HOPELESS

| winner fanfiction | minyoon or songkang | mino/seungyoon |

| WINNER © YG ENTERTAINMENT |

| HOPELESS © dumb-baby-lion |

| rated T | boys love |

| twoshoot |


don't like don't read

any same idea, it's just acidentally same

and remember, it's just a FICTION

warning. out of character and typos take a big part of my writing world


(2b/2) how dare you did all of this to me?


Seunghoon menatap Seungyoon gemas, ketika pemuda yang lebih muda darinya itu memakan spaghetti yang dihidangkan Seunghoon beberapa menit yang lalu.

Kang Seungyoon memang tidak pernah berhenti membuatnya terkagum. Selain karena wajah anak baiknya yang menyimpan berjuta karakter tak terduga, begitu juga dengan setiap langkah yang ia ambil.

"Ehm." deham Seunghoon, membuat Seungyoon mengadahkan kepala menatap kawan lamanya sambil tetap mengunyah spaghetti.

"Kwenapwa hwyung?" Seungyoon berkata setengah mengunyah, sebelum akhirnya menelan makanan di mulutnya dan berdehem sambil tersenyum lebar.

Seunghoon mengerjapkan mata.

Oh tidak. Kenapa Seungyoon jadi terlihat makin lucu kalau begini?

"Hyung! Kenapa?!" pekik Seungyoon kencang yang kemudian menggema di apartemen megah Seunghoon yang tergolong sepi, kecuali kalau kau hitung juga chihuahua kesayangan Seunghoon alias Lee Hee serta banyak binatang kecil nan random lainnya.

Seunghoon menggeleng, matanya yang memang sipit memicing, lalu menatap penuh selidik pada Seungyoon yang masih berwajah polos.

"Apa maksud kedatanganmu sesungguhnya, Kang?"

Jeda sejenak.

"Setelah sekian lama kita tidak bertemu berkat ulah pacarmu itu."

Keheningan tidak nyaman melanda.

Seunghoon menelan ludah, ia sadar kalau ucapannya barusan menggelapkan rona bahagia yang ada di wajah Seungyoon yang kini mendesah pelan tanda lelah yang teramar dibuat-buat.

"Hyung bolehkah aku tidur sekarang? Ini sudah malam." gumam Seungyoon lirih, pandangannya menunduk menolak bertemu dengan mata Seunghoon.

Seunghoon hanya bisa mengganguk pelan menyetujui, walau dirinya sendiri sedang disergap oleh rasa bersalah pada Seungyoon.

.

.

.

Seungyoon membuka matanya perlahan, lalu meraba meja nakas di kamar tamu yang ia tempati untuk mencari smartphone-nya.

Mata sipit miliknya melirik layar smartphone malas melihat 4 digit angka yang tertera di layarnya diikuti oleh dua huruf alfabet.

03.32 PM.

Shit.

Tidur Seungyoon sungguh molor begini.

"Ah sial, aku kesiangan. Dan jangan bilang Seunghoon hyung pergi tanpa menyediakan makanan bagi tamunya ini." monolog Seungyoon yang lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menggosok giginya.

Tadi malam Seunghoon sudah berpesan pada Seungyoon, bahwa ia harus tetap bekerja walau ia mendapatkan tamu teman lama yang sangat ia sayangi. Ketika Seungyoon bertanya apa yang Seunghoon lakukan sekarang, pria sipit itu hanya tersenyum kecil dan menjawab bahwa dirinya kini menjadi koreografer di YG sesuai dengan apa yang ia impikan.

Sesampainya di kamar mandi, Seungyoon berdiri di dekat wastafel dan mengeluarkan perlatan mandinya, lalu mengambil sikat gigi sebelum meletakkan pasta gigi disana.

Terus menggosok giginya, Seungyoon kini malah memandangi pantulan wajahnya yang ada di depannya.

Kulit yang terlampau pucat.

Mata sipit.

Dagu terlalu lancip.

Bibir terlalu tebal.

Lalu ia menunduk memandangi tubuhnya yang hanya berbalut boxer hitam sambil menggigit sikat giginya kesal.

Tuh, kan. Bahkan ia tidak ada semok-semoknya.

Terlalu kurus seperti lidi rapuh.

Ditengah lamunannya, seulas rupa menarik milik seseorang terlintas diotaknya, dan itu membuat Seungyoon berangan konyol, "Apa aku harus melakukan plastic surgery agar aku bisa merebut hati Mino lagi?"

PLAK!

Seungyoon menampar pipinya sendiri lalu menggelengkan kepala berkali kali dengan cepat.

Tidak-tidak! Kim Jinwoo itu biasa saja, Kang! Lupakan Jinwoo hyung.

Sambil berkumur, Seungyoon bertukas dalam hati berusaha menekankan hal itu. Matanya kini menatap hampa ke refleksinya di kaca.

Apa Seunghoon hyung juga sepertiku saat kehilangan Jinwoo hyung?

.

.

.

Selesai menggosok gigi dan berbenah diri pasca tidur cantiknya, Seungyoon menuju dapur apartemen Seunghoon dan mengobrak-abrik lemari es disana.

"Woah, kimchi!" seru Seungyoon girang melihat sekotak penuh kimchi yang menggiurkan.

Namun disaat matanya mendapati sekotak kimbap yang ada disebelah botol soju, serta satu cup besar es krim coklat, Seungyoon memekik kegirangan.

"FOODS! COME TO PAPA! HAHA!"

Namun matanya perlahan menyipit, ketika melihat sebuah kertas tebal yang disimpan di bawah cup es krim yang akan ia ambil.

Seungyoon tertawa perlahan.

Sungguh, Lee Seunghoon sungguh unik.

Diambilnya kertas tebal yang terlihat cantik itu sambil masih Seungyoon terhenti tepat ketika ia melihat sapuan warna hitam-silver pada kertas itu. Ditambah tulisan 'Wedding Party' yang mencolok mata.

Song Minho-Kim Jinwoo.

Tangan Seungyoon bergetar perlahan, menyadari bahwa undangan ini teramat lecek untuk ukuran sebuah undangan pernikahan.

Terlebih lagi post-it pink mencolok yang tertempel disana dengan hangeul rapi khas Song Minho.

Maafkan aku, Seunghoon hyung.

Sakit hati mendera hati Seungyoon. Pikirannya kacau ditambah dengan rasa mulas yang entah kenapa muncul.

Satu pertanyaan mencuat lagi.

Mino mengundang mantan Jinwoo hyung. Kenapa mantannya sendiri tidak?

Dan tanpa sadar, tangan kurus Seungyoon mengambil botol soju yang ada. Melupakan kimbap dan es krim coklat yang mulanya ia inginkan.

Che, fuck off all.

.

.

.

"Aku pulang dulu ya!"

"Hati-hati di jalan sunbae!"

"Jangan meleng, Hoon!"

Seunghoon memakai coat kelabunya dengan cepat lalu segera bergerak keluar dari gedung YG. Entah kenapa saat ia mendapat firasat buruk yang ganjil.

Otaknya menerawang, membayangkan apa arti firasat buruknya. Karena jujur saja firasat Seunghoon itu biasanya benar.

Apa Lee Hee keracunan?

Apa apartemenku kebakaran?

Apa kulkasku meledak?

Apa aku belum mematikan air sejak tadi pagi?

Berbagai perkiraan menyelimuti otak Seunghoon sementara ia mengemudikan motor sportnya melewati jalanan malam Busan yang cukup padat saat ini.

Apa ada kucing masuk apartemennya?

Apa komporku mendadak nyala dan meledak?

Apa Lee Hee pup di atas snapback-ku?

Apa...

Seketika Seunghoon mengerjapkan matanya, firasat buruk kembali menjalar di tulang belakangnya menimbulkan gelenyar tidak nyaman.

Kang Seungyoon.

.

.

.

CKLEK!

"Seungyoonie?" gumam Seunghoon ketika ia sudah memasuki apartemennya yang terang benderang.

"Ho-HIK-Hoon hyung?"

Seungyoon yang duduk di sofa depan bangkit sambil terhuyung mendekatinya. Spontan saja Seunghoon berjengit mundur, menyadari bahwa bau soju menguar dari Seungyoon.

Demi anjing beranak kucing, apa bocah ini baru saja minum soju simpanannya?

"Kau-HIK-tidak sa-HIK-denganku? Ke-HIK-napa kau tidak-HIK-mau kupeluk?" kata Seungyoon dengan nada melankonis dan pura-pura terisak melihat Seunghoon yang menghindar.

"Astaga, aku lupa kalau mabukmu itu merepotkan." gumam Seunghoon sambil memeluk Seungyoon yang malah terisak-isak tidak jelas entah karena tadi Seunghoon menolak dipeluk olehnya atau hal lain.

"Kang Seungyoon, sudahlah. Aku tahu kau lelah. Tidurlah sekarang." kata Seunghoon yang lalu mengusap punggung Seungyoon agar pemuda Kang itu berhenti menangis.

"Aku-HIK-tiiidak maaa-HIK-uuu~" racau Seungyoon sambil menggelayuti hoodie Seunghoon.

"Aish, jangan ngeyel, Yoon." gerutu Seunghoon, yang dihadiahi pukulan lemah di pundaknya sedetik setelahnya.

"JANGAN PANGGIL AKU YOON!" Seunghoon mengerjapkan matanya mendengar teriakan mendadak Seungyoon yang mendengingkan telinga.

Pemuda berkulit pucat itu terduduk lemah di depan Seunghoon, membiarkan air matanya mengalir dan menemani cegukan yang samar-samar belum berhenti.

"Kau tahu hyung? Hatiku sakit. Kau diundang. Aku tidak. Sebenarnya ada apa dengan Mino? Apa karena aku masih mencintainya?" racau Seungyoon disertai tawa mengejek.

Yoon. Gawat.

Seunghoon terdiam. Menyadari apa kesalahahan yang telah ia perbuat dan menyebabkan Seungyoon seperti ini. Tawa sakratis Seungyoon kembali terdengar, disusul picingan mata mengejek ditengah mabuk yang membuat wajahnya diwarnai merah samar.

"Ah, aku lupa. Bukannya kau juga masih mencintai Kim Jin-"

Seunghoon tahu apa lanjutannya dan ia tidak mau dengar. Maka dari itu, Seunghoon menunduk, dan melumat kasar bibir pink merekah Kang Seungyoon, tanpa peduli rasa asin air mata bercampur ditengah ciuman tanpa perasaan itu.

.

.

.

"Mino." Seungyoon menggertakkan gigi sambil menarik ujung hoodie gelap yang dipakai Mino ketika pemuda itu sedang sibuk bercengkrama dengan Jinwoo dan Seunghoon di depan ruang senat seusai rapat tahunan senat kampusnya.

"Yeah, Yoon? Ada apa?" ujar Mino lalu mengalihkan fokusnya pada kekasihnya yang berdiri di belakangnya dengan wajah wrecked.

Mata merah sembab. Hidung merah. Pipi puffy yang terlihat tirus.

Ada apa ini?

Mino segera menyentuh pipi Seungyoon sekilas, lalu mengusapnya dengan gestur kasih sayang dan mengecup dahi Seungyoon, "Hey, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?"

Seungyoon berjengit mundur ketika bibir tipis Mino menyentuh dahinya ia memicingkan matanya menatap Jinwoo dan Seunghoon dibelakang Mino yang memandangnya khawatir.

Dengan angkuh Seungyoon mengeluarkan amplop coklat besar yang ia sembunyikan dibalik coat maroon-nya lalu ia mengambil selembar kertas foto yang ada di dalamnya dan mengulurkannya pada Mino.

"Seorang Kakek berambut pirang menemuiku dan mengobrol denganku soal banyak hal. Ditambah lagi, ia membawakanku hadiah yang sungguh mengejutkanku, hingga aku ingin menangis rasanya." kata Seungyoon seolah bermonolog, dimatanya tercetak ekspresi kosong yang menyimbolkan kelelahannya menjalani hidup.

Kakek berambut pirang.

Mino memucat. Seungyoon tahu tangannya yang kini bergerak untuk mengambil apa yang diulurkan oleh Seungyoon itu bergetar.

"Aku bisa jelaskan ini, Yoon. Tolonglah..." kata Mino tanpa melihat seperti apa foto ditangannya karena ia sudah tahu itu apa.

Jelas saja foto itu ialah fotonya dengan Kim Jinwoo.

.

.

.

Seunghoon menggendong Seungyoon yang sudah terlelap seusai mabuknya menuju kamar tamunya. Diletakannya tubuh kurus Seungyoon perlahan sambil tersenyum miris.

Tangan kanan Seunghoon menggengam undangan Wedding Party Mino dan Jinwoo yang sudah semakin lecek erat-erat, sementara tangan kirinya mengusak poni tebal Seungyoon dengan lembut lalu memandangi teman di masa lalunya yang tertidur dengan tenang.

"Mungkin kita sama, Kang Seungyoon."

Seunghoon berhenti sesaat untuk menghela nafas, mengingat segala memori menyedihkan yang sering menghiasi mimpi buruknya.

"Sama-sama masih berharap pada mereka tanpa mau melihat kenyataan yang ada di depan mata." gumam Seunghoon.

Mata sipitnya kini membaca secara seksama undangan yang bahkan belum ia baca sejak undangan itu sampai di tangannya lewat Taehyun.

21 Januari.

Seunghoon memandang Seungyoon prihatin lalu mengecup kedua pipinya yang terdapat sisa tangisan mabuknya tadi dengan penuh kasih sayang.

"Kini aku tahu seberapa beratnya itu untukmu, Seungyoonie."

Tidak diundang dan diadakan saat hari ulang tahunnya. Apa itu bukan siksaan secara tidak langsung baginya?

.

.

.

Seungyoon bangun dengan keadaan hangover hebat yang membuatnya malas bangkit dari tidurnya.

"Hei bangunlah. Aku sudah membuatkanmu pancake coklat, bukannya kau suka itu?"

Seungyoon menengok ke arah sumber suara, yang ternyata adalah Seunghoon yang berdiri diambang pintu. Seungyoon mengernyit sesaat lalu pada akhirnya mengangguk pelan.

Ah iya Seunghoon.

"Kau tidak lupa kau dimana bukan?" sinis Seunghoon yang menerbitkan cengiran polos di wajah Seungyoon.

Seunghoon memutar mata jengah, tanpa merubah posisi bersandarnya pada ambang pintu ia bertanya, "Apa kau masih pusing? Aku akan bawakan pancakenya kemari kalau kau tidak mau meninggalkan kasurmu."

Seungyoon baru saja akan menggeleng kalau saja kepalanya tidak terasa berputar hebat bagaikan bianglala festival.

Pusing sialan!

"Kau masih pusing?" Kalimat itu dimaksudkan sebagai pertanyaan, tapi sesungguhnya itu adalah pernyataan.

"Akan kubawakan pancakenya untukmu kemari kalau begitu." lanjut Seunghoon sambil pergi yang membuat Seungyoon tersenyum lebar.

Dan setelah itu, Seunghoon kembali dengan sepiring pancake lezat dan segelas susu vanilla, yang makin memperlebar senyum Seungyoon diwajahnya.

"Hyung..."

"Hn?" Seunghoon menyodorkan apa yang ada di tangannya pada Seungyoon yang menerimanya dengan segera.

"Kau baik sekali padaku! Ayo kita pacaran saja!" seru Seungyoon riang. Ditambah lagi cengiran lebar nan (sok) polosnya yang memperlihatkan gigi putihnya.

Seunghoon melotot.

Sedetik kemudian ia mengusak rambut Seungyoon lalu menyentil dahinya main-main.

"Terima kasih, Seungyoonie sayang. Tetapi hapuskan Kim Jinwoo dari hatiku baru kau bisa memasukinya." balas Seunghoon penuh candaan yang malah menggelapkan ekspresi Seungyoon dalam sekejap.

"Kau masih menyukainya?" Seungyoon berujar lirih mengabaikan goncangan pusing yang makin besar di kepalanya.

"Ya, itulah mirisnya diriku, Seungyoonie." jawab Seunghoon pelan lalu meraih tangan Seungyoon yang tidak memegang garpu untuk memainkannya sambil menunduk menyembunyikan wajahnya.

"Jangan khawatir hyung. Kita sama hyung. Kita sama."

.

.

.

"Yoon!"

"Just shut your fucking mouth and stay away from me!" bentak Seungyoon kasar sambil mendorong Mino yang menghalangi jalannya menuju perpustakaan.

"SONG MINHO!" Mino tetap tak goyah. Matanya malah menatap Seungyoon nanar tanpa berkata apapun.

Seungyoon jengah melihatnya. Tatapan itu sungguh menyebalkan.

Apa Seungyoon perlu dikasihani disaat seperti ini? Disaat segalanya terungkap begitu saja setelah empat tahun berlalu?

"Kang Seungyoon. Maafkan aku."

Tidak.

"Aku sungguh minta maaf."

Tidak.

"Bukan maksudku menjadikanmu menjadi selingkuhanku."

Bohong.

"Aku hanya... kau tahu? Bosan dengan Jinwoo hyung. Dan saat itu kau sungguh mengalihkan duniaku."

Ewh. Too cheesy.

"Aku sungguh tidak bermaksud. Aku benar-benar mencintaimu sama seperti aku mencintai Jinwoo hyung."

...sama seperti aku mencintai Jinwoo hyung.

Seungyoon terkekeh dengan kekehan geli nan pahitnya mendengar pengakuan itu.

"Jadi begitu ya? Semudah itu kau melupakan tunangan tersayangmu?" seru Seungyoon keras tak peduli kini ia berada di dekat perpustakaan.

Mino menggertakkan gigi dan membela diri, "Jinwoo hyung juga berpacaran dengan Seunghoon hyung!"

"ITU KARENA KAU BERSELINGKUH DI DEPAN MATANYA! SADARLAH SONG MINHO! SEMUA INI GARA GARA KAU!"

Mino diam.

"Aku hanya ingin memilikimu, Yoon." gumamnya lemah dengan nada lirih yang sejenak membuat Seungyoon kasihan.

Tidak, Yoon. Tidak.

Untuk apa kasihan?

Hatimu lebih kasihan saat ini.

"Kau egois, Mino. Dan akibatnya kini kau membuatku terlihat seperti antagonis dalam sudut padang kakekmu." sembur Seungyoon penuh racun.

"Katanya aku ini pemuda penggoda tak tahu malu dan status." Seungyoon tertawa sejenak mengingat ucapan kakek itu.

Kau tak ada bedanya dengan kucing kampung licik yang memisahkan sepasang kucing anggora yang bahagia.

"Padahal cucunyalah yang penggoda seperti merak mencari pasangan. Benar benar realita yang sangat menyakitkan bila beliau mengetahui itu." lanjutnya sambil tersenyum pedih.

Mino terhenyak mendengarnya, ia berusaha meraih tangan Seungyoon yang kini gemetaran. Namun dalam sedetik tangannya itu ditepis dengan novel hardcover ditangan Seungyoon.

"Aku tidak mau menjadi selingkuhanmu lag-"

"Kau bukan, Yoon."

Seungyoon mendecih. Song Minho memang punya otak yang terlalu keras seperti permata yang tidak pernah dipakai untuk berpikir.

"Aku iya, Song. Tanyakan pada setiap orang yang mengetahui ini dan itulah jawabannya. Aku ini se-ling-ku-han-mu."

Seungyoon menggigit bibir bawahnya beberapa detik.

Ia mencintai Mino.

Sungguh.

Tapi kenapa begini?

Beginikah nasib yang telah digariskan padanya?

"Kembalilah ke tunanganmu. Kau punya kesempatan untuk memperbaikinya walau kau tak akan bisa memperbaiki sakit hatiku dan Seunghoon hyung."

.

.

.

Hari demi hari berlalu.

Seungyoon meninggalkan Busan dan kembali menjalani kehidupan sibuknya di Seoul. Seoul, yang kini ditutupi oleh butiran indah berwujud sesuatu berwarna putih dengan suhu rendah memang membuatnya rindu akan keadaannya yang berbeda dengan Busan.

Dengan malas-malasan Seungyoon menyeruput hot chocolatenya sambil memandangi view indah musim dingin kota Seoul lewat jendela besar di apartemennya.

"Kerjaan menumpuk ditengah ulang tahunku. Benar-benar ulang tahun yang buruk." gumam Seungyoon, jemarinya menyentuh embun dingin di jendela dan menuliskan sederetan hangul disana.

생일 축하 합니다, 강승윤

"Ah, aku terlihat seperti orang yang sangat miris." tawa Seungyoon pada dirinya sendiri. Jemari panjangnya bergerak membentuk sederetan tulisan lagi.

Happy Wedding Song Minho-Kim Jinwoo

God bless you

Seungyoon memejamkan mata, menahan air mata yang siap mengalir di pelupuk matanya. Kepalanya ia telengkan memandangi cake ulang tahun yang ada di meja kerjanya dengan kondisi lilin yang masih menyala.

Perlahan ia berjalan mendekati mejanya, lalu meniup dua lilin berbentuk dua digit angka yang melambangkan umurnya dengan cepat sebelum menangkupkan tangan untuk berdoa.

Aku hanya ingin menyingkir dari kehidupan Song Minho sepenuhnya dan semoga pernikahannya dengan Jinwoo hyung juga bahagia.

Seungyoon berdoa dalam hati, kini airmatanya ia biarkan mengalir bersamaan dengan gelombang kesedihan yang menyerangnya bertubi-tubi.

Mengingat pada Mino.

Meningat semua hal membahagiakannya bersama Mino.

Seungyoon berjongkok menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya dan melanjutkan tangisan bodohnya disana.

Apa memang harapannya untuk bahagia musnah saat ini ketika seseorang yang ia harapkan kini sedang mengikat tali pernikahan di Paris sana?

.

.

.

Seusai ulang tahun tersensitifnya, hidup Kang Seungyoon berangsur-angsur berubah menjadi lebih normal.

Bahkan ia perlahan melupakan masa lalu kelamnya dalam hal cinta, dan mulai menyetujui saran Daesung untuk berkencan dengan sahabatnya.

Namanya Sandara Park. Model cantik yang mempunyai adik overprotective bernama Park Sanghyun atau ia lebih suka dipanggil dengan nama Thunder-karena menurutnya itu keren.

Namun jujur saja, Seungyoon hanya bisa menganggap Sandara sebagai kakaknya, begitu pula sebaliknya. Jadilah, Seungyoon hanya bisa tersenyum canggung pada Daesung ketika bosnya itu bertanya soal bagaimana hubungannya dengan Sandara kini.

Dia baik. Tapi terlalu baik untukku.

Itu jawaban singkat Seungyoon yang bermakna 'Aku belum bisa melupakan Mino' sebelum pemuda Kang itu kabur dari dapur kantor agar Daesung tidak bertanya ala penginterogasi padanya.

Dan dua hari setelah pembicaraan itu dengan Daesung, Yunhyeong menampakkan wujudnya di kantor setelah menghilang sejak pertengahan Januari. Parahnya, pemuda berkulit putih itu segera merusuhi Seungyoon dengan wajah cerianya sejak matanya pertama kali melihat Seungyoon.

"HYUNGIEEE! AKU KANGEN!" pekik Yunhyeong lalu memeluk Seungyoon yang dari belakang yang mengakibatkan kopi kaleng dingin di tangan Seungyoon jatuh di lantai dengan suara yang tidak bisa dibilang pelan.

"Song Yunhyeong! Mau apa kau?!"

"Memelukmu hyuuung~"

Seungyoon mengernyit jijik, ia melepaskan diri dari pelukan Seungyoon dan melangkahkan kaki menjauhi pemuda berwajah baby face yang kini cemberut seperti dugong kehilangan makanan.

"Aish! Jangan kabur hyung! Ada yang perlu aku bicarakan denganmu! Janji aku tidak akan memelukmu lagi!" seru Yunhyeong sambil mengejar Seungyoon yang keluar dari kantor sambil tertawa-tawa.

"Yeah, simpan saja apa yang ingin kau katakan." lirih Seungyoon cepat, lalu berpaling menyembunyikan wajahnya yang sendu.

Mungkin Yunhyeong hanya ingin bercerita bagaimana romantisnya pernikahan Mino dan Jinwoo.

Seungyoon menerka asal. Mengingat status Song Yunhyeong ialah sepupu Song Minho.

.

.

.

Bel apartemennya berbunyi sedari tadi. Sontak itu membuat Seungyoon mendesah kasar ditengah usahanya untuk tidur seusai mengerjakan desain seharian.

"Anak itu mau pinjam apa lagi, huh? Dasar menyebalkan." gumam Seungyoon mengumpati si tamu yang ia perkirakan ialah Hanbin. Mungkin pemuda freak mickey mouse itu ingin meminta daun bawang untuk membuat pajeon untuk Jiwon. Atau mungkin dia ingin meminjam mixer untuk membuat cake coklat. Who knows?

Seungyoon terus menerka sambil berjalan dan berjengit karena bel pintu apartemennya terus dibunyikan tanpa ampun.

TOK! TOK! TOK!

Bahkan pintunya kini digedor tanpa ampun. Seungyoon mengerucutkan bibirnya kesal lalu mengumpat sekali lagi.

Itu pasti Hanbin, dasar tidak punya manner.

CKLEK!

"KALAU KAU MAU PINJAM PERALATAN MASAK UNTUK MENUNJANG HOBI SESAATMU ITU PINJAM BIBI HWANG! PERGI SAN-Oh? Ma-maaf, kukira kau Hanbin."

Seungyoon memucat. Mata sipitnya memandang sosok yang berdiri di depannya dengan senyuman miring yang menyimpan banyak makna.

"Halo Yoon. Lama tidak berte-"

"Mino hyung! Apartemenku itu nomer 192 bukan 193! Cepat kemari!" Jiwon muncul dari belakang Mino dan melempar tatapan maaf kepada Seungyoon.

"Ti-tidak apa-apa." cicit Seungyoon sambil tersenyum seolah tak ada apa-apa. Tangan kanannya bergetar hebat, hingga ia harus menggengam erat tangannya di belakang tubuhnya.

Pergilah. Pergilah dengan Jiwon sekarang.

"Tujuanku kemari sebenarnya ingin menemui Seungyoon, bukan kau." Pemuda berkulit gelap itu kembali tersenyum lebar pada Seungyoon.

Sial beribu sial.

Kenapa Mino tetap sama saja dengan kulit coklat menggoda, tubuh tegap dan senyuman flirty yang persis seperti dulu?

"Ayolah, hyung! Kakekmu bisa marah kalau begini!" Jiwon menarik bahu Mino, berusaha menyeretnya agar menyingkir dari hadapan Seungyoon.

"Aku tidak peduli! Aku harus bicara dengan Seungyoon!"

"Aish! Jangan buat ini menjadi drama hyung!"

"Semua ini sudah menjadi drama sejak dulu, Kim Jiwon." Mino menjawab dengan nada dingin. Seungyoon melirik mantannya itu sejenak, lalu terkekeh samar sebagai simbol ejekan.

"Semua ini memang drama dan endingnya sudah terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan para penonton. Si tokoh utama menikah dengan pasangannya, meninggalkan hati dua pemeran antagonis hancur tak berbekas." kata Seungyoon tenang, dalam sekejap menghentikan debat dihadapannya.

Seungyoon merasa segala emosi menguap di tubuhnya. Ia ingin mengungkapkan apa yang ingin ia katakan pada Mino saat ini juga.

"Kalau ini memang drama. Seharusnya kau tidak menemui si pemeran antagonis yang telah kau hancurkan hatinya. Berbahagialah dengan pasanganmu. Maka dari itu, mari kita jadikan pertemuan accidental ini untuk berucap selamat tinggal."

Mino terpaku, begitu juga dengan Jiwon. Sementara Seungyoon menatap nanar lantai koridor apartemen yang ia tinggali untuk menyembunyikan wajah kusutnya.

"Seung-"

"Selamat ting..."

"-YOON!"

"...gal, Song Minho. Berbahagialah dengan kehidupanmu."

BRAK!

"Aku masih mencintaimu. Tolonglah, Yoon."

Seungyoon menggebrakkan pintu dan langsung membiarkan kristal bening dimatanya keluar. Bahkan ia mengabaikan apa yang diucapkan Mino disaat terakhir dengan nada memohon yang teramat sangat.

Bohong. Seungyoon tahu itu bohong.

TOK! TOK! TOK!

"KANG SEUNGYOON! KELUARLAH! ADA YANG INGIN AKU KATAKAN PADAMU!"

Abaikan itu.

Abaikan.

"Hiduplah dengan normal, Yoon. Kau sudah berucap selamat tinggal pada Mino." gumam Seungyoon lirih lalu menatap sendu ke arah pintu apartemennya.

.

.

.

Seungyoon tertawa liar, diseretnya Yunhyeong yang juga setengah mabuk menyusuri trotoar pejalan kaki yang terbilang ramai untuk malam hari.

"Yun-HIK-ay-HIK-yo-kita-HIK..."

"Kau ngomong apa sih hyuuung? Ahaha aku senaaang! Lain kali kita harus minum bersama laaagi! Dan lupakan masalah yang menimpa kitaaa!"

Racauan Yunhyeong membuat otak Seungyoon samar-samar mengingat obrolan mereka tadi siang yang membawa mereka menuju Bar seusai bekerja.

Mino yang sudah menika menemuiku lalu mengakui bahwa ia mencintaiku serta memaksa ingin berbicara sesuatu padaku. Aku sebenarnya ingin, Yun. Aku masih sangat mencintai orang bodoh itu.

Junhoe melamar Donghyuk didepanku seusai Pernikahan Mino hyung dan Jinu hyung. Aku patah hati hyung. Kau tahu aku sudah lebih lama berada di sisi Junhoe dibandingkan lelaki itu?

Apa mereka sama-sama bernasib buruk dalam hal cinta?

"Kau-HIK-tau Yunhyeongie-HIK?" Seungyoon mengalihkan pandangan pada jalanan disampingnya sambil terus merangkul Yunhyeong yang berjalan sambil terhyung walau keadaanya tak jauh beda dari Yunhyeong.

"Apaaa~ Waaah! LIHAT ITU PESAWAAAAT!" racau Yunhyeong dan disambut oleh kekehan gila Seungyoon.

Kepala Seungyoon berdenyut kencang.

Uh, uh. Kasur. Seungyoon butuh kasur.

"Lupakan saj-HIK-ja Junho bod-HIK-doh i-HIK-tu!" gumam Seungyoon cukup keras yang dihadiahi pukulan lemah dari Yunhyeong.

Yunhyeong mengerucutkan bibirnya kesal, ia memutar mata ditengah ketidak sadarannya dan menyahut Seungyoon, "Junhoe hyuuung! Go Junhoe bukan Junhooo!"

"Terse-HIK-raaah~"

Seungyoon memicingkan matanya. Ini sudah sampai di perempatan dekat apartemennya. Dan itu artinya kasurnya sebentar lagi berada di genggamannnya.

Sambil menunggu traffic light bagi penyebrang jalan menampakkan warna hijau, Seungyoon menatap hampa jalanan di depannya dan mengabaikan racauan gila Yunhyeong yang mulai bercampur isakan.

Seungyoon mencengkram baju di dadanya erat.

Kenapa rasa sakit ini belum hilang? Bahkan kini rasa sakit itu ditambah oleh pusing berat yang menyakitkan.

Lupakan Mino. Lupakan Mino.

Seungyoon mendenggung. Matanya yang mulai kabur melihat seberkas cahaya terang yang bergerak tak terkendali, sebelum menuju kearahnya dan semakin besar.

Apa ini nyata?

"Woaaah! Kembang apiiii!" Yunhyeong berseru ceria(sekaligus gila) sambil bertepuk tangan riang. Oh, sepertinya Yunhyeong melihatnya. Kalau begitu ini bukan halusinasi.

Sedetik kemudian cahaya itu terasa makin dekat.

BRUAK!

Seketika semua berjalan dengan cepat.

Sebuah hantaman keras mengenai tubuh Seungyoon, yang membuat tubuhnya melayang sesaat sebelum jatuh dengan keras bahkan hingga belakang kepalanya terbentur keras dan bunyi krak menyakitkan terdengar dari tubuh dan kakinya.

Bau anyir besi merebak, kepala Seungyoon makin berputar, pandangannya meredup perlahan. Telinganya terasa sakit mendengar bermacam pekikan disekitarnya. Ah, bukan hanya telinganya. Kini perlahan Seungyoon merasa tubuhnya sakit sekaligus mati rasa perlahan-lahan.

Apa sudah waktunya?

Kenapa begitu cepat?

Nafas Seungyoon tersendat kasar. Pandangannya yang meredup perlahan mulai digantikan oleh kegelapan pekat dan telinganya serasa tuli tanpa sebab. Dan pada akhirnya, jantungnya berdetak untuk terakhir kalinya.

Mungkin inilah nasibku.


END


A/N:

aku tahu ini drama :'(

aku tahu ini endingnya aneh :'(

tapi ah sudahlah :')

dan... jangan bash aku gara gara ending mengecewakan ini v: /sembunyi dibalik june/

ditengah writer block, aku kepikiran minyoon dan /insert: sfx atomic bomb/ jadilah ending hopeless yang teramat asdfghjkl v:

buat yang udah follow-fav-jadi silent reader-review makasih yaaa /hug/ bener bener penyemangat buat ngelanjutin ff macam beginian :'))))

btw ada yang mau epilog? soalnya ada rencana nih :') biar gak mengecewakan readers sekalian /dibalang rame-rame/ kalau mau epilog bilang ya lewat review apa PM :)))

for the (maybe) last chapter, mind for review?

thank you,

dumb-baby-lion :)))

ps: berhubung authornya igot7 jadi... #KYUMGRATULATIONS :))) BROWNIE BIASKU SAYANG SINI AKU PELUK :3 SEMOGA PARTMU DIKASIH BANYAK SAMA PAPI JYP :3 SUKSES SELALU SAMA GOT7 YAAA :3

ps2: berhubung author incle jadi... PAPI YG PLIS WINNER KAMBEK DOOOONG :((( KANGEN NIH SAMA MAS MAS GANTENG YANG ABIS BIKIN IG ITUUU :(

ini kepanjangan.

sekali lagi, makasih semuaaa~ maaf kalau mengecewakan /cry dipojokan/