It's a Tale, so It's a Life

Terinspirasi dari novel "Goodbye Happiness" karya Arini Putri.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pair: Narufemsasu

Rated: T

Genre: Romance

Warnings: typo(s), AU, DON'T LIKE DON'T READ

part 3

"Akasuna Sasori-san.." panggilku.

"ehm?"

"apa benar kau yang merekomendasikanku kepada sutradara Hatake Kakashi-san untuk menjadi model MV BTS untuk lagu For you?"

Senyum diwajah Akasuna Sasori memudar sejenak. Dia terlihat berpikir beberapa saat dan kembali tersenyum tipis. "apa kau tidak suka kurekomendasikan?"

Dengan cepat kugelengkan kepala. "bukan begitu,"balasku. "aku hanya tidak tahu, mengapa kau merekomendasikanku? Aku bahkan tidak dekat denganmu."

"karena kau sangat menarik dimataku,"jawabnya.

Kutundukkan wajahku, menghindari tatapan Sasori. Aku tak tahu seberapa besar kebenaran yang ada dari ucapannya barusan. Aku hanya merasa tidak ada salahnya percaya padanya. Mungkin kali ini aku harus percaya kalau dia hanya ingin memberiku kesempatan, bukan karena hal lain. Naru, bolehkan aku percaya sekali lagi pada lelaki dihadapanku ini?

Aku tersenyum tipis kearahnya. Dengan langkah hati-hati, aku beranjak dari dapur dan duduk diruang utama. Aku menyandarkan kepalaku diatas meja, berusaha memejamkan mata. Sementara Naru sedang membuat Ramen didapur. Namun, belum sempat mataku berhasil terpejam, ponsel disampingku bergetar.

Bukan ponselku, melainkan ponsel Naru. Kulirik nama yang terpampang dilayarnya. Aku nyaris menggigit lidahku saat nama itu terbaca.

Hyuga Hinata.

Jantungku berpacu cepat saat ponsel itu berada digenggamanku. Ponsel itu terus bergetar tanpa henti. Kutekan salah satu tombol dilayar dan mendekatkannya ke telinga.

Aku menarik napas panjang. Bibirku terasa bergetar. Tanganku mengepal menahan rasa panas yang tiba-tiba menyeruak ditubuhku. "moshi moshi,"ujarku selirih mungkin.

"moshi-moshi, Naruto!" seru suara itu ditelingaku. Kutelan ludahku dengan susah payah. Suara ramah it uterus menggelitik telingaku. "Naruto? Moshi-moshi? Moshi-moshi? Naruto?"

"dia tidak disini,"ucapku cepat.

"apa?" ucap Hinata dengan nada terkejut. "maaf ini siapa? Bukankah ini ponsel Naruto?"

Aku menahan napas sebisa mungkin. Jantungku berdebar semakin keras. Maafkan aku Naru, aku tidak ingin kau berbicara dengannya. "Naru… dia tidak ada,"ucapku lirih.

Naru.. Naru.. mengapa kau tak pernah mengerti? Mengapa rasanya kau tak pernah menyadari? Betapa aku takut kehilanganmu, Naru?

Jarum jam berdetak terlalu cepat malam itu. Aku tak dapat menahan diriku untuk menatapnya, khawatir segalanya akan terlalu cepat berlalu. Aku berbaring ditempat tidurnya, tak berani memejamkan mata sedikitpun. Pintu kamar masih kubiarkan sedikit terbuka. Dari kamarku yang redup, aku masih bisa melihat tangannya yang bersandar dilengan sofa didepan kamarku.

Ya, Naru. Dia duduk disana entah melakukan apa. Namun, dari cara duduknya, aku tahu dia belum tidur. Kenyataan Naru duduk disana untukku, membuatku terlalu bahagia hingga takut memejamkan mata. Aku takut, saat membuka mata nanti, Naru telah menghilang dan aku kembali sendiri.

"Naru,"panggilku pelan. Kulihat tangan dilengan sofa itu bergerak. "kau belum tidur,kan?"tanyaku.

Naru mulai berdiri. Dia membalikkan badan, menatapku dari celah pintu yang terbuka. Dia tersenyum tipis dari sana. "kenapa kau belum tidur? Kau harus istirahat,"ujarnya.

Aku ikut tersenyum melihatnya. "aku tidak bisa tidur,"jawabku. Senyumku semakin mengembang saat ide itu tiba-tiba tercetus dikepalaku. "Naru, mau bacakan aku dongeng?"

Naru duduk dilengan kursi dan menatapku dengan dahi berkerut. "Uhm, memangnya kau mau dengar dongeng apa?"tanyanya lembut. Aku menarik napas perlahan. Entah bagaimana caranya menggambarkan, betapa tenangnya perasaanku saat mendengar suara lembutnya.

"uhm.. PeterPan?"usulku setelah berpikir beberapa saat. Hanya dongeng itu yang terpikir saat aku menatapnya.

Dia mulai tertawa pelan. "buat apa? Kau kan sudah hafal dongeng itu."

"tapi ada yang aku masih tidak mengerti,"ujarku mempertahankan pendapat.

Naru berdiri dari posisinya dan melangkah masuk ke kamar. Dia duduk dilantai, bersandar tepi tempat tidurku. Sesuatu terasa berputar didadaku saat dia menatapku dari ujung mtanya. "apa yang masih tidak kau mengerti?"

"uhm.. menurutmu PeterPan.. apa PeterPan suka pada Wendy?"tanyaku ragu.

Naru terdiam sejenak. Dia menggumamkan sesuatu, berusaha mencari jawaban. "uhm.. tidak tahu,"jawabnya setelah berpikir lama. "dia juga belum yakin soal itu."

Jawab Naru membuatku nyaris mengangkat kepala dari bantal. "kenapa? Bukannya Wendy itu cantik ya?"tanyaku, tak puas.

"karena dia punya Tink,"jawabnya cepat

"Naru,"panggilku pelan. "Tsunade Sensei tadi memanggilku lagi."

"ada masalah lagi?"tanyanya sambil mengangkat wajah dengan cepat,khawatir.

Aku menggeleng pelan. "dia member tahuku bahwa.. manajemen memutuskan aku akan bergabung dengan proyek terbarunya. Aku bisa segera debut.. sebagai anggota girl group."

"girl group?" Naru mengulangnya dengan dahi berkerut. Persis seperti yang kulakukan tadi didepan Tsunade-sensei. "apa maksudnya, Tink? Kau masuk Konoha Ent karena ingin menjadi aktris bukan idol."

"ya, tapi mereka bilang itu akan menjadi batu loncatanku,"jelasku perlahan. "posisiku adalah sebagai visual. Nantinya, manajemen akan member banyak kesempatan kepadaku untuk bermain film. Dengan cara itu, baik aku dan group akan semakin popular."

"apa-apaan itu? Apa menurut mereka kemampuan beraktingmu saja tidak cukup?"tanyanya dengan ekspresi yang semakin mengeras.

Aku menelan ludah perlahan. Aku tahu Naru akan semakin menentangnya nanti. "Naru, ada satu hal lagi,"

"Plastic surgery?!" seru Naru keras.

Aku mengangguk pelan dan menundukkan kepala. "tidak, Tink! Tidak! Apa mereka pikir kau boneka?"

"tapi Naru, karierku.."

Naru mendekatkan wajahnya dan menatapku lekat-lekat. Tatapannya yang tajam membuatku terdiam. "tidak ada yang salah dengan wajahmu. Kau bisa lolos audisi teater waktu itu. Kau juga bisa menjadi model MV BTS. Tidak ada yang salah dengan wajahmu."

"Naru, itu beda.."

"Tink!"sela Naru, membuatku kembali terbungkam. Naru semakin mendekatkan tubuhnya hingga aku tak dapat berkutik. "listen,Tink. Mata ini, hidung ini, dagu ini, pipi ini,"ujar Naru sambil menunjuk setiap bagian yang dia sebutkan. "don't let anyone touch them."

"why?"tanyaku.

Naru menunjukan senyuman tipis. "They're so precious for me."

Naru menarik tangannya lepas dari genggamanku setelah kami mencapai salah satu koridor di gedung apartemen kami. Aku menatapnya dengan mata menyipit, tak dapat memahami apa yang baru saja dia lakukan. "Naru, kenapa kau seperti ini?" tanyaku dengan nada marah.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Naru justru memunggungiku, berjalan perlahan menjauh dariku. Aku masih bisa melihat pundaknya yang menegang dan langkahnya yang berat. "Naru,"panggilku lagi, kini dengan suara bergetar, menahan tangis.

Naru terus berjalan menuju pintu apartemennya. Aku hanya dapat melangkah pelan dibelakangnya, menatap Naru yang masih terus berusaha menjauh. "Kau sudah berbeda, Tink,"ucap Naru tiba-tiba.

"eh?"

"you're already grown up. It's nice,"lanjutnya, membuatku terdiam. Aku tak mengerti apa maksud ucapan itu. Aku tak dapat melihat wajahnya, aku tak dapat melihat tatapannya. Aku hanya mendengar suaranya dan aku tahu itu bukan pujian.

Perlahan, Naru membuka pintu apartemennya dan menghilang. Aku masih berdiri menatap pintu itu. Pintu yang biasa aku ketuk pada jam berapapun untuk melihat wajah Naru yang baru saja bangun tidur. Kakiku terasa bergetar dan semakin lemah. Aku mulai berjongkok dan menenggelamkan wajahku dibalik kedua lengan. Menangis seperti anak kecil. Anak kecil yang tersesat dan kehilangan ibunya.

"yang harus kau lakukan sekarang adalah menjauh dari Akasuna Sasori. Bila kau tidak memikirkan kariermu sendiri, pikirkan Akasuna Sasori. Apa kau mau menghancurkan film dan kariernya? Bila memang ada sesuatu diantara kalian, tunggu sampai fans tidak lagi memperhatikan kalian. Disaat itulah,kalian bisa bersama."

Ucapan Tsunade-Sensei terus membebani pikiranku. Apakah harus seperti ini untuk masuk dunia hiburan? Semua langkah yang kau ambil harus diatur sedemikian rupa agar menyenangkan hati fans.

Perhatianku tiba-tiba teralih pada suara decit pintu yang terbuka. Kuangkat wajahku dan kutemukan sosok yang membuat waktuku terasa berhenti. Naru berdiri disana, menatapku dengan wajah yang menegang. Ponsel digenggamanku yang terus berdering mulai terdengar samar ditelingaku. Yang kudengar hanya suara degup jantungku tang tak karuan.

Naru menundukkan wajahnya setelah lama menatapku. Dia melangkah melewatiku tanpa mengatakan apapun, seperti orang asing. Aku membalikkan tubuh, mengikuti tubuhnya yang menjauh menuruni tangga. Air mata kembali berdesakan diujung mataku. Entah bagaimana aku menjelaskan kepadanya, bahwa gadis yang baru saja dia lihat ini sangat merindukannya. Bahwa gadis ini sangat ingin berlari ke pelukannya. Bahwa gadis ini sedang ketakutan dan membutuhkan rasa aman darinya. Air mataku mulai menetes tanpa henti. Aku berusaha menangis tanpa suara. Bibirku terus bergetar, menahan keinginan besar untuk memanggil namanya. Naru.. Naru.. aku takut, Naru.

Lampu-lampu blitz kamera itu terasa berkedip bergantian, membuat ada hijau besar dipandanganku. Aku duduk disamping salah satu pemain yang bermain drama bersamaku. Michrophone berada tepat dihadapanku, membuatku merasa tarikan napasku pun akan terdengar ditelinga seluruh tamu.

Pandanganku berkeliling, mencari sosok yang sejak tadi kutunggu. Diantara semua kamera itu, diantara gadis-gadis yang membawa poster Akasuna Sasori, aku berusaha mencari wajah yang kutunggu.

Naru kau dimana? Apa kau tak menerima undanganku? Apa kau masih menjalankan aksi bisumu disalah satu saat paling penting dalam hidupku? Naru, kumohon muncullah. Aku ingin melihat senyumanmu diantara para tamu.

"apa dia tidak datang?"tanya Sasori dari balik punggungku.

Aku terdiam mendengarnya, tahu persis siapa yang dimaksud Sasori. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku. Hanya ingatan akan senyum Naru yang bermunculan dikepalaku. Membuatku menyadari betapa aku merindukannya. Aku menunduk dan menutup sebagian wajahku, berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Tidak, aku tidak bisa menangis disaat seperti ini. Aku harus bertahan untuk tak menangis sambil menyebut namanya. Naru, kau dimana?

Gedung apartemen sudah cukup gelap. Tak banyak lampu menyala. Hanya beberapa lampu redup disetiap koridor. Aku berjalan cepat enaiki tangga hingga mencapai lantai apartemenku. Hujan membuat udara sedikit dingin. Aku berjalan sampai sosok itu membuatku tercekat.

Aku berjalan mendekat untuk melihat sosok itu lebih jelas. Mataku terbelalak. Naru meringkuk disana, didepan pintu apartemenku. Wajahnya penuh luka, bajunya kotor dan sebagian kecil terpercik darah. Tubuhku membungkuk dengan lemas, seakan tak kuat menganggat bahu dengan tegak.

"Naru!"seruku membuatnya mengangkat wajah perlahan. Pelipisnya lebam, pipinya lecet, dan darah segar mengalir disudut bibirnya. "Naru, kau kenapa?"tanyaku disela tangisan yang mendesak untuk tumpah.

Naru tak menjawabnya. Dia hanya bergerak perlahan mendekatiku. Napasku nyaris berhenti saat Naru menyandarkan dagunya dipundakku. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat merambat ditubuhku. "it's nice,"ucapnya pelan.

"Naru,"aku berusaha menarik tubuhku. Namun tangan gesit Naru menariknya kembali.

Dengan lembut, Naru melingkarkan kedua lengannya ketubuhku, memelukku dengan erat. "really nice,"ucapnya lagi dengan nada lega.

Aku menekan lukanya dengan lebih keras hingga dia berteriak kesakitan. "kau pikir aku bisa kau bohongi begitu saja. Jelas-jelas ini bukan kecelakaan kecil," ucapku kesal.

Naru justru tertawa kecil mendengarnya. Aku menatapnya dengan tak mengerti. "just like what I said. Our Tink is already grown up,"komentarnya sambil menatapku lekat-lekat.

"aku bukan anak kecil lagi. Kau harus tahu itu,"balasku sambil terus membersihkan lukanya dengan hati-hati. Aku ikut mengernyit menatap luka diwajah Naru. Rasanya, aku ikut merasakan perihnya.

Gerakanku melambat saat menyadari tatapan Naru yang sejak tadi tak beralih dariku. Aku balas menatapnya dan senyuman tipis muncul dari bibirnya. Senyumnya yang begitu kurindukan. "Maaf,"ucapnya. Aku mengerutkan dahi mendengarnya. "Maaf. Aku selalu membuatmu sedih. Aku hanya bisa membuatmu menangis. Aku hanya bisa membuat masalah buatmu dan tak tahu harus melakukan apa."

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapannya yang tiba-tiba. Aku berusaha senyum untuk menetralisir suasana. "selama kau masih ingat untuk minta maaf, aku tak masalah," ujarku berusaha tertawa untuk mencegah keheningan

.

TBC