Genre : Romance/Hurt/Comfort

Disclaimer : Cerita asli buatan sendiri jika ada kemiripan dengan cerita lain mohon maaf...

Summary

Apa kamu percaya bahwa vampire itu ada? Aku Kagamine Rin dulunya sangat tidak percaya pada vampire. Tapi itu semua berubah sejak aku semakin mengenal Kagami Len. Kehidupanku yang tenang mulai berubah sejak aku berhubungan dengan Len...

.

.

.

.

.


Sequel

Happy reading...

Beberapa hari setelah Rin mengiakan permintaan Len untuk mengubahnya menjadi vampire saat ini Rin sedang menyelesaikan masalahnya sebagai manusia. Dan hampir semua masalah sudah dia selesaikan hanya tinggal satu masalah, sejak hari itu dia belum menyelesaikan masalahnya dengan anikinya. Sekarang Rin sedang berdiri didepan pintu kamar anikinya dengan perasan bimbang dan bingung, apakah dia harus menceritakan tentang Len pada anikinya?

Setelah berpikir matang-matang akhirnya Rin memutuskan akan menceritakan yang sebenarnya pada anikinya. Dia tidak tahu akan seperti apa respon dari anikinya mengenai hal ini. Tapi yang pasti dia akan membuat anikinya itu percaya padanya.

"Ni-chan... aku masuk ya" Rin segera membuka pintu kamar anikinya dan memasukinya. Saat memasuki kamar itu Rin dapat melihat anikinya yang sedang memandang bulan dari jendela kamarnya.

"Ada apa Rin?" tanya Rinto tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan yang tampak indah hari ini.

"Ni-chan... go-gomenne" ucap Rin lirih yang masih dapat didengar oleh anikinya.

"Kenapa kamu harus minta maaf Rin" ucap Rinto sambil menatap mata imoutonya.

"Tapi aku sudah berkata yang tidak-tidak pada Ni-chan bahkan aku juga sudah mengatakan kalau aku membenci Ni-chan tapi sebenarnya aku sama sekali tidak membenci Ni-chan, aku sangat menyayangi Ni-chan" ucap Rin dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dia sangat merasa bersalah terhadap anikinya.

"Ini bukan sama sekali bukan salahmu Rin, mungkin Ni-chan memang yang terlalu berlebihan waktu itu. Lagi pula Ni-chan sudah melupakan itu, jadi Rin jangan menangis donk" Rinto menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah mulai mengalir menuruni pipinya yang mulus itu.

"Hiks... tapi Ni-chan..." sebelum sempat berbicara lagi jari Rinto sudah menghentikan perkataannya dengan menempelkan jarinya pada mulut Rin.

"Sudah kukatakan ini bukan salah Rin dan Ni-chan sudah melupakan hal ini mengerti!?" Rinto tersenyum sambil membelai rambut Rin lembut.

"Hiks... Ni-chan" begitu melihat senyuman dari anikinya langsung saja Rin memeluk anikinya itu.

Selama beberapa hari tidak saling berbicara dengan anikinya Rin benar-benar merindukan saat bersama anikinya itu. Rinto mengeratkan pelukannya pada imoutonya, dia juga benar-benar merindukan imoutonya. Itu. Setelah merasa tenang Rin melepaskan pelukannya dan dia berpikir mungkin ini saatnya Rin menceritakan tentang Len, walaupun dia juga merasa sedikit tidak yakin akan hal ini tapi dia harus tetap menceritakannya.

"Ni-chan percaya tidak dengan vampire?" tanya Rin dengan hati-hati pada anikinya.

"Apa maksudmu Rin? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang hal aneh seperti itu?" tanya Rinto bingung.

"Sudah jawab saja Ni-chan"

"Hmm... kalau km bertanya tentang itu sih, Ni-chan antara percaya dan tidak percaya. Memang ada apa Rin?"

"Ti-Tidak ada, hanya ingin tahu saja. Lalu kalau misalnya aku punya pacar menurut Ni-chan gimana?" Rinto yang mendengarkan hal itu terdiam membuat Rin yang sudah gugup menjadi semakin gugup saja.

"Kamu sudah punya pacar Rin?" tanya Rinto dan Rin hanya bisa menganggukkan kepala.

"Sejak kapan kamu pacaran Rin? Dan dengan siapa kamu pacaran?" Rinto memeggang kedua bahu imoutonya itu, dia benar-benar tidak menyangka imoutonya itu sudah mempunyai seorang pacar.

"Eh... ano sebenarnya sudah selama beberapa hari ini aku berpacaran dengan Len teman sekelasku" ucap Rin sambil mnenyembunyikan rona merah diwajahnya.

"Len? Kamu yakin dia orang yang baik untukmu Rin?" tanya Rinto yang merasa tidak yakin dengan orang yang berpacaran dengan imoutonya itu.

"Bagiku dia adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal Ni-chan" Rin menatap anikinya dengan pandangan mata yakin.

"Hah... kalau kamu memang bilang begitu baiklah, tapi kalau sampai aku tahu dia membuatmu menangis aku tidak akan tinggal diam" Rinto melepaskan peggangannya pada bahu imoutonya tapi hal itu terhenti saat dia mendengar gumaman imoutonya.

"Vampire... Len adalah vampire, Ni-chan..." Rinto yang mendengar hal itu tentu saja sangat terkejut bukan main.

"Va-Vampire?" tanya Rinto tidak yakin dengan hal yang baru saja imoutonya katakan.

"I-Ia, sebenarnya Len adalah Vampire. Ta-Tapi aku ingin tetap bersamanya karena itu aku ingin sekali menjadi vampire seperti Len" Rinto sama sekali tidak pernah menyangka imoutonya itu akan mengatakan hal gila seperti ini padanya.

"Kamu jangan gila Rin. Mana mungkin Ni-chan membiarkanmu berubah menjadi vampire"

"Aku mohon Ni-chan izinkan aku bersama dengan Len dan merubah diriku menjadi vampire" Rin terus memohon kepada anikinya dengan air mata yang sudah kembali mengalir dari mata indahnya.

"Ck... baiklah Rin. Tapi berjanjilah kamu akan hidup dengan bahagia dan tidak melupakan anikimu ini janji?" Rinto menghapus air mata imoutonya dan kemudian memeluknya dengan sangat erat.

"Ia aku janj dan Ni-chan arigatou" Rin tersenyum lembut dalam dekapan anikinya.

Rin baru saja selesai membersihkan dirinya saat dia memasuki kamarnya dan melihat Len yang sudah ada dikamarnya sedang duduk dipinggir tempat tidurnya. Rin menghampiri Len dan duduk tepat disampingnya.

"Len sejak kapan ka-..." kata-kata Rin terpotong saat Len tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat.

"L-Len a-ada apa?" tanya Rin bingung sambil membalas pelukan dari Len.

"Aku hanya sangat sangat merindukanmu Rin" ucap len sambil menenggelamkan wajahnya pada leher Rin.

"Mo... bukankah kita setiap hari bertemu disekolah, Len no baka" Rin tertawa kecil mengingat bagaimana manjanya Len saat ini

"Tapi saat itu aku tidak bisa bebas memelukmu seperti sekarang, aku benar-benar merindukan hangatnya tubuhmu dan harum tubuhmu Rin" tidak bisa dipungkiri sekarang wajah Rin sudah benar-benar merah.

"A-Apa kalau aku sudah menjadi vampire dan tubuhku sudah tidak hangat lagi Len tidak akan mencintaiku lagi?" tanya Rin sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Len.

"Apa yang kamu katakan Rin? Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun juga" ucap Len dan setelah itu dia mencium bibir Rin lembut.

"A-Arigatou Len" ucap Rin setelah Len melepaskan ciumannya dan Len hanya membalas dengan senyuman lembut.

"Jadi bagaiman kalau kita jalan-jalan sebelum aku mengubahmu menjadi vampire Rin?" tanya Len sambil menatap Rin.

"Eh... ki-kita mau kemana?" tanya Rin bingung.

"Setahuku besok malam akan ada festival tanabata. Bagaimana kalau besok kita kesana?" tanya Len sambil tersenyum lembut.

"Ah... ia aku mau Len" ucap Rin dengan mata yang sudah berbinar senang.

"Kalau begitu besok malam aku akan menjemputmu Rin dan... jangan lupa kamu harus menggunakan yukata yang manis Rin" bisik Len tepat ditelinga Rin membuat wajah Rin kembali memerah.

"I-Ia" jawab Rin gugup.

"Baiklah aku pulang dulu. Oyasuminasai Rin" Len mengecup sekilas kening Rin sebelum pergi meninggalkan Rin sendiri dikamarnya.

Saat ini Rin sudah bersiap mengenakan sebuah yukata panjang berwarna kuning cerah dengan dipadu gambar bunga sakura berwarna putih. Tidak lupa rambutnya yang biasanya dia gerai sekarang dia ikat rapi dengan pita berwarna putih dan diponinya terpasang jepit rambut berbentuk bunga sakura. Setelah Rin merasa yakin dengan penampilannya, dia segera menemui Len yang sudah menunggunya diluar rumah.

"Len... gomen membuatmu menunggu lama" ucap Rin dengan menutupi rona merah diwajahnya saat melihat penampilan Len yang juga mengenakan sebuah kimono dan dia terlihat sangat tampan saat mengenakannya.

"Ri-Rin..." Len yang melihat penampilan Rin wajahnya juga ikut sedikit memerak karena hari ini penampilan Rin menjadi lebih antik dan manis dari yang biasanya.

"A-Ano... Len ki-kita pergi sekarang?" setelah menenangkan degup jantungnya, Rin kembali berbicara.

"A-Ah... ia, ayo kita pergi sekarang" ucap Len sambil menarik tangan Rin lembut dan membawanya pergi menjauhi rumahnya sambil bergandengan tangan.

Rin dan Len sekarang sudah tiba ditempat festival diselenggarakan dan saat ini Rin dan Len sedang berjalan-jalan mengelilingi berbagai kios penjual dan permainan. Sesaat Rin berhenti berjalan saat mata indahnya menangkap sesuatu yang membuatnya tertarik yaitu sebuah boneka beruang besar berwarna putih yang merupakan sebuah hadiah dari sebuah stan tembak. Len yang menyadari Rin sudah tidak berjalan disampingnya lagi menghentikan jalannya dan menoleh kebelakang dan saat itu dia melihat Rin sedang diam termenung sambil memperhatikan sebuah stan tembak. Dan saat itu dia menyadari bahwa Rin pasti sangat menginginkan boneka itu.

"Rin kamu mau boneka itu?" tanya Len memastikan.

"E-Eh... ti-tidak kok" jawab Rin dengan sangat gugup.

"Hmm... kalau begitu, ayo kita lanjut lagi ketempat lain" ucap Len sambil tersenyum misterius.

"A-Ah... ia"

Saat ini Rin sedang menunggu Len disebuah taman yang tidak jauh dari tempat festival tadi diadakan. Entah apa yang dilakukan Len sekarang. Tiba-tiba saja saat Rin sedang memikirkan Len didepan matanya muncul sebuah boneka beruang besar berwarna putih yang sangat dia inginkan tadi. Rin mengambil boneka itu dan saat dia melihat ke arah belakang dia dapat melihat Len sedang berdiri dibelakangnya sambil tersenyum lembut.

"Le-Len i-ini?" tanya Rin bingung.

"Itu hadiah untukmu, kamu suka Rin?" Len membelai lembut kepala Rin.

"A-Aku sangat menyukainya Len, ariagtou"

"Hmm... doita Rin" ucap Len dan tersenyum melihat Rin yang tampak sangat gembira dengan hadiahnya.

"Ne... Len, hari ini langit tampak sangat indah ya?" tanya Rin sambil memandang langit malam.

"Hmm... kamu benar Rin" ucap Len yang juga sudah memandang langit malam.

Rin menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Len dan Len dengan senang hati mendekap tubuh Rin dalam pelukannya. Saat itu Len dapat memandang leher jenjang Rin yang tidak tetutupi oleh sehelai rambutpun.

"Kamu mengiginkan darahku Len?" tanya Rin seolah mengetahui isi pikiran Len.

"Bolehkah Rin?"

"Tentu saja,bukankah aku ini hanya milik Len" Rin tersenyum lembut kearah Len.

"Arigatou Rin"

Len mendekatkan kepala mereka dan Len mencium lembut bibir merah Rin yang menggoda itu. Tidak terlalu lama Len kembali melepaskan ciumannya dan mengarahkan kepalanya ke leher jenjang Rin dan matanya yang biasanya berwarna biru cerah itu mulai berubah menjadi merah terang. Len menancapkan taring miliknya dileher Rin dan mulai menghisap darah Rin yang baginya terasa sangat nikmat.

"Akh...Le-Len!" rintih Rin saat merasakan sedikit sakit dibagian lehernya.

Setelah merasa cukup Len melepaskan taringnya dan memandang Rin yang sudah terkulai lemas dalam pelukannya. Len segera mengangkat tubuh Rin dengan gaya bridal style.

"Le-Len..." Rin mengalungkan tangannya pada leher Len.

"Aku akan mengantarmu pulang sekarang Rin. Kamu tidur saja" Len memandang mata indah Rin yang sudah nampak sayu.

"Ia" Rin bergumam lirih sebelum mulai menutup matanya dan tertidur dalam gendongan Len.

Len mulai berjalan menuju kerumah Rin. Sebenarnya jika dia mau, dia bisa saja mencapai rumah Rin dalam hitungan menit saja. Tapi karena dia masih ingin lebih lama bersama dengan Rin akhirnya ia berjalan kaki biasa layaknya manusia biasa.

Begitu sampai dirumah Rin lebih tepatnya dikamar Rin. Len menidurkan tubuh Rin ditempat tidurnya dan meletakkan boneka pemberiannya disebelah Rin. Sebelum meninggalkan kamar itu Len menyelimuti tubuh Rin dengan selimut dan mencium lembut dahi Rin.

"Aishiteru Rin. Oyasuminasai" bisik Len ditelinga Rin sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu.

Saat ini Rin dan Len sedang berada diatap sekolah. Rin duduk bersandar pada bahu kekar Len dan Len mendekap tubuh Rin dalam pelukannya sambil menikmati angin yang bertiup pelan terasa nyaman bagi orang yang merasakannya.

"Ne... Len" panggil Rin.

"Ia Rin"

"Kapan kamu akan mengubahku menjadi vampire Len?" tanya Rin sambil menatap mata Len.

"Hah... nanti malam. Nanti malam aku akan mengubahmu menjadi vampire dirumahku Rin. Tapi apa kamu benar-benar yakin dengan hal ini Rin?"

"Kenapa bertanya seperti itu Len, tentu saja aku sangat yakin tentang hal ini." Ucap Rin dengan tatapan yakin.

"Bukankah aku sudah berjanji akan selalu bersama dengan Len selamanya dan hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa selalu bersama selamanya" lanjut Rin sambil menyentuh wajah Len dengan kedua tangannya dan tersenyum lembut.

"Rin... Hontouni arigatou"

"Sama-sama Len"

Malam ini Rin baru saja tiba dirumah Len. Sekarang dia sedang membereskan barang-barang miliknya dikamar barunya selama dia tinggal dirumah Len. Len tadi sempat mengatakan bahwa Rin akan tinggal bersamanya dalam beberapa bulan, karena setelah nanti dia berubah menjadi vampire dia harus mulai berlatih mengontrol dirinya terhadap keinginannya pada darah.

"Rin kamu sudah siap?"tanya Len sambil memasuki kamar Rin.

"Eh... Len, ia aku siap" ucap Rin yang sudah duduk dipinggir tempat tidurnya.

Len beranjak berjalan kearah Rin dan duduk disampingnya. Disamping itu sekarang Rin sudah benar-benar merasa gugup sekaligus takut membayangkan apa yang akan Len lakukan nanti untuk mengubahnya menjadi vampire.

Len mendekatkan pergelangan tangannya ke mulutnya dan tampa disangka-sangka ole Rin, Len melukai tangannya dengan menancapkan taringnya pada tangannya sendiri membuat darah mengalir dari lukanya itu.

"Le-Len!?"

"Rin minumlah darahku" Len mengarahkan tangannya yang terluka pada mulut Rin, sedangkan Rin hanya terperangah akan perkataan Len tadi.

"Ta-Tapi Le-Len ke-kenapa?"

"Darahku ini adalah darah murni, jika manusia biasa sepertimu meminum darahku maka kamu akan bisa berubah menjadi vampire" jelas Len.

"Ba-Baiklah" setelah itu Rin mulai meminum darah Len.

Setelah meminum darah Len, Rin tiba-tiba saja pingsan dan jatuh dalam pelukan Len. Len kemudian membaringkan tubuh Rin di tempat tidurnya dan menghapus sisa darah yang masih tersisa disekitar mulutnya. Segera setelah dia mencium kening Rin, Len pergi meninggalkan kamar itu.

5 hari kemudian

Saat ini seperti biasa Len selalu berada dikamar Rin. Menunggunya bangun dari tidurnya. Len sedang berdiri dibalkon kamar Rin sambil memandang langit malam dan mengingat berbagai macam kenangan yang selalu dia habiskan bersama dengan Rin tentunya.

Tiba-tiba doa dapat merasakan ada sepasang tangan kecil yang memeluknya dari belakang. Tanpa melihat siapa orangnya dia sudah tahu siapa orangnya, dia dapat mencium harum bunga dari tubuhnya. Dan satu-satunya orang yang dia tahu mempunyai harum seperti ini hanyalah Rin seorang.

"Okairi Rin" Len membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh kecil Rin yang sudah tidak terasa hangat seperti dulu.

"Tadaima Len" Rin tersenyum lembut dalam pelukan Len.

"Ne... Len mulai sekarang kita akan benar-benar bersama. Aku senang sekali Len" lanjut Rin.

"Aku juga senang sekali Rin" Len mencium bibir Rin lembut dan memasukkan lidah miliknya kedalam mulut Rin dan mereka mulai saling mengulum lidah mereka.

"Domo arigatou watashi wa hime-sama (terimakasih banyak tuan putriku)" ucap Len setelah melepaskan ciuman mereka.

Dan Rin hanya tersenyum lembut dan kembali memeluk Lan dibawah langit berbintang yang tampak sangat indah.

'Kamu selamanya akan menjadi hidupku Kagamine Rin' ucap Len dalam hati

.

.

.

Owari ^_^


Nah ini dia sequel dari vampire, watashi wa ai

gomen kalau ceritanya aneh ya