Escape

Part 3

Disclaimer : I do not own Vocaloid

Warning : Gajeness, Abalness, OOC, OOT maybe? (?), Typo(s) & MissTypo(s) berserakan dimana–mana (?), Alur ga jelas, Pemula, Don't Like don't Read, ne ~!

Summary : Aku benci Tuhan. / "Entah.. saat ini, aku harus sedih atau—bahagia."; Tolong, jangan jadikan pertemuan ini yang terakhir!

A/N

… Halo Minna-chan! QuQ/ (?)

Yap, Escape part 3 hadir! Berhubung Fic yang Fear at the Museum bikinan kita ber-3 dan Terulang atau Dimulai bikinan Author Micchan yang top markotop berhasil (?) di publish, jadi .. Aku ikutan boleh kan? OuO /Pluk

(Rue : Silahkan lihat karya kami yang lain, Kami pun juga akan sangat senang bila mendapat Reviews dari reader dan para senpai sekalian) Nii-chan penyakit formalnya kambuh .. o.o

(Misa : Yup, setuju sama ruepyon! :3 Kami akan sangat senang jika karya kami di Review oleh para readers serta senpai sekalian~ Jadi, mohon kesediaannya :3 ) Yup ~ Yup~ Mohon kesediannya ~! /Bows

(Akaito : Jangan menuhin A/N woi) Oh iya-iya maap bang QuQ Nah—

Here we go ~!

.

.

.

Rin meletakkan handphone-nya di kasur. "Akan ku coba besok, sepulang sekolah." Ujarnya pada diri sendiri.

.

.

Dan kuharap .. Aku bisa

[At School]

Seorang gadis yang mempunyai iris mata Azure itu menatap pintu kelasnya dengan ragu, Lalu dengan gerakan yang amat perlahan, ia menyentuh pintu itu dan menggesernya.

"Ohayou."

Semua mata tertuju padanya; Seorang gadis mungil bernama Rin Kagamine, ini. Rin tak membalas tatapan mereka, karena menurutnya itu tak perlu. Ia melangkahkan kakinya masuk ke kelas. Tapi, belum sempat ia menggapai tempat duduknya, Seorang anak menghadangnya. Ah, sudah biasa

"Well.. well, Rin Kagamine, huh? Sedang apa kau ada disini? Pura-pura menjadi kuat hah? Nyadar diri dong! Semua keluargamu sudah Mati! Kenapa kau tak ikut mati juga? Menyesakan!" Seorang anak berambut pendek berwarna coklat menatap Rin sinis. Rin tak menanggapinya; ia hanya menunduk dan beraharap ini semua selesai.

"Meiko, Kau terlalu kasar kepadanya, Kasihan dia. Dia kan sedang depresi karena kematian adik satu-satunya itu. Bukankah lebih baik—" Seorang anak perempuan lainnya maju, Ah, itu Neru, Batin Rin.

"—Bukankah lebih baik .. Kita membunuhnya saja? Biar dia bisa bertemu adiknya lagi~ Itu hal bagus bukan?" Seringai Neru. Meiko mengangguk tanda setuju, "Ide yang bagus!" . Sontak Rin mundur ketika Neru mulai mencondongkan sesuatu dilehernya. Sebuah .. silet. Ah, pasti silet yang sangat tajam ya?

"Jangan jadi pengecut kau!" Terdengar suara lengkingan Kasane Teto. Ia menatap Rin tajam seakan Rin adalah mangsanya. "Aku tak pengecut," Ujar Rin dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Aku tidak seperti kalian—yang pengecut. Mainnya keroyokan, bukankah itu pengecut?" PLAK! Sebuah tamparan mendarat dengan indah di pipi Rin. "Sialan kau!" Bentak Meiko dan mendorong Rin dengan kasar ke lantai. "Mati sana! M A T I!"

"Hentikan Meiko, Guru sedang menuju kesini." Sebuah suara berat menghentikan tindakan Meiko yang—pastinya—akan bertambah parah. Rin mendongakkan kepalanya, dan menangkap seorang anak laki-laki dengan syal berwarna merah melilit dengan setia di lehernya. Akaito Shion, Batin Rin, Dia si ketua kelas itu kan?

"Gah! Menyebalkan!" Meiko menginjak kepala Rin dan duduk di bangkunya. Syukurlah sudah selesai, Dengan lega Rin berdiri, namun belum sempat ia duduk di bangkunya, Akaito menarik tanganya ke luar kelas. Ah, Ada apa lagi sekarang?

Akaito menarik Rin menuju UKS. Apa aku akan dibunuh disini? dengan alat-alat medis? Tebak Rin asal. Oh, mungkin saja kan?

"Minum ini." Akaito memberi Rin semacam—obat? "Tak perlu, Aku tidak sakit." Rin menepis obat pemberian Akaito dengan kasar. Akaito memandang Rin dengan tatapan datar, lalu ia berdiri, "Kalau begitu pulanglah, Istirahatlah di rumah." Ujarnya seraya keluar dari pintu UKS. Rin menghembuskan nafas pelan, "Terserah apa katamu."

Namun, tanpa Rin—dan mungkin Akaito—sadari, Ada sebuah senyuman tersinggung di bibir seseorang yang sedaritadi berada disana.

.

"Tadaima." Rin mendorong pintu rumahnya perlahan. Lalu ia berhenti, dan mengepalkan tangannya. Tak ada Len yang selalu menyambutnya seperti biasa; Seperti 1 tahun yang lalu. Tersenyum, dan menghiburnya. Tak ada lagi. Semua berubah dan—berbeda. Rin melangkahkan kakinya masuk dan menuju ke kamar. Tiba-tiba ia ingat akan sesuatu. Handphone-nya, Dunia maya-nya. Ah, Adakah orang yang menyapa ku disana? Batin Rin. Ia penasaran dan juga—ketakutan. Harus kah ia melihat dunia barunya? Tapi.. Ah, Rin terlalu takut jika ia mendapati kenyataan tak akan ada seorang pun yang akan menyapanya. Ia takut semua orang mengabaikannya; seperti di dunia nyata-nya.

"Baiklah, A-aku .. akan mencoba." Rin menarik nafas panjang. Aku bisa, Aku yakin aku bisa, Kata sederhana dengan intonasi datar itu berhasil menaikkan sedikit semangat Rin. Jari lentik Rin kemudian dengan lincah menekan tombol-tombol yang tertera rapih di handphone-nya.

FriendsTalk

Tulisan berwarna aquamarine itu berhasil membuat Rin berdebar bukan main. Dunia maya yang berhasil ia temukan itu berupa situs chatting. Rin sudah melakukan segala yang diperlukan. Ia sudah mendaftarkan diri disana, membuat status, dan mengganti ava profile-nya. Tapi tak bisa ia sembunyikan kenyataan bahwa ia gugup dan belum siap. Tuhan, berikanlah aku sebuah keajaiban saat ini, aku—mohon. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Rin menggulir tombol track-ball nya kebawah sambil—menutup matanya.

1

2

3

Mata Rin terbuka. Setelah menangkap gambaran di layar handphone-nya, Sebuah senyuman tipis tersinggung di bibirnya.

Aku benci Tuhan.

Rin melempar Handphone-nya ke sembarang arah. Ia tak perduli jika handphone-nya pecah atau rusak. Atau bahkan tak dapat diperbaiki selamanya. Amarah dan kebencian terlanjur membakar semua indra yang dimilikinya. Aku benci—Tuhan. Tuhan itu jahat, dia yang telah mengambil Len—dariku. Dan dia tak pernah memberi kisah hidupku sebuah kisah yang bahagia; seperti kisah remaja lainnya. Dan ini .. tidak adil! sama sekali tidak adil!

Rin menatap sekeliling, berharap menemukan sesuatu yang mungkin cocok untuk dirinya saat ini. Lalu matanya tertuju pada satu benda, benda yang sederhana dan tak berharga; Pecahan kaca. Ah, cocok sekali bukan? Dengan senyum yang mengerikan, Rin perlahan maju dan mengambil pecahan kaca itu. Dalam hitungan ke tiga, Aku akan menemuimu Len, Aku akan terlepas dari semuanya; Dunia ini, dan orang-orang yang berada didalamnya. Bukankah itu bagus? Mari kita hitung sampai 3 Len!

1

2

3—

"—Drrrrt!" eh? Rin mengalihkan pandangannya dari pecahan kaca yang ia pegang. Suara apa itu? getaran? Jangan-jangan .. Dengan cepat dan—sedikit—terburu-buru, Rin berusaha mencari keberadaan handphone-nya. Di pelupuk matanya tergenang sebuah air mata yang ia tahu, akan jatuh dengan segera. Hatinya menjerit, berharap harapanya terkabulkan. Dan, Rin menemukanya; handphone-nya yang ia cari. Cepat-cepat ia menyalakan layar handphone-nya sambil terus berharap. Setelah iris mata Azure-nya menangkap apa yang ada di layar handphone-nya, Rin menemukan dirinya menangis, "Entah.. saat ini, aku harus sedih atau—bahagia."

/

Mikuo_Hatsu32

Hai! Pendatang baru ya? Selamat datang di situs ini! Mohon bantuanya! Aku Hatsune Mikuo!

Sign, Mikuo_Hatsu32

/

"Orang pertama dan kuharap, bukan yang terakhir.."

.

.

To be Contiuned!


A/N

Pendek, Alur ga jelas, Typo, OOC meraja rela di Fic ini ;w;

Yak, part 3 akhirnya berhasil diselesaikan.. Semoga menghibur para readers semua!

(Rue : Ada saya o,o *Nunjuk tulisan Mikuo*)

(Mikuo : .. Seenaknya kau mengaku jadi aku! Piso mana Piso?) W—wah sabar Mikuo-kun QuQ"

(Misa : #Pisahin Mikuo ama Rue == Berantem itu dilarang Near! Dx *Lho?)

(Akaito : *Sigh* dasar Author gajhe) A-apa ..? Author gajhe..?

(Akaito : Hn, salah satunya kau *datar*) … Aku Author gajhe.. Aku Author Gajhe.. /pundung/

(Misa : Akaito ngajak ribut ==" S-sacchan bukan Author gajhe kok ^^") …. /pundung

(Akaito : Dasar merepotkan, Nah RnR minna? And No Flame!) Waa! C—chotto matte! Pertama-tama, Ijinkan saya membalas review para senpai dan readers dulu QuQ

(Akaito : Silahkan *NgemilCabe(?)*)

Ok, saatnya membalas Review~! /SemangatLagi (?)

The Jigoku Shoujo

Walah .. ternyata saya memang kurang jeli ya senpai .. Padahal udah lihat dari awal sampe akhir ternyata masih ada lagi.. Itu pun yang paling memalukan kesalahannya pas jawab Review QuQ

Ah, makasih informasinya senpai! Sebenarnya saya juga masih bingung tentang yang titik koma itu, Informasi senpai sangat membantu! Arigatou! Waii .. ada kesalahan baru lagi .. huix .. /Tepar/ Semoga saja, di fic ke 3 ini, kesalahan yang di chap dulu tidak terulang lagi atau berkurang QuQ

Dan .. tentu saja, Terimakasih sudah mau melihat perkembangan saya dan telah setia mereview fic ini dari chap 1 ! Arigatou! /bowsbowsbows/

(Rue : Sakur kalau lihat review dari senpai langsung loncat" sama teriak" ga jelas loh o,o) N-Nii-chan! Pergi"! Syuh Syuh! /dor

(Misa : Sacchan jangan begitu =w=" Ruepyon kan hanya memberitahukan sebuah kenyataan oAob ) T-Tapi kan.. QuQ

(Rue : Yaudah, Bales Review yang lain sana o,o) …Nyuruh OTZ

Hikarin Shii-Chii

Ok, kupanggil Hicchan ya~ u (Rue : Kupanggil Hikarin-chan boleh?) (Misa : Aku panggil Hika-chii ya? :3)

Bener sampe pgn nangis? Wah .. Keinginan saya membuat Fic yang bikin readers nangis hampir tercapai ya .. ;w;

Waah sama kyk Rin ya? 8D (Rin : Kita sama yey! #Tossu)

Siip Siip, Chap 3 sudah update nih! Semoga menghibur ya :D dan Arigatou telah setia me-review dari chap 1! Arigatou Arigatou~ /BowsBows

Miki Abaddonia Lucifen

Hehe habisnya terlalu semangat ^^"

Sacchan? Boleh kok boleh x3 (Rue : Sakur aja *Plak) (Misa : Ruepyon ==" /TendangRue)

Wah maaf bikin Len meninggal .. ;w; *Kasi Tisu (?)*

Arigatou! Semoga di chap 3 ini makin menghibur ne~ dan Arigatou juga telah me- review fic saya dari chap 1! Hontou ni Arigatou! /BowsBowsBows

Selesai .. /PundungLagi

Oh iya, hampir lupa, maaf disini Meiko, Neru dan kasane teto jadi pemeran antagonis .. Saya ga bermaksud menjelek"an mereka kok .. Maaf ya /PundungLagi (?)

(Rue : Sakur hobi pundung)

(Misa : Akaito, tanggung jawab sana! ==)

(Mkuo : baiklah, Sacchan, kau mau sup negi? Enak loh!)

(MiRu : Bukan elu Mikuoo ! *GebukMikuo*)

(Akaito : Abaikan Author ga jelas itu, Nah, RnR minna ? and No Flame ! )

(Rin : Eh .. Kok aku jadi pendepresi disini yah? Lennya mati lagi! Author tanggung ja—Lho? pada kemana?)