.

Gunkanjima, 20:59pm_

Kobaran api unggun seolah jadi titik penerang di gelapnya malam. Jerit teriakan bergema di mana-mana. Tanpa ada yang menduga hal mengejutkan telah terjadi. Di tempatnya berlutut diam, terpaku dalam ruang hampa, sebuah tangan lembut menyambutnya. Menarik dirinya dari belenggu tekanan mental. Melihat betapa tanpa keraguan wajah bak bidadari itu menarik tangannya. Michika terus memandangi Hinata, yang tengah menariknya menjauh dari kekacauan di situ. Mereka berdua berlari menghindar, menuju ke gang-gang kecil yang gelap. Kemanapun, asal tidak lagi berada di sekitar api unggun itu.

"...?!"

Hinata terkejut dengan mata melebar ketika telah memasuki kisi-kisi gang di antara bangunan tua. Mereka berdua menghentikan langkah, sesaat setelah melihat seseorang berjalan dengan tertatih-tatih menuju kearah mereka. Hinata melangkah mundur selangkah, menyembunyikan Michika di balik tubuh kecilnya. Orang yang sangat lusuh itu mendongak, memperlihatkan pipinya yang rusak, hingga Hinata mampu melihat dengan jelas gigi-gigi dan daging menggelambir penuh darah.

"H-Hinata..."

"Tetap di belakangku, Michika-san."

Ucap Hinata melihat orang itu dengan tatapan membunuh. Namun tetap saja, dirinya tak memiliki apa-apa lagi untuk melawan. Peluh gugup menetes, membasahi sisi pipi putihnya. Langkah kaki mulai terangkat, orang itu mulai berlari mendekati mereka. Menabrak tong sampah... Menabrak papan kayu... Menabrak kotak kardus... Orang itu terlihat tidak peduli dan terus melaju menerjang kearah mereka berdua.

Seseorang menutupi tubuh Hinata. Berdiri secara tiba-tiba di depan gadis berponi itu, dengan membidikan selaras senapan api kearah Zombie yang semakin buas mendekat.

JDaarrr...

Asap tipis menyembul keluar melalui lubang ujung laras Sniper itu. Bersamaan dengan terpentalnya mayat hidup tadi. Jatuh ke tanah kotor dengan rusuk kanan yang hancur berlubang memuncratkan darah yang berceceran.

"Sudah kuduga. Ada sesuatu yang mencurigakan di balik gang-gang gelap ini."

Ucap Sasuke, pemuda yang membelakangi Hinata. Menembakan peluru panasnya dengan hanya menggunakan satu tangan saja. Ia telah mengira ada sesuatu yang tidak beres, saat melihat gerak-gerik mencurigakan di sela-sela gang kecil di sekitar sini. Tidak disangka-sangka, ada yang telah berubah terlebih dahulu sebelum kekacauan terjadi.

Bukan hanya Sasuke saja yang datang menyusul. Sakura, Chouji, Kiba dan Anko tiba dibelakang mereka bertiga sekarang.

"Cepatt..! Mereka mengejar kita!"

Sakura memberikan sebuah peringatan kepada mereka semua. Sasuke, Hinata, Michika dan yang lainnya menengok kebelakang. Dan benar saja apa yang dikatakan Sakura. Para pengungsi kini telah menjadi buas tak terkendali. Mereka berkerumun, berbondong-bondong dan berdesakan untuk bisa masuk kedalam gang yang sempit. Bersamaan dengan mayat dari beberapa pemungsi yang telah terbujur kaku kini bangkit kembali dari kematian.

Suara menggelegar dari senapan Sasuke nampaknya menjadi pemicu dari datangnya mereka. Mata yang begitu menakutkan nyaris tanpa adanya retina. Geraman-geraman dan insting buas dengan rasa kelaparan membuat Sakura dan yang lain harus segera lari dari situ.

"Kita naik ke bangunan itu."

Kata Anko yang mulai melangkahkan kaki. Memberi sebuah instruksi kepada mereka semua. Tanpa banyak bicara, yang lain segera mengikutinya berlari keluar dari gang kecil ini untuk menuju ke satu tempat yang Anko tunjuk.

Mayat yang tadi telah ditembak oleh Sasuke tiba-tiba mencengkram pergelangan kaki Kiba ketika berlari di dekatnya.

'Si-Sial...!'

Pekiknya dalam hati saat ia terkekang erat. Sama sekali tidak bisa untuk berlari, maupun bergerak bebas.

Melihat kedepan, kawan-kawannya hampir sampai ke sebuah gedung tua. Kiba coba lepaskan cengkraman mayat hidup itu, hingga membuatnya sampai berjalan terseyek-seyek. Degup jantungnya terpacu kencang mendapati orang ini tidak mau melepaskannya. Sementara tiap detik yang terbuang semakin mengeleminasi jarak antara dirinya, dengan kerumunan para Zombie ganas yang mengejar di belakang.

Mata Kiba melebar seketika, saat menengok kearah belakang. Raih-raihan tangan para mayat hidup di sana telah datang semakin mendekat. Nyawa Kiba hanya terselisihkan oleh detik-detik waktu mematikan. Sementara Zombie yang mencengkram kakinya kuat kini mencoba menggigitnya.

Jebuagh..!

Pemuda itu menendang kuat kepala mayat hidup tersebut. Tapi apa yang ia lakukan sepertinya tidak terlalu membuahkan hasil yang nyata. Mayat hidup itu tetap tidak mau melepaskan pegangannya dari pergelangan Kiba.

Para Zombie di belakang terlihat semakin dekat. Begitu banyak, sampai peluh jatuh tertetes bersama detak jantung yang tidak karuan lagi. Dengan gigi yang bergemelatuk erat, Kiba menendang lagi mayat hidup yang membuatnya tidak bisa bergerak. Lagi, lagi dan lagi. Ia terus menendang kepala makhluk itu berulang-ulang. Bersama dengan pandangannya menatap puluhan Zombie berbondong-bondong semakin mendekat, ia berusaha sekuat tenaga, mencoba membebaskan diri dari jerat kematian dengan adrenalin memuncak.

Sasuke sampai terlebih dahulu. Menendang pintu kayu kembar tua itu dengan keras. Membuatnya terbuka kasar lebar-lebar.

"Ayo cepat-cepat..!"

Katanya sambil berdiri di pinggir pintu. Mempersilahkan teman-temannya untuk lekas segera masuk kedalam. Anko, Hinata, Michika, Chouji berhasil sampai di tempat ini. Bersama Sakura yang datang paling terakhir. Sasuke menyusul mereka berlima masuk kedalam. Tapi sesuatu membuatnya terkejut dan seketika mengerem laju larinya.

"Sial, Dimana Kiba..?!"

Tanyanya saat menyadari adanya kejanggalan jumlah dalam kelompok mereka. Mendengar pertanyaan Sasuke, mereka berhenti dan menoleh. Tidak ada satupun dari mereka yang melihat salah satu teman jabrik yang Sasuke maksud. Melihat semua temannya tidak tahu di mana Kiba berada, membuat satu kemungkinan terbesar dan paling memungkinkan muncul di benak Sasuke saat itu juga.

"Oh... Shit..."

Sasuke menggeleng pelan dan mengucapkan kata yang kasar itu lemah tanpa gairah. Seolah ia tidak ingin apa yang sempat terbesit di otaknya adalah salah. Bahwa kini Kiba masih berada di gang itu, tertinggal oleh yang lain.

"Kalian, tetap di sana. Jauhi pintu dan jendela."

Perintah Sasuke yang melangkah mundur untuk memperingatkan mereka. Kemudian pemuda berambut hitam itu berbalik dan berlari cepat menuju kearah pintu yang terbuka lebar. Semua memasang raut terkejut dan cemas. Namun tidak bagi Sakura. Tanpa ragu gadis itu malah mengikuti langkah kekasihnya tertuju. Mengabaikan perintah yang pemuda itu tekankan tadi.

Sasuke berhenti tepat di pinggir pintu masuk, dan menyandarkan bahu kanannya ke engsel pintu untuk dapatkan akurasi maksimal saat matanya mulai tajam membidik.

"Sial..."

Ucapnya pelan kala melihat Kiba sedang menendang-nendang kasar kepala orang yang tengah mencengkram kaki kirinya. Tidak hanya itu, gerombolan para Zombie yang saling berdesakan terlihat makin dekat dengan tempat di mana Kiba sedang bergelut sekarang.

Seluruh syaraf di jaringan otaknya memaksa kuat untuk berpikir cepat. Mengirim ratusan tendangan sinyal di tiap 0.1 detik yang terbuang. Puluhan Sengatan gelombang sinyal elektromagnetik ke pusat syarafnya membuat Sasuke memilih dua pilihan terbaik dari sepuluh pilihan yang ada.

Tembak kepala Zombie yang tengah mencengkram kuat kakinya, agar Kiba bisa segera berlari meloloskan diri...

Dengan tingkat keberhasilan di bawah 40% saat melihat satu mayat hidup paling depan di antara rombongan itu hanya berjarak kurang dari dua meter lagi dari tempat Kiba berdiri.

Atau menembak tubuh satu mayat hidup yang berada di urutan paling depan tersebut. Memamfaatkan Power Fire senapannya yang mematikan untuk membuat Zombie itu terhempas menabrak mayat hidup yang lain di belakangnya...

Tetapi tetap memiliki resiko dengan tingkat keberhasilan di bawah 41% jika Kiba tetap tidak bisa melepaskan diri dari makhluk itu...

Detik terus berputar. Sasuke memutar otaknya. Coba memikirkan pilihan mana yang terbaik tuk selamatkan rekannya di sana. Ketika sampai saatnya tiba, Jari telunjuk itu menekan pelatuk senjatanya. Satu selongsong penuh mesiu berkaliber 7 milimeter meledak terpukul pemicu di kamar peluru. Mendorong ujung partikel dari timah runcing menembus udara. Melesat cepat melewati belakang punggung Kiba.

Slebb...

Darah kental merah kehitaman keluar seketika. Terciprat ke udara, tepat saat timah panas itu menghantam brutal dada mayat hidup yang akan mendapatkan Kiba.

Inilah pilihan Sasuke. Membuat mayat hidup itu terhempas kuat kebelakang. Merobohkan sebagian besar geromboloan makhluk-makhluk kelaparan yang tertabrak mayat hidup tersebut.

Kretekk..!

Kepala Zombie yang memegangi pergelangan kaki Kiba terpeluntir menghadap kebelakang, Saat hempasan tendangan terakhir Kiba mendarat tepat di samping wajahnya. Membuat cengkraman tangan itu terlepas dan membebaskan Kiba untuk bergerak. Merasa ini adalah kesempatannya untuk lari dari kematian, pemuda tersebut langsung saja melangkahkan kakinya cepat untuk bergerak dari situ. Walau sesekali ia terjatuh karena terlalu panik melihat masih ada beberapa Zombie di belakang yang terus mengejarnya ganas.

"Cepat, Kiba!"

Teriak Sakura tidak jauh dari tempat Sasuke menyandarkan lengan untuk membidik.

Cekrellk..

Sasuke menarik tuas kecil di Frame samping senapan miliknya. Membuat sebuah selongsong bekas yang masih panas tercungkil keluar. Kini 3 peluru yang masih tersisa telah siap untuk ditembakan kembali.

Kiba berlari sekuat tenaga. Dengan deru nafas yang tidak beraturan. Bersama detak jantung yang tidak karuan. Ia berusaha menuju ke tempat Sasuke dan Sakura secepat yang ia bisa. Tapi karena sempat terjatuh tadi membuat renggang jarak antara para Zombie di belakang dengan dirinya menjadi sangat tipis. Sebuah tangan berhasil menggapai kausnya dari belakang. Manarik paksa Kiba yang sedang berlari dikejar arah.

'Gawatt..!'

Pekiknya keras dalam hati saat melirik makhluk yang tengah mencengkram baju yang ia kenakan.

JDaaarrr!

Sebuah peluru melesat cepat lewat tipis di depan hidung Kiba. Menghujam keras di dahi mayat hidup itu. Membuat cengkraman tangannya pada baju Kiba melepas, dan jatuh terjungkal ke tanah dengan belakang kepala terlebih dahulu. Para Zombie yang berlari tepat di belakangnya tadi ikut terjatuh karena tersandung oleh tubuhnya. Memperlebar jarak antara mereka dengan Kiba.

Tergesa-gesa berlari, Pemuda itu begitu tidak peduli dengan apa yang terjadi di belakangnya. Yang pasti, ia tetap saja mendengar derap-derap langkah para mayat hidup yang masih mengejar dirinya. Hingga pada akhir pelariannya tepat di depan Sasuke dan Sakura, ia terpeleset jatuh karena bermanuver tajam kekiri sambil berusaha mengerem laju larinya secara sepontan. Akan tetapi Kiba tetap mampu bangkit dengan cepat karena jarak para Zombie itu hanya tinggal beberapa langkah saja darinya. Dengan lompatan paksa, Kiba berhasil masuk kedalam tepat waktu walau mendarat kasar dengan punggungnya.

"Kiba!"

"Ki-Kiba..."

"Inuzuka..!"

Seru Chouji, Hinata dan Anko secara bersamaan setelah melihat Kiba akhirnya tiba dengan tersusur ke lantai penuh debu.

Sakura dan Sasuke menutup kedua pintu besar itu secara bersamaan. Tapi nampaknya mereka sedikit terlambat. Pintu itu tidak tertutup dengan sempurna. Melainkan tangan-tangan mayat hidup yang mengejar Kiba telah tiba dan menghalangi pintu besar tersebut untuk tertutup. Tangan-tangan mereka tak henti-hentinya mengais kedalam. Mencoba untuk menarik siapapun yang di dalam. Dorongan-dorongan kuat dari luar membuat Sakura cukup kewalahan. Bahkan Sniper Sasuke sampai tergeletak jatuh ke lantai hanya karena sibuk menahan ganasnya Zombie di luar yang coba menerobos kedalam.

Tiba-tiba sebuah dering bersamaan dengan getar singkat terdengar dari balik saku celana Sasuke. Ingin pemuda itu acuhkan sebuah pesan masuk di ponselnya, Karena ia sedang sibuk untuk menahan pintu tersebut. Akan tetapi rasa keingintahuan dirinya tentang masuknya satu pesan di pomselnya itu begitu menggelitik hati. Memang siapa yang telah mengiriminya pesan di saat-saat seperti ini?. Hanya akan membuatnya semakin bertanya-tanya jika terus-menerus acuhkan pesan tersebut. Sambil tetap menahan pintu kayu besar dengan sebelah bahunya, tangan kiri Sasuke merogoh kedalam saku celana, Dan mengambil ponsel itu keluar.

- You Have Message From...-

Mata Sasuke seakan melebar seketika. Pikirannya seolah melayang, Tidak percaya akan sebuah nama yang tertampilkan pada layar ponselnya. Begitu mustahil bagi Sasuke saat nama pengirim pesan tersebut muncul di situ. Apakah ini sebuah lelucon konyol?. Pemuda itu kembali bertanya-tanya akan apa yang terbesit di pikirannya. Tetapi yang lebih mengejutkan lagi, Adalah isi dari sebuah pesan tersebut, Yang berisi sebuah lelucon baginya.

Ingin dirinya menunjukkan pesan tersebut kepada Sakura yang juga sibuk menahan pintu di sebelah sana. Tapi layar ponselnya yang tiba-tiba tertutup secara paksa dan mati akibat kehabisan baterai, serta dorongan-dorongan dari arah luar yang semakin mengganggu membuatnya berubah pikiran. Ia simpan lagi ponsel itu kembali ke saku celananya, Bersama sebuah senyum tipis yang tergurat di sudut bibirnya.

Melihat Kiba yang terlentang pucat di lantai bersama seluruh keringat dinginnya, membuat Chouji tidak banyak berpikir dan langsung berlari kearah pintu. Kaki besarnya menendang-nendang semua tangan-tangan itu dengan paksa.

"Bagus.."

Kata Sasuke yang masih sibuk menahan pintu yang didorongnya.

Tapi sayangnya semua tidak berjalan seperti apa yang mereka inginkan. Seberapa keras pun Chouji menendangi tangan-tangan itu keluar, selalu ada tangan-tangan baru yang memaksa menyelinap.

'Aku... Aku harus... Melakukan sesuatu untuk mereka..!'

Hinata tidak akan membiarkan usaha teman-temannya sia-sia begitu saja. Mungkin ada... Atau bahkan, Harus ada suatu hal yang bisa ia lakukan. Bukan hanya demi nyawanya seorang. Tetapi untuk semua rekan-rekannya yang telah lama bertahan dan berjuang dari erosi ini.

Dia, Harus berhenti jadi orang yang selalu mengandalkan orang lain di sekitarnya...

Dia, Harus berhenti jadi orang yang selalu menyusahkan teman-temannya...

Dia, Harus berhenti jadi beban bagi rekan-rekannya...

Dia, Harus berhenti menjadi orang yang selalu berjalan di tempat yang aman di tengah-tengah regunya...

Sekali lagi... Hinata harus berhenti, Untuk menjadi orang yang paling tidak berguna di Dunia ini. Berkat seseorang, Yang selama ini, Bahkan sampai di detik ini, Masih tersimpan di dalam hatinya.

'Karena aku... Telah tersadar olehnya...'

Kedua kaki lemah itu mulai melangkah. Berlari kecil, Dan berhenti di depan sebuah meja almari rusak. Tangan-tangan putih nan halus itu menggenggam bagian bawah dari tepian meja almari kayu tersebut. Mengangkatnya keatas sedikit, Lalu perlahan mulai menyeretnya. Anko telah hilang dari tempatnya berdiri tadi. Karena guru muda tersebut melakukan hal yang nyaris sama seperti apa yang dilakukan Hinata. Menyeret satu lemari tinggi yang telah rusak menuju kearah Sasuke yang sedang menahan pintu.

Michika cukup dibuat tercengang oleh mereka semua. Dalam pening yang menyerang kepalanya, Ia melihat bagaimana mereka semua bersatu. Berjuang bersama untuk bertahan. Dalam pandangan mata yang sulit untuk terfokus, Dan pendengaran yang sulit untuk mendengarkan setiap suara di sekitarnya, Michika yang berpegangan ke sebuah pegangan kayu anak tangga utama setelah hampir ambruk tak kuat menahan derita, Tersadar bagaimana Sakura, Sasuke, Chouji, Kiba, Anko, Dan bahkan Hinata, Begitu solid dalam satu nama yang disebut dengan tim. Mereka semua berjuang bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Tidak ada satupun dari mereka yang lari. Tidak ada satupun dari mereka yang sembunyi. Michika tidak melihat adanya keegoisan dalam hati mereka. Karena mereka bekerja sama dalam kekompakan suatu tim yang sesungguhnya.

'Mereka... Begitu~..'

Gadis itu batuk tertahan dengan salah satu tangannya yang menutupi mulutnya. Sementara tangan lain berpegangan pada pegangan tangga kayu yang telah rapuh untuk menopang tubuhnya yang telah lemah karena sesuatu.

Wajah Hinata begitu terlihat kepayahan ketika menyeret meja yang juga bisa menyimpan dokumen itu. Begitu berat untuknya, Tetapi ia harus melakukannya. Hingga tanpa Hinata duga, sepasang tangan ikut menarik meja tersebut. Hinata mendongak sejenak. Ingin melihat wajah dari pemilik sepasang tangan itu.

Yang Hinata lihat, Ialah wajah Kiba yang juga kesusahan menarik meja ini. Sedikit demi sedikit Kiba menariknya sekuat tenaga. Hinata langsung melanjutkannya kembali ketika tersadar, Bahwa Kiba telah ikut membantunya. Anko telah berhasil memindahkan lemari tinggi yang diseretnya tepat kedepan pintu yang sedang ditahan oleh Sasuke. Membuat pemuda berambut hitam tersebut dapat bernafas panjang dan memungut kembali senapan istimewa miliknya.

Tapi sesuatu yang membuat semua pasang mata mereka melebar seketika, Adalah pintu sebelah kiri yang telah terdorong. Pintu yang ditahan Sakura telah terbuka, Dengan tubuh dan tangan gadis itu yang menjadi bahan tarik-tarikan oleh para Zombie di luar.

"Sakuraa..!"

Sasuke berteriak begitu kencang mendapati gadisnya telah terangkul oleh banyak mayat hidup di sana. Sasuke meloncati meja yang telah terhenti tepat di tengah-tengah pintu. Tanpa ampun Sasuke mengepruk kepala-kepala mereka menggunakan ujung gagang senapannya. Sekuat tenaga ia hantam dan pukul semua Zombie yang telah menarik Sakura keluar. Chouji membuka meja almari yang di seret oleh Kiba dan Hinata. Menemukan belasan guji kuno antik, Chouji langsung melemparnya kuat ke kepala-kepala mereka. Guji yang dilemparkan Chouji pecah seketika, saat menghantam salah seorang yang akan menggigit pundak Sakura. Dengan debu-debu dan serpihan guji yang berterbangan di sekitar gadis yang meronta-ronta. Coba melawan dan melepaskan diri dari mereka. Akan tetapi tidak semudah yang Sakura pikirkan.

Sakura yang meronta-ronta kasar menjauhkan gigitan-gigitan mereka hampir saja menangis menyadari bahwa dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari cengkraman mayat hidup yang sebanyak ini. Namun Sasuke tidak menyerah begitu saja. Ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika pada akhirnya ia membiarkan satu lagi orang yang sangat berharga untuknya meninggalkannya. Darah begitu gencar terciprat ke udara. Sasuke tanpa henti-hentinya memukul kuat kepala para mayat hidup itu menggunakan ujung gagang senjatanya. Rahangnya teratup rapat, dengan perasaan yang membuncah.

Perut Hinata berada di atas meja. Tangan kanannya terulur jauh kearah Sakura. Mencoba menggapai kawannya itu.

"Raih tanganku Sakura..! Raih tangankuu...!"

Ucap gadis berponi itu juga berusaha selamatkan Sakura dari kematian. Sementara Sakura, berusaha menyikut-nyikut semua makhluk-makhluk yang mencengkram seluruh tubuhnya. Sambil mengulurkan satu tangannya untuk gapai tangan Hinata yang terulur kearahnya.

Tidak ada pilihan lain bagi Sasuke. Tidak perlu lagi bagi dirinya untuk menghemat setiap peluru yang ia punya demi menyelamatkan Sakura. Ujung gagang senapan itu terputar, kembali ke bahu Sasuke. Tangan dan jemarinya memegang tuas kecil pelontar selongsong peluru kosong. Lalu menariknya kebelakang dengan cepat.

Cekrellk-... JDaaarrr..!

Satu suara tembakan yang menggelegar terdengar begitu memekakkan gendang telinga. Dari jarak sedekat itu, Kepala seseorang tembus berlubang. Satu peluru Sasuke langsung menghempaskan jatuh tiga Zombie di sekitar Sakura.

Kedua gapaian tangan mereka akhirnya dapat menyatu. Hinata menarik Sakura sekuat yang ia bisa. Hingga mbuat Sakura jatuh terperosok akibat menabrak sebuah meja di depannya. Hinata dan Sakura terjatuh bersama ke lantai usang penuh reruntuhan. Dengan cepat Sasuke turun dari meja dan langsung menyahut pergelangan Sakura untuk segera menariknya berdiri. Hal yang sama dilakukan juga oleh Kiba. Pemuda itu coba membantu Hinata untuk cepat berdiri. Pintu sebelah kiri langsung terdobrak lagi. Namun tidak bisa terbuka terlalu lebar, Karena tertatap sebuah meja berat yang di seret oleh Hinata dan Kiba tadi.

"Kita keatas sekarang..!"

Ucap Sasuke kepada semua temannya dan langsung mengajak Sakura berlari mengikutinya. Hinata menghampiri tempat di mana Michika tersandar. Gadis itu menopang tubuh Michika yang semakin lama terasa semakin melemah.

Anko dan Chouji mengikuti Hinata, Sasuke dan Sakura yang melangkah menaiki tangga utama dari belakang. Sementara Kiba masih melihat mereka, Para mayat hidup yang saling berebut dan berdesakan untuk bisa masuk kedalam. Kiba menggeleng pelan.

'Ck, Kusoo..! Kapan... Kapan ini semua akan berakhir...?'

Tanya pemuda dalam hati memperhatikan betapa usaha para mayat hidup yang lapar akan daging itu mencoba untuk masuk kedalam. Kaki Kiba selangkah demi selangkah melangkah mundur kebelakang, ketika melihat salah satu Zombie di sana berhasil menaiki meja dan terjatuh keras ke lantai. Lagi... Yang lain mulai berebut masuk menggunakan cara yang sama. Melihat itu, Membuat Kiba mengingat kejadian di dermaga selatan Kota Konoha kembali. Sekali lagi ia menggeleng menyerah.

"Terkutuklah kalian... Para tikus kematian..."

Ucap Kiba pelan, Lalu berbalik dan mulai berlari menaiki tangga. Coba menyusul Sasuke dan yang lain ke lantai atas saat satu-dua Zombie mengejarnya kembali di belakang.

.

.

.

.

Di atas langit hitam Konoha. Yang penuh dengan asap kehancuran, Dan awan keputusasaan, Terbang tinggi sebuah helikopter berwarna hitam. Dengan simbol kebanggaan personil Anti Bio-Terrorist Unit di body pintunya. Baling-baling begitu cepat berputar. Entah berapa juta kali baling-baling itu terputar. Membuat helikopter tersebut terbang stabil di atas pemukiman penduduk Kota yang telah porak-poranda.

Tidak lama berselang, pintu geser dari helikopter tersebut bergeser. Memperlihatkan 5 orang yang duduk di dalamnya saat pintu terbuka. Angin kencang seakan menyapu masuk kedalam. Membuat sabuk, tali, dan apapun jadi berkibar tak karuan.

Heli itu berhenti tepat 25 meter di atas atap sebuah gedung kementrian Kota Konoha. Sepucuk Dragunov, Sniper semi-otomatis dengan keakuratan tinggi muncul keluar. Di atas atap, Angin dari kibasan baling-baling bagaikan terpaan dari angin topan. Baju dan celana 2 orang di bawah berkibar keras. Menggunakan sorot lampu heli yang menyoroti kedua orang tersebut, Seseorang dari dalam helikopter membidikkan Sniper miliknya kearah mereka.

"Dengar... Kita akan berpisah di sini..."

Ucap gadis itu berbicara dengan seseorang sambil terus membidikkan senapannya tanpa menoleh dan tetap berkonsentrasi.

Jari telunjuk tangan kanannya yang terbalut sarung tangan itu berpindah tepat kedepan pelatuk. Sebuah visualisasi gambaran kepala salah satu dari kedua orang di bawah sangat jelas di perangkat Scopenya yang ia gunakan untuk membidik.

"Karena kita, Punya misi yang berbeda malam ini..."

Deeefftt...

Satu peluru melesat cepat kebawah. Menembus salah satu kepala dari kedua orang di bawah. Membuatnya jatuh terhempas dan mati seketika dengan darah membasahi tempatnya terbaring.

"Tentu aku tahu itu.."

Jawab seorang pemuda yang duduk di hadapan penembak tadi.

"Karena aku pasti berhasil..."

Ucap pelan pemuda itu lagi sambil melirik kearah bawah, di mana salah satu Zombie yang masih berdiri kembali ditembak oleh senapan Ino, Gadis penembak jitu tersebut.

"Alpha Team kepada pusat, Alpha Team kepada pusat. Kami telah sampai pada posisi. Parameter A telah diamankan. Rescue Operation siap dilaksanakan. Kuulangi... Alpha Team kepada pusat. Kami telah sampai pada posisi. Parameter telah diamankan sepenuhnya. Siap untuk memulai Rescue Operation."

Suara sang pilot menghubungi markas untuk melaporkan situasi menggunakan radio.

Tidak ada lagi ancaman yang tersisa, membuat keempat personil elite Divisi Anti Bio-Terrorist Unit tidak punya alasan lagi untuk segera turun kebawah dan memulai operasi misi mereka. Pintu heli di sebelah yang sana terbuka, membuat hembusan angin yang masuk semakin liar. Salah satu personil beratribut lengkap dengan masker, seragam, dan rompi serba hitam melemparkan gulungan tali kebawah. Setelah menjuntai panjang hingga menyentuh dasar lantai atap gedung Kementrian, ketiga personil yang memakai helm masker lengkap dengan sebuah senjata SMG P90 yang terselempang di punggung mereka, turun kebawah satu per satu menggunakan tali tersebut.

"Ini saran terakhirku untukmu..."

Ino menatap pemuda yang tidak memakai atribut seperti dirinya dan yang lain itu dengan pandangan tajam. Sambil melemparkan sebuah tali kebawah tanpa mengalihkan tatapannya kearah pemuda tersebut.

Ketiga personil berhasil mendarat dengan dengan sempurna. Mereka langsung bersiap dengan posisi siaga. Meng-Unlock tuas kecil pengunci Fire Shot dari setiap senjata mereka, Membuat ketiga P90 itu siap ditembakan kapan saja. Flashlight yang terpasang di ujung bawah dekat laras senjata mereka serempak menyala. Menyorot semua sudut yang ingin mereka lihat dalam gelap.

Ino menyelempangkan Dragunov hitam miliknya yang terikat dengan tali sabuk senjata kebelakang punggungnya. Bersiap untuk meluncur kebawah menggunakan tali yang ia lempar tadi. Tatapan tajamnya tak berubah sedikitpun. Terus melemparkan suatu pesan tajam dari kedua sorot manik Aquamarine miliknya.

"Misi yang ia berikan penuh dengan resiko kematian. Tapi, Kapten sangat percaya padamu. Maka dari itu..."

Satu nada menggantung begitu jelas terdengar. Nafas sesak begitu terasa. Bagaimana kenangan Lee yang telah berikan nyawanya untuk selamatkan dirinya, Dan demi tercapainya sebuah misi yang mereka emban bersama, Begitu berat teringat. Begitu memilukan untuk dikenang. Begitu tragis untuk dirasakan.

.

Flashback...

.

Langkah-langkah panjang tercipta. Derap suara benturan alas sepatu keras mengiringinya. Tanpa sepucuk senjata apa pun, Ino berlari di sebuah atap apartemen mewah. Tidak ada rompi khusus yang terlihat. Hanya seragam dasar keanggotaan Anti Bio-Terrorist Unit berwarna hitam yang masih melekat di tubuhnya. Ino terus berlari secepat yang ia bisa. Menembus hembusan angin kencang dari perputaran baling-baling helikopter di depannya. Rambut pirang panjang gadis itu terkibar amat liar setelah melompati sisi pagar pembatas atap apartemen tersebut naik menuju ke helikopter yang menjemput seluruh anggota timnya yang tersisa. Tangannya tergapai oleh seorang personil yang telah naik terlebih dahulu, Coba membantu Ino agar tidak terjatuh dari ketinggian mencekam ini. Hashirama yang berada tepat di belakangnya ikut melompat menaiki helikopter tersebut.

Telah naiknya Kapten mereka bukan berarti telah lengkap sisa personil yang dievakuasi seluruhnya, Walau kecepatan perputaran baling-baling yang tadinya statis kini perlahan mulai melonjak naik. Karena masih tersisa satu orang yang tengah mati-matian menahan pintu atap di sana demi mereka.

"Lee! Kita harus segera pergi dari sini..!"

Seru Ino dari dalam helikopter yang akan mengevakuasi seluruh sisa personel Anti Bio-Terrorist Unit dalam timnya yang tersisa, Sebab telah kacaunya jalan misi mereka yang telah gagal total dikarenakan ulah seseorang yang menjadi target mereka. Mendengar panggilan dari Ino, Lee yang sedang berusaha menahan pintu atap yang terdobrak-dobrak keras dari dalam mulai menghitung mundur sebagai aba-aba untuknya bergerak.

"One..!"

"Two...!"

Pilot segera menaikkan kecepatan putaran mesin helikopter mereka. Sebagai ancang-ancang antisipasi dari tenggat waktu yang dibutuhkan sebuah heli untuk terbang.

'Ayo Lee, Kau pasti bisa.. Kau pasti bisa...!'

Ungkap Hashirama dalam hati sambil membidikkan senjatanya tepat kearah pintu besi yang tengah ditahan oleh anak buahnya itu. Bermaksud untuk mengcover Lee saat pemuda itu telah bergerak dan melepaskan pintu tersebut.

"...Three!"

Hitungan Lee telah mencapai hitungan yang terakhir. Pemuda itu beranjak dari tempatnya. Berlari kencang kearah helikopter yang telah menunggunya, Bersamaan meninggalkan kosong pintu atap apartemen itu. Baru empat langkah Lee beranjak, Pintu langsung terbuka dengan sangat kasar. Memunculkan Zombie-Zombie kelaparan yang telah sejak tadi memburu mereka.

Derrrtt...

Hashirama menekan pelatuk P90 miliknya. Membuat belasan peluru panas keluar melesat dari moncong larasnya. Menerjang tepat di kepala satu Zombie yang baru saja keluar dati balik pintu untuk mengejar Lee. Makhluk ganas itu terhempas jatuh ke lantai atap dengan darah kental terbang bermuncratan. Akan tetapi apa yang dilakukan Hashirama tidak serta-merta menghentikan ancaman bagi Lee. Karena begitu banyak Zombie-Zombie yang bermunculan keluar dari balik pintu itu, Mengejar Lee yang tengah berlari bagai segerombolan orang kesetanan.

Helikopter bergerak maju dengan ketinggian yang telah sedikit naik melebihi tinggi pagar atap apartemen ini. Lee melompati generator dan beberapa Blower A.C lalu berbelok mengikuti arah kemana helikopter itu akan pergi. Meski begitu, mayat-mayat hidup di belakangnya tanpa lelah terus membututinya dari belakang. Berharap bahwa mereka akan segera dapatkan tubuh Lee di waktu ini. Para rekannya yang berada di helikopter ikut menembaki makhluk-makhluk yang terus mengejar pemuda itu. Suara rentetan peluru panas yang mengalun bersama banyak amunisi yang terbuang tidak terelakkan demi menolong salah satu rekannya yang berada di ujung kematian itu. Begitu banyak Zombie yang terlontar jatuh ke lantai atap dengan keras akibat dihujam peluru-peluru dari senjata Hashirama dan para personil yang tersisa.

"Ayo Lee..!"

Teriak Ino keras di ujung pintu helikopter yang terbuka lebar. Meneriaki pemuda itu dengan kecemasan tinggi. Jarak di antara Lee dengan helikopter yang akan mengevakuasi mereka telah tipis. Tetapi pemuda itu sedikit terlambat karena helikopter akan segera mengudara demi mengurangi resiko keselamatan para awaknya.

Alas sepatu milik Lee menginjak sisi atas dari pagar atap apartemen ini. Dengan satu sentekkan ia melompat tinggi di tengah udara melawan takdir kematiannya.

Grebb..

Kedua tangannya berhasil menggapai sisi kaki helikopter mereka. Tapi hal yang sama sekali tidak terduga terjadi. Zombie-Zombie ganas tersebut ikut berloncatan kearah helikopter. Salah satu dari mereka berhasil menggapai kaki Lee, Dan yang lain berhasil menggapai Zombie itu. Mata Hashirama melebar saat melihat mereka saling berloncatan dan menangkap satu sama lain di tengah udara. Helikopter yang ditumpangi Ino langsung oleng kekanan karena kelebihan beban di kaki heli sebelah kanan. Di mana Lee tengah dicengkram oleh para Zombie itu.

"Kumohon, Lakukan sesuatu...!"

Teriak Ino panik melihat tubuh Lee diserbu kawanan makhluk ganas di bawah kaki helikopter di sana. Peluru P90 Hashirama dan rekan-rekan yang lain menipis. Hashirama membidik salah satu kepala Zombie yang mencengkram erat anak buahnya itu. Tapi sebelum ia menekan pelatuk Sub-Machine Gun miliknya, Datang lagi banyak para mayat hidup yang melintasi tubuh-tubuh Zombie yang saling berebut untuk mendapatkan tubuh Lee. Mereka yang baru saja datang, Berlari kearah Ino dan Hashirama, Menginjak-injak para Zombie di bawah. Seolah-olah itu adalah sebuah jembatan yang melayang di udara, Yang terhubung langsung ke helikopter. Membuat helikopter yang mereka tumpangi berguncang tak karuan.

'Sial..!'

Keluh Hashirama dalam hati. Mau tidak mau ia harus mengalihkan Laser Holograpic P90 miliknya kearah para mayat hidup yang datang. Atau seluruh anak buahnya yang tersisa akan berada dalam bahaya.

Percikan-percikan bunga api saling menyahut di moncong laras senjata mereka. Sejumlah peluru terlesatkan tepat kearah kepala semua Zombie yang mendekat. Membuat beberapa dari mereka terjatuh kebawah. Akan tetapi seakan tidak ada habisnya, Mereka terus-menurus bermunculan. Sedangkan amunisi yang Hashirama benar-benar tidak akan cukup untuk mengatasi mereka. Di balik usahanya untuk terus bertahan di antara ketinggian, Lee melihat semua itu, Melihat keadaan para rekannya. Jika terus seperti ini, Tidak akan ada di antara mereka yang akan selamat. Itu yang ada di pikiran Lee saat ini.

Salah satu mayat hidup terus memanjati tubuhnya. Lalu tanpa di duga, Makhluk itu menggigit lengan kiri Lee. Membuat pegangannya ke kaki helikopter itu terlepas bersama sebuah jerit kesakitan.

"Aaarrkh..!"

"Lee...!"

Kaget Ino melihat lengan kiri rekan baiknya itu terus-menerus digerogoti dengan ganas. Sambil tetap menahan sakitnya, Lee terus bertahan berpegangan ke kaki helikopter dengan satu tangan kanannya.

"Lee, Pegang tanganku!"

Ucap Ino sambi berusaha mengulurkan tangannya kebawah untuk Lee. Namun pemuda itu malah terdiam sambil memejamkan erat kedua matanya menahan sakit. Ia tahu, bahwa hanya dengan satu gigitan, Maka saat itu juga habislah kisah riwayat seseorang. Belum lagi fakta bahwa helikopter ini tidak lama lagi akan segera jatuh jika situasinya terus-menerus seperti ini. Lee paham di mana posisinya berada. Ia mengerti, Dan ia tahu apa yang harus ia lakukan demi teman-temannya yang berharga.

"Ino... Pastikan misi kita berhasil. Jangan biarkan kematian rekan-rekan kita sia-sia..."

Bersama sebuah senyuman damai, Ia melepaskan pegangan tangan kanannya. Dengan begitu, Tubuhnya mulai tertarik oleh gravitasi dan jatuh kebawah di ketinggian. Kedua manik Aquamarine itu melebar seketika dengan bulir-bulir bening di setiap sisi pelupuknya.

Jembatan yang tersusun oleh para mayat hidup pun runtuh begitu saja. Menyusul tubuh Lee yang semakin jauh dari uluran kosong tangan Ino.

Dari kejauhan, Di antara belasan mayat hidup di sekelilingnya, Lee masih dapat melihat wajah Ino dengan jelas. Begaimana kedua manik indah itu terbasahi oleh tetesan air mata. Dalam perjalanannya jatuh di tengah-tengah ketinggian, Tangan kanannya perlahan terulur kearah di mana Ino berada. Seolah dirinya ingin menghapus kesedihan itu sejenak.

'Ini adalah perpisahan... Sayonara...'

.

Flashback End...

.

.

Tatapan tajam yang sesaat tadi ia perlihatkan, kini tergantikan oleh tatapan nanar dan sebuah senyuman semangat tipis di kedua lekuk bibirnya.

"Maka dari itu... Jangan mati..."

Nada yang begitu jelas memperlihatkan kekhawatiran, menggantikan nada-nada tegas Ino. Entah kenapa, Pemuda tersebut merasakan, Begitu terasa hangat kata-kata yang telah Ino sampaikan. Seakan perasaan yang penuh pedih dan beban itu telah tersampaikan padanya. Beberapa saat terhanyut dalam tiap detik yang berputar oleh satu pesan Ino tersebut, Pemuda dengan Holster itu membalas senyum berat yang telah Ino berikan.

"Ya... Aku pasti akan segera menemuimu lagi nanti. Saat misi ini telah selesai."

Ucap pemuda tersebut, membalas pesan Ino padanya. Setelah mendengarnya, Seperti tidak ada lagi beban yang mengganggu di pundaknya. Telah lelah ia melihat satu per satu rekannya mati dalam rangkaian tragedi pandemik ini. Namun jika Hashirama telah percaya kepada pemuda itu, setidaknya ia juga harus percaya. Percaya pada janji pemuda itu untuk mereka bertemu bersama lagi suatu saat nanti.

Senyum berat Ino mencair. Tergantikan sebuah senyuman khusus yang ia tujukan kepada pemuda di depannya.

Dengan kedua telapak tangan yang terbungkus oleh sarung tangan spesial, Ino meluncur kebawah menggunakan tali yang telah menjuntai sampai ke dasar atap.

Drep...

Kedua alas sepatu yang ia kenakan membentur lantai atap putih itu. Menyusul ketiga rekannya yang telah menunggu. Tali yang menjuntai panjang dari helikopter, Tergulung kembali secara otomatis. Sekilas, Ino masih melirik pemuda yang berada di atas sana sambil menekan Earphone di telinganya.

"Misi siap dimulai, Taichou.."

Lapor Ino melalui Earphone itu, sambil terus memperhatikan helikopter yang bergerak ke tujuan selanjutnya. Sniper yang terselempang di belakang punggungnya kini ia tarik kembali kedepan untuk ia gunakan. Pandangannya beralih kepada pintu masuk atap berjarak 15 meter dari tempatnya berdiri sekarang, Setelah helikopter itu terbang semakin menjauh. Ia dan ketiga personil yang lain berlari mendekati pintu atap tersebut dengan tiap senjata yang telah siaga di genggaman tangan mereka.

Ino mengepalkan tangan kanannya keatas. Sebuah kode untuk memerintahkan mereka berhenti dan bersiap. Kepalan itu berganti menjadi dua jari yang menunjuk ke kedua matanya, Lalu menunjuk kearah pintu. Sebuah kode yang menyuruh salah satu dari mereka untuk membuka pintu itu dan melihat situasi kedalam.

Salah satu dari ketiga rekannya menggangguk paham. Melangkah perlahan penuh kehati-hatian, satu personil tersebut menyentuh knop pintu. Situasi seakan jadi menegang, ketika misi penyelamatan Menteri pertahanan Jepang telah dimulai. Situasi yang bisa saja berubah-ubah dengan sekejap. Yang bisa kembali merenggut nyawa salah satu dari mereka berempat. Personil dengan masker gas yang menutupi hampir seluruh wajahnya tersebut memantapkan hati, Lalu memutar knop yang disentuhnya itu. Pintu terbuka tanpa paksaan berarti. Ia mulai mendorong pintunya perlahan kedalam, Membuat suara berdenyit dari engsel yang telah berkarat. Sub-Machine Gun P90 yang dilengkapi dengan Flashlight miliknya tertodong kedepan. Sorot senter itu menyapu keseluruh sudut ruang tangga yang menuju kebawah.

"Clear.."

Ucapnya pelan saat tidak melihat satupun dari mereka, Para mayat hidup yang berada di dalam sana. Dirinya mulai melangkah masuk, disusul kedua rekannya dari belakang, Dengan Ino di urutan terakhir.

"Alpha kepada pusat. Kami berhasil masuk kedalam."

Lapor Ino kepada markas pusat Divisi Anti Bio-Terrorist Unit melalui Earphone kecil yang terselip di telingannya. Mereka bertiga menuruni setiap anak tangga yang menuju kebawah secara perlahan dan hati-hati. Sorot-sorot cahaya dari senter di bawah moncong senjata mereka menyapu seluruh sudut-sudut yang dianggap berbahaya. Terus menuruni tangga, Mereka berempat sampai di pintu masuk lantai tiga. Ino menyentuh knop pintu itu, Dan melihat kearah tiga rekannya. Mereka mengangguk sebagai telah bersiap dengan senjata dalam posisi siaga.

Bersandar di dinding sebelah pintu, Ino memutar knop itu perlahan, lalu membukanya. Ketiga rekannya pangsung masuk demgan cepat dan membidikkan senjata mereka kedalam. Bunyi suara derap sepatu keras mereka ke lantai membuat suasan yang sangat hening semakin mencekam.

"Sektor pintu selatan lantai ketiga, Clear.."

Kata salah seorang dari mereka. Senter-senter itu menyorot keseluruh panjang koridor kiri dan kanan. Tidak ada tanda-tanda dari para mayat hidup. Mereka hanya menemukan beberapa orang berpakaian jas hitam tergeletak di sepanjang lantai koridor kanan dengan bersimbah darah. Nampaknya semua jasad orang-orang itu adalah Bodyguard dari Senator yang akan mereka jemput. Suasana yang amat gelap membuat jarak pandang mereka berempat hanya terbatasi oleh cahaya senter di ujung laras senjata mereka masing-masing.

"Liftnya tidak berfungsi..."

Ucap personel-A yang menekan-nekan tombol Lift yang mati beberapa kali.

"Terpaksa, Kita pakai tangga timur."

Jawab Ino melihat rekannya itu. Mereka kembali bergerak. Melangkah kearah sebuah tangga yang menuju kebawah di ujung koridor ini. Sambil berjalan, Mereka memperhatikan seluruh lekuk koridor ini dengan cahaya senter mereka. Banyak cipratan darah berwarna merah yang telah mengering membekas di dinding. Bahkan di sepanjang koridor gelap ini, Tidak sedikit cap telapak tangan berwarna merah yang membekas di dinding. Warna merah itu pastilah dari darah. Vas-vas dan guci bunga pecah berserakan di pinggir-pinggir lantai. Dengan tanah dan beberapa tanaman layu yang tercecer di sana.

Tim Alpha terus bergerak, Hingga sampai di depan tangga yang menurun. Setiap senjata yang dilengkapi dengan Flashlight di bawah moncong laras mereka tertuju pada setiap turunan anak tangga.

"Di mana lokasi Senat berada..?"

Tanya Ino kepada seseorang di markas pusat melalui Earphone kecilnya.

"Teruslah turun. Di lantai kedua, Akan ada belokan yang mengarah kesemua ruangan para Staff. Ikuti jalan tersebut dan kalian akan temukan plang penunjuk di mana toilet berada."

Jawab seseorang di Earphone kecil miliknya. Tidak perlu bagi Ino untuk menjelaskan arahan tadi kepada semua rekannya. Karena setiap Earphone yang terpasang di telinga mereka berempat saling terkoneksi satu sama lain. Sehingga mereka tidak perlu repot-repot terbebani oleh kordinasi yang memakan banyak kata dan waktu.

"Kurasa kami akan mendapat kontak dengan mereka..."

Ucap Ino kepada seseorang yang jauh di markas pusat sana melalui Earphone di telinganya, Kala sorot cahaya senter mereka menangkap seseorang yang berjalan pelan dengan aneh di ujung dasar tangga sana.

"Kontak diijinkan... Kalian semua... Hati-hati..."

Ucap seseorang yang berbicara melalui Earphone mereka. Mengerti tentang maksud dari kontak dengan mereka yang dimaksud Ino tadi.

"Ha'i... Kapten..."

Jawab mereka berempat dengan serempak.

Orang tak dikenal dengan pakaian compang-camping di dasar ujung tangga itu menoleh karena cahaya. Terlihatlah wajah hancur berdarah dengan mata yang hampir tidak terlihat retina di tengahnya. Mengeluarkan suara aneh, Seperti serak di tenggorokan, Orang misterius itu mendekati dan menaiki tangga secara perlahan menuju mereka berempat.

'Dia tidak menunjukkan perilaku yang agresif. Karena yang terlihat di matanya hanyalah sorot cahaya dari senter kami. Dengan kata lain... Dia hanya penasaran dan tertarik dengan cahaya yang menyorotnya karena masih belum bisa melihat kami di kegelapan...'

Ino mencoba membaca situasi dengan tepat dan akurat, Ketika melihat satu mayat hidup tersebut tidak langsung berlari menyerang mereka seperti biasanya. Melainkan menaiki tangga secara perlahan dengan tertatih-tatih. Sebelah mata Ino membidik kepala orang tersebut melalui Scope Sniper Dragunov miliknya. Ujung jari telunjuk gadis berambut pirang panjang itu mulai menyentuh pelatuk senapannya. Dengan sangat perlahan, Ino menekan pelatuk itu sembari terus mengeker kepala makhluk itu dari jauh.

"Lets begin... Shot em all..."

.

.

.

.

.

Di satu koridor yang cukup gelap, Sakura, Sasuke, Anko, Chouji dan Michika yang dibantu oleh Hinata berhasil naik ke lantai 4 gedung ini. Dengan jarak pandang yang terbatas dan banyak sisa-sisa reruntuhan yang berserakan, Mereka berjalan tergesa-gesa. Tidak berlari seperti saat sebelumnya karena melihat kondisi Michika yang benar-benar Dawn.

Terus berjalan tak tentu arah, Sasuke menemukan bahwa tangga yang menuju lantai selanjutnya telah tertutup oleh beton-beton dan bebatuan sisa reruntuhan. Membuatnya berdecih pelan menahan kesal.

"Sial... Kita tidak bisa lewat sini..."

Ucapnya sambil meraba-raba jalur tangga yang telah terblokir tersebut. Membuat mereka semua berhenti sambil mengambil nafas sejenak. Tiba-tiba lampu neon yang berada di langit-langit bagunan menyela. Berpendar dan berkedip redup. Membuat Sakura, Sasuke dan yang lain begitu terkejut dibuatnya.

"Bukankah... Kota ini telah mati puluhan Tahun yang lalu...?"

Tanya Sakura yang entah pada siapa, Sambil memperhatikan cahaya redup dari beberapa lampu yang secara mengejutkan telah menyala.

"Alasan... Pasti ada alasan..."

Gumam Sasuke sendiri, Namun masih bisa didengar oleh teman-temannya.

"Apa masih ada yang selamat selain Michika saat kejadian tadi berlangsung...?"

Tanya Sasuke kepada mereka semua. Membuat mereka saling menatap satu sama lain.

"Saat kejadian di api unggun tadi... Setahuku... Tidak ada."

Jawab Sakura sambil mengingat-ingat kembali kekacauan yang sesaat lalu telah terjadi.

"Yang kuingat, Hanya Michika seorang."

Sahut Anko melengkapi jawaban Sakura.

Alis Sasuke mengerut. Tidak terbantahkan, Bahwa dirinya juga yakin bahwa hanya Michika satu-satunya yang berhasil lolos dari kekacauan itu. Dirinya pun semakin meyakini hal tersebut ketika mendengar jawaban Sakura dan Anko.

"Sebenarnya... Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi hal ini sangat tidak masuk akal. Setidaknya harus ada satu orang lagi untuk menghidupkan generator pulau ini. Kecuali jika..."

Kalimat Sasuke menggantung. Seakan apa yqng ingin dikatakannya sangatlah mustahil untuk benar-benar terjadi.

"Jika...?"

Mendengar kalimat Sasuke yang menggantung membuat Hinata ikut penasaran dibuatnya.

"Jika ada orang lain yang berada di pulau ini, Sebelum atau sesudah kita kemari..."

Ucap Chouji sambil memegang dagu dan berpikir dalam. Tapi tiba-tiba Kiba datang tergesa-gesa kearah mereka. Membuat semua orang menoleh kearahnya.

"Aku, Aku tidak peduli jika kau kini jadi sedikit lebih pintar atau apalah itu, Chouji.. Tapi yang terpenting saat ini, Kita harus kembali bergerak kawan-kawan..."

Ucap Kiba kepayahan dalam pernafasan setelah menaiki tangga sebanyak tiga lantai bersama para mayat hidup yang mengejarnya. Benar saja, Sasuke dapat melihat sembilan... Atau mungkin dua belas mayat hidup yang sedang menaiki tangga utama menuju kearah mereka semua sekarang.

"Kita cari jalan lain. Ikuze!"

Ucap Sasuke mengajak mereka untuk segera bergegas beranjak dari sana. Melupakan sejenak masalah siapa yang telah menghidupkan kembali generator pulau ini. Dengan Sasuke yang memimpin jalan di urutan paling depan. Akan tetapi sebelum yang lain sempat melangkah, Sesuatu coba menarik tubuh dan kaki Sakura. Membuat semua mata lagi-lagi berbalik menuju kearahnya.

"Sakura!"

Teriak Hinata melihat salah satu temannya itu akan terjatuh ke hamparan mayat hidup kelaparan di tangga. Secara refleks, Tangan Kiba terulur menggenggam pergelangan tangan gadis itu.

JDaaarrr!

Satu peluru melesat cepat kearah tubuh Zombie yang menyeret Sakura, Hingga membuatnya jatuh terhempas menindihi mayat hidup yang lain di tangga. Kiba langsung menarik Sakura dari sana. Membuat gadis itu kembali berdiri sejajar kembali. Tanpa membuang waktu lagi, Mereka semua langsung menuju kearah pintu tidak jauh di depan.

Braaakkk...

Pintu tersebut terbuka kasar saat Sasuke berhasil menendangnya keras. Ia masuk kedalam, Diikuti oleh Sakura, Anko, Chouji dan Michika yang dibantu oleh Hinata. Dengan masuknya Kiba di urutan paling terakhir. Pemuda itu berbalik dan menutup rapat pintu yang dilaluinya tadi dengan epat.

Sambil terus menggenggam AWP Magnum miliknya yang telah kosong, Sasuke berjalan mendekati tepi jendela besar yang telah rusak parah. Seolah jendela itu baru terkena angin topan atau semacamnya. Tidak ada kata yang tepat untuk mendiskripsikan kondisi bangunan ini. Benar-benar jauh tertinggal peradaban.

"Mereka... Terus mengikuti kita..."

Gumam Sasuke melihat kearah bawah. Bagaimana para mayat-mayat hidup berdatangan masuk ke pintu utama gedung ini di lantai dasar sana.

"Seberapa kuat pun kita berusaha.. Hasilnya selalu sama..."

"..."

"...Kita tetap tetap terpojokkan."

Pemuda itu menghela nafas sejenak, sebelum pandangannya teralih ke arah gadis berambut merah jambu di depannya. Mereka mulai memeluk satu sama lain.

"Sasuke-kun..."

Ucap gadis itu dengan nada yang tidak mudah untuk dijelaskan. Sensasi rasa takut yang sempat melanda kini perlahan mulai mencair. Di dalam dekapan kekasihnya, ia mencoba untuk menenangkan diri setelah sekian kejadian penuh ketegangan yang ia alami.

"Syukurlah kau selamat... Sakura."

Ucap pelan Sasuke, Yang kini semakin membawa gadisnya lebih dalam ke pelukannya. Tidak ingin ia lihat sesuatu yang membahayakan terjadi lagi pada gadis ini.

"Suasana yang kacau ini... Entah kenapa mengingatkanku saat kita berada di Konoha. Dan tentang generator pulau ini yang telah dihidupkan kembali..."

Ucap Anko-sensei yang coba meredakan nafas-nafas panjangnya sambil menggantungkan sedikit kalimat yang akan ia ucapkan.

"Michika, Jika boleh kutahu, Di mana lokasi anggotamu mengungsi ketika sampai di tempat ini? Apa semuanya benar-benar berada di dekat api unggun itu..?"

Tanya Anko penuh selidik setelah menyadari ada hal yang tidak bisa diterimanya secara masuk akal jika semua orang yang ada di dekat api unggun tadi telah mati tak bersisa, Dan berubah menjadi mayat hidup yang kini sedang memburu mereka bertujuh.

"Itu... Kami semua... Berada di sana tanpa terkecuali..."

Braakkk!

Suara keras dobrakkan pintu tiba-tiba mengagetkan mereka semua. Seluruh mata serentak teralihkan ke arah sana, termasuk juga Sasuke dan Sakura.

Dengan teringat tentang kekacauan Konoha kembali, Berarti juga memaksanya untuk mengingat kembali tentang satu muridnya yang telah mati di saat-saat mereka akan meninggalkan Kota Konoha yang telah dipenuhi para mayat hidup... Naruto Namikaze. Dengan pikiran-pikiran yang berkecipung tentang murid bodohnya tersebut, Anko mulai memberi arahan kepada pemuda-pemuda yang lebih dekat dengan pintu yang mereka lalui tadi.

"Kiba, Chouji. Tahan pintunya...! Sasuke cepat cari jalan lain."

Kiba dan Chouji yang bertubuh besar langsung bersama-sama menahan pintu yang sesaat tadi baru mereka lalui. Dobrakkan demi dobrakkan tak terelakkan. Begitu gencar hingga mereka berdua tak sanggup menahannya lebih lama lagi.

Sementara Sasuke kembali mengangkat senjatanya dan mulai menelusuri setiap inci lorong buntu itu dengan panik. Matanya berulang kali berganti haluan, berusaha menemukan jalan untuk ke lantai selanjutnya. Begitu gelap dan berdebu, yang mana sebuah lampu redup yang berkedap-kedip di tengah lorong itu tidak mampu banyak membantu Sasuke menembus kegelapan.

'Siaal.. Di mana.. Di mana?! Aku tak bisa menemukannya...!'

Racau Sasuke dalam hati merasa frustasi saat matanya tidak mampu menembus kegelapan untuk menemukan jalan bagi mereka. Sedangkan Kiba dan Chouji begitu sibuk menahan pintu di sana agar makhlul-makhluk yang mengejar mereka tidak bisa menerobos masuk ke dalam.

"Cepat, Sasuke! Kita tidak punya banyak waktu lagi!"

Kata Anko yang mengingatkan Sasuke jika saat ini mereka benar-benar sedang terpojok. Rahang Sasuke mengeras, Semakin ia merasa frustasi tidak menemukan satu pun jalan keluar selain jendela besar tadi yang mengarah langsung menuju ke jalanan yang dipenuhi oleh sekumpulan mayat-mayat hidup yang kelaparan.

"K-Kami... Ti-Tidak bisa menahannya lebih lama lagi..!"

Kata Chouji bersamaan dengan urat-urat yang keluar di pelipisnya. Yang begitu ngotot mempertahankan pintu itu agar tidak bisa ditembus. Keringat membasahi seluruh pergelangan tangan Kiba yang juga sedang menahan pintu yang sama. Gebrakkan demi gebrakkan dari balik pintu tidak juga surut. Justru kini lebih gencar hingga debu-debu di atas runtuh seperti hujan mengguyur tubuh berkeringat kedua pemuda itu.

'Tidak ada pilihan lain...'

Ucap Anko dalam hati. Tubuhnya membungkuk, mengambil sebatang rotan tebal yang usang di antara puing-puing yang berserakan.

"Tetap mencari, Sasuke... Aku akan mengurus yang di sini."

Kata wanita muda yang dulunya berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah yang terkena dampak dari penyebaran kengerian ini.

"Aku akan membantu Anko-sensei, Sasuke-kun... Teruslah mencari jalan untuk kita semua. Seperti pesan yang dia tinggalkan untukmu waktu itu..."

Ucap Sakura yang berada di belakangnya. Sasuke berhenti seketika, lalu langsung berbalik ke arah Sakura. Dapat ia lihat dengan jelas setitik air mata keluar bebas dari pelupuk mata indahnya. Mengalir melalui pipi lembutnya, lalu menetes jatuh di antara puing-puing yang berserakan melalui dagu manisnya. Manik sehitam obsidian itu sejenak melebar. Menatap Sakura yang lagi-lagi menitikkan lagi air mata seperti ini karena teringat oleh seorang teman kecilnya yang telah mati.

Gadis itu mengangguk sekali kepada Sasuke. Seakan itu adalah sebuah tanda semangat dan kepercayaan yang ia serahkan untuk pemuda itu.

Sakura berlalu dari hadapannya, menuju ke arah Anko-sensei, Hinata, dan seorang survivor lain yang selamat, Michika. Akan tetapi Sasuke tidak bergeming. Pandangannya tertunduk melihat reruntuhan tertumpuk debu. Perkataan Sakura tadi... Seakan membuatnya terlempar kembali ke waktu itu...

.

.

'Kita hanya perlu menatap lurus ke depan bukan, Sasuke."

'Kita hanya perlu menembus rintangan yang ada bukan..? Lagi... Ayo kita berjuang bersama-sama lagi, Sasuke.'

Masih terbesit jelas suara itu di gendang telinganya. Walau waktu telah berlalu sampai di detik ini...

Wajah itu... Begitu menguatkan apa yang di yakininya saat itu...

Bahwa mereka semua akan selamat. Kepalan tinju mereka yang saling menyatu...

Seakan sebuah tanda dari janji yang mereka berdua yakini...

Sampai ketika hari yang menyakitkan itu tiba...

'Selanjutnya... Kuserahkan kepadamu, Sasuke. Maaf aku tak bisa menepati janjiku untuk terus berjuang bersama.'

.

.

Dalam diam tertunduk, Sasuke begitu menyadari arti dari kehilangan semangat juang yang selalu diperlihatkan oleh sahabatnya. Sangat menyesakkan memori itu kembali terputar dalam otaknya. Tangan kiri yang tidak menggenggam senjata itu mengepal kuat. Semua yang ia lalui, semua yang yang telah mereka lalui bersama, tidak boleh terhapus sampai di sini.

Benar...

Semua telah diserahkan kepadanya. Ia harus temukan jalan itu. Ia harus membawa rekan-rekannya selamat, seperti sahabatnya yang selalu bisa melakukan hal itu. Kini adalah gilirannya. Karena beban Naruto telah berpindah ke atas pundaknya.

"Beri aku sedikit waktu lagi!'

Sahutnya tiba-tiba, dan langsung berbalik untuk kembali mencari jalan keluar menuju ke lantai selanjutnya.

Anko yang sedang menguji kekuatan rotan temuannya sejenak menoleh sedikit dengan pandangannya yang menyusur ke bawah. Telinganya mendengar jelas semangat itu. Semangat yang mirip dengan semangat seseorang.

'Bahkan sampai saat ini, kau selalu memberikan semangat juang di setiap hati kami...'

Anko tersenyum redup mengingat begitu banyak kenangan di tengah kengerian yang begitu mencekam di waktu itu. Matanya kembali terarah ke depan menuju pintu yang sebentar lagi akan hancur tersebut. Sendi lutut kaki kiri Anko mulai merendah. Kuda-kuda yang telah lama tidak ia gunakan saat menjadi pengajar kini terlihat jelas.

'...Kami benar-benar kehilangan dirimu. Murid kesayanganku...'

Lanjut dari kata-katanya dalam hati.

"Cihh..!"

Kiba sudah berada pada batasnya menahan pintu yang berlubang di sana-sini. Chouji juga sudah hampir tidak bisa mempertahankan engsel pintu yang telah putus tersebut. Tangan-tangan kusam penuh luka mengais-ngais dari sisi-sisi pintu yang telah terlepas dari engselnya itu.

Sakura menjongkok, mengambil sebuah potongan beton neser panjang, tonggak seperti kawat tebal untuk fondasi membangun beton. Lengkap dengan sisi tajam di ujung bekas patahannya. Sakura berdiri, lalu melangkah ke depan dan berhenti sejajar bersama Anko di depan Hinat dan Michiko yang terbatuk-batuk entah kenapa. Kini hatinya kembali mantap bertarung melawan mereka lagi.

"Maaf, tapi ini sudah mencapai batas kami! Bersiaplaaahh!"

Sahut Kiba dengan mata terpejam erat sekuat tenaga yang tersisa untuk menahan pintu yang akan ambruk tersebut.

"Haaaaa!"

Chouji berteriak menahan pintu rusak dengan tangan-tangan ganas yang mengais-ngais itu. Di detik berikutnya, mereka berdua terdorong jatuh dan tertimpa pintu tersebut. Mata Hinata melebar mendapati pintu itu telah ambruk, sedangkan mata Anko menajam mereka-mereka yang mendobrak kini berhasil masuk. Genggaman tangan Sakura semakin menguat ke beton neser yang ia genggam. Makhluk-makhluk itu menginjak-injak pintu yang telah berhasil mereka dobrak dan berlari dengan ganas ke arah Anko dan Sakura.

"Grraaahhh...!"

Satu dua Zombie berlari masuk menyerang Anko dan Sakura.

Mbuukkh!

Satu serangan mematikan dari hantaman rotan yang Anko genggam, Membuat mayat hidup itu langsung diam tak bersuara dengan leher yang terpeluntir tak karuan. Jatuh terperosok di bawah kaki Hinata yang memegangi tubuh Michika. Yang lain datang secara bergantian. Tapi dengan cepat Sakura tancapkan beton neser itu tepat di kepala mereka. Membuat darah membasahi kawat besar yang berkarat itu.

Sementara Sakura dan Anko sibuk menghadang mereka yang datang menyerang, Sasuke masih terus mencari jalan di antara gelapnya koridor ini. Ia telah temukan sebuah pintu kayu rapuh yang penuh dengan retakan. Sasuke membukanya. Namun bukan tempat buntu seperti ini yang ia inginkan. Yang dilihatnya hanyalah satu ruangan tempat biasa para karyawan bekerja. Walau ia telah salah tempat, tapi setidaknya mata Sasuke melihat sesuatu yang mungkin bisa membantunya melihat dalam gelap. Sasuke masuk ke ruangan itu, lalu mengambil pecahan cermin lemari besar yang telah rusak. Sasuke kembali keluar dengan berlari menuju kearah jendela gedung ini. Dengan bantuan sinar rembulan, ia pantulkan arah sinar itu menggunakan cermin yang ia temukan tadi untuk menyenteri setiap leluk sudut koridor ini. Keringat mengalir melalui pelipisnya kala ia melirik Sakura dan Anko-sensei yang tengah berjuang saat ini. Keringat itu menetes bersama gugup yang tengah menyerangnya kalau-kalau pada akhirnya ia tidak menemukan satu jalan keluarpun untuk mereka semua.

Craaattss...

Entah sudah berapa banyak kepala yang Sakura tusuk menggunakan beton neser itu. Hingga darah kental melumuri seluruh permukaan kawat besar tersebut.

Dengan tubuh yang tertimpa oleh pintu dan terinjak-injak oleh para Zombie yang datang, Dengan lelah Kiba menyingkirkan pintu itu dari tubuhnya. Dengan sempoyongan ia mendekati mayat hidup yang akan menyerang Sakura yang sibuk berusaha mencabut beton neser dari kepala seseorang.

Kretekk...

Bunyi sendi-sendi tulang leher yang telah patah begitu terdengar jelas di gendang telinga Sakura. Baru ia menyadari bahwa ada satu Zombie yang akan menyerangnya jika Kiba tidak mematahkan leher Zombie tersebut terlebih dahulu.

Dengan bantuan sinar bulan yang terpantulkan oleh pecahan cermin di tamgannya, Sasuke menemukan sebuah pintu tangga darurat bertuliskan EXIT seperti pada pintu tangga darurat pada umumnya. Dengan begitu Sasuke memanggil teman-temannya untuk memberitahu bahwa ia telah temukan jalan bagi mereka.

"Aku telah temukan-..."

"Aaaaarrrggkk!"

Mata Sasuke terbuka lebar, Dengan kalimat yang terputus seketika. Melihat kaki Chouji digigit oleh salah satu dari mereka. Anko tidak tinggal diam, Ia arahkan ujung rotannya kearah mata mayat hidup yang sedang menggigit kaki Chouji.

Creeettss...

Ujung rotan itu menancap ke mata Zombie itu hingga menembus sampai ke otaknya. Darah dan lendir menyiprat membasahi celana panjang Chouji. Sakura berlari kedepan pintu, lalu menancapkan beton neser miliknya kearah tiga tubuh mayat hidup yang akan masuk kedalam. Membuat mayat-mayat hidup yang lain tidak bisa lagi masuk karena terhimpit oleh ketiga tubuh mayat hidup yang Sakura tusuk tadi. Melihat ini adalah kesempatan bagus, Anko membantu Chouji berdiri dan menuntunnya kearah pintu darurat yang telah dibuka oleh Sasuke.

"Kau dulu, Sensei"

Ucap Chouji kepada Anko. Tidak mengerti apa maksud dari perkataan Chouji, Anko coba untuk bertanya. Tapi Chouji malah mendorongnya pelang sehingga ia mesuk terlebih dahulu. Sasuke membantu Hinata membopong Michika yang terlihat seperti mengidap demam tinggi. Sementara Kiba membantu Sakura menahan Zombie-Zombie yang berhimpitan mencoba untuk masuk.

"Pergilah keatas terlebih dahulu. Di sana mungkin aman. Aku dan yang lain akan menyusul segera."

Ucap Sasuke kepada Anko, Hinata dan Michika.

"Apa... Kau yakin..."

Tanya Michika lemah kepada pemuda itu.

"Tentu."

Jawab Sasuke penuh keyakinan. Anko dan Hinata mengangguk setuju dan mulai menaiki satu persatu anak tangga bersama Michika menuju ke lantai selanjutnya.

"Kau juga, Chouji."

Perintah Sasuke sambil menarik Chouji untuk masuk kedalam. Chouji pun menurut. Tapi tidak serta-merta ia naik menyusul Hinata dan yang lain keatas.

"Aku akan tunggu Kiba dan Sakura di sini."

Jawab Chouji sebagai alasan. Sasuke tidak ambil pusing. Ia menitipkan Sniper miliknya kepada Chouji dan langsung berlari menuju ke tempat Sakura dan Kiba berada.

"Aku tangani ini. Kalian cepat pergi terlebih dahulu."

Perintah Sasuke kepada mereka berdua sambil merebut beton neser yang sedang di tahan oleh Kiba dan Sakura.

"Tapi, Sasuke-kun..."

"Tidak ada waktu lagi Sakura!"

Teriak kasar Sasuke kepada gadis itu dengan kepayahan menahan banyak mayat hidup yang coba untuk menerobos masuk. Sakura langsung terdiam dan berbalik menuju kearah Chouji berada. Kiba menyusul di belakangnya. Mereka berdua bergegas menaiki tangga ke lantai atas. Sekarang hanya tersisa Sasuke, Chouji dan puluhan mayat-mayat hidup yang begitu ganas. Menggunakan seluruh tenaganya, Sasuke mendorong kuat beton neser itu sehingga mereka terhempas kebelakang. Sasuke berbalik dan berlari kearah Chouji yang telah menunggunya. Saat ia akan masuk ke ruang tangga darurat, Chouji menyerahkan senapan yang sebelumnya telah ia titipkan, Dan secara tiba-tiba Chouji menariknya kasar kedalam. Lalu Chouji menutup pintu tangga darurat tersebut dari luar. Sehingga membuat mata Sasuke terbelalak lebar.

"Chouji apa yang kau lakukan?! Chouji! Cepat buka pintunya Chouji!"

"Pergilah... Susul yang lain... Aku akan menahan pintu ini selama yang aku bisa."

Jawab Chouji dari balik kaca di pintu itu. Mendengar jawaban tersebut, Sasuke semakin marah dan menggedor-gedor pintu itu dari dalam.

"Apa yang kau katakan?! Cepat ikut denganku atau aku akan menembakmu! Cepat buka pintunya keparaatt!"

Teriak Sasuke dengan kasar karena Chouji sama sekali tidak menggubris kata-katanya. Ia sangat marah karena ia tidak ingin kehilangan satu teman lagi, Setelah saat itu ia telah kehilangan salah satu sahabat baiknya.

"Chouji..! Buka keparatt..! Kita akan temukan obatnya untukmu apa kau dengarr..!"

Suara Sasuke semakineninggi dengan urat yang menegang terlihat di lehernya saat berteriak.

"Tidak, Sasuke. Sudah terlambat... Apa yang terjadi padaku, Adalah apa yang telah terjadi pada Naruto."

Ucap Chouji dari balik kaca pintu darurat tersebut. Saat Sasuke ingin mengucapkan kata-kata kasar lagi, Tiba-tiba empat Zombie langsung menerjangnya. Membuat Sasuke mundur selangkah ketika melihatnya dari balik kaca pintu. Bukan hanya empat, tapi sudah tidak terhitung jumlahnya mayat-mayat hidup yang menggerogoti tubuh Chouji. Sampai-sampai darah bermuncratan hingga menutupi kaca pintu itu. Rahang Sasuke mengerat. Tangannya yang terkepal langsung meninju dinding di sebelahnya.

'Kusoo..!'

Umpat Sasuke dalam hati. Di detik-detik akhirnya, Chouji mencegah para Zombie untuk mengejar kembali dirinya dan yang lain. Terlebih, Menggunakan nyawanya sendiri. Sasuke benar-benar tidak terima ini. Jika saja insiden mengerikan di Konoha waktu tidak terjadi, Mungkin satu per satu temannya tidak akan mengalami nasib yang sama seperti ini.

Sasuke berbalik dan segera berlari menaiki setiap anak tangga menyusul yang lain di lantai atas. Sampai pada akhirnya ia menapaki satu anak tangga terakhir, lalu membuka pintu tangga darurat lainnya di lantai kelima ini. Semua pasang mata tertuju kearahnya yang letih dan lesu. Sasuke berjalan mendekati Sakura. Sedangkan yang lain tetap menatap ke pintu yang tidak kunjung terbuka lagi itu. Berharap bahwa Chouji akan muncul dari sana.

"Sasuke-kun...? Sasuke-kun, Di mana Chouji...?"

Sakura bertanya kepada kekasihnya itu. Kini semua pandangan tertuju pada pemuda yang membawa AWP Magnum tersebut. Namun sama sekali tidak ada jawaban. Hanya ada gelengan lemah dari Sasuke.

Melihat hal itu, Sakura langsung menutup mulut menggunakan kedua tangannya dengan kedua mata yang melebar. Seakan dirinya tahu arti dari gelengan tersebut. Anko menundukkan kepala. Kiba menendang rak buku dengan sangat keras. Hinata mendekap Michika, mencoba sembunyikan bulir-bulir air matanya.

Samar-samar suara baling-baling helikopter terdengar di kejauhan. Namun mereka seakan tidak peduli dengan suara tersebut. Sasuke menjatuhkan senapannya ke lantai. Lalu mendekap Sakura begitu erat.

"Sakura... Sesuatu yang disebut kematian... Apakah bisa dipermainkan seperti ini..."

Tanya Sasuke pelan dan sama sekali tidak jelas bagi Sakura. Apa artinya dan apa maksudnya. Namun sesuatu nampaknya mengusik ketenangan mereka semua kembali.

Suara seperti daging-daging mentah yang menempel di langit-langit membuat Sasuke melepas pelukannya. Hinata merasakan firasat buruk tentang suara ini. Tanpa bertanya, Anko dan Kiba telah familiar dengan suara-suara ini. Melihat kesekitar, Sasuke, Sakura, Dan yang lain dapat melihat monster-monster dengan lidah yang panjang dan cakar yang besar sedang merayap di dinding. Perlahan tapi pasti, ketiga makhluk menyeramkan itu menuju kearah mereka.

Sasuke seperti ingin menyerah saja, Setelah mengetahui bahwa dirinya tidak lagi memiliki satupun peluru yang tersisa untuk melawan, Ataupun untuk sekedar bertahan dari ketiga makhluk ini. Sakura, Sasuke, Kiba, Anko, Hinata dan Michika dikepung di lantai lima ini. Membuat mereka berenam tidak bisa lari kemana-mana lagi.

Dep-Dep-Dep-Dep-Dep-Dep...

Derap suara langkah kaki mengalun begitu cepat di atap bangunan lain.

"Saga... Ra..."

Gumam Michika pelan melihat kearah salah satu dari ketiga makhluk menyeramkan itu. Salah satu dari mereka nampak begitu berbeda dari yang lain. Lebih besar, Lebih merah, Dan jauh lebih menyeramkan. Mungkin itu memang Sagara yang telah bermutasi setelah mendapatkan DNA segar dari para pengungsi saat kekacauan di dekat api unggun terjadi. Begitulah pemikiran Hinata.

Tangan Anko dengan pelan meraba-raba lemari buku di belakangnya. Mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata ketika ketiga makhluk itu semakin merayap mendekat. Peluh menetes dari dagu Kiba saat menyadari nyawanya hanya terpisahkan oleh kulit bawang dengan kematian. Jika seandainya ia mati, Ia ingin mati secara wajar dan tidak berubah menjadi seperti mereka yang bisa membahayakan nyawa orang lain.

Dep-Dep-Dep-Dep-Dep...

Suara derap langkah kaki yang melesat menuju ke satu gedung bertingkat lima semakin dekat. Begitu cepat, Hingga angin terbelah karenanya.

"Sakura... Saat kubilang lari, Segera larilah menuju pintu itu. Cobalah secepat mungkin naik ke atap saat aku mengalihkan perhatian mereka..."

Kata Sasuke setengah berbisik kepada Sakura. Tanpa menunggu persetujuan dari gadis berambut merah jambu tersebut, Sasuke perlahan mulai membungkuk. Dengan pelan mencoba mengambil kembali senapannya yang tergeletak di lantai.

Jemarinya telah menggenggam gagang senapan itu. Tapi secara mengejutkan salah satu dari ketiga makhluk itu melompat dari langit-langit kearah Sasuke dan Sakura berada. Dengan cepat Sasuke mendorong Sakura keras hingga membuatnya terperosok jatuh.

Makhluk itu berusaha mencakar Sasuke, Tapi Sasuke tidak kalah sigap menahan cakar-cakar mematikan itu menggunakan senapannya.

"Sekarang, Sakuraa!"

Sasuke berteriak kencang seakan itu adalah aba-aba yang Sasuke katakan tadi. Sakura berdiri dari jatuhnya dan coba berlari seperti apa yang diperintahkan Sasuke. Akan tetapi satu makhluk lagi melompat kearah Sakura. Membuat Hinata, Anko dan Kiba melebarkan mata.

'Tidak-...'

Praaannkk..!

Seseorang menabrak jendela hingga membuatnya pecah berkeping-keping. Sebuah kaki beralaskan sepatu keras menginjak kepala monster yang akan menerkam Sakura. Membuat kepala monster itu jatuh menabrak lantai dengan bersimbah darah.

Orang asing itu langsung berdiri tegap di atas makhluk yang telah dibunuhnya dengan satu serangan. Satu monster yang masih di atas langit-langit gedung melompat kearahnya. Berusaha menyerang pengunjung baru itu dengan kedua tangan yang bercakar itu. Tetapi pemuda yang memakai kemeja biru tua berlengan panjang dan memakai rompi tipis berwarna hitam tersebut menarik Glock-17 miliknya dengan sangat cepat.

Daaarrr..!

Satu peluru panas secara akurat melesat cepat di udara. Mengujam tepat di kepala makhluk itu. Pemuda tersebut dengan santai hanya mempersilahkan makhluk tadi ambruk melewatinya.

Kini hanya tersisa satu makhluk mutasi yang sedang bercengkrama dengan Sasuke. Anko mengambil buku tebal yang ada di rak penyimpanan buku dan langsung melemparkannya kearah makhluk itu. Membuatnya sangat marah dan berganti akan menyerang Anko. Tapi pemuda asing tadi tidak tinggal begitu saja.

Matrix Mode

Debaran jantungnya meningkat tajam secara tidak wajar. Membuat semua yang ada di pengelihatannya seolah melambat. Ia coba memfokuskan titik pandangnya ke satu arah. Yaitu kepala makhluk yang akan menyerang Anko tersebut. Glock-17 miliknya kembali terangkat sejajar dengan bahu. Memegangnya menggunakan kedua tangan, Untuk dapatkan akurasi terbaik. Rongga pembidik di atas Frame pistolnya telah terarah kekepala makhluk itu. Hempasan cakar-cakar tersebut hampir memenggal kepala Anko. Akan tetapi gerak tekanan jari orang itu jauh lebih cepat untuk menekan pelatuk senjata genggamnya.

JeeDaaarr...

Sebuah partikel timah panas melesat akibat dorongan ledakan mesiu dari dalam laras senjatanya. Peluru itu melesat cepat, Dan menghujam tepat di kepala makhluk tersebut. Membuat darah keluar terciprat ke udara bebas.

Matrix Mode End's

Cakar itu menancap di rak buku 30cm dari kepala Anko. Satu tembakan dan makhluk itu mati seketika. Sasuke terduduk membersihkan bahunya. Sedangkan Sakura, Hinata, Anko dan Kiba memandang dengan pandangan bertanya. Seakan mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi. Mengacuhkan pandangan-pandangan itu, Orang tersebut menekan Earphone Portable yang sekaligus dilengkapi senter kecil tepat di atas daun telinganya.

"Aku berhasil tiba di tempat mereka. Tapi ada satu masalah di sini... Aku sama sekali tidak menemukan Sona..."

Ucap orang itu menghubungi seseorang melalui Earphone miliknya. Jarinya berhenti menekan tombol kecil di Earphone tersebut. Lalu tersenyum memandangi mereka berlima, Minus Michika yang sudah tak sadarkan diri.

"Yo... Apa kabar...?"

.

.

"Cold Bullet Blues"

The Place Of Hope

Chapter 3 : "Peluru Beku"

Genre : Adventure, Horror & Gore

Caution! Contains violance & profanity (17th +)

.

To Be Continue's...