Love, Love, Love
.
.
.
.
.
Warning: Yaoi, boy x boy (boys love), OOC, Typo petak umpet, alur kecepetan.
Disclaimer: Semua cast milik Tuhan Yang Maha Esa. Cerita ini murni dan asli milik saya.
Chapter(s): 3
.
.
.
.
.
Setelah kejadian Kai yang menemani Sehun makan ice cream, Chanyeol semakin overprotektif menjaga Sehun. Chanyeol akan menemani kemana pun Sehun pergi, ke toilet sekalipun Chanyeol akan menemani Sehun. Dimana ada Sehun, sudah pasti disitu juga ada Chanyeol -kecuali jika Sehun dalam mode merajuk-. Berlebihan memang tapi itu Chanyeol lakukan untuk menjaga Sehun dan anak mereka atau mungkin juga karena Chanyeol ikut mengidam.
Waktu itu ketika perjalanan pulang selesai makan ice cream -dan jalan-jalan sampai sore- dengan Kai, Sehun tiba-tiba pingsan. Karena kelelahan dan itu yang membuat Chanyeol menjadi overprotektif. Sehun di rawat, di rumah sakit selama tiga minggu dan tidak boleh turun dari tempat tidur agar tidak guguran.
Bagaimana nasib Kai? Apa Chanyeol benar-benar mematahkan kakinya? Jawabannya tentu saja tidak. Heol, Chanyeol tidak mau masuk penjara karena kasus konyol seperti itu. Tapi sebagai gantinya Chanyeol sudah memberikan 'hadiah kasih sayang' untuk Kai. Manis bukan?
Sudah seminggu kepulangan Sehun ke rumah, itu membuatnya senang. Karena Sehun tidak suka dengan yang namanya rumah sakit, walaupun dulu ia sempat bercita-cita menjadi seorang psikolog.
Usia kandungan Sehun sudah memasuki bulan ketiga, masih trimester pertama -bulan terakhir di trimester pertama-. Morning sickness masih melanda dirinya dan mengidam.
Mari kita lihat, Oh Sehun -Park Sehun- mengidam seperti apa/?
"Sayang" panggil Sehun.
Ini hari sabtu tapi Chanyeol masih berkutat dengan pekerjaannya, nyebalkan.
"Iya sayang, ingin sesuatu?" Tanya Chanyeol. Matanya yang bulat seperti bulan purnama itu masih setia memandangi layar laptopnya.
Sehun membuang nafas kesal, menatap datar Chanyeol, dengan bibir tipisnya yang ia poutkan.
"Aku membencimu!" Sehun segera pergi dari ruang kerja Chanyeol.
Brak
Pintu yang tak berdosa itu menjadi korban kekesalan Sehun.
"Apa-apaan Chan hyung itu/? Lebih sayang garis-garis itu daripada aku dan baby. Menyebalkan." Gerutuh Sehun sambil berjalan menuju ruang santai.
"Merajuk eh? Biarkan saja nanti juga baik sendiri, hehehe" Chanyeol masih setia dengan pekerjaannya.
"Eomma... Nunna..." Panggil Sehun yang melihat eommanya -ibu Chanyeol- sedang menonton tv dengan Yoora nunna -kakak Chanyeol-.
"Hai sayang, sini duduk dekat eomma dan nunna." ajak mrs. Park.
"Hunnie, bagaimana kandunganmu? Sehat?" Tanya Yoora.
Sehun duduk tepat di tengah-tengah mrs. Park dan Yoora.
"Sehat, dan aku juga tidak perlu bedrest lagi." jawab Sehun berbinar.
"Syukurlah. Jangan terlalu kelelahan, ok?"
"Ok nunna."
"Dramanya sudah dimulai" ujar mrs. Park.
Mereka bertiga pun larut dalam drama.
.
"Hhh... Aku merindukan Sehunnie" gumam Kai.
"Apa aku ke rumahnya saja ya? Ehm ide bagus. Ah telefon Sehunnie dulu, siapa tahu dia ingin sesuatu." Monolog Kai.
Kai mengambil ponselnya lalu menekan tombol 1 -panggilan cepat untuk Sehun-.
"Tut... Tut... Tut..."
Klik -tersambung-.
"Yeoboseyo" sapa Sehun.
"Yeoboseyo. Sayang, kau dimana?" Tanya Kai.
"Dirumah" Jawab Sehun disertai isakan.
'Sehun menangis?'
"Sayang, kau kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Kai panik.
"Dia jahat Nini. Iya, aku menangis."
"Siapa? Chanyeol hyung?"
"Bukan. Ada apa Nini?"
"Aku kesana sekarang. Ingin sesuatu?"
Sehun mengangguk diseberang sana. Namun Kai tidak melihatnya -tentu saja-.
"Belikan yogurt rasa blueberry. Kripik kentang pedas, dan rilakkuma." Kata Sehun dengan isakannya.
"Hanya itu?"
"Iya hiks..."
"Baik. Jangan kemana-mana dan berhenti menangis."
"Ehm." jawab Sehun, disusul dengan sambungan yang terputus.
"Semoga saja Sehun baik-baik saja" gumam Kai.
Kai langsung mengambil dompet dan kunci mobilnya, lalu langsung melesat mencari pesanan Sehun.
.
"Sudah Sehunnie jangan menangis." Bujuk mrs. Park sambil mengusap air matanya yang menetes.
Yoora mengelus bahu Sehun yang bergetar.
"Tapi eomma, namja itu jahat. Bagaimana bisa dia memutuskan pacarnya demi sekertarisnya?" Tanya Sehun.
"Kalau yeoja itu aku, akan ku bunuh sekertaris genit itu." Sehun masih menangis.
"Sudah, sudah. Tidak baik seperti itu. Lagipula itu cuma drama sayang." Kata Yoora sambil mengelus rambut Sehun.
"Eomma... Nunna... Apa Chan hyung seperti namja itu?"
"Tidak sayang, Chanyeol bukan namja seperti itu. Eomma yakin." Jawab mrs. Park
"Benar Sehunnie. Chanyeol tidak seperti itu. Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak, itu tidak baik." Jawab Yoora.
"Tapi sekertaris Chan hyung seperti di drama itu eomma. Aku takut Chan hyung seperti namja itu. Aku takut Chan hyung meninggalkanku seperti di drama itu."
Sehun menunduk. Dia sudah tidak menangis lagi.
"Astaga. Itu tidak akan terjadi sayang, Chanyeol sangat mencintaimu. Bagaimana bisa dia seperti itu? Sudah jangan di pikirkan." Kata Yoora.
"Permisi nyonya, ada tuan Kai yang datang berkunjung." Kata salah seorang maid.
Kai mengikuti maid itu.
"Selamat siang" salam Kai sambil membungkuk hormati.
Maid itu langsung undur diri.
"Selamat siang Kai-ah." kata Yoora.
"Selamat siang nak. Ayo silahkan duduk." Kata mrs. Park.
"Selamat siang Nini" kata Sehun.
Kai ikut bergabung.
"Ini pesananmu, semuanya lengkap." Kai memberikan plastik belanjaannya. Sehun menerimanya dengan senyum manis dan tak lupa mengucapkan 'terima kasih'.
Dua orang maid datang menata minuman dan beberapa cemilan di atas meja, kemudian kedua maid itu undur diri.
"Silahkan di minum." Kata mrs. Park.
Kai menggumam 'terima kasih' lalu meminum jus jeruknya.
Yoora dan mrs. Park mengikuti Kai, sementara Sehun sibuk dengan yogurt dan ponselnya.
"Yeoboseyo." kata Sehun ketika mendengar suara seseorang di seberang sana.
"..."
"Irene-ssi apa kabar?" Tanya Sehun, dia meletakan yogurtnya.
Kai, Yoora dan mrs. Park menatap Sehun. Sementara yang di tatap memasang wajah poker face andalannya.
"..."
"Aku baik. Apa aku mengganggumu?"
"..."
"Irene-ssi, sebelumnya aku minta maaf. Kau di pecat."
Hening.
Kai tersedak minumannya, Yoora menatap tak percaya dan mrs. Park diam.
"..."
"Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan Irene-ssi. Kau tahu kan aku sedang hamil? Aku mengidam dan aku tidak suka melihatmu, maaf."
"..."
"Terima kasih atas pengertiannya, selamat siang. Semoga harimu menyenangkan" sambungan pun terputus.
Semuanya menatap Sehun dengan tatapan 'kau memecatnya?'
Seakan bisa membaca pikiran ketiganya, Sehun menggangguk samar.
"Aku mengidam dan tak ingin melihatnya di meja sekertaris." Jelas Sehun dengan muka polos bak anak kecil berusia enam tahun.
Ketiga menghelah nafas makhlum.
Orang mengidam itu unik.
.
Ini sudah masuk jam makan siang dan Chanyeol baru selesai dengan berkas-berkas dan grafik-grafiknya.
"Selamat siang." Sapa Chanyeol yang baru bergabung di meja makan. Disana sudah ada mr dan mrs. Park, Yoora, Sehun dan Kai.
Chanyeol duduk di sebelah Sehun, tak lupa mencium pipi Sehun.
Mereka membalas sapaan Chanyeol.
"Sudah selesai kencannya?" Tanya Yoora
"Sudah. Sayang, aku ingin jamurnya." Kata Chanyeol.
Sehun meletakan jamur tumis di piring Chanyeol, lalu mengambil ayam goreng dan soup jagung di mangkok soup Chanyeol.
"Masih merajuk ya?" Tanya Chanyeol.
Chanyeol menyuapkan nasi dan ayam gorengnya, lalu mengunyahnya dengan tenang.
"Tidak tahu. Oh ya, aku memecat Irene tadi"
"Uhuk"
Bagus Sehun, suamimu tersedak.
Yoora memberikan air minum untuk Chanyeol dan Chanyeol segera meminumnya. Sehun dengan wajah polosnya masih menikmati makan siangnya.
"Kenapa memecatnya?" Tanya Chanyeol.
"Aku mengidam dan tidak suka melihat Irene. Ya sudah, aku pecat saja." Jawab Sehun cuek.
Orang tua Chanyeol, Yoora dan Kai -yang notabenenya adalah sahabat Sehun- tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga Chanyeol dan Sehun. Mereka hanya akan menasehati saja, selebihnya itu urusan ChanHun. Seperti masalah seperti ini.
"Kita bahas nanti" kata Chanyeol.
.
"Lalu yang menggantikan Irene, siapa?" Tanya Chanyeol.
Saat ini Chanyeol dan Sehun sekarang sedang bersantai di gazebo yang terletak di taman rumah keluarga Park.
"Kai bisa menggantikannya." Jawab Sehun santai.
"Aku dan Kai itu partner kerja, sayang. Dan kita beda kantor. Kai juga seorang direktur di perusahaan ayahnya, jadi bagaimana bisa Kai menempati posisi itu di kantorku sebagai sekertarisku, hm?"
Chanyeol mengelus perut Sehun yang sudah memulai membuncit. Sehun menyamankan posisinya.
Sehun bungkam.
"Maaf hyung."
"Tidak apa-apa, aku mengerti sayang."
Chanyeol mencium bahu Sehun yang terekspos.
"Hyung tenang saja, nanti setelah baby lahir, Irene bisa kembali bekerja." Kata Sehun yang sudah merubah posisi duduknya menjadi menghadap Chanyeol, dengan lengan yang melingkar di leher Chanyeol. Sementara lengan Chanyeol memeluk pinggang ramping Sehun.
"Ya sayang."
Chanyeol mencium bibir Sehun, melumat bibir tipis itu dan di balas oleh lumatan-lumatan kecil oleh Sehun.
Chanyeol menjilat bibir Sehun, meminta izin untuk memasuki mulut hangat Sehun. Sehun membuka bibirnya, memberi akses penuh untuk lidah Chanyeol yang saat ini sedang mengabsen setiap penghuni mulut Sehun. Tak ada yang luput dari sapaan lidah Chanyeol.
Lidah Chanyeol mengajak lidah Sehun bertarung. Saliva mulai menetes diselah bibir Sehun, menuruni leher jenjang Sehun. Lidah mereka masih saling membelit, mendorong, menghisap satu sama lain.
Jari lentik Sehun mulai meremas rambut Chanyeol dan mendorong tengkuk Chanyeol. Tangan Chanyeol yang berada di pinggang Sehun, mulai meremas pinggang itu. Tangan kiri turun, meremas bokong Sehun. Membuat Sehun mendesah di sela-sela ciuman panas mereka.
Sehun menjambak pelan rambut Chanyeol, memberi isyarat untuk berhenti dan Chanyeol melepas ciuman panas mereka. Benang saliva menjadi saksi betapa panasnya ciuman mereka.
"Aku mencintaimu." Kata Chanyeol tepat didepan bibir Sehun.
"Aku juga mencintaimu." Kata Sehun diakhiri dengan kecupan manis di bibir Chanyeol.
"Aku ingin memilikimu, sekarang." Tangan kanan Chanyeol sudah berada dibalik baju Sehun. Mengelus punggung halus Sehun dengan pelan namun pasti, mengantar sengatan listrik imajiner untuk Sehun, membuat Sehun mendesah kecil. Pipinya merona hebat.
"Apa boleh?" Tanya Sehun.
"Sepertinya belum. Tapi aku sudah tidak tahan, demi Tuhan. Tiga bulan ini sangat menyiksaku." keluh Chanyeol.
Chanyeol mencium leher Sehun, menjilat, menghisap, menggigit kecil dan tercipta tanda kepemilikannya.
"Bagaimana dengan blowjob yang aku berikan setiap malam?" Tangan Sehun bermain di rahang tegas Chanyeol.
"Lebih hangat didalammu, daripada dimulutmu sayang. Aku sangat merindukanmu" Chanyeol mengelus nipple Sehun dari dalam baju.
Sehun mendesah.
"Aku juga sayang, maaf tidak bisa memuaskanmu."
Chanyeol mencium bibir Sehun. Ciuman yang penuh cinta dan kasih sayang bukan ciuman pembangkit nafsu. Karena demi neptunus, bagian selatan keduanya sudah keras daritadi tapi mereka menahannya, mengingat kandungan Sehun.
"Tak apa, aku mengerti meski berakhir dengan aku yang harus bermain solo. Itu sangat menyiksaku."
Sehun tertawa mengingat Chanyeol yang sering berakhir dengan bermain solo demi menuntaskan hasratnya.
"Senang eh? Dasar nakal." Chanyeol cium wajah Sehun dan itu membuat Sehun semakin tertawa.
"Hahaha... Ampun hyung. Hahaha..."
Chanyeol pun menghentikan kegiatannya.
"Ngomong-ngomong, adikku masih keras dibawah sana." Kata Chanyeol menatap Sehun.
Pipi Sehun makin merona dan menjalar sampai telinganya.
"Mesum." kata Sehun diakhiri dengan tepukan pelan di dada bidang Chanyeol.
"Tapi kau suka kan?"
"Ti-tidak."
"Benarkah?"
Sehun mengangguk.
"Tapi adikmu sama kerasnya dengan adikku." Chanyeol mengelus bagian selatan Sehun.
Skakmat!
Sehun langsung menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Chanyeol membuat Chanyeol gemas dengan tingkah Sehun. Ah betapa menggemaskan suaminya ini?
"Ayo ke kamar. Aku sudah tidak tahan."
Chanyeol mengecup telinga Sehun lalu mengulum cuping telinga Sehun.
Sehun mendesah, matanya terpejam erat.
Chanyeol menggendong Sehun ala koala hug dan membawahnya ke kamar.
.
.
.
.
.
Tbc
Thanks to:
exobabyyhun/ / Dazzling Kaise/ exolweareone9400/ izz. Sweetcity/ Zelobysehuna/ bottomsehunnie/ Chanhunshipper/ babyhunhun94/ PhantomCybercrime/ sweetkookie/ Rafra/ WuSehunLu/ mufidz/ YoungChanBiased/ mokpochoi96
A/N: Gimana? Masih pendek? Maaf.
Selasa, 15 September 2015
Hanhyewon357
