada orang sedingin es." Lagi-lagi dusta. "Lagi pula apa untungnya juga kalau aku mengkhawatirkanmu?" Benar, tidak ada untungnya, tapi kenapa …?

Iris violet menatap tajam iris emerald. Sedangkan emerald hanya memandang balik dengan malas. "Hn, terserah anda sajalah!" Toushiro kembali menatap guru yang sedang mengajar itu.

Ada apa dengan dirinya, sih? Batin Rukia kesal. Terlalu PD! Lagipula … siapa juga sih yang peduli padanya?

"Ah … dan satu lagi!" sekali lagi iris emerald itu meliriknya. "Jangan menatapku seperti itu! Risih tau!"

Dan kalimat itu tambah membuat Rukia jengkel. "Jangan terlalu PD, Hitsugaya Toushiro!" ucap Rukia kesal –sangat kesal.

Ia mengeluarkan jampi-jampi serta kutukan-kutukan kejam nan mematikan untuk pemuda di sebelahnya itu. Sungguh betapa kesalnya Rukia.

.

.

~The Season~

.

.

"Ne, ne, Rukia-chan!"

"Ada apa, Momo? Jika kau mengajakku pergi ke mall untuk hari ini …" Rukia menahan napas. "… maaf sekali aku sedang tidak berminat."

"Kok kamu tahu, sih?" Momo mengerucutkan bibirnya. "Aku bahkan belum bilang!"

"Haha, itu mudah ditebak Momo. Kau selalu hampir setiap hari mengajakku pergi. Memangnya kau kira aku anak kaya?" ucap Rukia sweatdrop melihat tingkah laku yang sama setiap harinya, yaitu mengajaknya pergi –entah kemana.

Kaya? Ah, Momo mengingat suatu hal. "Ehm … bukankah kau anak kaya? Kau tahu bukan perusahaan yang sekarang sedang naik daun di Amerika?"

"Amerika? Perusahaan?"

"Itu looh, perusahaan dari Jepang yang sedang marak di Amerika!"

Rukia memutar otaknya. Ah, benar juga. Perusahaan itu. "Kuchiki Corps?"

"Yap! Benar sekali! Kau adik dari istri pemimpin perusahaan itu, bukan?" Tanya Momo semangat. "Dan itu berarti kau kaya!"

Rukia mengeratkan genggamannya pada tali tas punggungnya. "Tidak … marga kami hanya kebetulan sama saja, kok! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan perusahaan itu."

Kebetulan? Pasti Rukia sedang berbohong!

"Kau bohong, ya? Tidak mungkin kau tidak mempunyai hubungan apapun dengan mereka!" ucap Momo dengan tatapan menyelidik.

"Yaah," Genggaman kembali mengerat pada tali tasnya. "Itu … terserah kau saja." Senyuman kecil terlukis di bibir gadis itu. "Yang penting … aku memang tidak mempunyai hubungan apapun, kok~!"

Momo memandang gadis Kuchiki itu. Beribu pertanyaan mengenai gadis itu dengan perusahaan yang sedang naik daun itu menyeruak di hatinya. Sepertinya ada yang disembunyikan.

"Aku masih tidak percaya …" gumam gadis bercepol itu kecil. Iris cokelatnya menatap sosok gadis itu yang mulai berjalan di depannya penuh dengan rasa kebingungan.

"Ayolah~ jangan terlalu dipikirkan~! Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka! Ayo, kita pulang!"

"A-ah … baiklah!"

.

.

~~The Season~~

.

.

Rukia menjatuhkan tubuhnya di kasur yang empuk. Iris violetnya menatap kosong langit-langit rumahnya. Kemudian menutup matanya, mengingat-ingat kejadian seharian ini. Pertama, di kelas saat Toushiro –entah kenapa melamun hingga mendapat peringatan dari guru rubah itu.

"Jangan khawatir seperti itu, Kuchiki."

Rukia menghela nafas panjang. Iris violetnya terbuka kembali. "Padahal aku … hanya bermaksud baik, kok."

"Raut wajahmu gampang sekali ditebak, Kuchiki."

"Apa raut wajahku mudah sekali ditebak? Hingga ia beranggapan seperti itu?" gumamnya pelan. "Mungkin, aku harus bersikap lebih dewasa lagi …"

Kedua, saat pulang tadi, Momo menanyakan hal tentang dirinya yang beranggapan bahwa dirinya mempunyai hubungan dengan pemilik perusahaan yang terkenal itu, Kuchiki Corps.

"Kau bohong, ya? Tidak mungkin kau tidak mempunyai hubungan apapun dengan mereka!"

Suaranya seakan terdengar kembali dan berputar-putar di otaknya bagaikan kaset yang rusak. Rukia menggeram kesal.

"Haah …!"

Rukia menghela nafas berat. Menurutnya hari ini adalah hari yang melelahkan. Semuanya penuh misteri, saling menyembunyikan satu sama lain.

"Ada hubungan atau enggak dengan pemilik perusahaan itu privasiku sendiri, Momo. Maaf." Gumamnya sambil memejamkan mata. "Kau tidak berhak tau. Lagipula apa untungnya bagi dirimu?"

Ia memejamkan matanya lagi setelah membukanya. Ia ingin istirahat untuk menenangkan semua pikirannya hari ini. Meskipun tahu semakin hari akan semakin berat jika dipendam seperti ini.

Ah, rasanya kehidupannya sekarang ini akan bertambah berat saja.

.

.

-To Be Continued-

.

.

Author's Note:

Makasih yang udah mau review #peluk satu-satu# Makasih juga para silent reader~~

Saatnya membalas review!

Keiko Eni Nakomi : Syukur deh kalau anda suka ^^ ini udh update

Wintersia : Iyap, saya buat disini jadi anak sekolah pada umumnya! Overall bagus? Ah, makasih! Ini udh update

Ray Kousen7 : Iya, ini Nuha. Syukur deh kalau Ray masih inget chapter 1. Rapi? Ah, makasih! Aaahh … itu … mungkin … bisa jadi iya! #plaak!# ini udh update

Yak, selesai balas review~!

Silahkan komentar di kotak review, asal jangan flame enggak jelas