Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team

Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini

SEMBILAN ©2015 Vereinigte Autoren


Ada yang lain setiap kali Rey bermain piano.

Nada-nada terdengar sedih, bahagia, marah, bahkan seksi. Bulu kuduk merinding saat mendengar lantunan nada yang dimainkan oleh Rey. Selama Lacus selalu diiringi Nicol, dia belum pernah merasakan perasaan yang ia rasakan setiap kali diiringi oleh Rey. Jangan salah, Nicol adalah pianis yang handal, tetapi dia tidak memiliki karisma yang dimiliki oleh Rey. Genre musik mereka sama, tetapi cara mereka membawakannya berbeda.

Rey tidak sekedar memainkan lagu, dia menceritakan emosi dalam lagu tersebut dengan piano.

Lacus menggumamkan mars ZAFT High School yang akan ia nyanyikan saat upacara kelulusan sebulan lagi, jemari lentiknya menari dengan indah diatas tuts hitam dan putih. Dia berusaha mengingat bagaimana Rey mengajarinya beberapa hari silam. Matanya tertutup rapat, tetapi kau tahu bahwa dia bahagia, terlihat dari senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya. Rey yang akan mendampinginya saat bernyanyi nanti, wajahnya langsung memerah tanpa dikomando saat mengingat nama sang kekasih.

Tepuk tangan seseorang terdengar setelah Lacus selesai memainkan mars sekolahnya. "Permainanmu sangat bagus seperti biasa."

Yang dipuji tersenyum. "Tidak sebagus permainanmu."

Rey mengecup kening Lacus sebelum duduk di samping Sang Diva. Secara tidak sadar Rey memainkan sembarang nada. "Aku tidak percaya kalau kau akan lulus sebentar lagi." ucapnya lirih.

Lacus meremas tangan Rey, membuatnya terpaksa berhenti bermain. "Hanya satu tahun, Rey. Setelah kau lulus, kau akan menyusulku ke Eeuwig Academy of Music. Atau kau lebih memilih Royal Conservatory of Scandivania? Aku akan tetap mendukungmu, tidak peduli universitas mana–"

"Tentu saja aku akan menyusulmu ke Eeuwig!" potong Rey dengan cepat. "RCS memang memiliki program piano terbagus di dunia, tapi aku tidak peduli. Aku–"

"Rey," Lacus menempelkan telunjuknya di bibir Rey. "Masih ada tiga bulan lagi sebelum pendaftaran dibuka. Aku ingin kau memikirkan ini matang-matang. Seperti yang kau bilang, program piano di RCS adalah yang terbagus di dunia. Dan aku tahu kalau kau tidak suka dengan Eeuwig–oh jangan tatap aku seperti itu, Rey–sebab ayahmu ada di Eeuwig."

Rey menghela napas. "Apa kau lupa, aku selalu hidup dalam bayang-bayang ayahku. Pergi ke Eeuwig tidak akan membuatku tambah stress."

"Kalau kau ingin membaca berita dengan headline 'Lacus Clyne memarahi Gilbert Durandal karena dia menyebalkan dan tidak mencintai anak laki-lakinya', ya silahkan saja masuk ke Eeuwig." Rey menggeleng.

"Aku yakin para wartawan gosip bisa memberikan judul yang lebih baik dari itu."

"Hei!" Lacus pura-pura marah. Rey tertawa.

"Bukannya aku tidak suka menghabiskan waktu bersamamu," Rey bicara setelah beberapa saat sunyi. "tetapi kenapa kau malah bersembunyi di ruang musik? Bukannya menghabiskan hari-harimu sebagai murid SMA dengan teman-temanmu yang lain?"

"Entahlah, setiap kali aku bersama mereka, pasti pada akhirnya aku dan Miriallia hanya akan membicarakan Athrun atau Cagalli atau keduanya." Rey menaikkan satu alis. "Jangan bilang kalau kau tidak menyadarinya? Mereka sama-sama saling suka. Tapi entah mereka yang kelewat polos atau pura-pura polos sampai-sampai tidak paham dengan sinyal yang diberikan satu sama lain."

"Mungkin frekuensi mereka berbeda," komentar Rey dengan wajah serius. "Kenapa kau tidak membantu Athrun untuk menyadari perasaannya, Lacus? Aku kira kalian berteman."

"Iya..."

"Tapi?"

Lacus menghela napas. "Apa kau pernah melihat tatapan Cagalli setiap kali aku dan Athrun mengobrol?" Ketika Rey menggeleng, Lacus melanjutkan. "Dia menatapku seperti ingin mencabik-cabik diriku. Aku tahu dari Miriallia, setengah tahun setelah kami masuk SMA. Awalnya Miriallia berpikir kalau itu hanya bayangannya saja, soalnya dia baru menonton film horor malam sebelumnya. Tapi kemudian hal itu terjadi lagi, baru Miriallia yakin kalau itu bukan bayangannya. Cagalli memang menatapku seperti itu."

Rey kembali tertawa, bagaimana tidak? Sekarang wajah seorang Lacus Clyne terlihat sangat konyol dan ketakutan–dalam konteks lucu. Memangnya ada ketakutan dalam konteks lucu?–saat menceritakan bahwa salah satu temannya menatap dirinya seperti seekor singa yang tengah mengintai mangsa ketika Lacus tengah mengobrol dengan temannya yang lain, yang juga teman si singa–eh maksudnya teman Cagalli–dan laki-laki itu pernah memiliki perasaan kepada Lacus?

"Apa kau sudah mencoba menjelaskan kepada Cagalli kalau kau tidak menyukai Athrun seperti itu? Kalau hubungan kalian benar-benar hanya sebatas pertemanan sekarang? Apa Cagalli lupa kalau kau sudah punya kekasih?"

"Dari tiga tahun yang lalu, Rey." Lacus menggeleng. "Waktu itu Cagalli menggodaku dengan mengatakan kalau aku memiliki penggemar rahasia, awalnya aku kira dia membicarakan orang lain, namun begitu dia menyebut rambut biru, aku tahu siapa yang dibicarakan Cagalli."

"Aku yakin Cagalli tidak sadar dengan perasaannya sendiri."

"Mungkin."

"Aku beruntung karena aku langsung tahu perasaanku kepadamu saat pertama kali kita bertemu." Rey tersipu malu. Hal ini jarang terjadi.

Lacus terkekeh. "Ya, aku ingat saat pertama kali kita bertemu, saat kau melupakan lagu andalanmu atau ketika mulutmu terbuka lebar saat melihatku memakai gaun itu, atau..."

"Oke, oke!" sela Rey. Wajahnya tambah merah. Sekilas, banyak orang yang mengira kalau Rey itu orang yang tidak berperasaan atau kelewat dingin. Bahkan satu dari sepuluh alasan kenapa orang menyukai Rey adalah pembawaannya yang misterius, kalem dan dingin. Tapi Lacus bisa memastikan kalau itu salah. Rey sangat mudah tersipu malu, apalagi dengan kulitnya yang putih membuat semburat warna merah dipipinya semakin terlihat. Membuatnya terlihat imut.

Rey tidak suka disebut imut, bisa merusak reputasi sebagai pianis yang misterius katanya. Namun setiap kali ia mengatakan hal tersebut, pipinya tambah merah. Nampaknya Rey tidak mau jujur kalau sebetulnya dia suka disebut imut, apalagi jika pujian itu diucapkan oleh Lacus.

Itu satu dari ratusan alasan kenapa Lacus jatuh cinta dengan seorang Rey Za Burrel.

Bel tanda masuk berdering, menandakan jam pelajaran kelima. Rey mengembuskan napas. "Waktunya untuk kembali ke kehidupan nyata sebagai murid SMA kelas dua."

Lacus mengecup pipi Rey. "Belajar yang rajin. Aku akan menunggumu di sini setelah pulang sekolah nanti."

"Selamat bersenang-senang dengan teman-temanmu." Rey balas mengecup pipi Lacus. "Dan mungkin kau akan mengubah pikiran soal membantu Athrun menyadari perasaannya kepada Cagalli."

"Huuum," Lacus mengusap-usap dagu. "Aku baru ingat kalau ada taruhan dikalangan anak kelas tiga mengenai hubungan Athrun dengan Cagalli. Aku bertaruh kalau mereka akan pacaran setelah mereka kuliah nanti."

Satu alis Rey naik. "Kenapa lama sekali?" Dan kenapa Rey tidak mempertanyakan mengenai Lacus yang ikut taruhan? Plus, berapa banyak uang yang menjadi taruhan? Sebentar... Fokus, Rey!

"Tadinya aku ingin mengambil setelah pengemuman kelulusan, tetapi Miriallia sudah mengambilnya duluan. Tapi syukurlah, jadinya aku belum kalah." Lacus tersenyum senang.

Rey menggeleng sambil berusaha menahan tawa. Dia yakin kalau Miriallia yang mengajak/memaksa Lacus untuk ikut taruhan itu. "Jangan lupa traktir kalau menang."


Chapter 3 – Lacus

Just Friend?


"Ketika dia bercerita dengan bangga kepada teman-teman sekelasnya kalau dia akan menjadi seorang detektif, mereka hanya menertawakan orang itu," Lacus tersenyum lebar.

"Dan sekarang siapa yang tertawa?" Athrun ikut tersenyum sebelum memeluk Lacus.

Siapa pun yang menang taruhan nanti. "Apa kabarmu, Athrun?" tanya Lacus setelah melepaskan pelukannya. Terakhir kali ia bertemu dengan Athrun saat pria itu berkunjung ke Heliopolis untuk menangkap Muruta Azrael yang kabur dari tahanan di PLANT.

Itu dua tahun yang lalu.

"Cukup baik karena calon mempelai wanita menyempatkan diri untuk menjemput mantan penggemar rahasianya." Athrun menyeringai. Lega karena dia bisa bercanda dengan Lacus mengenai perasaannya dulu.

"Terima kasih karena kau menyempatkan waktu untuk menghadiri pernikahanku."

"Hei, aku tidak mungkin melewatkan pernikahanmu. Tidak peduli di mana aku berada, aku akan menemukan cara untuk mengirimu ke altar." Athrun melemparkan senyum menawan kepada Lacus, membuat Sang Diva terkekeh geli. Dia ingat waktu Athrun datang meminta bantuan kepadanya saat dia hendak menjalani misi penyamaran untuk pertama kali. Athrun harus berubah total menjadi pria tukang tebar pesona dan pandai memikat hati wanita.

Tapi tetap saja hubungan Athrun dan Cagalli tidak naik ke tingkat selanjutnya.

Sudah tujuh tahun semenjak Athrun Zala berkenalan dengan Cagalli Yula Athha, namun status mereka tetap teman. Yang lebih parahnya lagi, keduanya malah berpacaran dengan orang lain! Sungguh keterlaluan! Ketika Athrun pacaran dengan Meer Campbell, komite yang mengurusi taruhan mengenai hubungan antara Athrun dan Cagalli–ada yang menyebut komite itu sebagai fans club Athrun-Cagalli–langsung panik, hingga akhirnya komite/fans club itu resmi bubar setelah Cagalli menyusul Athrun melepas status lajangnya dengan resmi menjadi pacar Shinn Asuka.

Uang yang terkumpul akhirnya dikembalikan ke pemiliknya masing-masing (catatan yang dibuat oleh Sai sangat mendetail), ada juga yang menolak pengembalian uang, Sai dan Miriallia memutuskan untuk menyumbangkan uang tersebut ke sekolah mereka. Para pemilik uang setuju. Tapi ada yang menolak untuk menyumbangkan uang mereka dengan mengatakan kalau suatu hari nanti pasti Athrun akan berani menyatakan perasaannya kepada Cagalli dan perempuan kelahiran 18 Mei akan menerima pria yang berulang tahun tanggal 29 Oktober itu. Atau setidaknya hubungan asmara Athrun dan Cagalli tidak akan bertahan lama.

Entah untung atau sial, dugaan orang itu benar. Setahun kemudian Cagalli putus dengan Shinn, Athrun menyusul setengah tahun kemudian. Dan komite taruhan dibentuk kembali. Sai dan Miriallia masih menjadi ketua dan wakil ketuanya.

"Kau sudah membeli bunga untuk Paman Siegel?" tanya Athrun setelah mereka naik ke mobil Lacus.

"Ya, setelah membeli bunga aku langsung pergi ke bandara untuk menjemputmu." Lacus menyalakan mobilnya.

Athrun memakai sabuk pengaman. "Aku kagum Rey tidak marah dengan tradisi kita."

"Rey mengerti kalau tradisi ini sudah ada sebelum dia hadir dalam hidupku, dia tidak ingin merusaknya." Lacus tersenyum sedih. "Lagipula biasanya aku dan Rey akan berkunjung ke makam ayahku saat matahari terbenam. Membuat tradisi baru, begitu katanya."

Siegel Clyne meninggal ketika Lacus berusia delapan tahun, keluarga Zala yang bersahabat baik dengan Siegel akhirnya membesarkan Lacus. Lenore Zala yang memulai tradisi ini. Pagi hari mereka berkunjung ke makam Siegel, setelahnya mereka akan memasak bersama seharian. Awalnya Lenore memasak untuk menghibur Lacus, sebab dia tahu kegiatan favorit Lacus selain bernyanyi adalah memasak.

Walau Lenore telah meninggal, tradisi ini masih dilakukan oleh Lacus dan Athrun. Walau Patrick tidak pernah ikut lagi dalam tradisi itu (dia masih mengunjungi makam Siegel) keduanya tidak akan berhenti melakukan tradisi ini.

Mungkin karena Athrun dan Lacus sering menghabiskan waktu bersama, Athrun mulai menyukai Lacus. Tetapi setelah kematian ibunya, setelah dia bertemu Cagalli, Athrun akhirnya sadar kalau perasaan yang ia rasakan kepada Lacus berbeda dengan perasaan yang dia rasakan kepada Cagalli.

"Kau beruntung bisa mendapatkan pria seperti Rey," Athrun tersenyum tulus. "Tapi bukan berarti aku tidak akan memberikan dia ceramah nanti."

"Athrun, kau sudah melakukan hal itu saat aku pacaran dengan Rey."

"Ya, sekarang aku akan memberikan versi yang baru. Kalian kan akan menikah, berarti ini lebih serius. Ancaman yang akan aku berikan juga jauh lebih serius dari yang dulu," kata Athrun dengan sungguh-sungguh.

Lacus menggeleng, tawa merdunya menggema di dalam mobil yang melaju pelan di tengah lautan mobil-mobil yang baru saja keluar dari Bandara Internasional PLANT.

"Ngomong-ngomong soal hubungan..."

"Ugh. Lacus, tolong jangan mulai menceramahiku. Aku tahu tidak seharusnya aku berpacaran dengan Meer."

"Aku tidak niat untuk menceramahimu, Athrun Zala." ujar Lacus. "Aku hanya ingin bertanya bagaimana hubunganmu dengan Cagalli?"

Kening Athrun mengkerut. "Uuuuh, aku tahu kemana arah pembicaraan ini, dan aku tidak menyukainya." Lacus tertawa. "Aku serius! Kenapa sih kau sangat terobsesi dengan hubunganku dan Cagalli? Harus berapa kali aku mengatakan kalau aku dan Cagalli hanya sebatas teman?"

"Oh Athrun," Lacus menggeleng. Lampu merah menyala dengan terang. Lacus menoleh ke samping, memberikan senyum khasnya yang penuh perhatian dan kasih sayang. Ia meremas tangan Athrun. "Semua selalu berawal dari pertemanan."


"Halo calon Nyonya. Za Burrel." Goda Miriallia begitu melihat Lacus yang duduk di bangku paling pojok di Cafe Archangel, cafe langganan mereka waktu SMA dulu.

Bibir Lacus membentuk senyum simpul. "Halo juga Nona-Yang-Sedang-Bingung-Memilih." Lacus balas menggoda Miriallia. Membuat perempuan itu menggeram marah dan memukul pundak Lacus setelah ia melepaskan pelukannya.

Siapa yang pernah mengira jika pasangan Miriallia Haw dan Tolle Koenig akan dilanda masalah? Siapa yang menduga kalau pasangan ini bisa mencapai tahap dimana mereka kehabisan bahan pembicaraan? Tapi itulah yang terjadi, hubungan Miriallia dan Tolle sedang diuji saat sosok Dearka Elsman masuk ke dalam kehidupan mereka. Disatu sisi Miriallia masih mencintai Tolle, tapi disisi lain mulai ada perasaan khusus yang tumbuh dihatinya setiap kali ia melihat Dearka.

"Oh, hai Milly!" sapa seorang perempuan berambut merah muda yang kalau tidak salah ingat namanya adalah...

"Lunamaria Hawke?" Mulut Miriallia terbuka lebar. "Oh hei tunggu," ia mengamati Lunamaria yang membawa nampan berisi dua cup plastik berukuran besar dan sepiring donat. Dari aromanya dia tahu kalau salah satu cup itu berisi minuman kesukaan Lacus, Strawberries Frappuccino. "sejak kapan kalian bersahabat? Bukannya dulu kalian sempat bertengkar karena kau berpacaran dengan Rey."

Mereka berdua saling tatap beberapa saat sebelum tawa meledak, membuat Miriallia menatap dua perempuan di hadapannya seperti sedang menatap hantu.

"Aku kira kita telah berteman hampir tujuh tahun lebih, Miriallia." Lacus menyeka tangis yang keluar karena tertawa. "Kami tidak pernah saling benci, itu hanya gosip. Aku dan Rey waktu itu putus secara baik-baik, meski memang berat bagi kami berdua, tapi kami yakin itu adalah keputusan yang tepat."

"Lagipula aku tidak mungkin membenci Lacus, apalagi setelah dia memperkenalkanku dengan Sting Oakley." Lunamaria menyeringai.

Tidak ada yang pernah menduga kalau pasangan bintang Lacus Clyne dan Rey Za Burrel akan putus dua bulan setelah kelulusan. Hubungan jarak jauh yang mereka lakukan sangat menyiksa, satu tahun terlalu lama untuk ditunggu. Hingga akhirnya saat Lacus tengah kembali ke PLANTS untuk menggantikan penyanyi dalam konser salah satu dosennya, Reverend Malchio, Lacus memutuskan hubungannya dengan Rey.

Lacus tidak sanggup melihat Rey sendirian, meski dia dikelilingi oleh teman-teman yang peduli dan sayang kepadanya, semua itu tidak sama. Lacus tidak tahan saat menyadari kalau dirinya tidak bisa menenangkan Rey setiap kali ada orang yang menyama-nyamakan Rey dengan Gilbert, tidak bisa memeluk Rey, tidak bisa mencium aroma tubuh Rey. Semua itu membuat Lacus gila dan dia tidak tahan.

Awalnya Rey tidak paham dengan keputusan Lacus, tetapi akhirnya Rey mengerti. Dia bahkan mengatakan, jika keduanya memang berjodoh, suatu hari nanti mereka akan bersama lagi. Rey pergi ke Royal Conservatory of Scandivania, Lacus kembali ke Eeuwig Academy of Music.

Selama mereka menempuh jalan hidup masing-masing, Rey berpacaran dengan Lunamaria. Sedangkan Lacus membina hubungan bersama Sting Oakley.

Seperti yang orang bilang, Cinta Sejati akan selalu menemukan cara untuk bersatu.

"Waow, oh oke, aku hanya kaget saat melihat kalian akrab." gumam Miriallia setelah menyeruput cokelat hangatnya. "Cagalli akan datang ke sini kan?"

Lacus mengangguk. "Bagaimana dengan taruhannya? Apa ada orang baru lagi?"

Lunamaria menaikkan satu alis. "Saat Rey menceritakan mengenai taruhan yang dibuat oleh anak angkatan 45, aku kira dia hanya bercanda. Ternyata kalian memang benar-benar melakukan taruhan besar-besaran soal hubungan Athrun dan Cagalli, huh?"

"Kami hanya berusaha membantu dua teman kami yang jenius untuk segera menyadari perasaan mereka masing-masing," Lacus mengangguk setuju. "dan apa salahnya sambil melakukannya kami mendapatkan sedikit kesenangan dan tambahan uang?" Miriallia melakukan tos dengan perempuan yang akan menikah bulan depan.

Perempuan yang paling muda diantara mereka bertiga hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan mantan kakak kelasnya.


Sun, 1 March. 11.30 A.M

From: Rey

Hahahaha, Athrun juga mengalami hal yang sama di sini. Dia sedang kami bully habis-habisan. Ngomong", dia hampir melihat buku taruhan kalian. Sai panik dan dy menelan satu roti utuh, hahahaha, wajahny sampai ungu! Sayang kau tdk melihatny. Dia tdk apa", tenang saja :)

Sun, 1 March. 11.52 A.M

To: Rey

Rey, knp kau tertawa saat sahabatku merana? Kau kejam! Sai kadang suka lupa dimana dy menyimpan buku itu :(, tolong jaga buku itu dng hidupmu, Rey! Oh Luna tengah membicarakanmu.

Sun, 1 March. 00.51 P.M

To: Rey

Aku benar-benar tdk tau harus bilang apa... Luna baru saja selesai menceritakan tentang insiden di tempat ice skating...

Sun, 1 March. 01.44 P.M

From: Rey

DIA MENCERITAKAN KEJADIAN ITU? Coba tanya soal kejadian di lapangan bola! Kalau wajahnya memerah, katakan kodok. Dia pasti mengerti apa yang aku maksud! Oh ngomong-ngomong, Sting br menceritakan soal kencan kedua kalian. Ingat botol pepsi ;) ?

Sun, 1 March. 02.27 P.M

To: Rey

Hahahaha, wajah Luna merah seperti rambutnya saat aku menanyakan soal kejadian di lapangan bola! Cagalli berhasil memaksa Luna untuk bercerita. Aku tdk percaya kau menyuruhnya untuk melakukan hal itu, Rey! Knp kau jadi jahat begitu sih :(?

Oh, dia menceritakan itu. Goda Sting dengan bilang fine-apple.

"Halo, bulan kepada bumi!" Lunamaria melambaikan tangan di depan wajah Lacus yang fokus melihat ponsel layar sentuhnya.

Bibir Lacus tersenyum saat dia mengingat cerita dibalik kalimat fine-apple. Wajah Sting pasti akan merah seperti wajah kekasih barunya. "Oh, huh, apa?" tanya Lacus kaget.

Cagalli menyeringai. "Ayolah, kau sedang berkumpul dengan kami. Jangan sibuk SMS-an dengan calon suamimu."

"Oh, maaf, soalnya Sai hampir kehilangan buku–" Lacus berhenti bicara saat dia sadar siapa lawan bicaranya. Dia berdahem, dari ujung matanya dia bisa melihat Miriallia menggeleng dan melambaikan tangan dengan panik. "Sai hampir menghilangkan buku daftar tamu pernikahanku saat Rey memperlihatkannya kepada Sai."

"Rey membawa buku itu ke mana-mana?" Cagalli mengeritkan kening.

"Ya, aku juga membawanya. Apa kau mau lihat?" Lacus membuka tasnya. "Isinya bukan hanya daftar tamu saja, tapi juga hal-hal yang berhubungan dengan persiapan pernikahan kami."

"Tidak perlu. Selama aku tahu kalau namaku ada dalam daftar itu, aku sudah puas."

"Ngomong-ngomong soal pernikahan..." Lunamaria menatap Cagalli yang duduk di samping Miriallia. "Kapan kau akan menyusul, Cagalli?"

"Carikan aku calon suami, baru akan menyusul Lacus." jawab Cagalli santai.

"Oh, bukannya kau sudah punya calon?" Miriallia mengedipkan mata penuh arti.

Cagalli memutar mata. "Ayolah. Sudah aku bilang kan, kalau aku dan Athrun hanya teman."

Tiga perempuan lainnya langsung tertawa, butuh waktu sekitar sepuluh detik bagi Cagalli untuk menyadari apa ada yang salah dengan ucapannya. "Oh, demi Haumea! Maksudku tidak–"

"Hei, perasaan tadi Miriallia tidak menyebutkan nama Athrun." Lunamaria menyeringai.

"Untung saja kau tidak menyebut nama Yuuna." Cagalli melemparkan tatapan membunuh ke arah Miriallia. Tatapan yang selama ini selalu Lacus dapatkan setiap kali dia mengobrol dengan Athrun.

"Aku benci kalian." Gumam Cagalli sambil melipat tangan.

Lacus, Miriallia dan Lunamaria tertawa terbahak-bahak.


Lantunan piano terdengar samar-samar diantara suara bahagia para tamu undangan, sang pengantin pria belum kelihangan sentuhannya sebagai seorang pianis. Beberapa orang bergumam dan menggelengkan kepala karena melihat pria pirang itu mengusir secara halus pianis sebelumnya. Pianis yang disewa untuk mengisi acara pernikahan Rey Za Burrel dan Lacus Clyne.

Yah, sekali pianis, tetap pianis.

Sang pengantin wanita tersenyum, terkadang tertawa saat melihat sang penganti pria, suaminya, mengajarkan sahabat mereka bermain piano. Semua teman-teman SMA mereka tahu kalau Cagalli Yula Athha itu buta nada dan tidak sabaran dalam bermain alat musik–dan dalam beberapa hal lainnya, namun itu tidak penting–makanya melihat Cagalli yang mengenakan gaun hijau merengut disaat Rey yang dibalut tuxedo abu-abu pura-pura marah dan menyuruh Cagalli untuk melenturkan tangan karena dia tidak bisa bermain piano dengan tangan kaku.

"Aku salut dengan Rey. Dia sangat sabar mengajar Cagalli waktu SMA dulu," ucap pria berambut biru tua di sebelah Lacus. Mereka sama-sama tengah bersandar di balkon, masing-masing memegang gelas berisi anggur putih.

"Apa kau ingat kalau Nicol mematahkan sulingnya karena stress mengajar Cagalli?" Lacus terkekeh geli.

Athrun tertawa. "Aku ingat. Cagalli langsung memintaku menemaninya untuk membeli suling."

Keduanya tertawa bersama saat melihat Cagalli memukul pantat Miriallia yang berdiri di sebelah Cagalli, mereka yakin kalau perempuan berambut cokelat itu baru saja menggoda calon anggota kongres. Tolle balas memukul pundak Cagalli sebelum merangkul Miriallia dari samping.

"Mereka terlihat sangat bahagia," Athrun melirik Lacus yang masih memandangi Rey dengan penuh cinta. "Kau terlihat sangat bahagia. Dan kau layak untuk mendapatkan kebahagiaan ini." Athrun memuji sahabat dari kecilnya yang mengenakan gaun pengantin abu-abu.

Dearka, salah satu rekan Athrun di kepolisian ikut tertawa saat melihat Sting duduk di sebelah kiri Rey dan memainkan lagu anak-anak. Siapa yang mengira kalau drummer band metal mau memainkan lagu anak-anak dengan piano?

"Kau juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan, Athrun." Lacus menoleh. "Aku yakin Bibi Lenore tidak mau melihatmu bersedih setiap hari."

"Aku tidak bersedih setiap hari, aku..."

"Kenapa kau menolak kebahagiaan disaat orang lain mati-matian mencarinya?"

"Aku tidak menolak Cagalli." bisik Athrun. "Dia belum memintaku untuk menjadi pacarnya, bagaimana aku bisa menolaknya? Plus, aku tidak segila itu, jadi aku tidak mungkin akan menolaknya." Beberapa detik kemudian Athrun baru sadar dengan apa yang dia ucapkan. "Maksudku bukan–"

Lacus tersenyum manis. "Kalian berdua sangat cocok, sungguh. Tidak akan ada yang kaget jika kalian pacaran, apalagi menikah. Malah aku yakin, kami semua akan langsung berteriak 'Akhirnya!' dan membuat pesta sendiri."

Kening Athrun berkerut. Sebelum dia sempat bertanya mengenai maksud ucapan Lacus, perempuan itu kembali bicara. "Menurutmu apakah Miriallia akan memutuskan Tolle?"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Athrun langsung menatap pasangan yang dimaksud.

Lacus menghela napas dengan sedih. "Aku tidak melihat Miriallia bahagia lagi saat bersama Tolle. Ya, dia tersenyum dan tertawa. Tapi bukankah kita bisa memalsukan keduanya? Sedangkan sorot mata, kita tidak bisa memalsukannya. Miriallia bukan orang yang bisa menutupi perasaannya, kau bisa mengetahui perasaannya dari sorot mata Milly."

"Apa itu alasanmu sesungguhnya saat kau memintaku untuk mengundang Dearka?" Athrun menghela napas. "Mereka hanya pernah bekerja sama sekali, waktu itu kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan seorang fotografer, Miriallia pernah bekerja dengan orang itu."

Lacus menggeleng. "Tidak ada aturan harus berapa kali kita berinteraksi dengan seseorang sebelum kita boleh jatuh cinta dengan orang itu. Lagipula, aku yakin mereka sering mengobrol setelah kasus tersebut selesai."

Suara tawa Rey menggelegar, Cagalli menyembunyikan wajahnya di pundak Rey, Lunamaria dan Sting berusaha menahan tawa tapi gagal, Dearka memukul-mukul piano, sementara Tolle dan Miriallia tertawa terbahak-bahak sampai mereka harus memegangi perut.

Berdiri tidak jauh dari piano hitam, Yuuna Roma Seiran dalam balutan tuxedo kuning cerah, dasi pink, topi pesulap warna hijau neon. Dia menggenggam buket bunga mawar, menatap Cagalli dengan penuh harap.

Lacus dan Athrun yang baru saja tahu apa yang membuat sahabat-sahabat mereka tertawa akhirnya ikut tertawa.


Jika dilihat dari luar, suasana di kediaman Clyne-Burrel–bukan, ini bukan rumah masa kecil Lacus. Rumah itu sudah dijual tidak lama setelah kematian Siegel–sore hari ini sangat sepi. Tetapi jika kamu masuk ke dalam rumah bertingkat dua itu, dan mengintip ke ruang bawah tanah, sepi adalah hal terakhir yang akan terlintas dalam benakmu.

Ruangan bawah tanah ini sudah disulap menjadi ruang tamu kedua. Lantainya terbuat dari kayu. Televisi ukuran 60' inch menempel di dinding bercat putih, tiga sofa panjang yang bisa menjadi tempat tidur diatur hingga membentuk huruf 'u', mengelilingi meja kopi. Ada konter yang terbuat dari kayu tidak jauh dari televisi, di belakang konter itu terdapat rak berisi minuman alkohol. Ada kulkas besar di dekat rak. Ada sekitar enam kursi tanpa sandaran di depan konter. Masing-masing sudut ruangan dihiasi lampu berdiri, sementara di salah satu sisi ada rak buku, di depan rak tersebut ada dua sofa kulit, mengapit sebuah meja bundar. Di atas meja bundar tersebut ada papan catur.

Saat ini, di tiap sudut ruang bawah tanah keluarga Clyne-Burrel dipenuhi oleh manusia yang hampir tidak semua dikenal oleh salah satu tuan rumah, Rey Za Burrel.

"Ternyata murid angkatan 45 itu banyak juga," gumam Rey dengan tatapan kagum dan sedikit takut. Dia tahu kalau murid angkatan 45 dari ZAFT High School cukup banyak, tapi dia baru tahu kalau semuanya hampir muat di dalam ruang bawah tanahnya!

"Tidak semuanya datang, Rey." Lacus tertawa seolah-olah bisa membaca pikiran suaminya.

Tiba-tiba ada orang yang mematikan televisi, membuat mereka yang sedang menontonnya mengeluh kesal. Sai, yang bertanggung jawab atas matinya televisi sudah berdiri di atas meja kopi. "HEEEEI!" teriakannya spontan menghentikan hiruk-pikuk teman-temannya yang sedang saling bercengkrama setelah tujuh tahun tidak berjumpa.

Miriallia tidak ikut berdiri di atas meja makan. Perlahan, orang lain mulai duduk. Entah di sofa, di atas meja, bahkan di lantai. Sekarang yang berdiri hanya Miriallia, Sai, Rey dan Lacus.

Sai berdahem. "Oke, sebelumnya terima kasih sudah mau datang, kawan-kawan semua." Ada yang bertepuk tangan, ada yang berteriak senang, ada yang bersiul. "Lalu tentunya, terima kasih kepada sang pengantin baru, karena telah mau bersedia menjadi tuan rumah untuk acara ini." Sai menunjuk Lacus dan Rey yang berdiri di paling belakang.

Kontan pasangan suami-istri yang baru pulang bulan madu mereka langsung menjadi pusat perhatian.

"Nah," Sai berusaha menarik perhatian semua orang di ruangan ini kembali kepadanya setelah mereka selesai meneriakkan terima kasih mereka kepada Lacus dan Rey. "seperti yang kita tahu, ATHRUN ZALA DAN CAGALLI YULA ATHHA SUDAH RESMI BERPACARAN!"

Teriakan Sai diikuti oleh teriakan yang lainnya. Glitter, pita, tissu hingga majalah berterbangan, Lacus yakin pasti akan sangat lama membersihkan ruangan ini nanti. Dia harus memaksa Sai membantunya, sebab ini ide dia untuk memakai rumah Lacus.

Seseorang langsung memeluk Lacus dari samping, disaat Rey mendapat serangan pelukan dari orang yang berdiri di depannya.

"Jadi siapa yang menang taruhannya?" teriak seseorang setelah euforia mereda.

"Tidak ada," Sai menggeleng. "Nah, sekarang, ingin kita apakan uang ini?"

"Dikembalikan?"

"Disumbang seperti dulu?"

"Bagaimana jika membelikan cincin pertunangan Athrun dan Cagalli dengan uang itu?"

"Uuuuh, mereka baru pacaran."

"Bagaimana kalau," suara lembut Lacus terdengar diantara suara-suara lainnya. "kita gunakan uang tersebut untuk menyumbang yayasan yang baru saja diresmikan Cagalli kemarin? Atau menggunakan uang tersebut sebagai dana kampanye Cagalli untuk maju menjadi anggota kongres? Atau mungkin kedua-duanya?"

Semua orang menatap Sai, sementara yang menjadi pusat perhatian menatap Miriallia. "Bagaimana, Milly? Apa dananya cukup?"

"Kita tidak bisa membiayai penuh kampanye Cagalli, tapi kita bisa membantu meringankannya. Aku setuju dengan Lacus, kita bagi dua saja uang ini. Bagaimana?"

Semua mengangguk setuju.


Rey tersenyum saat melihat Lacus tengah menyuci piring sambil bersenandung. "Aku tahu kalau kau yang menang, Lacus."

Si pemilik nama tertawa. "Bagaimana kau tahu?"

"Tiga hari yang lalu, saat Sai datang, aku tidak sengaja membaca buku catatan yang berisi nama-nama yang ikut taruhan. Kemudian tebakan mereka mengenai kapan Athrun dan Cagalli akan berpacaran. Aku melihat namamu, kau bertaruh mereka akan resmi menjadi sepasangan kekasih setelah pernikahan kita. Kau menang."

"Jadi saat Sai mengatakan kalau aku yang menang, kau tidak terkejut?" tanya Lacus dari balik bahu.

"Tentu saja aku terkejut, dan aku lebih terkejut lagi saat kau menjabarkan idemu kepada Sai." Rey berjalan mendekati Lacus. "Apa kau tidak menyesal? Jumlah uangnya cukup banyak."

Lacus kembali tertawa. "Sudah aku katakan bukan, kalau aku hanya ingin Athrun dan Cagalli bahagia? Aku tidak pernah peduli dengan taruhan tersebut."

Rey memeluk Lacus dari belakang. "Itulah alasan aku jatuh cinta kepadamu."

"Karena aku tidak peduli dengan uang? Percayalah, aku pedui dengan uang. Hanya saja tidak begini caranya."

Rey tertawa.


"SEKARANG AYO CERITAKAN SEMUANYA DENGAN RINCI!" Miriallia, Flay, Tolle, Sai, hingga Kira, berteriak bersamaan.

Cafe Archangel hari ini tutup karena sedang disewa untuk merayakan pesta pribadi. Pesta untuk merayakan resminya Cagalli dan Athrun berpacaran.

Saat pertama kali tahu mengenai taruhan yang dilakukan teman-temannya selama tujuh tahun, Cagalli marah besar dan Athrun kecewa. Tetapi saat satu angkatan memarahi mereka berdua dan mengatakan kalau satu angkatan sangat sayang dan peduli dengan Athrun dan Cagalli, sampai-sampai mereka rela mengkoleksi foto-foto pasangan baru itu (Athrun sudah memaksa teman-temannya untuk menghapus foto dirinya dan Cagalli) Cagalli tidak marah lagi, dan Athrun hanya menggeleng.

Pasangan baru dipaksa untuk menyewa Cafe Archangel seharian penuh, lalu menceritakan semua tentang hubungan mereka.

Lacus berusaha menyembunyikan senyum saat dia melihat Athrun meminta bantuannya, namun Lacus menolak dengan menggelengkan kepala."Kau tidak mau mendengar cerita bagaimana Cagalli resmi menjadi kekasih Athrun?" tanya Rey yang duduk di samping istrinya.

"Aku sudah tahu ceritanya. Athrun meneleponku sebelum dan sesudah kejadian itu." Ia tersenyum.

Terkadang Sang Diva heran, untuk ukuran orang sejenius Athrun dan Cagalli, bagaimana mereka tidak mengetahui soal taruhan ini lebih awal? Kenapa mereka butuh waktu lama untuk menyadari perasaan mereka?

Cinta memang mengerikan, sebab lihat saja, dia bisa mengubah orang jenius menjadi bodoh. Tapi cinta tidak akan sebegitu mengerikan jika kau bersama orang yang mencintaimu apa adanya.


To be continued ...


Halo, kami datang lagi. Udah masuk chapter 3 nih, apakah para reader sudah berhasil menebak siapa yang menulis chapter berapa? Pssst, bagi pembaca yang menebak dengan benar hingga chapter 9, akan mendapat hadiah loh! Hadiahnya apa? Stay tune to find out!

Setelah proyek Round Robin 'Sembilan' ini selesai, rencananya akan ada Round Robin yang lain. Untuk masalah teknis belum diketahui. Proyek ini terbuka bagi siapapun yang ingin mencoba serunya menggabungkan idemu dengan ide orang lain! Seperti biasa, jika ada pertanyaan mengenai Round Robin, bisa langsung bertanya di akun ini, atau silahkan pilih akun kami yang lain.

The last but not least, kritik, saran, komentar bahkan teriakan fangirl bisa membuat kami tersenyum lebar. Jadi jangan lupa untuk mengisi kotak review yah! Sampai jumpa di chapter selanjutnya