Baekhyun ingin sekali sembuh dan keluar dari RS, tapi–

"Aku tidak bisa.."

–kehilangan pita suara yang sangat ia sukai, bukan itu yang Baekhyun inginkan.

Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol, kemudian membuang wajahnya agar tidak menatap pria tampan nan tinggi itu. Chanyeol yang kembali mendapatkan respon yang sama seperti sebelumnya, hanya bisa menghela napasnya.

"Arasseo." Chanyeol bangkit dari duduknya, kemudian mengambil jaketnya. "Aku pulang dulu, Baek. Jaga dirimu."

Begitu pintu kamar inap Baekhyun ditutup, Luhan menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Hening.

Baekhyun masih pada posisinya yang menghindari tatapan mata –kali ini dari mata rusa Luhan. Selang beberapa detik mereka dalam posisi itu, akhirnya Luhan berinisiatif mendekati Baekhyun duluan.

"Baek?" Luhan memanggil Baekhyun, namun Baekhyun masih tidak mau menatapnya. Luhan menghela napas sejenak, kemudian tersenyum tipis menatap punggung Baekhyun. "Aku tahu pasti berat rasanya kehilangan sesuatu yang kau sukai bagi dirimu, tapi kuharap kau tidak terjerat dengan apa yang ada di depan mata sehingga tidak melihat bintang yang paling dekat denganmu."

Baekhyun mengernyit karena ucapan Luhan. Namun belum sempat Baekhyun bertanya, Luhan sudah menghilang dari sana –menyisakan dirinya sendiri di ruangan bercat putih itu.

.

.

.

###

HEARTBEATS

Chapter 3 The Thing I Love

by Pupuputri

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Xi Luhan, Oh Sehun, Park Jiyeon, Lee Hyunwoo, Byun Baekbeom

Genre : Romance, Drama

Rate : T

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: FF ini kayaknya bakal cepet tamat karena saya gak niat buat bikin panjang-panjang, mungkin bakal selesai di chapter 5 atau 6 *a bit spoiler*. Chapter ini memperlihatkan hubungan Baekhyun sama Jiyeon yang masih buruk dan info kisah Luhan semasa hidup. So, langsung aja dibaca. Happy reading~

###

.

.

.

"Appa, Appa! Lihat ini! Aku sudah bisa memainkan harmonika!" seru Baekhyun berumur lima tahun pada pria paruh baya yang sedang berkonsentrasi di depan piano berwarna hitam di hadapannya. Baekhyun kecil memainkan lagu 'Somewhere Over the Rainbow' dengan harmonika yang dibelikan Tuan Byun dua minggu yang lalu. Pria paruh baya itu tersenyum bangga melihat anaknya pintar dalam memainkan alat musik itu.

"Bagaimana? Aku hebat'kan?!" seru Baekhyun setelah ia selesai memainkan harmonika yang baru ia pelajari selama dua minggu itu.

Tuan Byun tersenyum seraya bertepuk tangan, membuat bocah mungil itu tersenyum bangga. "Kau hebat sekali, Baekhyun-ah. Kau pasti bisa menjadi penyanyi yang hebat!"

Baekhyun menggeleng cepat. "Aku tidak mau jadi penyanyi, aku ingin bisa menulis lagu seperti Appa."

"Kenapa? Suaramu bagus lho!"

Baekhyun menggeleng kembali. "Aku ingin seperti Appa kalau sudah besar nanti. Aku ingin pintar memainkan semua alat musik dan membuat lagu yang bagus seperti Appa." sahut Baekhyun kecil polos. Tatapannya berapi-api saat menceritakan impiannya kelak dan itu terlihat menggemaskan di mata pria paruh baya itu.

Tuan Byun mengelus puncak kepala Baekhyun pelan. "Menjadi seperti Appa, bukan berarti kau tidak perlu menjaga suaramu, Baek. Suara juga penting untuk seorang penulis lagu. Kalau kau tidak bisa menjaga suaramu, kau tidak bisa mendemonstrasikan lagu buatanmu'kan?"

Kepala Baekhyun bergerak ke samping –tanda bingung. "Demonstrasi itu apa, Appa?"

Tuan Byun terkekeh pelan karena pertanyaan anak bungsunya. "Demonstrasi itu menunjukkan sesuatu dengan aksimu. Untuk menjadi seorang penulis lagu seperti Appa, kau harus bisa menyanyikan lagumu sendiri sehingga penyanyi yang akan menyanyikannya bisa mengerti nada dan liriknya. Arasseo?"

Baekhyun mengangguk paham. "Jadi, aku juga harus menjaga suaraku? Apa aku harus pintar bernyanyi juga untuk menjadi penulis lagu seperti Appa?"

"Kau tidak harus pintar bernyanyi, tapi alangkah lebih baiknya jika kau bisa bernyanyi juga. Namun yang terpenting dari itu semua, kau harus menjaga suaramu. Karena bagi penulis lagu, suara adalah salah satu yang terpenting bagi hidup mereka. Sama seperti penyanyi, tanpa suara, penulis lagu akan kehilangan belahan jiwanya."

Baekhyun tersenyum lebar. "Arasseo. Aku akan menjaga suaraku mulai sekarang, Appa. Dan aku janji akan menjadi penulis lagu yang hebat seperti Appa!" serunya heboh.

Tuan Byun ikut tersenyum. "Itu baru anak Appa~"

.

.

.

Baekhyun selalu berjanji kepada mendiang Tuan Byun untuk menjadi penulis lagu yang hebat seperti Beliau. Baekhyun ingin melihat Appa-nya tersenyum bangga padanya dari atas sana atas apa yang ia raih. Karena Tuan Byun meninggal sebelum Baekhyun lulus SMA, pria manis itu tidak bisa menunjukkan kesungguhannya dalam bidang musik pada Appa-nya. Namun karena tumor ini, Baekhyun harus cuti di masa jayanya sebagai penulis lagu dan mendekam di RS. Itulah alasan utama Baekhyun sangat menyukai suaranya dan tidak mau kehilangannya. Karena suaranya bagaikan cahaya yang mendekatkan dirinya dengan mendiang Appa-nya.

"Apa yang harus kulakukan, Appa?" ucap Baekhyun lirih.

###

Baekhyun memutuskan untuk berjalan-jalan di taman RS setelah Hyung-nya kembali ke tempat kerjanya. Dia benar-benar bosan mendengar celotehan Baekbeom yang isinya tentang atasannya yang memarahinya karena ia gagal mendapatkan berita eksklusif. Baekhyun tidak mengerti dengan pekerjaan Hyung-nya dan entah sudah berapa kali ia bilang pada pria yang lebih tua itu bahwa ia tidak mengerti apapun mengenai dunia wartawan atau apapun itu, tapi tetap saja Baekbeom menceritakan pekerjaannya setiap kali mereka bertemu. Ditambah lagi, sosok hantu cantik itu tidak muncul di kamarnya lagi semenjak ia mengucapkan hal ambigu pada Baekhyun. Ya, sebenarnya dia penasaran dengan Luhan. Luhan terlihat ceria dari luar, tapi sepertinya ia menyimpan banyak hal dari Baekhyun. Dan setelah Luhan menghilang beberapa jam yang lalu, itu membuat Baekhyun agak khawatir padanya. Banyak pertanyaan yang bersarang di otak Baekhyun, seperti: apakah Luhan sudah pergi ke nirwana? Tapi bagaimana dengan orang yang ia cari selama ini? Apakah dia sudah menemukannya dan pergi ke nirwana tanpa berpamitan dulu dengan Baekhyun? Well, meskipun mereka sering adu mulut, Baekhyun sudah menganggap Luhan sebagai temannya sendiri. Dan dia akan sangat kecewa jika hal yang dipikirkannya itu benar. Kalau sampai Luhan pergi ke nirwana, Baekhyun tidak akan bisa mengomelinya karena sudah pergi tanpa pamit. Ditambah lagi, dia akan merasa kesepian di kamar inapnya saat malam hari. Baekhyun hanya bisa berharap hantu cantik itu belum pergi dari dunia ini.

Langkah Baekhyun terhenti saat melihat sosok gadis belia yang sedang bersembunyi di balik pohon tak jauh dari tempatnya berdiri. Baekhyun seperti mengenal gadis itu. Setelah matanya disipitkan –untuk melihat lebih jelas sosok gadis itu, Baekhyun baru sadar bahwa gadis itu adalah Jiyeon. Apa yang sedang ia lakukan disini? Penasaran, Baekhyun-pun menghampiri gadis itu. Jiyeon yang masih berfokus pada sesuatu, tidak menyadari kehadiran Baekhyun di belakangnya. Karena kelihatannya hal yang dilihat Jiyeon begitu menarik, Baekhyun ikut menatap hal yang dilihat Jiyeon sedari tadi. Namun karena terlalu banyak objek, Baekhyun jadi bingung dengan apa yang dilihat gadis cantik itu.

"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Baekhyun tiba-tiba, membuat Jiyeon dengan cepat berbalik menghadapnya sambil melotot.

"A–apa yang sedang kau lakukan disini?!" Jiyeon setengah berteriak.

"Aku hanya sedang berjalan-jalan di taman, kemudian melihatmu disini. Kau sedang mengintip apa, hah?" tanya Baekhyun seraya mengedarkan kembali pandangannya pada hal yang ditatap Jiyeon barusan.

Jiyeon yang melihatnya, refleks menarik lengan Baekhyun untuk bersembunyi di balik pohon –sama sepertinya. Ditatapnya garang pria yang seumuran dengan Chanyeol itu. "Apa maumu, hah?! Cepat kembali ke kamarmu!"

"Heol. Kau itu tidak sopan ya pada orang yang lebih tua darimu? Aku ini seumuran dengan Chanyeol, tahu!" Baekhyun protes seperti bocah SMA. Jiyeon memutar bola matanya malas. "Lagipula kau sedang mengintip apa, hah? Apa kau datang kesini sendirian?"

Jiyeon mengernyit tak suka. "Itu bukan urusanmu."

"Chanyeol tahu kau ada disini?" Baekhyun tidak mengindahkan ucapan Jiyeon.

"Kubilang itu bukan urusanmu. Pergi sana! Mengganggu saja!"

Jiyeon bangkit dari posisi jongkoknya, kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun. Namun baru beberapa langkah ia ambil, sebuah suara memanggil nama gadis cantik itu, membuat langkahnya terhenti. Baekhyun yang penasaranpun menoleh pada sumber suara dan menemukan seorang laki-laki –yang sepertinya seumuran dengan Jiyeon– sedang melambai ke arah Jiyeon.

"Hey, kau sedang disini? Kudengar Abeoji-mu sudah keluar dari sini, iya'kan?" tanya laki-laki itu.

Jiyeon terlihat salah tingkah saat laki-laki itu bertanya ramah. "I–iya."

"Lalu, apa yang kau lakukan disini? Menjenguk teman?" tanya laki-laki itu kembali dan sekali lagi Jiyeon terlihat salah tingkah, pipinya bahkan agak merah sekarang. Namun belum sempat gadis itu menyahut pertanyaan laki-laki manis itu, pandangannya kini beralih ke Baekhyun yang sedari tadi berdiri di belakang Jiyeon. "Ahjussi temannya Jiyeon?"

"Bukan!" Jiyeon menyahut tiba-tiba dengan suara agak keras –seolah protes. Matanya kini menatap Baekhyun tajam. "Dia bukan temanku."

Baekhyun hanya bisa menghela napasnya berat karena tingkah menyebalkan Jiyeon. Lama-lama wajah cantiknya terlihat tidak pantas dengan sikapnya.

"Oh? Bukankah Anda si penulis lagu itu? Byun Baekhyun-ssi, benar?!" seru laki-laki manis itu tiba-tiba, membuat Jiyeon dan Baekhyun terkejut. "Astaga, saya adalah penggemar Anda, Tuan Byun! Senang bertemu Anda. Ah tapi, apa yang Anda lakukan disini? Anda sedang sakit?"

Jiyeon jaw-drop melihat pemandangan di depannya.

'Penggemar' katanya? PENGGEMAR?!

"Kau kenal dia, Hyunwoo-ya?" tanya Jiyeon bingung.

"Kau tidak tahu dia? Dia adalah Byun Baekhyun yang sering menciptakan lagu-lagu hits beberapa tahun terakhir ini. Kau sungguh tidak tahu, Jiyeon-ah?"

Jiyeon hanya bisa menganga karena laki-laki manis yang bernama Lee Hyunwoo itu ternyata adalah penggemar berat Ahjussi yang sudah mencelakai Abeoji-nya. Meskipun Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi dia benar-benar senang melihat ekspresi terkejut Jiyeon yang seolah rahangnya hampir copot karena ucapan Hyunwoo. Seringaian terpatri di wajahnya saat Jiyeon menatapnya tidak suka.

"Oh? Kau penggemarku ya? Siapa namamu?" tanya Baekhyun seraya menjabat tangan Hyunwoo.

"Saya Lee Hyunwoo, senang bertemu dengan Anda, Tuan Byun."

"Eyy~ ayolah tidak perlu formal begitu. Aku senang bisa bertemu penggemarku di tempat tak terduga seperti ini."

Terlihat sekali Baekhyun sengaja menekankan kata 'penggemarku' agar Jiyeon bisa mendengarnya. Dan efeknya sudah bekerja sekarang. Jiyeon menatapnya sebal sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Dan kau itu siapanya Jiyeon? Kekasihnya?" goda Baekhyun. Dan itu berhasil membuat pipi Jiyeon memerah. Astaga, Baekhyun ingin sekali tertawa karena berhasil menggoda anak Chanyeol itu.

"Ah, aku bukan kekasihnya. Aku teman sekelasnya. Iya'kan, Jiyeon-ah?"

Jiyeon hanya bisa mengangguk lesu menjawabnya. Baekhyun sadar arti tatapan kecewa Jiyeon saat ini. Gadis itu pasti menyukai laki-laki manis bernama Hyunwoo ini dan Hyunwoo tidak menyadarinya. Sekelebat ide cemerlang tiba-tiba muncul di otaknya.

"Oh ya, kau sedang sakit apa?" tanya Baekhyun.

Hyunwoo tersenyum pahit. "Jantungku lemah, jadi aku harus dirawat disini."

Baekhyun tertegun mendengarnya.

Mendadak suasana disana hening.

"A–aku mau beli minum dulu." ucap Jiyeon tiba-tiba. Belum sempat Baekhyun bertanya, gadis cantik itu sudah meninggalkannya bersama Hyunwoo.

"Anda sendiri sedang sakit apa? Aku bahkan tidak tahu Anda dirawat disini, pantas saja Anda jarang kelihatan beberapa minggu terakhir ini." ujar Hyunwoo.

Baekhyun tersenyum simpul. "Aku mengidap tumor."

"Tumor? Benarkah?" tanya Hyunwoo kaget.

Baekhyun mengangguk. "Disini." Baekhyun menunjuk lehernya sendiri.

"Tumor tenggorokan? Astaga, itu mengerikan." ucap Hyunwoo prihatin. "Apakah sudah dioperasi?"

Baekhyun menggeleng. "Aku masih memikirkannya."

Hyunwoo mengernyit. "Kenapa? Bukankah itu harus segera diangkat?"

Baekhyun duduk di sebuah bangku taman di bawah pohon –tempat dia dan Jiyeon bersembunyi tadi– seraya menatap Hyunwoo. "Kau sendiri bagaimana? Sudah mendapat donor jantung?"

Hyunwoo mendudukkan dirinya di samping Baekhyun, kemudian menatap lurus. "Belum."

"Tapi, aku iri padamu." Hyunwoo menoleh pada Baekhyun dengan alis bertautan. "Kau masih bisa tersenyum selebar itu di saat penyakitmu begitu parah. Aku saja yang hanya mengidap tumor rasanya sulit untuk tersenyum."

Hyunwoo tersenyum, kemudian menatap lurus kembali. "Mungkin karena keinginanku untuk terus hidup? Aku masih ingin hidup di dunia ini. Aku ingin segera sembuh supaya bisa bermain dengan teman-temanku lagi, ah termasuk dengan Jiyeon."

Baekhyun menoleh pada Hyunwoo. "Kau menyukainya?"

"Ne?" Hyunwoo nampak terkejut.

"Hubungan kalian tidak seperti teman pada umumnya. Kau menyukainya? Maksudku, perasaan suka lebih dari teman."

Hyunwoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya begitu. Entahlah, aku tidak begitu yakin."

Baekhyun mengernyit. "Kenapa?"

"Well, mana mungkin gadis secantik Jiyeon mau denganku yang penyakitan begini? Aku harus sadar diri'kan?" Hyunwoo berusaha tertawa, namun itu terdengar kikuk dan hambar di telinga Baekhyun dan Hyunwoo sendiri.

Baekhyun menatap langit seraya tersenyum. "Well, tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Orang bilang, cinta itu tidak pandang bulu. Entah orang itu penyakitan, jelek, ataupun miskin. Cinta seolah bisa menutupi semua kelemahan dalam diri seseorang, bukankah itu hebat? Aku sendiri ingin merasakannya."

Hyunwoo menatap Baekhyun terkejut. "Anda belum pernah jatuh cinta?"

Baekhyun menggeleng pelan. "Sejak kecil, aku selalu mencintai satu hal –suaraku. Karena itu, mengidap tumor ini benar-benar membuatku frustasi." Baekhyun menatap Hyunwoo. "Apa jatuh cinta juga seperti ini rasanya?"

"Entahlah. Aku tidak tahu seberapa besar rasa suka Anda pada suara Anda, tapi kalau aku boleh berpendapat, menurutku jatuh cinta itu aneh. Aneh karena bisa membuat seseorang tersenyum seperti orang gila hanya dengan membayangkan orang yang ia cintai. Aneh karena bisa membuat seseorang ikut merasakan sakit karena melihat orang yang ia cintai terluka. Aneh karena apapun yang seseorang itu lakukan hanya bertujuan agar orang yang dicintainya bahagia, meski itu menyiksa dirinya sendiri." Hyunwoo tersenyum tulus. "Tapi justru jatuh cinta itu adalah hal paling hebat yang terjadi dalam hidup seseorang."

Baekhyun sebenarnya agak bingung dengan penuturan Hyunwoo. Jujur, itu karena dia belum pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang. Sejak kecil ia terlalu mencintai suaranya sampai cita-citanya sebagai penulis lagu adalah fokus utama hidupnya. Jadi, Baekhyun tidak terlalu paham padahal dia lebih tua daripada Hyunwoo. Tapi kedewasaan seseorang tidak diukur dari umurnya, bukan? Baekhyun bisa bernapas lega untuk hal yang satu ini. Lalu, kembali ke hal 'mencintai seseorang'. Well, Baekhyun memang tidak tahu apa-apa tentang 'mencintai seseorang', tapi satu yang bisa ia lihat di mata Hyunwoo –rasa sukanya yang tulus pada Jiyeon.

"Melihatmu seperti ini, aku jadi yakin kau benar-benar menyukai Jiyeon." Hyunwoo terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang pasti tidak gatal. Pipinya agak merona –malu– karena perasaannya tergambar jelas di hadapan orang yang baru ia temui. Baekhyun tersenyum. "Menurutku kau tidak salah menyukai Jiyeon. Meskipun belum pernah merasakannya, tapi aku mengerti intinya. Karena jatuh cinta terjadi secara tak terduga, namun saat kita sudah menemukan orang yang kita cintai, kita harus memperjuangkannya, iya'kan? Aku juga sedang memperjuangkan hal yang kucintai." ujar Baekhyun seraya menunjuk tenggorokannya –pada pita suaranya tepatnya.

Hyunwoo tersenyum. "Anda benar." Pandangannya menerawang dengan pipi yang merona. "Mungkin aku akan menyatakan perasaanku setelah aku sembuh nanti. Aku akan memperjuangkan orang yang kucintai."

Baekhyun merangkul bahu Hyunwoo seraya mengacak-acak rambutnya gemas. "Itu baru semangat!"

Dua manusia dengan kelamin yang sama itu tidak menyadari sama sekali kehadiran seorang gadis cantik yang beberapa saat lalu mendengar percakapan mereka. Itu Jiyeon. Sudah tiga menit dia berdiri disana karena merasa penasaran dengan percakapan intim antara Baekhyun dan Hyunwoo. Awalnya, dia merasa tidak suka karena Hyunwoo terlihat lebih menyukai Baekhyun daripada dirinya sendiri –yang merupakan temannya sejak SMP. Namun setelah mendengar pengakuan Hyunwoo –bahwa ia memiliki perasaan lebih dari sekedar teman terhadapnya, itu membuat pipi putihnya merona dan jantungnya berdebar keras. Apalagi saat mendengar pengakuan Baekhyun tentang penyakit dan alasan di balik ia tidak mau melakukan operasi, membuat gadis cantik itu iba. Sekelebat rasa bersalah bersarang dalam hatinya mengingat ia sudah bersikap tidak sopan pada Baekhyun. Selama ini, Jiyeon tidak tahu alasan logis di balik acara bunuh diri Baekhyun waktu itu. Chanyeol pernah mengatakan padanya bahwa Baekhyun sangat menyukai suaranya dan operasi yang akan dijalaninya akan membuat pita suaranya hilang. Sangat konyol menurut Jiyeon melakukan bunuh diri hanya karena dia akan kehilangan suaranya. Namun setelah mendengar hal tadi, Jiyeon bisa mengerti semuanya. Ditambah lagi, sikap Baekhyun pada Chanyeol sudah jauh lebih baik daripada pertemuan mereka sebelumnya. Itu membuat Jiyeon ikut merasa bersalah pada Abeoji-nya. Gadis cantik itu perlahan menggigit bibir bawahnya sambil menunduk –menahan isak tangisnya.

###

TOK TOK.

"Masuk." Baekhyun mempersilakan orang yang mengetuk pintu kamar inapnya. Dari balik pintu itu, nampak seorang gadis cantik berdiri dengan ekspresi sedih, membuat Baekhyun terkejut. "Jiyeon? Tumben kau kemari? Masuklah."

Gadis cantik itupun masuk setelah menutup kembali pintu kamar inap Baekhyun. Dia berhenti tepat di depan Baekhyun yang sedang duduk di sofa seraya memangku gitarnya. "Apa aku mengganggumu?"

"Tidak, tentu saja tidak. Duduklah." Baekhyun menyimpan gitarnya, kemudian menatap Jiyeon. "Ada apa? Jangan bilang kau mau menyuruhku untuk menjauhi Hyunwoo juga? Oh, ayolah! Aku menyukai bocah itu. Aku tidak mungkin menyuruh penggemarku untuk menjauhiku, bukan?" Baekhyun bergurau.

Jiyeon menggeleng. "Aku tidak akan menyuruhmu menjauhinya."

Baekhyun mengernyit. "Lalu?"

Jiyeon menggigit bibir bawahnya sesaat, kemudian segera membungkuk dalam. "Maafkan aku!" Baekhyun tentu saja terkejut melihat gadis ketus itu membungkuk dalam seraya meminta maaf padanya. "A–aku tahu tingkahku benar-benar tidak sopan padamu semenjak kita bertemu, karena itu, aku benar-benar minta maaf."

Baekhyun speechless.

Dia tidak menyangka gadis itu akan mengatakan hal seperti itu padanya.

"Um..kau baik-baik saja, Jiyeon-ah?" tanya Baekhyun ragu.

Jiyeon mengangguk pasti. "Aku sudah menuduhmu mencelakai Abeoji dan aku sudah salah menilaimu. Kuharap kau mau memaafkanku, Ahjussi."

Baekhyun sebenarnya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada gadis yang suka ketus padanya itu, tapi melihatnya yang bersungguh-sungguh minta maaf padanya, itu membuatnya terharu. "Tidak apa."

Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun tak percaya. "Sungguh?"

Baekhyun mengangguk seraya tersenyum. "Aku mengerti. Aku juga pernah ada di posisimu, tapi mungkin aku jauh lebih keras kepala daripada kau. Aku tidak menyalahkanmu kok." Airmata Jiyeon mendadak berkumpul di pelupuk matanya, membuat Baekhyun tersentak. "Hey, kau kenapa? Apa aku menyinggung hatimu? Astaga, maafkan aku!"

Jiyeon terkekeh melihat Baekhyun panik sendiri. Detik berikutnya, gadis itu menghapus airmatanya, kemudian memeluk Baekhyun erat. Baekhyun sempat terkejut karena gerakan Jiyeon yang tiba-tiba, namun akhirnya ia membalas pelukan itu sama eratnya. Dielusnya puncak kepala Jiyeon lembut. "Terima kasih sudah memaafkanku, Ahjussi."

Baekhyun tersenyum. "Sama-sama, Jiyeonnie~"

Tanpa disadari keduanya, Luhan kembali menampakkan dirinya. Senyuman manis terukir di bibirnya melihat pemandangan di hadapannya. Luhan mengambil tempat di atas ranjang Baekhyun untuk menyaksikan dua orang yang baru berbaikan itu.

"Ahjussi suka bermain alat musik ya?" tanya Jiyeon setelah mereka selesai berpelukan.

"Ya, begitulah. Aku ini seorang penulis lagu, ingat?"

Jiyeon terkekeh. "Aku lupa."

"Lupa atau tidak tahu?" Baekhyun memicing curiga.

Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak..tahu.." cicitnya.

Baekhyun menatap gadis itu kesal. "Aish, kau ini kuper sekali. Hyunwoo saja tahu semua lagu ciptaanku!" Baekhyun merajuk.

"Arasseo, arasseo. Aku minta maaf. Aku akan download dan mendengarkan semua lagu ciptaan Ahjussi setelah sampai di rumah nanti. Ahjussi puas?"

Baekhyun tersenyum lebar, kemudian mengacak-acak rambut Jiyeon gemas. "Itu baru keren!"

"Ahjussi, rambutku bisa rusak!"

Suasana hangat itupun berlanjut. Baekhyun berbagi canda dan cerita dengan Jiyeon. Sesekali mereka bernyanyi dengan gitar Baekhyun. Terkadang Baekhyun yang bernyanyi, terkadang Jiyeon yang bernyanyi –karena Baekhyun tidak bisa bernyanyi lama-lama. Suasana itu nampak harmonis, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Dan Baekhyun lebih menyukai suasana seperti ini. Jiyeon yang selalu ketus padanya itu ternyata bisa tersenyum dan tertawa. Itu membuat Baekhyun ikut senang. Tak terasa matahari sudah tenggelam dan hari sudah mulai gelap. Ini waktunya Jiyeon pamit.

"Aku akan mengunjungi Ahjussi nanti dengan Abeoji juga Sehun." ucap Jiyeon seraya mengenakan jaketnya.

"Tentu, aku akan tunggu."

"Ahjussi jangan lupa makan dan istirahat yang cukup ya! Oh ya, obatnya juga harus diminum!" Jiyeon memperingatkan Baekhyun seperti Eomma-nya sendiri.

"Kenapa kau tiba-tiba jadi cerewet begini? Lebih cerewet daripada Eomma-ku sendiri." Baekhyun mencibir.

"Itu karena aku ingin Ahjussi cepat sembuh, tahu!" Jiyeon berkacak pinggang –seolah kesal karena ucapan Baekhyun.

"Arasseo, arasseo. Aku akan makan teratur, minum obat, dan istirahat yang cukup. Sekarang, cepatlah pulang sebelum Chanyeol datang kemari dan menuduhku menculikmu." ujar Baekhyun seraya mendorong bahu Jiyeon menuju pintu keluar kamar inapnya.

Jiyeon sempat terkekeh sebelum ia meraih kenop pintu. "Abeoji tidak akan menuduhmu menculikku, Ahjussi. Dia terlalu menyukaimu untuk melakukannya."

Baekhyun mengernyit. "Dia apa?"

"Wow, coba lihat jam berapa ini? Aku harus pulang. Bye, Ahjussi!" Jiyeon langsung kabur tanpa mengindahkan Baekhyun yang kebingungan.

Setelah pintu kamar inapnya tertutup, Baekhyun mendengar suara kekehan di sudut kamarnya. Baekhyun kenal suara itu. Itu suara Luhan. Perlahan, Baekhyun alihkan kepalanya menuju asal suara itu.

"Kalian benar-benar cocok ya?"

Baekhyun benar-benar terkejut dengan kehadiran sosok tersebut. "K–kau–sejak kapan kau disini?"

Luhan berpikir sejenak. "Hm..semenjak kau dan gadis tadi berbaikan kurasa?"

"Apa? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sudah kembali?! Apa kau tidak tahu aku begitu khawatir?! Aku bahkan berpikir kau tidak akan kembali, Lu!" Baekhyun tiba-tiba meledak.

"Byun Baek, pelankan suaramu. Kau sedang sakit, ingat?" Luhan memperingatkan seraya menghampiri Baekhyun.

"Kau pikir ini semua gara-gara siapa, hah?" desis Baekhyun. "Kenapa kau menghilang begitu saja? Aku sempat berpikir kau sudah pergi ke nirwana!"

"Hey, tenanglah! Aku tidak akan pergi ke nirwana sampai tujuanku tercapai." Luhan berusaha menenangkan Baekhyun yang berteriak-teriak kembali.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Apa orang itu sudah ketemu?"

"Hampir. Aku masih harus memastikan beberapa hal dulu."

Baekhyun mengernyit. "Apa yang harus dipastikan?"

Luhan tersenyum misterius. "Ra-ha-si-a~"

Baekhyun memutar bola matanya malas, kemudian berjalan menuju ranjangnya. "Kau aneh." cibirnya.

"Yak! Aku tidak aneh, Byun Baek!"

"Ya, ya, terserah kau saja."

"Hey, dengarkan aku kalau aku sedang bicara!"

"Aku mendengarmu, bodoh."

"AKU TIDAK BODOH, BYUN BAEK! YAK!"

Malam itu, Baekhyun hanya bisa mengulum senyumnya karena mendengar suara Luhan menggema di kamarnya lagi.

###

Baekhyun memasukkan potongan buah jeruk ke dalam mulutnya sambil mengelupasi kulit jeruk keduanya. Diliriknya hantu yang sedang duduk di balkon kamar inapnya itu.

"Lu?" panggilnya. Luhan berdehem. "Seperti apa kau saat kau masih hidup?"

"Aku orang yang menyenangkan pastinya~"

Dan berisik –tambah Baekhyun dalam hatinya.

"Kau punya keluarga?"

"Ya."

"Seperti apa keluargamu?"

Luhan –yang masih memunggungi Baekhyun– tersenyum. "Keluarga yang hangat."

"Lebih detail, bisa?" protes Baekhyun.

Luhan terkekeh. "Keluargaku kecil, sama sepertimu. Tapi mungkin sedikit berbeda."

"Apanya?" Baekhyun bingung.

Luhan menatap langit malam penuh bintang tanpa melepaskan senyumannya. "Keluargaku tidak terdiri dari seorang Ibu dan Hyung –sepertimu."

"Jadi, kau sudah menikah?"

"Begitulah."

"Apa orang yang ingin kau temui itu istrimu? Hey, kau gay atau bukan?" Baekhyun tersadar sesuatu.

Luhan terkekeh kembali. "Aku gay, sepertimu. Tapi, tidak. Bukan 'suami'ku yang ingin kutemui."

Baekhyun menghentikan acara makan jeruknya, kemudian menatap Luhan bingung. "Lalu, siapa?"

Luhan tersenyum penuh arti. "Hanya 'seseorang'."

Baekhyun terperanjat setelahnya. "Jangan bilang kau ingin bertemu dengan selingkuhanmu!"

Luhan menatap Baekhyun dengan alis bertautan. "Aku tidak pernah selingkuh, Byun Baek!" protesnya.

"Lalu, siapa? Jangan buat aku penasaran, Lu." Baekhyun terdengar merajuk.

Luhan kembali menatap langit bertaburan bintang malam itu seraya tersenyum penuh arti. "Nanti juga kau akan tahu."

Baekhyun menautkan alisnya. "Bagaimana mungkin aku bisa tahu kalau kau tidak memberitahuku?"

Luhan tidak menjawabnya, hanya tersenyum menatap langit yang membentang luas di hadapannya. Dia ingin segera pergi ke nirwana setelah berhasil menemukan 'orang itu', kemudian menemui orangtuanya yang pergi meninggalkannya saat ia masih SMP.

"Hey, Baek?" panggil Luhan. Baekhyun menyahut dengan deheman. "Kau tahu apa musik terindah di dunia?"

Baekhyun mengernyit. Otaknya kini berpikir. "Musik terindah ya? Kupikir setiap orang memiliki pendapat yang berbeda akan hal itu."

Luhan menoleh pada Baekhyun. "Menurutmu, apa musik terindah di dunia itu?"

"Hm..apa ya?" Baekhyun malah bingung menjawabnya. Bibirnya mengerucut saat ia berpikir.

Luhan terkekeh, kemudian mengalihkan matanya ke langit malam kembali. "Menurutku, musik terindah di dunia adalah detak jantung seseorang."

Baekhyun menaikkan sebelah alisnya. "Hah?"

"Somewhere over the rainbow.
Way up high
.
There's a land that I heard of
once in a lullaby."

Luhan tidak menghiraukan Baekhyun yang bingung dengan ucapannya barusan. Hantu cantik itu malah menyenandungkan sebuah lagu. Itu lagu yang sama dengan yang ia nyanyikan tempo hari. Lagu 'Somewhere Over the Rainbow'. Pantas saja Baekhyun merasa tidak asing dengan lagu itu.

"Somewhere over the rainbow.
Skies are blue
.
And the dreams that you dare to dream
really do come true.

Someday I'll wish upon a star
and wake up where the clouds are far behind me.
Where troubles melt like lemon drops
,
away above the chimney tops,
that's where you'll find me.."

Lagu ini selalu mengingatkannya pada mendiang Tuan Byun. 'Somewhere Over the Rainbow' adalah lagu pertama yang Tuan Byun ajarkan saat Baekhyun belajar piano di umur empat. Baekhyun ingat jari-jari kecilnya yang menekan tuts-tuts piano, memainkan lagu 'Somewhere Over the Rainbow' –yang tentu saja nada-nadanya masih sederhana. Baekhyun masih ingat jelas wajah bangga yang Tuan Byun perlihatkan saat Baekhyun berhasil memainkan lagu itu di percobaannya yang kesepuluh.

"Somewhere over the rainbow.
Bluebirds fly.
Birds fly over the rainbow.
Why then, oh why can't I?
"

Tanpa sadar, Baekhyun menutup matanya dan ikut bersenandung dengan Luhan.

"If happy little bluebirds fly.
Beyond the rainbow
.
Why, oh why can't I?"

Senyuman terkembang di bibir keduanya.

TBC

Next chapter fluffy ChanBaek moment, nantikan ya! Tapi pertama-tama, review dulu ya? *kedip-kedip manja sama Baek*

Dan terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan kasih review, kalian memang best readers ever! Sekalipun saya gak bisa bales satu-satu atau sebutin satu-satu, saya tetep baca semua review kalian. Karena itu, jangan sampe bosen buat kasih saya dukungan berupa review dan klik follow atau fav. Berkat dukungan kalian, saya masih punya semangat buat lanjutin semua FF abal saya #serius. Last but not least, LOPH Y'ALL *big hug*