Didn't Know But It Was Love
.
Akai with Azul
.
T
.
Screenplays!Chanbaek/ Chenmin/ Sulay/ Kaisoo/ Hunhan with our favourite OTP KRISTAO
.
Fluffy Romance
.
Yaoi/ BL/ Be eL/ Boys Love/ Alternative universe with typo(s)
.
No like, don't read!
.
Summary! :
Ini adalah kumpulan kisah cinta yang mungkin; biasa terjadi bagi kalian. Atau paling tidak, kalian berfikir seandainya itu bisa terjadi pada kalian bersama – sama dengan orang yang kalian sayangi. Kisah percintaan para remaja yang terjadi apa adanya di dunia nyata. Berminat mengikuti kisah kedua belas remaja beragam usia dan profesi ini...? :D
|warning! Cerita nggak sesuai dengan judul :3 |
.
.
.
.
Chapter 3 :: Didn't know but it was love; Object
.
.
.
.
Kakinya melangkah tanpa beban.
Menapaki jalan setapak bebatuan menuju tempat yang dijanjikan seseorang. Senyum manis terpahat di wajahnya, menyapa orang – orang yang kebetulan melewatinya dan menyapa dunia. Ah, memang dia adalah sosok yang ramah.
Terkadang, bibirnya bersiul menyanyikan lagu didn't know but it was love-nya Kajiura Yuki; dia berpikir jika isi lagu instrumen dan isi hatinya yang sedang berbunga – bunga adalah sama. Anak rambutnya yang berwarna coklat tua menari – nari bersama anak angin yang berkenalan dengan dirinya, tak lupa ikut bersentuhan dengan kulit yang tidak terlindungi pakaian simpel namun modis khasnya.
"hai, tampan..." goda salah satu gadis yang lebih tua darinya.
Pria yang bekerja sebagai fotografer di salah satu majalah mode terkenal hanya membalas dengan anggukan—dan kalau dia sedang ingin mengerjai para penggodanya, dia akan menambah kedipan mata yang membuat orang itu memekik histeris.
Ah, resiko orang yang rupawan memang amat kuno—mengikhlaskan diri untuk mendapat godaan walau kau telah memiliki pasangan.
Jika kelereng matanya menangkap pemandangan yang dirasa bagus, maka kamera hitam besar yang menggantung di lehernya akan ia gunakan. Pria tampan ini akan berhenti sejenak untuk mengabadikan momen indah di kameranya. Mencari posisi tepat dan sudut pandang yang indah agar momen itu terlihat luar biasa meskipun hanya momen sederhana.
Setelah itu, ia akan tersenyum puas. Lalu melangkah ke orang yang ia jadikan objek foto dan berkata bahwa foto itu akan ia cetak dan ia kirimkan kepada objek fotonya secara cuma – cuma. Itu adalah hobinya sebelum ia mendapat pekerjaan tetap sebagai fotografer.
Ah, sudah tampan, ramah, baik hati pula.
"kalau begitu, apa kau yakin..?" tanya seorang kakek tua yang sedang memeluk cucu tercinta. Kakek tua itu tampak senang ketika ada seseorang asing yang datang padanya dan mengatakan akan mencetak foto dirinya dengan sang cucu dan mengirimnya secara cuma – cuma.
Pria di hadapan kakek itu mengangguk. "ya. Saya yakin kok, kek. Jadi, dimana alamat rumah anda...?" pria itu mengeluarkan buku note kecil dari saku rompi denim biru lautnya, lalu mengeluarkan pulpen dari kantung celana. Kakek itu hanya tersenyum, lalu memberi tahukan alamatnya.
Setelah pamit, pria itu segera pergi karena sebentar lagi waktu yang dijanjikan akan tiba. Waktu dimana ia bertemu dengan kekasihnya yang telah kembali dari pendidikan S2nya di Austria.
Akhirnya, setelah ia dan sang kekasih melakukan hubungan long distance relationship, ia bisa bertemu dengan pujaan hati tercinta. Pujaan hati yang tersemat di hatinya hingga tak seorangpun dapat melengserkan keberadaan kekasihnya di hatinya.
Tak seorangpun, sebab dia percaya bahwa kekasihnya pun tak akan melirik ke orang lain—pasangan yang saling percaya dan sama – sama bertipe setia.
Berjalan dengan sedikit tergopoh – gopoh begitu ia melihat sosok sang kekasih sedang duduk manis di bawah pohon tempat mereka pertama kali bertemu. Bola matanya berkilat – kilat bahagia, hatinya berdetum – detum tak sabaran untuk bertemu dengan belahan jiwanya.
Tampak di mata coklat, bahwa kekasihnya sedang mendengarkan musik lewat earphone yang tersemat di sepasang telinga di balik rambut berwarna coklat madu. Mata sang kekasih menatap kearah depan, kearah air pancur yang sedang beratraksi indah di siang menjelang sore ini. Rona pipinya mulai tampak dimata pria berwajah ramah, membuat pria itu terkekeh kecil dan merasa segera untuk mengecup ringan bongkahan kembar merona itu.
SPLASH!
Bunyi kamera memang tidak terdengar oleh kekasihnya, namun blizt yang diciptakan kamera digital yang keluar dari kantung rompi persembunyiannya tertangkap oleh retina sang kekasih.
Kekasih manisnya itu menoleh ke kanan, lalu menatapnya polos dengan berkedip sebanyak dua kali. Kemudian di detik setelahnya, wajah manis lelaki sang pujaan hati tampak cemberut—merajuk, hingga ia membuang pandangannya kearah lain.
Kedua tangannya terlipat di dada dan kakinya menyilang; terlihat sekali jika dia sedang marah—benar – benar sedang merajuk lebih tepatnya.
Pria itu terkekeh lembut. Lalu mengambil posisi untuk duduk di sebelah kanan lelaki yang sedang merengut lucu. Mendekatkan jaraknya, lalu mencuri kecupan di salah satu pipi. Membuat lelaki yang menjadi objek kecupannya menoleh kasar lalu mencubit tangan yang melingkar di pinggannya.
"dasar mesum."
"aku rindu padamu. Bukan mesum."
"tapi bukan berarti kau harus melakukannya di sini, 'kan?"
"lalu dimana?" pria fotografer itu mengerling sekali. "kau mau aku melakukannya di sebelah mana bagian tubuhmu?"
"dasar mesum! Mesum! Mesum! Jadi selama aku pergi, kau bertambah semesum ini?!"
lelaki manis itu memekik rendah agar orang – orang yang berada di taman umum itu tidak menoleh kearahnya. Tak lupa dengan kedua tangannya sambil mencubit lembut pipi pria fotografer itu. Menimbulkan tawa yang mengalun manis darinya.
"anggap saja itu bukti karena aku rindu padamu, sayang."
Dilepaskan tangan ramping yang pas di sela tangan pria fotografer itu, lalu bersidekap dengan melirik tajam kearah pria tampannya. Bibirnya mengerucut dan setelahnya kedua pipi yang merona itu menggembung imut.
SPLASH!
Membuat pria fotografer itu tak tahan untuk mengabadikan tingkah menggemaskan kekasih hatinya. Tak respon yang di dapatnya adalah pekikan kekesalan dan cubitan di perutnya. Pria itu meringis kesakitan, tapi setelahnya terkekeh dan mengecup pucuk hidung sang kekasih.
"aku 'kan sudah bilang, jangan menjadikanku objekmu! Pose itu 'kan kurang bagus untuk kau jadikan objek kameramu, tuan!"
"hehe.." memeluk kembali pinggang pria manisnya dan mendekatkan tubuh mereka.
"sedang apapun dirimu, kau tetap manis, sayang. Kau tetap manis. Dan itu bukan objek yang kurang bagus—justru itu objek yang terlalu sempurna untuk kulewatkan."
Berhasil. Ucapan itu berhasil menambah semu di pipi lelaki manis yang pria itu peluk.
"aku tidak mau tahu," kepala lelaki manisnya itu bersembunyi di ceruk lehernya. "pokoknya kau harus menghapus dua foto yang kau ambil diam – diam tadi! Arra..?!"
"daripada kau marah – marah terus dan memikirkan hal yang tidak penting, coba kau pikirkan aku saja."
Bisik pria fotografer itu. Membuat lelaki manis yang menyembunyikan wajah di ceruk lehernya menampakan diri. Menatap bola kelereng yang memandang penuh sayang padanya. Membuat hati dua insan yang bermesraan memanjakan kerinduan yang mereka tahan selama ini di bawah pohon jauh dari keramaian itu berdetak seirama.
"apa kau tidak merindukanku, Yi xing...?"
Lelaki manis itu menggeleng dan memasang wajah memelas. Bibirnya mengerucut sedikit. Lalu, dengan singkat kedua tangan pria manis yang semula berdiam diri diatas perut pria tampannya menjalar menuju leher. Membuat jarak mereka terlihat dekat dan terasa intim.
Deru nafas mereka pun mengenai masing – masing lawan pandangannya.
"aku merindukanmu. Sangat merindukanmu Joonmyun gege.." bisik lelaki manis itu tepat di hadapan bibir prianya.
Dan sepasang bibir menyatu dalam kecupan salam pertemuan kembali mereka. Terlihat serasi dan pas seperti potongan puzzle satu sama lain. Menyalurkan kerinduan yang membuncah, dan meletup – letup seperti kembang api. Memeluk tubuh seseorang yang mereka rindukan keberadaannya—
—dan seseorang yang menjadi objek pusat pikiran dan hati mereka.
.
.
.
.
[Object :: Sulay side; the end]
.
[To be Continued]
.
.
.
.
A/N :
Hanya saran, tapi sepertinya saat membaca fic ini sambil dengarkan instrumen didn't know but it was love-nya Kajiura Yuki, ne..?
Halooo~~ XD
Ya ampun, sudah berapa ratus hari ya, Al nggak ngepost ff ini..? (QAQ)" maafkan Al~~ *bowing* Dan nggak nyangka, ada yang suka juga dengan ff rated T-nya Al, Al pikir bakal diabaiin. (TT_TT) *terharu*
Bicara soal rated T apa lagi yang fluffy, ternyata Al justru lebih gampang buat ff rated M, ya.. :D *dzigh!* habisnya susah banget nyari momen yang fluffy tapi nggak menjurus ke gombal – menggombali.. (QAQ)
Tapi ya sudah, anggap saja itu tantangan! Hahahahaha.. *ketawaalapahlawanbertopeng*
Terus, bagian mana yang kalian sukai..?
Al suka pas si neneng Yi xing berbisik tepat di depan bibir aa Joonmyun! Hehehe.. intimate banget! XD
Then jaa,
Want to review..?
(pst! Karena aku posting 2 chapter sekaligus, berarti aku boleh minta double review, dong~? :D)
