- DISCLAIMER Naruto © Masashi Kishimoto -

...

Ayo, Sapa Aku!

#03: Kiba Suka Hinata?

Tanpa terasa, semester satu hampir habis. Sudah setengah tahun pula Naruto menyimpan rasa pada Hinata, sang gebetan pendiam, yang darinyalah diharapkan Naruto bisa menyapa dirinya duluan, atau merespon kode senyuman dari Naruto tidak dengan diam.

Di hari terakhir pelaksanaan ujian semester ganjil, Naruto dan Kiba menunggu di dekat mading gerbang belakang sekolah. Rencananya, mereka akan pulang bersama Sakura dan Hinata. Memang, semenjak peristiwa menunggu jadwal masuk renang itu, mereka berempat sering pulang bersama.

Tak lama kemudian, yang ditunggu menampakkan batang hidungnya. Sudah menjadi kebiasaan mereka berempat untuk menunggu di depan mading kalau ada yang ingin buang air kecil.

Baru saja mereka akan melangkah, seorang guru memanggil Hinata. Mereka berempat berbalik. Guru bermasker dan berambut abu-abu itu melambaikan tangan untuk menekankan kalau dia memanggil Hinata.

"Kakashi-sensei memanggil Hinata?" tanya Kiba pada guru yang sok cool itu.

Kakashi mengangguk.

Kiba refleks merangkul tangannya pada bahu Hinata dan mengantarnya pada Kakashi. Naruto terkejut melihatnya, namun perkataan Kakashi sedikit menenangkan hatinya.

"Hei, jangan pegang Hinata seperti itu." larang Kakashi dengan nada datar, disambut tawa kecil dari Kiba dan Sakura.

Mereka paham kalau itu tidak serius. Hinata juga hanya garuk kepala dan tertawa paksa. Sedangkan Naruto tersenyum tipis dengan perasaan sedikit cemburu dalam hatinya.

Kakashi dan Hinata berbicara sebentar, lalu menjepit sedikit kain di bagian lengan atas Hinata untuk mengajaknya berbelok ke koridor.

Naruto kembali cemburu dan berteriak, "HEI, JANGAN PEGANG HINATA SEPERTI ITU!" Ia sengaja mengulang kalimat Kakashi tadi dan diakhiri dengan tawa palsu karena cemburu.

Kakashi memperlihatkan tangannya yang hanya menjepit kain seragam Hinata. "Saya hanya menarik Hinata, bukan memegangnya." tegasnya dengan nada sok datar.

"Huuuu!" sorak mereka berempat tak mau tahu Kakashi seorang guru atau bukan.

Selama liburan, ia terus memikirkan Hinata. Andai saja rumah mereka dekat, Naruto ... tidak akan me'nembak' Hinata. Iya, lah. Kakak sepupunya yang mengidap sister-complex itu tinggal serumah dengannya. Bisa-bisa lebih banyak berkomunikasi dengan Neji daripada dengan Hinata. Sudah begitu, komunikasinya bukan komunikasi normal, melainkan kode-kode atau rayuan agar Naruto boleh jadian dengan Hinata. Naruto berani bersumpah, janji dan sumpah yang lebih manis dari gula pun tidak akan diterima Neji sampai si jenius Hyuuga itu menerima bukti dulu.

Sampai liburan berlalu, Naruto terus memikirkan caranya agar bisa mendapat perhatian Hinata. Yak, mengingat Neji, Naruto jadi hanya ingin dekat saja dengan Hinata. Kalau ingin dekat, datangi saja dia. Kalau mendatangi, Sakura dan Kiba pun bisa melakukannya dengan sangat mudah, begitu pun Naruto. Tapi, mendapat perhatiannya tidaklah segampang mendatanginya, tidak seenteng mendekatinya. Meskipun sudah dekat namun masih dianggap teman biasa, sama saja, itu bukan perhatian.

Aaah, Naruto stres memikirkannya. Alhasil, hari libur hanya digunakannya untuk bermain game dan memutar lagu-lagu kesukaannya. Selebihnya hanya makan, belajar sebentar, lalu tidur. Oh, jangan lupa, buang air. Kalaupun sempat, dia hanya menulis-nulis singkat di Note ponselnya, apa yang dipikirkannya tentang Hinata, perasaannya, keinginannya, semua tentang Hinata.

Saat menunggu jadwal renang itu sesungguhnya cukup membahagiakan, dan Naruto ingin peristiwa semacam itu terus terjadi. Tapi, kenyataan hanya mengizinkan mereka sedekat itu saat pulang bersama. Naruto berpikir, tidak akan pernah terjadi mereka hanya berdua saja di suatu tempat. Ya, mungkin kalau dia nekat, dan takkan terjadi sebuah keromantisan, tapi horor. Horor, karena keberadaan Hinata yang tak biasa pastilah selalu terdeteksi oleh Neji.

Hmph, kepala Naruto berat. Ia kebanyakan tidur selama liburan. Tidur larut, bangun siang. Hari pertama semester dua tahun ini merupakan salah satu hari terburuknya sepanjang sejarah. Liburan dua setengah minggu tak memberi kesan apa-apa baginya, malah menambah beban. Ia berjalan lunglai memasuki kelas.

Seandainya Naruto sudah jadian dengan Hinata, pasti liburannya akan lebih berwarna. Setidaknya, sekali seminggu pergi berdua dengan Hinata. Tak bisa sekali seminggu, dari ponsel pun jadi. Harusnya itu yang terjadi. Tapi sekali lagi, Naruto belum punya apa-apa untuk ditunjukkan pada Neji terlebih dulu. Jadi, dia harus menunggu. Terus menunggu hingga tiba saatnya.

Seharian Naruto berusaha untuk fokus pada pelajaran. Beruntung, ia bisa mengikuti semua dengan baik sekalipun mengaku belum ada semangat belajar. Minimal tak ada materi yang tidak dimengerti olehnya. Lelucon dari temannya di kelas pun belum bisa ditanggapi seperti biasa; Harusnya dia selalu tertawa sekalipun leluconnya tak begitu lucu, namun khusus hari ini, dia tetap diam dan hanya tersenyum kecil membalas lelucon yang sangaaat lucu, bahkan teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul meja.

Sepulang sekolah, tubuh tegap Naruto melangkah dengan lunglai. Jika bisa digambarkan, matanya agak memerah dan punya kantung hitam kecil namun tebal. Wajahnya kusut sekali seperti pakaian yang belum disetrika. Rambutnya juga ikut acak-acakan. Ia berjalan terseret-seret melewati koridor, diikuti Kiba di belakangnya yang berjalan beriringan dengan Sakura.

Sesampainya di depan kelas Sakura, ia melihat Hinata yang menunggu kehadiran mereka bertiga. Tidak, matanya bukan mengarah pada Hinata. Ia tetap berjalan menunduk dengan wajah lesu, tapi ia tahu kalau Hinata baru saja dilewatinya tanpa disapa olehnya. Begitu juga Hinata, ia pastinya tidak akan menyapanya.

Menyadari itu, Naruto menghela nafas panjang. Sakura yang kini berjalan sejajar dengan Hinata dan Kiba mengejar Naruto untuk menghampirinya.

"Oi, Naruto!" Sakura menepuk pundak Naruto. "Kenapa lesu terus, sih?" tanyanya pada Naruto yang masih menunduk.

Naruto menoleh lambat. "Nggak apa, kok," jawabnya lemah. "Aku masih belum semangat saja."

Sakura mengerutkan dahinya. Sambil berjalan, ia melempar pandangan bingung seraya mengangkat bahu pada Hinata dan Kiba di belakang mereka.

Mereka berdua hanya balas menggeleng, tanda tidak tahu apa-apa juga apa yang menjadi masalah si Uzumaki itu.

Naruto menghela nafas panjang lagi. 'Hinataaa, bicara denganku, dooong!' pintanya dalam hati, mengepalkan tangan dan memasang wajah memelas diam-diam. Bagaimana pun, cara itu tidak akan membuat Hinata mengetahuinya, dasar Naruto!

Begitulah yang dialami Naruto seminggu setelah liburan. Di rumah pun ia mencak-mencak sendiri di dalam kamarnya. Setelah itu, ia duduk merenung sambil menopang dahi dengan telapak tangannya. Kemudian tiba-tiba meremas rambutnya sendiri, lalu mencak-mencak, memukul tembok, mengepalkan tangan, dan berteriak tidak jelas jika ayah dan ibunya belum pulang.

Tibalah hari di mana bertepatan dengan hari ulang tahun ayahnya, 25 Januari, Naruto sengaja diantar oleh Minato ke sekolah; sekaligus treatment ulang tahunnya. Perasaannya yang meluap-luap pada Hinata bukannya disampaikan langsung ke orangnya, melainkan pada ayahnya dulu, untuk sekedar meminta izin.

Naruto menggaruk-garuk pipinya tak jelas, gerak biasa seseorang yang takut-takut menyampaikan sesuatu. "Tou-chan, di hari ulang tahunmu ini, boleh aku meminta sesuatu?"

Minato yang sedang menyetir lantas tertawa kecil. "Tentu saja," jawabnya lembut, mata safirnya yang serupa Naruto tetap konsentrasi ke jalan. "Khusus hari ini, permintaan dahsyat sekalipun akan dikabulkan."

"Ehm, tidak terlalu dahsyat, sih."

Wajah Minato berubah heran. "Eh? Begitu kah?"

Naruto mengangguk. "He-em." gumamnya pelan.

"Kalau begitu, apa?"

Naruto memainkan tangannya dengan beberapa gerakan, mulai dari mengusap telapak tangan, sampai memijat-mijat jarinya tanpa alasan. "Aku... Aku suka Hinata," Ia menutup mata takut setelah mengatakan itu. "Bolehkah Hinata jadi... erm... p-pacarku...?" Jantungnya mulai berdegup kencang, wajahnya memerah, padahal bukan Hinata yang menerima pernyataan itu.

Minato memukul stirnya pelan, Naruto terkejut dibuatnya. "Boleh, kok!" Ia tertawa riang merespon Naruto yang berbicara gugup tadi.

Senyum Naruto merekah. Ia menepuk tangan sekali seperti penghormatan sebelum menyantap makanan. "Terima kasih, Tou-chan! Aku sayang padamu! Hadiahmu indah kali ini!" Ia tertawa sendiri mendengar ucapannya.

Seharian penuh Naruto bersemangat mengikuti pelajaran. Yak, gairahnya mulai tumbuh. Berkat ulang tahun ayahnya, dia membara kembali mengejar prestasi demi mendapatkan modal untuk menarik perhatian Hinata, dan Neji. Sepulang sekolah pun ia langsung mengunjungi Sakura yang kebetulan menunggu dirinya dan Kiba di depan kelas mereka. Jelas saja ia ingin memberitahukan rencana ini pada Sakura, meminta pendapat, sekaligus izin (juga), dan cara menaklukan siscom milik Neji.

Naruto mengencangkan ranselnya, lalu melompat menghampiri Sakura. "Sakura!" serunya, Sakura refleks menoleh. "Hinata ada di mana?"

Sakura bersandar pada besi di beranda lantai dua itu. "Di kelas, masih piket."

"Ooh."

"Memangnya kenapa?"

"Aku mau bilang sesuatu ..."

Naruto mulai menggaruk pipinya lagi, mulai menyusun kata-kata yang baik dan benar di kepalanya. Namun ...

"Eh, eh, Kiba suka Hinata, lho!"

Naruto sontak kaget mendengar itu. Ia tidak jadi berbicara pada Sakura, melainkan menajamkan pendengaran pada orang yang baru saja mengucapkan kalimat barusan.

Saat itu, daerah sepanjang depan kelas mereka sedang ramai. Naruto yang menghadap Sakura juga berjaga-jaga agar tubuh mereka tidak dalam posisi yang berbahaya, mengingat Naruto sudah berapa kali terdorong oleh orang-orang yang berlalu-lalang, ditambah kalimat yang seumpama petir dahsyat menghantam hati Naruto barusan.

"Sebentar, sebentar, Sakura." kata Naruto dalam keadaan sesak.

Suara orang-orang itu saling beradu, dari kelas lain, adik kelas, kakak kelas, juga dari kelas mereka sendiri. Ada yang berteriak, ada yang berbicara normal, ada yang mengobrol. Naruto menunggu mereka sampai keadaan lengang kembali.

"Iya, iya, Kiba suka sama Hinata!"

Suara itu kembali memfokuskan pendengaran Naruto pada mereka yang belum bisa dilihat, karena ia membelakangi mereka.

"Duh, terlalu ramai." Sakura mengarahkan kedua telapak tangannya pada Naruto untuk berjaga-jaga.

Naruto mengangguk risih, menunggu kerumunan itu hilang.

"Kiba suka yang besar, ya!"

Muncul urat kesal di dahi Naruto. Ia menggeser sedikit, lalu membalikkan badan agar ranselnya tidak menghantam Sakura.

Naruto menjinjit-jinjit di antara lalu-lalang siswa yang mulai sepi. 'Chouji dan Lee!' seru Naruto dalam hati. Di sana ternyata ada Kiba juga yang bereaksi tidak senang karena Chouji memaksa Kiba dengan terus bertanya, apakah dia suka Hinata atau tidak. Naruto membalikkan badan lagi dan melipat tangan di besi beranda.

Naruto bimbang menyimpulkan bahwa reaksi Kiba hanyalah bentuk candaan atau tidak ingin didengar orang. Ah, sial! Kiba diam-diam menyukai Hinata juga? Naruto tak bisa membiarkannya. Rencana nekat terbesit di pikirannya.

Naruto mengepalkan tangan. "Aku tembak Hinata sekarang, ya?"

.Bersambung.

Wooh, panas nih.

Ada yang pernah keduluan sama orang lain? Duh, gebetan masih di-pdkt-in udah diambil orang lain aja. Kamu, sih, PPGT. Jadi dicolong, 'kan?

Yang punya akun osu!, temenan yuk?