Bite (Versi Kaisoo)
Pairing : Kaisoo and other
Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar.
Rating : M
Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. Bagaimana hari-hari yang dilalui kyungsoo selama masa penyamaranya? /Kaisoo/and other pair.
A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.
Chapter 3
Mata yang kukerjap-kerjapkan berkali-kali membuatku yakin saat ini aku sedang berada di kamar. Suasananya gelap… apa sudah malam?
"Kau sudah bangun?" suara bariton di sisi ranjangku terdengar tak asing. Aku pun menoleh dengan sangat lemah yang kemudian berubah menjadi gerakan menjauh dadakan hingga ke ujung ranjang, menghindari si pemilik suara tersebut.
Aku menatap nanar sosok yang tengah duduk pada kursi kayu di sisi ranjangku itu, ia melihatku dengan tatapan bingung juga bersalah.
Belum sempat aku terduduk di tepi ranjang untuk menghindarinya kepalaku tiba-tiba di serang rasa ngilu dan pusing yang luar biasa, membuatku ambruk seketika ke depan. Untunglah kasur ini benar-benar empuk hingga aku pun tidak begitu menderita menjatuhkan wajahku ke sana tanpa perlu sempat ditadah oleh pria yang tengah bangkit dari kursinya itu.
"Ugh.." kepalaku pening dan rasanya seperti seluruh ruangan ini berputar-putar meledekku. Apa ini yang namanya anemia? Gejala kurang darah yang dikeluhkan Sookyung tiap bulan itu?
'Aku kurang darah..yah, aku ingat…' pikirku sambil berusaha meraba bahu kiriku, tepatnya di leherku. Terasa ada dua gundukan daging kecil yang sejajar di sana. Bekas gigitan, gigitan makhluk yang bibi di kedai waktu itu ceritakan. Jack The Ripper yang membunuh para wanita penghibur di desa ini, atau mungkin tidak tepat jika dikatakan Jack The Ripper…
Semua orang salah mencurigainya sebagai pria dari London itu.. pria ini punya identitas lain, dia bukan manusia…bukan.
"Soo.."
"Jangan sentuh aku!" bentakku kasar sebelum dia berusaha membantuku bangun dari posisiku yang masih terlungkup di atas kasur.
Pria itu menarik diri, berdiri bagai patung di tempatnya. Diam untuk sesaat. Namun sorot matanya mengatakan kalau ia terlihat menderita melihatku seperti ini. Bagaimana bisa ia menunjukkan ekspresi seperti itu sementara penyebab semua ini adalah dirinya?!
"Kau vampire?!" erangku penuh emosi. Bisa-bisanya ia tetap di sini setelah menyedot nyaris seluruh darahku hingga membuatku menderita begini?!
"Aku minta maaf… ini tidak akan terjadi lagi. Kau pergi ke kota terlalu lama, jadi.. aku menahannya lebih lama juga, aku benar-benar minta maaf telah berlebihan melakukannya. Aku akan berhati-hati lain kali." Sahutnya dengan penuh rasa bersalah.
Kim Kai, pria yang baru kukenal dalam waktu 24 jam dan berhasil membuatku sport jantung tiga kali. Mulai dari awal kedatangannya dengan mendobrak pintu, sikap 'akrab'nya di ruang bawah tanah dan sekarang, aku menemui fakta bahwa dia seorang vampire adalah hal yang benar-benar tidak aku inginkan terjadi dalam waktu secepat ini.
Tapi mendengar ia berkata 'lain kali' tidak bisa membuatku berhenti sport jantung lagi begitu saja. Apa maksudnya dengan 'lain kali'? apa dia melakukan hal ini juga pada Sookyung?!
Memikirkan kemungkinan itu saja sudah bisa membuat sisa darahku naik ke ubun-ubun. Aku bangkit dari tempatku dan menerjangnya dengan kasar. Kutarik rompi bajunya dengan kasar berlagak hendak menantangnya, tapi aku benar-benar serius akan menghajarnya bila perlu.
"Kau.." geramku dengan penuh emosi yang kemudian kusadari bahwa emosiku tidak didukung dengan kondisi tubuhku yang benar-benar kekurangan darah. Aku pun dengan polosnya meluncur begitu saja ke pelukan si Kim Kai ini dengan pupil mataku yang naik keatas . ini batasku..aku tidak bisa bertahan lama-lama dengan kondisi begini … "Ngh.."
"Sookyung!" teriak Kai yang langsung menangkap dan membopong tubuhku untuk berbaring dengan benar di atas kasurku yang hangat. Ia pun tak lupa untuk menyelimutiku.
Lalu dengan segera ia mengambil sebuah botol kaca kecil dari meja berlaci yang berada di dekat ranjangku saat itu.
"Minumlah.."
"Mngh.." sebenarnya aku ingin mengatakan "apa itu?" tapi yang keluar dari mulutku hanya gumaman yang tidak jelas, pertanda betapa lemahnya kondisiku saat ini. Aku sudah lebih dari berani atau mungkin gegabah jika berniat menantang makhluk penghisap darah ini dengan kondisi tubuhku yang sekarang.
"Pil penambah darah. Kau akan segera pulih dengan cepat. Minumlah sekarang." Perintahnya dengan nada lembut seolah ia mengerti dengan maksudku. Baru kuperhatikan bahwa cara bicaranya selalu pelan dan seperti berusaha tidak terdengar kasar. Padahal kupikir semua orang dengan wajah dingin akan punya lidah yang tajam dan pedasnya mungkin mengalahi sambal buatan ibu. Ternyata ada yang baik juga rupanya, tapi itu bukan berarti aku akan terima saja darahku dihisap olehnya. Tidak!
Dengan gerakan lemah, mau tidak mau –daripada aku mati pucat– aku pun mengambil pil itu dan segera meneguknya dengan air putih yang Kai sodorkan padaku. Menelannya sebisaku.
Berusaha tidur adalah bentuk dari usaha perlawananku yang terakhir untuk menghindarinya. Tapi baru tiga detik aku memejamkan mata, muncul suara aneh yang kuyakini berasal dari perutku.
Um, mari kita ingat ulang. Tadi pagi aku bangun kesiangan terus turun ke ruang bawah tanah , bertemu Kai yang ternyata adalah vampire yang lalu menyedot darahku dengan bringas hingga aku baru bisa bangun setelah petang. Jadi intinya,, aku tidak makan seharian… "HUWAAA AKU PUASAAA!" andai saja aku punya tenaga utuk berteriak seperti itu mungkin sudah aku lakukan di depan kuping Kai sekarang.
"Istirahatlah beberapa menit, setelah itu aku akan menemanimu membeli makanan di desa." Ujar Kai. Sedikit malu rasanya saat sadar kalau ternyata ia mendengar dengkuran perutku, tapi mau bagaimana lagi?
Ol======BVKS======lO
Setelah diam sejenak suasana kamar ini jadi seperti ruang tempat pengakuan dalam sekejap. Dimana Kai mengakui semua perbuatannya padaku.
"Kau vampire"
"Iya"
"Kau yang membunuh semua wanita penghibur di desa?"
"Ya"
Aku yang sekarang sudah bisa duduk sambil berselimut di atas ranjang hanya bisa berkerut dahi menatap pria yang tengah duduk tertuduk di sampingku ini. Dia ini vampire 'kan? Seharusnya dia itu ganas, buas, dan menyeramkan seperti yang ada di buku dan yang diceritakan orang-orang. Kenapa sosok yang ada di hadapanku ini malah terlihat rapuh dan Down? Vampire jenis barukah dia?
"Perutku keroncongan, aku tidak mau lama-lama disini. Pantatku panas kalau duduk terus." Gerutuku lalu turun dari ranjang dengan tergesa-gesa.
Emosiku sudah kembali stabil seiring bertambahnya jumlah sel di dalam pembuluh darahku. Aku pun melangkah ringan menuju ke pintu keluar sebelum akhirnya aku menyadari penampilanku masih sama dengan penampilanku yang kemarin. Baju terusan sederhana berwarna coklat dengan tali pengikat di belakangnya. Uh, kalau bibi yang kemarin melihatku dengan baju yang sama dengan yang kugunakan kemarin dia pasti bakalan bergosip. Aku mungkin bisa saja cuek dan pergi begitu saja ke kedai makanan itu lagi, tapi sekarang aku adalah Sookyung.. jadi aku tidak bisa seenaknya saja.
Aku pun memastikan untuk berganti pakaian dulu sebelum pergi. Kusuruh Kai keluar dan aku pun mulai mengambil satu lagi baju dengan model yang sama tapi dengan warna yang berbeda dari dalam lemari. Kali ini warnanya biru muda dan tampak sangat manis di tubuhku… egh? Manis?!
"Akh! Tidak adakah baju dengan warna lain di dalam sini?!" gerutuku kesal sambil melempar sembarangan hampir semua pakaian yang ada di dalam lemari besar yang terbuat dari kayu mahoni itu. Sampai akhirnya aku menyambar satu baju dan segera memasangnya di tubuhku. Merah! Warna yang berani, oke. Aku akan berjalan di desa dengan seorang vampire menggunakan baju berwarna merah.
"Arrgghhh! Tidak adakah yang lain selain ini? Dia bisa-bisa kelaparan jalan didekatku nantinya, aku tidak mau sudah dalam keadaan setengah hidup saat sampai ke kedai. Bagaimana pun aku butuh tenaga untuk makan. Ah tidak! Aku tidak bisa menggunakan pakaian mengundang begini!' protesku lagi lalu kembali mengobrak abrik isi lemari.
Nyaris sepuluh menit aku berkutat di depan lemari dan cermin hingga akhirnya suara perutku mejadi alarm agar aku segera menghentikan kegiatan bodoh ini.
Baju terusan berwarna biru muda tadi mau tidak mau jadi pilihanku terakhirku. Dari pada aku terlihat seperti kudapan lezat di mata vampire yang akan menemaniku itu, lebih baik aku terlihat manis di depan semua orang. Ugh, tuhan rasanya aku ingin gantung diri saja. Aku sudah benar-benar merasa jadi banci sepenuhnya dengan pakaian ini.
"Kau terlihat manis.." ujar Kai ketika kami sudah berada di jalanan menuju kedai. Aku segera meletakkan telapak tanganku ke depan wajahnya isyarat agar ia berhenti berkomentar.
Aku sudah lebih dari sekedar sadar akan hal itu brengsek! Aku yang aslinya laki-laki ini juga sempat merasakan hasrat ingin memeluk bayanganku sendiri di cermin ketika melihat penampilanku sekarang. Jadi berhentilah memperburuk suasana.
Dia pun lalu diam, sepertinya dia berpikir aku masih marah terhadap apa yang sudah ia lakukan. Yah, itu memang benar. Aku jelas tidak bisa terima begitu saja, aku baru tiba di desa ini kemarin dan dalam waktu sehari aku sudah harus jalan dengan vampire di sampingku? Tidak bisa kupercaya, kepalaku sudah lebih dari cukup berat untuk memikirkan masalah asuransi yang menjadi alasan utamaku ketempat ini, rasanya terlalu berlebihan jika aku harus menghadapi kenyataan atau masalah lain bahwa ternyata saudariku berteman dengan predator alami manusia yang berdarah dingin ini. Kemana akal sehatnya? Kalau ia tau Kai vampire, kenapa ia tidak melaporkannya ke warga desa agar dia dibakar atau ditikam dan dipasung saja? Ekh, um, kurasa itu agak ekstrim juga. Baiklah jika ia melaporkan Kai mungkin paling tidak dia kan diusir dari desa agar tidak meresahkan masyarakat….
Akh! Aku benci sifatnya itu. Dia terlalu baik, lihat saja bagaimana dia memelihara katak jelek itu. Dia bahkan pernah memberikan jatah makan malam miliknya pada seekor anjing yang memiliki tampang jelek milik paman Kris saat keluarga kami sendiri sedang krisis makanan. Dan aku tidak akan pernah lupa dimana saat dia menjual kalung berlian hadiah ulang tahun dari mantan pacarnya yang kaya raya itu hanya untuk menyekolahkan seorang tunawisma yang tidak ia kenal sama sekali.
Arrgghhh! Hell! Aku tau dia terlalu baik, aku tau itu… tapi bukan berarti dia bisa seenaknya memelihara vampire!
"Kau baik-baik saja?" tanya pria di sampingku saat ia menyadari kalau ada aura kurang menyenangkan yang menguar dari diriku.
Aku berbalik beringas ke arahnya dan ia pun terlihat terkejut " Aku baik-baik saja.. bisakah kau tidak mengajakku bicara dulu?" tanyaku berusaha menahan emosi si 'brengsek' ini benar-benar vampire yang tidak tau diri!
"Tapi kita sudah sampai." Jawabnya.
Aku pun berbalik. Dan ternyata kami memang benar-benar sudah sampai di kedai tempat aku makan kemarin.
Tanpa ba-bi-bu lagi aku pun langsung masuk ke dalam. Mengambil tempat duduk di meja yang paling dekat dengan bar dan menjadi pembatas dapur dan ruang makan. Kai, dengan tanpa banyak bicara mengikutiku dari belakang dan kemudian duduk di kursi yang berhadapan denganku. Menekuk kedua tangannya kedepan untuk menopang wajahnya, dan memperhatikanku sambil menunggu pelayan datang. Apa-apaan ini? Mau pamer ketampanan, hah?
Sebelum aku sempat protes dengan gayanya, si pelayan, bibi bertubuh subur yang kemarin datang ke meja kami dan menanyakan pesanan.
"Aku pesan seperti yang kemarin saja." Ujarku.
"Sandwich tomat dan black coffe." Sahut Kai kemudian.
Setelah pelayan itu pergi, aku segera mencondongkan wajahku ke arah Kai, berniat berbisik kepadanya. "Kau bisa makan?" tanyaku sambil menghalangi mulutku dari penglihatan orang lain.
Dengan santai dan disertai dengan senyuman tipis Kai menjawab "Hanya untuk mengalihkan kecurigaan orang-orang. Makanan itu hanya akan masuk ke dalam perutku tanpa ada rasa terisi sama sekali."
Setelah itu sambil menunggu pesanan kami datang, aku hanya bisa diam seribu bahasa dengan muka cemberut yang hanya dibalas dengan wajah datar oleh Kai. Tidak ada rasa terisi sama sekali, katanya? Cih, dasar vampire menyebalkan. Bisa-bisanya dia begitu tenang berbaur di tengah orang-orang begini tanpa ada yang tau identitasnya. Rasanya saat ini aku ingin teriak dan memberitahu semua orang kalau makhluk yang selama ini mereka bicarakan sedang duduk tenang diantara mereka. Aku penasaran apa yang akan terjadi jika hal itu kulakukan.
"Ini pesanannya, silahkan." Seru seorang pelayan yang tiba-tiba saja muncul dan membuyarkan lamunanku.
Ah! Aku tidak mau memikirkan banyak hal dulu. Saat ini yang terpenting adalah bersenang-senang dengan daging panggang di hadapanku ini.
"Selamat makaaann!" seruku dengan riang.
Kai tidak berkomentar sama sekali melihat porsi makanku. Lagian aku juga pernah melihat Sookyung mengambil porsi makan yang nyaris sama denganku saat dia benar-benar lapar. Dan lagi, si vampire brengsek di hadapanku ini sudah membuatku hampir kehabisan darah dan tidak makan seharian. Jadi kalau ia ingin protes maka aku tidak akan segan-segan menggetok kepalanya dengan sendok nasi !
"Ah, tuan Kim, lama tidak melihat anda makan di sini. Baru kembali dari kota, ya?" tanya si bibi pelayan yang baru kusadari belum minggat dari meja kami.
Kai tersenyum manis menanggapi pertanyaan itu, "Iya, pengacara memang bukan pekerjaan yang bisa selesai dengan cepat, sekali kita dapat klien. Aku harus menemani nona Xi hingga ia mendapatkan kembali hak warisannya baru aku bisa kembali lagi kesini. Senang bisa mampir lagi ke kedai ini, nyonya." Jawabnya.
Kalau saja aku tidak tau diri, aku mungkin sudah menyemburkan nasi dan potongan daging di dalam mulutku ke wajah Kai yang tepat berada di hadapanku setelah mendengar percakapan itu.
Di-dia dikenal baik di desa ini?!
Setelah pelayan itu pergi dengan senyum malu-malu kucingnya yang terlihat aneh, Kai lalu melirik ke arahku yang tengah menatapnya horror dengan mulut dipenuhi makanan.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Aku menelan paksa semua makanan yang menggantung di dalam mulutku sebelum bicara "Kau… pengacara di kota?" tanyaku dengan nada tak percaya.
"Itu bohong" jawabnya dengan santai. Senyum manisnya sudah hilang dari wajahnya yang dingin itu.
"Hah?"
"Aku harus punya alibi setiap ada kejadian di desa ini."
"Meski sebenarnya kaulah pelaku yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu." Sambungku dengan nada sinis.
"Iya." Sahut Kai.
Ugghh… rasanya ingin kutendang wajah itu. Makhluk macam apa yang bisa punya wajah datar tak bersalah seperti si brengsek ini setelah membunuh ratusan nyawa dengan sangat sadis? Buaya, harimau dan hiu saja tidak bisa menyembunyikan keganasan wajahnya sebagai predator ganas setelah membunuh ratusan mangsanya dengan keji. Tapi si brengsek ini, bisa-bisanya… ugh!
"Kau baik-baik saja? Dari tadi kau terus memasang wajah seperti sedang menahan sesuatu begitu. Aku bisa mengantarmu ke toilet kalau kau mau." Ujar kai dengan tatapan yang menurutku tanpa ada rasa bersalah atas perbuatannya sama sekali.
Sudah cukup! Aku muak dengan si vampire brengsek ini!
Aku segera bangkit dari kursiku dan keluar dari kedai, meninggalkan Kai yang kebingungan. Aku tidak peduli! Yang kuinginkan adalah menghindar dari hadapannya atau paling tidak menghirup udara segar di luar.
Semakin lama aku berjalan meninggalkan kedai itu aku semakin merasa kedinginan. Kupeluk tubuhku sendiri tanpa menghentikan langkahku hingga aku sadar bahwa ada yang salah.
"Eh? Ini bukan arah pulang yang benar.." gumamku. Aku selalu saja tidak bisa berkonsentrasi pada keadaan disekitarku jika aku sedang naik pitam. Bodohnya aku.. tadi aku belok kearah mana ya, waktu keluar dari kedai..?
Kulirik sekelilingku.. rumah-rumah kayu sederhana khas pedesaan yang memancarkan cahaya lilin dari jendela-jendela rumah mereka tidak aku kenali sama sekali. Bagaimana caranya aku pulang? Apa aku kembali saja ke jalan yang kulewati tadi? Tapi jalan yang kulewati tadi yang mana? Aku tidak ingat sudah berbelok berapa kali hingga sampai kesini.
Aduh.. bagaimana ini, malam-malam kedinginan di tempat asing. Aku tidak bisa membayangkan bisa seburuk apa lagi nasibku sekarang sampai tiba-tiba ada yang menarik bahuku hingga aku terjatuh ke belakang.
"Wah-wah.. lihat, dia manis sekali. Apa dia punya uang dibalik bajunya yang tipis itu?" gumam seorang pria jelek dengan mulut yang nyaris berliur pada temannya yang tidak kalah jeleknya. Aku tidak menyadari kehadiran mereka sama sekali, apa tadi mereka bersembunyi di dalam gang gelap di sana?
Melihat dari cara berjalan dan pakaian mereka yang compang camping, bau busuk dan kotor oleh lumpur ditambah oleh rambut yang sangat berantakan , aku tidak begitu kesulitan untuk menebak kalau mereka adalah gelandangan yang sedang.. mabuk.
Ukh, baiklah, mungkin nasibku masih bisa sedikit lebih buruk lagi hari ini.
Salah satu dari mereka yang terlihat sedikit gendut mulai berjalan ke hadapanku sementara temannya tetap berada di belakangku.
Mereka berdua mulai mengangkat tangannya yang jorok –aku penasaran tangan yang mana yang memegang bahuku tadi– lalu bergerak mendekatiku.
"Maaf tuan-tuan tapi aku tidak punya uang sepeserpun untuk kalian." Kataku berusaha berdamai dengan posisi masih terduduk di tanah.
Si pria nyaris botak yang ada di hadapanku terdiam dan menatap temannya dengan tampang bodoh. Lalu temannya yang ada di belakangku pun menyahut, "Kalau tubuhmu untuk kami, boleh?"
Mereka berdua pun tertawa mesum dengan mulut penuh air liur. Egh, dasar orang-orang tua tidak tau diri.
Aku lalu berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakangku untuk membersihkannya dari tanah yang menempel.
Kedua pria yang mengepungku ini mulai bergerak sempoyongan mendekatiku dan.. hah, yang benar saja, aku tidak mungkin tinggal diam dengan situasi seperti ini. Tidak lucu 'kan kalau ibuku mendapatkan kabar kalau putranya telah diperkosa oleh dua gelandangan tua yang sedang mabuk?
Tidak perlu waktu dua menit untuk membuat para gelandangan itu terkapar di tanah sambil memegangi perut dan selangkangan mereka. Mereka mabuk dan itu menguntungkanku untuk menghajar mereka semudah menampar nyamuk.
"Cih, kalau mau cari masalah dengan orang lihat-lihat dulu.. orang tua!" decakku remeh lalu pergi meninggalkan kedua orang itu yang meraung-raung tidak jelas di belakangku.
.
Aku baru saja akan berbelok di perempatan rumah saat seseorang memanggilku dari arah berlawanan.
"SOOKYUNG.."
Che, si pangeran vampire yang kesiangan. Tapi baguslah, kalau saja dia datang lebih awal, mau dimana kutaruh mukaku kalau dia sampai menolongku dari dua serangga lemah yang sedang mabuk itu?
Aku melempar wajahku ke samping saat ia berada di hadapanku.
"Kau melupakan ini." Sahutnya sambil menenteng sepatuku ke hadapanku.
Aku melirik ke arah kakiku yang telanjang dan arggghh.. kebiasaan burukku yang lain yang sangat menyebalkan! Aku selalu melempar atau meninggalkan apapun yang melekat di kakiku saat sedang marah. Sial! Menyebalkan!
"Eh? Apa yang.. ah!" protesku saat Kai tiba-tiba membungkuk dan memasangkan sepatuku di kedua kakiku yang kedinginan. Dia bahkan membersihkan telapak kakiku dari pasir terlebih dahulu sebelum memasangnya.
"Aku tidak tau kalau sering lupa dengan sepatumu."
"Tidak sering! Hanya sekali ini saja." Sahutku ketus.
Wajah dingin itu lalu menatapku lurus. "Apa kau masih marah padaku?"
"Tidak." Jawabku ketus. Aku masih harus berperan sebagai Sookyung.
"Lalu kenapa kau terlihat kurang senang dari tadi?"
Aku berbalik dan menatap dalam-dalam pada iris matanya yang kelam. Sorot mata yang tak kalah dinginnya dengan udara malam, dan wajah yang sama sekali tidak menyiratkan kalau dia seorang pembunuh.
"Setelah semua wanita peghibur itu mati. Dimana kau mendapatkan makanan?" tanyaku dengan nada yang kuusahakan tidak terdengar sedang menahan marah.
"Para gelandangan dan binatang, meski darah mereka sama sekali tidak sebanding. Lalu.. ada kau, aku tidak menjadikanmu sebagai sumber makanan utama seperti yang sudah kita sepakati. Tapi hanya saja aku tidak bisa terus-terusan bergantung pada binatang yang tidak memberiku kepuasan dan lagi… para gelandangan yang sakit sangat kurang dan nyaris tidak ada. Makanya selama ini aku tidak bisa mengkonsumsi apapun selama beberapa hari sebelum kau pulang. Aku benar-benar minta maaf."
"Gelandangan yang sakit?" tanyaku.
"Iya. Para wanita penghibur dan gelandangan yang sudah nyaris mati, aku hanya menyerang mereka yang tidak berguna." Jawabnya.
'Mereka yang tidak berguna dia bilang? Bagaimana dia bisa bilang kalau wanita penghibur itu tidak berguna?' pikirku miris.
"Apa kau benar-benar membunuh mereka dengan mencabiknya, mengeluarkan isi perutnya, dan menghisap habis darahnya?" tanyaku lagi dengan menahan ngeri.
"Aku tidak bermaksud melakukan itu, maksudku mencabiknya. Mereka terkadang melawan, kau tau? Para wanita itu bisa sangat mengerikan saat mempertahankan nyawa mereka. Lalu mengeluarkan isi perutnya itu.. aku rasa itu ulah binatang, para serigala atau anjing liar mungkin berhasil melakukan itu sebelum para warga menemukan mereka. Aku sering menyerang mereka yang akan kumangsa dengan mengajaknya ke hutan." Jelas Kai yang tidak membuat perasaanku bertambah baik. Jadi maksudnya ada serigala dan anjing hutan berkeliaran di sekitar sini dan sudah sering mencicipi daging manusia begitu?
GLUP
"Se-serigala dan anjing hutan..?" gumamku ketakutan.
Kai lalu memegang kedua lenganku dan menatapku lurus. "Kau tidak perlu takut dengan binatang-binatang itu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu sedikit pun."
"Eeh, te-terima kasih." Kalau saja kalimat itu tidak keluar dari mulut seorang vampire aku mungkin akan merasa sedikit lega.
Dia hanya menyerang orang-orang yang hanya akan menyusahkan kebanyakan orang. Para gelandangan yang nyaris mati dan.. uhh, wanita penghibur. Lalu hewan-hewan dan aku, ah maksudku Sookyung. Aku tidak heran kalau Sookyung akan mengijinkan Kai menghisap darah mengingat betapa baiknya ia. Tapi.. kebaikan Sookyung hanya pada sebatas materi yang ia miliki. Dia akan rela memberikan barang-barang miliknya untuk orang lain yang membutuhkan. Tapi jika itu menyangkut anggota tubuhnya.. dia akan sangat konsisten untuk tidak menyerahkannya walaupun sedikit.
Aku masih sangat ingat hari dimana ibu sangat membutuhkan donor darah ketika ia mengalami kecelakaan, semetara di keluarga kami hanya anak kembarnyalah yang punya golongan darah yang cocok dengan ibu, dan Sookyung.. dia mati-matian tidak ingin mendonorkan darahnya, semua orang sangat heran dengan perilakunya itu, hingga akhirnya akulah yang menjadi pendonor saat itu.
Karenanya, aku tidak merasa aneh saat Kai berkata ia dan Sookyung membuat perjanjian untuk tidak menjadikan Sookyung sumber makanan utama, aku tau betul Sookyung sangat berat melakukan itu, ia sebenarnya tidak terima darahnya diambil, tapi sepertinya kebaikan hatinya mengalahkan semua itu.
"Kai.." gumamku.
"…"
"Gunakan aku."
"Hn?"
"Jangan menyerang siapapun lagi di desa ini. Mereka punya hak untuk hidup. Gunakan aku.. kalau kau lapar kau boleh datang kapan saja padaku." Aku menggigit bibir bawahku. Apa yang aku katakan.
"Kau hanya boleh meminum darahku saja mulai sekarang. Jangan pernah menyerang penduduk lagi." Seruku akhirnya dengan menatap lurus pada Kai yang memandangku dengan air muka heran.
"Ka-kau serius?" tanyanya Nampak kebingungan. Aku hanya bisa mengangguk dengan menutup mataku rapat-rapat, berharap apa yang kukatakan tadi bisa kutarik kembali.
Ol======BVKS======lO
Kalau saja aku tidak akan terlihat seperti orang gila, aku mungkin sudah menampar wajahku beribu-ribu kali atas apa yang sudah aku katakan pada Kai tadi. Aku tidak tau sebanyak apa kebiasaanku yang menyebalkan bercokol di dalam diriku ini. Sookyung boleh dikenal sebagai malaikat yang baik hati, tapi diantara kami berdua, akulah yang paling sering mengorbankan diriku sendiri.
Saat, ibu, ayah, dan kakek bersikeras menyuruhku meyamar menjadi Sookyung, aku bisa saja dengan mudahnya membuat semua itu tidak perlu dilakukan dengan marah besar atau kalau perlu kabur dari rumah. Tapi lihat, akhirnya aku tetap melakukan apa yang mereka katakan karena tidak ada yang bisa dan mau berkorban untuk melakukannya. Aku juga bisa saja menolak mendonorkan darahku untuk ibu waktu itu dengan mencari orang lain yang mau menolongnya, tapi lihat, aku tetap berkorban juga untuk melakukannya. Aku.. entah kenapa rasanya sudah seperti mendarah daging , dan sekeras apapun otak dan perasaanku menolak, aku, tetap saja pada akhirnya memilih mengorbankan diriku demi kepentingan orang lain.
Dan hari ini, adalah hari dimana aku mengutuk 'kesialanku' yang sangat bodoh itu.
"Kau tidak perlu melakukan ini jika kau mau. Aku baik-baik saja, Sookyung. Aku bisa mencari ke tempat lain kalau memang di desa ini sudah tidak memiliki apa yang bisa kumakan lagi." Ujar Kai berusaha meyakinkanku.
Aku menarik lengan kemejanya dengan kuat sambil menundukkan wajahku. Kumohon jangan berusaha untuk membuatku bimbang sekarang. Itu jauh lebih menyusahkan. Aku menggelengkan kepala, "Tidak, kau bisa menggunakanku sesukamu, aku tidak masalah dengan itu.." gumamku.
Kami berdua diam sejenak, bahkan suara serangga dari luar rumah sampai terdengar hingga ke lantai dua kamarku ini. Iya, Kai langsung mengantarku pulang dan menyelimutiku di atas ranjangku karena berpikir kondisiku sedang kacau karena terlalu lama berada di luar dengan baju tipis. Tapi aku tau betul apa yang sebenarnya terjadi padaku, ini semata-mata karena sifat yang tidak bisa aku tolak.
"Baiklah, jika memang itu kemauanmu. Aku tidak akan meragukannya lagi, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu sebelum itu.." ujar Kai. Ia menatapku dengan sorot mata yang tidak bisa aku jelaskan. Apa dia sedang senang..? atau sedih?
Ia lalu mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah botol bening berukuran sebesar ibu jari dengan cairan bewarna merah keunguan di dalamnya. Kamar yang hanya diterangi oleh satu lilin di atas meja di samping ranjangku ini tidak bisa membuatku melihat bentuk dan warna cairan itu dengan jelas sampai Kai mengangkatnya ke depan wajahku.
"Aku ingin kau meminum ini .." katanya. " ini adalah zat penambah darah, tapi bukan obat penambah darah seperti yang bisa dibuat manusia jaman sekarang. Aku tidak bisa mengatakan dari mana asalnya. Tapi cairan ini, jika kau meminumnya dia akan membantu tubuhmu memproduksi darah sebanyak yang kau hilangkan."
"Eh?" tanya ku bingung. "Aku tidak mengerti.."
"Intinya, kau tidak akan mati kehabisan darah tiap kali aku 'sarapan'." Sahut Kai tersenyum penuh arti. "Tapi.." katanya lagi. "Hanya jika aku menghisap darahmu satu kali. Cairan ini bisa membuat darahmu kembali dalam jumlah sebanyak yang bisa seorang vampire minum hingga kenyang. Hanya seorang vampie Sookyung, aku tidak bisa menjamin jika ada dua vampire yang 'sarapan' dalam satu waktu." Baiklah.. itu cukup membuatku memucat. "Tenang, itu tidak akan terjadi. Setidaknya selama aku masih ada." Sambungnya.
Aku lalu mengambil botol kecil itu dari tangannya dan meminum isinya saat itu juga dengan sedikit ragu-ragu. Rasanya seperti anggur hanya saja sedikit asin, egh.
"Apa kau sudah merasakan cairan itu di perutmu?"
Aku mengangguk pelan. Kai lalu tiba-tiba naik ke ranjangku , duduk di atas kakiku yang tertutupi selimut. Ia menatapku dengan mata merahnya yang menyala.
Oh My God, tolong bangunkan aku jika ini mimpi..
"Ka-kau mau apa?" tanyaku panik saat ia mulai mendekatkan tubuhnya ke arahku lagi sama persis dengan yang dilakukannya di gudang bawah tanah tadi siang.
"Aku ingin mencoba apa obat itu manjur atau tidak." Jawabnya, lagi-lagi dengan senyuman yang tidak bisa kuartikan itu. Tangannya menyentuh bahu kananku , menarik kain bajuku agar bahuku kembali terekspos. Ia pun perlahan menekatkan wajahnya ke leherku.
"Ah, tapi Kai tadi siang kau sudah, ngh-," keluhku saat kurasakan lidah yang lembab dan hangat menjilati perpotongan antara bahu dan leherku dengan vulgar. " Jangan menjilatiku!" protesku kesal.
"Anastesi." Bisik Kai dan..
Deep BITE
.
Sebuah api kecil Nampak menari-nari dari pantulan iris mataku. Lilin yang Kai nyalakan di atas meja kecil di samping ranjangku sudah habis setengahnya. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak aku meminum cairan dari botol kecil itu? Seperempat jam?
"Nghh.."
"Mmmhh.."
Aku masih bisa merasakan taring yang tertanam di leherku ini masih setia menancap di tempatnya sejak seperempat jam yang lalu. Taring yang dingin tapi oleh mulut dan lidah yang begitu hangat. Suara erangan masih sesekali kudengar saat Kai menghisap kuat-kuat leherku, menyedot semua darah yang mengalir keluar dari lubang yang taring kokohnya perbuat. Dagingku berlubang.. aku bisa merasakan betapa sakitnya luka yang diakibatkan oleh dua rongga kecil di leherku itu. Dan rasanya berpuluh-puluh lebih sakit lagi saat pria yang sedang 'sarapan' ini menyedotnya rakus dengan sepenuh sepenuh hati.
"Aakhh!" pekikku saat Kai melepaskan gigitannya tiba-tiba. Sudah puaskah dia?
"Sookyung.." panggilnya pelan.
Terasa menyengat di bagian leherku dan pening di kepalaku, walaupun tidak seburuk seperti saat si vampire berwajah dingin ini melakukannya untuk pertama kali. Dimana aku nyaris tidak bisa merasakan seluruh anggota tubuhku secara utuh karena benar-benar kekurangan darah akut saat itu.
Aku mengambil nafas berat sebanyak dan secepat yang aku bisa, berusaha mengambil oksigen yang tidak kudapatkan dengan baik saat ritual tadi sedang berlangsung.
Tubuhku penuh keringat. Bajuku berantakan, terutama di bagian bahu yang terekspos, ada beberapa pecikan darah disana saat Kai menancapkan taringnya tadi. Lalu, aku juga merasa betis dan pahaku terasa dingin sampai aku sadar rok panjang dari gaun yang kugunakan tersingkap hingga ke atas lututku akibat kegiatan memberontak atau lebih tepatnya gerakan respon dari rasa sakit yang kurasakan saat Kai menghisap darahku.
Aku tidak bisa terlalu memperdulikan semua itu sekarang, tidak peduli betapa menggodanya penampilan 'berantakan'ku di atas ranjang dengan cahaya remang-remang seperti sekarang ini. Aku butuh oksigen.. bernafas.. dan juga darah.
Saat aku sedang dalam keadaan mengap-mengap, Kai terlihat tidak melepaskan pandangannya dariku, itu membuatku risih. Risih karena tidak bisa protes karena aku sedang dalam proses pemulihan, sangat terlihat jelas dari air mukanya apa yang sedang ia pikirkan.
Terima kasih pada Tuhan karena menciptakan kami –laki-laki– yang otak mesumnya selalu bisa aktif kapan saja , paling tidak bisa memahami isi kepala masing-masing.
'Bukan hanya kau saja yang berpikiran 'itu' saat ini, brengsek!' gerutuku dalam hati. Suasana mendukung plus pemandangan yang menggiurkan di depan matamu. Kalau seperti itu, tidak peduli kau ada di posisi 'atas' atau pun ' bawah', di saat begini si 'couple' pasti bakalan connect dengan kuat.
Butuh berapa menit hingga akhirnya kurasakan sel-sel darah mulsi mengisi kembali pembuluh-pembuluh darahku yang nyaris kosong. Dasar vampire gila! Memangnya yang tadi siang itu hanya ia anggap cemilan saja apa?
"K-kau.. benar-benar rakus.. nghh-,"keluhku sambil berusaha untuk duduk dan menggosok-gosok leherku –wilayah yang tadi ia sedot– yang masih terasa nyeri sepelan mungkin. Kai menyingkir sedikit saat aku berusaha menarik kakiku dari bawah tubuhnya.
Dia menatapku dalam diam, masih dengan air muka yang tadi. Ugh..!
"Sookyung, boleh aku menciummu?"
"HA? A-APAA?"
TBC
HAH.. Ya ampun! Lagi-lagi Je Ra telat banget update sampai-sampai ada readers yang ngingatin. Makasih buat salah satu readers yang udah mau mengigatkan Je Ra untuk tidak terlalu lama untuk update. Je Ra janji deh kalau masih ada yang berminat dan suka sama fic ini Je Ra bakalan usahain untuk update yang cepat
So readers,,
REVIEW please
Balasan review untuk chap sebelumnya:
t.a : yap ini udah dilajutin. Makasih ya udah review ^^ .
Joonwu : haha, iya tu Kyungsoo udah digigit malah sama Kai. Je Ra juga sebenarnya jugaagak nggak rela Kai biasanya gigit Sookyung tapi ceritanya udah kayak gitu dari sana nya #nunjuk ke Nymous senpai XD. Ini udah lanjut. Makasih ya udah review ^^.
Fans : ini udah dilanjutin. Makasih ya udah review ^^ .
Guest : ini udah lanjut kok. Makasih ya udah review ^^ .
Cute : yap, jongin memang vampire di fic ini. Jongin mau hisap darah Kyungsoo soalnya Jongin pikir Kyungsoo itu Sookyung. Jongin bakalan tau kalau Kyungsoo bukan sookyung tapi di nggak chap ini, masih beberapa chap lagi. Makasih ya udah review ^^ .
Ceicong : hai juga ^^ . Gemes gimana nih maksudnya Ceicong? Je Ra nggak ngerti hehe XD. Makasih ya udah review ^^ .
Mamik : ya gitu deh,sookyung ini jadi 'makanan' kai setiap hari. Makasih ya udah review ^^ .
