Uzushiuogakure adalah sebuah desa yang menutup dirinya dari desa desa lain di dunia Shinobi. Mereka hanya membuka ikatan dengan desa kerabat mereka, yakni Konohagakure. Namun hal tersebut berubah ketika seorang Uzukage (pemimpin desa Uzu) muda naik menjabat menjadi yang keempat. Anak muda yang beru berusia 24 tahun tersebut adalah seorang prodigy Uzumaki yang terkenal dengan penguasaan sepuluh Sumi-kyō dan keahlian Fuinjutsu yang hebat. Yondaime Uzukage muda yang memiliki kharisma tinggi, tenang, ramah, baik terhadap semua orang serta dikenal sangat pandai dalam bertarung itu bernama Uzumaki Naruto.
Naiknya Uzumaki Naruto sebagai Yondaime Uzukage membuat Uzushiogakure membuka hubungan dan kerja samanya dengan desa desa lainnya, termasuk sebuah Negara Iblis yang dipimpin seorang Ratu bersifat dingin dan memiliki kemampuan menyegel setan serta memprediksikan kematian seseorang. Naruto yang mengunjungi Negara tersebut pertama kali langsung jatuh hati begitu bertemu dengan sang Ratu dalam sebuah jamuan yang mewah. Pertemuan dua hati yang suci pun terjadi, dengan hidupnya gerbang Saiken yang berada di wilayah barat Uzushiogakure, sang Uzukage pun datang melamar Ratu dari Negara Iblis, dan lamaran tersebut diterima dengan rasa cinta yang besar.
Dua pemimpin menyatu, namun kekuatan keduanya yang besar membuat takut desa desa Shinobi lainnya, dan akan menjadi awal dari sebuah bencana untuk Uzushiogakure..
Uzushiogakure telah hancur, namun sang Uzukage tetap berusaha bangkit demi kebangkitan desa dan cinta sucinya. Uzumaki Naruto secara heroic menaklukkan 5 desa besar, mengumpulkan orang-orangnya dan kembali memeluk istrinya dalam kehangatan.
Kedua pemimpin itu kembali bersatu, dan kekuatan keduanya mengalahkan desa desa Shinobi lainnya, dan menjadi awal dari kebangkitan untuk Uzushiogakure!
Naruto by Masashi Kishimoto
The Uzukage Hiden: Princess from Land of Snow by Doni Ren and Icha Ren
(Based The Uzukage main story)
This Story for Naruto Lovers, and for Anella Gathra
Pairing : NaruShion
Rate : T+
Genre : Adventure, Romance
Warning : Typo, Abal abal, Gajeness, Kacau, Tata Kata Aneh Aneh, OOC, DLL
Normal POV
Strong n Smart!Naru
Older!Naru
Older!Shion
.
.
.
Summary: Shion mendapatkan dua tiket untuk menonton Film The Adventure of Princess Gale secara mengejutkan. Mengajak suaminya, Yondaime Uzukage, keduanya menonton serial Film terfavorit di Negera Api tersebut dengan artis terkenal Fujikaze Yukie. Keduanya tidak tahu akan terbawa konflik Negeri Salju, sebuah negeri yang menantikan musim semi namun tak kunjung datang.
Cerita ini bersetting 1 tahun 5 bulan pasca insiden penghancuran Uzu 17 Oktober lalu.
Chapter 3: Kazahana Dotou
Sebelum memasuki jalan cerita, mari berkenalan dengan beberapa kru film serta pemain dari Film terakhir Princess Gale.
Fujikaze Yukie, artis paling top di Negara Api, memainkan peran sebagai Fuun-hime atau Princess Gale. Tujuan utama Fuun-hime adalah menemukan 7 pelangi sebagai kekuatan mereka untuk menghancurkan Mao, musuh jahat yang akan membuat dunia dalam kegelapan.
Michy, artis tampan dengan mata ungu dan rambut panjang bergelombang berwarna coklat. Memerankan karakter Sukeakuro dalam Film Princess Gale.
Kin, artis berkepala plontos dengan mata berwarna keunguan. Memerankan tokoh Brit dalam film Princess Gale.
Hidero, artis bertubuh tinggi dengan rambut spiky berwarna gelap. Dia memiliki janggut di dagunya dan memerankan Shisimaru di Film Princess Gale.
Makino, alias Pak Sutradara. Selalu memakai topi flat cap dan memegang speaker jingga di tangan kanannya. Memakai kacamata berkaca gelap dan selalu mengambil momen apapun untuk keuntungan filmnya.
Asama Sandayuu, manager Fujikaze Yukie yang selalu dipusingkan dengan artisnya. Kini dia menyewa ninja-ninja Konoha untuk menjaga keselamatan sang artis dari bahaya…
Atau menjaga keselamatan sang Putri dari bahaya untuk saat ini…
Ya, sang putri sebenarnya.
"Kazahana Koyuki?!" Chouza tertegun mendengar nama itu. Dia teringat misi yang diberikan Sandaime Hokage kepada dirinya bersama Shikaku dan Inoichi. Saat itu mereka disuruh untuk menyelamatkan Kazahana Koyuki dari insiden perang bersaudara di Yuki no Kuni. Ketiganya kehilangan jejak sehingga memaksa Sandaime Hokage mengirimkan pasukan khusus Konoha atau yang dikenal sebagai Anbu. Hatake Kakashi dikala itu berhasil membawa Kazahana Koyuki keluar dari Negeri Salju yang dipenuhi kobaran api. Namun, berita tentang sang putri tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi.
"Siapa dia Chouza-san?! Maksudnya Kazahana Koyuki itu apa?!" tanya Obito dengan wajah tegang. Chouza menghela napasnya dan kembali memandang Fujiakze Yukie yang berdiri tegak. Dia menundukkan kepalanya, tidak mau memandang semua yang ada di sana.
"Jadi kita akan pergi ke Yuki no Kuni sekarang?"
Pertanyaan Yukie segera dijawab oleh Sandayuu "Iya benar Koyuki-sa-"
"Aku bukan tuanmu! Jangan panggil aku dengan nama itu, Sandayuu…kenapa, kenapa harus ke sana?!" Yukie mengangkat kepalanya dan kedua matanya menatap penuh kebencian. Naruto memandang tajam Yukie, sebuah tatapan tajam namun tidak akan membuat seseorang ketakutan.
"Bahkan ketika mengingat kejadian itu, mataku tidak bisa berair karena kesedihanku sudah kering bersama retakan-retakan masa lalu…" Yukie berlari menuju ruangan dalam kapal, membuat Kin yang baru keluar langsung bingung dengan tingkah Yukie. Dia menggosok kepala botaknya diiringi ekspresi kebingungan.
"Ada apa dengan Yukie?" tanya Kin kepada Hidero dan Michy. Michy tersenyum tidak nyaman dan melirik ke arah Hidero. Yang dilirik memberikan penjelasan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak perlu dicemaskan.
Sementara itu Shion memandang Sandayuu yang menundukkan kepalanya dengan bimbang. Saat Shion menolehkan kepalanya ke arah Naruto untuk meminta saran, sang Uzukage hanya mengangkat bahunya.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya Naruto?"
"Haah…" Naruto menyimpan kembali panah Nidaime Uzukage ke scroll penyimpanan alatnya. Dia turun dari tepi kapal lalu berjalan mendekati Shion dengan kedua tangan dimasukkan ke kantong celana.
"Biarkan dia tenang dulu, Shion. Aku pernah dengar tentang keluarga Kazahana, mereka adalah Daimyo atau penguasa Yuki no Kuni…" Yondaime Uzukage mengetukkan jari telunjuk kanannya ke paha "Tou-san pernah bercerita kepadaku bahwa Kazahana Sotetsu dikhianati adiknya sendiri bersama ninja-ninja dari desa tersembunyi yang dinaungi Yuki no Kuni…itulah Yukigakure yang kau lihat tadi, Shion…"
"Aku juga pernah mendengar tentang keluarga Kazahana. Jadi permasalahan sebenarnya adalah perebutan kekuasaan ya?" tanya Shion pelan. Naruto menganggukkan kepalanya.
"Yang perlu kita kasihani adalah anaknya Kazahana Sotetsu, dan ternyata dia adalah artis idolamu," ketukan jari telunjuk kanan Naruto semakin cepat mengetuk pahanya 'Lalu apa hubungannya?!' batin sang Uzukage sambil memandang rambut pirang kelabu istrinya.
Malamnya badai laut datang menerjang kapal layar tersebut. Para anak buah kapal (ABK) dan kru film berlari ke dek kapal, beberapa membuka sistem pembuangan air serta menggulung layar dengan cepat. Naruto bersama para ninja Konoha lainnya ikut membantu ABK dan kru film untuk menahan kapal agar tidak tenggelam. Petir, hujan deras, serta gelombang tinggi terjadi selama 2 jam. Malam yang gelap di lautan kembali tenang setelah badai berhasil dilewati. Atas saran Naruto, di setiap keliling tepi kapal dihidupkan api obor yang diikat di bagian kayu tepi kapal. Tiang-tiang kayu dengan bagian atas yang dibuat mangkok dan diisi kain serta minyak tanah langsung dibuat dan diikat di tepian kapal. Ada sekitar 30 obor di tepi kapal. Beruntung, 2 jam pasca badai malam begitu tenang dan bersahabat. Saat Yondaime Uzukage menutup pintu dalam kapal untuk memandang langit, sang Uzukage yakin tidak akan ada lagi hujan hingga ke pagi harinya.
"Kalau begitu bagaimana dengan bermain catur?"
"Memang kau ada membawanya, Obito?"
Naruto berhenti sejenak memandang Gai dan Obito yang bermain kartu di meja ruangan tengah kapal. Saat ini yang berjaga di luar adalah Chouza dan Asuma bersama beberapa ABK dan kru Film bagian keamanan. Yondaime Uzukage berjalan ke kamarnya saat Obito mengeluarkan papan catur mini terlipat dari kantong alat ninjanya.
Saat membaringkan tubuhnya, Naruto tidak dapat langsung tertidur. Kepalanya dipenuhi berbagai macam hipotesa. Sesuai kebiasaannya jika sedang berpikir, jari telunjuk kanannya berkali-kali mengetuk tepi ranjang dengan irama tertentu. Beberapa menit terus terjaga, mata Yondaime Uzukage terasa mengantuk. Saat dia ingin memejamkan matanya, bayangan Shion tiba-tiba muncul di wajahnya dengan mata memerah dan bibir berdarah. Tiba-tiba bola mata kanan Shion keluar diiringi cairan kental otak dan cacing tanah yang bergelung-gelung menjijikkan.
"Shion?!"
"Ini salahmu…"
"S-Shion!" Naruto bangkit dan memegang bahu istrinya. Tiba-tiba mulut Shion terbuka dan mengeluarkan sebuah ekor berbulu jingga. Ekor itu melilit leher Naruto lalu melempar sang Uzukage ke dinding kamar.
"Shion…apa yang," Naruto berguling ke kanan lalu berusaha memegang tangan istrinya. Sebuah ekor muncul dari lubang telinga Shion, merekah lubang pendengaran itu hingga meretakkan kulit-kulit telinga sang Ratu, kemudian ekor itu menghantam perut sang Uzukage dengan sangat kuat. Naruto terpental ke belakang dan punggungnya kembali menghantam dinding. Naruto memegang perutnya dan memandang Shion dengan tatapan kebingungan. Tiba-tiba matanya membulat.
'Ini adalah…' Naruto memejamkan matanya.
Pik!
'Genjutsu!' Uzumaki Naruto segera bangkit dari ranjangnya. Terdengar bunyi langkah kaki halus yang dapat terdengar oleh telinganya dalam sunyi. Jangan bilang kalau para penjaga luar kapal telah berhasil di-genjutsu. Sang Uzukage berjalan mendekati pintunya dan menempelkan telinga kanannya di pintu. Langkah kaki itu menjauh dari pintunya.
'1…' Uzumaki Naruto mendengar langkah-langkah kaki yang melewati kamarnya '…Tidak. Mereka ada 5 orang.'
Sebuah langkah berhenti tepat di depan kamarnya. Kelopak mata sang Uzukage menajam. Saat kunci pintu Naruto di-hack dengan jepit rambut besi, pintu itu pun terbuka lebar. Sesosok ninja dengan pelindung kepala Yukigakure memandang kamar tersebut dengan mata waspada. Dia melangkah dua kali memasuki kamar dan menghidupkan lampu.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Bagaimana?" bisik temannya yang berada di dekat pintu bagian luar kamar dengan kunai teracung. Ninja Yukigakure yang memasuki kamar menggelengkan kepalanya. Temannya pun mengangguk mengerti lalu berjalan mengendap-endap untuk memeriksa kamar lainnya.
"Heh…dengan genjutsu mimpi buruk ini, kami akan membongkar semua kapal tanpa gangguan…" ninja Yuki itu terkekeh, dia berbalik ingin keluar dari kamar namun lehernya langsung dipatahkan Yondaime Uzukage yang bersembunyi di atas langit-langit kamar. Teman ninja tadi menoleh ke belakang dan memanggil nama kawannya setengah berbisik, sebuah tangan muncul dari dalam kamar dan mengacungkan jempol. Ninja Yuki tadi menghela napas dan kembali berjalan mengendap-endap menuju kamar selanjutnya.
"Sekarang kalian yang akan merasakan horror…" gumam sang Uzukage sambil memegang pedang ninja Yuki di tangan kanannya dan melempar berputar pisau lipat Shodaime Uzukage di tangan kirinya. Kedua senjata itu sudah ia beri tanda Fuin Hikari Sunshin.
5 Ninja Yukigakure ternyata dikirim oleh Dotou untuk menyusup atau secara sembunyi-sembunyi mencuri Kristal Hexagonal. Setelah gagal dalam serangan mendadak mereka, Dotou merubah strategi pencurian kalung Hexagonal Crsytal dengan strategi mencuri ala ninja tradisional. Diam tanpa membuat keributan. Saat pemimpin ninja itu memberi tanda bahwa keempat kawannya harus langsung memeriksa cepat 4 pintu lainnya, pemimpin ninja itu mengerutkan keningnya.
Hanya ada 3 orang saja…
'Di mana si Sanata?' batinnya, dan dua detik kemudian sebuah pedang menembus kepalanya dan memuncratkan darah segar.
"APA ITU?!" teriak ninja yang berada paling dekat dengan pemimpin mereka. Saat ketiganya menoleh ke belakang, Yondaime Uzukage sudah muncul di atas pedang yang menembus kepala pemimpin ninja tersebut.
'Hal lumrah dalam reflek manusia, ketika suatu benda melesat dari belakang dan menyerang menuju objek di depan…otak mereka akan menyuruh kepala mereka untuk menoleh ke belakang, ke arah sumber benda,' Yondaime Uzukage mencabut tanpa perasaan pedang itu dari kepala pemimpin ninja tersebut dan menebas leher ninja terdekatnya tanpa membuat sang empu-nya leher menoleh ke arahnya. Bersamaan, Yondaime Uzukage melempar pisau lipat Shodaime Uzukage ke ninja lainnya. Pisau lipat itu menghujam leher belakang ninja Yuki dan menyisakan ninja Yuki terakhir. Ninja Yuki terakhir adalah ninja yang tadi dekat dengan korban pertama Yondaime Uzukage. Ketika ia menolehkan kepalanya kembali ke depan, Naruto sedang mencabut pisau lipat Shodaime Uzukage dari leher temannya.
"K-kau-"
Belum sempat ninja Yuki itu berteriak kaget, jantungnya langsung ditembus oleh pisau lipat kanan Shodaime Uzukage yang dilempar Naruto tanpa aba-aba, benar-benar sangat cepat.
'Aku harus membereskan ini semua…' batin Yondaime Uzukage dengan wajah tenang.
.
.
.
Seperti yang diperkirakan Naruto…semua kru Film, ABK, bahkan ninja-ninja Konoha terlelap dalam mimpi buruk mereka. Genjutsu ninja Yuki ternyata diperkuat dengan sebuah bubuk berwarna kemerahan yang tertabur di luar kapal. Naruto menyimpan sedikit bubuk penguat Genjutsu tersebut dan membuang sisanya ke lautan.
Chouza berkali-kali berterima kasih kepada Naruto yang harus mengerjakan pekerjaan mereka. Naruto mengangguk maklum. Jika dia tidak memiliki Sumi-Kyo di dalam tubuhnya, pasti dirinya akan terlelap dalam mimpi buruk tersebut. Berterima kasih kepada sistem kerja dari Sumi-Kyo yang memberikan hubungan timbal-balik chakra, di mana para Sumi-Kyo bisa memberikan chakra kepadanya sekaligus mengacaukan arah chakranya untuk menghentikan Genjutsu.
Naruto bersandar di tiang kapal sambil memandang istrinya yang sedang beradu akting dengan Michy. Yondaime Uzukage berkali-kali tersenyum melihat gaya istrinya yang tetap kaku dan non-ekspresif, membuat pak sutradara berkali-kali memegang kepalanya sambil berkata "Ulang!" dengan speaker jingganya. Saat Yondaime Uzukage ingin duduk di kursi kayu yang disediakan, Fujikaze Yukie atau bisa dipanggil Kazahana Koyuki duduk di salah satu kursi kayu di sampingnya dengan wajah gelisah. Naruto memandang putri dari Kazahana Sotetsu itu dengan tenang penuh kewibawaan.
"Apa ada sesuatu yang ingin anda bicarakan kepada saya, Koyuki-sama?" tanya Naruto dengan nada penuh penekanan. Koyuki menggeram kesal. Entah Yondaime Uzukage secara santun ingin menghormatinya atau sedikit mengejeknya, tetapi dia tidak memperdulikan hal itu. Ada banyak kecamuk pikiran di kepalanya yang terus mendesak keluar agar diutarakan kepada seseorang.
Orang itu jatuh kepada sang Uzukage keempat.
"Berhenti memanggilku dengan nama itu, ck…aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, Yondaime Uzukage…"
"Silahkan."
Koyuki terdiam sebentar, kemudian melanjutkannya dengan suara tidak yakin "Ketika desa yang kau pimpin hancur dan semua situasi mendesakmu untuk menyerah, apa yang kau lakukan?"
"Mengembalikannya seperti semula."
"Jawabanmu terlalu simpel, Yondaime Uzukage…" Koyuki memandang tajam Naruto "Kau sekarang adalah Kage yang ditakuti di dunia shinobi, bahkan seseorang yang belum pernah melihat wajahmu dan hanya mendengar namamu akan bergetar ketakutan."
"Itu hanya hiperbola, terlalu melebih-lebihkan."
"Apa kau akan melakukan seperti jawaban yang kau berikan, Uzukage?"
Naruto tersenyum tipis. Dia memandang Shion yang sudah mengulang aktingnya sebanyak 21 kali. Beberapa kali terlihat mata istrinya melirik ke arahnya dengan cepat.
"Jawabanku memang simpel, Koyuki-sama…tetapi perwujudan yang kulakukan untuk jawabanku tadi sangat rumit. Aku malas menjelaskannya kepadamu…"
Koyuki menundukkan kepalanya. Dia kali ini setuju dengan Uzukage berkepala merah jabrik tersebut. Mengatakan sesuatu memang semudah membalikkan telapak tangan, tetapi melakukannya…
Melakukan hal yang diucapkan tidak akan pernah semudah membalikkan telapak tangan.
"Koyuki…nanti saat besar kau ingin menjadi apa?"
"Aku ingin menjadi putri yang cantik, ayah…"
"Hahaha…kau memang cantik. Saat besar nanti kau akan menjadi putri yang memimpin Negeri Salju dengan kebijaksanaan dan kecantikanmu."
"Ayah?"
"Hm…ada apa?"
"Aku juga memiliki keinginan yang lain selain menjadi seorang putri,"
"Hm? Apa itu?"
"Aku juga ingin menjadi seorang artis!"
Koyuki menggigit bibir bawahnya. Dia teringat ucapan seenaknya yang ia katakan kepada ayahnya. Memori yang menyedihkan. Koyuki bahkan tidak mau dan tidak sanggup memaafkan perkataannya saat mengingat hal tersebut.
'Aku memang wanita pecun-'
"Tetapi,"
Koyuki mengangkat kepalanya dan memandang Naruto yang terkekeh pelan sejenak. Matanya langsung ikut terarah ke arah pandangan fokus Yondaime Uzukage. Tampaknya sang Uzukage sedang mentertawakan istrinya yang berdebat dengan Pak Sutradara soal "Ekspresif".
"Yah…tetapi sesusah apapun membalikkan telapak tangan itu, sesusah apapun untuk mewujudkan perkataanmu…jangan pernah menyerah," Naruto berdiri tegak lalu berjalan mendekati istrinya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke saku celana.
"Jika kau menyerah sebelum melakukan, kau memang pecundang."
Mata Koyuki melebar. Nada suara Naruto sangat tenang. Benar-benar dipenuhi aura kewibawaan. Tetapi di sisi lain Koyuki bisa mendengar ketegasan dari nada penuh ketenangan tersebut. Dia menundukkan kepalanya perlahan. Koyuki mengangkat kepalanya cepat dan memanggil nama Naruto yang sudah berjalan sepuluh langkah menjauhinya. Sang Uzukage berhenti sejenak lalu berbalik sepenuhnya menghadap ke arah Koyuki.
"Meminta nasihat lagi?"
"Tidak," Koyuki memandang tajam Naruto "Aku dengar kau menghabisi 5 ninja Yukigakure yang menyusup kapal ini tadi malam…"
Naruto mengangguk tanda membenarkan.
"Kenapa kau membunuh mereka, Yondaime Uzukage?"
"Jika kubiarkan mereka tertangkap dan pengirim mereka tahu bahwa tugas anak buahnya gagal…" Naruto mengetuk leher kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah "Fuin peledak di leher mereka akan aktif dan kapal ini akan menjadi hiasan dasar lautan…"
"Satu lagi."
Naruto memiringkan kepalanya. Dia cukup senang melihat perubahan mimik Koyuki yang terlihat lebih bersemangat.
"Bukan hanya kau yang terbangun semalam, tetapi aku dan istrimu juga ikut terjaga," mata Naruto sedikit melebar mendengar informasi baru dari Koyuki, apalagi menyangkut istrinya "Lebih tepatnya istrimu-lah yang melepaskan genjutsu dari kepalaku," Naruto sedikit terkejut mendengar ucapan Koyuki. Shion bisa melepaskan seseorang dari genjutsu?
Koyuki melanjutkan ucapannya "Dia mengatakan bahwa akan menjagaku karena aku adalah artis idolanya, sekaligus lawan mainnya di Film terakhir Princess Gale. Tahukah kau apa yang dikatakan Shion kepadaku?"
Naruto mendengar perkataan selanjutnya dari Koyuki dengan seksama,
"Coba tanyakan sesuatu kepada suamiku tentang masalahmu, dia memang terdengar menyebalkan dan angkuh…tetapi dia dapat membangkitkan desanya yang hancur dengan tujuan simpel yang ia katakan…" Koyuki berhenti sejenak, memberikan waktu jeda untuk merasakan angin lautan yang bertiup cukup kuat menerpa wajahnya "…Tetapi apa yang ia lakukan tidak sesimpel apa yang ia katakan."
Naruto tersenyum. Tersenyum sangat ramah. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan berbalik kembali menuju Shion. Uzukage keempat tidak akan mengatakan apa-apa lagi kepada Koyuki. Dia tahu secercah harapan ada di hati putri Negeri Salju itu. Sang Uzukage memandang wajah istrinya, yang masih berbicara dengan Pak Sutradara soal ekspresif dan non-ekspresif. Yondaime Uzukage senang mengingat istrinya melirik-lirik ke arahnya dan Koyuki tadi.
Itu tandanya Sang Ratu cemburu bahwa suaminya duduk dekat dengan wanita lain?
"JANGAN KEPEDEAAAN!" Shion menendang P-kun Naruto sebelum Naruto ingin menggodanya. Jelas saja Tsundere sang Ratu ketahuan. Naruto langsung terjengkang ke lantai kapal sambil memikirkan, dari mana istrinya tahu bahwa dirinya ingin menggoda soal rasa cemburu dan cinta? Obito dan Gai dengan cepat menolong Uzukage keempat yang masih tepar akibat tendangan jackpot sang Ratu yang mengenai P-kunnya. Sementara Koyuki, entah kenapa dia akhirnya tersenyum melihat adegan tersebut.
Yondaime Uzukage punya sisi kepemimpinan yang tidak diragukan lagi. Cara dia memandang sesuatu tidak seperti orang awam lainnya. Koyuki bahkan merasakan banyak sekali pemikiran yang ingin diambil Yondaime Uzukage menjadi cabang-cabang keinginan.
Di sisi lain, Yondaime Uzukage punya sisi yang menyenangkan. Bahkan Koyuki yakin Ratu Negeri Iblis juga merasakan hal yang sama kepada Uzukage keempat.
Rombongan kru Film akhirnya sampai di Yuki no Kuni. Negeri di sebuah pulau yang selalu dilingkupi musim salju. Bisa dikatakan Negeri ini berada paling utaranya dunia elemental Shinobi, atau mendekati kutub utaranya bumi. Kapal layar itu menepi di tepian dermaga Yuki no Kuni. Pak Sutradara Makino dengan semangat supernya langsung turun dan ingin mengambil scene pertarungan di daerah dermaga Yuki no Kuni. Dia meneriakkan para kru film untuk mempersiapkan semuanya. Tata rias, kamera, lampu sorot, pengeras suara dan beberapa kru penambah efek lapangan. Asisten sutradara membuka kursi lipat yang selalu diduduki Pak Makino dan mempersilahkan sutradara dengan flat cap dan kacamata berlensa gelap itu duduk.
"Yosh, lakukan scene ini dengan penuh penghayatan Koyuki! Kau adalah artis terbaik Hi no Kuni."
Koyuki menghela napasnya. Dia kini berakting bersama Michy, Kin dan Hidero dan diceritakan sampai di negeri tujuan mereka. Daerah dermaga Yuki no Kuni memiliki luas sekitar 900 meter persegi, dengan pemandangan dua bukit salju yang besar di barat dayanya. Ada plang membeku seluas 90 meter persegi berbentuk persegi panjang di dekat pintu depan dermaga, bertuliskan "Selamat datang di Yuki no Kuni" dengan kanji. Pak sutradara langsung meminta bagian editor untuk menghilangkan plang itu dalam proses editing nantinya.
Naruto berjalan mengelilingi lingkaran dari area syuting. Sementara Gai, Obito dan Asuma sudah membentuk formasi jaga segitiga. Chouza berdiri di samping Pak Sutradara sambil mengunyah-entah makanan apa-di mulutnya. Menilik dari serangan Yukigakure yang notabene adalah ninja di bawah teritorial Yuki no Kuni, bisa saja serangan baru akan muncul secara mendadak.
Sampai 7 scene yang dilaksanakan di dermaga, tidak ada serangan atau kejutan dari pihak musuh. Tujuh scene yang dilakukan para artis termasuk Shion memakan waktu selama 1 jam setengah. Tentu saja non-ekspresifnya Sang Ratu yang membuat waktu pengambilan menjadi lebih lama.
Pemain serta kru film dari Princess Gale menginap di hotel tepian dermaga yang bernama Hotel Yuki Azeroth. Besok mereka akan kembali syuting dengan lokasi yang berbeda. Para pemain serta kru film segera beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka setelah menempuh waktu pelayaran yang cukup lama.
"Untuk seukuran dermaga dari sebuah Negara, ini benar-benar terlihat sepi…" Naruto yang berjalan-jalan di pasar dermaga bersama Chouza memandang sekelilingnya dengan tatapan menyelidik "Bahkan untuk membantu mengikat kapal di tiang dermaga saja hanya ada dua orang dari dermaga. Lihat pasar di sini…" Naruto memandang hanya tiga toko saja yang buka "Benar-benar tidak bisa dibilang pasar."
"Menurut anda pasar itu harus ramai, Uzukage-sama? Maaf pertanyaan saya jika membuat hati anda tersinggung."
Naruto tertawa pelan. Mereka berhenti di salah satu toko yang tidak tutup, toko souvenir khas Yuki no Kuni.
"Pasar dikatakan pasar karena keramaiannya. Masih banyak tempat jualan tidak dinamakan dengan pasar, Chouza-san…pasar juga memiliki ciri khas identik dengan gaya ekonomisnya," Naruto memilih kalung imitasi berbentuk hexagonal Kristal "Pasar juga identik dengan keributan. Coba saja dengar kata-kata seseorang di suatu ruangan. Ehem…ketika dia mengatakan "Ruangan ini kok ribut seperti pasar ya?", dalam pikiranmu apa?"
"Seribut itukah tempat bernama pasar tersebut?" Chouza memilih gantungan kunci berbentuk donat putih. Naruto menyarankan pemimpin Klan Akimichi itu memilih kalung yang sama dengan dirinya, namun Chouza menolak dan tetap ingin membeli gantungan kunci donat putih tersebut.
"Bisa dikatakan begitu. Kesimpulannya setelah melihat tempat ini adalah," Naruto dan Chouza berjalan kembali menuju hotel setelah membayar souvenir yang mereka inginkan. Keduanya berhenti di depan Hotel Yuki Azaroth, memandang sekeliling daerah dermaga Yuki no Kuni yang dihiasi salju.
"Ada semacam 'kekuatan' yang membuat tempat ini sepi…" gumam Yondaime Uzukage sambil memutar souvenirnya dengan wajah datar.
Malamnya tidak terjadi hal-hal yang menganehkan. Para kru tertidur dengan lelap karena kelelahan. Para Ninja Konoha tetap berjaga di luar maupun di dalam hotel bersama kru bagian keamanan. Sementara Naruto duduk di tepi ranjangnya sambil mengelus dagunya.
Hebat…seorang suami dilarang tidur satu ranjang dengan istrinya. Kapan kau mengerti bahwa manusia juga butuh kepuasan biologis dan keturunan, istriku…?
Itulah yang Yondaime Uzukage pikirkan dari tadi. Tidak, bukan hanya itu. Dia teringat kata-kata Koyuki soal istrinya saat malam penyerangan diam-diam ninja Yukigakure.
"Bukan hanya kau yang terbangun semalam, tetapi aku dan istrimu juga ikut terjaga,"
"Lebih tepatnya istrimu-lah yang melepaskan genjutsu dari kepalaku. Dia mengatakan bahwa akan menjagaku karena aku adalah artis idolanya, sekaligus lawan mainnya di Film terakhir Princess Gale. Tahukah kau apa yang dikatakan Shion kepadaku?"
Naruto langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan wajah berpikir. Saat kedua kelopak matanya menutup, dia masih terbayang bagaimana jika malam pertamanya dengan Shion dilakukan di Taman Uzushiogakure.
.
.
.
Paginya,
"Yukie-saaan!"
"Yukie-saan lari!"
"Dia kabur dari hotel!"
Mata Naruto terbuka lebar. Dia segera berdiri dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya dengan cepat. Saat dia membuka pintu tersebut, seorang kru yang berlari panik menabrak daun pintu yang telah dibuka dan terjengkang ke belakang. Naruto segera membantunya berdiri dan menanyakan perihal keributan pagi ini.
"Ada apa?"
"Yukie-san kabur lagi. Dia mungkin keluar dari hotel saat pagi-pagi sekali…" kru itu juga menyampaikan bahwa para ninja Konoha sudah menyebar untuk mencari keberadaan Fujikaze Yukie alias Kazahana Koyuki. Naruto mendecih kesal. Dia segera berlari menuju pintu keluar hotel dengan wajah sedikit berekspresi.
'Wanita bodoh…' batin sang Uzukage sambil mengingat wajah Koyuki yang sedikit dipenuhi secercah harapan.
Gyutt…saat Yondaime Uzukage sudah melangkahkan kaki kanannya keluar dari hotel, Shion menarik bagian belakang kaosnya sambil menyodorkan sebuah jaket tebal berwarna coklat dengan bulu tebal putih di belakang untuk penutup kepala. Ratu sendiri sudah memakai jaket berwarna coklat lebih gelap dan syal berwarna biru gelap. Naruto tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih kepada istrinya.
"Jadi, dengan pakaian seperti itu…" Naruto menghempaskan kedua telapak tangannya ke jaket model parka itu lalu menyarungkan kedua tangannya ke sarung tangan berwarna hitam yang diberikan Shion "…Kau ingin ikut mencari artis idolamu?"
Shion memilin helaian rambut pirang di dekat telinganya, benar-benar membuat Naruto ingin menyerang wajah imut boneka itu. Kedua tangan sang Ratu terlihat memakai sarung tangan berwarna pelangi yang lucu.
"Koyuki pergi sambil membawa sebuah tas. Aku sudah memasukkan gaun yang kupakai saat menonton Film The Adventure of Princess Gale ke tasnya tersebut…"
Naruto masih belum 'ngeh', atau masih belum mengerti dengan perkataan Shion.
"Saat malam tadi, aku sudah melihat gerak-geriknya yang mencurigakan. Dia juga telah mempersiapkan pakaian serta makanan kaleng untuk persediaan saat pelariannya dan dimasukkan ke dalam tas, tetapi saat itu aku masih berpikir postif kepadanya,"
"Maaf memotong," Naruto menggaruk tidak gatal kepala merahnya "Maksudnya memasukkan gaun-mu itu ke tasnya apa, Ratuku?"
"Sudah hentai, kau baka juga ya…Naruto?"
"E-eh, apa maksudnya itu?!"
Shion menjinjitkan kedua kakinya, lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto, membuat mata Naruto melebar terkejut. Sang Ratu dengan nafas sedikit erotis karena kedinginan membisikkan tiga kalimat yang langsung mencetus otak sang Uzukage berputar cepat.
"Ingat Hikari Sunshinmu…"
Mata Naruto menajam. Benar. Dia teringat scene saat istrinya meminta cepat memberikan dua tiket gratis Film The Adventure of Princess Gale. Dia langsung muncul di dekat loket pemberian tiket setelah mengambil dua tiket mereka yang tertinggal di kantong samping Lin (kuda putih mereka). Naruto mengelus pelan kepala istrinya dan langsung hilang dengan sunshin cahaya indah tanpa banyak basa-basi.
Koyuki berlari menaiki bukit hutan salju yang memiliki kemiringan sekitar 30 derajat. Suara tapak sepatu saljunya terdengar berirama ketika telapak sepatu itu menghantam tanah yang tertutupi salju. Koyuki menempelkan telapak tangannya ke sebuah pohon dan membungkukkan tubuhnya. Dia terengah-engah dan berusaha menormalkan napasnya yang tidak teratur
"Akhirnya kau kecapekan sendiri…"
Jantung Koyuki berdetak kencang. Dia terkejut. Efeknya, tubuhnya terhuyung ke belakang namun sang Uzukage menahan punggung putri Kazahana Sotetsu itu dengan bahu kanannya.
"K-kau…" Koyuki memandang cepat ke samping Naruto. Ada Ratu Negeri Iblis juga di sisi kanan Yondaime Uzukage dengan wajah boneka non-ekspresifnya. Mata Koyuki mengecil kesal.
"Kalian…" Koyuki langsung berdiri tegak dan menghadap total keduanya. kedua kakinya melangkah mundur dua langkah "Kenapa kalian mengejarku?! Apa…apa peduli kalian terhadapku?!"
"Karena kau adalah artis idol istriku-"
"HANYA ITU SAJA?!" Koyuki menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak terima mendengar perkataan Naruto. Tidak etis. Tidak masuk akal.
"Kita tidak mempunyai hubungan apa-apa! Aku juga…dengan Negeri ini, aku dan negeri ini sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jadi, jadi aku tidak memiliki hak dan kewajiban untuk negeri ini," Koyuki mengangkat kepalanya ke atas, memandang pepohonan di hutan bukit tersebut. Tidak ada kanopi pohon di sana. Tidak ada satu daun pun di sana. Hanya ada cabang-cabang pohon karena pohon tersebut menggugurkan daunnya, segugur keinginan Koyuki untuk meneruskan cita-cita saat ia kecil.
"Saat mendengar perkataanmu tentang cara memperbaiki desa yang telah hancur, aku sempat terpikir bahwa ada secercah harapan di sana," Koyuki memukulkan kepala tangan kirinya ke batang pohon di sampingnya hingga beberapa kumpulan salju jatuh dari cabang pohon lalu tertumpuk di tanah "Namun…namun…NAMUN!"
"NAMUN AKU TIDAK SEPERTIMU! AKU LEMAH! AKU TIDAK MEMPUNYAI KEKUATAN! AKU BUKANLAH PRODIGY UZUMAKI! AKU BUKANLAH MAESTRO FUINJUTSU! AKU BUKANLAH UZUKAGE…" Koyuki menggigit bibirnya kesal "Aku bukan Uzumaki Naruto…aku hanya pecundang yang membiarkan ayahnya mati dalam lautan api dan pengkhianatan keji. Lihat negeri ini! Bahkan musim semi yang didambakan saja tidak akan pernah turun! Aku…aku…"
"Kau sama seperti kami!" Naruto memandang tajam Koyuki. Shion menganggukkan kepalanya setuju. Uap udara keluar dari mulutnya ketika sang Ratu bernapas dengan imutnya. Koyuki sendiri terkejut dengan pernyataan Naruto.
Yondaime Uzukage mengatakannya dengan serius. Bahkan jika dia memandang dalam mata biru penuh ketenangan itu, aura serius yang terpancar benar-benar luar biasa terasa.
"A-apanya yang sama antara kita bertiga?"
Naruto mengatakannya dengan dingin sambil sedikit mengangkat dagunya. Keangkuhan yang dibaluti kewibawaan penuh pemikatan "Kita adalah pemimpin…"
Yondaime Uzukage benar-benar mengatakannya dengan tenang, membuat mata Koyuki terbuka lebar.
"Pe...mimpin?"
Naruto dan Shion mengangguk bersamaan. Yondaime Uzukage kembali berkata, tetap mempertahankan suara konstannya yang tenang "Ketika semua orang sudah mempercayaimu sebagai manusia yang mampu memimpin manusia lainnya, kau sudah diberi dua berkah secara bersamaan…pertama, berkah dari Kami-sama. Kau adalah orang terpilih yang ditunjuk untuk mengayomi para rakyat sesuai arah tujuan dan pikiranmu. Kedua, berkah dari rakyatmu sendiri. Kau adalah orang terpilih yang ditunjuk untuk mengayomi mereka, keinginanmu adalah keinginan mereka, dengan syarat bahwa keinginan itu menuju kesejahteraan bersama. Pemimpin adalah simbolis, pemimpin adalah idealis. Tetapi pemimpin bukan Kami-sama…"
Mata Koyuki benar-benar melebar. Inikah sebuah 'ceramah' dari seseorang yang pernah jatuh-bangun sebagai seorang pemimpin. Inilah kata-kata yang keluar dari Uzukage, seorang Uzukage yang pernah melihat desanya hancur kemudian dia bangkitkan kembali SENDIRIAN dengan heroiknya.
"Pemimpin manusia dari manusia adalah manusia itu sendiri. Manusia tidaklah sesempurna Tuhan. Manusia punya kelemahan dan kesalahan…" Naruto menunjuk tengah dadanya dengan tangan kanannya yang bersarung tangan hitam tebal "…Manusia punya ini," sang Uzukage bermajas bahwa dia menunjuk hati atau perasaannya "Dan hati bisa membawa kita ke jalan yang baik dan jalan yang benar. Dengan kata lain, Koyuki-sama…" Naruto memandang tajam Koyuki. Shion maju dua langkah mendekati putri Kazahana Sotetsu itu dan menarik tangan kanan sang putri Yuki no Kuni yang memakai sarung tangan tebal berwarna coklat tua.
"Kita para pemimpin tidaklah sempurna!" kata kedua suami-istri itu dengan wajah penuh keyakinan. Koyuki menundukkan kepalanya. Matanya melebar saat wajahnya ditutupi helaian rambut tebal dan panjangnya.
'Ayah…'
'Ayah…'
Koyuki menarik ingus yang hampir keluar dari lubang hidungnya. Dia memang memiliki akting yang hebat saat memerankan adegan menangis, tetapi air matanya tidak bisa keluar karena cairan bening itu sudah habis bersama dengan hilangnya cita-cita yang ingin ia capai bersama sang ayah.
Tetapi saat itu Kazahana Koyuki menitikkan air mata dari matanya, menjatuhkan ingus cair dari kedua lubang hidungnya. Wajah cantiknya terlihat menyedihkan. Dia benar-benar menangis saat itu.
"Pemimpin tidaklah sempurna…"
Ayahnya pernah mengatakan hal tersebut sambil membenarkan letak kacamata bulatnya dan tersenyum penuh kebaikan. Ingatan itu membuat dada Koyuki sesak. Napasnya tidak teratur dan badannya tiba-tiba terasa menggigil.
"Koyuki?" Shion yang ingin menarik Koyuki untuk berjalan bersama dengannya dikejutkan dengan tubuh sang Putri Yuki no Kuni mulai oleng ke kanan. Naruto tahu apa yang terjadi pada tubuh artis dan bangsawan cantik tersebut. Stress berat serta kelelahan dan keadaan hampir mendekati hipotermia.
"Bernapas dengan tenang, Koyuki…" Naruto menahan tubuh Koyuki kembali, kini dengan rangkulan tangan kanannya.
"Koyuki…"
"Tenangkan dirimu!"
"Koyuki!"
"Koyuki!"
…
..
.
"Koyuki…nanti saat besar kau ingin menjadi apa?"
"Aku ingin menjadi putri yang cantik, ayah…"
"Hahaha…kau memang cantik. Saat besar nanti kau akan menjadi putri yang memimpin Negeri Salju dengan kebijaksanaan dan kecantikanmu."
"Ayah?"
"Hm…ada apa?"
"Aku juga memiliki keinginan yang lain selain menjadi seorang putri,"
"Hm? Apa itu?"
"Aku juga ingin menjadi seorang artis!"
.
..
…
"Kenapa kau memasang wajah datar sedikit cemburu begitu, Ratuku?"
"Heh…jangan percaya diri, Uzukage Hentai!"
"Hihihi, lihat wajah bonekamu Shion-sama, sedikit muncul kerutan-kerutan kesal."
"Katakan sekali lagi maka akan kubuat adikmu menangis karena Nii-chan nya sudah tidak bisa bereproduksi lagi."
"Ancaman macam apa itu…glek, tetapi menakutkan juga mendengarnya."
Koyuki membuka matanya perlahan. Seperti biasa, bagi orang yang baru terbangun dari alam bawah sadar, pandangan pertama yang ia lihat adalah sebuah view kabur atau tidak jelas akibat mata yang mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saat mata itu berkedip sekali, Koyuki melihat punggung lebar sang Uzukage berada di depan wajahnya. Mata Koyuki melebar, itu berarti…
"Lagipula Koyuki juga terasa lebih berat darimu, Shion-sama…" gumam sang Uzukage sambil seenak jidatnya mengatakan hal-hal sensitif di depan wanita. Mata Koyuki lebih melebar ketika ia merasakan kedua tangan Naruto memegang paha belakangnya. Yang benar saja…dia sedang digendong punggung oleh suami orang-eh maksudnya seorang Prodigy Uzumaki?! Koyuki mengerang pelan, membuat Shion dan Naruto melirik ke arahnya.
"Kau sudah bangun, Koyuki-"
"Naruto…urusanmu soal berat tubuh atau apalah itu akan diselesaikan ketika kita sampai di hotel…" Shion-sama membuat sebuah boneka salju mini yang memiliki kepala, kedua tangan dan kedua kaki dalam pose berdiri sedikit terkangkang. Sang Ratu tiba-tiba menendang selangkangan boneka salju mini itu hingga seluruh tubuh boneka salju hancur.
"UUoooohhh…" kenapa Yondaime Uzukage yang merasakan kesakitannya? Naruto membayangkan jika Shion melakukan itu terhadapnya. Good Bye my Love untuk gairah malam pertamanya.
"Jadi Koyuki, kau sudah baikan?"
Pertanyaan Yondaime Uzukage hanya dibalas dengan palingan wajah dari putri Yuki no Kuni. Naruto tersenyum tipis.
"Apa yang kau pikirkan soal Negeri ini?" Naruto tiba-tiba bertanya langsung tentang hal tersebut. Tubuh Koyuki sedikit menegang dan dia menghembuskan napas perlahan.
"Aku tidak peduli. Mengatakan hal-hal hebat memang mudah…tetapi realisasinya? Apakah realisasi itu bisa kulakukan? Anda bisa karena anda adalah Yondaime Uzukage-sama, sang prodigy hebat dari Uzu…sedangkan aku?!"
Naruto memandang rel kereta api yang nampak di sekitar tanah salju. Uzukage berusia 25 tahun itu memandang arah datang rel dan rel tersebut berasal dari perbukitan kecil di sisi barat daya mereka. Yondaime Uzukage memandang kembali ke arah pergi rel kereta api. Sepertinya arah rel itu menuju lokasi dermaga. Sekitar 100 langkah lagi maka mereka akan sampai di terowongan gelap kereta api tersebut. Naruto dapat melihat bagian atas terowongan yang disusun dari deretan ubin rapi berwarna biru kusam dan tertutupi salju bagian luarnya.
"Sudah kubilang kan?" Yondaime Uzukage berjalan memasuki terowongan kereta api itu bersama istrinya "Kau adalah pemimpin, sama seperti kami berdua…"
Koyuki menahan napasnya. Dia menundukkan sedikit kepalanya sambil mengingat kata-kata Naruto dengan baik. Kenapa kedua suami-istri itu begitu peduli kepadanya? Apa Shion-sama peduli hanya karena ia adalah artis idola sang Ratu? Apa Naruto peduli kepadanya hanya karena dia artis idola sang istri? Atau keduanya pernah merasakan apa yang dirasakan hati Koyuki sebagai pemimpin, dan keduanya ingin dirinya keluar dari perasaan tersebut…
"Koyuki…" suara tenang Naruto membuat Koyuki sedikit tersentak dari lamunannya. Matanya memandang punggung lebar Yondaime Uzukage. Terlihat kekar. Koyuki memfokuskan pendengarannya, menunggu perkataan dari Uzukage keempat tersebut.
"Apa Ayahmu pernah berkata bahwa Negeri ini bisa mengalami musim semi?"
Koyuki menggelengkan kepalanya pelan "Itu hanya harapan kosong. Walaupun Ayah pernah mengatakan hal tersebut, namun musim semi yang kutunggu tidak pernah datang."
"Jika itu harapan kosong, kenapa ayahmu mengatakan hal tersebut kepadamu?"
"Karena saat itu aku masih kecil."
"Tidak seperti itu juga." Shion langsung menyambut ucapan terakhir Koyuki "Ayahmu mengatakan hal tersebut kepadamu bukan semata-mata karena kau adalah bocah, tetapi karena dia yakin kau adalah pemimpin yang akan merealisasikan musim semi tersebut…" Shion terdiam sejenak, membuat Koyuki semakin lama semakin banyak berpikir soal negerinya.
"Kau harus yakin kepada dirimu jika ingin mengganti musim dingin ini menjadi musim semi. Jika kau tidak yakin kepada dirimu, bagaimana kau bisa meyakinkan Negeri ini?"
Koyuki semakin memikirkan soal ayahnya, Yuki no Kuni dan dirinya sebagai pewaris sah penguasa Yuki no Kuni. Dia lari dari negeri kelahirannya ketika terjadi pemberontakan, dia menjadi artis terkenal dan melupakan semua kenangan buruk tersebut. Membawanya kembali ke Yuki no Kuni membuka luka lama bagi Koyuki dan luka tersebut membuat dadanya terasa sesak. Dia getir. Takut. Dipenuhi kemarahan.
Namun bertemu Yondaime Uzukage dan istrinya membuat perasaan dan pemikiran Koyuki berubah.
"Hm?"
Naruto menginjak rel kereta api dengan kaki kanannya. Terasa suatu getaran di rel tersebut. Alis sang Uzukage berlekuk karena berpikir. Ada yang tidak beres…
Druuggh…drugghh…
Shion memandang ke belakang. Beberapa salju jatuh dari atas terowongan di luar. Buruknya, mereka bertiga kini berada di tengah-tengah terowongan. Pilihan mereka sama rata. Lari ke depan dan lari ke belakang tidak memiliki keuntungan ataupun kerugian.
"Jadi, apakah ini…"
"Kereta api." Sambung Koyuki cepat. Dia memandang sisi kiri dan sisi kanan terowongan.
"Ini adalah jalur rel kereta api uap yang dulu digunakan para penduduk Yuki no Kuni untuk membawa tambang batu bara," Koyuki menelan ludahnya "Jika kita tidak keluar dari terowongan ini, maka kita pasti akan digilas kereta api!"
"Aku tahu, lihat sisi kanan dan sisi kiri terowongan. Space-nya benar-benar tidak ada!" Naruto memandang cepat ke belakang ketika suara kereta api uap sudah jelas terdengar. Benar. Kereta api berwarna hitam metalik dengan bagian kepalanya menyeruakkan cerobong asap sudah memasuki terowongan. Lampu tunggal di depannya menyinari wajah Yondaime Uzukage, Koyuki dan Shion. Naruto memandang istrinya.
Tidak mungkin wanita ini bisa lari secepat ninja. Pilihan satu-satunya adalah…
"Pegangan yang erat pada pundakku, Koyuki-sama!" Naruto langsung menggendong bridal style istrinya di depan menggunakan kedua tangannya. Mata Shion dan Koyuki melebar.
"A-apa kau gila! Lari dari kereta api cepat itu dan menggendong kami berdua-"
"Lebih gila jika aku membiarkan istriku atau dirimu tertinggal di belakang!" Naruto yang memotong perkataan Koyuki langsung berlari kencang "Koyuki-sama, kepitkan kedua kakimu di pinggangku! Kedua tanganku tidak bisa menahan tubuhmu karena aku harus menggendong Shion di depan…" Naruto menoleh ke belakang, perlahan-lahan kereta api uap itu mengejar posisi mereka "Kuatkan peganganmu!"
"K-kau gila!" teriak Koyuki panik. Sementara Shion…wajah istri Yondaime Uzukage itu kembali datar bak boneka hidup.
Tiiiiiiiiit! Suara kereta api menggelegar di dalam terowongan tersebut. Beberapa salju di rel tersibak ke samping akibat roda-roda kereta api yang bergesekan dengan rel, membuat kereta api uap tersebut melaju kencang ke depan. Naruto sudah berlari sekencang yang ia bisa, dengan wajah penuh kekuatan dan keringat bercucuran. Beberapa tetes keringat bahkan jatuh menimpa wajah cantik Shion.
"Rararararararararara!"
Tiiiiiiiit!
"Naruto! Keretanya semakin dekat!"
"Kau pegangan saja yang kuaaaaat!"
Shion tetap tenang. Bahkan Koyuki merasa istri Yondaime Uzukage tidak memiliki perasaan. Dikala suaminya bekerja keras membawa mereka berdua untuk lari dari kematian, Shion malah memasang wajah tanpa ekspresif, seolah-olah cuek dengan kejadian saat ini...
"Naruto, kau bodoh."
Dongg! Koyuki sweatdropped, bahkan sang Ratu mengatakan suaminya 'Bodoh'.
"Rarararaaaaaaaa! Sedikit lagi…" Naruto menoleh ke belakang. Kereta hampir beberapa jengkal mencapai punggung Koyuki. Suara sirenenya bahkan lebih keras sampai memekakkan telinga. Koyuki berteriak ketakutan ketika hembusan angin kereta mencapai punggungnya, menandakan kereta api uap tersebut sudah hampir menabrak mereka.
"Apa kau yakin kita akan lolos?! HAHH! Haah…haah…APA KAU YAKIN KOYUKI?!"
Mata Koyuki melebar. Adrenalinnya terpacu dan dia menggelengkan kepala dengan kuat.
"JIKA KAU TIDAK YAKIN KITA AKAN MATI! Haah…haah.." Naruto terdiam sejenak, mengambil udara untuk paru-parunya "JIKA KAU YAKIN, KITA PASTI SELAMAT!"
"A-aku…"
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!
"AKU YAKIIIIIIIIIIIN!"
"AKU TERUSKAN KEYAKINANMU DAN MEMBUKTIKAN BAHWA," Naruto berlari super kencang. Akhir terowongan di bagian depan sudah beberapa puluh langkah lagi, Yondaime Uzukage tersenyum dengan wajah yang dipenuhi keringat.
"KAU BISA MENDATANGKAN MUSIM SEMI DI NEGERI INI DENGAN KEYAKINAN DAN TINDAKANMU!"
Luar biasa. Jarak lari Yondaime Uzukage dengan kereta api uap perlahan-lahan menjauh. Shion melirik datar ke depan, bagian depan terowongan semakin dekat. Cahaya dari luar terowongan bahkan menyilaukan matanya dan membuat Shion menyipitkan kedua mata bonekanya.
Tiiiiiiiiiit!
"Gotcha!" Yondaime Uzukage melompat keluar terowongan dan memutar tubuhnya ke kiri. Ketiganya jatuh berguling-guling di sisi kiri rel kereta api dan terlentang di atas tanah bersalju. Koyuki memandang shock ke langit. Jantungnya memang masih berdebar kencang, tetapi yang membuatnya shock adalah kehebatan Yondaime Uzukage yang mampu berlari membawa dirinya dan sang istri keluar dari terowongan rel kereta api.
Koyuki perlahan-lahan duduk dan memandang kereta api uap itu berhenti di dekat mereka.
Sementara Shion langsung berdiri dan duduk manis di samping suaminya yang masih terlentang di tanah bersalju dengan napas terengah-engah. Sang Ratu memiringkan kepalanya sedikit.
"Kenapa tidak menggunakan Hikari Sunshin dan menghilang cepat dari terowongan itu?"
Naruto menutup mata kanannya karena kelelahan. Senyuman menawan terpatri di wajah berkeringat Yondaime Uzukage.
"Aku tidak ada memasang Fuin Hikari Sunshin di daerah Yuki no Kuni, terkecuali di gaunmu yang ada di tas Koyuki. Lagipula Fuin-ku berada sangat jauh dari sini, yakni di Uzu sendiri…"
"Kenapa tidak melempar pisau lipat-mu ke luar terowongan dan memakai Hikari Sunshin ke sana?"
Naruto duduk perlahan, Shion dengan sigap membantu suaminya duduk. Sang Uzukage tetap mempertahankan senyumannya ketika napasnya masih terengah-engah keletihan. Mata birunya memandang Koyuki yang sudah terlihat ada perubahan. Ada sedikit cahaya keyakinan di guratan wajah cantik artis tersebut.
"Kau sudah tahu alasannya kan, Shion-sama?"
Shion memandang datar Koyuki, kemudian tersenyum tipis kepada suaminya.
"Tidak biasanya kau melakukan hal yang merepotkan, Uzukage-sama. Tetapi kerja kerasmu untuk membuktikan sesuatu kepada Kazahana Koyuki sepertinya sukses."
Naruto terkekeh pelan. Saat itu Kazahana Dotou keluar dari gerbong kereta api uap yang kedua. Kereta api itu memiliki lima gerbong dan Dotou dengan seringaian jahat memandang Koyuki dari gerbong kedua sambil menyipitkan matanya.
"Putri Sotetsu, Koyuki-hime…"
Koyuki memandang shock pemimpin pemberontakan kepada pemerintahan ayahnya, pamannya sendiri sekaligus adik ayahnya…
"Paman Dotou…"
Naruto melirik cepat ke arah kereta api tersebut. Dengan cepat, Nadare Rouga yang berdiri di samping Dotou melempar tiga kunai ke arah Yondaime Uzukage dan istrinya. Mata Rouga melebar. Dia akan membunuh Uzukage terkuat sepanjang sejarah Uzu bersama Ratu Negeri Iblis…
Traaang!
Tiga kunai tadi tertancap di tanah yang berada di sekitar Naruto dan Shion. Obito mengucapkan permintaan maaf karena terlambat datang dan berdiri di depan Naruto-Shion dengan kunai teracung ke depan. Kedua matanya telah menjadi Sharingan.
"Yang lainnya mana?" tanya Naruto dengan suara tenang.
"Sedang menyerang dengan taktik ala ninja…" canda Obito. Naruto tersenyum tipis. Dotou dan anak buahnya akan ia serahkan kepada Obito dan kawan-kawan. Yondaime Uzukage memandang datar ke depan, merasakan dinginnya musim dingin membuat rasa panas di dalam tubuhnya akibat berlari tadi sedikit menghilang.
"Terima kasih atas bantuan kecepatan larinya, Hayaide…" ucap Naruto di dalam mindscapenye kepada si cheetah, Sumi-Kyo nomor tujuh.
Yondaime Uzukage memang sesuatu…
.
.
.
"Cepat Pak Sutradara, para ninja akan segera bertarung!"
Pak Makino yang sedang buang air kecil di tengah hutan bersalju mendecih kesal. Kenapa di saat momen-momen fenomenal seperti ini dia tiba-tiba ingin buang air kecil? Sutradara itu menutup cepat resleting celananya dan berlari menuju kumpulan kru film yang menunggu dirinya.
Tanpa diketahui, beberapa orang dari Suna mengawasi Sutradara tersebut.
"Hmm…ini bisa dijadikan langkah awal, Hoichi-taicho…" kata seorang ninja Suna yang memakai topeng iblis di wajahnya. Hoichi, Shinobi Suna berkepala plontos dengan luka horizontal dari pipi kiri hingga ke hidungnya hanya tersenyum tipis. Dia menutup wajahnya dengan topeng iblis berwarna abu-abu kehijauan.
Treng…dia membunyikan kecapinya dengan tenang.
"Seperti yang dikatakan'nya', ini langkah awal untuk mendapatkan Kyuubi." Kata Hoichi dengan nada dingin.
Treng!
TBC
AN:
Apa benar suara sirine kereta api uap itu "Tiiiiit" (?). Semoga benar :v
Chapter kali ini menekankan sedikit pada penggambaran karakter Koyuki yang masih bimbang dengan dirinya dan Negeri Yuki, negeri yang seharusnya dipimpin oleh dirinya. Di chapter ini juga Dotou mulai menunjukkan agretifitasnya untuk mengambil Kristal Hexagonal yang dipakai Koyuki di lehernya sebagai kalung.
Hoichi? Itu adalah karakter yang muncul di arc filler Naruto Shippuden saat Ujian Chunnin baru dilaksanakan. Saat itu Gaara sudah menjadi Kazekage dan Fuu ikut dalam Ujian Chunnin tersebut. Masih ingat pendeta botak yang memainkan kecapi dan menangkap Bijuu Fuu-Gaara dengan rantai Fuin-nya? Nah itu-lah si Hoichi.
Q: Saran dari Ramses-bro untuk menggabungkan TU Hiden dengan Main Part Story-nya…
A: Terima kasih atas sarannya bro, tetapi TU Hiden dan beberapa project lainnya tetap dipisah, mengingat jika memasukkan arc-arc lainnya akan membuat TU menjadi semakin panjang. Fokus utama TU di Part 3 memang pertarungan melawan sosok yang menjadi titik balik kebangkitan Naruto bersama desanya, yakni pertarungan melawan Uchiha Madara.
Q: Jangan pakai Sumi-Kyo karena Hikari Sunshin sudah cukup? Buat salah satu chara death?
A: Terima kasih atas sarannya gan. Yap, kemungkinan Yondaime Uzukage memang tidak terlalu tergantung pada Sumi-Kyo nya, tetapi Naruto akan memakai jutsu rahasia itu ketika dirinya memang merasa perlu menggunakan kekuatan tersebut. ada Chara Death? Hm…akan ane pikirkan.
Q: Proyek TU lain akan dipublish setelah karya ini selesai atau bersamaan?
A: Setelah project ini selesai.
Q: Siapa pembunuh 5 Kage?
A: Itu adalah salah satu secret project fic ini.
Q: Apakah Madara mengambil nama dari salah satu ninja Suna?
A: Wah, wah…ada yang terpikirkan soal Madara. Heheheh…kenapa bisa sampai ke sana gan? (Balik tanya)
Q: Bagaimana kabar TBT? Kenapa Naruto tidak ikut Cast?
A: Untuk TBT mohon bersabar gan. Naruto tidak ikut cast karena Pak Sutradara memang menginginkan Shion-sama menjadi salah satu pemain di Film terakhir Princess Gale.
Q: Siapa dari Suna dan mengapa dari Suna?
A: Sudah diperlihatkan karakter dari Suna gan, dan kenapa harus dari Suna? Jawabannya akan terjawab di beberapa cerita ke depan.
Q: Sampai chapter berapa?
A: Kurang dari 20 lah gan.
Q: Kalung Koyuki ditukar Asuma seperti Movie?
A: Khekhekhe, ditunggu saja gan.
Q: Ini lanjutan TU yang lama? Di sini atau Cuma selingan?
A: Bisa dibilang lanjutannya sebelum mencapai waktu penceritaan 3 tahun kemudian, ketika MADARA mulai bergerak. Bisa dibilang ini 'selingan', sebuah selingan yang penting bagi TU main story.
Q: Apa jangan-jangan Kazekage baru tahu pembunuh Rasa dang ingin membalas dendam?
A: Ditunggu saja penjelasannya gan.
Q: Apa alurnya mirip Movie?
A: Bisa dibilang mengambil beberapa elemen Movie-nya.
Q: Siapa yang jadi gokage baru setelah gokage lama mati?
A: Ada penjelasannya di epilog The Uzukage main story gan.
Kurang lebih seperti itu, mohon maaf jika ada kekurangan-kekurangan di fic ini. Terima kasih atas semua saran, kritik, semangat dan pertanyaannya.
Semoga kami tetap menghibur anda semua.
Mohon reviewnya di chapter ini untuk membuat cerita sederhana ini semakin baik lagi.
See you in Chapter 4
Tertanda. Doni Ren
