"SHIT!"
Blaise Zabini mengangkat alis tinggi-tinggi begitu menyaksikan teman sepermainannya memasuki ruang rekreasi Slytherin dengan tanduk yang mencuat dari kedua sisi kepala. Sembari menyerukan serentetan umpatan kasar, Draco Malfoy menendang meja kayu yang berada di tengah-tengah ruangan. Blaise berdeham sedikit ketika para penghuni asrama ular tersebut menoleh ngeri ke arah pewaris tunggal klan Malfoy itu.
Draco membanting tubuhnya ke sofa. Mengumpat. Mengacak rambut pirangnya. Mengumpat (lagi).
Well— ini jelas buruk.
"Cewek itu lagi?" Blaise bertanya pelan-pelan.
—dibalas dengan satu lirikan sinis. "Yeah, cewek sok penting yang dikelilingi para pengawal sialannya."
"Potter?"
Draco bangkit. "Jangan sebut namanya. Aku muak."
Blaise merangkul bahu sobatnya dengan sedikit memaksa. "Ayo kita bicarakan di tempat lain saja. Jangan sampai ada gosip yang tidak-tidak tentangmu."
Draco Malfoy mendecak frustasi sebelum mengikuti Blaise ke tempat yang lebih tertutup.
"Potter menghalangimu lagi?"
"Si brengsek itu bersikap seakan dia punya kuasa untuk menghalangiku."
"Oh, man!" Blaise mencebik. "Tapi kau Draco Malfoy! Sejak kapan kau tidak bisa mendapatkan apa pun yang kau inginkan?"
"Sejak aku menginginkan jalang itu, Zabini," sebuah decihan, "sejak kau berhasil mendapatkannya sementara aku tidak."
Kali ini Blaise menelan ludah. "A-aku hanya mencoba peruntunganku waktu itu, mate. Percayalah,"
Hening.
"Lagipula, cewek Hogwarts bakalan berbaris untuk menghangatkan ranjangmu! Kenapa kau malah terobsesi pada si Mudblood Granger itu, sih?"
Draco mendesah. "Tanyakan pada otakku."
"Atau pada hatimu," Blaise menyeringai. "Bisa saja—"
"Tidak, tidak bisa," potong Draco. "Sudah lupa fakta bahwa hatiku mati rasa?"
Blaise terbahak, "Oke, Tuan-Mati-Rasa."
Draco memutar mata, "Well, kau lihat Greengrass?"
"Greengrass yang mana?"
"Yang mana saja."
"Kurasa tidak, tapi— ada Parkinson di sana."
Draco menoleh ke arah yang ditunjuk dan mengangkat bahu. Mengucapkan selamat malam singkat pada Blaise, sebelum bergegas memacu langkah ke arah Pansy Parkinson dan menculiknya dari teman-temannya.
Kalau pun Granger sok jual mahal padanya, Draco masih selalu punya cadangan, kan?
Blaise bersiul. "Congrats, Parkinson. Kau baru saja dapat jackpot."
o0o
a Dramione fanfiction written by GinevraPutri:
THE DEAD HEART
—
Harry Potter © J.K. Rowling
Hogwarts, 1996
o0o
III
"Harry, dengarkan dulu!"
"—atau seharusnya aku tidak perlu repot-repot menolong—"
"Hei! Apa kau menyesal menolongku tadi? Jadi—"
"Damn, Hermione! Aku berubah jadi setengah gila ketika melihatnya menciummu dan— kau membalas ciumannya! Si musang pirang itu!"
"Itu bukan salahku! Dia duluan yang—"
"Yeah, tapi kau mengikuti permainannya!"
Hening. Hermione membuka mulutnya— lalu menutupnya lagi, gelagapan.
"See?" bentak Harry. "Kau bahkan tidak mencoba—"
"Aku sudah mencoba menolaknya sepanjang musim gugur, Harry! Kau tahu suatu saat Draco Malfoy akan mendapatkan keinginannya, kan?"
"Well, kau jadi tidak keberatan disamakan dengan jalang-jalang rendahannya Malfoy? Begitu?"
Brak!
Harry terdesak ke dinding sementara tongkat Hermione teracung lurus ke lehernya. "Jangan pernah kau berani memanggilku seperti itu lagi, Harry."
Harry mendengus. "Kau membawa tongkatmu sedaritadi, Hermione? Dan sama sekali, astaga, sama sekali kau tidak berusaha—"
"FINE!" Hermione menyentak minggir tongkatnya dan melangkah cepat-cepat mendahului Harry. Di ujung tikungan, gadis itu berbalik.
"Fine, aku memang kehilangan kendali! Dan kau tahu kenapa? Karena cowok pirang sialan itu punya pesona yang tak bisa kutolak— dan bukan hanya aku saja, Harry! Tanyakan pada seluruh cewek Hogwarts—atau bahkan Ginny, cewekmu—dan mereka akan mengaku kalau Draco Malfoy bisa membuatmu gila hanya dengan sekali lirik!"
Satu hela napas keras, dan Hermione berlalu. Meninggalkan Harry yang masih berdiri diam di sana— kedua tangannya terkepal erat.
o0o
'Slughorn sialan' adalah umpatan pertama yang Ron suarakan di awal musim dingin ini. Pandangannya menusuk kesal ke arah Proffesor gemuk sok riang itu. Harry Potter, deskmatenya, membenturkan kepalanya ke meja berulang kali.
Yah, tidak heran— kau juga bakalan bersikap seperti itu jika partner tugas proyek ramuanmu selama tiga bulan ke depan adalah Astoria Greengrass, Slytherin anggun nan mematikan. Bisa-bisa Ginny mengamuk setahun penuh, mengingat betapa menggodanya Greengrass yang satu itu. Dan bahkan Ron sendiripun tak yakin Harry sanggup bertahan dari iblis berambut cokelat yang memang sangat, sangat— cantik.
Hh.
Lihat dirimu sendiri, Ronald Weasley. Luna Lovegood, eh? Memang sih, cewek pirang yang katanya kurang waras itu bersahabat dengannya. Tapi kan tetap saja— Lihat anting-anting lobak itu. Lihat kacamata hantunya. Lihat kalung tutup botolnya— err, maksudnya jimat.
Dan dia harus berkeliaran bersama Luna—ditambah Wrackspurt atau berbagai macam makhluk aneh lainnya yang mengikutinya—selama tiga bulan lagi, soal Lavender yang pasti bakal ngambek..
Demi Merlin. Kelas ini bakalan kayak neraka, deh.
"Aku bisa gila. Aku-bisa-gila. Aku benar benar bisa gila."
Ron memutar tubuhnya ke arah belakang dan menemukan Hermione Granger tengah berkomat-kamit sendirian.
Um, mungkin Ron bisa sedikit bersyukur tentang Luna jika teringat pada partner Hermione. Seseorang yang sudah mati-matian ia hindari beberapa minggu ini— semenjak insiden itu terjadi. Insiden apa?Well, Ron merasa tak berhak membicarakannya di sini. Sudah cukup buruk sahabatnya sendiri yang mengalami tanpa perlu diungkit-ungkit kembali.
Hell, yeah. Hermione Granger berpartner dengan Blaise Zabini.
o0o
"Damn it, Blaise. Lebih baik aku mengerjakan tugas laknat itu sendirian daripada— aish, sialan, kenapa harus si Longbottom itu, sih? Seluruh dunia juga tahu otaknya hanya separuh!"
Blaise mengerang. "Aku bakal memberikan apa saja asal kita bertukar partner."
"Memangnya boleh?" Draco mengangkat alis.
"Oh, siapa peduli—"
"Kau kan dapat si Granger! Cewek itu lagi hot-hotnya sekarang ini. Tawarkan pada yang lain saja."
Blaise menoleh heran. "Kau tidak berminat padanya lagi?"
"Aku—" Draco menghela napas. "Aku benar-benar benci jika diharuskan menghabiskan tiga bulan dengan cewek itu. Aku bisa gila, Blaise."
"Apa? Jadi kau takluk pada pesonanya, begitu?"
"Jangan bercanda." Dengusan. "Coba saja habiskan tiga bulan itu dengan bibirnya—maksudku dengan sarkasme sialan dari bibirnya—dan lihat apa kau masih bisa bernapas normal tiap hari melihatnya."
"Jadi kau tidak bernapas normal tiap kali melihatnya?"
Draco menepuk dahi. "Longbottom menularkan virusnya padamu atau bagaimana, sih?"
Blaise menghela napas. "Aku tidak keberatan soal bonusnya. Masalahnya—"
"Apa masalahnya?"
"Aku hanya— tidak suka berpartner dengan murid Gryffindor sediktator Granger."
Draco mendengus. "Cobalah berbohong lebih baik lagi, Blaise."
Satu erangan jengkel. "Slughorn sialan."
Satu anggukan setuju. "Slughorn sialan."
o0o
"Hah. Greengrass yang cantik jelita."
Harry menghela napas dan meletakkan jus labunya. "Aku tidak minta dipasangkan dengan dia, kan?"
"Oke, hanya saja jangan bicara padaku tiga bulan ke depan."
Ron mengerang. "Sudahlah, Gin. Toh dia bisa apa ketika mendadak dipasangkan begitu?"
Ginny mendecak. "Kalian kan bisa protes!"
"Coba kau sendiri saja yang protes, bagaimana?"
"Merlin, berhentilah, kalian," desah Hermione dari seberang meja. "Berhenti atau kusihir."
Harry mengusap wajahnya dengan kedua tangan, melirik Ginny yang masih manyun. Gryffindor itu menepuk bahu Ron. "Kau sudah bilang padanya?"
Ron menggeleng putus asa. "Aku—"
"RONNIE!"
Harry mengalihkan pandang seketika waktu Lavender Brown berlari ke arah matenya— tak diragukan lagi untuk memulai salah satu ciuman mesra yang lain.
Hermione bangkit, menutup buku Arithmancynya keras-keras dan menyelempangkan ransel ke bahu sebelum berjalan keluar Aula Besar— bahunya sedikit bergetar.
Ginny mencebik dan berbisik ke telinga Harry dengan kesal. "Katakan pada kakakku bahwa dia bisa saja kehilangan cewek paling berharga dalam hidupnya— dan aku bukan membicarakan manusia pencium itu."
Kemudian ia bangkit dan berlari menyusul Hermione keluar.
Harry bergeser sedikit menjauhi pasangan kasmaran sebelum tatapannya jatuh pada jus labu yang baru saja diminum sedikit di seberang meja— milik Hermione.
Cewek yang paling berharga di hidup Ron, Ginny bilang..
o0o
"Kau benar-benar tidak ikut? Ini latihan terakhir kita sebelum pertandingan Quidditch minggu depan, mate."
Draco menggeleng malas. Kakinya yang diselonjorkan di atas meja bergerak sedikit ketika ia berguling di sofa untuk memandang Blaise. "Sapuku sedang dimodif— dan aku tak mungkin menggunakan sampah dari gudang sapu, kan?"
Blaise mengangkat bahu. "Well, okay. Tapi— kalau kau tidak ada kerjaan, sampaikan pada Granger aku tidak bisa mengerjakan tugas malam ini."
Draco terduduk tegak. "Kalian janjian?"
"Kupikir dia menyuruh salah satu peri rumah bodoh untuk meletakkan suratnya di kamarku."
"Ah, surat. Tipikal Granger."
Blaise menggeleng dengan seringai di bibirnya. "Katakan padanya, oke?"
"A, a. Kata kuncinya."
Memutar mata sekali. "Tolong, Draco Lucius Malfoy."
Draco mengacungkan ibu jarinya dengan santai. Blaise bergegas keluar ruang rekreasi— tahu bahwa temannya bakal beraksi lagi malam ini.
o0o
"Ginny, aku duluan."
Ginny mendongak dari buku Quidditch Through The Agesnya dan mengangguk. "Perpustakaan lagi?"
"Tugas— kau tahu tugas apa."
"Dan aku tahu kenapa kau membawanya ke perpustakaan."
"Dia tidak akan macam-macam, Gin."
Ginny mengangkat alis. "Sejak kapan kau jadi begitu memercayai Slytherin?"
"Hah?" Hermione menyisipkan anak rambutnya yang lolos ke belakang telinga dengan gugup. "Well— mungkin karena aku sudah pernah mengenal Zabini."
"Mengenal Zabini?"
"Err— aku duluan. Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri dengan terlambat. Bye, Gin."
"B-bye, Hermione." Ginny mengerutkan dahi.
Kuharap kau tidak terlalu tertekan sampai-sampai menggunakan kata 'mengenal' pada cecunguk Slytherin.
o0o
"Astaga."
Hermione meletakkan buku-bukunya ke meja perpustakaan dengan cara yang tidak biasa— sedikit lebih impresif.
"Jadi keterpaksaan macam apa yang mengakibatkan seorang Draco Malfoy rela menginjak lantai perpustakaan yang terlalu suci untuknya ini?"
"Kalau ngomong pakai koma, Granger."
Sialan. Kalah telak di pembicaraan pertama.
"Fine, whatever. Dimana—"
"Quidditch, dan inilah keterpaksaan yang mengakibatkan seorang Draco Malfoy rela menginjak lantai perpustakaan yang terlalu suci untuknya. Menyampaikan pesan."
"Hah." Hermione mendengus. "Kerasukan apa kau mau menyampaikan pesan? Ya ampun, 'menyampaikan pesan' terdengar terlalu baik untuk kau lakukan, Malfoy."
"Memang." Draco Malfoy menyilangkan kedua kakinya di atas meja perpustakaan dan bersiul pelan. "Kenapa tidak kerjakan tugasmu sendirian, Granger? Toh kau tahu Blaise mana bisa diandalkan."
"Aku tidak akan duduk di meja yang sama denganmu."
"Dan aku akan duduk di meja manapun yang kau duduki."
"Brengsek." Hermione mencebik dan duduk di seberang meja.
Pilihan terakhirnya, selain mengerjakan tugas di ruang rekreasi dan menyaksikan makhluk sialan berambut ikal yang menciumi sahabatnya.
Jadi ia duduk, dan memutuskan untuk tidak meladeni Malfoy apa pun yang dilakukannya.
—tapi mereka bilang Draco Malfoy selalu mendapatkan yang ia inginkan, dan memang begitu kenyataannya.
"Jadi, apa kalian berniat melakukannya lagi? Kau dan Blaise?"
Hermione berhenti menulis selama dua detik, tapi akhirnya kembali berfokus pada perkamennya. Ia tidak akan terpancing lagi, tidak sampai tugasnya selesai dan ia bisa kabur secepat mungkin dari iblis pirang yang kemarin lusa nyaris berhasil memaksanya untuk bersenang-senang.
Draco menyeringai. "Apa malam ini? Setelah tugas ramuan itu rampung?"
Tidak ada jawaban. Hermione itu teguh pendirian.
"Oh— kurasa tugas ini hanya kedok saja. Kalian tidak benar-benar bakal mengerjakan tugas, kan?" Masih berlanjut, Draco tidak semudah itu menyerah. "Sayangnya, Blaise lebih memilih latihan ketimbang bermain denganmu. Mau kugantikan?"
Menegang. Pena bulu itu sedikit terhambat gerakannya.
"Ckckck. Tidak kusangka. Prefek teladan sepertimu."
Hermione.. itu.. teguh.. pendirian..
"Apa Blaise mencampakkanmu, Granger? Sepertinya dia memang tidak berniat datang malam ini."
Teguh pendirian. Teguh pendirian. Ulangi seperti mantra.
"Ah, jangan terluka. Aku tidak tahu bagaimana menjaga perasaan orang lain, karena kurasa aku memang tak punya perasaan."
Kau memang idiot yang tidak punya perasaan, Malfoy, masa baru sadar, sih?
"Kau yang menggodanya duluan, atau—" Ketukan jemari di meja. "Sepertinya kau yang melakukannya." Gumaman pura-pura. "Apa kau bahkan memaksanya un—"
BRAK.
Kuku-kuku jari Hermione menancap di meja kayu perpustakaan saking gemetarnya. "Cukup, Malfoy."
Draco mengangkat bahu. Wajah pucat itu memasang tampang tidak bersalah sama sekali. "Aku hanya penasaran."
Hermione membisikkan 'aku membencimu' dengan putus asa. Ia menyerah. "Well, fine. Malam itu pesta akhir musim gugur sedang berlangsung. Dan sementara bocah-bocah lainnya sibuk menenggak alkohol, aku menemukan seekor burung hantu membawakan Daily Prophet terbitan malam— edisi khusus untuk Breaking News, semacam itu. Pelahap Maut merambah daerah Muggle— tempat tinggal orang tuaku." hela napas, "aku tak tahu apa yang harus kulakukan— jadi aku mengambil segelas minuman, dan segelas menjadi dua gelas, tiga gelas— dan aku lupa apa yang terjadi. Ujung-ujungnya aku berakhir dengan temanmu itu."
Hening.
"Jadi semua itu kesalahan— benar-benar cuma kesalahan. Berhenti menggangguku atau merecokiku dengan spekulasi-spekulasi konyolmu, Malfoy. Aku sama sekali bukan gadis yang kau pikirkan— karena apa pun itu, Malfoy, yang kau pikirkan, aku tidak melakukannya dengan Blaise Zabini."
Dengan itu, Hermione bangkit dengan buku-bukunya di tangan, siap beranjak.
"Satu hal lagi. Jika pemikiran Harry benar, kurasa aku tidak berniat terus-terusan menghabiskan waktu dengan salah satu calon anggota dari kelompok yang menyakiti orang tuaku— mungkin saja membunuhnya." Gadis itu menahan diri, bernapas. "Kurasa aku tidak berniat berdekatan dengan calon Pelahap Maut, Malfoy. Tidak, tentu saja tidak."
Jeda. Draco ikut bangkit, melangkah maju ke arah Hermione. Iris kelabunya mengunci, tidak ke mana-mana. Jarak mereka lenyap secara perlahan.
Selangkah, dua langkah—
"Katakan padaku, Granger. Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa aku masih calon Pelahap Maut?"
Hermione sempat mengangkat alis sebelum mendadak tertegun. Tangannya menggapai pinggiran kursi, gemetar. Tidak mungkin membeo di benaknya. Kakinya bergerak mundur perlahan, tiga langkah, empat langkah—
"Bagaimana kau bisa begitu yakin bahwa aku belum menjadi salah satu di antara mereka?"
Lima langkah, enam langkah..
"K-kau.."
"—atau mungkin," Draco Malfoy mengangkat jemari ke tulang pipi Hermione, menyusuri wajah yang belakangan ini menjadi obsesi tersendiri baginya dengan hormon yang melonjak-lonjak. "Bagaimana kau bisa begitu yakin aku belum membunuh siapa pun belakangan ini, bahkan mungkin kedua orang tuamu dengan tanganku sendiri?"
Degup jantung Hermione sudah tidak terkontrol. Darahnya mendesir tak karuan.
"T-tidak mungkin.."
"Katakan saja aku memang sudah menjadi bagian dari mereka—" Draco menyeringai, mendekatkan bibirnya sendiri ke cuping telinga itu, meniupkan angin kecil di sana yang membuat Hermione bergetar karena sensasi, kemudian berbisik.
Amat.. sangat, pelan.
"—tapi memangnya, seberapa jauh kau bisa lari dariku.. Hermione Granger?"
o0o
To Be Continued
o0o
A/N: Yak. Beginilah jadinya. Terima kasih untuk noviairanda, Shofie, AuroraDM, Mrs. Malfoy, someandmany, undhott, AoKeisatsukan, v42kuro, Mia, Xian ShiLu, Staecia, semua yang sudah mem-follow dan mem-favo, serta semua yang sudah mau membaca. Bagi yang bertanya, yah, saya hanya ingin mencoba menulis dari sudut pandang murid 16 tahun yang masih main-main :v Sekian, sekali lagi mohon bagi yang sudah membaca silahkan tinggalkan jejak berupa review. Thank you. -GP
